LIKE THE FIRST TIME [PART 8]

ltft-poster

Type    : Part

Genre  : Romantic, Sad, Little bit comedy, Drama.

Author : @shaffajicasso

Rating  :  PG – 14

Cast     : Park Jiyeon, Kim Myungsoo.

Other   : Lee Jieun, Kim Jongin, Bae Suzy, etc.

Poster  : by MY ART STORY

.

.

.

Myungsoo menyenderkan kepalanya ke tembok, Myungsoo masih dengan setia menunggu Jiyeon. Jieun maupun ibu Jiyeon masih belum terlihat datang kemari. Myungsoo merasakan kegelisahan, ia takut terjadi sesuatu pada Jiyeon. Ia benar-benar takut.

Tak lama setelah itu terdengar suara Jieun yang berteriak memanggil nama Myungsoo. Myungsoo yang merasa di panggil, ia bangkit dari duduknya. Tapi ternyata Jieun tidak sedang sendiri, tidak jauh dari Jieun di belakang ternyata ada Jongin. Mereka berdua berlarian menghampiri Myungsoo.

“Sunbae, bagaimana dengan Jiyeon?” Jieun langsung bertanya dengan nafas yang terengah-engah.

“Operasinya belum selesai.” Ucap Myungsoo. Myungsoo beralih memandang Jongin.

“Kalian datang kemari bersama?” tanya Myungsoo. Jieun mengangguk meng-iyakan.

“Tadi saat kau menelpon, kebetulan sekali aku sedang bersama dengan Jongin.” Ucap Jieun. Myungsoo mengangguk.

“Hyung, di mana ibu Jiyeon?” tanya Jongin. Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Belum datang.” Ucap Myungsoo singkat.

“Lee Jieun!” semua menoleh.

“Eonni!” panggil Jieun. Shin Hye berlari mendekati Jieun, Myungsoo, dan Jongin. Nafas Shin Hye terengah-engah.

“Bagaimana keadaan Jiyeon?” tanya Shin Hye. Myungsoo beralih melihat lampu operasi yang masih belum berganti warna.

“Operasinya belum selesai.” Ucap Myungsoo.

Shin Hye duduk di kursi tunggu, ia benar-benar lelah karena berlari. Jieun mengikuti Shin Hye, Jieun duduk di samping Shin Hye. Jieun mengusap punggung Shin Hye.

“Apa ahjumma tidak akan kemari?” tanya Jieun. Shin Hye menggelengkan kepalanya, lalu menatap Jieun.

“Ia sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang ia ada rapat.” Ucap Shin Hye. Semuanya mengangguk mengerti.

“Kim Myungsoo.” Panggil Shin Hye. Shin Hye beralih memandang Myungsoo kemudian ia tersenyum. “Gomapta. Jika tidak ada kau, mungkin Jiyeon akan terus menjerit kesakitan. Aku benar-benar berterima kasih padamu karena kau sudah berada di sampingnya di saat kami tidak ada.” Ucap Shin Hye tulus. Myungsoo menanggapinya dengan tersenyum.

Jongin memandang Myungsoo. Ada rasa iri hati dalam dirinya. Jongin iri kepada Myungsoo, ia iri kepada kakaknya sendiri. Jongin merasa iri karena Myungsoo adalah orang pertama yang datang, Jongin telat! Ia telat menemui Jiyeon! Kakak nya sudah mendahuluinya! Jongin tersenyum miris melihat kakak nya itu.

Kali ini kau menang hyung, 1-0 ternyata.

.

Lampu ruang operasi kini sudah berganti warna menjadi hijau. Suara yang terdengar seperti suara bell, membuat semua orang yang sedang duduk di kursi tunggu berdiri dengan tegap. Mata mereka, semua memandang ke arah pintu ruang operasi yang masih belum juga terbuka.

Hingga beberapa menit kemudian terlihat dari kaca transparan ini terlihat beberapa orang dari dalam sana yang sedang mendorong sebuah brankar. Hingga akhirnya mereka keluar dari ruang operasi. Jae Hyun membuka maskernya.

