[ONESHOT] Sweeter Than Fiction

Quinniechip’s present

myungji-stf-SWEETER THAN FICTION-

Staring by Kim Myungsoo & Park Jiyeon and minor cast

A Romance Oneshoot for Teenager with Parental Guidance

-oOo-

Sudah lewat dua puluh sembilan hari sejak perayaan hari jadi mereka yang menginjak usia tiga tahun. Itu artinya hanya tertinggal satu hari lagi sebelum pernikahan dilaksanakan. Mungkin tahun ini menjadi perayaan hari jadi yang paling membahagiakan bagi Jiyeon, bagaimana tidak, Myungsoo melamarnya dengan cara paling normal dan sangat biasa. Maklum saja, Myungsoo memang bukan tipe lelaki romantis yang bisa menciptakan momen-momen luar biasa manis dan membuat jantung seorang wanita menjadi berdetak dua kali lebih cepat. Tapi cara Myungsoo melamarnya kemarin cukup berhasil membuat Jiyeon menitikkan air mata bahagianya.

Myungsoo tidak melamarnya di depan banyak orang. Myungsoo juga tidak melamarnya dengan membawa gitar dan menyanyikan sebuah lagu, atau menutupi wajahnya dengan berpuluh-puluh tangkai bunga yang ia dekap, apalagi menyewa sekelompok orang untuk membuat flash mob lalu Myungsoo akan muncul secara tiba-tiba ditengah penampilan. Oh.. tidak tidak, itu sama sekali bukan gaya seorang Kim Myungsoo. Ide yang paling mendekati mungkin hanya membawa gitar dan menyanyikan lagu romatis untuk Jiyeon, tetapi sayangnya Myungsoo sama sekali tidak bisa memainkan gitar dan suaranya pun sangat mengenaskan jika harus dipertontonkan. Satu-satunya alat musik yang ia bisa mainkan dengan lancar hanyalah drum, dan tidak mungkin jika Myungsoo membawa alat sebesar itu ke hadapan Jiyeon, sangat tidak praktis. Lagipula lagu jenis musik apa yang bisa ia mainkan dengan sebuah drum, tidak mungkin, kan, jika ia memainkan lagu band favoritnya yang beraliran keras untuk melamar Jiyeon, atau Jiyeon akan kabur dan tak akan pernah muncul lagi dihadapannya. Myungsoo tidak mau mengambil resiko bodoh sebesar itu.

Setelah cukup lama meminta saran pada Jongin dan Soojung yang berlanjut dengan adu mulut, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri tanpa menerima saran dari sepasang kekasih itu sedikitpun. Jongin memang sahabat paling gila yang pernah ia kenal, dan ia tak menyangka jika sepupunya juga tertular akan kegilaan Jongin sejak mereka mulai berhubungan setahun yang lalu. Bodohnya Myungsoo tidak mengingat bahwa kemungkinan besar cara-cara yang ditawarkan Jongin adalah cara paling konyol yang pernah ada. Soojung bisa menjadi kekasih Jonginpun rasanya seperti keajaiban, karena Jongin bukanlah seseorang yang dipenuhi dengan keseriusan, bahkan disaat sedang beribadah di gereja pun ia masih bersikap tidak waras dan sering kali membuat malu. Myungsoo juga tidak tahu seperti apa kedekatan Jongin dan Soojung sebelumnya, yang Myungsoo tahu, Soojung dan Jongin bertemu pada pesta ulang tahun Jiyeon dan saat acara selesai Jongin menghampirinya dan meminta nomer ponsel Soojung atau apapun yang dapat ia gunakan untuk menghubungi Soojung.

“Bagaimana jika kau menciumnya di depan banyak orang.”

Tentu saja Myungsoo langsung menolak usulan Jongin mentah-mentah. Jongin memang lelaki gila. Mana mungkin dia melakukan hal itu pada Jiyeon, mencium Jiyeon di depan banyak orang sebagai caranya untuk melamar kekasihnya. Asal Jongin tahu saja, ciuman pertama Myungsoo dan Jiyeon hanya sebatas bibir yang saling bersentuhan. Itu saja sudah berhasil membuat pipi Jiyeon merona merah dan Myungsoo yang awalnya terlihat biasa saja langsung sakit keesokan harinya.

