LIKE THE FIRST TIME [PART 7]

LTFT_poster copy

Type    : Part

Genre  : Romantic, Sad, Little bit comedy, Drama.

Author : @shaffajicasso

Rating  :  PG – 14

Cast     : Park Jiyeon, Kim Myungsoo.

Other   : Lee Jieun, Kim Jongin, Bae Suzy, etc.

Poster  : by me at MY ART STORY

.

.

.

“Berlomba untuk mendapatkan Jiyeon. Mulai sekarang kita akan bersaing secara sehat, untuk mendapatkan hati Jiyeon.”

“Hyung!”

“Wae? Kau tak mau bersaing denganku?”

“Kim Jongin jawab aku. Jika tidak, Jiyeon akan menjadi milikku.” Ucap Myungsoo. Jongin menatap Myungsoo dengan tatapan tak percaya.

“Hyung, sejak kapan kau menyukai Jiyeon?” tanya Jongin. Myungsoo tampak berfikir.

“Sejak kapan? Mungkin sejak kami bermain basket waktu itu. Bermain basket sembari hujan-hujanan.” Ucap Myungsoo.

“K-kalian bermain basket bersama?” tanya Jongin, Myungsoo mengangguk.

“Ya. Kau tau lapangan basket yang ada di dekat toko bunga itu? Kami berdua bermain basket di sana.” Ucap Myungsoo.

“Hyung. Kenapa kalian sangat cepat akrab? Sedangkan saat pertama kali bertemu kalian bertengkar.”

“Entah. Aku pergi. Jangan lupa itu!.” Myungsoo pun pergi meninggalkan Jongin yang masih terdiam di tempat berdirinya.

“Jadi, apa aku harus menerima tawaran Myungsoo hyung? Apa aku bisa? Baiklah, aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Kau hanya masih ragu padaku.” Jongin menghembuskan nafasnya kasar.

“Baiklah hyung. Aku terima tawaranmu itu.”

****

Dokter Ahn menghampiri ranjang Jiyeon. Ia duduk di pinggiran ranjang, ia menatap Jiyeon yang sedang terlelap. Jae Hyun tersenyum. Tangan Jae Hyun terangkat untuk membelai rambut Jiyeon, ia membelai rambut Jiyeon dengan lembut dan pelan.

“Kau sangat mirip dengannya. Kau seperti Seo Yool.” Gumam Jae Hyun pelan, ia masih menatap Jiyeon.

Jiyeon terlihat menggeliat kecil, Jae Hyun terkejut. Jae Hyun berdiri dan kembali bersikap normal. Perlahan mata Jiyeon terbuka, Jiyeon terperanjat kaget saat melihat Jae Hyun di ruang rawat Jiyeon.

“Uisa-nim, sejak kapan kau disini?” tanya Jiyeon.

“Aku? Sejak tadi.” Jawab Jae Hyun terlihat santai.

“Mwo? Berarti sedari tadi kau melihatku yang sedang tidur?” Jae Hyun menganggukkan kepalanya santai.

“Uisa-nim, kenapa kau tidak membangunkanku saja?”

“Kau terlihat sangat nyenyak tadi. Aku tidak tega untuk membangunkanmu. Jadi aku biarkan saja.” Ucap Jae Hyun.

“Aigoo. Jadi, ada apa kau kemari?” tanya Jiyeon.

“Memeriksamu.”  Ucap Jae Hyun. Jiyeon mengangguk.

Jae Hyun pun mulai memeriksa Jiyeon. Sedangkan Jiyeon ia terlihat memainkan ponselnya. Jae Hyun menekan perut sebelah kanan Jiyeon, yang membuat Jiyeon berteriak kesakitan.

“Uisa-nim!! Jangan di tekan, itu sakit!” Jiyeon menyingkirkan tangan Jae Hyun yang berada di perutnya. Jiyeon memegangi perutnya.

“Ternyata masih terasa sakit. Ini harus di percepat.” Gumam Jae Hyun. Ternyata Jiyeon masih dapat mendengar gumaman Jae Hyun dengan samar-samar.

“Nde? Kau bilang apa?” tanya Jiyeon. Jae Hyun menggelengkan kepalanya.

“Ah, kau menyembunyikan sesuatu dariku? Eoh? Geutji?” Jae Hyun menatap Jiyeon dengan tatapan aneh.

“Hentikan itu!” baru saja Jae Hyun hendak melangkah pergi, tetapi tangannya tertahan. Jiyeon menahan tangan Jae Hyun.

