[CHAPTER – PART 3] THE WEREWOLF

THE WEREWOLFthe werewolf cast

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

Previous Chapter : 1 | 2

JACHEON FOREST

Beberapa minggu yang lalu di Seattle…

“Bertahanlah…” In Guk mencoba menahan darah yang terus mengucur dari perut Soyeon.

Derap langkah kaki sang Alpha terdengar melewati lorong yang lembab itu.

“In Guk-ah, tidak ada gunanya kau mencoba menentangku seperti ini,” ucap Jung Woo yang sedang berwujud manusia. “Hampir sepuluh tahun kau menjadi pengikutku, aku beri kau gigitan yang mampu membuatmu hidup sampai sekarang. Kau menjadi sangat kuat, sangat sulit dikalahkan dan sangat dihormati oleh Werewolf lainnya. Sekarang kau coba berkhianat padaku? Bahkan kau bawa Soyeon dariku?”

Si Kanima, makhluk berbentuk jaguar yang setia berada di sebelah Jung Woo sudah mengeluarkan cakarnya yang panjang, tajam dan dapat mengeluarkan lendir berwarna putih.

“Aku sudah tidak kuat lagi,” ucap Soyeon lemah.

“Aku dapat mendengar kalian,” ucap Jung Woo bersenandung. “Kalau kau merasa sudah tidak kuat lagi kau bisa keluar sekarang dan datang padaku, Park Soyeon. Aku tahu para pemburu telah melepaskan Crossbow-nya padamu.”

Ditempat persembunyian, In Guk menatap nanar lubang pada perut Soyoen akibat busur panah yang para Hunters lepaskan pada kekasihnya itu.

Mistletoe,” ucap In Guk lirih.”Mereka memasukkan bubuk Mistletoe pada Crossbow-nya.”

“Aku tidak akan bertahan lama, In Guk-ah,” ucap Soyeon seraya membelai wajah In Guk yang sudah berkeringat dan pucat pasi.

“Tidak,” jawab In Guk seraya mengecup dahi Soyeon. “Aku akan bawa kau pergi dari sini setelah aku menyelesaikan misi kita. Aku akan bunuh Kanima sialan itu.”

Belum sempat Soyeon berkata apa-apa lagi, In Guk sudah keluar menemui Jung Woo yang kini sedang tersenyum lebar sementara sang Kanima menggeram seraya mengancamnya dengan cakarnya yang berlendir.

“Aku sudah keluar dari gerombolanmu,” ucap In Guk yang sudah mengeluarkan cakar-cakarnya.

“Tetapi tidak dengan Soyeon,” ucap Jung Woo. “Dia masih milikku. Hanya karena kau memacarinya, kau tidak bisa dengan seenaknya mengambilnya dariku. Dan kalau kau lupa Soyeon hanya Werecoyote lemah yang masih membutuhkan perlindungan dari Alpha sepertiku.”

“Setelah kau menjadikan Haneul sebagai Kanima-mu yang siap membunuh siapa saja, kau pikir aku akan memberikan Soyeon padamu?” tanya In Guk. “Aku tidak akan biarkan kau merusak semua sahabatku, bahkan pacarku.”

“Jelas kau sudah dengan beraninya menentangku secara terang-terangan,” ucap Jung Woo sementara sang Kanima sudah meloncat hendak menyerang In Guk.

Perkelahian antara In Guk yang sudah berubah menjadi Werewolf dengan Kanima berbentuk jaguar pun berlangsung. Dan Jung Woo dengan wajah sangat menyebalkan hanya memandang keduanya dengan bola matanya yang merah padam.

**

“S-siapa dia?” tanya Jin Ki otomatis memundurkan langkahnya.

Vargulf,” ucap Myung Soo seraya mengeluarkan kukunya yang tajam, siap melindungi Jin Ki.

“Halo Lee Jin Ki,” sapa Jung Woo yang sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya yang sempit. “Kau sudah dengar perjanjian antara aku dengan sobatmu itu?”

“Aku sudah tahu kalau yang kau maksud adalah rencanamu untuk mengeluarkan isi perutku,” ucap Jin Ki gemetaran. “Kau tahu? Aku ini tidak ada harganya sama sekali. Aku hanya anak miskin yang beruntung bisa bersekolah di Fellas Hills. Aku hanya punya ayah yang bekerja sebagai penjaga museum dan semua itu menunjukkan kalau membunuhku hanya akan mengotori kukumu yang lentik itu.”

