[CHAPTER – PART 1] THE WEREWOLF

THE WEREWOLFthe werewolf cast

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

GIGITAN VARGULF

“Ada banyak hal yang mampu mendorongku untuk pindah dari sekolah ini. Pertama, bangunan di depanku saat ini dibentuk oleh kemampuan uang ayahku sebelum memutuskan untuk memberikan nama berbau western untuk sekolahnya yang terletak di tengah-tengah kota Seoul ini. Dan yang kedua, aku benci dengan mereka. Bad Boys yang tidak perduli aku anak siapa yang selalu mencoba menjatuhkan mentalku di depan mata anak-anak penghuni lorong Fellas Hills High School. Keinginanku untuk keluar dari sekolah ini semakin bulat saat aku mendapat serangan dari anjing berbulu tepat kemarin malam.”

Kemarin Malam…

“Tidak ada Shape Shifter di Seoul!” ucap Kim Myung Soo untuk yang kedua belas kalinya setelah Lee Jin Ki dengan brutalnya membawanya ke tengah hutan.

“Aku bisa mendengar geramannya dengan sangat jelas dan aku yakin Shape Shifter telah masuk ke kota ini,” ucap Jin Ki berargumen, sementara dirinya mencoba membenturkan senternya yang mati-nyala ke tangannya sendiri. “Oh tidak,” desahnya saat menyadari senternya sudah benar-benar mati.

“Pakai cell phone-ku.” Myung Soo pun berinisiatif memberikan cell phone-nya setelah kemarin siang secara tidak sengaja Jin Ki melempar cell phone-nya sendiri hingga mengenai dahi pelatih Ice Hockey mereka di sekolah.

“Jika aku bisa menemukan makhluk berbulu itu…” ucap Jin Ki yang tengah membungkuk dan mencoba memperjelas pandangannya ke arah rimbunan pohon di ujung sana. “…ini akan menjadi hal terhebat yang pernah aku lakukan dalam hidupku.”

“Kau cerdas kalau kau lupa,” ucap Myung Soo yang sudah mulai bosan sementara nyamuk-nyamuk mulai menyerang kaki dan tangannya. “Ayahku senantiasa memberikan beasiswa penuh untukmu karena kau cerdas, bahkan terlalu cerdas untuk berteman dengan seorang pecundang sepertiku.”

“Kau tampan kalau kau lupa,” balas Jin Ki seraya berjalan maju, membuat Myung Soo otomatis menahan tangannya.

“Aku sarankan kita kembali sebelum Hyung-ku menghajarku di tempat segelap ini,” ucap Myung Soo yang sama sekali tak suka dengan ide Jin Ki untuk memburu Shape Shifter yang keberadaannya belum dipastikan benar ada.

“Sebentar saja,” pinta Jin Ki seraya melepaskan tangan Myung Soo dari lengannya. “Aku baru saja melihat sesuatu yang bergerak di ujung sana.”

“Itu hanya angin,” ucap Myung Soo cepat. “Atau mungkin…babi hutan?”

Jin Ki tidak lagi merespon ucapan Myung Soo karena dirinya sudah berjalan terlalu jauh ke ujung hutan.

“Yaa!” teriak Myung Soo mencoba menyusul sobatnya yang terkenal nekad.

Tidak ada Jin Ki. Anak itu cepat sekali menghilang di tengah kegelapan malam. Myung Soo pun terdiam saat sesuatu di belakang tubuhnya ada yang bergerak. Dan menggeram. Merasa tak kunjung menemukan Jin Ki, Myung Soo pun berusaha kembali ke tempat awal. Walaupun rasanya geraman tadi seperti mengikutinya. Suaranya dibalik batang dan rimbunan dedaunan bagai pendorong tekad Myung Soo untuk segera kembali ke rumah. Hanya saja dia masih memikirkan temannya yang terlalu bodoh untuk mencari makhluk aneh di dalam kegelapan di sana. Mau tak mau Myung Soo kembali untuk mencari sobatnya sampai benar-benar ketemu.