“Operasinya berjalan lancar, Jiyeon akan segera di pindahkan ke ruang rawat kembali.” Ucap Jae Hyun yang masih mendorong brankar dengan beberapa perawat.

Shin Hye, Jieun, Myungsoo, dan Jongin mengikuti kemana ‘rombongan’ Jae Hyun membawa Jiyeon. Mereka berlari kecil.

.

Jiyeon masih belum sadarkan diri. Sudah satu jam setelah operasi, Jiyeon masih juga belum sadar. Shin Hye menggenggam erat jemari Jiyeon, ia menatap wajah Jiyeon yang cantik.

“Jiyeon sangat cantik.” Gumam Shin Hye. Jieun yang mendengar ucapan Shin Hye tersenyum, lalu Jieun beralih menatap wajah Jiyeon.

“Ne, sangat cantik.” Ucap Jieun tersenyum.

Tak selang berapa lama, terdengar ringisan kecil dari mulut Jiyeon. Mata Jiyeon perlahan terbuka, ia mengedipkan matanya beberapa kali agar penglihatannya terlihat jelas. Orang pertama yang ia lihat adalah Myungsoo, Myungsoo terlihat tersenyum kepada Jiyeon. Lalu Jiyeon mengalihkan pandangannya ke sekitar.

“Ak–” ucapan Jongin terpotong.

“Aku akan memanggil dokter Ahn.” Ucap Myungsoo cepat, yang kemudian keluar dari ruang rawat Jiyeon. Shin Hye mengangguk.

Lagi dan lagi, Jongin merasa kalah cepat dengan Myungsoo. Ia selalu telat. Kenapa Myungsoo selalu mendahului dirinya? Dan kenapa ia selalu kalah dengan kakak nya itu? Baiklah, ini sudah 2-0, pikir Jongin.

“Kau sudah sadar, Jiyeon-ah.” Ucap Shin Hye senang.

“Eonni…” panggil Jiyeon dengan suara yang serak.

“Hm? Waeyo?” tanya Shin Hye.

“Eomma, eoddi?” tanya Jiyeon.

“Eomma sedang sibuk, besok eomma akan datang. Eomma meminta maaf padamu karena tidak bisa datang. Maafkan dia…” ucap Shin Hye. Jiyeon mengangguk.

“Aku mengerti.” Ucap Jiyeon.

Tak lama kemudian datang dokter Ahn dengan seorang perawat dan Myungsoo di belakangnya. Jae Hyun langsung mengambil langkah pertama, ia memakai stetoskop nya, dan mulai memeriksa detak jantung Jiyeon. Memeriksa tekanan darahnya, memeriksa perut Jiyeon, dan lainnya. Setelah selesai Jae Hyun menghela nafasnya pelan.

“Apa kau sudah merasa baikkan Park Jiyeon?” tanya Jae Hyun pada Jiyeon. Jiyeon menggelengkan kepalanya.

“Aku masih lemas.” Ucap Jiyeon.

“Baiklah, jika kau sudah merasa tenagamu kembali, beritahu aku.” Ucap Jiyeon.

“Memangnya kenapa?” kini Shin Hye bertanya.

“Sebenarnya setelah operasi, Jiyeon harus segera berjalan-jalan di lorong menyusuri garis hijau. Untuk membantu dirinya agar segera buang angin.” Ucap Jae Hyun, pandangannya teralih kepada Jiyeon. “Kau merasa ingin buang angin kan?” tanya Jae Hyun. Jiyeon mengangguk.

“Eum, ini membuatku terganggu. Aku tidak bisa buang angin.” Ucap Jiyeon. Jae Hyun tersenyum. Jiyeon mengubah posisinya menjadi duduk.

“Apa kau ingin pergi sekarang? Atau nanti saja, dan kau tidak akan bisa buang angin?” tanya Jae Hyun.