Jung Woo hanya mengangguk santai sementara tangannya sedang memainkan jungkat-jungkit milik Jin Ki sebelum di lemparkannya ke arah kaca. Jin Ki terkejut, begitupun dengan Myung Soo.

“Sebetulnya aku punya banyak cara untuk membuat kau terlihat sangat mengenaskan,” ucap Jung Woo melangkah lebih dekat. “Dan semua itu tergantung dengan usaha Myung Soo apakah dia bisa membawa In Guk padaku.”

“Aku baru mengenal In Guk tidak lebih dari tiga hari,” ucap Myung Soo. “Jika kau tanya dimana dia, jawabannya aku tidak tahu.”

“Kau benar-benar seorang Werewolf baru yang butuh banyak bimbingan, Kim Myung Soo,” desah Jung Woo kini duduk di atas ranjang Jin Ki. “Apa In Guk belum mengajarkanmu bagaimana cara mencari orang dengan mengendus baunya?”

“Bau In Guk benar-benar buruk tetapi waktu itu mana kami perduli,” ucap Jin Ki yang masih bersembunyi di balik tubuh Myung Soo.

“Tetapi aku ingat baunya,” celetuk Myung Soo pelan.

“Aaaah…” Kedua alis Jung Woo terangkat ke atas. “…itu bagus artinya. Kau bisa mengendus baunya dan deteksi dia ada dimana. Aku akan melepaskan Jin Ki malam ini dengan waktu perpanjangan sampai besok malam. Jika kau benar-benar tidak membawanya, aku tidak akan mengulur waktu lagi untuk segera mengoyak isi perut sobatmu itu.”

Jin Ki pun menelan ludah seraya mengelus dadanya yang berdegup kencang.

Jung Woo pun pergi setelah mengubah diri menjadi Vargulf dengan meloncat keluar dari jendela kamar Jin Ki.

“Apa dia tidak bisa pulang dengan cara normal?” desah Jin Ki lega untuk sementara ini.

“Kita selamat,” ucap Myung Soo yang tak bisa menyembunyikan raut kelegaan.

“Hanya sementara,” tambah Jin Ki. “Aku benci dia terus mengancam isi perutku. Sudah kubilang aku tidak terlalu berharga.”

“Kau berharga buatku,” ucap Myung Soo seraya mengeluarkan cakarnya. “Kalau dia benar-benar menginginkan In Guk, berarti aku harus memberikannya. Aku akan cari In Guk demi kau, Jin Ki-ah.”

**

Seekor Canis Lupus berwarna abu-abu baru saja meloncat di depan Jung Woo yang tidak lama berubah menjadi seorang manusia tampan yang tingginya hampir menyamai tinggi Jung Woo.

“Kau mengejutkanku Yoo Yeon Seok,” ucap Jung Woo tanpa menghentikan langkahnya.

“Apa kita bisa mengandalkan Werewolf baru itu?” tanya Yeon Seok mengekor di belakang Jung Woo.

“Aku harus bisa mengandalkannya,” ucap Jung Woo. “Dia Werewolf, bukan pecundang yang tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Bagaimana jika kau buat Kanima baru?” tanya Yeon Seok mengusulkan.

“Kau terlihat sangat tergesa-gesa, Yeon Seok-ah,” ucap Jung Woo seraya menoleh ke belakang. “Kita harus nikmati trip kita disini.”

“Kau tahu aku benci kembali ke Seoul,” desah Yeon Seok.

“Begitupun denganku,” ucap Jung Woo. “Itulah alasan mengapa aku ingin membesarkan pack-ku di Seattle. Hanya saja terlalu banyak pengkhianat di dalam gerombolanku sendiri.”

**

Esok paginya di Fellas Hills…

“Lee Jin Ki! Masukkan kamus Mandarinmu selama kau ada di dalam kelasku!” teriak Mr. Cho yang sudah bosan dengan kebiasaan Jin Ki yang satu itu. “Dan kau, Kim Myung Soo…mau sampai kapan kau mempertahankan nilaimu yang mengesankan itu?”

“Dia hanya butuh seorang pembimbing pelajar,” sahut Jin Ki mengusulkan.

“Kalau begitu bimbinglah temanmu yang satu itu sampai dia tahu caranya membedakan bentuk telinga kelinci dengan telinga serigala,” ucap Mr. Cho mencoba mengingat betapa buruknya otak Myung Soo.