**

“Myungie!” teriak Jin Ki setelah menatap baterai cell phone Myung Soo yang hampir sekarat. “Dimana si bodoh itu?” desah Jin Ki yang sudah kembali ke tempat awal. “Benar-benar babi.” Ditatapnya sikunya yang berdarah akibat mencoba menghindari sundulan dari babi hutan yang ditemukannya di dalam sana.

Tak lama kemudian muncul Kim Myung Soo lengkap dengan darah yang menetes dari bahunya. Wajahnya menampakkan kesakitan yang luar biasa. Tidak heran, tulang bahunya sepertinya hancur bersamaan dengan bekas gigitan yang terpeta jelas di atas bahu mulusnya.

“Siapa yang melakukannya?” tanya Jin Ki seraya membopong Myung Soo untuk kembali ke rumah.

Shape Shifter.”

**

“Kau beruntung sobat, tidak ada ayahmu dan Hyung-mu yang bersenjata itu,” ucap Jin Ki usai membebat bahu Myung Soo. “Tetapi rasanya kau harus pergi ke rumah sakit. Aku dapat merasakan tulangmu benar-benar hancur di dalamnya.”

“Jika aku ke rumah sakit, Hyung-ku akan dengan cepat mengetahuinya dan tak lama ayahku akan datang, lengkap dengan omelannya,” ucap Myung Soo yang kini tengah terbaring di ranjangnya.

Shape Shifter,” gumam Jin Ki seraya menatap wajah Myung Soo dengan tatapan tidak yakin.

Merasa dituduh telah berkata bohong, Myung Soo pun berkata, “Kau pikir aku sedang membohongimu?”

“Aku tidak bilang begitu,” ucap Jin Ki. “Aku hanya merasa aneh. Kau dan aku datang ke tempat yang sama, tetapi aku hanya menemukan seekor babi yang hampir menyundul bokongku sementara kau bertemu dengan Shape Shifter…”

“….yang berhasil menghancurkan sebelah bahuku,” sambung Myung Soo mencoba melengkapi ucapan Jin Ki. “Awalnya aku tidak yakin kalau ada Shape Shifter di Seoul. Tetapi dia benar ada setelah aku melihat matanya yang kuning, giginya yang siap mengoyak tubuh siapa saja yang berada di dekatnya dan juga bulunya. Bulunya berwarna putih.”

“Hem…” Jin Ki pun terlihat berpikir sementara dirinya mulai membuka laptopnya. Dia pun mulai mencari informasi tentang Shape Shifter. Tak lama kemudian Jin Ki berkata, “Mata kekuningan dan bulu yang berwarna putih. Mungkin yang kau temukan hanya serigala biasa.”

“Serigala?” Myung Soo pun terkekeh. “Mungkin Shape Shifter yang sedang berubah wujud menjadi seekor serigala?”

“Dan mungkin Shape Shifter yang sedang berubah wujud menjadi seekor babi hutan tukang penyundul?” sambung Jin Ki yang baru sadar mungkin babi yang nyaris menyundulnya tadi adalah Shape Shifter, mengingat makhluk itu dapat berubah wujud menjadi binatang apa saja sesuai dengan kehendaknya.

Tak lama kemudian Myung Soo menjerit histeris, membuat Jin Ki diserang kepanikan karena bersamaan dengan teriakan Myung Soo, mobil sang ayah dan Hyung-nya datang.

“Aku seperti merasakan tulang-tulangku bergerak,” erang Myung Soo yang sudah banjir keringat.

“K-kau diam disini sementara aku coba temui ayah dan Hyung-mu di bawah,” ucap Jin Ki kebingungan sebelum meninggalkan Myung Soo di kamar sendirian.

Baru sampai di anak tangga paling bawah, Mr. Kim dan anak tertuanya sudah tiba di dalam rumah.

“Jin Ki-ah,” sapa Mr. Kim. “Belum pulang di malam selarut ini?”

“U-um…y-yeah, sebentar lagi,” jawab Jin Ki mencoba bersikap normal sementara Kim Woo Bin baru saja meletakkan sniper-nya di atas meja.

