[Chapter – 1] FOREVER YOU : I Chose You

FY

Forever You : I Chose You

© Flawless

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, etc.

*

Suasana yang mengelilingi ruangan itu mencekam, nampak suram bagai tak ada tanda kehidupan. Suara sekecil derit pintu pun tak ada. Penghuni ruangan itu sendiri memilih saling berdiam diri, menjaga jarak masing-masing sejauh mereka bisa. Pria itu melirik sekilas gadis berambut panjang yang duduk diam sembari menunduk, membolak-balik lembar majalah secara acak. Pandangannya ia lempar kembali ke luar jendela, memperhatikan aktifitas malam orang-orang Seoul. Pria itu melirik jam tangannya. Sudah tiga jam semenjak pengucapan janji terkutuk yang membuatnya dan gadis itu diam seperti ini. Bagai orang yang tak pernah saling mengenal sebelumnya. Ia mengumpul sisa-sisa keberaniannya, dan mengambil langkah terlebih dahulu.

Kim Myungsoo, pria dua puluh lima tahun itu kini berjongkok di depan gadis itu. Matanya meneliti wajah cantik gadis di hadapannya –yang akan selalu ia lihat saat bangun tidur- Myungsoo tidak bodoh. Wajah gadis itu tidak sedikit pun menampakkan kebahagian, hanya penyesalan dan juga mata yang selalu memberikan serat terluka semenjak beberapa minggu lalu. Gadis ini menyalahkan diri, pikirnya kesal. Ia menangkup wajah mungil gadis itu, memaksa manik mata indah gadis itu menatap maniknya. Ia memberikan senyum lembut, berharap hal itu sudah cukup membuat gadis ini merasa lebih baik. Namun, ia menelan kepahitan. Gadis itu menangis, tersedu-sedu. Tubuh gadis itu bahkan bergetar kuat. Ia mengambil nafas, berusaha untuk tidak berpikir ke arah lain. “Park Jiyeon, ini bukan salahmu, jadi berhenti menyalahkan diri.”

Gadis bernama Park Jiyeon itu tidak menyahuti, hanya mengangguk disela tangisnya yang kian menjadi. Gadis itu tidak bisa berhenti menangis, apalagi dengan wajah Myungsoo yang terus berada di hadapanya. Hal ini semakin membuat penyesalannya bertumpuk-tumpuk. Ini tidak benar. Mereka bersahabat, dan mereka bahkan tidak boleh berada dalam hubungan lebih dari sahabat, tapi sekarang mereka menikah. “Jung Eunji..” ia berguman pelan, melihat reaksi Myungsoo. Pria itu terluka, dan ini karenanya. “Aku merusaknya. Aku mengahancurkan hubungan kalian, Myungsoo-ya.” Jiyeon berteriak histeris sembari menjauhkan diri dari Myungsoo. “Dan bagaimana bisa kau mengatakan ini bukan salahku? Aku seharusnya tidak menerimanya sejak awal, seharusnya aku bisa mengukuhkan pendirianku pada appa, dan aku seharusnya tidak pernah datang padamu sambil menangis dan memohon untuk kau nikahi hanya karena appaku ingin aku menikah denganmu, maka kau dan Eunji..” suaranya putus lagi, nafasnya saling memburu. “Tidak akan berakhir, dan kalian akan menikah.”

Myungsoo kembali menghapus jaraknya dengan Jiyeon. Ia melawan hatinya sekarang untuk tidak meninggalkan Jiyeon dan pergi menemui gadis bernama Eunji untuk menjelaskan kejadian ini. Sekarang gadis ini lebih membutuhkannya. Myungsoo mengusap air mata Jiyeon perlahan. Ia mengukir sebuah senyum yang sangat tipis di bibirnya. Ini sudah dua kali dalam satu bulan ia melihat Jiyeon menangis. Selama dua puluh tahun mengenal gadis ini, nyaris jarang Jiyeon mengeluarkan air matanya. Dan sekarang gadis ini menangis tersedu karenanya. “Tetap saja ini bukan salahmu. Aku yang memilihmu, bodoh.” Ia mengecup kelopak mata Jiyeon yang masih berurai air mata. Yah, ternyata kebiasaannya mengecup kelopak mata Jiyeon yang berair tidak hilang sampai sekarang. “Aku mengenalmu lebih dulu, dan aku sudah berjanji padamu saat berusia enam tahun bahwa aku akan membantumu apa pun itu, dan menikahimu juga termasuk dalam hal itu. Kau itu sahabatku, ingat.”

