[Chapter – 8] HIGH SCHOOL LOVERS : Misunderstand

hsl1

High School Lovers : Misunderstand.

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

            Soojung diam, tidak berani untuk membuka suara lebih dulu. Ia memainkan jemarinya untuk mengurangi tingkat kegugupannya di depan Choi Minho. Benaknya sudah muncul pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan besar akan ditanyakan pria itu. Soojung menghela. Sudah sepuluh menit berselang semenjak Minho mengajaknya untuk bicara, namun sampai detik ini pun sama sekali tidak ada suara yang terbuka. Ia melipat tangan di dada, lalu melempar pandangan kesal pada Minho.

“Baik, aku yang mulai.” Nada Soojung ketus, dan jelas-jelas meperlihatkan kejengkelan. “Aku minta maaf karena tidak mendukung Oppa dengan Jiyeon, dan malah membantu Oppaku sendiri untuk bisa bersama Jiyeon. Aku tahu mungkin Oppa terluka atas..”

“Apa yang kau tahu? Dan dari mana kau menyimpulkan aku terluka atas tindakanmu untuk membuat Myungsoo dan Jiyeon bersama?” Mino membentak. Entahlah untuk alasan apa ia marah kali ini. Kecewa karena hal pertama yang dikatakan Soojung tidak sesuai harapannya, mungkin.

Soojung tertunduk, menggigit bibir bawahnya ketakutan. Keberaniannya musnah beberapa detik setelah Minho membentaknya. Setelah tiga tahun mengenal Minho, baru kali ini Minho benar-benar nampak marah dengannya, dan itu karena tindakan egoisnya yang ingin kakaknya mendapatkan kebahagian baru, sementara ia mengabaikan Minho yang menurut pengamatannya menyukai Jiyeon. “Waktu itu, juga di taman ini Oppa mengatakan menyukai Jiyeon, jadi aku pikir Oppa akan terluka karena ini.”

Minho mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Jadi salah pemahaman ternyata. Ia menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyum. “Aku ingat mengatakan mungkin waktu itu.” Alis Minho terangkat sebelah, “Yang artinya, itu bisa ya dan bisa tidak, Kim Soojung.”

Minho mencubit kedua sisi pipi Soojung gemas. Ternyata gadis kecil di hadapannya ini menghindar hanya karena mengiranya menyukai Jiyeon. Oh ayolah, Jiyeon sendiri saja yang cuek, dan terkesan dingin itu bisa sadar kemana sebenarnya perasaannya, tapi bagaimana bisa Soojung yang sudah mengenalnya dan dekat sekali dengannya selama tiga tahun tidak bisa menangkap sama sekali. Tawa Minho keluar, membayangkan bagaimana bodohnya dia mengira Soojung menghindarinya karena Jong In. “Ya Tuhan, Soojung, kau memang sangat-sangat tidak peka.”

Soojung tertegun. Tawa lepas Minho benar-benar menjadi pemandangan indah kali ini, tanpa sadar ia ikut tertawa meski tidak begitu menangkap maksud ucapan Minho. Ia memukul kecil lengan Minho yang merangkulnya akrab. Tiba-tiba tawa Soojung berhenti, gadis itu memegang dadanya. Sekali lagi jantungnya bergemuruh hebat. Ia hanya mengamati Minho yang masih terlarut dalam tawanya. Siapa pun tolong dia sekarang, sepertinya jantungnya mengalami kerusakan secara perlahan.

Tawa Minho berhenti setelah beberapa menit. Ia melihat Soojung yang mulai gelisah. Dibuat gadis itu untuk menghadap dengannya, matanya meneliti wajah Soojung baik-baik. Tidak ada yang salah, hanya wajah gadis itu sedikit lebih merah. Ia mendekatkan wajahnya pada Soojung hingga berjarak tiga centimeter. “Kau kenapa?” Pria itu memeriksa suhu tubuh suhu Soojung dengan menempelkan telapak tangannya di kening gadis itu, lalu memandingkan dengan suhu tubuhnya sendiri. Juga tidak ada yang salah.