“Sekarang saja. Aku ingin cepat-cepat buang angin. Ini membuatku merasa hal aneh.” Ucap Jiyeon.

“Bukankah kau masih lemas?” Jae Hyun bertanya.

“Anhi, tidak apa.” Ucap Jiyeon, kemudian ia mengangguk mantap.

“Maaf, apa kau bisa menemani Jiyeon? Aku sebenarnya ingin, tapi atasanku tadi mengirim pesan agar aku cepat-cepat datang ke kantor.” Ucap Shin Hye. Jae Hyun mengangguk.

“Jiyeon-ah, maafkan eonni. Nanti sepulang dari kantor, eonni akan kesini secepatnya. Percayalah.” Ucap Shin Hye meyakinkan Jiyeon.

“Geurae, berhati-hatilah.” Ucap Jiyeon. Shin Hye pun akhirnya pergi.

“Jiyeon-ah.” Panggil Jieun yang akhirnya bersuara. Jieun mendekat kemudian memeluk Jiyeon.

“Sungguh aku sangat senang. Aku senang kau baik-baik saja.” Ucap Jieun. Jiyeon membalas pelukan Jieun.

“Gomawo Jieun-ah…” Jiyeon menepuk-tepuk pundak Jieun. Jongin berdehem. Membuat Jiyeon menoleh kepadanya.

“Gomawo Jongin-ah…” Jiyeon tersenyum kepada Jongin, walaupun sebenarnya senyuman itu ia paksakan. Namun itu tak terlihat oleh Jongin.

Jongin merasa senang, akhirnya Jiyeon tersenyum kepadanya. Jongin sangat merindukan senyuman Jiyeon beberapa hari terakhir ini. Jongin tanpa sadar juga ikut tersenyum. Tanpa di sadari juga, Myungsoo melihat mereka berdua. Myungsoo mendekat ke arah Jiyeon.

“Kau tidak berterima kasih padaku?” Myungsoo merasa tidak terima, Myungsoo menunjukkan ekspresi pura-pura marahnya dengan lucu. Jiyeon melepas pelukan Jieun, kemudian terkekeh.

“Geurae, gomawo Myungsoo sunbae…” ucap Jiyeon. “Terima kasih banyak, jika kau tidak ada tadi, aku tidak tahu harus apa. Mana mungkin Suzy perempuan itu akan membantuku.” Ucap Jiyeon. Myungsoo tersenyum, tangannya tergerak mengacak-acak rambut Jiyeon. Jieun merasa ada keganjalan.

“Heol. Kalian terlihat sangat akrab. Ada apa ini?” tanya Jieun. Jiyeon dan Myungsoo menoleh kepada Jiyeon, kemudian mereka saling berpandangan. Hingga akhirnya terdengar tawa dari mereka berdua.

Jongin merasa iri. Ya, dia sangat IRI KEPADA MYUNGSOO!!

“Park Jiyeon?” panggil Jae Hyun.

“Ah geurae. Kajja.” Ucap Jiyeon.

“Baiklah Jiyeon, aku akan pamit untuk pulang. Eomma sudah mengirim pesan kepadaku agar aku segera pulang.” Ucap Myungsoo. Jiyeon mengangguk.

“Jongin-ah, kau ingin pulang juga?” tanya Jieun.

“Ah iya. Eomma juga mengirim pesan padaku.” Ucap Jongin.

“Baiklah kalau begitu, aku juga pulang.” Ucap Jieun.

“Heol. Kenapa cepat sekali?” tanya Jiyeon kepada Jieun.

“Ya! Ini sudah sore, dan aku tidak ingin pulang sendirian.” Ucap Jieun.

“Arraso arraso. Pulanglah!” ucap Jiyeon.

