[FICLET] 안녕 사랑아 – Meet Again

안녕_사랑아_meet again_heerinssi

Title : 안녕 사랑아 – Meet Again

Author : caseymizuhara

Main casts : Kim Myungsoo, Park Jiyeon

Length : Ficlet

Genre : Romance, Fluff

Rating : PG-13

Poster Credit : heerinssi © High School Graphics

Disclaimer : FF ini merupakan sequel dari FF aku sebelumnya, 안녕 사랑아. Yang belum baca, monggo baca dulu kkk~ Semoga suka dengan sequelnya! Jangan lupa RCL kawans hehe. Terima kasih buat heerinssi atas poster yang super duper keren ini! I O U tsah haha. Jangan lupa juga mampir di wp pribadiku, caseymizuhara.wp.com!

All Jiyeon POV

Aku melirik tanggal di layar telepon genggamku. 18 Januari 2015. Sudah hampir 2 tahun aku meninggalkan Korea untuk pengobatan penyakit menyedihkanku. Sudah hampir 2 tahun juga aku meninggalkannya.

Kim Myungsoo.

Aku menghembuskan napasku perlahan. Bagaimana kabar dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah ia masih menungguku seperti janjinya waktu itu?

Selama 2 tahun ini, kami benar-benar tidak saling mengontak. Aku tidak memberitahu Myungsoo nomor baruku di Jerman. Hanya keluarga dekat saja yang bisa mengontakku selama 2 tahun ini. Ada alasan aku tidak ingin memberitahunya. Bukan karena aku tidak mencintainya, heaven knows I love him so much. Tetapi aku ingin berkonsentrasi pada pengobatan leukimiaku. Jika aku terus menerus mengontaknya, mungkin sudah sejak sebulan pertamaku di sini, aku minggat untuk bertemu dengannya lagi. Demi apa pun, aku rindu sekali dengannya.

Fräulein Park (nona Park).” Suara seorang suster di rumah sakit membuatku menengok ke arahnya. “Dokter Beier sudah siap untuk bertemu denganmu.”

Aku bangkit berdiri dari kursi ruang tunggu dan berjalan menuju ruangan dokter setelah sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepada sang suster. Dan di sini lah aku, terduduk di atas sebuah kursi berlengan di hadapan seorang dokter berusia pertengahan 40. Rambut coklatnya mulai tertutup rambut berwarna putih. Sepertinya kehidupan dokter memusingkan sekali.

Fräulein Park,” ujarnya sambil tersenyum. “Wie geht’s dir (apa kabar)?”

Es geht mir gut, danke (saya baik, trims),” ujarku sambil tersenyum sopan.

“Bagaimana tubuhmu? Apakah masih lemas?”

Aku menggeleng perlahan. “Nein, semua sudah kembali seperti semula.”

Dokter Beier tersenyum puas. “Itu kabar baik untukmu. Hasil pemeriksaanmu minggu kemarin menunjukkan hasil yang sangat bagus,” ujarnya sambil membolak-balikkan kertas di atas mejanya. Tampaknya kertas itu adalah kertas hasil pemeriksaan darahku. “Leukositmu sudah mulai berkurang. Eritrositnya sudah mulai berkembang lagi.”

Mataku membulat, tanda aku senang mendengar berita itu. “Jadi apakah aku sudah boleh menghentikan pengobatan?”

Dokter Beier mengangkat kepalanya untuk melihatku. Ia menggeleng. “Belum. Jika pengobatannya dihentikan, 2 tahunmu akan terbuang sia-sia.”

Wajahku kembali menunjukkan kekecewaan. Itu artinya aku tidak bisa berjumpa Myungsoo dalam waktu dekat ini.

“Tapi jangan khawatir. Pengobatan yang sekarang dapat dilakukan tidak secara intensif seperti sebelumnya. Bisa dilakukan rawat jalan,” lanjut Dokter Beier. “Aku tahu kau merindukan seseorang, Sayang. Seperti halnya aku merindukan Leipzig.”

Aku tertawa. “Leipzig masih di Jerman, bukan? Setidaknya Dokter masih bisa pulang-pergi ke sana biarpun hanya seminggu sekali.”

Ja, tapi rasanya tetap saja kehilangan,” ujar Dokter Beier. Dokter Beier lalu berdiri dari tempat duduknya lalu menempatkan diri di sampingku. Dokter yang masih terbilang muda itu mengelus kepalaku lembut, seperti perhatian dari seorang ayah kepada anaknya. “Pasti ada seseorang yang menunggumu di Korea, bukan?”