“Oppa..” Suara Soojung terputus. Dengan perlahan dilepaskan tangan Minho yang masih memegang keningnya, lalu ia mundur teratur membuat jarak besar dengan Minho. Ya Tuhan, jantungnya seperti akan melompat keluar.

“Hmm.” Minho berdehem tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun. Pria itu asik bergemul dengan pikirannya yang sedikit aneh.

“Pulang?” Soojung bertanya dengan nada ragu. Sedikit canggung sebenarnya. Gadis itu mendengus kala Minho tidak memberikan tanggapan atas ucapannya. Lihat, sekarang ia hanya seperti bayangan hitam. Ia mengambil inisatif sendiri, dicubitnya pinggang pria itu sehingga pria itu meringis.

“Apa?!”

“Pulang.” Balas Soojung setengah kesal. Ia berdiri, menarik paksa Minho untuk pulang bersamanya. Tidak ia pedulikan sama sekali ocehan panjang Minho yang memintanya secara lembut untuk melepaskan pria itu. Biarkan saja, toh tidak ada tanda-tanda pria itu kesal akan tingkahnya.

“Soojung sayang, lepaskan hmm? Kau lihat, orang-orang menatapku aneh.” Minho berucap dengan nada yang dipaksakan seimut mungkin, siapa tahu saja Soojung luluh.

Soojung berhenti melangkah. Bukan, tidak untuk melepaskan Minho. Ia terhenti karena kata ‘sayang’ yang diucapkan Minho dengan sangat lugas, seperti tanpa beban. Pandangan Soojung beralih kepada orang-orang yang tengah memandangi mereka. Benar sekali, nyaris semua dari mereka melihat kepadanya dengan tatapan yang sangat aneh.

“Maaf.” Soojung langsung melepaskan Minho. Ia berjalan cepat meninggalkan Minho. Menghindar lebih tepatnya. Sehubungan dengan kalimat Minho tadi sudah membuatnya melambung terlalu tinggi sampai-sampai jantungnya mulai berulah lagi, ia tidak bisa membiarkan Minho mengetahui tigkah anehnya. Tidak lagi, pikirnya.

“Hei, Soojung, tunggu.”

Secepat Soojung meninggalkannya tadi, maka secepat itu juga Minho sudah berdampingan lagi dengan Soojung. Ia terdiam, tidak terbiasa dengan Soojung yang sedikit diam. Dia bertanya-tanya sendiri apa yang sedang dipikirkan gadisnya itu. Tunggu, ia baru saja mengatakan Soojung gadisnya ha-ha, Minho tertawa miris dalam hatinya sendiri. Gadisnya ya. Mungkin itu hanya pikirannya saja.

*

            Minho nyaris ingin melepaskan sepatunya dan melemparkannya tepat di wajah Jong In, bagaimana tidak, setibanya dirinya di rumah Soojung, Jong In sudah menunggu Soojung dengan senyum lebar –yang menurut Minho memuakkan- Niat awalnya langsung meninggalkan kediaman Soojung juga Myungsoo langsung menguap. Ia membuat alasan konyol, seperti merindukan Myungsoo yang jelas-jelas baru ia temui sore tadi hanya untuk tetap tinggal di kediaman gadis itu dan mengamati apa yang akan dilakukan si hitam Jong In,

Myungsoo terkekah pelan mendengar umpatan kecil yang dikeluarkan Minho semenjak pria itu duduk disampingnya. Mungkin sudah sepuluh menit. Pria itu berbalik sedikit, melihat Soojung dan Jong In yang sibuk di dunia mereka sendiri.

“Kalau suka, kenapa tidak kau katakan, aku lihat Jong In akan mengatakannya sebentar lagi.”

