[Ficlet] Whatever

whatever-copy

Ayako Jung Storyline

Main Cast : Park Jiyeon [T-ARA’s Jiyeon] – Kim Myungsoo [INFINITE’s L] || Genre : Romance and Fluff || Rating : PG-15+ || Length : Ficlet || Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there same any title or characters. Sorry if you find typo(s)

Poster : armyjh © Indo Fanfictions Arts [Thanks!]

“Ia tidak begitu cantik,”

“Ia juga bukan berasal dari keluarga yang terpandang. Dan apa istimewa-nya dirinya?”

“Atau ia hanya memanfaatkan Myungsoo karena uang-nya dan memaksanya untuk menikah?”

“Benar. Aku rasa Myungsoo hanya diguna-guna olehnya,”

“Atau mata Myungsoo sudah tertutup karena-nya?”

“Yang pasti, ia tidak pantas bersanding dengan Myungsoo!”

Tangan berkulit putih halus itu masih setia menempel di telinganya. Kenapa ia harus mendengar kalimat menjijikan itu lagi? Dimanapun ia berada, entah berada di mall atau di café, pasti gendang telinga-nya akan kembali menangkap kalimat ejekan itu lagi. Sepertinya kalimat-kalimat itu sudah menjadi makanan pokoknya sehari-hari. Apakah penggemar suami-nya sebanyak ini? Karena setiap ia berada di restoran, mall, atau tempat lainnya yang sedang ia kunjungi ia harus mendengar kalimat menjijikan itu lagi.

Dia membayar belanjaannya kemudian meninggalkan tempat yang sudah membuat telinganya sakit beberapa menit setelah berpijak di tempat itu. Jiyeon mengambil ponsel miliknya dari tas yang berada di bahu kanannya dan mengetik beberapa nomor disana kemudian meletakan benda canggih berbentuk persegi panjang tersebut ke telinga kirinya. Decakan kecil lolos keluar dari bibirnya setelah mendengar suara operator yang malah menyambutnya di sana. Kenapa orang itu sulit sekali untuk dihubungi disaat darurat seperti ini? Menyebalkan sekali, batinnya.

Sekumpulan wanita yang memiliki hobi menggunjing keluar dari tempat bergunjing mereka tadi dan menghampiri wanita yang menjadi buah di bibir –tajam– mereka.

“Kurasa ia sedang menunggu Myungsoo,” ucap salah satu dari mereka mengutarakan pikirannya kepada teman-temannya terhadap wanita yang sekarang menjadi sebuah ‘bahan’ di bibir mereka. Mereka semua menganggu setuju apa yang diucapkan Suzy tadi.

“Apa dia lupa?” dan suara dari orang lain keluar membuat orang yang sedang di bicarakan oleh mereka seketika menoleh. Tidak hanya Jiyeon yang menoleh kebingungan dengan wajah dinginnya, tetapi teman-temannya juga menanti kalimat yang sebentar lagi menjadi penghubung kalimat yang diucapkan orang itu selanjutnya.

“Ini masih jam kerja tapi ia sudah berani menganggunya. Oh, tidak tahu diri sekali dirinya.” Lirikan tajam diberikan kepada wanita yang sekarang sudah resmi ber-status sebagai istri Myungsoo kepada orang yang mengatakan kalimat itu. Kalimat dan kata-kata mereka memojokan wanita cantik itu. Hei, apakah mereka tidak tahu bahwa Jiyeon menyadari bahwa kalimat menjijikan semua itu diberikan kepadanya? Sebenarnya sekarang ia bisa saja mencakar wajah wanita yang telah mencaci-maki dirinya. Hanya saja sekarang Jiyeon lebih memilih untuk diam dan tidak mau mengambil pusing lagi untuk saat ini.

Jiyeon memang sudah mengenal beberapa dari mereka. Dan Myungsoo yang memperkenalkan mereka kepada dirinya. Tentu saja, karena mereka semua adalah penggemar fanatik suaminya. Kenapa Myungsoo bisa mengetahui semua itu dengan begitu mudah dan juga dengan mudahnya memperkenalkan mereka pada Jiyeon? Jawabannya adalah: Karena setiap Myungsoo menggelar konferensi pers, tour, atau semacamnya mereka semua pasti berada di salah satu kerumunan ribuan penggemar suaminya itu. Wanita-wanita yang sangat familiar bagi Jiyeon adalah Bae Suzy dan Son Naeun. Yah, mereka semua bahkan bisa dibilang sangat cantik dan bahkan menyaingi dirinya.

