[ONESHOT] ROMEO & CINDERELLA

Title: Romeo & Cinderella | Author: Olivemoon | Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo Genre: Romance Length: Oneshot | Rating: PG – 13 | Poster was created by Silent Girl at HSG

Seperti biasa. Maaf jika banyak typo(s) :$

***

Hari minggu yang cerah di puncak Namsan Tower, terlihat seorang gadis tengah berdiri disisi pagar yang dipenuhi dengan gembok-gembok kecil. Ia menutup kedua matanya─merasakan angin yang berhembus membelai wajah cantiknya.

“Jiyeon-ah.”

Gadis yang bernama Jiyeon itu lantas membuka matanya ketika ia mendengar suara yang familiar. Perlahan ia membalikan tubuhnya untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar orang yang dikenalnya. Tepat didepannya, ia melihat seorang laki-laki tengah terengah-engah sambil membawa kotak pink ditangannya.

“Myungsoo…”guman Jiyeon,”Kenapa kau disini?”

Flashback on.

Suasana malam minggu di Korea Selatan sangat ramai, apalagi tempat-tempat tertentu seperti sungai Han, Namsan Tower, mall, dan tempat-tempat lainnya yang sebagian besar dipadati oleh pasangan-pasangan muda─yang ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Tetapi keadaan yang berbeda terjadi disebuah kafe yang terletak didaerah gangnam. Bukan pasangan yang memadati tempat itu, melainkan para perempuan─mulai dari gadis hingga wanita dewasa. Bagaimana tidak, setiap sabtu malam seorang pria tampan serupa pangeran selalu menghibur mereka dengan suara indah dan lantunan gitar yang dipetiknya.

Kim Myungsoo, kiranya itulah nama laki-laki yang tengah mereka perbincangkan.

Seperti biasa, saat pria yang bernama Myungsoo itu akan mulai bernyanyi, keadaan menjadi sangat hening karena semua orang memusatkan perhatian kepadanya. Melihat gerak-geriknya saat sedang memeriksa dan memastikan takan ada melodi yang melengking ketika ia memetiknya seakan pemandangan yang menyejukan mata.

“Halo, selamat malam semuanya.” Myungsoo mulai menyapa para pengunjung, “seperti biasa malam ini saya akan menemani sabtu malam kalian. Namun, ada yang sedikit berbeda untuk malam ini. Malam ini saya akan membawakan lagu yang saya ciptakan untuk seseorang yang spesial dalam hidup saya, Park Jiyeon.” Ucapnya sambil melirik─Park Jiyeon─gadis yang berada dibalik meja kasir. Mendengar hal itu, Jiyeon mau tidak mau tersenyum tipis disela-sela kesibukannya melayani tamu. Lain halnya dengan para pengunjung, mereka tampak murung karena mengetahui ternyata pria idaman mereka sudah mempunyai kekasih.

Perlahan, Myungsoo mulai memetik gitarnya dan mulai bernyanyi.

I love you noreul saranghe

chamahajimot-han mal ttollineun gaseumi ne mami

neul sumgyowatdon geuronmal
achimimyon nunbusige nareul bichwojuneun neul hessalgateun noneun naegeneun noneun

I like you noreul joahe

machi keun namuchorom

onjena pyonanhi negyote

nol jikyojuneun geuron na
gakkeumeun nado moreuge

nemam deulkilgot gata

ni ape motjjogeun useumman

geujo babogachi useumman

achimimyon nunbusige nareul bichwojuneun neul hessalgateun noneun naegeneun noneun

hoksina uridul sai osekhejilkkabwa

josimseuropge nan noreul oneuldo nan noreul

 

hanchameul hamkkehanuri tto hanchamjinan hue

iroke pyonanhi hamkke
neul-loneun negyote neul-lan noye gyote

yongwonhi uri hamkke he

ttareuraptta ttareuraptta ttareuraptta ttareurap ttareurap ttareurap ttattattattarattaratta

(OST Shutup flower boyband Myungsoo-Love U Like U)

Tepuk tangan meriah terdengar sesaat setelah Myungsoo menyelesaikan lagunya. Ia tersenyum, merasa puas dengan penampilannya malam ini.

***

Setelah jam kerjanya habis, Myungsoo terlihat keluar dari kafe sembari menenteng gitarnya. Bukannya langsung pulang, ia malah berdiri diluar─seakan menunggu seseorang. Dan benar saja, beberapa menit kemudian seorang gadis cantik juga keluar dari pintu itu.

“Kau sudah lama menunggu?” Tanya seseorang yang ternyata adalah Park Jiyeon. Baju kerja dan apron sudah tidak melekat dibadannya lagi, menandakan bahwa jam kerjanya juga telah berakhir.