Minho menatap Myungsoo sadis. Tidak terima atas ucapan Myungsoo. Kepalanya menoleh dengan berat hati untuk memperhatikan Soojung. Hah, gadis itu nampak bahagia. Setiap waktu yang sudah berlalu dilewati gadis itu dengan tawa lepas, seolah mengatakan kalau ia sangat-sangat bahagia. Minho mencengkram kuat stick play station Myungsoo. Ia tidak tahan lagi.

“Hei, jangan merusak barang milikku.” Myungsoo merampas stick play station-nya dari Minho, lalu mengelusnya dengan sayang. Sejujurnya Myungsoo ingin terbahak saat ini juga, tetapi ia menahannya karena ekspresi Minho yang mengerikan, bagai orang yang baru saja ditinggal pergi oleh kekasihnya.

“Lupakan.” Minho berucap kepada dirinya sendiri. Ia kembali ke posisi awalnya. Pria itu hanya diam, berfantasi liar tentang Soojung dan Jong In. Pria itu mengeram terlalu frustasi. Hancur sudah pengaturan emosinya, dan ini hanya karena Soojung. Tidak bisa dipercaya.

“Lebih baik kau katakan padanya, atau tidak akan pernah ada kata ‘kita’ diantara kalian.”

Minho mendesis, sedikit tertawa sinis pada Myungsoo. “Seperti hubungan percintaanmu saja sangat baik sampai kau menjadi penasihat cinta.” Nada suara Minho tentu saja mengejek.

“Memang baik.” Balas Myungsoo dengan suara pelan. “Jauh lebih baik dari yang kau pikirkan.”

“Benarkah?” Minho bertanya tidak percaya, bermaksud merendahkan juga sebenarnya. “Lalu bagaimana dengan Jiyeon? Apa ia sama sepertimu?” Minho tahu persis Jiyeon sama seperti Myungsoo, namun ia ingin tahu bagaiman tanggapan Jiyeon sendiri pada sahabatnya itu.

Seketika raut wajah Myungsoo berubah. Antara bahagia dan juga sedikit kecewa. Ia mengambil napas sejenak. “Dia sama sepertiku, hanya saja tidak ada yang terjadi diantara kami.”

Minho terperangah selama beberapa detik, sampai waktu berikutnya ia tertawa kecil. Sudah ia duga, tidak akan semudah itu untuk mereka menjalin hubungan lebih dari teman, sama seperti dirinya dan Soojung yang mungkin tidak akan pernah lebih dari teman.

“Tentu saja aku mau. Terima kasih, Jong In-ah.”

Suara Soojung yang sangat keras terdengar sampai ke telinga Minho. Pria itu menunduk, hilang harapan. Jong In sudah berpuluh langkah lebih dulu darinya. Sementara Myungsoo membelakkan matanya mendengar suara Soojung yang bersemangat itu. Ia menepuk singkat bahu Minho.

Menit-menit berlalu begitu saja dalam keheningan. Hanya suara tawa dari Soojung dan Jong In yang menjadi music menyedihkan untuk Minho. Ia hanya menyibukkan dirinya dengan bermain game dengan Myungsoo, menunggu si hitam Jong In untuk pergi. Tapi, sampai satu jam berikutnya Jong In tidak bergerak sedikit pun, dan itu membuatnya kesal setengah mati.

Langkah kaki kecil terdengar mendekat kerahnya. Minho menahan napasnya, berharap bahwa Soojung melangkah sendiri tanpa Jong In yang mengekorinya. “Oppa,” panggil Soojung gembira bagai anak kecil. Gadis itu sendirian, Jong In masih berada di ruang tamu, tidak mengikutinya. “Kalian tahu, Jong In akan mengajakku berjalan-jalan besok.”

“Kencan?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Minho. Alisnya ia naikkan sebelah, ada sebesit harapan bahwa Soojung akan mengatakan tidak.

“Mungkin.”

