[ CHAPTER – PART 6 ] COUPLE OR TROUBLE ?

COT3

Tittle : Couple or Trouble ?
Author : gazasinta
Main Cast : Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jung Soojung, Kim Jongin, Lee Taemin
Genre : Romance and Little Commedy
Rating : PG-15
Length : ChapterHere’s part 6 Couple or Trouble?  author sengaja membuatnya lebih panjang dari biasanya, karena setelah ini author mau fokus untuk penyelesaian RATR dan hiatus beberapa pekan dari membuat ff chapter, ingat chapter !! author mau membuka peluang untuk membuat oneshoot, sebenernya mau main cast namjanya itu selain Myungsoo sih, kira-kira siapa ya ? Minho, Kai, Sehun, Donghae ? atau ada masukan lain ? coba di tulis ketika kalian meninggalkan jejak, dan sekali lagi mianhae jika ff ini mempunyai kesamaan cerita atau typo yang berlebihan, so cekidot !!!

MASUKAN DAN KRITIKAN AKAN DITERIMA DENGAN LAPANG DADA

Part 6

Author’s POV

Apa kau menyukainya ?

Sangat

Jeongmal ? jika begitu ini harus tetap ada ditangan oppa dan jangan sampai hilang eoh ?

Tidak akan, selamanya akan tetap disini, seperti kau yang juga tidak akan mungkin pergi dari hatiku

Jongin sibuk mengeluarkan semua barang dari tas kantornya, mencari sesuatu yang baru ia sadari jika sudah tidak berada lagi ditangannya, sebuah gelang pemberian seseorang yang berarti dalam hidupnya, bahkan hingga saat ini.

“ Huh….bagaimana mungkin bisa terlepas dari tanganku ? “ Jongin bergumam kesal seraya tidak menghentikan aktivitasnya mencari gelangnya yang hilang.

Nihil, ia tidak menemukan gelangnya berada di dalam tasnya, Jongin memijit keningnya frustasi, mencoba mengingat dimana gelang itu terlepas dari tangannya “ Apa mungkin ada pada gadis itu ? “ Tebak Jongin mengingat kejadian di bar kemarin, ia ingat jika tangannya sempat dipegang begitu erat oleh gadis yang ditolongnya karena gadis itu terlihat ketakutan.

“ Dimana aku bisa bertemu dengannya ? “

Tok…tok…tok

Sebuah ketukan halus terdengar dari arah luar “ Masuk “ Perintah Jongin masih dengan aktivitasnya.

“ Presdir Kim, ini dokumen yang anda minta “

Jongin berbalik dan mengambil dokumen yang disodorkan oleh sekretarisnya “ Taesan, dia akan menjual perusahaannya ? “ Tanya Jongin sedikit acuh.

“ Mereka belum membuat keputusan Presdir Kim, sepertinya mereka berharap proses merger dengan perusahaan calon menantunya itu berhasil sehingga mereka terhindar dari kebangkrutan, tapi kita tetap harus berjaga-jaga karena bukan hanya perusahaan kita yang mengincar, Mi-Rae, Sunhwa, Haerin, Daehyo dan masih banyak lagi perusahaan yang menunggu Taesan bangkrut dan memilih untuk menjualnya “ Ucap Han-Sang sekretaris Jongin.

Jongin tersenyum sinis mendengar salah satu nama perusahaan yang ia sangat kenal siapa pemiliknya, Jongin merubah wajah acuhnya menjadi sebuah ketertarikan “ Ikuti terus perkembangan perusahaan itu, aku benar-benar tertarik untuk memiliki sahamnya “ Ucap Jongin dengan senyum yang terlihat menyimpan misteri.

Selama ini ia tidak pernah gagal dalam hal menjatuhkan para pesaingnya, tidak ada yang memungkiri kemampuan dan bakat bisnis yang dimilikinya, tidak salah jika Presdir Kang mengangkat Jongin sebagai orang yang dipercaya untuk meneruskan perusahaannya, meski keduanya tidak memiliki hubungan darah.

Jongin sudah banyak mengenyam pengalaman bisnis ketika berada di Amerika walau ia hanya berada disana selama 3 tahun dan niat awal kepergiannya ke negeri Paman Sam ketika itu hanya untuk mencari seseorang yang sangat berarti dihidupnya.