“Tidak, aku baru beberapa menit disini. Kajja, kita pulang.” Ucapnya bersemangat sambil menyelipkan jarinya diantara jari-jari Jiyeon yang kecil.

Berbeda dari pasangan lainnya, beginilah kiranya Jiyeon dan Myungsoo menghabiskan sabtu malam mereka. Bekerja ditempat yang sama dengan posisi yang berbeda─yaitu Jiyeon sebagai kasir dan Myungsoo sebagai penghibur. Saat telah selesai bekerja, Myungsoo biasa menunggu kekasihnya itu diluar kafe untuk mengantarnya pulang.

Ditengah jalan Jiyeon terus tersenyum memandang tangan mereka yang bertautan. Melihat hal itu, kedua sudut bibir Myungsoo terangkat dengan otomatis.

“Kenapa kau terus tersenyum seperti itu?” tanya Myungsoo walaupun ia sudah tahu jawaban Jiyeon..

Jiyeon mendongakkan kepalanya untuk menatap Myungsoo. “Gomawo untuk lagunya. Aku suka, sangat suka.” Ucapnya dengan senyum merekah.

Myungsoo menghentikan langkahnya, ia lalu membelai lembut pipi Jiyeon, “Anything for you, chagi. Sudah lama aku ingin melakukan itu, membuat lagu dan menyanyikannya untukmu didepan banyak orang.”

“Ya, terimakasih juga, berkat ulahmu, aku pasti dibenci oleh pelanggan-pelanggan tadi.”

Myungsoo terkikik seraya merangkul bahu kekasihnya. “Tidak apa-apa, asalkan mereka tidak menyakitimu.”

“Yah~ semoga saja.” Jawab Jiyeon sambil tersenyum lembut kearah Myungsoo.

Saking asiknya berbincang, tidak terasa kini mereka berdua telah sampai didepan rumah sederhana milik Jiyeon.

“Jangan lupa kencan kita besok, eoh?” ucap Myungsoo seraya mencium kening Jiyeon. Ia lalu menjauhkan diri dan perlahan pergi dari hadapan Jiyeon.

Lambaian tangan Jiyeon berhenti saat Myungsoo sudah hilang dari pandangannya. Ia lalu membalikan tubuhnya dan berjalan kedalam rumah.

“Aku pulang.”Ucap Jiyeon ketika ia memasuki rumahnya.

Mendengar orang yang ditunggunya sudah pulang, sontak membuat gadis yang tengah duduk sambil menonton televisi itu membalikan badannya, “Eo! Jiyeon-ah, kau sudah pulang.” Ucapnya.

“Kenapa kau belu tidur, Eunji-ah?” Tanya Jiyeon kepada gadis yang bernama Eunji itu.

Di rumah itu, Jiyeon hidup bersama ibu dan saudara tirinya yang ternyata mempunyai umur yang sama dengannya. Ayah Jiyeon menikahi ibu Eunji saat Jiyeon kelas dua SMA, tepatnya saat lima tahun kematian ibu kandungnya. Namun sayangnya kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, setahun kemudian ayahnya meninggal dunia. Beruntungnya Jiyeon karena saudara dan ibu tirinya tidak seperti opini orang yang menyebutkan bahwa ibu dan saudara tiri itu selalu kejam, justru mereka sangat baik kepada Jiyeon.

“Aku juga baru pulang,” ucapnya,”aku disuruh bos ku lembur lagi. Bukan hanya hari ini, besok pun aku harus lembur, katanya ia sangat memerlukan bantuanku. Menyebalkan. ” Ia menceritakan kekesalannya pada Jiyeon.

Pekerjaan sambilan Eunji berbeda dengan Jiyeon. Jiyeon berkerja sebagai kasir di kafe sedangkan Eunji adalah asisten seorang putri kaya raya, tugasnya yaitu melayani dan membantu anak majikannya itu ketika diperlukan.

“Bukankah besok malam kau akan berkencan dengan Sungkyu?” Tanya Jiyeo seraya menyimpan tasnya di meja dan duduk disamping saudaranya itu.

Eunji menghela nafas,”benar sekali. Bagaimana  ini, aku sudah berjanji.” Ucapnya kecewa.

Jiyeon terlihat berfikir.“Bagaimana kalau aku gantikan kau saja? Lagipula besok malam aku libur.” Ya begitulah Jiyeon, gadis baik hati yang akan selalu menolong orang selama ia bisa membantu.

Jeongmal?! Apa tidak akan merepotkan?” tanya Eunji dengan mata yang berbinar.

Mau tidak mau kedua sudut bibir Jiyeon terangkat tatkala melihat saudaranya itu tampak senang.”Tidak, aku sama sekali tidak keberatan.”

