[FICLET] REGRET

regret-poster-by-echaminswag1 Title : Regret

Author : Yan Hee

Main Cast :

Byun Baekhyun (Exo)

Park Jiyeon (T-ara)

Genre : Angst, sad

Rate : Teen

Credit Poster : echaminswag@HSG

~

Ff ini sebelumnya pernah aku publish di wp lain. Jadi yang ngerasa udah pernah baca, lebih baik gak usah baca ya🙂

Happy reading (untuk yang mau baca)🙂

Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya🙂

***

“Oppa” “

Jiyeon, tunggu” teriak seorang namja sambil berlari mengejar yeojachingunya.

Jiyeon tidak menyangka orang yang selama ini dia sangka mencintainya dengan tulus, ternyata bermain di belakangnya. Ia tidak memperdulikan teriakan namjachingunya itu. Ia terus berlari sekuat yang ia bisa. Sampai tiba-tiba…

Ckittt,,, brakkk,,,

Banyak orang berkumpul mendatangi tempat kejadian untuk melihat siapa korban tabrakan mobil itu. Suara tabrakan itu terdengar jelas di telinga Baekhyun. Baekhyun dengan mata kepalanya sendiri melihat peristiwa tragis itu. Yeojachingunya yang amat ia cintai tertabrak mobil. Dan pelaku penabrakan mobil itu melarikan diri.

Tiba-tiba buliran bening jatuh dari kelopak mata Baekhyun. Buru-buru ia tersadar dan menghapus air matanya, berlari menghampiri yeojachingunya yang sudah tak berdaya itu. Baekhyun berdesak-desakan untuk dapat melihat kondisi yeojachingunya itu.

“Bangun, Jiyeon-ah!” teriak Baekhyun sambil menepuk-nepuk pipi Jiyeon. Berharap yeojachingunya itu segera sadar. Baju Jiyeon yang berwarna putih itu kini menjadi merah. Darah terus mengucur dari kepalanya. Baju Baekhyun yang kebetulan juga berwarna putih itu kini ikut menjadi merah karena memangku kepala Jiyeon.

“Jiyeon-ah, bangunlah! Jangan bercanda!”. Lagi-lagi Baekhyun berteriak, tidak mempedulikan jika banyak pasang mata tengah melihatnya dengan pandangan prihatin dan juga iba.

Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara sirine ambulan.

__

“Jiyeon-ah, mianhae. Jeongmal mianhae”. Hanya perkataan maaf yang dapat Baekhyun lontarkan.

Menyesal, ya itu yang sedang Baekhyun rasakan. Baekhyun berpikir bahwa ia namja yang bodoh. Baekhyun terus menatap wajah Jiyeon yang pucat pasi, bibir merah Jiyeon kini ikut menjadi putih sembari ia menggenggam jemari Jiyeon yang sungguh apa dingin seperti es. Buliran bening terus keluar dari kelopak mata Baekhyun.

GREK

Tiba-tiba pintu kamar rawat Jiyeon terbuka, menampilkan sosok namja dan yeoja paruh baya.

“Baekhyun, bagaimana keadaan Jiyeon?” tanya nyonya Park khawatir sambil menghampiri ranjang Jiyeon.

“Mian, saya tidak bisa menjaga Jiyeon dengan baik”. Kata-kata yang keluar dari mulut Baekhyun membuat tuan Park merangkul pundaknya.

“Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu. Ini semua adalah takdir”. Kata-kata tuan Park membuat Baekhyun terdiam cukup lama.

Memikirkan seandainya Jiyeon pergi. Akankah ia bisa memaafkan dirinya sendiri? Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan yeoja sebaik jiyeon?

Tiba-tiba alat pendeteksi jantung Jiyeon berbunyi. Baekhyun, tuan dan nyonya Park segera mengalihkan perhatiannya, menatap layar pendeteksi jantung Jiyeon memunculkan garis lurus saja. Seketika jantung Baekhyun seperti akan keluar dari tempatnya.

“Jiyeon-ah, jangan pergi! Jangan bercanda! Jangan tinggalkan aku, Jiyeon-ah! Bangunlah!” histeris Baekhyun sembari menggenggam jemari Jiyeon yang begitu dingin.