Jongin terbilang cuek dan masih senang tenggelam dalam dunia malam, namun sebenarnya ia adalah pria yang tidak pernah memikirkan apapun selain bisnisnya, ia hanya tidak ingin merasakan hidupnya terasa sepi, terlebih selama 4 tahun terakhir ini, ia telah kehilangan orang-orang yang dulu sangat dekat dengannya.

“ Kim Myungsoo….ternyata kau juga terjun ke dunia bisnis ? tch…” Gumam Jongin dengan senyum sinisnya.

Myungsoo’s POV

Menunggu kedatangan halmeoni seperti menunggu bom yang sewaktu-waktu akan meledak, wanita tua itu sering sekali menciptakan hal-hal yang membuat kepala menjadi pusing, dia bilang tidak akan ada pemberitahuan kapan kedatangannya dan akan menjadikan kedatangannya sebuah kejutan ? benar-benar konyol.

Apa…..itu artinya wanita tua itu curiga dengan hubunganku dengan allien ? tidak, tidak mungkin jika dia mengetahuinya hanya berdiam diri, tentu saja dia akan menciptakan huru-hara dan akan menghabiskan hidupku sekarang juga, aku memang tidak tahu apa yang ada dibalik rencananya, tapi sebaiknya aku memang harus berhati-hati dengannya, ia memiliki banyak mata dan telinga yang dipasang disetiap tempat yang dia inginkan.

“ Mengapa hari ini dia tidak menghubungiku? “ Tanyaku heran mengalihkan pikiran dari sosok halmeoni, namun baru saja aku merapatkan bibirku seseorang yang ku pikirkan menghubungiku.

Aku mengatur rambut dan mematut-matut diri pada spion didepanku, tch..Kim Myungsoo, yeoja itu tidak akan melihat penampilanmu, genit sekali.

“ Ekhem….Yeobosseo “ Ucapku dengan senyum lebar dan perasaan yang sangat senang, reaksi yang sangat kontras jika memikirkan halmeoni ataupun allien itu, untuk beberapa detik tidak ada suara dari seberang sana, hanya helaan nafas yang menunjukkan yeoja ini sedang memikirkan sesuatu, aku menarik kembali senyumku menyadari reaksi tidak biasanya, apa yang sedang ia pikirkan ?

“ Waeyo ? “ Tanyaku dengan dengan kening yang berkerut, sengaja ku tepikan mobilku untuk lebih bisa berkonsentrasi berbicara dengan Krystal.

Masih diam, dia belum menjawab pertanyaanku, tapi aku terus menunggunya, menunggu dengan sabar apa yang akan ia katakan dan tujuannya menghubungiku.

“ Aku sedang menunggu di depan rumahnya, tapi….aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan “

Meski tidak menyebut siapa yang sedang ia bicarakan, namun aku tahu siapa yang dimaksud, aku tidak senang mendengarnya bahkan rasanya hatiku sangat kesal sekali, tapi aku tidak berhak marah ataupun mencegahnya, aku menarik sejenak nafasku dan mencoba tersenyum kembali

“ Tidak perlu berpikir, ketika nanti kalian bertemu, kau pasti tahu apa yang harus di bicarakan, apa….dia masih tinggal disana ? “ Tanyaku hati-hati.

Sejak kepergian Krystal aku benar-benar tidak pernah lagi bertemu dengannya, tidak ada dari kami yang berusaha untuk saling berkunjung memperbaiki hubungan. Kami benar-benar berpikir bahwa kami tidak pernah saling mengenal, mungkin terdengar seperti anak kecil, tapi itulah yang terjadi.

“ Aku sudah memastikannya, ia masih berada disini, bagaimana jika dia tidak memaafkanku ? “ Tanya Krystal nampak jelas kekhawatiran dari nada suaranya.

“ Apa kau ingin aku menemanimu ? membantumu menjelaskan padanya “ Tawarku yang sebenarnya hanya basa-basi, aku berharap Krystal tidak menyetujuinya.

“ Aku akan mencobanya terlebih dahulu “ Ucapnya mencoba yakin.

Aku mencengkeram kuat setirku, membayangkan mereka bertemu membuat perasaan ini benar-benar tidak nyaman, apa yang akan terjadi setelah keduanya bertemu ? Krystal, mungkinkah akan kembali padanya ?

“ Myungsoo-ah, doakan aku nde “ Setelah mengatakan kalimat itu, Krystal memutuskan ponselnya.