“Aku sedang berusaha,” ucap Jin Ki sebelum menoleh ke arah Jiyeon yang terlihat gelisah di sebelahnya. “Ada masalah?”

“Myung Soo harus segera mencari In Guk,” jawab Jiyeon membuat Jin Ki otomatis terbelalak.

“K-kau tahu soal itu?” tanya Jin Ki berbisik saat Mr. Cho menoleh ke belakang mengecek keadaan kelas sebelum kembali menulis di whiteboard-nya.

Sedangkan Myung Soo yang mampu mendengar percakapan keduanya hanya bisa diam tanpa ikut bicara. Paling tidak sampai akhirnya Jiyeon berkata, “Jika tidak aku akan diubah menjadi Kanima.”

**

Kafetaria…

“Oke, biar aku perjelas sedikit…” ucap Jin Ki seraya menatap Jiyeon yang duduk di depannya, sementara Myung Soo di sebelahnya. “Kau sudah tahu bahwa sobatku ini adalah manusia setengah serigala. Dan kau yang membawa Myung Soo kepada Vargulf  sehingga dengan bebasnya dia bisa mengancam isi perutku yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa.”

“Aku juga diancam,” protes Jiyeon.

“Lalu kau sendiri makhluk sejenis apa? Penyihir atau manusia setengah tuna?” tanya Jin Ki.

“Aku manusia,” jawab Jiyeon sebal. “Tetapi kakak perempuanku seekor Werecoyote. Dia memacari In Guk dan membuat rencana untuk membunuh Kanima milik Vargulf.”

“Pada intinya yang harus kita lakukan hanyalah membawa In Guk pada Vargulf demi menyelamatkan isi perutku dan dirimu dari wujud Kanima,” ucap Jin Ki berpikir. “Dan semua itu tergantung dari mampu atau tidaknya Myung Soo menggunakan insting dan hidung Werewolf-nya.”

“Aku akan ke hutan siang ini,” ucap Myung Soo memberitahu rencananya.

“Kau pikir In Guk akan berada di dalam hutan sementara Vargulf sedang berkemah di dalamnya saat ini?” tanya Jin Ki.

“Mungkin saja,” ucap Jiyeon teringat sesuatu. “Ada satu hutan yang tidak bisa di datangi Vargulf karena disekeliling hutan itu ditaburi Mountain Ash.”

Mountain Ash?” tanya Myung Soo tidak mengerti.

“Abu gunung yang memiliki kekuatan untuk menciptakan penghalang yang tidak bisa dilewati makhluk supernatural apapun,” jawab Jiyeon menjelaskan.

“Kalau makhluk supernatural apa saja tidak bisa masuk, bagaimana mungkin In Guk bersembunyi di dalamnya?” tanya Myung Soo.

“Mungkin dia menyuruh seseorang, seperti manusia biasa yang dapat menghapus batas lingkaran Mountain Ash,” jawab Jiyeon terdengar tidak yakin.

“Lalu membiarkan si manusia biasa itu tahu soal wujud asli In Guk yang sebenarnya adalah Werewolf, begitu?” tanya Jin Ki. “Untuk memastikannya sebaiknya kita pergi ke hutan itu siang ini. Ngomong-ngomong hutan mana yang kau maksud?”

“Jacheon Forest,” jawab Jiyeon.

**

2.00 PM di Jacheon Forest…

“Lihat,” ucap Jiyeon menunjukkan bekas taburan Mountain Ash pada sepanjang tepi hutan Jacheon. “Dia pasti menyuruh seseorang untuk menghapus batasnya sebelum menaburkan kembali Mountain Ash-nya.”

“Jadi kau sudah mulai bisa mengendusnya sekarang,” ucap Jin Ki yang kini sudah berada di tengah-tengah hutan bersama dengan Myung Soo dan Jiyeon.

Myung Soo yang belum pernah mencobanya pun mencoba fokus mencium aroma yang bisa dia cium di dalam hutan itu. Bau dedaunan lebih mendominasi, tanah dan kotoran binatang.

“A-aku benar-benar kesulitan memilah baunya,” ucap Myung Soo dengan dahi berkenyit.

“Coba lagi,” pinta Jin Ki. “Aku tahu bau In Guk lebih tengik dari bau apapun di dalam hutan ini.”

