[Chapter – 2] FOREVER YOU : With You

FY

Forever You : With You

© Flawless

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jung Eunji, etc.

08-02-15

Previous : Chapter 1 : I Chose You

*

Ada waktu dimana bersamamu merupakan suatu hal yang selalu aku dambakan, dan juga syukuri.

Matahari mulai menyapa pasang-pasang mata yang masih lebih memilih terlelap dalam alam bawah sadar ditemani oleh berbagai jenis mimpi, entah indah, buruk, atau mungkin sampai pada mimpi erotica. Tak terkecuali sepasang pria dan wanita yang masih tetap dalam posisi mereka, dimana sang wanita tengah tidur dengan tenang dalam rengkuhan posisif prianya. Tidak ada sedikit pun tampak reaksi terganggu oleh matahari yang begitu terik.

Gadis itu, Park Jiyeon bergerak gelisah dalam posisinya, merasa ruang geraknya sangat minim. Matanya masih sangat ingin untuk terpejam, namun kerja otaknya justru berkata lain. Kelopak matanya perlahan-lahan mulai terbuka. Detik-detik awal ia masih belum bisa membiasakan diri atas cahaya yang menyerang penglihatannya secara serempak dan tiba-tiba, namun tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kesadarannya benar-benar terkumpul penuh.

Mata Jiyeon langsung membelak sempurna. Pria yang tidur damai di sampingnya ini tengah memeluknya. Ya Tuhan, jadi semalaman mereka tidur dalam posisi seintim ini? Tidak bisa dipercaya, dan ia bahkan tidak menunjukkan gerak-gerik gelisah sampai pagi tadi, padahal biasanya ia pasti menendang jika ruang geraknya saat tidur sangat sempit. Tapi, kali ini berbeda. Jiyeon menegak salivanya susah payah. Jika saja mereka masih sepasang sahabat seperti dua hari lalu mungkin ia tidak akan segugup ini jika bersama pria ini, namun sekarang beda kasusnya. Mereka pasangan pengantin baru, jadi rasanya akan sangat canggung. Jiyeon menganggkat tangan Myungsoo perlahan dan memindahkannya dari tubuhnya. Ia tanpa sadar sudah menahan nafasnya sejak tadi, setelah tangan Myungsoo sudah tidak melingkar di pinggangnya, akhirnya ia bergerak turun dari ranjang dalam diam bagai seorang pencuri. Tidak cukup dua langkah ia bergerak, pergelangan tangannya sudah ditahan kembali. Ia menoleh takut-takut, dan Kim Myungsoo masih setia dengan mimpinya. Nafasnya ia hembuskan dengan lega. Sekali lagi dengan hati-hati ia melepaskan dirinya dari Myungsoo.

“Kemana kau?”

Suara itu sudah cukup memberikan efek sangat besar pada Jiyeon. Buktinya ia membeku di tempatnya tanpa berniat melanjutkan langkahnya, atau malah mundur. Ia merasakan tangannya ditarik tiba-tiba hingga membuatnya kembali jatuh ke ranjang. Ia melepar pandangannya pada Myungsoo dengan horror. Pria itu menampilkan senyum jahat padanya, dan itu adalah satu hal yang sangat ia benci.

“Kamar mandi. Ini sudah cukup siang untuk bercinta dengan ranjang, Myungsoo.” Jiyeon membalas Myungsoo dengan nada setengah kesal. Menurutnya ia harus segera melarikan diri sekarang, karena kalau tidak ia takut hal lain yang tidak diinginkan bisa terjadi.

“Sepertinya kau lupa sesuatu.” Myungsoo mengerling hingga membuat Jiyeon harus memutar otaknya untuk paham, namun seakan tidak memberikan kesempatan untuk berpikir lebih panjang, Myungsoo langsung bertindak tanpa berpikir lagi. Bibirnya ia sentuhkan pada bibir Jiyeon, dan menekannya lembut. Ia melihat ada keterkejutan di wajah Jiyeon, dan sepertinya gadis itu bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikannya. “Morning kiss, hal yang wajar untuk pasangan, bukan?”