Aku menghela nafas berat, seharusnya aku sadar jika perasaan Krystal sama sekali belum berubah pada pria itu, dan aku mungkin tidak akan mudah bisa menggeser pria itu dari hati Krystal.

Hubungan kami bertiga bermula ketika kuliah di universitas yang sama, aku dan Krystal saling mengenal terlebih dahulu karena berada dalam satu jurusan. Pertemuanku pada pria itu berawal ketika kampusku mengadakan seminar tentang bisnis, hal yang sebenarnya tidak aku sukai tetapi halmeoni selalu memaksaku untuk tertarik pada dunia itu, aku satu-satunya ahli waris perusahaan yang halmeoni bangun dengan keringat dan kemampuannya.

Disana aku mengenalnya pertama kali, beberapa kali seminar diadakan akhirnya membuat kami sering bertemu dan menjadi akrab, dia orang yang sangat berbakat pada dunia bisnis, tidak denganku yang menjalankan karena keterpaksaan. Aku menyesal ketika akhirnya aku harus mengenalkannya pada Krystal, jika aku tahu dialah batu sandungan untukku, sejak awal aku tidak akan dekat dengannya, namun takdir berbicara lain, mereka akhirnya sering bertemu dibelakangku.

Dia pria yang hangat dan mudah akrab dengan siapapun, berbeda denganku yang terlalu serius dan kaku dengan pergaulan luar, mungkin perbedaan itu yang membuat Krystal akhirnya tidak memilihku.

Beberapa tahun berjalan tidak ada masalah dengan kami bertiga, aku terlihat seperti baik-baik saja dengan status mereka, hingga pada suatu waktu aku benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku, aku mengatakan padanya jika akupun menyukai Krystal yang telah menjadi kekasihnya, ia menanggapi bercanda pernyataan jujurku, namun semuanya berubah ketika peristiwa kecil di apartemen Krystal itu terjadi.

Sejak itu ia selalu menghindari tidak hanya Krystal, tetapi juga aku. Krystal menjadi sangat depresi, setiap hari ia selalu menangis untuk meminta maaf padanya, namun pria itu selalu mengacuhkannya, dan akhirnya terjadilah peristiwa kecelakaan itu. Peristiwa yang akhirnya membuat kami bertiga tidak pernah lagi bertemu.

Aku tidak ingin lagi mengingatnya, namun kedatangan Krystal dan niatnya untuk menemui pria itu lagi tentu saja mau tidak mau membawaku kembali pada masa-masa itu. Jujur, akupun ingin sekali bertemu dengannya, aku merindukan saat-saat kami seperti saudara.

Jiyeon’s POV

“ Myungji….Myungsoo, Jiyeon ? tidakkah maksudnya seperti itu ? “

Hari ini perasaanku benar-benar sangat baik, aku selalu saja tersenyum jika mengingat kembali bagaimana ahjussi itu akhirnya menamai kucing ini Myungji “ Aigo….mengapa makanmu banyak sekali ? susu, biskuit, gandum apapun masuk kedalam perutmu, apa kau ingin aku memasakkan juga omelet untukmu ? “ Ucapku seraya sibuk memotong-motong sayuran sementara Myungji selalu bermain dibawah kakiku.

Fiuhh, hari ini aku sibuk sekali, melayani Myungji yang sangat aktif bergerak kesana kemari, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan hal-hal lain yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu, bahkan akupun mencuci pakaian ahjussi dan tidak peduli jika ia akan marah karena aku sudah menyentuh barang miliknya, aku hanya ingin berterimakasih padanya.

Lelah ? tentu saja aku sangat lelah, tapi entah mengapa aku senang melakukannya, terlebih ketika aku tahu jika bukan halmeoni yang memberikan Myungji untukku, aku juga tidak tahu mengapa membayangkan kembali kalimat halmeoni membuat senyumku tidak luntur sejak tadi.

Sepertinya perasaan cinta cucuku bertambah padamu, aku sangat tahu jika dia tidak akan mungkin melakukan hal manis seperti itu pada orang yang tidak dia sukai, buatkanlah omelet sayur dia pasti akan senang sekali.

Aku langsung menghubungi halmeoni untuk mengucapkan terimakasih karena sudah repot-repot untuk membelikan Myungji untuk kujaga, namun begitu terkejut ketika halmeoni bilang bukan dia lah yang membelikannya untukku melainkan ahjussi, ternyata ahjussi tidak buruk juga, meski tampang dan kalimatnya seringkali membuatku jengkel, namun sebenarnya ia sangat baik. Dengan gerakan cepat aku mulai memasukkan semua sayuran yang aku potong ke dalam wajan dan menyelesaikan masakanku.