Myung Soo pun mencobanya lagi dan tidak lama kedua matanya yang tertutup mendadak terbuka.

“Aku dapat baunya,” ucap Myung Soo. “Ikut aku.”

Jin Ki dan Jiyeon pun mengekor di belakang Myung Soo yang sepertinya mencoba untuk masuk lebih dalam ke dalam hutan. Ada sebuah rumah kosong yang sudah bobrok di dalam hutan Jacheon. Dan tak lama kemudian In Guk keluar dari dalam rumah tersebut. Masih dalam keadaan dan penampilan yang sama.

“Apa dia tidak mandi?” gumam Jin Ki.

“Kau tahu aku ada disini?” tanya In Guk yang tiba-tiba terkejut melihat kehadiran Jiyeon. Spontan In Guk mengeluarkan cakarnya sebagai pertahanan diri.

“Wo wo wo…tenang dulu,” ucap Jin Ki. “Jiyeon hanya manusia biasa. Kau tidak perlu mengeluarkan cakar karena taringmu saja sudah bisa mengoyak tubuhnya.”

“Kalian ingin membawaku pada Jung Woo kan?” tuding In Guk. “Percuma saja. Aku tidak akan mau ikut kalian.”

“Tolong jangan persulit keadaan kami,” ucap Myung Soo. “Aku hanya Werewolf baru yang kurang beruntung karena bertemu dengan Vargulf. Aku tidak tahu apa-apa soal dendamnya padamu.”

“Dan dia sudah mengancamku,” sambung Jin Ki memberitahu. “Dia ingin mengeluarkan isi perutku jika malam ini Myung Soo tidak berhasil membawamu kehadapan si Alpha itu.”

“Kalau begitu kalian bisa menetap disini,” ucap In Guk mengusulkan.

“Dan meninggalkan kehidupan normalku sebagai manusia dengan menjadi tarzan?” tanya Jin Ki jelas menolak usul In Guk. “Atau aku bisa menjadi santapan kalian berdua untuk beberapa minggu kedapan?”

“Aku tidak tertarik dengan dagingmu yang alot,” ucap In Guk akhirnya menyuruh semuanya masuk ke dalam rumah bobroknya, termasuk Jiyeon.

“Dengarkan aku, Jiyeon-ah,” ucap In Guk pada Jiyeon. “Aku tahu kau sedang dibawah kendali Jung Woo. Begitupun denganmu, Jin Ki-ah…”

“Yeah, dia mengancamku terus menerus,” desah Jin Ki galau.

“…pada intinya aku tidak akan kembali atau menyerahkan diri pada Jung Woo,” sambung In Guk menjelaskan. “Yang dapat aku lakukan saat ini hanyalah bersembunyi disini, hanya disini. Sampai aku mampu memecahkan bagaimana cara menghancurkan Jung Woo.” In Guk pun menggelar gulungan perkamen tua yang berisi simbol-simbol aneh yang bahkan untuk manusia sepintar Jin Ki rasanya mustahil untuk dapat mengerti.

“Um, kalau boleh aku tahu bahasa apa itu?” tanya Jin Ki terlihat bingung.

“Kode-kode ini dibuat oleh keluarga pemburu terbesar yang Korea miliki,” ucap In Guk menjelaskan. “Sebenarnya masing-masing negara di dunia ini memiliki satu keluarga atau perkumpulan pemburu yang khusus memburu makhluk supernatural seperti kita.”

“Seperti kau dan Myung Soo kalau boleh kuralat,” ucap Jin Ki enggan disama-samakan.

“Dan Korea memilikinya, satu perkumpulan yang disebut Chun Dong Family,” ucap In Guk. “Dan mereka yang membuat kode-kode ini. Aku harus bisa memecahkan kode-kode ini untuk tahu bagaimana cara membunuh Vargulf dan pack-nya.”

“Jadi masalah kita sekarang adalah soal kode-kode jelek ini,” gumam Jin Ki. “Mungkin ayahku bisa membaca kode-kode ini? Dia menggilai kebudayaan Yunani Kuno.”

“Perkamen ini tidak boleh keluar dari hutan ini semenjak aku dan Soyeon berhasil mengambilnya dari tangan Chun Dong Family,” ucap In Guk menolak usul Jin Ki.