Senyuman tercetak di wajah Jiyeon ketika orang yang selama ini ketika ia melihat orang yang telah ia tunggu untuk menjemputnya. Sekarang mungkin Jiyeon bisa bernafas lega, dengan kedatangan orang itu bisa menyelamatkan dirinya dari para wanita bermulut tajam itu.

“Kenapa lama sekali?” Dia memasang wajah kesal yang ia buat-buat kemudian menggandeng lengan suaminya, berniat untuk membuat orang yang berada di belakangnya merasakan hal panas dan juga emosi yang mungkin sekarang sudah sangat memuncak melihat hal yang ia lakukan itu. Myungsoo hanya tersenyum simpul, ia tahu ini hanyalah akal-akalan wanitanya saja. Karena biasanya kalau mereka hanya berdua, Jiyeon selalu bersikap biasa. Sebenarnya sih tidak apa kalau memang ditunjukan seperti itu di hadapan orang-orang, lagipula mereka sudah menikah bukan? Apa salahnya? Bilang saja bahwa perbuatan Jiyeon tadi hanyalah untuk membalas ‘dendam’ pada mereka.

Sebelum menaiki mobil, ia melayangkan senyuman kemenangannya kepada wanita-wanita yang masih saja setia melihat kebersamaan mereka. Sedangkan mereka, hanya memalingkan muka melihat sikap manja Jiyeon pada suaminya.

“Dasar wanita tidak tahu diri!”

“Kau menyebalkan Park Jiyeon!”

Jiyeon menghentikan langkahnya sebelum akhirnya ia mendudukan dirinya pada kursi mobil ketika ia mendengar suara wanita itu lagi. “Ya! Kuperingatkan kepada kalian. Bahwa sekarang namaku adalah Kim Jiyeon dan bukan Park Jiyeon lagi!” katanya setengah berteriak sebelumnya akhirnya ia masuk kedalam mobil milik Myungsoo. Diluar sana, mereka sedang mengepalkan kedua tangan mereka guna untuk menahan emosi mereka yang sekarang memang sudah sangat memuncak, dan mungkin sekarang sudah sampai di kepala mereka. Mungkin menurut mereka, jika wanita yang sekarang berada di dalam mobil itu masih berada di tempat mereka berpijak, mungkin mereka akan semakin mencaci maki wanita itu hingga mereka puas bisa mempermalukan dirinya di depan umum. Sementara orang yang sedaritadi berada di dalam mobil hanya tersenyum melihat tingkah laku wanita-nya di depan penggemar fanatiknya.

“Kenapa?” Jiyeon menautkan kedua alisnya sebagai tanda bahwa sekarang ia sedang bingung, ketika kedua mata cantiknya melihat suaminya tersenyum terus kearahnya. Bahkan pertanyaannya yang dilayangkan untuk suaminya tidak membuatnya tersadar dari lamunannya. Jiyeon menggerak-gerakan kedua tangannya di depan wajah pria yang akhirnya membuatnya tersadar dari lamunannya.

“Kau tidak sakit ‘kan?” Myungsoo menyingkirkan tangan wanitanya dari dahinya. Ia berdecak kecil karena sudah menuduhnya bahwa sekarang ia sedang sakit. Jika mungkin ia sakit, pria tampan itu akan langsung mengangkat telfon dari istrinya dan mengucapkan bahwa ia tidak bisa menjemput karena sakit.

“Tentu saja tidak.” Dia menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat terkutuk itu bagi Jiyeon.

Keheningan terjadi ketika mobil milik Myungsoo sudah sedikit menjauh dari tempat terkutuk bagi Jiyeon itu. Mungkin sekarang hanya terdengar suara hembusan nafas mereka dan juga music yang di putar oleh Myungsoo. Keduanya sekarang sama sekali tidak ada ide untuk membuka bibir mereka. Tidak ada topic yang harus diperbincangkan. Jadinya, sekarang suasana sedikit canggung. Myungsoo sibuk memperhatikan jalan raya dan Jiyeon sibuk memandang keluar jendela melihat beberapa helai daun yang turun dari pohonnya dan terhempas ke tanah karena gaya gravitasi itu.

“Aku salut padamu Jiyeonnie,” suara Myungsoo memecah keheningan di mobil yang mereka tumpangi. Kemudian, tangan pria itu mengecilkan suara alunan musik yang sedaritadi mengalun. Jiyeon menolehkan kepalanya setelah mendengar kalimat yang diucapkan suaminya itu. Dia hanya diam menunggu kalimat yang akan keluar selanjutnya darinya.

“Kau bahkan tidak menangis ketika mendapatkan kalimat menjijikan itu setiap harinya ketika kau berada di dekat mereka,” Kini dia mengerti alur pembicaraan Myungsoo mengarah kemana. Rupanya, pria berparas tampan yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu membahas soal masalah tadi yang melibatkan dirinya. Jiyeon tersenyum kemudian menghadap kedepan, kearah jalanan.