Pukulan telak langsung dirasakan Minho. Ia berdiri menjauh dari Soojung. “Aku pulang. Oh ya, Myungsoo-ya, besok aku pinjam Jiyeon, aku ingin menghabiskan waktuku bersmaanya.”

“Kau!” Myungsoo mengerang tidak terima.

“Tenang saja, aku tidak akan menghianatimu. Aku hanya butuh sandaran, dan dia adalah orang paling tepat untukku.” Minho tidak berusha berucap dengan suara kecil. Ia membiarkan Soojung mendengarnya, tanpa peduli apa pun.

“Kau mau kemana memangnya dengan Jiyeon besok?”

“Hanya jalan-jalan melepaskan penat dan juga bebanku.”

Soojung menunduk, meremas ujung bajunya sembari menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga. Minho menyukai Jiyeon, itu fakta. Meski pria itu tidak membenarkannya.

“Kau temui Jong In, suruh dia kembali sekarang dan kau bisa menangis denganku.” Myungsoo tersenyum lembut pada Soojung, menyemangati adiknya itu. Demi apa pun, ia mengutuk Minho karena sudah membuat adiknya berada dalam masa patah hati seperti ini. Parahnya lagi, Jiyeon malah digunakan sebagai tempat bersandarnya. Sialan.

Setelah beberapa menit Soojung kembali. Gadis itu nampak mengenaskan. Matanya memerah menahan air matanya. Ia duduk di samping Myungsoo, melingkarkan tangannya pada pinggang pada kakaknya sekaligus menyandarkan kepalanya. Lalu detik berikutnya, air matanya jatuh bebas.

Myungsoo hanya diam tidak berani berkomentar. Diusapnya puncak kepala Soojung, menenangkan tangis adiknya yang kian menjadi. Choi Minho, awas saja kau, batin Myungsoo kesal. Sepanjang malam dihabiskan Myungsoo hanya untuk memberikan kehangatan pada adiknya sendiri.

*

            Minho tertawa bersama Jiyeon sepanjang jalan mereka mengelilingi taman bermain. Mereka memulai petualangan mereka dengan wahana ekstrim yang banyak mengeluarkan teriakan, sekedar melepas stress. Baik Minho maupun Jiyeon sama-sama berusaha untuk melupakan masalah yang sudah mengikuti mereka selama beberapa waktu lalu.

“Myungsoo, bagaimana dia?”

Jiyeon menoleh kaget. Setelah hampir satu jam berkeliling di Lotte World, ini kali pertama Minho membahas Myungsoo. Selebihnya pria itu hanya membuatnya tertawa, walau Jiyeon sendiri tahu Minho sejak tadi hanya berusaha ikut larut dalam suasana senang sepertinya.

“Baik.” Hanya itu jawabannya.

Minho mengangguk-angguk saja. Ia menarik Jiyeon mendekati komedi putar yang dipenuhi oleh anak-anak. Ia tersenyum menggoda pada Jiyeon, dan memberi isyarat untuk ikut naik bersama anak-ana itu. Awalnya Jiyeon menolak keras karena malu, namun akhirnya pasrah karena Minho merayunya dengan berbagai cara, salah satunya mengancam akan membongkar semua yang pernah ia katakan tentang Myungsoo. Menyebalkan, bukan?

Jiyeon menutupi wajahnya sendiri dengan tangan mungilnya. Sementara Minho yang berada di kuda di sampingnya hanya terbahak sembari menggodanya sesekali. Beberapa orang tua yang menemani anaknya memandangi mereka dengan senyuman kecil.

Usai dengan komedi putar, Minho dan Jiyeon mengisi perut mereka dengan ice cream. Mereka berdua berjalan dengan ice cream di genggaman masing-masing. Mereka berhenti tiba-tiba saat melihat orang-orang yang mereka kenal dengan baik. Myungsoo, Soojung, dan jangan lupakan Jong In dan Suzy. Minho sendiri bertanya-tanya kenapa mereka bisa berdampingan seperti itu. Ah, ia teringat sesuatu. Mereka double date. Soojung bersama dengan Jong In, dan Myungsoo bersama Suzy. Suzy, Ya Tuhan, Jiyeon, ia hampir melupkan gadis itu.