“Susah sekali bicara dengan serigala yang hobi tinggal di hutan,” desah Jin Ki seraya menepuk dahinya. “Aku hanya tinggal mengambil gambarnya dengan kamera cell phone-ku. Atau bisa aku salin ulang di selembar kertas. Aku suka menulis kok.”

“Baiklah, terserah kau mau melakukan apa,” ucap Myung Soo seraya menarik In Guk untuk berbicara empat mata. “Perlu kau tahu, aku tidak mau Vargulf menyakiti Jin Ki. Bahkan seujung kuku pun.”

“Kalau begitu biarkan anak itu sementara ini tinggal disini,” ucap In Guk. “Dan kau bisa bantu aku cari tahu soal kode-kode itu. Lebih cepat kita mengetahui bagaimana cara menghancurkan Vargulf, lebih cepat pula Jin Ki kembali. Aku tidak tahan jika dia mulai berbicara tanpa henti.”

“Kau mau tinggal disini untuk sementara waktu?” tanya Jin Ki pada Jiyeon yang berdiri di sebelahnya. “Kau juga berada di bawah ancaman Vargulf kan?”

“Sepertinya begitu,” ucap Jiyeon.

“Kalau begitu jelaskan sedikit tentang keluargamu yang memiliki anak seekor Werecoyote,” ucap Jin Ki terlihat penasaran.

Vargulf menggigit Soyeon dan menjadikannya Werecoyote, membawanya dari keluarga kecil kami yang sudah tinggal di Seattle sejak dulu,” ucap Jiyeon mulai menjelaskan. “Dan Kanima yang Vargulf punya, dia telah membunuh ayah dan ibuku. Lalu tinggallah aku seorang diri. Di bawah ancaman Vargulf yang menyuruhku untuk segera pindah ke Seoul demi membantunya mencari In Guk.”

“Dramatis,” ucap Jin Ki terlihat simpatik dengan kisah hidup Jiyeon.

“Aku hanya ingin hidup tenang tanpa Werewolf, Kanima dan Vargulf yang selalu muncul di dalam mimpiku setiap malam,” ucap Jiyeon gusar.

“Tenanglah, In Guk akan segera membunuh Vargulf,” ucap Jin Ki seraya menepuk bahu Jiyeon.

**

Nasional Folk Museum, Gyeongbokgung Palace…

Seorang pria baru saja akan menutup pintu tepat ketika seseorang menyentuh bahunya dari belakang. Suara jeritannya tertahan karena Myung Soo langsung menutup mulutnya.

“Kim Myung Soo!” geram Lee Jin Guk di dalam seragam museumnya yang kedodoran. “Apa yang sedang kau lakukan disini? Museum sudah tutup.”

“Aku butuh bantuanmu, Ahjussi,” ucap Myung Soo seraya mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya.

Di bukanya kertas itu dan kedua mata Jin Guk spontan membulat.

“Kode kuno milik keluarga Chun Dong?” tanya Jin Guk. “Darimana kau dapat ini?”

“Jadi kau tahu Ahjussi?” Ada perasaan lega menyelimuti perasaan Myung Soo mengetahui ayah dari Jin Ki ini memiliki otak yang sama dengan sang anak.

“Kau ikut aku,” ucap Jin Guk seraya mengajak Myung Soo masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang terletak di belakang museum. Tempat inilah yang menjadi tempat tinggal Jin Guk selama dirinya bertugas, mengingatkan akan Jin Ki yang harus tinggal sendiri di rumahnya yang tidak terlalu besar itu.

“Bagaimana bisa kau mendapatkan kode ini?” tanya Jin Guk sekali lagi. “Dan kurasa kau hanya menyalinnya tanpa membawa yang aslinya.”

“Jin Ki yang menulis kode-kode itu,” ucap Myung Soo memberitahu.

“Anak cerewet itu juga tahu soal ini?” Jin Guk terlihat takjub. “Jadi bisa jelaskan padaku apa yang sedang kalian lakukan berdua dengan kode sakral ini?”

“Aku harus memecahkan kode itu agar bisa mengalahkan Vargulf,” ucap Myung Soo membuat Jin Guk semakin terbelalak.

Vargulf telah kembali?” tanya Jin Guk.

“Kau tahu Vargulf?” tanya Myung Soo balik. “B-bagaimana bisa?”

“Ada banyak hal dari sederetan pengalaman hidupku di dunia ini yang tidak aku ceritakan pada orang lain,” ucap Jin Guk. “Menurutmu, mengapa aku tega meninggalkan Jin Ki tinggal sendirian di rumah reyot itu sementara aku tinggal disini?”