“Woo Bin bisa mengantarmu kalau kau mau…”

“Aniyo,” jawab Jin Ki cepat, bahkan terlalu cepat sehingga membuat alis Mr. Kim bertaut bingung. “S-sebetulnya, aku berencana menginap. Disini,” sambung Jin Ki mencoba berdiplomasi sebaik mungkin.

“Ya, tentu,” ucap Mr. Kim. “Bukankah kau sering melakukannya? Lalu dimana anakku?”

“Myung Soo…u-um…dia ada di atas, sudah tidur, kurasa,” jawab Jin Ki. “Siang tadi benar-benar hari paling bersejarah buatnya karena dia mau mengerjakan semua tugas yang Mr. Cho berikan. Tentu dengan bantuanku.”

“Waw,” ucap Mr. Kim merasa takjub sekaligus aneh. “Jarang sekali dia mau melakukan hal itu.”

“Dia perlu memperbaiki nilai Biologinya dan Mr. Cho benar-benar berhasil mengancamnya siang ini,” ucap Jin Ki sebelum menambahkan, “…Mr. Cho bilang ada baiknya jika dia memberikan tambahan pelajaran usai kelas berakhir tiap Senin buat Myung Soo jika pertengahan semester ini nilainya tidak kunjung berubah. Tetapi Myung Soo lebih memilih untuk mengerjakan tugas extra daripada menghabiskan waktu sorenya bersama dengan guru baru itu.”

Mr. Kim pun mengangguk mengerti sebelum berkata, “Kalau begitu kurasa aku perlu kau untuk terus membimbingnya belajar seperti siang ini.”

“Yeah, t-tentu saja,” jawab Jin Ki. “Aku mau melakukannya. Dan kurasa aku perlu tidur. Besok masuk pagi. Dan aku akan berangkat dari sini. Bersama dengan Myung Soo.”

“Baiklah,” jawab Mr. Kim. “Akan aku antar kalian besok.”

Jin Ki pun dengan cepat melesat kembali ke kamar Myung Soo yang kosong. Jin Ki pun mencarinya di dalam kamar mandi yang berada satu ruangan di dalam kamar Myung Soo. Dan dia ada disana. Merendam tubuh dan wajahnya ke dalam bathtub.

“Kau sudah gila?” tanya Jin Ki buru-buru mengangkat Myung Soo dari dalam air sebelum mati tenggelam.

“Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya,” ucap Myung Soo terdengar lemah. Wajahnya benar-benar pucat, mengingatkan Jin Ki akan sekumpulan zombie di film kesukaannya Walking Dead.

“Sepertinya kau harus ke rumah sakit,” ucap Jin Ki mengusulkan lagi.

“Aku akan bertahan di dalam sini,” ucap Myung Soo setelah menggeleng menolak usul Jin Ki. “Kau hanya perlu menutup pintu ini dan memastikan bahwa suara jeritanku tidak terdengar sampai keluar, sampai ke kamar ayah dan kamar Hyung-ku.”

Jin Ki pun mengangguk sebelum meninggalkan Myung Soo sendirian di dalam kamar mandi.

**

Esok pagi…

Shape Shifter…” Nama makhluk itu terus terucap dari bibir Jin Ki yang tengah tidur di atas ranjang empuk Myung Soo. Sementara si empunya ranjang, kini sedang tergeletak mengenaskan di lantai kamar mandinya yang dingin.

Dering dari weker milik Myung Soo berhasil mengejutkan Jin Ki yang langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat keadaan Myung Soo.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jin Ki seraya membantu Myung Soo bangun. “Kau kelihatan seperti tidak pernah terserang apa-apa.”

Myung Soo pun menatap dirinya di depan kaca besar di dalam kamar mandinya. Benar apa yang Jin Ki katakan. Wajahnya terlihat biasa saja, bahkan kelihatan lebih baik dan lebih sehat dari sebelumnya. Myung Soo pun dengan perlahan mencoba menggerakan bahunya dan reaksinya….biasa saja. Tidak terasa sakit.