Minho melirik Jiyeon yang membeku di tempatnya. Pandangannya berpindah pada Myungsoo. Tatapannya pada Myungsoo mengisyaratkan kemarahan, dan tanpa ingin menyapa mereka lagi, ia menarik Jiyeon untuk ikut bersamanya. “Kita pergi saja, eoh?”

“Hmm.”

Minho tersenyum sedikit. Sekarang mereka berdua seperti tengah ditinggal pasangan masing-masing. Minho merangkul Jiyeon, berusaha membawa gadis itu lebih jauh dari kelompok manusia yang tengah kasmaran itu.

“Ya, Choi Minho, kau mau membawa Jiyeon kemana?” Myungsoo menahan Minho sebelum pria itu pergi lebih jauh lagi.

“Tentu saja jalan-jalan. Lebih baik, kau, Suzy..” Minho melirik Soojung dingin, “dan adikmu dan pasangannya itu pergi, dan nikmati waktu kencan kalian sendiri.”

Suzy memeluk lengan Myungsoo erat-erat. Ia tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi, namun ia ingin berharap bahwa Myungsoo akan bersamanya.

Sementara Soojung sudah berusaha untuk membuat telinganya tuli, namun semuanya masih terdengar sangat jelas di telinganya. Ia meremas tangan Jong In yang mengganggam tangannya sendiri.

“Tidak apa-apa, Soojung-ah.” Jong In menghadap Soojung sekarang, sehingga membuat gadis itu tidak bisa melihat pertengkaran kecil yang dilakukan oleh Myungsoo dan Minho. Ia tahu perasaan gadis yang sudah menjadi bagian dirinya ini tidak untuknya, namun ia masih berusaha keras. Dan ia sungguh menyesal karena menjadi sangat tidak tahu malu seperti ini. Karenanya dua manusia yang seharusnya bisa memiliki bunga yang mekar dihatinya justru harus kehilangan bunga mereka bahkan sebelum bunga itu bisa mekar. “Kau bisa melupkan pernyataanku semalam, dan kita bisa tetap bersahabat, kau juga bisa bersamanya.”

“Terima kasih, Jong In-ah. Aku selalu menyayangimu sebagai sahabatku yang terbaik.”

Lain di sisi Jong In dan Soojung yang tenang, di sisi Myungsoo tekanan justru menegang.

“Sialan! Jangan membuat Jiyeon masuk ke dalam lingkar percintaanmu dan Soojung!” Myungsoo berteriak kesal. Ia menahan emosinya yang meletup-letup dalam dirinya. Ini bukan hanya karena ia tidak suka Jiyeon bersma Minho, tapi ini juga menyangkut perasaan adiknya, sudah cukup ia melihat adiknya mengis semalam, dan ia tidak akan mau melihatnya lagi hari ini. “Selesaikan urusanmu dengan Soojung, katakan semuanya tanpa terkecuali!”

Jiyeon menunduk, merasa bahwa dirinya telah merusak hubungan baik Soojung dan Minho, juga Suzy, ia tidak bisa berada di sekeliling gadis itu dan Myungsoo. Ia melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Minho, dan tersenyum lembut pada pria itu. “Lepaskan bebanmu, Seunbae. Aku lelah menjadi tempat curhatanmu, tahu.” Jiyeon tertawa sumbang. “Aku akan pulang sekarang.”

Myungsoo mengusap wajahnya dengan kasar. Kekesalannya tidak terbendung sekarang. Dilepaskannya rangkulan Suzy dengan sedikit kasar. “Maaf, kau bisa bersama mereka, ‘kan?”

“Tidak. Aku tidak bisa.” Suzy menjawab dengan cepat. Ia tentu tidak bisa, Myungsoo akan pergi.