“Tapi kau mencintai Eunji, Myungsoo-ya. Aku ini hanya sahabatmu, dan dia gadis yang kau cintai selama tiga tahun.” Jiyeon berkeras sekarang. “Dibandingkan aku, kau seharusnya memilihnya.” Nada suara Jiyeon melemah.

Rahang Myungsoo mengeras atas tutur kata Jiyeon. Ia menyentakkan tubuh Jiyeon, dan memaksa gadis itu untuk mendongak, dan berhenti menunduk sembari bermain dengan kuku jarinya. “Dengar, aku memang mencintainya, tapi kau lebih penting. Aku bisa belajar untuk mencintaimu, mungkin.” Diakhir kata ada keraguan dalam pengucapan Myungsoo. Ia tidak yakin bisa menghapus Eunji begitu saja. Tapi, mengingat gadis ini sebagai istrinya yang juga sahabatnya sejak kecil ini pernah mengisi hatinya, rasanya tidak terlalu mustahil untuk belajar menerima keadaan sekarang.

“Tidak bisa! Kita tidak boleh, aturannya begitu, Myungsoo.”

“Tapi sekarang kita menikah, menurutmu hubungan kita masih sekedar sahabat?” Myungsoo mencela. Ia menutup mulut Jiyeon dengan tangannya saat melihat gadis itu hendak membuka mulut lagi. “Tidak ada argument. Aku lelah, dan aku rasa kau juga sama, jadi lebih baik kita tidur sekarang. Masalah pernikahan ini kita pikirkan besok.”

Jiyeon bergeming. Tidur, tidur, tidur. Kata itu mengantui kepalanya tepat setelah Myungsoo mengucapkannya. Tidur, artinya mereka di ranjang yang sama, ‘kan? Baiklah, ini memang bukan pertama kali mereka berbagi ranjang, mereka sudah sering melakukannya semenjak kecil mengingat bagaimana dekatnya mereka dan juga keluarga mereka.

“Apa yang kau lakukan? Atau kau mau tidur di sofa, dan mengambil resiko tidak tidur nyenyak dan harus membuatku memelukmu saat tidur?” Myungsoo menaikkan sebelah alisnya menunggu respon jawaban dari Jiyeon.

“Baik, kita tidur.”

Jiyeon melangkah masuk lebih dulu menuju kamar mereka. Hah, kamar yang sama, terasa begitu aneh menurut Jiyeon berbagi ranjang lagi dengan Myungsoo. Terakhir mereka melakukannya saat usia mereka enam belas tahun, setelahnya kedua orang tua mereka melarang, katanya mereka berdua sudah cukup tua untuk berbagi ranjang, apalagi dengan kemungkinan Myungsoo yang akan menjadi buas tiba-tiba.

Myungsoo naik ke ranjang, ia menarik selimut sampai batas dada Jiyeon, lalu ia ikut merebahkan dirinya. Pandangan matanya lurus ke atas. Pikirannya sekarang melayang pada Eunji. Ia menyesal telah memberi harapan kosong pada gadis itu –yang mengatakan mereka akan menikah- lihat sekarang ia justru menikah dengan sahabatnya sendiri. Sesuatu yang bahkan tak pernah lewat dalam benaknya.

“Myungsoo.” Jiyeon menyenggol Myungsoo dengan sikunya, otomatis pria itu beralih posisi, dan berhadapan dengannya. Tangan pria itu diposisikan di bawah bantal. Jiyeon menggit bibir bawahnya takut mengutarakan apa yang tengah bergentayangan dipikirannya.

“Bibirmu bisa terluka, Yeon-ah. Sekarang katakan.”

“Ehm,” Jiyeon masih menunggu reaksi Myungsoo, yang ternyata hanya berupa pandangan kesal karena tidak sabar. “Baiklah. Menurutmu, kalau aku memberimu kebebasan berhubungan dengan Eunji bagaimana? Lagi pula kita menikah juga ‘kan karena appaku yang tiba-tiba terkena serangan jantung dan meminta hal aneh seperti..”

“Diam dan jangan bicara.” Ketus Myungsoo. Ia mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangannya. Pandangannya berubah tajam pada Jiyeon. “Tidak. Kau pikir aku pria macam apa? Kita sudah menikah, dan sudah selayaknya kita bertindak seperti pasangan yang baru menikah, walaupun dasar dari pernikahan kita bukan cinta antar sepasang kekasih.”

Jiyeon bungkam. Jadi Myungsoo ingin mereka bertindak seperti pasangan pengantin baru? Tapi, bagaimana dengan perasaan pria itu sendiri? Ia tahu Myungsoo sedang memaksakan diri agar ia tidak lebih merasa bersalah lagi. Masalahnya, disini bukan hanya Myungsoo yang terluka, tapi ada Jung Eunji, temannya sekaligus kekasih Myungsoo sampai akhirnya ia menghancurkan hubungan keduanya. Ha-ha sahabat seperti apa ia ini.

