[CHAPTER – PART 2] THE WEREWOLF

THE WEREWOLFthe werewolf cast

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

Previous Chapter : 1

BULAN PURNAMA PERTAMA

“Bisa kau ulangi sekali lagi?” tanya Jin Ki mencoba membersihkan telinganya, berharap apa yang dia dengar barusan hanya lelucon belaka.

“Aku adalah Werewolf,” jawab pria yang sedang duduk berhadapan dengan Myung Soo dan Jin Ki di ruang tamu keluarga Lee yang tidak terlalu besar. Tubuh si pria terlihat sangat berisi dan hanya dilapisi kaus abu-abu biasa yang kelonggaran dibagian lehernya, sementara jeans butut yang tepian bawahnya sudah compang-camping dan kusam melekat erat pada kaki berototnya.

“Kau Werewolf,” ucap Jin Ki setelah menelan ludah. “…dan kau hampir menjadi Werewolf,” tambahnya seraya menatap wajah Myung Soo yang terlihat sangat penasaran dengan pria asing di depan mereka saat ini.

“Kau sama denganku sejak Vargulf menancapkan taringnya pada tubuhmu,” ucap si pria lagi.

“Tunggu,” ucap Myung Soo seakan dirinya tak suka dengan kenyataan bahwa dirinya memang benar-benar sudah berubah menjadi makhluk setengah anjing. “Aku bukan Werewolf. Um, memang…seharian ini aku tidak begitu berselera melihat menu salad-ku dan lebih tergiur dengan daging…”

“Itu sudah membuktikan,” sela si pria seraya memajukan tubuhnya, membuat Myung Soo maupun Jin Ki otomatis memundurkan tubuh mereka. “Werewolf bisa memakan apa saja, tetapi tetap tidak bisa melawan kodrat bahwa mereka lebih suka diberi daging. Dan kau Werewolf.”

“Lalu apa tujuanmu datang kesini, menghampiri kami dan menegaskan bahwa sobatku ini bukan murni manusia lagi?” tanya Jin Ki. “Dan siapa kau? Bahkan kau belum memberitahu siapa namamu.”

“Kalian bisa memanggilku apa saja kecuali nama asliku. Seo In Guk, nama asliku Seo In Guk,” ucap si pria seraya menatap dalam kedua mata Myung Soo yang berwarna kecoklatan. “Aku datang untuk membantumu. Karena dapat kupastikan, seorang Werewolf baru tidak akan bisa mengatasi dirinya sendiri tepat bulan purnama muncul.”

“Untuk apa kau membantuku?” tanya Myung Soo yang sepertinya setengah dari isi kepalanya saat ini berisi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang makhluk jejadian itu. “Lalu kenapa kau bisa tahu Vargulf menggigitku kemarin malam?”

“Pertanyaan yang bagus,” sambung Jin Ki cepat. “Dan satu pertanyaan dariku, jika kau melihat si Vargulf berbulu itu menggigit sobatku ini, kenapa kau tidak menolongnya? Bukankah mengasikkan berkelahi dengan sesama anjing?”

In Guk menarik nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keduanya.

“Percayalah, aku mengikutimu kemarin malam,” jawab In Guk. “Jika kau ingin tahu mengapa aku tidak bisa membantumu saat Vargulf menyerangmu, karena aku pun sedang bersembunyi darinya.”

Jin Ki mengerjap bingung, begitupun dengan Myung Soo.

Vargulf mencariku,” ucap In Guk. “Dia bukan berasal dari sini…”

“Tentu saja,” sela Jin Ki merasa pemikirannya benar. “Mana mungkin Seoul masih menyimpan makhluk menyeramkan seperti itu.”

“…dia datang kesini karena aku disini,” ucap In Guk. “Aku kabur dari Seattle, mencari tempat persembunyian.”

“Kenapa kau bersembunyi darinya?” tanya Myung Soo.

“Lalu kenapa kau memilih Seoul?” sambung Jin Ki tak tahan jika tidak ikut bertanya.

“Ceritanya panjang,” jawab In Guk. “Dan Seoul…negara ini tempat kelahiranku, tempat aku seharusnya tinggal. Paling tidak sebelum aku bergabung dengan gerombolan Alpha.”

**

Di dalam kamarnya, Jin Ki dengan sangat serius mencoba mengulang DVD Teen Wolf yang diputar di laptopnya sebelum akhinya dia berteriak memanggil Myung Soo yang baru saja menutup pintu rumah setelah In Guk pergi.