Jieun, Myungsoo dan Jongin pun pergi. Sepeninggal mereka bertiga, hanya tersisa Jiyeon dan Jae Hyun. Mereka bersiap untuk berjalan-jalan

****

Jae Hyun mendorong infuse stand, sedangkan Jiyeon melilitkan tangan kirinya ke lengan Jae Hyun. Kini mereka sedang berjalan di lorong, berjalan menyusuri garis hijau yang panjang. Langkah Jiyeon masih terseok-seok. Rasa sakit di perutnya masih dapat ia rasakan, mungkin ini adalah efek dari operasi itu.

“Dokter Ahn…” panggil Jiyeon.

“Hm?” balas Jae Hyun.

“Gomapta.” Ucap Jiyeon singkat. Mata Jae Hyun beralih memandang Jiyeon, kedua alisnya tertaut. Mereka berdua memberhentikan langkah mereka.

“Terima kasih sudah menemaniku. Aku benar-benar berterima kasih padamu. Dan karenamu operasinya berjalan dengan lancar.” Ucap Jiyeon tulus, ia menunjukkan senyumannya.

“Arraso.” Ucap Jae Hyun. Tangan Jae Hyun terangkat hingga akhirnya tangan Jae Hyun bergerak untuk mengacak-acak rambut Jiyeon pelan. Jiyeon meringis kecil. “Jiyeon-ssi…” panggil Jae Hyun.

“Hm?”

“Kau membuatku mengingatkan kepada seseorang. Kau sama sekali tidak jauh berbeda dengan seseorang itu. Sifat, sikap dan perilakumu sungguh mirip dengan seseorang itu. Setiap kali kau menjerit kesakitan, aku selalu merasa sedih melihatmu, aku selalu mengingat orang itu jika sedang bersamamu. Dan saat aku bersamamu entah mengapa aku merasa orang itu ada bersamaku. Entahlah aku juga tidak tahu mengapa.” Ucap Jae Hyun. Jiyeon terdiam setelah mendengar ucapan Jae Hyun.

“Siapa dia?” tanya Jiyeon. Jae Hyun terlihat tersenyum miris.

“Ahn Seo Yool.” Ucapnya. Jae Hyun menghela nafasnya pelan, lalu kemudian melanjutkan ucapannya. “Dia adikku. Dia sangat mirip denganmu, sungguh sangat mirip. Bahkan wajah kalian terlihat begitu mirip. Senyummu membuatku ingat kepadanya, senyumnya sangat menawan dan mirip denganmu.” Ucap Jae Hyun, Jae Hyun berusaha membendung air matanya agar tidak jatuh. Jiyeon berdehem.

“Maaf jika aku bertanya seperti ini. Apa dia sudah…..” kalimat Jiyeon menggantung. Jae Hyun memotong kalimat Jiyeon.

“Ya. Dia sudah tidak ada. Dia sudah berada di alam yang berbeda dengan kita. Dia… dia…” air mata yang sempat ia tahan agar tak jatuh akhirnya jatuh begitu saja yang kini sudah membasahi wajahnya. Jiyeon sedih melihat Jae Hyun yang terlihat lemah. Ada rasa tak enak terselip di dalam benak Jiyeon karena ia sudah menanyakan hal itu.

“Aku merasa gagal menjadi kakanya. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku benar-benar gagal.” Jae Hyun sesenggukan. Jiyeon memberanikan dirinya untuk menenangkan Jae Hyun dengan cara mengusap punggungnya, hanya itu yang bisa di lakukan Jiyeon. Ya, hanya itu!

“Apa yang membuatnya bisa pergi?” tanya Jiyeon dengan hati-hati, Jiyeon takut menyinggung perasaan Jae Hyun.

“Dia sakit!” ucap Jae Hyun. “Ah, aku tidak bisa menceritakannya lebih jauh…” Jae Hyun menyeka air matanya dengan punggung tangannya.

“Gwaenchana. Aku akan siap jika kau butuh orang untuk mendengarkanmu. Aku akan benar-benar siap.” Ucap Jiyeon dengan yakin.

“Ah sudahlah. Lebih baik kita lanjutkan saja.” Ucap Jae Hyun. Akhirnya Jiyeon dan Jae Hyun kembali berjalan menyusuri garis hijau ini.

