[Chapter-Part 1] Seven Years of Love

syol

Seven Years of Love (Chapter 1)

Ayako Jung Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Park Jiyeon [T-ARA’s Jiyeon] || Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, AU, Angst, Non-Canon, Drama, Tragedy, Divergence, and other || Rating : PG-17+ || Length : Series/Multichapter || Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there same any title or characters. Sorry if you find typo(s)

A/N : Tulisan yang bercetak italic (miring) artinya masa lalu.

Big Thanks to : bekey @ Cafe Poster for amazing poster!

Happy Reading ^^

 Gadis itu memandang kosong kearah matahari yang sekarang akan teggelam, dan petang ini akan digantikan oleh waktu malam yang gelap. Memang akan gelap saat malam hari, tapi masih ada sebuah penghias langit malam. Bintang dan Bulan. Dua benda langit malam ciptaan Tuhan yang sangat indah itu dan terus menemani malam yang gelap ini sampai pagi hari tiba. Jika tidak ada mereka, mungkin kita akan sangat sulit menemukan sebuah penerangan. Mereka berdua sangat indah jika dilihat dari balkon, seperti yang di lakukan oleh gadis itu. Mata gadis itu selalu memperhatikan penghias langit malam tanpa ia lewatkan sekalipun. Angin malam yang bisa dibilang dingin menerpa kulitnya, ia tidak memperdulikan seberapa dinginnya angin malam kali ini. Gadis ini hanya ingin menerima sebuah ketenangan, matanya selalu menengah keatas menatap indahnya langit petang kali ini. Sepertinya sangat menyenangkan jika menikmati matahari tenggelam alias sunset untuk sekarang ini, apalagi sendirian. Tenang. Rasanya begitu tenang dan damai, masalah akan seakan pergi jika sudah menyambut ketenangan. Oh, matahari… Mengapa kau bisa diciptakan Tuhan dengan seindah ini? Gadis itu berbicara dalam hati. Gadis itu sedikit terdiam, kemudian tangannya meraba bangku kosong disampingnya. Kosong. Tangannya tidak merasakan apapun, selain permukaan bangku yang sekarang ia duduki.

Masih dengan tangan yang ia taruh di bangku panjang sebelahnya. Bibirnya melengkung keatas, menciptakan sebuah senyuman indah yang akan memikat hati para lelaki. Namun beberapa menit kemudian, sebuah liquid bening lolos keluar dari pelupuk mata indahnya. Bahagia. Apakah kata itu yang pantas untuk diucapkan pada gadis cantik nan manis ini? Tidak. Sebenarnya tidak. Air mata itu sebenarnya bukan sebuah air mata kebahagian dan senyuman yang tercetak sekarang di wajah cantiknya adalah sebuah senyuman kebahagian? Tidak. Kata Ya, sebenarnya tidak pantas untuk gadis itu sekarang. Jawabannya adalah tidak. Keadaan hatinya sekarang… Sangat rapuh, dia seperti mayat hidup. Ia memang hidup seperti bisa layaknya seorang manusia biasa, tapi sejujurnya ia seperti tidak ada nyawa atau sebuah prioritas dalam hidupnya. Ia hanya sebatas hidup. Kulitnya sekarang tampak pucat karena terlalu sering menyendiri di kamarnya ia akan keluar jika ada keperluan penting saja seperti; membeli keperluan makanan atau minuman. Tubuhnya sekarang tampak sangat kurus, seperti tidak makanan beberapa hari atau seminggu. Matanya selalu terlihat sembab dan seperti memancar sebuah kelelahan. Ya, gadis itu begitu rapuh. Ia sudah menunggu beberapa lama lagi? Ini sudah memasuki tahun ketujuh semenjak kekasihnya meninggalkannya dan pergi melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Ia memang sangat merindukan lelaki itu, lelaki yang sudah membuat dunia menjadi lebih berwarna. Dunia-nya yang sebelumnya begitu gelap, pendiam, dan tidak mudah bergaul dengan siapapun. Kecuali beberapa sahabatnya yang sudah kenal lama dengannya beberapa tahun yang lalu. Namun, setelah bertemu dengan seorang lelaki berwajah tampan dan matanya itu seperti memancar sebuah kehangatan yang luar biasa, dan juga seperti ada sebuah kasih sayang dan sebuah ketulusan yang terpancar dari matanya. Matanya bukan menatap dengan tajam, tapi terlihat selalu tampak teduh. Dan untuk pertama kalinya setelah gadis itu melihat rupa dan mata sang lelaki tersebut, hatinya merasakan bahwa ada sebuah getaran aneh di jantungnya, sepertinya dulu tidak seperti ini? Apakah ada yang salah? Aku tidak memiliki penyakit jantung bukan? Tapi, kenapa muncul getaran aneh seperti ini? Pikirnya dulu. Dan saat itu juga, Park Jiyeon –gadis itu– bahwa ia sedang jatuh cinta. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ia jatuh cinta. Ya, lelaki itu berhasil membuat Jiyeon merasakan hal-nya indahnya rasa jatuh cinta! Dan membuat dunia-nya sukses menjadi jungkir balik. Jiyeon menjadi lebih suka senyum-senyum sendiri atau membayangkan tentang lelaki pujaan hatinya itu.