“Atau kau perlu menghamilinya, dengan begitu mau tak mau ia akan menerima lamaranmu.”

Soojung hanya meringis kesakitan saat Myungsoo memukul dahinya keras. Myungsoo tidak tahu jika sepupunya yang satu ini bisa berpikiran sekotor itu, dan Myungsoo menuduh Jongin atas apa yang dikatakan oleh Soojung. Pasti Jongin telah mengajarkan hal yang tidak-tidak pada Soojung yang awalnya sangat polos. Usulan mencium saja ditolaknya, apalagi menghamili Jiyeon, oh mungkin Myungsoo akan berakhir mengunci diri di dalam kamar sebelum berhasil melakukannya.

Menggunakan caranya sendiri mungkin memang pilihan yang tepat. Hanya cukup berlutut dan membuka kotak cincin dihadapan Jiyeon dengan mengucap satu kalimat yang telah ia latih semalam suntuk. Sungguh biasa memang, sangat normal, tidak ada cara istimewa sama sekali. Tapi hanya inilah yang mampu dilakukan Myungsoo, ini saja sudah membuat tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.

Myungsoo sama sekali tak menyangka jika Jiyeon menerima lamarannya, bahkan menangis disaat Myungsoo menyematkan cincin di jari manisnya. Mengingat bahwa Jiyeon adalah pecinta dongeng-dongeng manis karya Disney dan segala macam jenis novel berbau romantisme. Jiyeon pernah mengatakan bahwa ia akan merasa sangat bahagia jika Myungsoo melamarnya dengan cara manis seperti yang ada dalam dongeng ataupun novel yang pernah ia baca. Myungsoo sempat memikirkannya, bahkan rela menonton fairytale Disney sampai jatuh tertidur hanya untuk mencari cara yang tepat untuk melamar Jiyeon. Tapi Myungsoo sudah angkat tangan lebih dulu, ia bukan pangeran berkuda putih yang memiliki mulut semanis gulali. Sekali Myungsoo pernah membuat puisi cinta untuk Jiyeon atas usulan Jongin, dan semuanya gagal total, puisinya lebih pantas disebut sebagai acara pembacaan pidato kepala sekolah.

Myungsoo tidak tahu bahwa mengurus acara pernikahan ternyata bisa semerepotkan ini. Walaupun semuanya telah ditanggung sepenuhnya oleh wedding organizer, tapi tetap saja Myungsoo tak bisa lepas tangan begitu saja. Sebenarnya Jiyeon-lah yang lebih sibuk menyiapkan ini dan itunya, hingga Jiyeon jatuh sakit karena terlalu lelah dan Myungsoo memutuskan untuk ikut membantu separuhnya.

Dihubungi berkali-kali oleh keluarga atau pihak wedding organizer sedikit banyak mengganggu pekerjaannya. Bahkan pernah sekali ia dihubungi saat sedang rapat dengan koleganya dan tentu saja Myungsoo dimarahi habis-habisan oleh atasannya yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Salah satu peraturan yang tidak boleh dilanggar adalah diwajibkan untuk mematikan ponsel saat memasuki ruang rapat. Ayahnya tidak memtolerir alasan apapun, walaupun untuk kepentingan pernikahan putranya sendiri. Ayah Myungsoo memang benar-benar pemimpin yang tegas. Walau begitu Myungsoo tetap tidak pernah mematikan ponselnya, ia tidak mau mengambil resiko atas sesuatu yang bisa menghambat acara pernikahannya. Hanya cukup mematikan nada deringnya dan mengirim pesan singkat jika itu benar-benar mendesak.

Myungsoo sudah mengatakaan pada keluarga dan pihak wedding organizer untuk menghubungi Jiyeon jika ada sesuatu yang dibutuhkan pada saat jam kerja. Pekerjaan Jiyeon sebagai pemilik cafe tentu saja lebih luang dan tidak terikat jam kerja seperti Myungsoo. Lagipula Jiyeon bisa menyerahkan pekerjaannya pada karyawannya jika Jiyeon harus pergi.

Cafe yang dipimpin Jiyeon adalah sesuatu yang paling berharga setelah keluarga dan Kim Myungsoo tentunya. Cafe yang ia bangun dari nol ini menyimpan banyak kenangan bagi mereka berdua. Myungsoo dan Jiyeon bertemu pertama kali, melakukan pendekatan, memulai hubungan mereka, bertengkar sampai nyaris putus, bahkan Myungsoo juga melamarnya di cafe ini.