“Aku benar-benar tidak mengerti mengapa semua yang ada di dalam film itu kini terjadi di dalam kehidupanmu,” ucap Jin Ki membuat dahi Myung Soo berkerut bingung. “Alpha. Itu seperti sebuah tingkatan gerombolan atau pack untuk bangsa Werewolf. Tingkatan paling rendah, dinamai Omega. Omega adalah Werewolf kesepian yang tidak memiliki gerombolan. Lalu diikuti dengan Beta. Beta merupakan tingkatan standar, masih memiliki gerombolan dan cenderung menjadi pengikut Alpha. Dan jika manusia tanpa alas kaki tadi bilang dia pernah masuk ke gerombolan Alpha lalu sekarang dalam masa pelarian, itu artinya gawat. Alpha tingkatan tertinggi, terkuat, pemimpin dari semua pack dan berhak membuat Werewolf baru.”

“Membuat Werewolf baru?” tanya Myung Soo. “Itu artinya Vargulf adalah Alpha?”

“Dan itu artinya gawat,” sambung Jin Ki. “Gawat buatmu. Dan aku tidak mau ikut campur.”

“Kau harus membantuku, Jin Ki-ah,” pinta Myung Soo dengan wajah memohon.

“Membantumu? Kau lupa? Aku ini manusia. Tidak punya apa-apa,” ucap Jin Ki menolak.

“Kau punya otak,” ucap Myung Soo mengingatkan.

“Kau juga punya,” ucap Jin Ki ikut mengingatkan. “Walaupun jarang digunakan.”

“Kau bisa bantu aku menangani hal-hal tentang Werewolf yang tidak aku ketahui,” ucap Myung Soo seraya menunjuk laptop Jin Ki. “Kau pakarnya. Kau bisa bantu aku cari sesuatu. Dan kau lindungi aku, dengan cara manusia.”

“Ahah, terdengar lucu di telingaku menyadari kau masih setengah manusia, masih punya otak, ditambah dengan kekuatan yang sebentar lagi akan kau dapatkan,” ucap Jin Ki terlihat kacau. “Percayalah, aku sangat menyukai film tentang anjing-anjingan itu, tetapi untuk dunia nyata, aku lebih memilih menjauh dari hal-hal seperti itu.”

**

Keesokannya di Fellas Hills High School…

“Kim Myung Soo?” Sebuah suara terdengar menyapa Myung Soo dari belakang tubuhnya. Myung Soo pun menutup lokernya sebelum melihat siapa yang baru saja memanggilnya.

“Um…hai,” jawab Myung Soo terlihat kikuk.

“Aku sudah copy semua catatan di buku ini dan aku ingin mengembalikannya. Hanya saja aku tidak lihat Jin Ki bersama denganmu…” ucap Jiyeon seraya mengacungkan buku catatan Biologi Jin Ki.

“Jin Ki…um…dia memang sedang tidak bersama denganku,” jawab Myung Soo tepat bersamaan dengan munculnya Jin Ki di depan pintu koridor loker Fellas Hills. Dan spontan Jin Ki berbelok untuk menghindari Myung Soo.

“Sepertinya kalian sedang bermusuhan,” ucap Jiyeon setelah melihat gelagat keduanya.

“Yeah, ada sedikit cekcok,” ucap Myung Soo tidak berniat banyak bicara.

“Baiklah, aku akan berikan langsung pada Jin Ki,” ucap Jiyeon yang tiba-tiba saja menahan tangan Myung Soo saat hendak pergi meninggalkannya. “Kau terlihat tidak suka bicara padaku. Apa ada yang salah? Apa aku telah melakukan hal yang membuatmu…”

“Tidak,” jawab Myung Soo cepat. “Aku hanya…”

“Kim Myung Soo!” Suara keras pelatih Ice Hockey-nya berhasil menyelamatkannya dari pertanyaan Jiyeon. “Kuharap kau tidak bolos latihan hari ini. Dan dimana teman kutu bukumu itu setelah berhasil menimpukku dengan brutal?”

“Aku tidak melihatnya,” jawab Myung Soo kebingungan.

“Kalau begitu siapkan fisikmu. Hari ini kita akan berlatih,” ucap si pelatih. “Habis-habisan.”

Sepeninggal si pelatih, Myung Soo celingukan menyadari Jiyeon pun sudah pergi meninggalkannya.

**

Kafetaria…

“Akan ada banyak kesulitan jika aku menginap dirumahmu?” desah Im Nana setelah menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang dipegangnya saat ini.

“Ibuku sedang tidak ada di rumah untuk beberapa hari ini,” ucap Taeyang dengan nada memohon. “Lagipula kita sudah lama tidak melakukannya.”

“Melakukan apa kalau boleh aku tahu?” tanya Lee Yoo Bi yang tiba-tiba menjulurkan kepalanya di antara Nana dan Taeyang.

“Melakukan sesuatu yang sepantasnya tidak diketahui untuk remaja labil sepertimu,” jawab Taeyang dengan wajah sebal.

“Remaja labil?” decak Yoo Bi seraya mengambil tempat di depan keduanya. “Kau sama denganku, gundul.”

Tak lama kemudian datang Myung Soo yang berusaha menghampiri Jin Ki, hanya saja sobatnya satu itu lebih memilih duduk bersama dengan anak lain.