Sebelumnya tidak pernah ada di pikiran Jiyeon bahwa ia harus menyatakan perasaanya pada lelaki itu. Ia lebih baik memendam rasa ini sendirian daripada harus berbagi dengan yang lainnya. Hey bagaimana ia tidak mau menyatakan perasaan ini pada lelaki itu? Kim Myungsoo –lelaki itu– adalah lelaki yang paling terkenal di sekolahnya dulu. Sudah memiliki wajah tampan, baik, dan ramah. Siapa wanita yang tidak menyukainya–bahkan lebih tepat sudah menyimpan rasa cinta pada lelaki bermarga Kim itu. Siapapun wanita yang baru menjadi seorang junior baru yang baru pertama kali menjalani MOS, mungkin sudah ingin mengetahui seluk-beluk seorang Kim Myungsoo. Ya, dia memang ketua OSIS. Diseluruh penjuru sekolah mengenal Kim Myungsoo. Tentang kebaikannya maupun ketulusan hatinya. Sudahlah, intinya Kim Myungsoo adalah seseorang yang sangat baik dan sikapnya patut di contoh. Bahkan, di loker nya saja sudah banyak tersimpan; bunga mawar, coklat, bekal makan siang, maupun sebuah surat yang isi-nya adalah ungkapan hati seseorang yang memberikan surat itu pada Kim Myungsoo alias ungkapan cinta pada Kim Myungsoo. Jika lelaki itu menemukan barang-barang itu lagi, pasti ia akan terkekeh kecil dan membaca surat-sutar para penggemar rahasianya dan memakan makanan pemberian mereka. Oh, sungguh mulia-nya bukan? Kebaikan hati seorang Kim Myungsoo? Ia selalu menerima pemberian orang lain, ya menurutnya ia harus membalas kebaikan orang itu yang telah bersusah payah membuatkan itu padanya. Tapi maksudnya bukan prihatin, ia hanya ingin menghargai usaha orang lain saja dengan hati yang tulus. Bagaimana ia tidak terkenal dengan kebaikannya itu? Sudahlah, ia pasti masuk ke dalam type lelaki para wanita.