Cafe milik Jiyeon ini selalu memutarkan musik sepanjang hari atas usulan dari Soojung. Selain agar pengunjungnya tidak cepat bosan, Jiyeon juga ingin memberikan sedikit hiburan pada karyawannya dengan musik yang selalu diputar. Sudah tiga minggu terakhir ini Jiyeon selalu memutar lagu Sugar milik Maroon 5 setiap hari. Selain karena Jiyeon memang penggemar berat dari band yang digawangi oleh Adam Levine ini, Jiyeon selalu teringat pada dongeng-dongeng favoritnya dan cerita penuh romantisme dari novel yang pernah ia baca yang memang semanis gula, setiap mendengar lagunya.

Jiyeon memang bukan penggemar biasa, Jiyeon rela membeli tiket konser Maroon 5 yang diadakan di Jepang demi melihat penampilan Adam Levine dan kawan-kawannya. Tapi rencananya harus ia kubur dalam-dalam karena Myungsoo terserang penyakit demam berdarah dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Sebagai kekasih yang baik, tidak mungkin Jiyeon meninggalkan Myungsoo begitu saja hanya untuk konser Maroon 5. Jiyeon memang sempat marah pada Myungsoo, walau penyakit itu bukan Myungsoo yang meminta, tapi tetap saja tiket dan uang yang sudah ia kumpulkan harus terbuang sia-sia. Cara Myungsoo untuk membuat Jiyeon memaafkannya ternyata berhasil, walaupun ia harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli album original Maroon 5. Ya, cinta memang butuh pengorbanan.

-O-

“Semuanya sudah siap?” Tanya Jiyeon yang masih dikelilingi oleh para wanita yang disewa untuk merias pengantin, “Penerima tamu, pengiring pengantin, buket bunga..”

Soojung hanya mengangguk, “Sudah, Ji, kau tenang saja.”

“Apakah Myungsoo sudah-”

“Dia tampan, Ji.” Potong Soojung cepat.

Jiyeon menarik nafasnya dalam berusaha menenangkan diri. Sejak semalam Jiyeon selalu memikirkan tentang pernikahannya hari ini. Jiyeon sendiri tidak tahu apa yang sedang ia khawatirkan, sebelumnya ia sudah memastikan bahwa segalanya sudah siap dan terencana dengan rapi, seharusnya tak ada lagi yang perlu dipikirkan, tetapi mengingat bahwa ini adalah pernikahannya dan Jiyeon menginginkan hal yang sempurna, karena acara ini hanya akan ia laksanankan sekali dalam seumur hidup.

Perias menyapukan polesan terakhir pada pipi Jiyeon. Sungguh, Jiyeon terlihat berkali lipat lebih cantik dari biasanya yang hanya memakai make up seadanya. Gaun yang didesign oleh Soojung benar-benar terlihat mewah ditubuhnya. Ditambah hiasan bunga yang diselipkan di sela rambutnya membuat Jiyeon terlihat semakin indah. Siapapun yang melihat bisa merasakan bagaimana pesona kecantikan Jiyeon hari ini.

“Kau sudah selesai?” Tanya Soojung, “Jika sudah bersiaplah, semuanya sudah menunggumu.”

“Apakah aku terlihat cocok dengan gaun ini, Jung?”

Soojung hanya mengangguk sambil tersenyum, “Kau tampak luar biasa, sayang..”

Jiyeon bisa mendengar dengan jelas beberapa sambutan yang diberikan oleh sang pembawa acara di luar sana. Myungsoo sudah dipersilahkan masuk terlebih dahulu dengan diiringi oleh musik dan tepuk tangan dari para tamu. Jantung Jiyeon semakin berdetak kencang. Tak lama lagi pintu didepannya akan terbuka, dan ia akan berjalan memasuki altar. Jiyeon berusaha agar tak terlihat begitu gemetar, mencoba memejamkan matanya dan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. Berutunglah, ayahnya ada disampingnya, mendampinginya hingga nanti ia resmi menjadi tanggung jawab Myungsoo.Genggaman penuh ketulusan dari ayahnya perlahan menenangkan Jiyeon, dan Jiyeon hanya memberikan senyum pada ayahnya.