Eunji tiba-tiba memeluk Jiyeon. “Gomawo!“ bisiknya namun masih terdengar oleh Jiyeon,“Kau itirahatlah, tidak perlu menunggu ibu. Dia bilang akan pulang pagi karena akan ada acara besar.” Ucapnya setelah melepaskan pelukannya dari Jiyeon.

Ibu Jiyeon dan Eunji bekerja di perusahaan catering. Jika mereka menyebutkan akan ada acara besar seperti sekarang, biasanya ia akan bekerja sampai pagi untuk menyiapkan makanan-makanan yang harus dihidangkan.

“Baiklah,” Jiyeon mengangguk, “ayo kita tidur.” Ajaknya.

Jiyeon dan Eunji berjalan menuju kamar mereka. Ya, kamar mereka. Jiyeon dan Eunji tidur dikamar yang sama karena nyatanya dirumah itu hanya ada dua kamar tidur.

***

Keesokan harinya.

Jiyeon memandang pantulan dirinya dicermin. Pelahan, ia menyisir rambut coklat sebahunya itu dengan senyum yang terpeta diwajahnya. Pikirannya melayang kepada Myungsoo. Sudah sering ia berkencan dengan kekasihnya itu, namun rasanya tetap sama, gugup. Tidak hanya itu, detak jantungnya akan berdetak tak beraturan melebihi batas normal seperti ini.

“Jiyeon-ah! Myungsoo sudah datang.” teriakan Eunji dari luar membutnya langsung berdiri dan merapihkan dress pink selututnya. Lalu, disambarnya sepatu kets berwana putih dan memakainya asal sebelum bergegas keluar.

Kajja.” Ajak Myungsoo sambil menautkan tangannya disela-sela jari Jiyeon.

Jiyeon tersenyum dan mengangguk kecil.

“Hati-hati dijalan.” Ucap Eunji sambil melambai-lambaikan tangannya.

.

Untuk kencan kali ini, Myungsoo dan Jiyeon memutuskan pergi ke Namsan Tower. Well, itulah tempat yang ingin mereka kunjugi terutama untuk Jiyeon, dia sangat ingin mencoba memasang gembok cinta seperti pasangan yang lainnya.

“Apa kau siap?” tanya Myungsoo ketika mereka sudah berada didepan ribuan anak tangga yang harus mereka daki.

“Aku siap!” Jawab Jiyeon dengan penuh semangat.

Chakkaman!” cegah Myungsoo saat mereka akan memulai menapaki anak tangga. Ia berjongkok didepan Jiyeon, lalu menalikan tali sepatunya yang terlepas.

Dilain sisi Jiyeon hanya tersenyum sekaligus meruntuki kebodohannya. Akibat insiden terburu-buru tadi, ia mengikat tali sepatunya dengan tidak sempurna. Untunglah, Myungsoo lebih dulu melihatnya, jika tidak, bahaya bisa saja terjadi padanya saat ditengah jalan.

Gomawo.” Ucap Jiyeon tulus setelah Myungsoo kembali berdiri.

Myungsoo mengelus rambut Jiyeon. “Lain kali kau harus berhati-hati.”

“Siap Bos!” jawab Jiyeon seraya menempelkan tangan kanannya ke ujung pelipisnya, tampak seperti prajurit yang sedang menghormat atasannya.

Ditengah perjalanan, keduanya selalu melakukan permainan yang akhirnya mengundang tawa karena kadang salah satu diantaranya tertangkap berbuat curang. Untunglah keadaan disana nampak sepi sehingga mereka tidak perlu khawatir jika orang-orang akan menganggap aneh mereka berdua.

Ya, begitulah kehidupan Jiyeon dan Myungsoo. Selama setahun menjalin hubungan, keduanya jarang bahkan hampir sama sekali tidak pernah bertengkar. Meraka selalu mengerti satu sama lain. Myungsoo memandang Jiyeon sebagai gadis paling sempurna menurutnya, dia adalah seseorang yang mempunyai hati seputih salju, pemaaf, selalu membantu orang walaupun harus mangambil resiko dirinya dalam bahaya, dan yang paling penting, ia tidak pernah mengeluh tentang kehidupan sederhananya.

Bagi Jiyeon sendiri, Myungsoo adalah sosok yang paling mengerti dirinya. Ia adalah laki-laki yang selalu mengingatkan Jiyeon ketika ia terkadang lupa akan sesuatu hal, ia juga akan membantu Jiyeon ketika sifat cerobohnya datang seperti tadi.

“Ah~ lelah sekali.” Ucap Jiyeon ketika mereka telah sampai di atas Namsan Tower. Ia lalu memukul-mukul kecil kakinya, mencoba untuk menghilangkan rasa pegal.