Banyak rumor yang menyebar di sekolahnya saat itu. Tapi memang benar apa adanya, seorang Kim Myungsoo tidak pernah berpacaran dengan seorang wanita sekalipun! Memang sulit dipercaya, Myungsoo menggunakan prinsip bahwa ia tidak mau berpacaran dulu dan memilih mengejar impiannya. Yah, sekalian untuk mencari seorang wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Memang banyak yang susah jika harus menjadi kekasih seorang lelaki tampan itu. Setelah Jiyeon mendengar kabar itu, ia menjadi sedikit kaget. Maklum, karena ia bukan tipe seorang wanita yang gemar mendengarkan gossip atau berita terbaru dan ter-update lainnya. Lelaki setampan itu tidak pernah berpacaran? Sulit di percaya. Pikirnya. Ia lebih memilih untuk duduk tenang daripada harus gencar mencari berita ter-update lainnya. Itu ciri khas seorang Park Jiyeon. Sikapnya sangat berbeda jauh dari sahabat terdekatnya, Jung Soojung. Soojung, memang sahabat sejati Jiyeon sejak Soojung datang ke Korea Selatan. Sebetulnya ia adalah warga asli America, tapi karena Ayah-nya mendapatkan tugas untuk bekerja di negeri Ginseng itu, terpaksa keluarga Jung ikut pindah. Soojung mempunyai nama asli Krystal Jung, ia lebih akrap di sapa Soojung maupun Krystal. Hanya keluarga-nya dan juga Jiyeon yang terkadang memanggilnya dengan nama Krystal. Awalnya Soojung adalah seorang gadis yang –sedikit– pemalu, tapi sejak mengenal Jiyeon ia lebih terbuka. Dan juga sebaliknya, saat Jiyeon mengenal Soojung, hari-hari Jiyeon bahkan lebih berwarna dari yang sebelumnya. Ah, dulu bahkan ia tidak mempunyai teman saking ia mempunyai sifat yang sangat tertutup pada siapapun. Soojung selalu ada disamping Jiyeon. Mungkin karena sifat Soojung yang sangat jutek, dingin, dan judes membuatnya sedikit di takuti oleh para penghuni sekolah saat itu. Jadi, tidak ada yang berani lagi mengejek maupun mem-bully Jiyeon.

Beberapa bulan sudah Jiyeon memendam rasa hatinya ini pada Myungsoo, tapi ia sama sekali tidak ada acara pendekatan pada lelaki itu. Ah sebelumnya Soojung sudah mengetahui bahwa Jiyeon sudah menyukai seseorang, bagaimanapun sahabat itu sudah tahu bagaimana gerak-gerik maupun tingkah sahabatnya. Dengan mudahnya Soojung dapat menebak bahwa perasaan di dalam hati Jiyeon sedang berbunga-bunga. Dan juga Soojung sudah pernah menyarankan pada Jiyeon bahwa gadis itu harus melakukan pendekatan pada Myungsoo, tapi Jiyeon menolaknya dengan tegas. Hey, bukankah menyukai seseorang itu harus mendekatinya terlebih dahulu agar dapat membuatnya jatuh ke dalam pesona-mu? Dapat memikat hatimu maksudnya. Jiyeon memang aneh, rasanya Soojung sudah pasrah harus menyarankan hal apa lagi pada Jiyeon. Tapi pada akhirnya Jiyeon tidak melakukan apapun untuk mendekati lelaki pujaan hatinya itu. Seharusnya, ya seperti tadi melakukan sebuah pendekatan.

Seminggu kemudian setelah Jiyeon memendam perasaanya pada Myungsoo. Suatu kejadian yang tidak akan Jiyeon lupakan seumur hidupnya. Saat itu, gadis manis ini sedang berjalan-jalan di belakang taman sekolah dan juga membawa bukunya. Untuk mempelajari pelajaran dengan tenang dan tidak ada gangguan sama sekali. Gadis itu mendudukan dirinya di bawah pohon yang cukup rindang, angin berhembus dengan lembut dan mempermainkan anak rambutnya. Jika suasana seperti ini, entah kenapa saat itu Jiyeon sungguh ingin berlama-lama disana. Itulah alasannya, tenang. Tempat itu sangat tenang. Daripada di kelasnya yang dipenuhi dengan anak-anak yang berlarian-larian, mengobrol, bercanda, dan membuat suasana menjadi semakin berisik saja sehingga membuatnya tidak bisa berkonsentrasi mempelajarinya. Akhirnya, ia memutuskan pindah tempat. Kebetulan saat itu, Guru yang mengajar masih sibuk dengan rapat Dewan Guru. Dan para siswa hanya disuruh bebas ataupun mempelajari pelajaran.