“Baiklah, selamat malam.”

Myungsoo tidak membalas, ia hanya mendesah berat. “Aku tidak tahu ada seorang pengantin wanita yang memunggungi suaminya saat malam pertama mereka.” Ucap Myungsoo sinis. Baiklah, ia tidak bermaksud apa-apa. Ia hanya ingin menghapus kecanggungan dan jarak yang mulau terbentang diantara mereka. Ia tidak terbiasa, selama ini mereka tidak perna merasa canggung satu sama lain, bahkan ketika mereka melakukan ciuman pertama mereka bersama pun tidak terjadi kecanggungan yang seperti ini. Mereka malah tertawa tidak jelas. Ah, lihat ia mulai mengenang lagi.

“Apa maksudnya itu?” Jiyeon akhirnya kembali ke posisinya semula, dan memandangi Myungsoo dengan kesal.

“Aku akan menjelaskan lagi padamu, aku tidak menganggap pernikahan ini hanya main-main atau sebuah kesalahan seperti mu. Bagiku ini hanya berlangsung satu kali dalam seumur hidup, dan aku melakukannya denganmu, yang berarti aku tidak akan pernah melakukannya lagi dengan siapa pun temasuk Eunji. Dan aku ingin kita tetap seperti dulu, dalam artian tidak merasa canggung sama sekali, masalah cinta itu urusan nanti. Saat waktunya datang aku yakin perasaan itu akan tumbuh sendiri. Jadi, aku mohon berhenti berpikir aneh-aneh, dan lakukan seperti yang aku lakukan. Belajarlah mencintaiku sebagai seorang pria bukan sahabat, dan aku juga melakukan hal yang sama.”

Jiyeon tertegun. Ia memikirkan ucapan Myungsoo. Apakah harus mereka seperti ini? Tapi ia tetap saja ragu. Kalau seperti dirinya mungkin bahwa mencintai pria ini akan mudah karena sekarang tidak ada penghuni hatinya, lain lagi dengan Myungsoo, kursi tahta hati pria itu sudah lebih dulu ditempati oleh Eunji, jadi ia sangsi bisa menempatinya, bahkan kesempatan untuk masuk di celah terkecil pun sepertinya tidak ada.

“Bagaimana kalau tidak berhasil? Maksudku, bagaimana kalau hanya salah satu dari kita yang mencintai?”

“Maksudmu aku tidak akan mencintaimu?” tanya Myungsoo dingin, yang disambut gelengan ragu dari Jiyeon. “Kita lihat nanti, sekarang tidur.”

“Myungsoo-ya.”

“Tidur.”

Tidak ingin mendengar alasan lain dari Jiyeon, Myungsoo merengkuh gadis itu dan membiarkan gadis itu bergerak-gerak bagai cacing dalam rengkuhannya. Toh dengan begini Jiyeon tidak akan berkomentar lagi, dan ia tidak perlu memutar otak mencari alasan lain agar gadis ini tidak merasa bersalah atasnya. Lagi pula, tidur dengan cara seperti ini, ia merindukannya.

*

Gadis itu meringkuk sendiri di atas ranjangnya. Air matanya tidak henti-hentinya untuk berderai. Ia memukul dadanya yang kian dihinggapi rasa sesak yang membuatnya kesulitan mengambil nafas. Pria itu menghianatinya. Pria yang mengatakan bahwa ia satu-satunya. Hah, rasanya tiga tahun bersama pria itu tak berarti sekarang. Ia dicampakkan hanya karena sahabat pria itu sendiri yang juga merupakan temannya. Bagaimana bisa ia menerimanya dengan begitu mudah? Ia sudah menyiapkan dirinya untuk menikah bersama pria itu, namun bukan yang diinginkannya yang terjadi. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terjadi. Ia jatuh cinta, dilamar, kemudian dikhianati, mirip seperti drama, dan cerita di opera sabun.

“Kau tidak seharusnya mengambilnya, Jiyeon. Dia milikku.” Ucapnya diantara suara segukan akibat menangis. Biar bagaimana pun ia tidak bisa merelakan pria itu begitu saja tanpa perlawanan. Ia tahu, kedua pasang sahabat itu tidak menikah karena cinta, semua hanya karena rasa tanggung jawab pria itu pada sahabatnya yang tiba-tiba datang merusak kebahagian mereka. Pria itu, Kim Myungsoo dari awal untuknya dan sampai akhir pun selalu untuknya.