“Hubungan kalian sedang renggang sepertinya?” cibir Taeyang pada Myung Soo yang baru saja melewatinya. “Apa kau sedang menyelingkuhinya?”

“Oh kumohon tutup mulutmu,” desah Yoo Bi yang tidak suka dengan gaya bicara Taeyang. “Jika kau terus seperti itu, aku yakin seisi sekolah ini tidak akan ragu jika diminta untuk menyerangmu.”

“Tidak akan ada yang berani menyerangku,” ucap Taeyang. “Karena sebelum mereka menyerangku, aku sudah lebih dulu menyerang mereka.”

**

“Arrggggggggh!” Jin Ki terkapar di lantai es saat Taeyang berhasil menabraknya, membuat sikunya seperti berputar di tempat.

“Kim Myung Soo, bawa Jin Ki ke ruang kesehatan!” teriak pelatih sebelum dia menghampiri Taeyang. “Dan kau ikut aku!”

“Kenapa aku?” tanya Taeyang mencoba protes. “Anak itu hanya diam saja selama aku sedang mencoba menggiring bola.”

“Kalau kau lupa, kebrutalanmu hanya boleh digunakan untuk lawan main kita saat pertandingan sesungguhnya. Ini hanya latihan!” teriak si pelatih di depan wajah Taeyang.

**

“Sungguh kau tidak mau berbicara padaku?” tanya Myung Soo setelah perawat sekolah Fellas Hills selesai merawat lengan Jin Ki.

Jin Ki hanya diam, tidak banyak bicara seperti biasanya.

“Jika aku berubah bentuk nanti, satu-satunya orang yang ingin aku hindari adalah kau,” ucap Myung Soo.”

“Ini bukan soal perubahan bentuk wajah dan tanganmu yang kemungkinan memiliki cakar dengan panjang hampir tiga centi,” ucap Jin Ki seraya bersender pada tempat tidur. “Ini soal Alpha, Beta dan Omega.”

“Mungkin benar katamu soal tingkatan gerombolan Werewolf yang sama persis dengan kisah di film favoritmu itu,” ucap Myung Soo. “Tetapi aku tidak yakin ada gerombolan Werewolf yang bisa menyerang di Seoul. Kita ada polisi. Dan kota ini punya Sheriff dengan sniper-nya, Hyung-ku yang galak itu.”

“Kau lupa? Sniper Hyung-mu itu bisa membunuhmu karena kau salah satu dari anjing itu,” ucap Jin Ki.

“Oke, berhenti menyebutku dengan sebutan anjing,” ucap Myung Soo yang tidak begitu suka disama-samakan dengan binatang satu itu.

“Baiklah, serigala,” ucap Jin Ki meralat. “Anjing dan serigala sama saja. Bahkan serigala terdengar lebih menyeramkan, lebih cepat membunuh daripada anjing.”

“Percayalah padaku, kau orang pertama yang akan aku lindungi jika ada yang berniat menyerang kota kita,” ucap Myung Soo yang entah mengapa membuat perasaan Jin Ki sedikit membaik.

Jujur saja, kemarin malam Jin Ki hampir tidak bisa memejamkan matanya setelah mengingat bagaimana dia akan melihat perubahan wujud Myung Soo tepat bulan purnama nanti. Dan soal Alpha yang sedang mengejar Seo In Guk, lalu Vargulf yang sudah masuk ke Seoul…semua itu membuat Jin Ki enggan keluar dari kamarnya.

**

“Hati-hati dengan cairan berwarna merah di botol paling kecil,” ucap Mr. Shin di ruang kelas Kimia. “Kecerobohan kalian bisa mencelakakan diri kalian sendiri.”

Myung Soo berhasil dibuat bingung saat praktek Kimia di kelas siang itu tanpa Jin Ki yang biasanya selalu membantunya pada semua pelajaran. Dan tak lama kemudian muncul Jiyeon yang langsung berpindah tempat ke sebelah Myung Soo.

“Jadi bukan hanya aku yang tidak mengerti disini?” tanya Jiyeon seraya tersenyum ke arah Myung Soo yang tampak terkejut.

“Y-yeah, Jin Ki biasa membantuku,” jawab Myung Soo tanpa melihat wajah Jiyeon.

“Ada yang salah denganku?” tanya Jiyeon. Lagi-lagi dia mengulangi pertanyaan yang sama saat di koridor loker tadi pagi. “Aku hanya ingin berteman denganmu. Ini hari keduaku disini dan aku belum mendapatkan teman.”

“Aku tidak terlalu pandai bergaul dengan orang baru,” ucap Myung Soo akhirnya bersuara. “Dan sepertinya berteman dengan wanita adalah hal yang paling baik untukmu.”