“Oppa! Apa yang kau lakukan!” Pekik Jiyeon saat Myungsoo tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.Dengan segera, Jiyeon mengalungkan tangannya dileher Myungsoo untuk menjaga keseimbangannya.

“Diamlah, aku tahu kau lelah.” Jawab Myungsoo sambil tersenyum, senyum yang mampu memunculkan semburat merah dikedua pipi Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa tertunduk malu, namun tidak dapat dipungkiri bahwa didalam hatinya terasa banyak kupu-kupu yang berterbangan.

Tidak lama kemudian, Myungsoo menurunkan Jiyeon di salah satu bangku yang berada tidak jauh dari posisi mereka sebelumnya.

Gomawo.” Jiyeon mengucapkan terimakasih untuk kesekian kalinya.

“Apa kau tidak bosan terus-menerus berterimakasih?” tanya Myungsoo.

“Bagaimana bisa aku tidak berterimakasih sedangkan kau telah banyak membantuku.” Jawab Jiyeon seraya mencubit kecil kedua pipi Myungsoo pelan.

DRRTT~

Kemesraan mereka tiba-tiba berhenti tatkala terdengar suara getar handphone dari dalam saku Myungsoo. Ia lalu segera mengambilnya dan melihat nama ‘my mother’ tertera di layarnya.

“Kenapa telepon dari ibumu tidak diangkat?” Ucap Jiyeon ketika ia melihat Myungsoo masih tidak menjawab panggilan dari ibunya.

“Ah! Aku akan menjawabnya. Kau tunggulah sebentar disini, ya?” Tanpa menunggu jawaban Jiyeon, Myungsoo langsung pergi melesat meninggalkan Jiyeon yang keheranan. Apa tidak bisa menjawab teleponnya disini saja? Pikirnya.

Sebenarnya, selama Jiyeon berhubungan dengan Myungsoo, ia sama sekali belum pernah bertemu dengan ibu Myungsoo. Menurut apa yang Myungsoo ceritakan kepadanya, orang tua Myungsoo memang tidak berada di Korea, keduanya menetap di Canada sedangkan Myungsoo hidup sendiri di apartemen murah dekat rumah Jiyeon.

Lamunan Jiyeon seketika menghilang saat matanya menatap toko yang menjual gembok─yang biasa digunakan orang untuk menguncinya dipagar sana. Tidak membuang waktu, dengan senyum yang mengembang, ia berjalan kearah toko itu.

Setelah panggilan dari ibunya berakhir, Myungsoo menyimpan kembali handphone itu kedalam sakunya. Ia membalikkan badannya dan berjalan lunglai─menuju ketempat Jiyeon berada. Namun, kening Myungsoo berkerut tatkala matanya tidak melihat sosok Jiyeon di bangku itu.

“Kau mencariku?” Sontak Myungsoo membalikkan badannya setelah sebuah suara membuatnya terlonjak kaget.

“Kau mengagetkanku, Jiyeon-ah~” Ucap Myungsoo sambil mengembungkan pipinya seperti anak kecil.

Jiyeon terkikik pelah,”maafkan aku, Oppa.” Sesalnya pada Myungsoo.

Tiba-tiba wajah Myungsoo berubah menjadi serius.”Jiyeon-ah,” panggilnya,”maafkan aku, kurasa kita harus menunda kencan kita. Ibuku memberitahu bahwa ia sedang ada di bandara.”

Jiyeon mengepalkan tangan kanan yang berada di balik badannya. Sejujurnya ia tidak rela jika kencan mereka dibatalkan begitu saja, namun, Jiyeon tidak boleh egois, mana boleh ia menghalangi Myungsoo yang akan bertemu dengan ibunya.

“Pergilah jemput ibumu. Tidak udah khawatir tentang kencan, lagipula masih banyak hari esok, kan?” Ucap Jiyeon.

“Terimakasih, kau memang sangat pengertian, Jiyeon-ah,”ucapnya,”Aku pergi dulu, ya?” Myungsoo mengecup kening Jiyeon seraya pergi begitu saja dari hadapan gadisnya itu tanpa menawarkan untuk kembali kebawah bersama.

Jiyeon hanya bisa memandang kepergian Myungsoo dengan nanar. Dilihatnya sebuah gembok yang ia sembunyikan ditangan kananya. Ia hanya bisa menghela nafas dan menyimpannya kedalam tas.

***

Jiyeon memandang takjub rumah besar milik keluarga Lee yang berada didepannya. Seperti yang ia rencanakan, Jiyeon akan menggantikan pekerjaan Eunji untuk malam itu. Eunji memang sering bercerita tentang rumah majikannya, namun Jiyeon tidak menyangka bahwa rumahnya akan sebesar itu.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

Jiyeon terlonjak kaget ketika menemukan seorang pria berbadan tegak dengan kemeja putih dan jas hitam─terlihat seperti bodyguard berdiri disampingnya.