“Um, karena pekerjaanmu?” jawab Myung Soo menebak.

“Karena aku harus berlindung dari Vargulf,” ucap Jin Guk seraya menunjukkan mata keemasannya.

**

“K-kau salah satu dari…” Myung Soo tak mampu melanjutkan kata-katanya karena terlalu terkejut.

Werewolf, kalau itu yang kau maksud,” ucap Jin Guk. “Aku adalah mantan Beta gerombolan Vargulf yang sekarang menjadi Omega penghuni museum tua.”

“Jin Ki tidak pernah bercerita…”

“Dia tidak tahu bahwa ayahnya ini adalah seorang predator,” ucap Jin Guk. “Dan kalau boleh aku tahu, kenapa kau bisa masuk ke dalam urusan Vargulf dan kode tua milik keluarga Chun Dong?”

“Karena aku salah satu dari mereka,” jawab Myung Soo. Giliran Jin Guk yang terbelalak sekarang. “Aku digigit Vargulf dan bertemu dengan Seo In Guk.”

“Jadi anak itu telah kembali ke Seoul?” tanya Jin Guk. “Jadi tujuannya kembali demi kode-kode ini?”

“Dia harus menghancurkan Vargulf,” ucap Myung Soo memberitahu.

“Itupun rencanaku dulu, sampai akhirnya dia menggigit sebelah kakiku,” ucap Jin Guk seraya menunjukkan sebelah kakinya yang buntung dan diganjal oleh kaki palsu dari besi. “Aku sebenarnya bisa memecahkan kode ini, tetapi butuh waktu.”

“Kalau begitu pergunakan waktumu untuk memecahkan kode ini,” ucap Myung Soo memohon.

“Aku akan bantu kau dan In Guk melawan Vargulf,” ucap Jin Gu. “Tetapi berjanjilah satu hal padaku. Apapun yang terjadi, kau harus lindungi Jin Ki. Bahkan aku tidak mau salah satu dari taring kalian termasuk taring Vargulf menancap di tubuh Jin Ki. Aku mau Jin Ki hidup sebagai manusia normal.”

Myung Soo pun mengangguk seraya berkata, “Aku berjanji akan menjaganya.”

**

“Kau di pecat!” teriak seorang pria tambun di depan anak buahnya yang hampir membakar pom bensinnya malam itu.

Seon Ho Jun, seorang pekerja di pom bensin berjalan gontai seraya membawa kardus berisi barang-barang usangnya. Dia dipecat dan bingung harus bagaimana. Dia butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan sekolah adiknya.

“Aku harus bagaimana sekarang?” desah Ho Jun dengan wajah gelisah dan hampir menangis.

“Manusia yang menyedihkan,” ucap seseorang hampir mengejutkan Ho Jun.

Ditatapnya bola mata berwarna merah padam itu sebelum pria yang baru saja bicara padanya itu berubah wujud menjadi seekor serigala berbulu putih.

“S-serigala….” Ho Jun berlari sekencang mungkin sementara Vargulf mengerjarnya kemana pun dia berlari.

**

Ho Jun sudah tiba di hutan dengan wajah penuh keringat. Sepertinya serigala tadi sudah kehilangan jejaknya. Dia pun bersender pada salah satu pohon sementara berusaha menormalkan deru nafasnya yang tidak teratur.

“Manusia lemah,” ucap seseorang lagi. Pria itu kembali dalam wujud manusia dan kini berdiri di depan Ho Jun.

“S-siapa kau?” erang Ho Jun seraya bergerak mundur. “Jangan sakiti aku. A-aku hanya punya seorang ibu dan adik yang miskin. T-tolong jangan bunuh aku…”

“Aku tidak akan membunuhmu,” ucap Jung Woo seraya berjongkok di depan Ho Jun. “Bahkan aku berencana untuk membuatmu lebih baik. Paling tidak kau tidak perlu lagi memikirkan soal hidupmu yang buruk itu.”

“A-apa maksudmu?” tanya Ho Jun tidak mengerti.

“Jadilah Kanima-ku,” ucap Jung Woo. “Piaraanku yang setia menemaniku.”

Dan setelah itu yang terdengar hanyalah jeritan memilukan.

**

Kim Woo Bin menatap deretan foto pembunuhan yang diambil di TKP beberapa hari yang lalu.