“Aku tidak merasa begitu, mengingat aku pernah menjadi korban bullying di sekolah lamaku di Seattle,” ucap Jiyeon. “Aku tidak bilang wanita adalah buruk, karena aku juga wanita. Tetapi mencoba untuk lebih dekat dengan pria menurutku itu patut di coba. Bukankah pria tidak begitu suka dengan wanita yang ribet? Aku wanita yang simpel.”

Mendengar pengakuan Jiyeon, entah mengapa terdengar lucu di telinga Myung Soo. Dan pada akhirnya mereka mengobrol panjang sementara yang lain mencoba mengerjakan tugas dari Mr. Shin.

**

“Nana baru saja mengundangku ke pestanya malam ini,” ucap Jiyeon pada Myung Soo usai kelas berakhir. “Aku juga bingung kenapa dia mau mengajakku. Tetapi ini kesempatan yang baik untuk memulai berbaur dengan yang lain. Maukah kau menemaniku?”

“M-menemanimu?” tanya Myung Soo agak terkejut dengan ajakan Jiyeon,

“Yeah, mereka semua membawa pasangan dan aku tidak mau terlihat bodoh karena tidak menggandeng siapa-siapa,” ucap Jiyeon terdengar agak memohon.

“Pesta, um…itu terdengar seperti berkumpulnya Taeyang dengan kroninya,” gumam Myung Soo terlihat berpikir. “Aku tidak yakin aku bisa datang,” jawab Myung Soo akhirnya.

“Sangat disayangkan,” ucap Jiyeon terlihat kecewa. “Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tetapi jika kau berubah pikiran, kau bisa menjemputku malam ini jam tujuh. Dan kau bisa cari rumahku disini.” Jiyeon pun memberikan kartu namanya, lengkap nomornya yang bisa dihubungi.

Myung Soo pun menerimanya sebelum dia pergi menemui Jin Ki di ruang kesehatan.

“Dia mengajakku berkencan malam ini,” ucap Myung Soo sebelum Jin Ki sempat menanyakan soal apa saja yang Mr. Shin katakan soal pelajarannya hari ini.

“Siapa?” tanya Jin Ki bingung.

“Park Jiyeon,” jawab Myung Soo.

“Bukankah kau sedikit jutek padanya?” tanya Jin Ki tidak mengerti dengan rona bahagia di wajah sobatnya ini.

“Baiklah, aku agak bodoh karena berusaha menghindarinya,” ucap Myung Soo. “Wajahnya sama persis dengan Moon Tae Hee, mantanku.”

“Oh Tuhan, jadi karena kau merasa ada kembaran Moon Tae Hee, kau memutuskan untuk bersikap dingin dengan anak baru yang butuh teman itu?” desah Jin Ki bingung dengan jalan pikiran Myung Soo. “Kalau sekarang hubunganmu sudah membaik, kau bisa terima ajakan kencannya.”

“Tidak bisa,” jawab Myung Soo.

“Kenapa?” tanya Jin Ki semakin dibuat bingung. “Kau sudah lebih baik padanya dan kau terlihat agak sedikit idiot saat mengatakan bahwa dia mengajakmu kencan. Bukankah kau gembira, pabbo?”

“Aku tidak bisa berkencan dengannya karena malam ini waktunya aku berubah!”

**

Malam hari jam tujuh…

“Kurasa aku perlu sedikit bantuan untuk mengunci gemboknya,” ucap Jin Ki yang berusaha mengunci gembok pada rantai yang sedang membelit tubuh, tangan dan kaki Myung Soo saat ini dengan tangan sebelah yang terluka. “Lalu dimana In Guk? Dia janji mau membantumu malam ini.”

“Aku disini,” ucap seseorang tiba-tiba mengejutkan keduanya yang sedang berada di dalam hutan yang gelap.

“Kau tidak perlu merantai Myung Soo di hutan,” ucap In Guk seraya menghampiri keduanya lebih dekat.

“Lalu apa kau punya ide yang lebih baik sementara aku mencoba berusaha dengan sebelah tanganku ini?” tanya Jin Ki sebal.

“Hutan ini masih dalam pengawasan polisi karena mereka belum tahu bahwa Vargulf yang berhasil mengoyak tiga tubuh remaja yang sedang kemping di dalam sini,” ucap In Guk setelah selesai merantai Myung Soo dengan sempurna.

“Menyeramkan,” desah Jin Ki dengan wajah takut. “Si Alpha satu itu sudah berani mencari makan di kota ini.”

Vargulf adalah jenis makhluk yang mudah lapar,” ucap In Guk menjelaskan.

“Lalu kenapa dia tidak memakan Myung Soo saja sampai habis daripada menggigitnya setengah seperti ini?” tanya Jin Ki.

“Karena aku berusaha mengalihkan perhatiannya sehingga dia melepaskan Myung Soo sebelum berhasil menelan anak ini hidup-hidup,” jawab In Guk seraya menatap bulan di atas langit yang hampir muncul sepenuhnya.