“S-s-saya Park Jiyeon, saudara Eunji. Saya akan menggantikan pekerjaan saudara­ saya untuk malam ini.” Ucap Jiyeon sedikit tergugup.

“Ya. Saya telah mendengarnya. Silahkan anda masuk, nona muda sudah menunggu anda.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan─menunjukan jalan kepada Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa membulatkan mulutnya. Bukan hanya rumah saja yang mengagumkan, sistem untuk para pekerjanya juga sangat profesional bak pelayan kerajaan.

.

“Nona, wanita yang menggantikan Eunji malam ini sudah datang.” Ucap pengawal itu ketika dirinya dan Jiyeon memasuki kamar seseorang yang ia sebut ‘Nona muda’. Ia lalu membungkuk dan meninggalkan Jiyeon disana.

“Kenapa kau lama sekali.” Jawabnya sambil memutar bola matanya malas.

Jiyeon sempat gugup, namun tidak sengaja matanya menangkap jam besar yang tergantung didinding─memperlihatkan angka 21.50. “Maaf nona, saya kira jam kerjanya masih sepuluh menit lagi.” Ucap Jiyeon memberanikan diri.

Wanita muda itu mengedipkan matanya berkali-kali sambil memandang kearah jam yang Jiyeon lihat.”Ah matta, aku lupa bahwa jam kerja malam dimulai pukul sepuluh malam.” Ucapnya seraya menepuk dahinya. Melihat hal itu, Jiyeon tak kuasa menahan senyumnya.

“Namaku Lee Jieun. Eunji bilang kau akan menggantikannya malam ini, kan?” ucapnya sambil berjalan kearah Jiyeon yang berada beberapa langkah didepannya, “sebenarnya alasan kenapa aku memintanya untuk lembur adalah karena aku malas untuk pergi ke acara ulang tahun teman sekaligus anak rekan bisnis ayahku.”

“Maksudmu?”Jiyeon mengerutkan keningnya,“jadi nona ingin aku untuk menggantikan nona datang ke acara itu?” Tanyanya tak percaya.

“Iya. Tidak apa-apa, kan?”ucapnya,”walaupun acara potong kue nya pasti sudah selesai, kau tetap harus segera berangkat sebelum acaranya berakhir.”

Jieun menarik tangan Jiyeon untuk duduk didepan meja riasnya. Hanya dengan sekali memijit bel dengan tombol berwarna hijau, tidak lama kemudian muncullah seorang wanita dengan membawa kotak hitam.

“Tolong dandani dia.”

Mendengar perintah dari nona mudanya, ia segera membuka kotak hitam yang dibawanya. Setelah melihat semua isi kotak itu adalah satu set lengkap peralatan make up, Jiyeon yakin bahwa wanita yang akan mendandaninya itu pasti seorang make up artist. Jiyeon lantas menutup matanya ketika merasakan tangan Make up artist itu dengan lihai menyapu lembut permukaan wajah putihnya.

Jiyeon memandang pantulan dirinya dicermin. Wajah dengan make up yang tidak terlalu tebal, rambutnya yang ditata sehingga menampilkan leher putihnya, lalu gaun indah berwarna biru dan sepatu yang senada membuatnya tampak sempurna. Iya sangat takjub, hanya dengan tigapuluh menit, persiapan sudah beres.

“Woaah~ yeppo.” Ucap Jieun sambil tersenyum,”ayo berangkat.” Ucapnya sambil menuntun Jiyeon keluar.

.

Mobil mewah Jieun kini telah berhenti tepat didepan hotel bintang lima.

“Ingat, jangan berbicara dengan sembarang orang,” Ucap Jieun,”setelah acaranya selesai kau berjalanlah ke kafe disebrang sana, aku akan menunggumu.”

“Baik nona.” Ucap Jiyeon seraya turun dari mobil.

Sesaat setelah Jiyeon masuk, ia mengambil nafas dalam. Sejujurnya ia sangat gugup, ia sama sekali belum pernah datang ke acara sebesar ini. Namun Jiyeon menyakinkan dirinya bahwa ia harus melakukannya dengan baik, jika tidak Eunji pasti akan dimarahi oleh nona muda, pikirnya.

Satu jam berlalu. Selama itu Jiyeon berhasil menikmati acara itu. Ia hanya berjalan-jalan sambil membawa wine yang sama sekali tidak ia minum. Well, Jiyeon sama sekali tidak berniat untuk meminumnya, ia hanya mengikuti orang-orang yang berada disana.

“Mohon perhatian kepada seluruh tamu undangan…”ucap seseorang yang berada di atas podium.

Jiyeon meletakkan gelasnya diatas meja, dan memusatkan perhatiannya kepada orang yang berbicara didepan sana.