Saat ini masih sore tapi matahari masih memancarkan sinar panas-nya yang sangat menyengat membuat gadis bernama lengkap Park Jiyeon itu sedikit merasa kesal. Ditambah dengan teman-teman kelasnya yang lain. Mereka tidak belajar ataupun semacamnya, kegiatan apapun dilakukan sesuka mereka. Tidak seperti dirinya yang lebih memilih untuk berkutat pada beberapa buku pelajaran yang beberapa ia pinjam dari perpustakaan setiap harinya. Mungkin sekarang gadis yang sudah bisa merasakan Cinta Pertama ini ingin lebih focus pada pelajarannya yang sebentar lagi akan mengalami masa-masa Ujian yang sulit dan penentuan untuk dirinya apakah bisa Lulus atau tidak. Dan juga mendapatkan Universitas yang bagus untuk membanggakan kedua orang-tuanya. Sekarang ia ingin melupakan sejenak kisah Cinta nya –yang sebenarnya sama sekali tidak ada pendekatan– Sekarang Jiyeon layaknya seseorang yang tidak mementingkan urusan Cinta nya. Jiyeon merapikan beberapa buku-buku nya yang akan di bawa ke tempat yang ia tuju. 

Jiyeon melangkahkan kakinya. Menikmati semilir angin yang sekarang memainkan anak rambutnya yang berterbangan. Matanya menatap kearah seluruh penjuru taman yang lumayan sepi itu, hanya beberapa orang-orang –yang merupakan sepasang kekasih– sedang berjalan-jalan menikmati masa berdua mereka masing-masing. Jiyeon merasa sangat risih melihatnya. Ia mendengus, kemudian kembali melanjutkan langkah yang tadi berhenti sejenak akibat terlalu menikmati suasana tenang seperti ini. Kemudian langkah gadis Kim ini kembali terhenti saat matanya menangkap sebuah pohon yang sangat rindang. Seperti sangat enak jika aku belajar dan sedikit bersantai disana, pikirnya. Hanya tinggal beberapa jarak saja langkahnya. Jiyeon mendudukan dirinya disana, sebelumnya ia menaruh buku-bukunya dulu. “Ternyata disini sangat tenang dan juga cuaca sekarang sangat cerah dan terlihat sangat damai,” gumamnya pelan. Soojung kemana? Oh, gadis Jung itu? Gadis itu bilang bahwa ia tidak masuk sekolah hari ini karena kondisi kesehatannya tidak stabil alias sakit. Jadilah sekarang Jiyeon harus serba sendiri, tidak ada yang menemani.

Jiyeon membolak-balik halaman buku yang sekarang sudah berada di genggaman tangannya. Membaca tulisan demi tulisan yang tercetak di dalam buku itu. tampaknya ia sedang sangat serius mempelajari buku itu. Sampai tidak sadar dengan keadaan sekitarnya. Lagipula Jiyeon juga seakan tidak perduli dengan keadaan sekitar, asal tidak ada orang jahat yang akan berbuat macam-macam padanya. Memang jika dilihat dari jauh, Jiyeon terlihat biasa-biasa saja dan tidak mau tahu apa bahaya yang akan mengancamnya, tapi ia selalu memasang dua bola mata dari dari belakang, maksudnya ia akan sedikit melirik-lirik keadaan sekitarnya. Jika aman, ia akan kembali focus. Jika tempat itu sepi atau malah banyak sepasang kekasih disana, tidak peduli! Asal tenang, aman, dan damai itu sudah cukup baginya. “Aku harap tidak ada yang menganggu-ku, apalagi mereka. Huh! Untuk apa berpcaran disaat-saat masih focus sekolah seperti ini?” gumamnya dengan berupa cibiran yang ditunjukan pada sepasang kekasih yang asyik sendiri, seakan dunia dan semuanya adalah milik mereka. 