“Apa kau sudah buang angin?” tanya Jae Hyun.

“Nde? Ah, itu…”

Kalimat Jiyeon tertahan saat ia merasakan sesuatu dari dalam perutnya. Jiyeon sudah merasa bahwa ini akan sangat memalukan. Hingga akhirnya angin itu keluar! Walaupun suara angin itu tidak begitu besar tetapi ternyata masih bisa terdengar jelas di telinga Jae Hyun. Jae Hyun berusaha menahan rasa ingin tawanya. Ia berdehem.

“Kau sudah buang angin.” Ucap Jae Hyun. Di dalam hati, Jiyeon merutuki dirinya sendiri.

“Ah, aku sangat malu.” Gumam Jiyeon pelan, tapi ternyata masih dapat tertangkap oleh telinga Jae Hyun.

“Gwaenchana!” Jae Hyun mengacak-acak rambut Jiyeon. “Kajja kita pergi dari sini, sebentar lagi kau akan pulih.” Ucap Jae Hyun. Jiyeon tersenyum.

.

Di sisi lain. Myungsoo memasuki ruang rawat Jiyeon. Bunga tulip kuning. Ia membawa sebuket bunga tulip, bunga yang tadi akan ia berikan kepada Jiyeon. Myungsoo tidak melihat Jiyeon di kamarnya. Sebenarnya Myungsoo belum benar-benar pulang.

“Tidak ada.” Myungsoo menghela nafasnya pelan.

Myungsoo melangkahkan kakinya menuju sebuah nakas yang berada di samping ranjang. Ia memegang vas bunga yang berada di atas nakas itu, kemudian membuang bunga mawar yang terdapat di vas itu ke dalam tong sampah. Setelah itu, Myungsoo memasukkan bunga tulip yang tadi di bawanya ke dalam vas itu. Terlihat segar. Myungsoo tersenyum.

“Ini bagus. Jiyeon pasti akan menyukainya.”

Myungsoo mengambil sebuah kertas kecil dari saku mantelnya, dan menuliskan sesuatu di kertas itu. Selesai menulis, Myungsoo menyimpan kertas kecil itu di bawah vas bunga. Dan kemudian, Myungsoo melangkahkan kakinya keluar ruangan…

.

Jiyeon dan Jae Hyun masuk ke dalam ruang rawat Jiyeon. Jiyeon terduduk di samping ranjang. Sedangkan Jae Hyun sedang membetulkan infusannya. Jiyeon mengedarkan seluruh pandangannya ke setiap sudut ruangan ini. Jiyeon tersenyum.

“Sebentar lagi, aku akan meninggalkan ruangan ini.” Ucap Jiyeon. Tepat, mata Jiyeon menangkap sesuatu, ia merasa ada keganjalan. Jiyeon memandang vas bunga yang ada di atas nakas.

“Dokter Ahn, bukankah tadi bunga yang ada di dalam vas itu bunga mawar? Kenapa sekarang menjadi tulip kuning?” tanya Jiyeon pada Jae Hyun.

“Molla. Mungkin temanmu yang memberikan bunga itu.” Ucap Jae Hyun, ia sempat melirik sekilas kea rah vas bunga itu. “Baiklah, aku harus mengurusi pasien yang lain. Aku pergi.” Ucap Jae Hyun. Jiyeon mengangguk.

Sepeninggal Jae Hyun, Jiyeon membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun tak lama kemudian Jiyeon terduduk di atas ranjang. Ia kembali menatap bunga tulip itu. Ia merasa heran.

“Apa mungkin ini dari Jieun?” Jiyeon mengambil ponselnya yang berada di bawah bantal. Kemudian menekan beberapa tombol.

“Yeoboseyo, Jieun-ah. Apakah kau yang mengirim bunga tulip kuning?” tanya Jiyeon langsung.

“…”

“Mwo? Bukan? Lalu siapa yang mengirimnya?”