“Kita harus menemukan makhluk apapun yang sudah berhasil membunuh tiga remaja ini,” ucap Woo Bin pada Jong Suk di ruang kerjanya.

“Hasil otopsi sudah memberitahu bahwa ketiga remaja ini memang dibunuh oleh sesuatu seperti cakar yang umumnya hanya dimiliki oleh binatang buas,” sambung Woo Bin. “Kita akan mengamankan hutan itu dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalamnya.”

**

“Sepertinya aku harus mengganti pekerjaanku sebelum tubuhku hancur lebih dulu,” ucap seorang paruh baya yang sibuk mendorong gerobak besinya yang memuat bonggolan kayu. Pria itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya tepat saat matanya menangkap seekor serigala yang baru saja menggigit seorang pria muda. “O-oh Tuhan…”

Vargulf yang baru saja menggigit Ho Jun kini beralih pada si pria paruh baya itu sebelum akhirnya menyerangnya dalam satu gigitan. Yeon Seok pun muncul dalam bentuk Canis Lupus sebelum membantu Vargulf menghabisi makan malam mereka.

**

Kim Woo Bin mencoba menghubungi cell phone Myung Soo yang sedaritadi tidak diangkat. Mr. Kim pun mencobanya sampai akhirnya Myung Soo muncul di ambang pintu dengan wajah tidak bersalah.

“Akan aku buat jam malam untuk remaja sepertimu jika kelakuan burukmu yang suka pulang larut malam itu tidak bisa hilang,” ucap Woo Bin yang khawatir setengah mati dengan sang adik setelah menerima kabar bahwa ada korban baru yang mati malam ini.

“A-aku baik-baik saja,” ucap Myung Soo dengan wajah tidak berdosa. “Kau tidak perlu berlebihan seperti ini.”

“Baru ada yang mati malam ini di hutan dan kau bilang aku berlebihan?” tanya Woo Bin seperti macan yang diganggu acara tidurnya.

“Kota kita sedang diserang binatang yang entah apa yang mencoba menghabisi korbannya di malam hari, Myung Soo-ah,” ucap Mr. Kim mencoba membantu Woo Bin. “Dan tolong jangan buat seisi rumah ini khawatir dengan hobimu yang suka pulang larut malam itu.”

“Aku baik-baik saja dan aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucap Myung Soo keukeh. “Aku juga tidak pernah main ke hutan.”

“Tidak pernah main di hutan?” tanya Woo Bin. “Lalu ini apa?” Woo Bin mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Gantungan cell phone-nya yang berbentuk kunci kini menggantung di udara di depan mata Myung Soo yang kini hanya bisa tertunduk diam. “Jong Suk bilang padaku kau berkeliaran di hutan dengan Jin Ki karena sedang berusaha mencari benda ini.”

“Aku berkeliaran sebelum aku tahu bahwa ada yang mati di hutan,” ucap Myung Soo mencoba mencari pembelaan.

“Jangan banyak mengumbar alasan, Myung Soo-ah,” ucap Woo Bin. “Aku begini karena aku tidak mau satu-satunya adik terbodoh yang aku punya menjadi santapan binatang buas.”

**

Myung Soo menggebrak pintu kamarnya sambil bersungut kesal. Amarahnya pun berkobar kembali, membuat cakar-cakar pada kedua tangannya bermunculan disusul matanya yang berubah menjadi keemasan.

Matahari….Bulan…Kebenaran…” Myung Soo mencoba mengucapkan ritual Budhis yang In Guk ajarkan demi meredakan amarahnya. Bukan mereda yang terjadi justru hancurnya setengah dari ranjangnya akibat cakarannya yang tajam. Myung Soo menggeram dengan nafas menderu dan mencoba mengulangi kata-kata ritual itu.

Beberapa saat kemudian amarahnya berhasil diredakan. Myung Soo pun bersender pada tembok kamarnya seraya menatap ranjangnya yang sudah hancur sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jacheon Forest lewat jendela kamarnya.

Tanpa Myung Soo sadari, beberapa menit yang lalu Vargulf sudah tiba lebih dulu di kamarnya dengan meninggalkan simbol Alpha yang menunjukkan bahwa saat ini Myung Soo dalam pengawasannya.

To Be Continue

62 responses to “[CHAPTER – PART 3] THE WEREWOLF

  1. Pingback: [CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s