Jiyeon meraih bantal yang tergeletak tak jauh dengannya, dan memukulkan bantal itu pada Myungsoo tanpa ampun. “Apanya yang wajar? Kita bahkan bukan pasangan normal, Kim Myungsoo!” Teriakan Jiyeon membahana dan memekakkan telinga sampai-sampai Myungsoo pun yang selalu menjadi korbannya harus menutup telinga.

“Apanya yang tidak normal?”

“Yah, itu.. Kau terkesan sangat memaksakan diri padaku. Aku tidak apa-apa sungguh.” Jiyeon memasang senyuman idiot untuk meyakikan Myungsoo. Namun, sayangnya reaksi Myungsoo jauh dari apa yang ia pikirkan. Pria itu mengeram, dan nampak emosi. Oh bagus Park Jiyeon, kau membuatnya marah sepagi ini, rutuknya dalam hati. Ia menunduk saja tanpa mau melihat Myungsoo.

“Kalau kau masih mau mendiskusikannya, aku jamin kau bisa melihatku tanpa pakaian, dan kau akan merasa tubuh kita menyatu!” Itu ancaman keras untuk Jiyeon, dan Myungsoo sudah menangkap bahwa Jiyeon sudah sedikit takut atas perkataannya. Matanya kini berubah lagi menjadi lembut, dan mengacak rambut Jiyeon. Ia bangkit dari ranjang untuk segera membersihkan diri di kamar mandi. Biar lah Jiyeon berkonsentrasi dengan pikirannya terlebih dahulu, sementara dirinya juga harus berpikir matang untuk rencananya kedepan bersama Jiyeon.

Sementara menunggu Myungsoo selesai menggunakan kamar mandi, Jiyeon memilih merapikan ranjang mereka yang berantakan, setelah itu ia duduk diam dan merenung seperti waktu-waktu sebelumnya ketika mendekati hari pernikahannya. Gadis itu memainkan jemarinya bosan, pemikiran yang sama sekali lagi merayap dalam kepalanya, namun tak pernah sama sekali bisa keluar karena Myungsoo selalu melarangnya melakukan diskusi masalah pernikahan mereka. Dia bukan ingin berpisah sekarang, ia hanya ingin memberikan ruang yang bebas bagi Myungsoo untuk bersama wanita yang dicintainya, dan setelah beberapa bulan mungkin ia akan mengambil putusan untuk segera menjauhkan diri dari kehidupan Myungsoo, dan membiarkan pria itu menikmati waktu bahagianya bersama Eunji. Sekarang hal itu lah yang ingin ia lakukan untuk Myungsoo sebagai seorang sahabat, namun Myungsoo menolaknya mentah-mentah, padahal jika dipikir kembali seharusnya Myungsoo senang karena ia tidak menuntut sama sekali.

Bunyi deritan pintu yang bergesek dengan lantai terdengar, dan saat itu pula Myungsoo keluar dari kamar mandi dengan celana pendek dan kaus warna putih yang melekat sempurna di tubuhnya, ditambah rambutnya yang teracak dan masih basah oleh air. Pria itu mendekati Jiyeon, dan meletakkan handuknya yang basah ke kepala Jiyeon, sontak saja tindakannya mendapatkan balasan teriakan amukan dari Jiyeon, ia terkekah pelan, lalu memaksa Jiyeon berdiri, dan mendorong gadis itu ke kamar mandi.

Satu pagi lagi yang mereka lewati bersama dalam suasana canggung. Tak ada untaian kata ejekan, mencela, atau candaan seperti sebelum menikah. Semuanya hanya terjadi sesekali, Rasanya untuk bertingkah seperti sebelumnya terlalu sulit, mengingat kembali bahwa setiap ada topik pembicaraan pasti akan selalu berakhir dengan debat yang berhubungan dengan berakhir-tidaknya pernikahan mereka. Dan Jiyeon lah yang selalu memulainya lebih dulu. Seperti sekarang ini, ia merusak ketenangan mereka dengan bertanya perihal Eunji.

“Hari ini kau ke mana? Menemui Eunji?”