“…”

“Geurae. Gomawo. Annyeong.”

Beepp

“Jika bukan Jieun, lalu siapa?” Jiyeon nampak berfikir, tangan Jiyeon tergerak untuk mengambil vas bunga itu, namun saat Jiyeon barusaja mengangkat vas tersebut, Jiyeon melihat sebuah kertas kecil. Kertas yang tadi Myungsoo tinggalkan.

“Ige mwoya?” Jiyeon mengambil kertas tersebut, dan menyimpan kembali vas bunga itu.

Aku memberikanmu tulip kuning ini. Aku harap kau menyukainya.

– Myungsoo –

Jiyeon tersenyum seusai membaca pesan singkat tersebut. Jiyeon mengambil vas itu, kemudian tangannya membelai tulip kuning tersebut. Jiyeon menghirup aroma tulip kuning itu.

“Gomawo sunbae.”

****

2 days later…

Jiyeon menunjukkan wajah cemberutnya sedari tadi. Jiyeon melirik tajam ke arah Hyunsik, ayahnya. Ya, Jiyeon marah kepada ayahnya. Hyunsik memaksa dirinya agar ia pulang ke rumah, dan tidak pulang ke rumah Nari! Itu membuat Jiyeon sangat marah kepada Hyunsik. Dan yang membuat Jiyeon lebih marah kepada Hyunsik adalah saat tadi Hyunsik memarahi Nari, dan Jiyeon melihat wajah sedih dari Nari, ibunya.

“Kenapa kau harus memaksaku pulang ke sana?” geram Jiyeon. “Kau bahkan tahu! Aku pasti akan memilih eomma daripada kau!” teriak Jiyeon. Untung saja sekarang mereka sedang berada di dalam mobil.

“Diam!” bentak Hyunsik.

“Hhh, semenjak kau bersama wanita itu sikapmu menjadi berubah sangat drastis. Kau menjadi sangat keras!” Jiyeon benar-benar marah sekarang. Mata Jiyeon berkaca-kaca.

“Hentikan itu Park Jiyeon!” bentak Hyunsik lagi. “Jika kau tak diam, aku tak segan-segan untuk menurunkanmu di tengah jalan.”

“Geurae! Turunkan saja aku! Aku bisa pulang sendiri ke rumah eomma! Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu! Aku sangat MEMBENCIMU!!” Jiyeon menekan kata ‘membencimu’.

“Sudah aku bilang hentikan!” Hyunsik rupanya sudah sebal dengan sikap Jiyeon. Ia memukul stir mobil, membuat Jiyeon terdiam, Jiyeon berusaha menahan isak tangisnya.

.

Jiyeon dan Hyunsik memasuki rumah ‘mereka’. Jiyeon tampak tidak senang menginjakkan kakinya ke rumah ini lagi, sungguh sangat tidak senang. Wajahnya terlihat murung.  Jiyeon mendorong koper miliknya, saat sampai di ruang tamu langkah Jiyeon seketika terhenti. Dua orang itu, lagi. Jiyeon merasa benci kepada mereka sekarang.

“Jiyeon beri salam dulu kepada mereka.” ucap Hyunsik. Jiyeon tersenyum tipis, kemudian menundukkan kepalanya dengan singkat, dan setelah itu Jiyeon menaiki tangga menuju kamarnya.

“Dasar anak tidak sopan!” gerutu Hyunsik. Jiyeon acuh.

Sesampainya di kamar, Jiyeon langsung membanting tubuhnya ke ranjang. Jiyeon menghela nafasnya. Ia merasa lelah, tetapi ia juga lapar. Ia ingin makan, dan itu artinya Jiyeon harus kembali berhadapan dengan tiga orang yang mulai ia benci itu. Makan malam.

Jiyeon bangkit ia melangkah masuk ke kamar mandi, untuk mandi. Hanya butuh waktu 28 menit, Jiyeon sudah selesai mandi. Jiyeon mengganti pakaiannya, menggantinya dengan pakaian casual. Jiyeon mengikat rambutnya seperti buntut kuda. Jiyeon menatap pantulan dirinya dari cermin.