“Tampaknya kau serius sekali,”

Suara bass yang berasal dari sebelahnya tertampak oleh kedua gendang telinganya. Bukankah sedaritadi hanya dialah seorang diri? Tapi kenapa ada orang baru lagi disini. Jiyeon terasa risih jika ada orang yang tidak ia kenali di sebelahnya. Tentu saja suasannya begitu sangat canggung. Minimal sudah saling kenal walaupun tidak akrab. Jiyeon berdecak kecil tanpa membalas ucapan orang tersebut. Untuk apa menjadi ucapan orang lain jika tidak mengenalnya? Rasanya percuma. Jiyeon mencueki orang itu, anggap saja tidak ada orang disampingnya. Kepalanya tetap tertunduk pada buku yang sekarang menjadi salah satu objek-nya. Jiyeon sedikit menggeser tempat duduknya, ia tidak mau terlalu berdekatan dengan orang tersebut.

“Kenapa kau malah kesini? Bukankah seharusnya kau berada di kelasmu. Ah aku sampai lupa, sekarang ‘kan para Guru sedang rapat dan para siswa bebas berkeliaran bahkan kalau sang siswa ingin pulang ke rumah mereka, yasudah itu terserah mereka.”

Ucap orang itu lagi. Sebenarnya siapa dirinya? Kenapa begitu mengenal seorang Park Jiyeon sampai mengetahui bahwa guru-guru nya juga sedang rapat? Apakah ia peramal atau memiliki kekuatan telepathy sampai mengetahui semua itu? Ah, Jiyeon menyangkal tentang semua itu, karena tidak mungkin ada seorang manusia biasa yang memiliki kekuatan magis seperti itu. Diam. Jiyeon tidak akan mau menjawab pertanyaan dari orang tersebut. Ia lebih memilih menunduk, seperti berpura-pura tidak mendengar untung saja ia membawa buku, jadi ia sibuk membaca bukunya saja. Tapi, rasanya juga tidak sopan mendiami seseorang disampingnya tanpa memastikan orang itu siapa. Pikiran tersebut terbesit begitu saja. Perlahan, ia mendongakan kepalanya untuk menghadap orang tersebut. “Maaf aku mendiamimu begitu saja, aku takut terjadi apa-apa.” Jiyeon melemparkan senyum tipisnya. 

“Tidak apa. Aku tahu soal itu.”

Jiyeon menutup bukunya. Awalnya ia menimbang-nimbang, apakah orang tersebut baik atau tidak. Tapi setelah ia pikir dua kali, sejak orang tersebut mengajaknya berbicara, tidak ada kata-kata yang kasar atau kotor. Jiyeon menatap orang tersebut sejenak, yang sekarang telah menatapnya dengan lembut. Jiyeon terbelak kaget. Itu… Kim Myungsoo. Sang ketua OSIS yang sangat tampan dan juga lelaki pujaan hatinya selama ini. Kenapa mereka bisa bertemu dengan secara tidak sengaja seperti ini? Rasanya sedikit mustahil. Tubuh Jiyeon terasa kaku untuk di gerakan, apalagi jantungnya yang sekarang berdegup dengan kencang. Mereka hanya berdua disini, bagaimana tidak? Lelaki itu. Lelaki yang selama ini Jiyeon sukai, mereka begitu berdekatan. Sepertinya Jiyeon ingin segera kabur dari tempat ini demi menyembunyikan degupan jantungnya yang sekarang tidak stabil. Berdetak dengan terlalu cepat, ia takut lelaki itu mendengar degupan jantungnya. Tapi tidak mungkin ia harus kabur sesegera mungkin, karena tidak sopan juga langsung beranjak tanpa berpamitan terlebih dahulu. Jiyeon masih harus menjaga sopan santunnya. Sekarang yang berada di pikirannya adalah: Apakah lelaki itu mendengar suara degupan jantungnya? Ah, jangan terlalu berpikiran yang terlalu jauh Park Jiyeon!

“Kau, Kim Myungsoo?”