Bersamaan dengan itu, Myung Soo mulai terlihat gelisah dalam keadaan terikat seperti ini. Wajahnya mulai berkeringat dan pandangan matanya mulai tidak fokus.

“Dia mulai berubah sepertinya,” gumam Jin Ki seraya mundur beberapa langkah. “Bagaimana denganmu? Kau juga butuh dirantai? Aku punya cadangannya kalau kau mau.”

“Aku sudah biasa mengatasi hal ini sejak Vargulf menggigitku sepuluh tahun yang lalu,” jawab In Guk seraya memegang kedua kaki Myung Soo yang mulai tidak bisa diam.

Tanpa Jin Ki sadari, cakar-cakar tajam dan panjang mulai keluar dari kedua tangan Myung Soo, diikuti dengan perubahan warna matanya yang keemasan.

“Oh Tuhan,” gumam Jin Ki sekali lagi. “Beginikah perasaan orang-orang yang pernah bersahabat dengan Werewolf, melihat sobatnya sedang diubah wujudnya menjadi binatang yang menyeramkan…”

Myung Soo pun mulai menggeram dan mengendus. Mata keemasan semakin menyala terang diikuti dengan tumbuhnya telinga serigala di kiri dan kanan kepala Myung Soo.

“Jangan lepas kendali, Kim Myung Soo,” ucap In Guk berusaha mengontrol kemarahan Myung Soo yang perlahan muncul. “Kau jauh lebih baik daripada aku. Dulu aku langsung meloncat keluar dari jendela sebelum akhirnya membunuh anak kecil.”

Mendengarnya membuat Jin Ki semakin menjauh. Tangan Myung Soo sudah bergerak brutal seakan-akan mencoba melepaskan untaian rantai yang sedang membelit tubuh dan tangannya saat ini.

“Lepaskan aku!” teriak Myung Soo dalam satu nafas.

Kini wajah Myung Soo sudah sepenuhnya berubah wajah serigala. Dahinya terlihat lebih maju dan tumbuh beberapa rambut di pipi kiri dan kanannya. Kedua taringnya pun muncul sempurna di antara gigi yang lain.

“Lepaskan aku sebelum aku mengoyakmu!” geram Myung Soo di depan wajah In Guk, membuat Jin Ki mati rasa pada kakinya.

“Ini bagian terpentingnya, Myung Soo-ah,” ucap In Guk seraya menatap dalam kedua mata Myung Soo yang berwarna keemasan dengan warna matanya sendiri yang kebiruan. “Ucapkan ini bersamaku dan semuanya akan baik-baik saja. Matahari…Bulan…Kebenaran…

Tanpa memperdulikan ucapan In Guk, Myung Soo kembali meraung dengan brutal.

“Ikuti aku!” teriak In Guk lebih keras dari suara raungan Myung Soo. “Matahari…Bulan…Kebenaran…

Matahari…” Myung Soo berusaha mengucapkannya sementara setengah bagian dari dirinya mencoba melawan dan menyerang. “Bulan…Kebenaran…

“Sekali lagi,” ucap In Guk. “Ucapkan perlahan dan pikirkan ketiga kata itu.”

Matahari…Bulan…Kebenaran….

“Sekali lagi,” pinta In Guk kini melepas tangannya dari kaki Myung Soo.

Matahari…Bulan…Kebenaran…” Myung Soo pun kembali tenang bersamaan dengan wajah dan kukunya yang kembali normal seperti manusia.

“Jadi soal ajaran Budhis itu benar?” tanya Jin Ki terlihat takjub sementara dia berdiri menjauh dari kedua Werewolf ini.

“Kau tahu soal ajaran Budhis ini?” tanya In Guk balik bertanya.

“Tentu saja,” ucap Jin Ki seraya mendekat ke arah In Guk. “Jadi film itu bukan hanya sekedar film?”

“Film apa maksudmu?” tanya In Guk tidak mengerti.

Teen Wolf, aku penggemar serial itu,” jawab Jin Ki menggebu. “Kupikir hanya Alpha, Beta dan Omega saja. Ternyata ajaran Budhis itu…”

“Aku tidak pernah melihat film yang sedang kau bicarakan itu,” ucap In Guk. “Tetapi Mythology itu semuanya benar ada.”

“Lalu apa kau pernah bertemu dengan Kanima?” tanya Jin Ki semakin terlihat penasaran.

In Guk pun mengangguk seraya menjawab, “Aku pernah membunuhnya sewaktu di Seattle.”

“Oh Tuhan, kurasa penulis skenario film itu sedang berusaha memberitahu kepada orang-orang bahwa kisah Werewolf-nya bukan hanya sekedar cerita fiksi biasa,” ucap Jin Ki. “Dan kau tahu, Myungie? Kau bisa ambil keuntungan dari film favoritku itu mulai saat ini. Belajar dari film itu bagaimana cara kau bisa bertahan hidup sebagai Werewolf.”