“Maaf, sekarang dia yang lebih penting, Suzy-ah.”

Suzy menunduk memandangi sepasang sepatunya. Sakit, jangan ditanya. Tapi mau bagaimana lagi, peluang untuknya sudah tidak ada sama sekali. Semuanya untuk Park Jiyeon, tidak ada lagi dirinya.

Sepeninggalan Myungsoo yang pergi mengejar Jiyeon, Minho masih diam seraya memandangi punggung Jong In yang melindungi Soojung dari pandangannya. Matanya melirik Suzy yang muram. Sudah diputuskan. Ia melangkah cepat ke arah Jong In dan Soojung. “Aku pinjam gadis bodoh ini.” Minho berucap dingin, dan langsung membawa paksa Soojung pergi.

Jong In hanya mampu melihat Minho yang membawa Soojung, ia tahu setelah ini tidak ia tidak akan bisa membuat gadis itu menjadi miliknya. Tapi, cinta itu buta ‘kan? Maka ia akan menjadi buta dan membiarkan gadis itu bahagia.

Jong In mendekati Suzy, dan menarik gadis itu bersamanya. “Kita memang tidak dekat, tapi sekarang kita sama-sama harus melepaskan stress. Ayo.”

*

            Minho melepaskan Soojung saat merasa sudah berada di sebuah tempat yang lebih sepi, dan tempat yang pantas untuk melakukan debat dengan Soojung. Ia masih memilih untuk diam, dan merangkai kata dalam benaknya untuk disampaikan pada Soojung.

“Kenapa membawaku dan bukannya mengejar Jiyeon?” Suara Soojung meninggi dan sangat tidak ramah. Ia melempar pandangan ke sembarangan arah yang penting tidak kepada Minho. Gadis itu berusaha untuk menjaga ekspresi wajahnya agar tetap dingin dan tidak berubah menjadi rapuh, terlebih di hadapan pria ini.

“Kenapa selalu Park Jiyeon?! Apa kau tidak memiliki sesuatu yang ingin kau katakana?!” Minho mencengkram kedua bahu Soojung kasar sampai membuat gadis itu meringis kesakitan, tapi tidak ia pedulikan sama sekali.

“Masih bertanya? Karena Oppa yang sudah membuat Jiyeon selalu menjadi bahan bicaraan diantara kita!” Soojung meronta keras, menahan sakit yang ditimbulkan oleh cengkraman Minho padanya.

“Berengsek!” Minho memaki keras, dan melepaskan Soojung begitu saja. “Berhenti membawa Jiyeon dalam urusan ini, dia tidak memiliki sangkut pautnya, ini hanya salah pemahaman.”

Soojung tertawa lemah. “Salah pemahaman? Apa yang salah? Ah, tentang Oppa menyukai Jiyeon?” Nada suara Soojung mengejek. “Oppa menyukai Jiyeon dan ingin mengambilnya dari Myungsoo Oppa, itu adalah fakta dan tidak terbantahkan, sekalipun Oppa tidak pernah membenarkannya. Semua tindakan yang Oppa lakukan mencerminkan hal itu!

Minho berteriak frustasi. Kembali ia cengkram bahu Soojung, kali ini lebih kuat dari sebelumnya sampai mampu membuat air mata gadis itu jatuh. “Apa yang kau tahu?! Kau hanya mengambil kesimpulan sendiri. Jiyeon menyukai Myungsoo, dan aku menyukaimu, itu lah fakta sebenarnya!”

Soojung membeku, air matanya masih jatuh membasahi pipinya. Telinganya tidak bermasalah, malah telinganya sedang bekerja sangat baik sekarang. Tapi ucapan Minho, semuanya terasa tidak nyata untuknya. Perasaannya tidak sepihak? Selama ini perasaannya terbalas.

“Jangan mengambil kesimpulan sendiri, itu akan menyakitimu, Soojung-ah.” Minho mencium kelopak mata Soojung yang mengeluarkan air mata.