Jung Eunji tertawa miris, ia mengelus foto dirinya bersama Myungsoo. Kebahagiannya tidak akan ia biarkan hanya bersifat semu saja, ia masih menginginkan kebahagiannya berlanjut, dan ia akan melakukan perjuangan untuk hal itu.

*

            Hari baru datang lagi. Baik Myungsoo mau pun Jiyeon masih berusaha bersikap sewajarnya. Tidak ada lagi pembicaraan perihal hubungan Myungsoo dan Eunji atau pun bagaimana mereka kedepannya. Jiyeon sudah lebih memilih mengikuti arus takdir, entah mereka akan berakhir dengan percerain ia akan menerimanya, dan ia akan turut berbahagia jika Myungsoo nantinya berakhir bersama Eunji. Biar bagaimana pun, sekarang ia masih menganggap dirinya hanya lah seorang Park Jiyeon sahabat Kim Myungsoo, bukan Park Jiyeon isteri dari Kim Myungsoo.

“Jiyeon, makan sarapanmu sekarang!” Myungsoo menujuk roti di piring Jiyeon dengan wajahnya setelah melihat Jiyeon sibuk sendiri dengan dunianya. Myungsoo berani bertaruh bahwa Jiyeon pasti tengah memikirkan hal yang sama seperti kemarin malam. “Makan atau aku yang memakanmu.”

Tiba-tiba saja Jiyeon merasa aura kegelapan menyergapnya, hingga membuatnya bergidik ngeri dengan Myungsoo. Ia mengambil rotinya, dan melakukan gigitan pertamanya. Ia memperhatikan wajah Myungsoo. Masih sama seperti beberapa hari lalu, nampak lelah dan penuh beban. Sekali lagi rasa bersalah itu datang padanya. “Myungsoo-ya, aku serius tentang kebebasanmu..”

“Jangan pernah bicara padaku kalau kau masih mau membahas hal itu!” Myungsoo menghabiskan air mineral dalam gelasnya, dan langsung beranjak dari meja makan. Hari ini ia masih cuti karena pernikahannya, karena itu ia hanya akan mendekam di apartment ini bersama Jiyeon.

Myungsoo merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Jiyeon. Ia tidak peduli sama sekali atas semua ocehan Jiyeon mengenai dirinya, ia hanya sibuk mengganti-ganti chanel televisi.

“Jiyeon, diam!”

Barulah Jiyeon mau menutup mulutnya. Myungsoo kembali dengan aktifitasnya, mengganti-ganti chanel televisi sampai akhirnya ia tertegun melihat tayangan berita.

Jung Eunji, desiner muda ini ditemukan tak sadarkan diri di apartmentnya oleh manager-nya. Diduga penyebabnya karena overdosis obat tidur.

Myungsoo meremas tangan Jiyeon yang entah sejak kapan sudah menggengam tangannya. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar sepenuhnya, lalu ketika waktu itu datang ia langsung beranjak mengambil mantelnya dan pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

Jiyeon hendak mengejar Myungsoo, namun ia urungkan niatnya. Ini masalah Myungsoo dan Eunji, dan ia pikir Myungsoo butuh waktu untuk menjelaskan semuanya pada Eunji. Pada akhirnya Jiyeon tetap berdiam di apartment-nya menunggu Myungsoo dengan kabar baiknya.

*

            Bau obat-obat langsung menyerbu penciumannya begitu matanya terbuka untuk pertama kalinya sejak pagi. Gadis itu menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia menoleh ke samping, dan mendapati dirinya tengah dipandangi dengan pandangan penuh khawatir oleh pria yang sangat ia sayangi. Ia tersenyum lemah pada pria itu.

“Kau datang, Myungsoo-ya.”

“Hmm.” Myungsoo membalasnya dengan deheman. Ia tidak tahu mau berkata apa lagi. Sebagai gantinya ia hanya mengusap puncak kepala Eunji dengan lembut, dan hati-hati takut gadis ini terluka.

“Jadi?”

Myungsoo menampakkan raut wajah kebingungan atas pertanyaan abu-abu Eunji untuknya. “Apa?”

Eunji menarik tangannya yang digenggam oleh Myungsoo, dan kemudian membuang pandangannya kemana saja selama bukan pada pria itu. Air matanya luruh lagi, sesak itu akhirnya kembali menyerbunya seperti terakhir kali, tanpa membiarkannya untuk melawan. “Kau belum terlambat, kau bahkan belum mendaftarkan pernikahanmu, aku yakin itu.”