“Park Jiyeon. Kau harus kuat menghadapinya. Semangat!”

Jiyeon menuruni anak tangga, berjalan menuju ruang makan. Ternyata di sana sudah ada tiga orang itu. Hyunsik, Eun Bi, dan Sehun. Jiyeon duduk di samping Sehun, tanpa bicara apapun Jiyeon mengambil piring dan menaruh nasi serta beberapa hidangan yang tersedia di meja makan. Kemudian melahap makanan itu.

“Park Jiyeon. Bisakah kau sopan sedikit?” ternyata Hyunsik sudah mulai kesal. Jiyeon mengacuhkan Hyunsik.

“Wae? Kenapa kau protes? Apa ada hubungannya denganmu?” tanya Jiyeon dingin. Sehun memandang Jiyeon, Jiyeon memandang Hyunsik tajam. “Kau tidak usah memperdulikan aku. Jangan menaruh perhatian padaku.” ucap Jiyeon dengan tajam. Eun Bi terkejut mendengar ucapan Jiyeon.

“Park Jiyeon! Aku ini ayahmu!” Hyunsik menggebrak meja dan berdiri. Jiyeon mengunyah makanannya dengan tidak berselera. Hilang sudah selera makannya. Jiyeon bangkit dari duduknya.

“Anhi, kau bukan ayahku. Semenjak kau bersama wanita ini, kau menjadi berubah drastis. Kau menjadi keras! Aku seperti tidak mengenalmu, aku seperti tidak mengenal ayahku sendiri. Kau sangat BERBEDA!” Jiyeon mengucapkannya dengan suara yang bergetar. Air matanya kini sudah jatuh.

“AKU MEMBENCIMU!!!” jerit Jiyeon. “Aku sudah kehilangan selera makan. Terima kasih.” setelah mengucapkan itu, Jiyeon pergi meninggalkan ruang makan dan berjalan cepat menuju halaman belakang, ternyata Sehun mengikuti Jiyeon di belakang.

Jiyeon duduk di bangku halaman. Jiyeon menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuh Jiyeon bergetar, ia menangis. Sehun duduk di samping Jiyeon. Sehun menatap Jiyeon yang sedang menangis. Sehun merasa tidak tega kepada Jiyeon. Dengan cepat, Sehun merengkuh tubuh Jiyeon, Sehun memeluknya.

“Berhenti menangis. Aku tahu ini menyakitkan.” ucap Sehun. Mendengar ucapan Sehun malah membuat tangisan Jiyeon semakin kencang. Jiyeon menangis di dalam pelukan Sehun, untuk malam ini …

.

.

.

To be continue

18 responses to “LIKE THE FIRST TIME [PART 8]

  1. o my ,, kasian jiyi ,, appanya cruel banget ,, jdi ikutan nangis .. Msa tinggal ama eommanya jiyi sendiri gk bleh ,, huh ,, sehun meluk jiyi ? Itu pelukan tanda kasih sayang antar sodara ya ? Atw cmn rasa kasihan ? Ah molla .. next chingu .. Keep writing ,, fighting #kepalkan tangan ,,

  2. operasi nya lancar , bagus deh .
    myungsoo ayo dapetin jiyeon , eii baru aja sembuh udah ada masalah krna appa nya . iss , appa nya sih maksa bgt kasian jiyeon nyaa
    sehun jd saudara yg baik yaah ..
    kai juga , udah relain aja
    next chingu , dtunggu ne fighting

  3. Ya, baguslah operasinya sukses. Kesian pula Lihat Jiyeon harus memilih antara ibu dan bapanya. Harap sehin dpt menjadi saudara tiro yg baik utk jiyeon. Dan Myungsoo tetap mencoba mendptkn cinta Dari jiyeon. Tunggu-in chp bru.:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s