**

Jiyeon terkejut melihat Myung Soo sedang berdiri di balik pintu rumahnya.

“Aku berubah pikiran,” ucap Myung Soo yang sudah siap menjadi teman kencannya di pesta Nana malam ini. “Apa Nana masih mengizinkan kita masuk?”

Jiyeon pun melongok jam dinding rumahnya yang sedang menunjuk pukul delapan malam.

“Pesta itu berlangsung sampai jam dua belas malam,” ucap Jiyeon seraya tersenyum. “Kalau begitu aku ganti pakaian dulu.”

**

Kediaman Im Nana…

“Jadi begini gaya party disini,” ucap Jiyeon berusaha mengambil jalan di antara orang-orang yang sedang menari. “Tidak beda jauh dari orang Amerika. Mereka menari sambil minum, seperti nyaris gila.”

“Aku pun baru tahu,” ucap Myung Soo seraya menerima Vodka Martini dari Jiyeon. “Aku korban bullying juga yang tidak pernah datang ke pesta macam ini…” bisiknya di telinga Jiyeon, membuat wanita di depannya ini langsung menggantungkan kedua tangannya pada bahu Myung Soo.

“Kita harus menari,” ucap Jiyeon yang terlihat begitu menikmati musik malam ini.

“Yeah,” jawab Myung Soo seperti tenggelam dalam tatapan kedua mata Jiyeon.

“Aku tidak keberatan jika kau mau menciumku,” ucap Jiyeon tiba-tiba saja, membuat Myung Soo spontan menatapnya terkejut. “Ini gayaku di Seattle…”

“Um…” Belum sempat Myung Soo bicara, Jiyeon sudah menempelkan bibirnya pada bibir Myung Soo.

Dan tanpa keduanya sadari, seekor makhluk berbulu sedang menatap mereka dari kejauhan, dari balik semak bunga miliki keluarga Nana.

**

Myung Soo terbangun dengan keringat membasahi seluruh wajahnya di dalam kegelapan hutan. Tak ada siapa-siapa kecuali dirinya yang tengah bingung mengapa dia bisa berada di dalam hutan. Tidak lama kemudian muncul seseorang dari belakang. Park Jiyeon.

“Halo, Kim Myung Soo…” Jiyeon berjongkok di depan Myung Soo yang sedang terduduk di tanah dengan ekspresi bingung.

“Kenapa kita ada disini?” tanya Myung Soo tidak mengerti.

“Aku yang membawamu,” ucap Jiyeon seraya menyentuh dagu Myung Soo. “Dengan sedikit bantuan Martini…”

Dan tiba-tiba saja sesuatu besar dan berbulu muncul dari belakang tubuh Jiyeon. Vargulf, serigala yang berhasil menggigitnya beberapa hari yang lalu kini hadir di depan pelupuk matanya. Hanya sekejab sebelum akhirnya si Vargulf berubah bentuk menjadi manusia yang lebih nyaman di pandang mata.

“Benar katamu, Jiyeon-ah…” ucap si Vargulf dengan suara manusia yang lebih mudah dimengerti. “Hanya dengan begini aku bisa berkomunikasi dengan bocah ini.”

“Kalian saling mengenal?” tanya Myung Soo pada Jiyeon dengan tatapan menuduh.

“Aku harus mengenalnya untuk bisa membawamu kehadapanku seperti sekarang ini,” ucap si Vargulf. “Kau Werewolf sekarang. Dan itu hadiah dariku.”

“Kau pikir ini hadiah yang patut aku syukuri?” tanya Myung Soo dengan nada marah.

“Paling tidak kau masih hidup tanpa harus menjadi menu makan malamku,” ucap si Vargulf. “Panggil aku Jung Woo, untuk memudahkanmu berkomunikasi denganku. Aku menggigitmu dan kau milikku. Kau seorang Beta, Kim Myung Soo. Dan prakteknya, seorang Beta harus patuh dan tunduk pada orang yang menggigitnya. Seorang Alpha, yaitu aku.”

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menggigitku,” ucap Myung Soo dalam geraman rendah. “Dan aku tidak mau menjadi seorang Beta atau apapun.”

“Kalau begitu akan rumit jadinya,” ucap Jung Woo si Vargulf seraya menggandeng tangan Jiyeon.

“Dan siapa kau sebenarnya?” tanya Myung Soo beralih pada Jiyeon.

“Maafkan aku,” ucap Jiyeon dengan wajah menyesal.

“Jiyeon hanyalah babuku untuk sementara ini,” ucap Jung Woo. “Ada beberapa hal yang harus dia lakukan untukku setelah saudarinya dengan sangat lancang membunuh Kanima-ku.”