Aktifitas makan Myungsoo terhenti, ia meletakkan alat makannya dan meraih gelas yang terisi oleh air mineral, lalu meneguknya sampai tandas. Ia merotasikan bola matanya malas. Topik yang sama lagi, dan ia sudah sangat bosan untuk melakukan adu mulut dengan Jiyeon, terlebih ini masih sangat pagi. Ia beranjak dari meja makan meninggalkan Jiyeon dalam tanda tanya, kemudian bergerak menuju ruang tengah di apartemntnya. Ia membiarkan bokongnya langsung jatuh mencium sofa dengan nyaman, mengambil remote televisi dan menekan tombol power, volumenya tak berusaha ia buat kecil agar teriakan Jiyeon bisa terkalahkan.

“Yak! Kau belum menjawabku!” Jiyeon berkacak pinggang sembari mengamati Myungsoo yang masih bersikap tenang, tentram dan damai. “KIM MYUNGSOO!” Sekali lagi ia memekik, kali ini lebih menyakitkan di telinga dari sebelumnya.

Baiklah, sudah cukup, pikir Myungsoo berang. Ia menarik tangan Jiyeon tanpa belas kasihan sampai akhirnya Jiyeon jatuh duduk tepat di pangkuannya. Ia menutup mulut Jiyeon dengan tangannya, dan melemparkan pandangan sinis sekaligus meremehkan pada Jiyeon, tak ayal perlakuannya itu mendapat sambutan berupa rontaan tidak terima dari Jiyeon.

“Diam saja,” pintanya halus. Dagunya menyandar pada bahu Jiyeon dengan nyaman. “Setidaknya lima atau satu menit kita harus bertindak normal, Jiyeon.” Tangannya akhirnya melingkar di pinggang ramping Jiyeon. Aroma lily menyerang penciumannya sampai-sampai membuatnya mau tidak mau semakin merapatkan tubuhnya pada Jiyeon hanya untuk membaui lagi aroma manis gadis itu. “Lupakan dia! Dan pikirkan tentang kita sekarang, aku sedang belajar untuk melihatmu sebagai wanita, dan kau juga harus melakukan hal yang sama, maka dari itu berhenti membahas Eunji atau pun mencoba untuk memberi hadiah kebebasan untukku, karena sampai bulan muncul di pagi hari pun aku tidak akan mau. Pilihanku sudah kau dan tak akan berubah menjadi Eunji atau orang lain.” Ucap Myungsoo tegas tanpa keraguan. Ia sempat merasakan bahwa tubuh Jiyeon menegang dalam pelukannya, lalu kemudian berubah rileks dengan cepat.

“Itu akan sulit untukmu.” Jiyeon menggigit bibir bawahnya tanpa peduli bahwa bibirnya sudah terluka akibat tindakannya. “Kau mencintainya, dan kau tidak mencintaiku.” Dingin dan tajam, begitu caranya menyampaikan pada Myungsoo.

“Tidak ada perasaan manusia yang akan selalu sama, pasti ada waktunya nanti untuk berubah.” Myungsoo menghembuskan nafasnya di tengkuk Jiyeon hingga merasa Jiyeon bergerak risih akibat tindakannya.

“Aku tidak berpikir kau bisa berubah dalam waktu cepat, paling tidak kau mungkin membutuhkan satu atau setengah tahun untuk melupakannya, dan aku tidak cukup jahat membuatmu menderita karena berusaha melupakannya.” Perkataannya lirih nyaris seperti bisikan, kepalanya menunduk. Ia merasakan bahwa pelukan Myungsoo di pinggangnya sudah merenggang. Lihat, aku benar, batinnya. Ia menoleh untuk melihat wajah Myungsoo. Kenapa pria itu tetap saja tampan meski nampak kacau karena terlalu banyak pikiran. Tanpa mau menanggung resiko nantinya, Jiyeon memberanikan dirinya untuk memukul kening Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan? Tidak lihat aku berpikir?”

“Tidak perlu kau pikirkan, semuanya akan tetap sama untukmu, pilihanmu juga tidak akan berubah, kebahagianmu masih bersamanya.”