“Terimakasih untuk kalian yang sudah datang,”ucapnya,”Seperti yang sudah dijelaskan di undangan, acara ini adalah acara ulang tahun sekaligus acara pertunangan anakku. Silahkan, Jung Krystal dan Kim Myungsoo naik ke atas podium untuk malakukan tukar cincin”

“Kim Myungsoo…”gumam Jiyeon. Walaupun banyak nama yang sama namun, entah kenapa Jiyeon takut jika Kim Myungsoo yang akan berdri di podium itu adalah kekasihnya.

DEG!

Hati Jiyeon terasa tersayat-sayat ketika rasa takutnya menjadi kenyataan. Laki-laki yang berdiri sambil bergandengan tangan dengan wanita yang bernama Krystal itu adalah Kim Myungsoo, kekasihnya.

“Myungsoo oppa…” bisik Jiyeon. Tanpa terasa air matanya perlahan membentuk anak sungai yang mengalir dipipinya. Ia sama sekali tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini.

Apakah laki-laki yang berada didepan podium itu benar-benar Kim Myungsoo, kekasihnya? Lalu, apa yang ia ketahui selama ini tentang Myungsoo adalah kebohongan? Ucapnya dalam hati.

Jiyeon… Mata Myungsoo membulat sempurna tatkala ia melihat kekasihnya hadir diacara ulang tahun sekaligus acara pertunangan yang direncanakan kedua orang tuanya. Rasa bersalah seketika menyeruak dalam hatinya. Myungsoo sadar bahwa ia telah membohongi Jiyeon dengan tidak memberitahu kebanarannya selama ini. Kebenaran bahwa orang tuanya sama sekali tidak tinggal diluar negeri, dan kebanaran tentang status sosialnya sebagai pewaris Kim group, perusahaan terbesar di Korea Selatan.

.

Setelah acara tukar cincin selesai, Myungsoo menarik pergelangan Jiyeon dengan erat dan berjalan tergesa-gesa ka arah taman belakang, ia takut orang lain melihat mereka. Namun, sebelum mereka tiba ditujuan yang Myungsoo maksud─yaitu bangku taman yang berada tepat beberapa langkah lagi dari mereka, Jiyeon kehilangan keseimbangannya sehingga mengakibatkan kedua sepatu yang dipakainya terlepas. Bagaimana tidak, Myungsoo mengajaknya berlari kecil dengan sepatu hak sepuluh senti milik Jieun.

“Jiyeon! Kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo khawatir. Ia lalu berjongkok untuk melihat keadaan kaki Jiyeon.

Tidak seperti biasanya, kali ini Jiyeon tidak membiarkan Myungsoo menyentuh kakinya. Ia mundur beberapa langkah untuk sedikit memberi jarak antara keduanya. Dilain sisi, Myungsoo yang pertama kalinya mendapat penolakkan dari Jiyeon hanya bisa meruntuki kebodohannya karena ialah yang sudah memaksa Jiyeon untuk berlari kecil tanpa mengetahui dirinya memakai sepatu hak sepuluh senti.

“Maafkan aku Jiyeon-ah. Aku hanya panik ketika melihat keberadaanmu disini.” ucap Myungsoo seraya berdiri.

“Kenapa?” ucapnya lembut,”apa aku tidak boleh berada disini? Apakah orang sepertiku tidak pantas berada di acara ini, Myungsoo-ssi?”

Hati Myungsoo terasa dihujani ratusan belati yang tajam ketika mendengar Jiyeon memanggilnya dengan formal.

“Bukan begitu. Maksudku…” Entah kenapa Myungsoo tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia terlalu bingung harus menjelaskan dari mana.

Dalam keadaan seperti itu, Jiyeon masih sempat tersenyum. “Tidak apa-apa, aku mengerti. Berbahagialah, Myungsoo-ssi” Ucap Jiyeon seraya pergi dari hadapan Myungsoo. Jiyeon sadar, ia tidak pantas bersama pangeran seperti Myungsoo.

Myungsoo hanya bisa terdiam memandang punggung Jiyeon yang terlihat semakin menjauh. Ingin sekali ia mendengar Jiyeon memukulnya, memakinya, bersumpah serapah dihadapannya. Setidaknya itu akan sedikit melegakan hatinya. Namun, nyatanya Jiyeon menghukumnya lebih berat. Ucapan tulus beserta senyumnya seakan merobek-robek hati Myungsoo, membuatnya semakin dirundungi rasa bersalah.