“Wae?” tanya Jae Hyun.

“Uisa-nim, ak-aku merasa ingin muntah.” Ucap Jiyeon lirih.

“Ah jinja! Aku benar-benar ingin muntah!” Jiyeon memukul-mukul dadanya yang terasa mual.

.

Jae Hyun memukul-mukul punggung Jiyeon pelan. Kini Jae Hyun harus menemani Jiyeon muntah di kamar mandi, Jae Hyun merasa ikut mual melihat Jiyeon muntah. Jiyeon masih memuntahkan isi di dalam perutnya. Jae Hyun memalingkan wajahnya, ia tidak ingin melihat Jiyeon yang sedang muntah.

“Ya! Sampai kapan kau muntah?”  tanya Jae Hyun kesal.

“Uisa-nim, jamkkam—”

“Hueekk…” Jiyeon kembali muntah.

“Issh, jinja! Ini membuatku ingin muntah juga!” Jae Hyun menatap jijik ke arah Jiyeon yang sedang muntah.

****

“Jiyeon-ah, eomma datang…” terlihat Nari memasuki ruang rawat Jiyeon.

“Eomma!” Jiyeon terlihat senang saat melihat eommanya.

“Igeo eomma membawakan makanan kesukaanmu. Eomma memasaknya sendiri.” Ucap Nari. Nari meletakkan rantang yang ia bawa tadi di meja samping ranjang.

“Jinja? Woaah, kebetulan aku juga sudah lapar eomma.” Ucap Jiyeon. Nari tersenyum.

Kemudian Nari mengambil meja kecil di bawah ranjang, meja untuk makan. Lalu Nari menaruhnya di atas ranjang yang Jiyeon duduki. Nari menaruh masakan yang ia bawa tadi dalam rantang. Jiyeon memandang eommanya, senyuman kecil menghiasi wajah cantik Jiyeon.

“Jja, eomma akan menyuapimu.” Ucap Nari, ia duduk di samping ranjang. Jiyeon mengangguk senang.

“Gomawo eomma. Sudah lama aku tidak di suapi oleh eomma.” Ucap Jiyeon.

“Tentu saja, kau ini sudah besar. Dasar! Buka mulutmu, aaaa …” Nari menyodorkan sendok yang berisi nasi kepada Jiyeon. Kemudian Jiyeon melahapnya.

Ibu dan anak itu merasakan kebersamaan yang indah, menurut mereka. Hingga akhirnya suara ketukan pintu membuat perhatian keduanya teralihkan. Mereka memandang ke arah pintu, knop pintu itu bergerak dan perlahan pintu itu mulai tergeser. Menampilkan seseorang di balik pintu itu, yang tampak sudah tak asing lagi bagi ibu dan anak itu.

“Ah, uisa-nim.” Ucap Nari.

“Annyeong haseyo.” Sapa Jae Hyun, ia membungkukkan tubuhnya sedikit.

“Ne, annyeong.” Nari membalas sapaan Jae Hyun.

“Saya kira tidak ada nyonya di sini. Ah iya, kebetulan sekali nyonya ada di sini. Saya ingin membicarakan sesuatu kepada nyonya.” Ucap Jae Hyun. Jiyeon dan Nari menatap Jae Hyun dengan mimik muka bingung.

“Begitukah? Baiklah, silahkan.” Ucap Nari. Jae Hyun mengusap tengkuknya entah mengapa.

“Heum, tidak di sini.” Ucap Jae Hyun, mata Jae Hyun melirik Jiyeon sekilas. Nari yang mengerti apa maksud Jae Hyun akhirnya mengangguk.

“Jiyeon-ah, kau bisakan makan sendiri? Eomma harus bicara dengan dokter Ahn sebentar. Tak apakan?” tanya Nari pada Jiyeon. Jiyeon mengangguk.

“Ini, satu kali lagi.” Nari menyuapi Jiyeon. Setelah itu Nari menghampiri Jae Hyun, dan Nari pun mengikuti Jae Hyun di belakang.

Jiyeon mengunyah makanannya yang berada dalam mulutnya. Ia menatap punggung eommanya dan dokter Ahn yang akan keluar dari ruangan ini. Sepeninggal Nari dan Jae Hyun, Jiyeon kembali melanjutkan aktivitas makannya yang tadi sempat tertunda.

“Kira-kira apa yang akan mereka bicarakan. Seperti ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.”

.