Kanima?” gumam Myung Soo teringat akan percakapan In Guk dengan Jin Ki beberapa jam yang lalu di hutan yang sama.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Myung Soo-ah?” tanya Jung Woo. “Apa kau sedang memikirkan Seo In Guk yang baru saja mengatakan bahwa dia pernah membunuh seorang Kanima?”

Myung Soo berusaha bersikap normal sementara sebagian dari dirinya terkejut mengapa Vargulf ini bisa tahu. Oh ya, tentu saja. Dia Vargulf dan seorang Alpha.

“Kita buat semua ini menjadi sedikit mudah untukmu,” ucap Jung Woo seraya berjongkok berhadapan dengan Myung Soo. “Bawa In Guk ke hadapanku dan aku bisa membiarkanmu pergi, menjadi Omega tanpa gerombolan.”

Myung Soo terdiam, menatap ngeri ke arah bola mata Jung Woo yang berwarna merah padam.

“Aku bisa menunggunya sampai besok malam,” sambung Jung Woo. “Tepatnya di hutan ini. Dan jika kau tidak berhasil membawanya, kau bisa lihat bagaimana bentuk dari isi perut sahabat karibmu, Lee Jin Ki.”

Myung Soo tertegun dalam ancaman yang Jung Woo ucapkan padanya.

“Percayalah, aku tidak pernah mengingkari ucapanku sendiri,” ucap Jung Woo seraya berubah kembali menjadi Vargulf yang menyeramkan.

**

Pagi hari di Fellas Hills High School…

“Sudah kuputuskan untuk membantumu menangani semuanya,” ucap Jin Ki di koridor loker pagi itu. “Aku tidak mau kau jadi Werewolf yang tidak punya teman dan tak tahu arah.”

“Yeah, aku memang sangat membutuhkanmu,” ucap Myung Soo seraya membuka lokernya sendiri. Ada baiknya dia tidak pernah menceritakan soal ancaman Jung Woo tentang isi perut Jin Ki pada sobatnya itu. Yang terjadi hanya akan memperburuk keadaan.

Tak lama kemudian muncul Jiyeon yang segera disambut oleh Nana.

“Aku lihat bagaimana caramu menggerakkan tubuhmu tadi malam dipestaku,” ucap Nana yang sepertinya memiliki ketertarikan pada Jiyeon untuk menjadikannya sahabat dekat. “Walaupun rasanya kurang bijaksana mengajak si anak Head Master yang pecundang itu.”

Myung Soo yang tak tahan dengan ejekan Nana pun langsung menutup lokernya dengan agak kasar, membuat Jin Ki otomatis terkejut.

“Kenapa sih?” tanya Jin Ki tidak mengerti dengan raut wajah Myung Soo yang berubah kesal.

“Aku bisa mendengar mereka,” ucap Myung Soo seraya menatap Nana dan Jiyeon, yang kebetulan sedang menatap balik dirinya.

“Mereka terlalu jauh untuk bisa kau dengar…” ucap Jin Ki yang tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh ya, aku lupa…itu salah satu dari perubahan sistem tubuhmu setelah kau berubah. Bisa mendengar dari jarak jauh, sangat menarik. Dan sementara aku hanya bisa bertanya ‘Apa yang sedang kau dengar? Apa gerombolan Bad Boys sedang membicarakan celana dalamku lagi? Bisakah kau tahu apa ada salah satu wanita di sekolah ini yang menyukaiku?’…”

“Kau pikir aku suka mendapatkan ini semua?” sela Myung Soo meninggalkan Jin Ki dengan wajah sebal.

Jin Ki pun berusaha menyusulnya seraya berkata, “Menjadi seorang Werewolf memang sangat buruk bagi orang yang berada disekitarnya, tetapi bagi yang menjadi Werewolf itu adalah hal yang keren. Kau bisa melakukan apa saja dengan tenaga serigalamu, dengan intuisi dan pendengaranmu yang tajam…”

“Oh tolong deh, aku benar-benar berharap bisa kembali menjadi Kim Myung Soo yang dulu,” sela Myung Soo lagi, kini lengkap dengan wajah gelisah.

“Kau tidak terlihat segelisah ini kemarin,” ucap Jin Ki seraya memperhatikan wajah Myung Soo. “Katakan padaku ada apa sebenarnya?”

Myung Soo tidak menjawab dan hanya berjalan menuju kelas Sejarah.

“Apa Mr. Cho mengancammu lagi?” tanya Jin Ki yang mengekor di belakangnya. “Atau Taeyang sedang menantangmu duel sore ini? Atau…”

“Aku harus bawa In Guk kepada seseorang,” jawab Myung Soo cepat, membuat Jin Ki otomatis menaikkan kedua alisnya.

“Oke, lalu pada siapa kau akan membawanya?” tanya Jin Ki.

Vargulf.”

**

“Bisa jelaskan padaku kenapa kau mau melakukan apa yang Vargulf suruh padamu?” tanya Myung Soo di kafetaria siang itu.