“Ya, memang semuanya akan tetap sama, karena dari awal aku sudah memilihmu, dan menggantungkan seluruh kebahagianku bersama Eunji hanya untuk harapan bahwa aku bisa lebih bahagia bersamamu, idiot.” Myungsoo mengucapkannya dengan nada frustasi. Di satu sisi, ingin sekali ia menerima penawaran Jiyeon tentang kebebasan, tapi sisi lain darinya berteriak marah dan memberontak, karena tidak ingin dirinya menjadi pria berengsek yang mempermainkan sahabatnya sendiri. “Sudah lupakan. Kita ganti topic,” ujar Myungsoo yang lebih kepada pemaksaan untuk menghindari pembicaraan berbahaya ini lagi. “Mau menjenguk appamu?

Mata Jiyeon membelak. Benar, ayahnya, sudah dua hari ia tidak melihat ayahnya. Pasti masalah dengan Myungsoo banyak menyita perhatiannya sampai melupakan ayahnya sendiri. Ia mengangguk bersemangat, dan mencium pipi Myungsoo singkat.

“Jiyeon-ah, kau tahu kita ini aneh.” Wajah Jiyeon mengkerut atas ucapan Myungsoo, sementara Myungsoo sendiri hanya menyengir tidak terlalu jelas. “Ingat, belum berlalu satu menit semenjak kita sedang dalam situasi tidak enak, tiba-tiba kita kembali ke mode normal, dan kau bahkan tidak sungkan lagi untuk menyentuhku. Itu terlalu aneh merutku, suasana saat kita bersama selalu berubah-ubah bahkan dalam waktu satu menit.” Myungsoo terkekah geli melihat Jiyeon yang merenggut kesal. Memangnya siapa juga yang mau dikatai aneh? “Tapi karena hal itu, sehingga Ada waktu dimana bersamamu merupakan suatu hal yang selalu aku dambakan, dan juga syukuri.”

Pipi Jiyeon bersemu tanpa ia sadari. Kalimat akhir Myungsoo, bukankah itu artinya ia membawakan kebahagian pada pria ini? Ia tersenyum tiga jari pada Myungsoo, dan sekali lagi mengecup pipi pria itu sebentar. “Kadang kala aku berpikir bahwa perkataan tentang teman-teman kita dulu benar, kalau kita lebih mirip pasangan dari pada sahabat.” Jiyeon melihat Myungsoo menanggapinya dengan usapan lembut dikepalanya.

“Yah, aku juga mengakui itu, lagi pula ‘kan sekarang kita memang pasangan.” Myungsoo mengerling jahil pada Jiyeon, dan mencubit kedua pipi milik gadis itu dengan kuat, sampai-sampai Jiyeon berteriak sakit.

Setelah melepaskan cubitan pada pipi Jiyeon, bukan reaksi marah yang ditunjukkan gadis itu. Jiyeon malah terbahak, dan Myungsoo entah mengapa selalu tertular dengan virus kebahagian gadis ini. Mereka berdua tertawa lepas kali ini, bukan tawa paksaan seperti yang mereka lakukan untuk menyemangati diri sendiri, sekarang terasa beban yang mereka tanggung telah diangkat, dan semuanya terasa ringan.

*

Myungsoo memandang Jiyeon aneh, kala gadis itu malah berdiam diri memandangi pintu berwarna putih di hadapannya. Ada serat keraguan dalam mata gadis itu. Seakan mengerti, Myungsoo merangkul Jiyeon, dan membuat tubuh tegang gadis itu kembali melemas. Ia melemparkan tatapan menenangkan pada Jiyeon, yang seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Myungsoo menekan bel beberapa kali, dan akhirnya seorang wanita setengah baya membuka pintu untuk mereka. Myungsoo tersenyum sumringah membalas senyum wanita itu.

“Jiyeon ahgassi.” Wanita itu langsung mendekati Jiyeon dan memeluk gadis itu tanpa ampun. Ia mengusap punggung Jiyeon selama beberapa saat, lalu melepaskan pelukannya pada Jiyeon. “Dan coba lihat ini, Kim Myungsoo.” Wanita itu menerima pelukan dari Myungsoo, dan ikut membalasnya.

“Han Ahjuma, bagaimana keadaan Hae Joon ahjussi?”