Kini Nari dan Jae Hyun berada di dalam ruangan Jae Hyun. Jae Hyun tampak sedang berfikir, Nari melihat wajah Jae Hyun yang tampak sedang gelisah. Nari sepertinya bisa menebak sesuatu dari mimik wajah Jae Hyun yang seperti itu.

“Jadi, kita akan bicara mengenai Jiyeon?” tanya Nari. Jae Hyun memandang Nari, ia terheran.

“Aku benar bukan?” tanya Nari. Jae Hyun mengangguk.

“Aku bingung, bingung harus memulainya dari mana. Ini tentang–”

“Apa kini kita akan membahas tentang operasi?” potong Nari. Jae Hyun mengangguk pelan. Nari menghela nafasnya pelan.

“Sebaiknya kita lakukan operasi itu secepat mungkin.” Ucap Jae Hyun.

“Setiap malam, Jiyeon selalu mengeluh perutnya sakit. Lalu, sejak kemarin dan tadi ia muntah.” Ucap Jae Hyun. Nari mengangguk.

“Kita lakukan operasi itu.” Ucap Nari.

“Nde?”

“Aku sudah memutuskan. Jiyeon harus di operasi. Untuk jadwal operasi, aku serahkan padamu saja.” Ucap Nari.

“Apa Jiyeon tidak apa-apa?” tanya Jae Hyun.

“Apa bisa kau yang bicara padanya? A-aku tidak bisa bicarakan tentang hal ini padanya. Aku harap kau mengerti.” Ucap Nari.

“Baiklah..”

***

Jiyeon mendorong infuse standnya. Ia merasa bosan jika terus berada di dalam kamar, jadi Jiyeon memilih untuk berjalan-jalan sekitar rumah sakit hanya sekedar menghilangkan rasa bosannya. Namun tiba-tiba langkah Jiyeon terhenti. Pandangan matanya menatap lurus ke depan.

“Bae Suzy.” Gumamnya pelan.

Ya kini di hadapannya ada Suzy. Mereka saling melempar pandangan. Suzy berjalan mendekati Jiyeon dengan senyuman yang sama sekali Jiyeon tak bisa mengartikan senyuman di wajah Suzy itu.

“Lihatlah, kita bertemu lagi.” ucap Suzy. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, dan menatap Jiyeon sinis.

“Apa yang kau lakukan di sini? Dan–” Suzy memandang penampilan Jiyeon dari bawah sampai atas.

“Wae? Apa yang kau lihat? Penampilanku jelek?” tanya Jiyeon. Suzy tersenyum miring.

“Bagaimana dengan hubunganmu dan Myungsoo? Apa baik-baik saja? Apa hubungan kalian sangat harmonis? Tapi sepertinya yang aku lihat kalian jarang berpergian bersama, apa kalian sedang bertengkar? Ah, apa kalian sebentar lagi terancam putus?” Suzy mengejek. Jiyeon geram dengan Suzy, Jiyeon kini sudah mulai terpancing emosi namun ia berusaha meredamnya.

“Kau sakit? Tchh, ternyata apa yang di katakan Myungsoo benar. Aku kira kalian sudah putus.” Ucap Suzy. Jiyeon mengernyit heran.

“Ah kau sering bertemu dengannya? Apa sekarang kau mulai membanding-bandingkan hubunganku dan Myungsoo dengan hubunganmu yang dulu? Kau sangat beruntung bisa bertemu dengannya.” Ucap Jiyeon. Suzy terlihat tersenyum mengejek.

“Wae? Kau cemburu?”

“Tchh, apa kau bodoh? Jelas saja aku cemburu, karena Myugsoo adalah namjachingu ku. Dan kau!” Jiyeon berhenti, dan menunjuk Suzy dengan tatapan tajam.

“Kau bukanlah siapa-siapa Myungsoo lagi sekarang. Kau sudah menjadi masa lalu dari Kim Myungsoo.” Ucap Jiyeon tajam. Suzy melotot ke arah Jiyeon, Suzy merasa tersinggung dengan perkataan Jiyeon.

“Wae? Kau ingin marah padaku? Silahkan!” ucap Jiyeon.

“Aku hanya merasa aneh denganmu. Bukankah kau yang pertama memulainya? Kau yang pertama selingkuh di belakang Myungsoo dan kau juga yang memutuskan hubungan. Tetapi, sekarang kau bahkan malah kembali datang kepada Myungsoo dan memohon seperti pengemis agar Myungsoo kembali ke dalam pelukanmu. Sementara Myungsoo sudah mempunyai aku, dan kau ingin merebut Myungsoo? Apa kau akan merebut Myungsoo seperti saat kau merebut kekasih orang lain? Itu gila bukan??” perkataan tajam Jiyeon sukses membuat Suzy melayangkan tamparannya ke pipi Jiyeon.