Jin Ki pun membantu Myung Soo membuka bebat di tangannya dan dengan sekali pandang, Jin Ki lupa mengatupkan rahangnya. Dia amat sangat terkejut melihat bahu Myung Soo yang mulus tanpa bekas luka dan gigitan sedikitpun.

“Apa aku sedang bermimpi?” gumam Jin Ki. “Apa kau benar-benar digigit tadi malam?”

“Kau lihat sendiri bagaimana darah mengucur dari bahuku,” ucap Myung Soo seraya menatap bahunya sendiri dengan tatapan bingung. “Bekas lukanya, rasa sakitnya, semuanya menghilang.”

“Bahkan terlihat seperti tidak pernah digigit,” ucap Jin Ki menimpali.

“Kau berikan aku obat apa kemarin malam?” tanya Myung Soo tiba-tiba.

“Kau melihat apa yang aku berikan pada lukamu semalam,” jawab Jin Ki. “Ini benar-benar aneh.” Jin Ki pun beranjak menuju laptopnya yang tergeletak di lantai kamar Myung Soo. Dan dia kembali mencari sesuatu. Tak lama kemudian dia berkata, “Aku tidak yakin kalau gigitan Shape Shifter mampu mengubahmu menjadi sesuatu yang sedang aku bayangkan saat ini. Tetapi jika memang makhluk yang menggigitmu tadi malam bukan Shape Shifter, kemungkinan besar makhluk yang menggigitmu semalam adalah ini…” Jin Ki menunjukkan gambar seekor serigala berbulu putih dengan mata menyala berwarna kekuningan.

“Makhluk apa ini?” tanya Myung Soo.

Vargulf,” jawab Jin Ki.

“Dan tepatnya sesuatu seperti apa yang sedang kau bayangkan yang kemungkinan sedang mengubahku?” tanya Myung Soo kembali.

“Tentu saja Werewolf.”

**

Fellas Hills High School…

“Jika kau benar-benar Werewolf, mungkin aku tidak bisa menjadi temanmu lagi,” ucap Jin Ki di kafetaria siang itu. “Aku hanya manusia biasa dengan tulang yang dilapisi daging yang pada dasarnya adalah makanan favorit Werewolf.”

“Aku tidak akan berubah menjadi Werewolf,” ucap Myung Soo penuh penekanan. “Mungkin ini memang tidak masuk akal. Lukaku hilang dengan proses penyembuhan yang sangat tidak wajar. Tetapi bukan berarti aku berubah menjadi makhluk predator yang kau tunjukkan tadi pagi itu. Aku masih manusia. Kau melihatnya sekarang.”

“Kau baru benar-benar berubah menjadi Werewolf tepat ketika bulan purnama, bodoh,” ucap Jin Ki. “Apa kau tidak pernah nonton Silver Bullet? The Howling atau Blood Moon?” Sesaat Jin Ki merasa aneh dengan dirinya sendiri mengapa dia menyebutkan deretan film jadul.

Tak lama kemudian muncul segerombolan siswa laki-laki masuk ke dalam ke kafetaria setelah menuangkan sebotol saus ke atas rambut Niel, salah satu siswa bertubuh kurus yang mengambil kelas Biologi yang sama dengan Myung Soo dan Jin Ki.

“Kau tahu, Jin Ki-ah?” tanya Myung Soo seraya menatap sebal ke arah gerombolan itu. “Jika aku benar-benar Werewolf, aku rasa aku harus benar-benar pindah dari sekolah ini.”

“Kenapa harus begitu?” tanya Jin Ki tidak mengerti. “Bukankah baik kalau kau bisa menggunakan kekuatan serigalamu untuk membalas Taeyang?”

“Aku hanya tidak suka melihat laganya yang hobi menindas orang seperti itu,” desah Myung Soo seraya menyingkirkan menu saladnya, sementara matanya mulai bergerilya menatap piring orang lain di seberang meja. “Oh Tuhan,” ucap Myung Soo seperti tersadar akan sesuatu. “Kenapa hari ini aku ingin sekali makan daging.”

“Itu terdengar buruk,” ucap Jin Ki seraya membawa Myung Soo keluar dari kafetaria.