Aku mengulum senyum, malu.

“Ah, kau mengingatkanku akan masa mudaku,” lanjut Dokter Beier lagi. “Aku pernah ditugaskan di Afrika Selatan. Meninggalkan kekasih rasanya berat sekali. Apalagi waktu itu belum ada smartphone. Mengirim surat dari sana ke Jerman memakan waktu berbulan-bulan.”

Aku hanya terdiam mendengarkan. Sungguh, ini membuatku semakin merindukan Myungsoo.

“Nah, kau bisa bilang kepada nenekmu bahwa kau sudah boleh kembali ke Korea. Aku akan mengirimkan surat rekomendasi kepada dokter kenalanku di Seoul Memoriam Hospital. Dia yang akan menanganimu nanti di sana.”

“Benarkah?” Aku tak sanggup menyembunyikan rasa gembiraku. “Danke schön (terima kasih banyak), Dokter Beier,” cicitku sambil berdiri. Aku segera memeluk pria yang telah kuanggap seperti ayah sendiri ini. Sejak pertama tiba di Jerman, Dokter Beier adalah orang terdekat ketiga untukku selain nenek dan kakek.

Bitte schön (sama-sama), Sayang.” Ia melepaskan pelukannya. “Kau sudah boleh mengurus tiket pulang.”

Aku mengangguk semangat sambil berseri-seri. “Aku tidak akan melupakan semua bantuanmu, Dokter Beier.”

“Jangan lupa untuk mengirimkanku email setibanya kau di sana.”

“Pasti,” sahutku. Aku segera berjalan cepat keluar dari ruangan itu, bersiap untuk mengabari cerita bahagia ini pada nenek.

Aku menatap kalung di genggamanku sambil tersenyum. Kalung itu bukan kalung biasa, melainkan kalung yang memiliki tempat foto berbentuk hati sebagai liontinnya. Dalam tempat itu, terdapat fotoku dan foto Myungsoo terpajang. Kami tampak berseri-seri di dalam foto itu.

“Jiyeon-ah.”

Aku segera menyelipkan kalung tersebut di saku mantel tebalku setelah mendengar suara nenek memanggilku.

“Ya, Halmeoni?”

Nenek berjalan masuk ke dalam kamar tidur yang sudah kutempati selama 2 tahun ini. Ia mendudukkan diri di atas tempat tidur kayuku. Senyum tampak merekah di bibirnya. “Sudah siap semuanya?”

Aku mengangguk, tersenyum balik. “Sudah. Aku hanya akan membawa 1 koper besar.”

Nenek mengangguk-anggukan kepalanya. “Maaf Halmeoni tidak bisa ikut kembali ke Korea. Begitu banyak hal yang harus Nenek selesaikan di sini, terutama soal Harabeojimu.”

Aku meraih tangan Nenek dan mengelusnya perlahan. “Tidak apa, Halmeoni. Harabeoji lebih membutuhkan kehadiran Halmeoni saat ini. Aku berharap Alzheimer Harabeoji tidak bertambah parah.”

“Kita semua mengharapkan itu, bukan?” Tanya Nenek lagi padaku, masih menampilkan senyumnya.

“Ya, tentu,” sahutku. Nenek menepuk-nepuk tanganku lembut, lalu melepasnya. Ia berdiri lalu berjalan ke arah jendela kamarku, menatap taman kecil di belakang rumah kami. Aku mengikutinya, kemudian memeluknya erat. “Aku akan merindukan Harabeoji dan Halmeoni.”

“Kami juga pasti merindukanmu, Nak.” Nenek mengelus rambutku. “Sampaikan salam kami kepada orang tuamu.”

Aku mengiyakan dengan anggukan kepala. “Aku berangkat sekarang, Halmeoni. Sepertinya taksi yang kupesan sudah tiba.”

Nenek melepas pelukanku perlahan. “Auf wiedersehen (sampai jumpa).”

Bandara ini belum berubah sejak 2 tahun yang lalu aku meninggalkannya. Masih sibuk, masih berbentuk sama seperti dulu. Satu-satunya perbedaan yang mencolok antara sekarang dan dulu adalah Myungsoo tidak berada di sini.

Pesawat yang kutumpaki baru saja mendarat 20 menit yang lalu. Setelah mengambil koper, aku segera ke antrean pengecapan paspor. Tidak terlalu panjang antrean kali ini. Beruntung aku mendapat petugas yang baik hati, padahal biasanya petugas imigrasi sangat pelit senyum.