.

Myungsoo menaiki lift rumah sakit, rumah sakit di mana Jiyeon di rawat. Ya hari ini Myungsoo akan menjenguk Jiyeon yang masih berada di rumah sakit. Myungsoo membawa sebuket bunga tulip kuning, ia tersenyum senang. Sepertinya Myungsoo sangat senang.

Myungsoo keluar dari lift, kini ia berada di lantai 6 di mana ruang rawat Jiyeon berada. Myungsoo melangkahkan kakinya di sepanjang koridor menuju ruang rawat Jiyeon, namun langkah Myungsoo terhenti saat mendengar sebuah teriakan. Myungsoo terkejut saat melihat Jiyeon dan Suzy yang sedang saling berhadapan dengan tatapan tajam yang mereka lemparkan satu sama lain.

“Wae? Bukankah aku berkata sesuai fakta?” Jiyeon menyeringai.

“Kenapa Myungsoo memilihmu hah? Apa dia tidak tahu dengan sikapmu yang seperti ini?” teriak Suzy marah, kini matanya sudah berkaca-kaca.

“Mwo? Bahkan aku lebih baik di bandingkan dengan dirimu!”

“Setidaknya aku tidak sepertimu yang berselingkuh!” ucap Jiyeon tajam.

Suzy benar-benar geram, tangan Suzy terangkat kembali. Hingga untuk yang kedua kalinya Suzy mentampar pipi Jiyeon. Myungsoo melihatnya, Myungsoo melihat Suzy menampar wajah Jiyeon. Myungsoo benar-benar terkejut. Jiyeon menatap sinis kepada Suzy.

“Kau sudah menamparku dua kali. Tchh..”

Tiba-tiba saja wajah Jiyeon berubah menjadi pucat, ia merasakan sekujur tubuhnya terasa dingin. Jiyeon kembali merasakan sakit di perutnya, kali ini sangat sakit. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuh Jiyeon. Jiyeon memegang perutnya, perlahan tubuhnya merosot. Kini ia sudah terduduk di lantai.

“Tchh, apa sekarang kau sedang ber-acting di hadapanku?”

“Aaaah, apo.” Jiyeon meringis kesakitan.

Myungsoo yang melihat Jiyeon kesakitan, dengan cepat Myungsoo berlari mendekati Jiyeon. Dan memegang kedua pundak Jiyeon. Sontak, kedatangan Myungsoo yang menurut Suzy tiba-tiba membuatnya sangat terkejut. Suzy berfikir apa Myungsoo melihatnya? Melihat saat Suzy menampar Jiyeon? Suzy hanya bisa diam membisu melihat Jiyeon dan Myungsoo yang ada di hadapannya.

“Gwaenchana?” tanya Myungsoo panik.

“Ini sungguh sakit.” Ucap Jiyeon dengan suara serak. Jiyeon merasa tenggorokannya kering.

Tanpa bicara apapun, Myungsoo menuntun Jiyeon menuju ruang rawatnya. Myungsoo mengacuhkan keberadaan Suzy yang berada di dekatnya. Myungsoo seperti tidak melihat siapapun selain Jiyeon, Suzy merasa seperti hantu yang tidak terlihat oleh Myungsoo.

.

Dokter Ahn datang ke ruang rawat Jiyeon dengan cepat setelah mendapat panggilan dari Myungsoo. Setelah tiba di ruang rawat Jiyeon, Jae Hyun dengan cepat langsung memeriksa keadaan Jiyeon. Jae Hyun memegang tangan Jiyeon dan pipi Jiyeon yang sangat dingin, di tambah dengan keringat dingin yang menjalar di tubuh Jiyeon. Serta wajah Jiyeon yang sangat pucat. Myungsoo menatap Jiyeon yang kesakitan dengan khawatir.

“Kita harus segera ambil langkah operasi.” Ucap Jae Hyun. Yang sontak membuat Jiyeon sangat terkejut. Jiyeon dan Myungsoo menatap Jae Hyun.

“O-op-operasi? W-wae? Memangnya aku sakit apa?” tanya Jiyeon terbata-bata. Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon.

“Uisa-nim, apa tidak bisa-” belum sempat Myungsoo selesai bicara, Jae Hyun sudah memotongnya.

“TIDAK BISA!” teriak Jae Hyun yang membuat Myungsoo dan Jiyeon tersentak mendengarnya.