Kerutan-kerutan halus tercipta di kening Han, wanita itu melirik Jiyeon sekilas, dan mendapati Jiyeon hanya mengangguk dengan wajah yang sedikit dipaksakan untuk tersenyum. “Tidak ada yang lebih baik dari ini.”

Mata Jiyeon berbinar-binar bahagia, tidak menunggu Myungsoo lagi, ia langsung masuk ke dalam rumahnya, dan berteriak heboh memanggil ayahnya.

Han menahan Myungsoo begitu pria itu ingin mengikuti langkah Jiyeon. Ia memandangi Myungsoo serius. “Kau sudah harus memanggilnya aboji, Myungsoo.” Han menangkap adanya rasa terkejut dalam raut wajah pria tampan itu. Ia mendengus tidak senang. “Ada masalah apa dengan Jiyeon?”

Myungsoo merinding merasa hawa mematikan dari Han. Ya, ia tahu, Han memang selalu menjaga Jiyeon, dan ia selalu tahu kapan gadis itu punya masalah. Namun, sekarang kemampuan Han itu malah membuatnya takut. “Tidak ada.”

Han melipat tangannya di depan dada, masih tidak percaya pada Myungsoo. “Kau lupa, aku sudah bersama kalian selama lima belas tahun.”

“Ya, baiklah. Dia meminta aku meninggalkannya dan kembali pada Eunji.” Jawab Myungsoo pasrah.

Han menutup mulutnya yang terbuka lebar. “Dan apa kau menyetujuinya?”

“Yak! Ahjuma, aku tidak mungkin menyetuji hal itu.”

Han langsung memukul punggung Myungsoo dengan kuat, yang berarti bahwa ia bangga pada Myungsoo sendiri. Han tahu alasan Jiyeon meminta hal itu, karena sama seperti Myungsoo yang selalu ingin Jiyeon bahagia, Jiyeon juga ingin hal yang serupa. Ia ingin Myungsoo bahagia, dan Jiyeon pasti sudah berpikir terlalu dangkal bahwa Eunji lah sumber kebahagian terbesar Myungsoo.

“Sampai kapan pun, aku tidak ingin ada kata berpisah di antara kalian. Gadis bernama Eunji, jauhkan Jiyeon darinya, jangan sampai Jiyeon mengambil tindakan bodoh untukmu.”

Myungsoo mengangguk patuh. Dia sendiri sedang berusaha untuk melepaskan diri dari bayangan Eunji yang selalu datang dalam tidurnya, hingga membuatnya harus menanggung rasa bersalah lebih besar setiap waktunya.

“Aku akan menyusul Jiyeon sekarang.”

*

Eunji nyaris ingin menangis selama perjalannya menuju ruangannya. Setiap orang yang dilewatinya, mereka membicarakan Myungsoo dan Jiyeon. Mereka membicarakan kehidupan bahagia kedua orang itu. Hatinya masih nyeri sejak keputusan Myungsoo kemarin, dan hari ini nyeri itu semakin meradang sampai membuatnya kesulitan mengambil nafas. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya, hanya satu kali kedipan pasti air mata itu jatuh.

“Aku dengar Kim sajangmin, semasa sekolah selalu melakukan apa saja yang membuat Park Jiyeon bahagia.” Seorang wanita berambut pendek berwarna kecokalatan itu berbisik tetapi dengan volume keras.

“Ah, seandainya bisa menjadi Park Jiyeon.” Wanita berambut hitam pekat menyahuti perkataan si rambut pendek dengan wajah yang benar-benar penuh harapan yang mustahil terwujud.

Eunji mengepalkan tangannya, meanahan semua amarahnya yang bertumpuk-tumpuk. Ia ingin berteriak bahwa Jiyeon merusak hubungannya dengan Myungsoo. Jiyeon merebut Myungsoo darinya. Dan Jiyeon merebut kebahagian dua orang sekaligus, Myungsoo dan juga dirinya. Tapi, ia masih menahan dirinya. Sekarang yang dibutuhkannya adalah ketenangan agar bisa lebih santai untuk menarik nafas, tidak lagi harus menahan sesak.