Dan tidak diduga keduanya menabrak tubuh seorang siswi yang kini yang sedang sibuk memasukkan benda-benda di dalam tasnya yang berceceran di koridor loker Fellas Hills High School.

“M-maaf,” ucap Myung Soo seraya membantu.

Its okay,” ucap siswi itu seraya beranjak berdiri. “Um, kau tahu dimana letak kelas Biologi?”

“Biologi?” tanya Myung Soo seperti tidak fokus karena terlalu sibuk menatap wajah manis si siswi di depannya saat ini.

“Tingkat satu,” tambah siswi itu.

“Ah tingkat satu?” Jin Ki berusaha mengambil alih pertanyaan merasa sobatnya ini sedang terlihat sangat bodoh. “Sama seperti kami artinya. Hanya saja kau seperti telat masuk empat bulan.”

“Ya, aku harus mengurus kepindahanku dari Seattle,” jawab si siswi.

“Waw, Seattle,” ucap Jin Ki terlihat takjub. “Campuran sepertinya.”

“Ayahku Amerika dan ibuku Korea,” ucap si siswi. “Jadi sepertinya aku butuh banyak bantuan menyadari ini pertama kalinya aku datang ke Korea.”

“Oh ya, tentu saja,” ucap Jin Ki. “Kami akan membantumu. Dan kebetulan kelas yang kau cari adalah jadwal kami setelah ini. Kau bisa ikut kami. Dan tolong hiraukan si bodoh ini,” sambung Jin Ki seraya mendorong Myung Soo sejauh mungkin sebelum merangkul bahu siswi baru itu.

**

“Jadi Park Jiyeon….” ucap Jin Ki yang mengambil tempat duduk di sebelah siswi baru tadi. “…kau harus berhati-hati dengan guru yang satu ini.”

Kedua alis Jiyeon pun bertaut bingung mendengar ucapan Jin Ki.

“Dia punya hobi mengancam siswa dan siswinya jika nilaimu berpotensi masuk ke zona tidak aman. Atau aku biasa menyebutnya dengan Red Line,” ucap Jin Ki seraya memberikan buku catatannya yang terlihat sangat tebal. “Itu catatan Biologiku selama empat bulan terakhir ini. Semoga kau cukup bijaksana untuk tidak muntah di atasnya karena hal itu pernah terjadi dengan buku Sejarahku saat si idiot ini meminjamnya.” Jin Ki pun menunjuk Myung Soo yang duduk tepat di depannya.  “Yaa! Kau tidak berniat berkenalan dengan teman baru kita?” tanya Jin Ki seraya menyenggol punggung Myung Soo.

“Aku sudah tahu namanya,” ucap Myung Soo tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, tepatnya ke arah Jiyeon. “Dan kau sudah memberitahu namaku padanya.”

Jin Ki pun hanya bisa mendesah, “Bodoh.” sementara Jiyeon tersenyum melihat tingkah keduanya.

Tak lama kemudian muncul Mr. Cho yang langsung mengambil tempat di atas meja panjangnya. “Kim Myung Soo.” Belum apa-apa Myung Soo sudah mendapat serangan pertama dari Mr. Cho. “Kusarankan untuk tidak membawa namaku masuk ke dalam tabiat burukmu yang hobi membohongi ayahmu sendiri. Aku tidak pernah memberikan tugas extra untukmu hanya untuk berusaha membantu mendongkrak nilaimu yang parah itu.”

Dengan wajah kebingungan Myung Soo hanya bisa berkata, “Maafkan aku.” Dan Jin Ki di belakangnya hanya bisa menutup wajahnya dengan kamus besar bahasa Mandarinnya.

**

Losers!” panggil Dong Taeyang saat Myung Soo dan Jin Ki melewati gerombolan Bad Boys sore itu. “Bisakah kalian mencucikan celana dalamku sementara aku berusaha mencuri celana dalam kalian untuk dipertunjukkan kepada seisi Fellas Hills?” cemooh Taeyang disertai tawa para kroninya.