“Park Jiyeon kau harus segera di operasi! Ini sudah cukup parah!” ucap Jae Hyun. Jiyeon terdiam tak berkata.

“Aaahh, apo. Perutku sangat sakit, ini sakit sekali.” Jerit Jiyeon kesakitan.

“Dokter Ahn, jebal bantu aku. Ini sangat sakit. Aku mohon bantu aku.” Suara Jiyeon mulai melemah, Jiyeon memegang tangan Jae Hyun dan menggenggamnya dengan lemah. Jae Hyun menatap Jiyeon sedih.

“Satu-satunya jalan adalah kau harus di operasi.” Ucap Jae Hyun.

“Geurae. Lakukan saja operasinya.” Ucap Jiyeon lemah.

Jiyeon tersenyum, Jiyeon merasa pandangannya mulai mengabur. Ia merasakan pening di kepalanya. Jiyeon menatap Myungsoo yang kini di matanya menjadi ada beberapa bayangan yang tidak jelas. Hingga akhirnya Jiyeon pun tak sadarkan diri.

“Jiyeon-ah!” panggil Myungsoo panik.

“Kau! Tolong hubungi ibu Jiyeon.” Jae Hyun memandang Myungsoo. Myungsoo mengangguk.

“Kita akan segera memulai operasinya.”

.

Myungsoo sedari tadi terus mondar mandir di depan ruang operasi. Myungsoo sangat khawatir dengan keadaan Jiyeon sekarang. Myungsoo tadi sudah menghubungi ibu Jiyeon melalui ponsel milik Jiyeon. Bahkan Myungsoo pun sudah menghubungi Jieun untuk segera datang kemari. Suzy datang menghampiri Myungsoo, Suzy menepuk pundak Myungsoo yang membuatnya menoleh ke belakang. Myungsoo menatap Suzy dengan tatapan dingin nan tak suka.

“Kenapa kau masih ada di sini?” tanya Myungsoo dingin.

“Ternyata aku salah, aku kira kau tidak menganggapku ada tadi. Ternyata kau melihatku.” ucap Suzy. Myungsoo jengah, ia menghembuskan nafasnya kasar.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?” Myungsoo berusaha meredam amarahnya.

“Kau melihatnya kan?” tanya Suzy, ia menatap Myungsoo takut.

“Tchh. Tentu saja aku melihatnya! Jujur, aku setuju dengan perkataan Jiyeon. Semua yang di katakan Jiyeon itu benar, sangat benar.” ucap Myungsoo tajam.

“Myungsoo-ah…” panggil Suzy.

“Ah, bukankah aku sudah mengatakannya padamu beberapa kali? Aku sudah mengatakannya padamu, menghilanglah dari hidupku. Aku sudah tidak ingin melihatmu. Apa kau tidak punya telinga?”

Jleb.

Perkataan Myungsoo sangat menusuk ke dalam hati Suzy. Suzy merasakan sakit saat Myungsoo berkata seperti itu pada dirinya. Apa Suzy sangat jahat padanya? Apa Myungsoo sangat membenci dirinya hingga Myungsoo bersikap kejam kepada dirinya seperti ini?

“Satu lagi. Aku tidak mengizinkanmu untuk menyentuh Jiyeon walaupun hanya sedikit. Aku benar-benar tidak mengizinkannya! Kau tahu? Aku sangat marah padamu saat kau menampar Jiyeon.”

“Pergilah dari sini!!” sentak Myungsoo.

Suzy menundukkan kepalanya, ia menangis dalam diam. Kemudian Suzy berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Myungsoo dengan perasaan yang terluka. Myungsoo duduk di kursi, kepanikan dan kekhawatirannya pada Jiyeon masih di rasakannya. Lampu yang berada di atas pintu ruang operasi sampai saat ini masih belum berubah warna menjadi hijau.

“Ya Tuhan, aku harap Jiyeon baik-baik saja.”

.

.

.

To be continue

38 responses to “LIKE THE FIRST TIME [PART 7]

  1. walah kirain si suzy bakalan nyesel udah nampar jiyeon, hahh myungso suka gayamu mengusir si suzy..jiyeon cepet sembuh ya..

  2. jae hyun inget siapa hayoo? haha baru kali ini pasien tarik2an ma dosen keke
    suzy aiss main nampar aja 2x pulakk , jiyeon yg sabar yaa
    knapa gk dr awal aja d operasi nya thor?
    next dtunggu ya thor😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s