“Hey kenapa aku harus menangis hanya karena masalah itu? Lagipula, kau sudah memberitahuku soal resiko yang aku terima ketika aku sudah menjadi istrimu ‘kan?” Dia berucap sekaligus bertanya kepada orang yang berada disampingnya tanpa menatapnya. Dan, inilah yang sangat disukai oleh sang pria kepada wanita itu. Sangat tegar.

“Ternyata aku tidak salah memilihmu Jiyeon,” Katanya seraya mengelus lembut surai coklat milik wanitanya. Tidak menyangka bahwa ia adalah sosok wanita yang sangat tegar. Karena mereka hanya berpacaran beberapa bulan saja kemudian melanjutkan hubungan itu dengan lebih serius, yakni dengan melanjutkannya ke jenjang pernikahan. Jujur saja, Myungsoo memiliki banyak mantan-mantan kekasihnya. Dan juga wajah mereka bahkan bisa menyaingi wajah Jiyeon. Tapi, tidak ada satupun dari mereka yang bisa setegar dan sekuat Jiyeon bisa bertahan sampai sekarang dan sudah menyandang status sebagai Ny. Kim. Hanya dia yang bisa bertahan di sisinya. Myungsoo harus bersyukur karena telah memberikannya seorang wanita yang kuat. Dulu, para mantan kekasih Myungsoo hanya mampu bertahan selama maksimal dua bulan. Dan mereka kemudian memutuskan hubungan itu.

“Sekarang ceritakan padaku apa yang akan kau lakukan jika aku tidak berada di sampingmu?” Dia menoleh kepada sosok yang tadi melayangkan pertanyaan padanya itu dan sudah menjadi suaminya selama beberapa bulan ini. Lagi dan lagi, wanita itu hanya tersenyum. Menampilkan senyum terbaiknya selama ini.

“Aku hanya diam,” Hanya sebuah jawaban tiga kalimat yang diberikan olehnya membuat kedua alisnya menyatu juga membuat kerutan di dahinya. Hanya se-simple itu? Hanya diam?

“Aku tidak pernah menganggap mereka ada,”

“Aku tidak pernah menggubris ucapan mereka,”

“Dan aku hanya bersikap ‘terserah’ dan juga tidak perduli akan sikap mereka padaku,”

“Terserah mereka ingin mengejekku dengan kata apa, semuanya terserah,”

“Selama kau masih disisiku dan selama kau masih mencintaiku, oppa.”

Tanpa disadari, air mata Myungsoo keluar begitu saja juga mobil mereka sudah berhenti di tengah jalan. Pria itu begitu tersentuh ketika mendengar ucapan yang dengan mudahnya mencelos dari mulut milik wanitanya itu. Jiyeon memang tidak pernah menangis. Semuanya begitu saja di lewatinya tanpa adanya tangisan. Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan sosok Jiyeon, maka itu adalah kata Daebak.

“Aku akan terus berada disisimu dan juga akan terus mencintaimu Park Jiyeon,” Setelah mengucapkan kalimat itu, dia mencium kening gadis yang selama beberapa bulan ini hidup bersamanya. Menciumnya dengan lama dan dalam. Mengabaikan bidikan kamera yang entah sejak kapan sudah ada di luar mobilnya.

“Hey! Namaku sekarang Kim Jiyeon, bukan Park Jiyeon lagi bodoh!” cibir Jiyeon seraya memukul dengan pelan lengan kekar milik suaminya itu. “Aku mencintaimu,” Dan, kali ini bibir mereka menjadi korban selanjutnya. Semua wartawan yang berada di luar tentu mereka terkejut dan tidak mengabaikan moment yang langka tersebut. Ini tentu saja moment yang sangat langka bagi mereka. Mengingat mereka tidak pernah melakukan hal yang berbau romantis ketika berada di depan kamera.

Sesudah melepaskan ciuman mereka, keduanya tersenyum dan kali ini Jiyeon mengakui perasaannya.

“Aku juga mencintaimu,”

END

Annyeong~~ Ancur ya? Soalnya aku buat dalam mood yang naik-turun dan juga ide-nya tiba-tiba dateng. Daripada mubazir (?) meningan aku ketik aja deh. Ini FF debut aku disini😀. Leave your comment readersdeul? *buing-buing* #plak😀.

35 responses to “[Ficlet] Whatever

  1. Onion kerennn daebakk kaya benerann coba myungyeon kaya benerann seneng bangettt ayooo buat ff myungyeon lagi pliss lanjutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s