*

            Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 p.m dan Jiyeon masih sibuk bercengkrama dengan ayahnya. Gadis itu memanfaatkan kesempatannya untuk bermanja-manja dengan ayahnya. Sesekali gadis itu merengek-rengek bagai anak kecil yang ditanggapi kekahan kecil dari mulut ayahnya.

Myungsoo tertegun selama beberapa saat. Senyum Jiyeon sekarang, dia tidak ingin kehilangan itu. Myungsoo tentu sadar, Jiyeon sudah memiliki arti sendiri dalam hidupnya, namun bahkan sampai sekarang ia tidak bisa menerjemahkan apa arti sebenarnya Jiyeon dalam dirinya. Tidak seperti Eunji yang ia artikan sebagai wanita yang ia cintai, Jiyeon berbeda. Sekali pun ia mencintai Eunji, tapi poros hidupnya bukan Eunji. Sementara Jiyeon, sahabat, gadis yang ia sayangi, tapi entah mengapa selalu bisa menjadi focus utamanya. Kadang kala ia bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya selama ini ia menipu dirinya? Apa Eunji hanya pelariannya dari Jiyeon? Atau apa selama ini ia hanya menghindari ketakutannya untuk mencintai Jiyeon? Tapi sampai sekarang pun tidak ada jawaban dalam kepalanya. Dia terjebak di antara dua kaki, dan ia tidak bisa terlepas sekarang.

Jiyeon melirik Myungsoo diam-diam. Lagi-lagi pria itu melamun, dan Jiyeon merasa tidak perlu lagi berpikir terlalu keras karenanya, alasannya hanya satu Eunji. Dia benar, ‘kan?

Myungsoo mendekati Jiyeon dan berbisik pelan pada gadis itu, lalu Jiyeon langsung mengangguk setuju.

“Appa, kami pulang dulu.” Jiyeon menicum kedua pipi ayahnya dengan sayang. Rasanya masih belum cukup waktu untuknya melepas rindu bersama ayahnya, namun sekarang sudah cukup malam.

“Myungsoo, jaga baik-baik anakku ini, dia bisa lari dan menghilang.” Ucap Hae Joon tenang. Ia tersenyum penuh arti pada Myungsoo, yang sama sekali tidak bisa ditangkap oleh Myungsoo sendiri.

“Ya, aboji, aku akan menjaganya.”

Setelah itu mereka melangkah keluar dari rumah besar berdesain klasik itu dengan kediaman yang canggung. Mereka berdua terlarut dalam pikiran masing-masing.

*

            Myungsoo memandang nanar punggung Jiyeon. Gadis itu berniat tidur memunggunginya lagi. Ia mendesah kecewa, tapi bukan Kim Myungsoo namanya jika ia langsung menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Jiyeon dengan tenang. Ia langsung membalikkan tubuh Jiyeon untuk saling berhadapan dengannya. Wajah gadis itu terkejut, seperti dugannya.

“Kenapa hum?” Myungsoo meletakkan anak rambut yang menghalangi wajah Jiyeon dibalik telinga gadis itu. Ia mendekat dan menepuk-nepuk pelan punggung Jiyeon, seperti ingin menidurkan seorang anak.

“Tidak. Tidak juga.” Jiyeon merasa bahwa tatapan tajam Myungsoo terfokus padanya, dan itu sudah cukup membuatnya tertekan untuk berbicara. “Ya, baiklah, aku mau bertanya. Sebenarnya apa artiku dalam hidupmu sampai kau rela mengorbankan kebahagianmu bersama Eunji untukku?”

Lagi-lagi, umpat Myungsoo dalam hati kesal. “Lalu, apa artiku untukmu?”

Jiyeon mendesis. Dia butuh jawaban bukan sebuah pertanyaan yang ia bahkan tak ketahui jawabannya sama sekali. “Tidak tahu.”

“Maka jawabanku sama. Tidak tahu.” Balas Myungsoo disertai seringai berbahaya. “Jadi, apa kau tidak berniat mencari tahu, Yeon-ah?”