Pintu terbuka dan musik mulai dimainkan, disusul dengan tepuk tangan dari para tamu. Jiyeon bisa melihat dari ujung matanya, bisikan kagum dari sebagian besar tamu yang memuji dirinya. Ibunya yang sudah menitikkan air mata sejak pertama kali Jiyeon keluar dan Soojung yang tersenyum lebar dengan mengangkat dua jempol pada Jiyeon. Jantungnya kembali berdetak saat ayahnya melepas genggamannya dan menyerahkannya pada Myungsoo. Berdiri berhadapan dengan Myungsoo seperti ini membuat Jiyeon gugup. Myungsoo hanya menunjukkan senyuman teduhnya yang benar-benar menjadi penenang bagi Jiyeon.

“Bersediakah saudara Kim Myungsoo menerima Park Jiyeon sebagai satu-satunya istri dan hidup bersama selamanya dalam ikatan pernikahan suci seumur hidup, mengasihi, merawat, menghormati dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia.” Jawab Myungsoo yakin.

“Bersediakah saudari Park Jiyeon menerima Kim Myungsoo sebagai satu-satunya suami dan hidup bersama selamanya dalam ikatan perrnikahan suci seumur hidup, mengasuh, merawat, dan menghormati dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia.” Jawab Jiyeon kemudian.

“Sekarang mempelai pria dipersilahkan untuk mencium pengantinnya.”

Suara riuh dari para tamu mulai memenuhi ruangan. Teriakan-teriakan menggoda dan tepuk tangan dari tamu bercampur menjadi satu. Myungsoo hanya tertawa canggung sambil menggaruk belekang lehernya sedangkan Jiyeon menunduk menyembunyikan semburat merah dipipinya.

Dengan mengumpulkan segala keberaniannya Myungsoo memegang kedua pipi Jiyeon dan mengangkat dagunya perlahan. Myungsoo mendekatkan wajahnya dan..

Your, sugar

Yes please

Won’t you come and put it down me

Perhatian seluruh tamu teralihkan. Begitu juga dengan Jiyeon dan Myungsoo yang langsung menolehkan kepalanya dan menatap sekelilingnya dengan pandangan bingung. Lagu favorit Jiyeon tiba-tiba terputar, menggagalkan bagian yang paling dinantikan sejak awal.

Lampu sorot seketika mengarah ke arah sebuah tirai berwarna merah yang setahu Jiyeon tidak pernah ada sebelumnya. Belum selesai dengan kebingungannya, Myungsoo menarik tangan Jiyeon dan membawanya tepat ke depan tirai merah tersebut.

“Myungsoo, ada apa ini?” Tanya Jiyeon bingung.

Myungsoo menatap Jiyeon dalam, “ Maaf jika selama ini aku tidak menjadi lelaki yang kau inginkan. Pangeran berkuda putih seperti yang ada dalam dongeng, maaf jika aku terlahir bukan sebagai seseorang yang romantis. Aku mencintaimu, Ji..”

Tirai terbuka sesaat setelah Myungsoo menyelesaikan ucapannya. Tiidak membiarkan Jiyeon membalas sepatah katapun. Terlihat lima orang lelaki berjas hitam dari balik tirai. Nada yang begitu familiar ditelinga Jiyeon mulai terdengar.

I’m hurting, baby, I’m broken down
I need your loving, loving, I need it now
When I’m without you
I’m something weak
You got me begging
Begging, I’m on my knees

I don’t wanna be needing your love
I just wanna be deep in your love
And it’s killing me when you’re away
Ooh, baby,
‘Cause I really don’t care where you are
I just wanna be there where you are
And I gotta get one little taste

Your sugar
Yes, please
Won’t you come and put it down on me
I’m right here, ’cause I need
Little love and little sympathy
Yeah you show me good loving
Make it alright
Need a little sweetness in my life
Your sugar
Yes, please
Won’t you come and put it down on me

My broken pieces
You pick them up
Don’t leave me hanging, hanging
Come give me some
When I’m without ya
I’m so insecure
You are the one thing
The one thing, I’m living for

I don’t wanna be needing your love
I just wanna be deep in your love
And it’s killing me when you’re away
Ooh, baby,
‘Cause I really don’t care where you are
I just wanna be there where you are
And I gotta get one little taste