Setelah sosok Jiyeon menghilang dari pandangan Myungsoo, ia lalu membalikkan badannya─bersiap untuk kembali kedalam. Namun, sepasang sepatu lebih dulu menyita perhatiannya. Itu sepatu Jiyeon. Tidak pikir panjang, disambarnya sepatu itu lalu berlari untuk mengejar Jiyeon. Bagaimana bisa gadis itu melupakan sepatunya, pikirnya.

Myungsoo telah berlari kemana-mana, namun nihil. Ia sama sekali tidak menemukan Jiyeon.

***

Setelah acara pertunangannya, Myungsoo selalu berdiam diri dikamarnya. Hal itu tentu saja membuat orang tuanya sangat khawatir.

“Myungsoo…” Bisik nyonya Kim setelah ia melihat anaknya duduk didepan jendela, memandang kosong pemandangan dihadapannya.

“Selama ini aku selalu mematuhi apa yang kalian perintahkan. Aku masuk ke sekolah terbaik, namun apakah kalian tahu waktuku bermain tergantikan oleh berbagai macam les, aku sama sekali tidak merasakan bagaimana rasanya bahagia bermain dengan teman. Lalu, Ibu memasukkanku ke Universitas yang terkenal dengan jurusan bisnisnya, sementara aku sama sekali tidak menyukainya. Pernahkah ibu memikirkan keinginanku? Pernahkan Ibu memikirkan kebahagiaanku?” Jelas Myungsoo. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.

Mendengar hal itu, nyonya Kim hanya bisa tertunduk. Memang benar, ia dan suaminya selalu memilih apa yang semestinya dipilih Myungsoo. Mereka melakukan itu semata-mata untuk menyiapkan Myungsoo untuk menjadi pewaris perusahaan, mengingat dirinya adalah putera tunggal keluarga Kim. Namun tampaknya nyonya Kim telah sadar bahwa mereka mengambil jalan yang salah, mereka sama sekali tidak memperdulikan perasaan Myungsoo.

“Myungsoo!” pekik seseorang wanita yang tiba-tiba masuk ke kamar Myungsoo.

“Jieun-ah.” Panggil nyonya Kim setelah mengetahui bahwa gadis itu ternyata Jieun, teman Myungsoo.

“Kau tahu kenapa aku memilih tidak hadir di acara ulang tahun sekaligus pertunanganmu?”

Diam. Myungsoo hanya diam dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.

“Karena aku tidak suka melihat kau yang pengecut. Kau bilang kau mencintai seseorang, tapi nyatanya kau hanya pasrah dengan keadaan. Aku benci dirimu,” Jieun menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkataannya,”malam itu sebenarnya akulah yang menyuruh Jiyeon datang ke pestamu.”

Mendengar Jieun menyebutkan Jiyeon, sontak Myungsoo mengalihkan pandangan tidak percayanya pada Jieun─seakan meminta penjelasan lebih mengenai hal itu.

“Aku menyelidiki wanita yang kau cintai itu dan kenyataanya dunia ini memang sempit, ia ternyata adalah saudara Eunji, asistenku,” ucap Jieun seraya duduk samping Myungsoo,”Aku menceritakan semuanya pada Eunji dan menyusun rencana untuk melihat apakah kau benar-benar akan memperjuangkannya atau tidak.”

“Lalu?” Myungsoo mulai bersuara.

“Saat Jiyeon datang ke kafe tempatku menunggunya, aku sudah mendapatkan jawabannya ketika melihat ia murung dengan bertelanjang kaki. Kupikir ‘ah pasti terjadi sesuatu’. Tadinya aku berniat akan membencimu karena kau membiarkan gadismu seperti itu. Namun saat melihat kau berlari seperti orang gila sambil menenteng sepasang sepatu, aku menjadi yakin kau benar-benar mencintainya.”

“Seperti itukah?” tanya Myungsoo dengan nada lemah,”lalu apa? semuanya sudah terlambat.” Myungsoo mengusap kasar wajahnya.

“Tidak, kau masih punya kesempatan. Jika kau masih ingin memperjuangkan cintamu, temuilah Jiyeon di Namsan Tower sekarang.” Ucap Jieun sambil menepuk pundak Myungsoo.

“Dia berada disana?” tanya Myungsoo yang dibalas anggukan oleh Jieun.

Tidak membuang waktu, Myungsoo langsung bergegas keluar. Namun belum sempat ia memegang knob pintu, Myungsoo membalikkan badannya. Ia sadar bahwa ibunya masih berada disana.

Eomma…” Panggilnya pelan.

“Pergilah, nak,” ucapnya,”Eomma ingin kau bahagia.”

Myungsoo mendekat dan memeluk ibunya. “Terimakasih, eomma.” Ucap Myungsoo seraya dibalas oleh elusan nyonya Kim dipunggunya.

Flashback off.