Soojung masih dalam fase keterkejutannya sampai-sampai tidak ada kata yang dapat ia ucapkan. Semuanya terkesan tiba-tiba dan terasa seperti sebuah ilusi yang hanya ingin membuatnya lebih baik. Namun, sekali lagi Minho bertindak hingga membuatnya kembali ke kesadarannya, dan membenarkan kejadian ini sebagai kenyataan bukan hanya fantasinya yang terlampau liar.

“Aku tidak pernah melihat Jiyeon. Kau, ya, hanya kau.” Kali ini ia mencium pipi gadis itu yang sedikit berisi dengan lembut. “Dan aku benci melihatmu bersama pria hitam bernama Jong In itu.”

“Oppa..” Ucapan Soojung hanya mengambang di udara karena Minho sudah lebih dahulu membungkam bibirnya dengan bibir pria itu sendiri.. Gadis itu memejamkan matanya, dan membiarkan dirinya terhanyut bersama perasaan senangnya sendiri. Beban itu hilang, menguap setelah tindakan Minho. Kupu-kupu secepat kilat terbang dalam perutnya hingga membuatnya tergelitik, sampai-sampai disela bibirnya yang masih terbungkam ia masih sanggup mengulum senyumnya.

 

*

            Jiyeon berhenti berjalan karena mulai lelah. Ia mengatur nafasnya yang saling berburu. Ia mengusap kedua tangannya secara bersamaan demi merasakan kehangatan. Ia tertawa paksa, ternyata perasaan seperti cinta itu sangat menyakitkan dari perkiraannya. Pantas saja dulu ibunya sampai bagai mayat hidup saat ditinggalkan oleh Ayahnya untuk wanita lain. Miris sekali, rasanya ia seperti ibunya, ditinggal oleh pria yang lebih memilih gadis lain, bedanya ia dan pria itu tidak terikat oleh apa pun.

“Hei, Park Jiyeon, kau meninggalkanku.”

Jiyeon diam, tidak berani berbalik. Terlalu takut bahwa suara itu bukan milik pria yang itu. Namun, semua pemikirannya langsung terpatahkan setelah ada sebuah tangan yang melingkar indah di perutnya. Detak jantung sang pemilik tangan dapat ia rasakan. Sangat cepat, dan tak berauturan, tapi sangat indah.

“Myung..Myung.. Myungso.. Myungsoo-ya, apa yang kau lakukan?”

Myungsoo terkekah pelan mendengar suara Jiyeon yang terbata-bata. “Kau terlihat kedinginan, jadi aku menghangatkanmu.”

Jiyeon melepaskan diri dari Myungsoo. Ini tidak benar. Pria ini tidak untuknya, ada seseorang lagi yang seharusnya bersama pria ini. “Kau harus kembali. Suzy, dia..”

“Aku tidak ada hubungan dengannya, Jiyeon-ah. Dan, aku sudah menunjukkan perasaanku denganmu kemarin, dan kau masih bertindak bodoh untuk menyuruhku kembali pada Suzy!” Myungsoo geram sendiri.

“Kita ‘kan teman, Myungsoo.”

Myungsoo membuang nafasnya, menahan diri untuk tidak memarahi Jiyeon. Gadis ini benar-benar mengujinya. “Setelah berciuman kau masih mengatakan kita teman? Ya Tuhan, Park Jiyeon, aku ingin lebih dari itu.”

Jiyeon mundur, menjauh dari Myungsoo. Baiklah, ia takut sekarang. Pria ini menginginkan lebih, sementara dia tidak bisa memberikannya. Bukan karena ia tidak menyukainya, hanya saja keraguan itu masih sangat besar dari rasa sukanya pada pria ini. Biar bagaimana pun ada Suzy yang merupakan bagian masa lalu Myungsoo yang ingin kembali menjadi bagian diri pria ini, bagaimana mungkin ia bisa menghancurkan harapan Suzy.