“Aku tidak percaya ibumu yang kaya itu tidak mampu membelikan celana dalam baru, atau mungkin membayar tagihan laundry sehingga kau menyuruh orang lain untuk mencucikan celana dalammu,” jawab Myung Soo, sementara tangan Jin Ki sudah berada di depan dada Myung Soo.

“Tidak baik melawan dia,” bisik Jin Ki pelan. “Dan kita ada disekolah. Kau harus ingat…”

“Jangan jadi pengecut Lee Jin Ki,” ucap Taeyang yang mampu mendengar apa yang Jin Ki ucapkan. “Loser satu ini sudah berani membalas ucapanku. Bagaimana denganmu? Paling tidak kau punya banyak tumpukan buku tebal untuk menghajarku.”

“Tenang saja, buku-buku itu lebih bijaksana jika digunakan sebagai pengganjal pintu rumahku,” jawab Jin Ki masih berusaha menarik Myung Soo untuk segera pergi dari tempat ini.

“Ah ya, aku lupa, kau anak beasiswa yang tidak mampu membetulkan pintu rumahmu yang reyot itu,” ucap Taeyang lagi-lagi disambut tawa oleh para kroninya.

“Dia lebih baik darimu,” ucap Myung Soo yang sudah tersulut emosinya melihat sobatnya ini dipermalukan di depan umum.

“Lebih baik dari segi apa kalau boleh aku tahu?” tanya Taeyang dengan wajah sangat menantang. “Otak? Atau mata yang cukup bertahan lama untuk terbuka sepanjang malam, melototi barisan tulisan konyol yang dia buat di kelas setiap hari?”

Tidak bisa menahan kekesalannya, Myung Soo pun mendorong dada bidang Taeyang seraya berkata pelan-pelan, “Lee Jin Ki…lebih…baik…darimu…”

“Oke, cukup untuk hari ini,” ucap Jin Ki berusaha menarik Myung Soo menjauh dari tubuh Taeyang yang sangat berisi. “Tidak ada argumen lagi.”

Myung Soo pun mengalah dan mengikuti kemana Jin Ki menariknya pergi.

“Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini?” tanya Myung Soo dalam geraman rendah. “Untuk beberapa saat aku berpikir menjadi Werewolf adalah cara terbaik untuk memudahkanku membalas pria sok jagoan itu.”

**

Sore hari…

“Jadi bulan purnama akan muncul besok,” ucap Jin Ki di dalam kamarnya yang penuh dengan buku-buku dan kertas berserakan di lantai. “Cara terbaik untuk membuktikan apa kau ini masih manusia atau sudah menjadi makhluk berbulu adalah dengan meletakkanmu di dalam hutan.”

“Kenapa harus di dalam hutan?” tanya Myung Soo tidak mengerti.

“Karena jika kau benar sudah menjadi Werewolf, ada kemungkinan kau akan merusak apa saja yang berada disekitarmu. Dan itu adalah hal buruk yang wajib kita hindari,” jawab Jin Ki. “Dan berdasarkan pengamatanku setelah menonton Teen Wolf berulang kali, aku putuskan untuk merantaimu dengan ini.” Jin Ki pun menunjukkan rantai yang dibawanya dari dalam garasinya di bawah.

“Merantaiku?” tanya Myung Soo dengan ekspresi enggan. “Terdengar seperti anjing.”

Werewolf beda tipis dengan anjing, pabboya,” ucap Jin Ki seraya memasukkan untaian rantai besar milik ayahnya ke dalam tas olahraganya.

**

Kediaman Keluarga Kim…

“Apa benar telah terjadi pembunuhan di hutan?” tanya Mr. Kim kepada anak tertuanya yang baru saja pulang dengan wajah lelah.

Kim Woo Bin pun bersender pada sofa empuk milik sang ayah sebelum menjawab, “Tiga anak muda yang sedang berkemah di hutan. Mereka dibunuh dengan cara yang sama. Banyak bekas cabikan dan cakaran dan bahkan gigitan di tubuh mereka. Pembunuhnya sepertinya bukan manusia.”

“Cabikan? Cakaran dan gigitan?” gumam Mr. Kim dengan dahi berkerut bingung. “Kau pikir di Seoul masih ada binatang buas yang dilepas begitu saja di tengah hutan?” tanya Mr. Kim.