Myungsoo tahu hal ini pasti akan menjadi topic pembicaraan mereka. Tapi, sekarang ia ingin menghindar walau kenyataan tak akan membiarkannya sedikitpun. Myungsoo mengambil kembali tangan Eunji untuk ia genggam, dan menatap lembut pada gadis itu. “Aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa aku lakukan.”

Kekecawan tidak bisa lagi Eunji sembunyikan. Gadis itu bahkan sudah mulai terisak pelan. “Bahkan demi aku?” Pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya, tapi tetap ia ajukan mungkin saja jawabannya akan berubah.

“Ya.”

Ia seperti memakan pil pahit sekarang. Semuanya musnah. Beberapa menit yang lalu ia sempat berpikir bahwa Myungsoo datang padanya dengan itikad baik untuk hubungan mereka, namun semuanya seperti hanya angan-angan yang tak akan pernah sampai. “Tapi kau mencintaiku.”

“Aku menyayanginya sebelum kau, Eunji-ya.” Myungsoo mengucapkannya dengan berat karena ia tahu kalimatnya pasti menyakiti Eunji, dan juga itu menyakitinya.

“Ini berbeda. Kau tidak melihatnya sebagai wanita, kau hanya merasa terlalu bertanggung jawab padanya karena janji bodoh tentang membantunya itu.” Eunji berteriak marah.

“Katakan saja seperti itu. Tapi, tetap saja kami sudah menikah, dan aku sudah mengikat dirinya bersamaku, dan saat aku memutuskan itu aku tidak bermain-main.” Ia tidak bermaksud untuk melukai Eunji lebih dalam, hanya saja ia memang harus melakukan hal ini karena ia harus mulai belajar mencintai sahabatnya sendiri, karena kalau tidak ia takut bahwa suatu saat berganti Jiyeon yang terluka karenanya, dan ia tidak akan bisa berbuat apa-apa mengenai itu.

“Aku..”

“Aku sudah memilihnya, dan artinya kita benar-benar berakhir.” Myungsoo mengcup punggung tangan Eunji perlah, ada air mata yang mendesak keluar dari matanya. “Selamat tinggal.”

Dan setelah itu langkah Myungsoo yang keluar dari ruang rawat Eunji menjadi music yang mengiringi tangis Eunji.

*

            Pukul 01.30 a.m dan Myungsoo baru membuka pintu apartment-nya. Cahaya lampu masih bersinar terang hingga membuat pria itu menahan silau. Penampilannya berantakan, rambutnya sudah teracak, dan bau alcohol menyeruak dari mulutnya. Ia melangkah gontai menuju sofa, dan melihat Jiyeon sudah tertidur pulas. Ia berhenti, dan memandangi wajah damai Jiyeon. Ia tidak menyangka memutuskan lebih memilih sahabatnya sendiri dari wanita yang ia cintai. Ia tersenyum hambar, tangannya mengelus pipi tirus Jiyeon. Ia sadar mata gadis itu sedikit membengkak, dan ia tahu pasti alasan kenapa mata gadis itu bengkak sampai seperti ini.

“Bodoh, sudah ku bilang berhenti menyalahkan diri sendiri.” Myungsoo mengatakannya dengan pelan. Pandangan matanya melembut, hilang sudah sirat putus asa dari matanya.

Myungsoo menggendong Jiyeon untuk memindahnkannya. Sesampainya di kamar ia meletakkan Jiyeon di ranjang. Selama beberapa saat ia hanya diam tak bergerak dari tempatnya. Ia masih berpikir alasan kuat macam apa yang membuatnya kekeh dengan Jiyeon. Ya, tentang ia menyayangi Jiyeon itu memang fakta, tapi rasanya itu masih belum memberikan alasan kuat baginya untuk meninggalkan Eunji yang notabene-nya adalah wanita yang ia cintai hanya untuk bersama sahabatnya.

“Aku harap bukan keputusan yang salah, dan aku harap keputusanku tidak menyakitimu, Yeon-ah.”

 ulalalal xD Pertama-tama maafkan daku karena bukan bawa lanjuta ff malah nambah utang dengan new ff lagi huhaha. Masalahnya, waktu nyari ilham HSL dan Sunflower yang datang malah ilham ff baru, jadi lah cerita yang gajenya super duper.

Dan untuk penunggu setia hsl dan sunflowe *semacam ada yang nunggu aja :3 mohon bersabar, kemungkinan salah satunya akan post dekat tanggal 14.

Jadi, makaseh kalau ada yang sempat baca ff dadakan ini. Satu lagi, berhubung aku postnya sebelum diedit lagi, jadi kalau lihat typo tolong diberitahu ya🙂

105 responses to “[Chapter – 1] FOREVER YOU : I Chose You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s