“Aku tidak bisa, maaf.”

Kilatan mata Myungsoo berubah sangat cepat. Mata itu berubah dingin. “Baiklah. Tapi aku juga minta maaf karena tidak bisa menjadi temanmu lagi.” Myungsoo melihat jelas keterkejutan di wajah Jiyeon, namun ia berusaha tidak memperdulikannya. “Karena aku tidak akan pernah bisa menjadi temanmu, sementara diriku sendiri menginginkanmu lebih dari itu. Kau tahu, itu akan menyakitkan untuk diriku. Mungkin lebih baik kita kembali seperti dua orang yang tak saling mengenal.”

Sesak tiba-tiba datang menghantam dada Jiyeon. Gadis itu melangkah maju, sementara Myungsoo mundur. Ia merasa air matanya sudah tak bisa ia bendung lagi. Ini bukan yang ia inginkan, ini hal yang ia hindari, tapi kenapa? Jiyeon memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah dihiasi air mata. “Saling tidak mengenal? Apa itu artinya aku kembali ke duniaku sendiri? Dunia kelam itu?”

Demi apa pun, sekarang pertahanan Myungsoo nyaris runtuh hanya karena air mata dan tatapan terluka gadis itu. Ia ingin melangkah dan membawa gadis itu masuk dalam pelukannya dan memberinya kenyamanan, hanya saja ia tidak bisa. “Ya.”

Jiyeon kembali berbalik, memunggungi Myungsoo. “Aku akan kembali dan menghilangkanmu dari lembaran ingatanku, sesuai permintaanmu, ‘kan?”

Tidak ada balasan dari Myungsoo, sehingga ia menyimpulkan bahwa pria itu ingin ia segera pergi. Gadis itu mulai kembali melangkah meninggalkan Myungsoo. Mulai detik ini juga ia tidak memiliki sangkut pautnya dengan Myungsoo. Ia kembali. Park Jiyeon kembali menjadi si gadis kesepian lagi seperti sebelumnya.

*

Next Part : High School Lovers

“Jiyeon tidak masuk, dia sakit.”

“Bukankah seharusnya kita tidak bertemu? Kita tidak saling mengenal, ingat.”

“Kapan kau bisa menerima perasaanku dan juga perasaanmu sendiri, Jiyeonah. Ini menyulitkan kita. Kau terluka dan aku terluka.”

“Memang tidak ada perasaan cinta yang abadi, tapi aku akan berusaha menjaganya untukmu.”

“Soojung-ah, kau milikku, ingat? Sekarang berhenti menempel dengan pria hitam ini!”

***

Halo para reader HSL tercinta, maafkan aku karena sudah membuat alur ff ini semakin dan semakin aneh atau tidak jelas :3 ini faktor kebanyakan ff jadinya pusing *curhat ceritanya

Oh ya, sebenarnya part ini khusus untuk couple idiot tercinta aka Minho Krystal, tapi aku selipin MyungYeon buat konfliknya di part selanjutnya, jadi jangan heran kalau sepanjang part kebanyakan Minho sama Krystal ya.

Untuk next part, selamat menunggu sampai bulan depan🙂 atau kalau ada mukjizat sebelum bulan depan part 9 udah lahir ke dunia xD

 

41 responses to “[Chapter – 8] HIGH SCHOOL LOVERS : Misunderstand

  1. Jiyeon bener2 trauma dg masa lalunya..sampe segitunya takutnya utk menerima perasaan dari dirinya sendiri dan dari myungsoo…berharap myungsoo lebih bersabar utk berada disamping jiyeon

  2. ya ampuun ceritanya complicated tpi aku suka .. Minstal udh sling menyatakan perasaan masing masing ,, aduduhh ,, sooo swweeet .. Keunde penasaran ama suzy jg jongin ..trusss jga .. Myungyeon kok kacau balau begini nih .. Aduuhh pening kepala .. Myungyeon fighting ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s