Dengan wajah menyesal Jiyeon berkata, “Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus melakukan ini demi saudaraku.”

“Kalau begitu jawab dengan jujur, apa saudaramu itu memiliki hubungan dengan Seo In Guk?” tanya Myung Soo.

“Yeah,” jawab Jiyeon. “Mereka berpacaran dan bekerja sama membunuh Kanima kesayangan Vargulf.”

“Lalu apa yang akan Vargulf lakukan jika aku membawa In Guk padanya?” tanya Myung Soo tanpa henti.

“Aku tidak tahu,” jawab Jiyeon. “Yang jelas Vargulf tidak akan membiarkan In Guk lari begitu saja setelah semuanya terjadi.”

Myung Soo pun terdiam, tidak bertanya lagi.

“Kau hanya cukup bawa In Guk pada Vargulf dan semuanya selesai,” ucap Jiyeon seraya menatap Nana yang sedang melambai ke arahnya. “Aku harus kembali ke kelas Sejarah, ada yang tertinggal disana.”

Sepeninggalnya Jiyeon muncullah Jin Ki dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.

“Asik sekali obrolan kalian di sudut kantin seperti ini,” ucap Jin Ki membuat Myung Soo terkejut. “Dan wajahmu, sobat…terlihat sedang mengintimidasi anak baru itu.”

“A-aku hanya…”

“Yaa! Katakan padaku, ada apa sebenarnya?” tanya Jin Ki dengan nada memaksa.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Myung Soo seraya meninggalkan Jin Ki.

**

Sore harinya…

“Baiklah, ini yang terakhir kalinya aku bertanya padamu,” ucap Jin Ki seraya menghalangi jalan Myung Soo. “Selain karena Vargulf yang memintamu untuk membawakan In Guk padanya, pasti ada hal lain yang sedang mengganjal otak bodohmu saat ini. Jangan buat aku terlihat seperti wanita yang sedang mengejar kekasihnya hanya karena ingin tahu alasan mengapa dia memutuskannya secara sepihak. Aku sahabatmu dan perlu tahu tentang masalahmu!”

“Oke, kalau kau memaksa,” ucap Myung Soo menyerah.

“Kalau begitu katakan padaku,” ucap Jin Ki tidak sabaran.

“Semuanya hanya tentang Vargulf,” ucap Myung Soo. “Dia datang padaku kemarin malam dan menyuruhku untuk membawa In Guk padanya tepat malam ini. Dan jika tidak…”

“Jika tidak apa?” tanya Jin Ki yang mendengarkan seksama semua ucapan yang keluar dari bibir Myung Soo.

“Jika tidak Vargulf akan mengeluarkan isi perutmu,” jawab Myung Soo terlihat berat mengatakannya.”

“Oh Tuhan,” ucap Jin Ki pucat. “Jelas bukan berita baik untukku.”

**

Malam hari tepat pukul 8.00 PM…

“Seharusnya aku tidak pernah memaksamu untuk bercerita,” ucap Jin Ki panik di dalam kamar tidurnya sementara Myung Soo terlihat bingung bagaimana cara dirinya menemukan In Guk.

“Sudah malam dan aku tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Myung Soo.

“Yaa! Jangan bodoh, Kim Myung Soo!” teriak Jin Ki seraya menepuk wajah Myung Soo. “Kau adalah Werewolf. Jangan bertingkah seperti manusia biasa. Dan kalau kau lupa kau berjanji untuk selalu melindungiku. Prioritas utamamu adalah aku!”

“Aku tahu, Jin Ki-ah…” ucap Myung Soo putus asa. “Aku tidak akan biarkan Vargulf itu menyerangmu.”

“Demi Tuhan, aku menyesal pernah menjadi sahabatmu jika kondisinya seperti ini,” erang Jin Ki mengalami kepanikan tingkat tinggi.

“Mungkin kau ada ide?” tanya Myung Soo.

Jin Ki pun terdiam sebelumnya akhirnya berkata, “Daripada kau bingung mencari keberadaan In Guk, lebih baik kau sembunyikan aku.”

“D-disembunyikan dimana?” tanya Myung Soo bingung.

“Di dalam celana dalammu, ya tentu saja ditempat lain yang lebih aman daripada disini,” ucap Jin Ki gemas.

“Apa kau yakin ada tempat yang tidak bisa aku ketahui?” tanya sebuah suara yang muncul dari balik pintu kamar Jin Ki.

“Si-siapa dia?” tanya Jin Ki otomatis memundurkan langkahnya.

Vargulf,” ucap Myung Soo seraya mengeluarkan kukunya yang tajam, siap melindungi Jin Ki.

To Be Continue

60 responses to “[CHAPTER – PART 2] THE WEREWOLF

  1. Pingback: [CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTER – PART 6] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTER – PART 5] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s