Tanya Jiyeon dengan suara yang tercekat. Seperti kaget atau gugup. Dan juga tatapan matanya juga seakan menyelidik rupa wajah orang itu.

Lelaki itu mengangguk, mengiyakan ucapan yang terlontar dari mulut Jiyeon. Kemudian mengembangkan senyuman lembutnya. Astaga! Senyum itu, senyum yang selalu Jiyeon pikirkan, sehingga membuatnya sedikit tidak bisa berkonsetrasi dalam belajar karena terlalu sering mengingat kembali senyuman menakjubkan –menurut Jiyeon– milik Myungsoo. Kadang kala, ia juga sering senyum-senyum sendiri dan saat itu juga ia kepergok sedang tersenyum saat berjalan dengan Soojung. “Sunbae kenapa bisa berada disini? Kudengar sunbae sedang sibuk mengurusi sejumlah tugas OSIS yang masih menumpuk?” tanya Jiyeon yang masih berusaha mengatur suaranya dan juga nafasnya yang masih tidak beraturan. Mengalihkan topic dan juga berbicara dengan hal lain tidak masalah bukan? Daripada ia harus terdiam dan menjadikan suasana menjadi lebih canggung, untuk kali ini ia ingin mencairkan suasana itu.

“Aku ingin ketenangan. Setiap ada masalah atau terlalu sibuk, aku biasanya akan menyendiri di taman ini. Juga sering mengerjakan sesuatu atau belajar disini. Semua masalah yang berada di pikiranku akan langsung musnah seketika ketika sudah berlama-lama disini. Aku menyukai tempat ini, terlebih tempatnya yang strategis dan juga… Sangat tenang disini.” Jawab Myungsoo. “Mengapa kau juga berada disini? Bukankah seharusnya kau berada di kelasmu?” tanyanya lagi. “Ah aku lupa kembali, para Dewan Guru sedang ada rapat mendadak sehingga membebaskan para siswanya kemanapun, terlebih jika siswa tersebut juga ingin pulang. Kembali ke pertanyaan tadi, biasanya para siswa di berikan kebebasan kenapa kau tidak berbaur dengan teman-temanmu? Rasanya sedikit aneh, karena tidak ada yang mau seorang siswa membawa buku ke tempat seperti ini. Karena mereka lebih suka disekitar keramaian daripada harus bersikap tenang sembari membaca bukunya. Hmm aku bukan mengejekmu, hanya saja aku merasa heran.” Myungsoo segera meralatkan kata-katanya tadi. Takut menyinggung perasaan gadis bermarga Park itu –meski belum tahu namanya karena mereka belum berkenalan– “Huft~ Kenapa aku harus lupa lagi?! Namamu siapa? Tadi kita tidak sempat berkenalan, nama ku Kim Myungsoo.”

Jiyeon tertawa kecil. “Aku sudah tahu nama sunbae, jadi sunbae tidak perlu memperkenalkan nama sunbae lagi. Maaf juga karena aku juga tidak sempat memperkenalkan siapa namaku, nama ‘ku Park Jiyeon, panggil saja Jiyeon.” Ucapnya singkat. Jiyeon terdiam sejenak sebelum menjawa pertanyaan Myungsooa tadi. “Aku.. Tidak terlalu suka berada di tengah keramaian dan begitu banyak orang-orang sekitar, aku lebih suka duduk dengan tenang sembari melihatnya indahnya alam ini. Aku membawa buku kesini supaya aku lebih bisa belajar berkonsentrasi, bukankah sebentar lagi akan di laksanakan Ujian Tengah Semester? Maka dari itu aku mempersiapkannya dari awal. Daripada aku harus berada di dalam kelas dengan begitu bisingnya suara anak-anak disana, lebih baik aku kesini. Jika ada waktu senggang, aku menyempatkan diri kesini dan membawa beberapa novelku, merasakan suasana santai, begitulah.” Lanjut Jiyeon tenang. Sekarang gadis Park ini sudah bisa mengatur suaranya, maksudnya mengatur suaranya agar terlihat lebih tenang. Tidak seperti sebelumnya yang terdengar sangat gugup. Bagaimana ia tidak gugup saat pertama kali bertemu? Bagaimana perasaanmu jika bertemu dengan pujaan hatimu dan kau saat itu hanya berdua dengannya? Pasti berdegup kencang, dan itupun kalian hanya berdua saja disana. Minimal melakukan eye contact alias kontak mata dengan pujaan hatimu? Itu saja sudah berdegup apalagi kalian hanya berdua saja? Pasti degupan jantungmu tidak bisa terkontrol dan kau berusaha untuk menahan suara degupan jantungmu agar tidak terdengar olehnya.