Tidak dapat terbendung lagi, air mata Baekhyun sukses meluncur keluar dari kelopak matanya, meluncur melewati pipinya hingga jatuh di pakaian Jiyeon.

Tuan dan nyonya Park ikut menangis melihat anak satu-satunya telah pergi. Tuan dan nyonya Park juga ikut merasa terpukul bahwa sekarang anak satu-satunya yang mereka sayangi itu kini telah pergi, meninggalkan mereka. Mereka berdua tidak menyangka jika anaknya itu telah pergi secepat ini. Tapi keduanya mencoba melepas kepergian anak yang sangat ia sayangi itu.

“Sudahlah, Baekhyun. Lepaskan kepergiannya” ucap nyonya Park dengan suara parau seraya menepuk pundak Baekhyun yang bergetar karena terus menangis.

“Relakan dia” timpal tuan Park, berusaha terlihat tegar.

Setelah mendengar ucapan tuan dan nyonya Park. Baekhyun mencium kening Jiyeon. Kemudian ia pergi keluar dari ruang rawat Jiyeon untuk menenangkan dirinya.

__

__

“Tepat dihari ini. Kau membuat diriku semakin merasa bersalah. Aku memang namja bodoh. Kau sungguh yeoja berhati malaikat, Jiyeon-ah. Bagaimana aku bisa menyia-nyiakan yeoja baik sepertimu? Aku benar-benar menyesal, Jiyeon-ah. Aku memang namja bodoh. Kenapa kau pergi secepat ini? Apa kau memang benar-benar membenciku hingga kau tidak mengijinkanku untuk merubah semuanya? Asal kau tahu, Jiyeon-ah. Sebenarnya aku sangat mencintaimu. Aku tidak benar-benar bermain di belakangmu. Aku juga tidak tahu, kalau orang tuaku telah menjodohkanku dengan gadis yang bernama Kim Taeyeon itu. Aku terpaksa melakukannya. Aku tidak bisa menolak perjodohan itu. Karena orang tuaku mengancam jika aku menolak perjodohan ini, mereka tidak segan-segan untuk menyakitimu. Aku tidak mau itu terjadi. Aku sangat mencintaimu, Jiyeon-ah. Tapi itu juga bagian dari kesalahanku juga. Seharusnya aku bisa menolak perjodohan itu dan mungkin aku bisa membawamu pergi ke tempat yang aman. Agar kita dapat hidup bersama. Aku memang lemah, tidak bisa melakukan hal itu. Aku merasa menjadi namja yang bodoh, tidak bisa melakukan apa-apa untukmu, yeoja yang kucintai. Tapi takdir tidak bisa dilawan. Kini kau telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku sangat menyesal, telah mengkhianatimu. Jeongmal mianhae. Hanya kata-kata itu yang bisa aku ucapkan. Sekali lagi jeongmal mianhae. Semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama. Aku yakin itu. Gomawo, kau pernah hadir dalam hidupku. Mengajarkanku apa itu cinta. Hati ini tetap akan menjadi milikmu, tetap akan ada namamu dan kehadiranmu tidak akan bisa digantikan oleh yeoja manapun meskipun suatu saat aku menikah dengan Taeyeon. Karena aku memang benar-benar mencintaimu. Kau satu-satunya yeoja yang benar-benar aku cintai. Saranghae, Jiyeon-ah” ucap Baekhyun dengan berderai air mata sambil mencium nisan Jiyeon lama.

Setelah itu, tiba-tiba saja mata Baekhyun terasa berat. Dan kemudian, ia terlelap diatas gundukan makam Jiyeon.

“Oppa”

Samar-samar Baekhyun mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Tiba-tiba muncul sesosok yeoja berambut panjang dengan pakaian serba putih berdiri tak jauh di depannya.

“Jiyeon-ah” ucap Baekhyun sambil berlari memeluk Jiyeon. “Jiyeon-ah, kau kembali. Mianhae, jeongmal mianhae”. Ada rasa senang dan sedih melihat Jiyeon telah kembali menemuinya.