Your sugar
Yes, please
Won’t you come and put it down on me
I’m right here, ’cause I need
Little love and little sympathy
Yeah you show me good loving
Make it alright
Need a little sweetness in my life
Your Sugar! (Your sugar!)
Yes, please (Yes, please)
Won’t you come and put it down on me

Yeah
I want that red velvet
I want that sugar sweet
Don’t let nobody touch it
Unless that somebody’s me
I gotta be a man
There ain’t no other way
‘Cause girl you’re hotter than southern California Bay

I don’t wanna play no games
I don’t gotta be afraid
Don’t give all that shy shit
No make up on, that’s my

Sugar
Yes, please
Won’t you come and put it down on me (down on me!)
Oh, right here (right here),
‘Cause I need (I need)
Little love and little sympathy
Yeah you show me good loving
Make it alright
Need a little sweetness in my life
Your sugar! (Sugar!)
Yes, please (Yes, please)
Won’t you come and put it down on me

Your sugar
Yes, please
Won’t you come and put it down on me
I’m right here, ’cause I need
Little love and little sympathy
Yeah you show me good loving
Make it alright
Need a little sweetness in my life
Your sugar
Yes, please
Won’t you come and put it down on me
(Down on me, down on me)

Tepuk tangan mulai mereda. Suasana seketika senyap. Myungsoo menatap Jiyeon penuh harap. Dan tawa Jiyeon pecah kemudian.

“Ka.. kau tertawa?”

Jiyeon menarik nafas panjang mencoba menghentikan tawanya, “Pasti Soojung yang memberitahumu.”

“Apa maksudmu?” Tanya Myungsoo bingung.

“Semua ini,” Tunjuk Jiyeon, “Aku pernah bercerita pada Soojung jika seandainya Maroon 5 benar-benar datang pada acara pernikahanku nanti.”

Myungsoo hanya terdiam tanda mengerti, sedangkan Soojung hanya tertawa meringis mendengar namanya disebut.

“Maafkan aku hanya bisa membawa Maroon 5 jadi-jadian ini. Lagipula suara Woohyun tidak begitu buruk.”

Jiyeon hanya tersenyum lalu memegang tangan Myungsoo lembut, “Aku memang menyukai dongeng ataupun novel-novel romantis, aku memang mendambakan pernikahan sempurna yang penuh dengan kenangan manis, dan terkadang aku berharap kau bisa berubah menjadi pengeran berkuda putih,”

“Tapi semua ini sudah membuatku bahagia, semua ini sudah lebih dari cukup, karena kau ada disini untukku, Kim Myungsoo,”

“Dan asal kau tahu saja,” Jiyeon melanjutkan ucapannya, “Maroon 5 jadi-jadian ini luar biasa, Myung. Rasanya lebih mengejutkan daripada kau mendatangkan Maroon 5 yang asli. Ini terasa lebih manis daripada apa yang selalu kuimpikan selama ini. Lebih manis dari segala anganku. Terimakasih, Kim Myungsoo. Aku mencintaimu.”

Ciuman Jiyeon terasa begitu cepat. Dan Myungsoo baru menyadari bahwa ciuman Jiyeon lebih tulus dan jauh lebih manis dari pada ciuman yang diberikan si cantik pada si buruk rupa yang selalu Jiyeon ceritakan padanya selama ini.

-END-

Haaaiii~ Ketemu lagi ya!

Haha ada yang familiar mungkin sama jalan ceritanya? Yaps, ini aku dapet ide dari vidoe clip-nya Maroon 5 yang sugar. Dan sepertinya mendatangkan Maroon 5 yang asli agak impossible jadi hanya sebatas Maroon 5 jadi-jadian yg jadi kejutan hehe ._.v

Ah aku aku rekomendasi deh buat baca ceritanya sambil dengerin lagunya, enak banget deh, easy listening..

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

71 responses to “[ONESHOT] Sweeter Than Fiction

  1. huuuuuu… sampai menangis terharu! Saking banyaknya senyum. Ff mu begitu indah.
    baiklah, aku akan coba dengarkan lagu maroon 5 sugar. maklum selama ini terlalu terpaku pada lagu kpop –“

  2. Aaaaaaa aku juga suka lagu maroon 5 yg sugarrr. Dan dijadiin ff itu senneng bangetttt. Kerennn thorrr. So sweetttt<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s