“Jiyeon-ah, aku tahu aku tidak mengatakan tentang identitasku yang sebenarnya. Aku mempunyai alasan untuk hal itu…”

“Ssstttt jangan diteruskan,” ucap Jiyeon sambil meletakan telunjuknya dibibir Myungsoo.”aku tahu kau takut orang tuamu tidak menyetujuiku karena mereka telah mempersiapkan pertunangan untukmu, bukan?”

Myungsoo mengangguk.

“Tapi sekarang sudah tidak. Aku telah mendapat izin dari ibuku,” Myungsoo terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataanya,”lalu apakah kau memaafkanku dan besedia kembali padaku, Jiyeon-ah?”

“Menurutmu?” Disaat Myungsoo tengah tegang menanti jawaban Jiyeon seperti ini, Jiyeon malah menggodanya.

“Yah~ kau sangat menyebalkan” Myungsoo mengembungkan pipinya.

“Tentu saja,” Jiyeon mengembangkan senyumnya, “aku masih sangat mencintaimu, oppa.”

Setelah mendengar jawaban Jiyeon, Myungsoo lalu membawa Jiyeon kepelukannya. Kedua sudut bibir Myungsoo lantas tertarik keatas. Ia baru menyadari bahwa kebohongan memang menghancurkannya namun dengan keberanian, ia bisa memulai semuanya dari awal.

“Ah, aku lupa.” Ucap Myungsoo seraya melepaskan pelukannya. Ia lalu berjongkok mengambil kotak pink yang tadi ia bawa.

Mata Jiyeon membulat tatkala melihat benda yang berada didalam kotak itu adalah sepasang sepatu hak sepuluh senti yang tertinggal dipesta Myungsoo. Ia terus mengamati Myungsoo yang membuka sepatu ketsnya dan menggantikannya dengan sepatu hak tersebut.

Myungsoo berdiri setelah ia selesai memasangkan kedua sepatu itu. Tinggi keduanya kini hampir sama.

“Lain kali, jangan sampai kau meninggalkan sepatumu seperti malam itu.” ucap Myungsoo yang dibalas anggukan oleh Jiyeon.

Jiyeon lalu merogoh sesuatu dibalik tas kecilnya. Dibawanya sebuah gembok kecil yang dulu ia beli saat kencan keduanya batal. Didepan gembok itu, Jiyeon sudah menuliskan namanya dan nama Myungsoo dengan tanda hati yang sedikit memberi jarak diantara nama keduanya.

“Ayo kita pasang ini.” ucap Jiyeon.

Setelah mereka memasang gembok itu berdua, mereka lalu bersama-sama melempar kuncinya ke danau yang berada dibawah sana.

“Ayo kita turun, aku akan menggendongmu sampai kebawah sana.” Ajak Myungsoo.

Jinjja?!” tanya Jiyeon memastikan.

Melihat Jiyeon yang begitu antusias, tentu saja Myungsoo mengangguk mantap.

Kini keduanya bersama kembali. Mereka menyadari bahwa cinta itu tidak selalu mudah. Mungkin kejujuran menyebabkan satu tangisan. Namun, itu lebih baik daripada senyuman yang dihasilkan oleh kebohongan.

Myungsoo menurunkan Jiyeon setelah mereka tiba di bawah sana.

“Myungsoo…” panggil Jiyeon,”sepatu kets ku tertinggal diatas sana.” Ucap Jiyeon sambil menunjuk keatas─tempat mereka tadi berada.

“Mwo?!” pekik Myungsoo.

Jiyeon terkikik melihat reaksi Myungsoo. Dia tahu, baru saja Myungsoo mengingatkannya tentang ‘jangan sampai sepatunya tertinggal lagi’. Namun karena Jiyeon tadi terlalu bahagia, ia jadi melupakan sepatunya─lagi.

 

-END-

A/N:

Halooooo~ *lambai2 tangan* aku balik lagi membawa FF romance dan maaf onehoot lagi hehehe. Bener-bener blm berani post yang chapter dah xD. Oh yaa, gimana? alurnya kecepetan gak? romancenya kerasa gak? ngga yah? yaudah *pulang sesenggukan* huhuhu. Walaupun gitu, ditunggu komennya yaa♥

88 responses to “[ONESHOT] ROMEO & CINDERELLA

  1. Endingnya kocak,, Wkwkwk
    Alurnya campuran,, jd endingnya dah tau d awal,, hehee…
    Tp keren thor,, gk begitu banyak typo,, bahasanya jg bagus.
    Keep writing! Semangat! ^^

  2. Wah ini bnr2 keren cerita’y thor… Alur cerita’y pas kok, romance’y juga ngena ga terlalu berlebihan. Pkk’y nice ff dech, aku suka cerita’y thor ^^
    Trus berkarya yah author and semangat trus buat bikin cerita ff yg keren2, jjang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s