“Entahlah,” desah Woo Bin seraya memejamkan matanya sejenak, tetapi bibirnya terus bicara. “Sebelumnya aku tidak pernah menangani kasus pembunuhan mengerikan seperti ini. Isi perut mereka berceceran di tanah. Dan untuk saat ini tolong jangan masak sesuatu yang berbau daging. Aku tidak akan sanggup menelannya.”

**

Kamar Lee Jin Ki…

“Kau sedang cari apasih?” tanya Jin Ki yang risih melihat grasak-grusuk yang Myung Soo lakukan di atas ranjang tidurnya.

“Gantungan cell phone-ku,” jawab Myung Soo yang masih sibuk mencari di dalam tasnya.

“Ah, gantungan jelek itu,” desah Jin Ki seraya menggeleng heran bagaimana bisa anak laki-laki seperti Myung Soo menggunakan gantungan untuk menghiasi cell phone-nya. “Baguslah kalau gantungan itu hilang. Sudah waktunya kau mengubah seleramu menjadi lebih sedikit kepria-priaan.”

“Gantungan itu dari mantanku,” ucap Myung Soo kesal.

“Ah, mantan.” Lagi-lagi Jin Ki mendesah. “Akan semakin bagus jika gantungan itu hilang. Karena dia hanyalah mantan. Dan kau harus menatap masa depan.”

“Daripada kau menceramahiku, lebih baik kau membantuku mencari,” ucap Myung Soo. “Kau bawa cell phone-ku kemarin malam sebagai senter. Mungkinkah kau menjatuhkan gantungannya di dalam hutan?”

“Mungkin saja,” jawab Jin Ki terlihat tidak perduli. Dia lebih tertarik mengerjakan tugas Biologinya.

“Gantungan itu tidak boleh hilang,” ucap Myung Soo seraya beranjak bangun dari ranjang Jin Ki. “Dan kau harus bantu aku mencarinya,” sambungnya seraya menarik Jin Ki keluar.

**

“Anak itu belum pulang sepertinya,” desah Mr. Kim yang sedang sibuk di dapur, sementara Woo Bin sudah bertengger di depan meja makan.

“Mungkin dia ke rumah Jin Ki,” ucap Woo Bin seraya mengeluarkan sesuatu dari jaket Sheriff-nya.

“Ada bagian dari anak itu yang sulit sekali diatur,” ucap Mr. Kim seraya meletakkan semangkuk salad di depan Woo Bin. “Beruntung dia punya teman seperti Jin Ki yang mau membantunya belajar.”

“Dan tentu berteman dengannya,” ucap Woo Bin. “Myung Soo tidak punya teman sampai akhirnya dia masuk ke Fellas Hills.”

“Dan dia masih saja merengek untuk pindah dari sekolahnya itu,” ucap Mr. Kim seraya memasukkan penuh-penuh sayuran ke dalam mulutnya. “Anak itu seperti tidak tahu diuntung. Fellas Hills adalah hal terbaik yang dia punya setelah masa Junior High School-nya mengenaskan.”

“Mungkin kau bisa bujuk Jin Ki sedikit untuk membuat Myung Soo bertahan di Fellas Hills,” ucap Woo Bin memberi usul. “Kau juga tidak mau kan membiarkan anak itu sengaja menjelek-jelekkan nilainya demi hengkang dari sekolah ayahnya sendiri?”

“Tentu saja,” ucap Mr. Kim. “Anak itu harus selalu berada di bawah pengawasanku.”

**

“Kita di hutan lagi!” ucap Jin Ki terdengar gembira di telinga Myung Soo. “Sekarang giliran kau yang mencari sementara aku tunggu disini.”

“Dimana kesetiakawananmu?” tanya Myung Soo dengan wajah sebal.

“Sudah hilang, tepatnya setelah kau digigit oleh makhluk yang kemungkinan mampu mengubahmu menjadi sama seperti Taylor Lautner.”