Myungsoo terdiam sejenak ketika sudah mendengar balasan dari Jiyeon. “Wow. Ternyata kau sangat berbeda dari wanita yang lainnya. Kebanyakan dari mereka lebih memilih waktu senggangnya untuk berbelanja atau sekedar hang-out bersama teman-temannya tanpa memikirkan sekolah apalagi itu menyangkut tentang pelajaran. Aku baru pertama kali melihat gadis seperti mu yang bisa lebih berpikir secara dewasa. Apalagi jika sudah dalam masa-masa ingin Ujian, kebanyakan dari mereka akan merasa frustasi. Hmm, bisakah kita berteman?” tanya Myungsoo sedikit mengalihkan topic pembicaraan mereka tadi. “Aku ingin mencoba berteman denganmu. Sepertinya akan sedikit terasa menyenangkan jika kita menjadi seorang teman dan sahabat, dan juga hubungan kita akan lebih baik. Kau mau?”

Airmata milik Jiyeon semakin mengalir lebih deras ketika ia mengingat saat pertama kali mereka berbicara bersama. Awalnya hanya seorang teman, ya teman biasa. Namun seiring berjalannya waktu ikatan mereka semakin erat sehingga bisa menciptakan perasaan Cinta yang tertanam begitu kuat di lubuk hati mereka masing-masing. Ini gila! Jiyeon baru pertama kali merasakan sakitnya ditinggal seorang kekasihnya yang sudah sangat menjaganya dengan baik, ini pertama kalinya ia merasakan betapa sakitnya merindukan seseorang yang sekarang sudah jarang –malah tidak– menghubunginya sama sekali. Memang ini terlalu berlebihan, tapi memang begitu kenyataan yang sesungguhnya. Jiyeon terlalu mencintai lelaki itu dan juga terlalu takut kehilangan lelaki itu. Myungsoo bagaikan yang telah menerangi dunianya yang sebelumnya kelam. Hari dan waktu saat itu memang yang paling bersejarah dalam hidupnya. Myungsoo mengajaknya berteman dan mereka berdua mengobrol bersama dengan topic yang bermacam-macam. Tapi apakah ia tidak pernah berpikir sebelumnya? Bahwa, jika kita berani mencintai seseorang berarti kita juga harus berani menerima resikonya berupa tersakiti. Tapi mengapa Jiyeon tidak bisa kehilangannya? Apakah ia takut mencintai? “Kapan kau kembali?” ucapan itu yang sering keluar dari bibir Jiyeon yang awalnya terkunci rapat. Ia menahan suara isakan tangisnya dan berusaha tidak berkedip, jika akhirnya air mata itu lolos keluar dari pelupuk matanya.

To be Continue..

Fiuhh, akhirnya FF ini selesai juga. Banyak perjuangan kalo harus tamatin chapter 1 ini-_- Buat para Readers, tolong tinggalkan komentar dan like kalian yahh^^ Komentar dan like kalian sangat berarti bagiku dan juga sumber penyemangat ku😀. Terimakasih ^^

18 responses to “[Chapter-Part 1] Seven Years of Love

  1. aigoo…knpa myungsoo gak pulang2…kasian jiyeon nya…knapa gak pernah kasi kbar jiyeon ?? mmmhhh kapan nih myungyeon ktemu lg…aigooo next…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s