Itu tawaran yang menggiurkan, tentu saja. Selama ini dia juga selalu memikirkan pertanyaan Myungsoo. Apa arti pria itu untuknya? Seberapa besar rasa sayangnya pada Myungsoo sampai mau berbuat hal bodoh? “Kalau aku jawab tidak bagaimana?”

Myungsoo tidak langsung menjawab, tapi ia malah meraih Jiyeon untuk masuk dalam pelukannya. Setelahnya, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Jiyeon dan membisikkan sesuatu. “Kau ingin, sama sepertiku.” Myungsoo menggigit cuping telinga Jiyeon dulu, sebelum akhirnya menjauhkan dirinya. “Selamat malam.” Myungsoo mengecup kening Jiyeon, lalu mulai mencoba memejamkan matanya.

Jiyeon menggeleng, nyaris terlihat frustasi. “Aku pasti gila, ini tidak benar.”

*

Jiyeon tidak mampu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah cantik di hadapannya. Ia takut bahwa ia akan menangis. Ia meremas ujung dress-nya, tangannya berkeringat tak karuan. Semua kata-kata yang sudah ia rangkai sejak tadi entah hilang kemana. Kepalanya tidak sanggup lagi berfikir. Rasa bersalahnya datang menyerangnya sekarang tanpa belas kasihan.

“Apa yang mau kau katakan, Park Jiyeon-ssi?, atau mungkin aku harus memanggilmu Kim Jiyeon.” Suara gadis itu sinis, wajahnya merah pada menahan gejolak amarahnya yang meletup-letup. “Jangan membuatku membuang waktu berhargaku hanya untuk melihatmu menunduk dengan menyedihkan seperti itu. Lebih baik kau mengatakan sesuatu yang bisa mengembalikan suasana hatiku yang hancur karena kau!” ucap gadis itu dingin dan menusuk.

“Aku.. Maaf.” Jiyeon mengucapkannya dengan nada bergetar, sudah ingin menangis.

“Apa kau pikir aku ingin mendengar kata maaf darimu? Tapi maaf Park Jiyeon-ssi, bukan itu yang ingin ku dengar.”

Jiyeon terdiam dulu selama beberapa saat, ia menggunakan waktunya untuk berpikir bahwa yang akan ia lakukan adalah hal yang benar. Kebahagian Myungsoo dipertaruhkan di sini, dan dia akan melakukan apa pun untuk terus melihat wajah bahagia pria itu.

“Aku memberimu waktu dua puluh empat jam untuk mengganti putusan Myungsoo dihitung mulai besok. Aku sangat berharap kabar baik dari ini, Eunji-ya, aku tidak bisa merubah keputas Myungsoo. Dan aku harap kau bisa, karena kalau bersamaku dia tidak akan pernah sebahagia bersamamu.”

Eunji tersenyum, tapi tidak lebar. “Aku bisa melakukan apa saja ‘kan selama dua puluh empat jam itu?”

Jiyeon menegak salivanya susah payah, dan memaksa suaranya untuk keluar. “Ya, apa saja.”

“Baik aku terima.”

“Tapi, ini kesempatan terakhirmu, Eunji-ya.” Ucap Jiyeon parau. “Setelah ini kau tidak akan pernah mendapatkannya lagi, karena kalau kau gagal makau aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Jiyeon masih menunduk memandangi jari manisnya yang dilingkari oleh cincin. Ia tersenyum getir. Aku melakukan hal yang benar ‘kan, Myungsoo-ya?

“Dia akan merubah keputusannya, aku jamin.”

***

Okay, aku mau terima kasih banget karena banyak respon postif untuk ff ini.

Tapi, aku harap part ini tidak mengecewakan ya, karena jujur aku mulai ngerasa ff ini melenceng -_-“

92 responses to “[Chapter – 2] FOREVER YOU : With You

  1. jiyiahh..what happend with you,aigo kira2 myung bkal kembli lgi sma enji gak yahh. please jng myungsoo tetep pertahankan jiyeonn..

  2. myungsoo bener bener lelaki yang baik. khawatir sama jiyeon nih, huhuhu. aduh eunji, entahlah

  3. Pingback: [Chapter – 4] FOREVER YOU : His Anger | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s