Aku berjalan menuju ke gerbang keluar, menemukan Ayah dan Ibu berdiri di sana sambil tersenyum. Aku balas tersenyum dan berjalan menghampiri mereka. Keduanya sontak memelukku erat.

You’re home,” ucap Ibu pelan. Bahuku dapat merasakan sesuatu yang hangan menetes dan rasanya aku tahu apa itu.

“Aku rindu kalian,” kataku. “Appa dan Eomma baik-baik saja, kan?”

Ayah melepas pelukannya dan mengacak rambutku, sama seperti yang selalu ia lakukan sewaktu aku kecil. “Tentu saja. Bagaimana di sana? Aku senang bergitu mendengar pengobatanmu dapat dilakukan di luar Jerman.”

“Dingin sekali di sana, berbeda rasanya dengan di Korea. Aku juga senang. Appa tidak tahu aku menangis bahagia ingin segera pulang.”

Ibu hanya mengangguk-angguk. “Tidakkah kau merindukan seseorang yang lain?”

Aku terdiam. Sepertinya Ibu bisa membaca pikiranku yang mencari-cari Myungsoo sejak tadi. “Dia tidak ikut, kan? Pasti sibuk sekali urusan kantornya saat ini.”

“Bagaimana mungkin aku tidak ikut untuk menjemputmu?”

Aku menoleh ke arah suara yang sangat familiar itu, suara yang aku rindukan selama 2 tahun ini. Dan di sana lah ia berdiri sambil tersenyum lembut. Tubuhku terlalu kaku untuk bergerak rasanya. Tersenyum balik pun aku tidak sanggup.

Tubuh tegapnya kini telah berada di hadapanku. Aku hanya dapat mengangakan mulutku tidak percaya akan siapa yang aku lihat.

Bogoshipo,” ujarnya pendek. Wajahnya masih menampilkan senyuman.

Ya!” Aku akhirnya dapat mengeluarkan kembali suaraku. Aku memukul lengannya pelan lalu memeluknya. “Nado bogoshipo. Nado bogoshipo.”

Tangannya mengelus punggungku lembut. Aku merindukan momen seperti ini.

“Kenapa kau tidak memberitahuku nomor Jermanmu?” tanyanya lagi beberapa saat kemudian.

“Karena.. Aku tidak ingin kabur dari sana.”

“Hm? Maksudnya?” Ia menatapku kembali.

Aku hanya tersenyum lalu menghindar dari tatapannya. “Aku takut jika aku mendengar suaramu, aku semakin ingin pulang.”

Babo,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya. “Aku hampir saja menyusulmu ke sana, tapi aku khawatir akan mengganggumu.”

“Lihat siapa yang babo sekarang,” kekehku. “Astaga, aku benar-benar tidak percaya aku sedang memelukmu saat ini. Aku takut ini hanya mimpi.”

“Jangan berkata bodoh seperti itu. Jika ini mimpi, sebelum kita berpelukan kau pasti sudah bangun.”

Aku kembali tertawa pelan. “Arraseo. Ini bukan mimpi.”

Keheningan kembali menyeruak di antara kami. Hanya terdengar detak jantung dari kami berdua. Aku tersenyum di dalam pelukannya. Saat ini aku hanya membutuhkan pelukan dan kehadirannya, dan di sini lah dia sekarang. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini.

35 responses to “[FICLET] 안녕 사랑아 – Meet Again

  1. Nice! Akhirnya bersatu juga. Kirain bakal ada plot twist atau apapun itu tapi ternyata cuma perkiraanku aja yg terlalu anehaneh haha
    Suka banget sama line ini thor “Jangan berkata bodoh seperti itu. Jika ini mimpi, sebelum kita berpelukan kau pasti sudah bangun.” Cause yeah, best moment in dream always being cut off :””D
    Suka sama bahasanya juga. Jadi inget pelajaran bahasa Jerman waktu SMA wkwk

    • noo haha awalnya pengen aku twist” /? tapi.. rasanya lebih unyu kalau mereka emang langsung ketemu haha.
      jinjja? syukurlah ada line yang disuka :” haha, iya itu ngeselin bgt udah bagus” mimpi malah kepotong😦
      terima kasih sudah baca ya :))

      • iyee lebih bikin readers seneng juga kalo endingnya bersatu🙂 iyeee ngerasa familiar ajaa. pernah yee mimpi ketemu idol malah tiba-tiba kebangun pdhal gak ada suara apa-apa. kan bikin kesel haha yuhuu msma🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s