Myung Soo pun akhirnya sibuk mencari gantungan kesayangan dari mantannya sementara Jin Ki hanya duduk diatas batu besar sambil membuka buku catatannya di bawah penerangan senter.

“Oh Tuhan, serius kau mau belajar di bawah gelapnya hutan?” tanya Myung Soo seraya berdecak heran.

“Dimana pun aku mampu membaca buku ini asal ada penerangan,” ucap Jin Ki santai. “Dan aku perlu melakukan ini untuk tetap bisa bersekolah di Fellas Hills.”

**

“Kalian disana!” teriak seseorang lewat megafon. “Menyingkir dari TKP!”

Gerombolan polisi kini sudah tiba di depan Myung Soo dan Jin Ki yang hanya bisa tersenyum bodoh.

“Kim Myung Soo, sedang apa kau disini?” tanya Lee Jong Suk, teman kerja Kim Woo Bin. “Kau tidak lihat garis polisi yang dibentangkan di area sana?”

Myung Soo pun dengan bodohnya menggeleng sebelum menjawab, “Aku sedang mencari sesuatu yang mungkin terjatuh kemarin malam.”

“Benda apapun yang sedang kau cari saat ini, percayalah itu tidak lebih penting dibandingkan dengan nyawamu,” ucap Jong Suk. “Baru ada pembunuhan di dalam hutan ini. Dan kami masih belum menemukan pembunuhnya. Sementara kasus ini belum terselesaikan, aku berharap kau tidak masuk ke dalam hutan ini.”

“O-oke, maafkan aku,” ucap Myung Soo. “Um, tetapi jika kau menemukan benda seperti gantungan cell phone berbentuk kunci, tolong beritahu aku.”

“Gantungan cell phone?” tanya Jong Suk terlihat sedang mengingat sesuatu. “Benda itu punyamu?”

“Ya, itu punyaku,” jawab Myung Soo cepat. “Kau menemukannya?”

“Benda itu ada di kantor kami,” jawab Jong Suk. “Tetapi kakakmu yang menemukannya.”

Dengan wajah pucat, Myung Soo pun mendesah, “Kalau begitu matilah aku.”

**

“Jangan minta sekarang,” ucap Jin Ki memberi usul sementara mereka berdua dalam perjalanan pulang. “Jika kau mau selamat dari revolver atau sniper-nya yang panjang itu.”

“Tetapi aku sudah terlanjur bicara pada Jong Suk-Hyung,” ucap Myung Soo. “Dan aku mau benda itu kembali.”

“Kalau begitu kau pilih, kenangan indah bersama mantan yang menurutku tidak perlu kau simpan lagi atau nyawamu?” ucap Jin Ki terdengar bodoh di telinga Myung Soo.

“Tentu saja nyawamu,” ucap seseorang yang tiba-tiba saja dan entah bagaimana muncul di depan keduanya.

“Kau kenal dia?” tanya Jin Ki pada Myung Soo.

Myung Soo pun menggeleng seraya bertanya balik.

“Tentu saja aku tidak mengenalnya,” jawab Jin Ki. “Paling tidak aku ingat betul aku tidak pernah berhubungan dengan manusia yang lupa memakai alas kaki saat berkeliaran di tengah jalan seperti ini.”

“Apa kabar, Myung Soo-ah?” tanya si pria asing itu seraya mendekat ke arah mereka.

“Um, ada baiknya kau tidak terlalu dekat dengan kami,” ucap Jin Ki terlihat sangat berhati-hati dengan pria asing itu. “Kau terlihat sangat mengerikan.”

“Menurutku ini tampilan paling baik yang aku punya untuk bertemu dengan kalian,” ucap si pria. “Khususnya untuk bertemu denganmu, Myung Soo-ah.”

To Be Continue

65 responses to “[CHAPTER – PART 1] THE WEREWOLF

  1. Pingback: [CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTER – PART 6] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTER – PART 5] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

  4. annyeong chingu^^
    aku izin baca ffnya yah, hehehe
    jadi sebenernya myungsoo udah jadi werewolf atau belum? yang ngebunuh orang2 lagi camping apa itu myungsoo? wah jiyeonnya sedikit disini, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s