Jiyeon yang mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Baekhyun barusan membuatnya menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.

“Jangan menyalahkan dirimu, oppa. Aku tidak suka itu. Aku sudah memaafkanmu, Baekhyun oppa. Jangan kau menyesali apa yang sudah terjadi. Yang sudah terjadi, biarkan itu berlalu. Aku mengerti dengan posisimu, Baekhyun oppa. Relakan aku, oppa. Ikhlaskan kepergianku. Mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua. Selamat tinggal, oppa. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita bisa bertemu kembali dan bisa bersama. Gomawo, kau pernah hadir dalam hidupku. Kau akan selalu jadi cinta pertama dan terakhirku, Baekhyun oppa. Saranghae”

Setelah mengatakan itu semua. Jiyeon melepas pelukan baekhyun dan tiba-tiba saja sosoknya menghilang. Membuat Baekhyun mencari-cari keberadaannya, tapi tetap saja nihil.

Dan setelah itu…

“Apa itu tadi semua hanya mimpi? Tapi kenapa rasanya seperti nyata?” gumam Baekhyun setelah terbangun dari tidurnya.

“Gomawo, Jiyeon-ah. Kau sudah mau memaafkanku. Aku senang sekali, bisa bertemu denganmu kembali. Aku juga tidak tahu, itu mimpi atau kenyataan. Tapi yang jelas, aku senang bisa bertemu denganmu untuk terakhir kalinya. Baiklah, jika yang kau mau adalah untuk merelakan dan melepas kepergianmu. Aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Tapi jangan paksa aku jika aku akan terus mencintaimu sampai akhir hidupku. Memang rasa penyesalan selalu datang diakhir. Dan itu terjadi padaku, Jiyeon-ah. Aku benar-benar menyesal” tutup Baekhyun kembali mencium nisan Jiyeon kemudian berdiri bersiap meninggalkan pemakaman Jiyeon.

Tiba-tiba manik mata Baekhyun menangkap sosok bayangan putih dan bayangan putih itu ia yakini adalah Jiyeon, yeoja yang ia cintai, sebelum ia pergi meninggalkan pemakaman Jiyeon. Ia sudah akan bersiap untuk menghampiri sosok bayangan putih itu dan ingin memeluknya kembali tapi setelah ia sampai di hadapan sosok itu dan sudah memeluk sosok itu. Ternyata yang ia dapat bukan pelukan dari tubuh sosok itu melainkan udara, untung saja ia tidak sampai terjatuh karena memang sosok itu ternyata transparan dan kejadian itu tadi adalah Baekhyun menembus sosok bayangan putih itu.

Dibalikkan badannya untuk kembali menghadap sosok yeoja yang ia cintai itu yang kini sedang tersenyum menatapnya. Lalu sosok itu melambaikan tangannya pada Baekhyun. Dan setelah itu sosok Jiyeon sirna dari hadapan Baekhyun.

“Jiyeon, saranghae” gumam Baekhyun sambil tersenyum sendiri lalu pergi meninggalkan pemakaman Jiyeon dengan langkah gontai.

Memang rasa penyesalan selalu datang di akhir.

END

Maaf kalau ffnya gaje, pahit, dan mengecewakan. Jujur ini sebenarnya ff yang pertama aku buat. Oh ya, untuk sequel ff lovenya, maaf ya untuk sampai saat ini masih belum kelar. Gak tahu pasti kapan tuh sequel kelar. Sorry banget. Soalnya akhir-akhir ini rada sibuk, kesehatan juga menurun ditambah otak yang gak mau diajak kompromi untuk buat ff.

16 responses to “[FICLET] REGRET

  1. huwaa jiyeonnya meninggal T_T ya begitulah memang penyesalan itu selalu datang terakhir, kasian jga liat baekhyunnya. Jiyeonnya cuma jdi roh doang thor, suka sma ffnya🙂

  2. Woahhhh jiyi berperan jd rohnya doang disini, kasian jg baekhyun, penyesalan mmg selalu dtg terlambat, dan sialnya jiyi benar2 pergi dr dunia ini, tdk memberikan baekhyun kesempatan, nice ff …like it🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s