“ Aku harap ahjussi menyukainya “ Ucapku membayangkan bagaimana reaksinya.

Tapi……apa aku terlalu cepat membuatkan ini untuknya ? ahjussi pasti menemui ahjumma itu terlebih dahulu seperti malam-malam lainnya yang biasa ia lakukan. Aku mengalihkan sementara aktivitasku dengan mengeluarkan ponsel dari kantong celanaku.

Dia belum mengangkatnya, tapi aku terus mencoba menghubunginya “ Eoh ahjussi “ Ucapku senang ahjussi menerima panggilanku

“ Waeyo ? “ Tanyanya tak bersemangat.

Tiba-tiba aku merasa gugup, eoh apa yang harus aku tanyakan, kenapa aku tidak memikirkannya dulu tadi “ Ahjussi…..kapan kau akan tiba dirumah ? “ Aku memejamkan kedua mataku begitu takut mendengar jawabannya atas pertanyaan anehku.

“ Waeyo ? “

Hanya itu responnya, ada apa ? ia terdengar sedang bersedih, mendengar suaranya yang seperti itu mengapa aku juga ikut bersedih “ Hanya bertanya saja, ku lihat kau lupa untuk membawa kuncimu, aku takut tertidur karena menunggumu “ Keadaan yang sangat mendukung untuk membuat alasan yang tepat.

“ Tidurlah duluan “

Aku terdiam mendengar jawabannya, apa ia tidak berniat untuk pulang dan menginap dirumah ahjumma itu “ Mwo ? apa ahjussi tidak akan pulang ? “ Nada pertanyaanku jelas sekali jika aku sangat kecewa, aku mengalihkan mataku ke arah omelet yang sudah kusiapkan, aku berharap omeletku tidak sia-sia.

Dia tidak menjawabnya, aku rasa dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit, apa ini benar-benar berhubungan dengan ahjumma itu ? aku harap tidak.

“ Ahjussiiii !!! kau harus pulang apapun yang terjadi kau harus pulang, aku akan menunggumu “

Klik

Aku memutus komunikasi begitu saja, tidak lagi mau mendengar suaranya, hufttt…mengapa aku tidak bisa menyembunyikan apapun yang aku rasakan ? ini menyebalkan, siapapun pasti mengira aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya, aku…aku…aku tidak tahu, aku tidak mau mengira-ngira apa yang sebenarnya aku rasakan hingga aku mudah merasa kesal jika dia mengacuhkanku ataupun sangat senang jika dia memberikan perhatiannya padaku.

“ Ahjussi, aku akan menunggumu “ Ucapku dengan memandang omelet sayur dihadapanku sedih.

Author’s POV

Jongin mengedarkan pandangan ke sekeliling bar yang kemarin ia kunjungi, bar ini sudah terlihat kembali normal setelah kemarin ia menciptakan keributan disini, tapi ia tidak yakin menemukan gadis itu lagi.

Yeoja ditempat ini adalah yeoja kebanyakan, yang memang senang menghabiskan waktu di keramaian seperti ini, sedangkan gadis itu ? dari penampilannya gadis itu memang terlihat adalah seorang gadis baik-baik dan polos, dan juga umurnya masih sangat muda, belum pantas jika harus menjadi gadis pelayan nafsu para namja hidung belang, tapi ia tidak benar-benar mengetahui identitas gadis itu.

“ Bagaimana aku bisa menemukannya ? “ Gumam Jongin terlihat putus asa.

Jongin mempertajam penglihatannya ketika ia melihat seorang pelayan yang sedang sibuk mengantarkan minuman ke setiap meja tamu, dahinya berkerut, tidak lama…

“ Chogiyo “ Jongin mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan bertubuh kurus dan berwajah seperti tidak namja kebanyakan, wajahnya sangat lembut memancarkan aura wanita.

“ Nde ada yang bisa saya bantu tuan ? “ Ucap pelayan yang ternyata adalah Taemin tidak lupa memberikan senyumnya.

Untuk beberapa saat Taemin merasa aneh, pria dihadapannya memanggil namun akhirnya hanya memandang wajahnya begitu lekat, lambat laun Taemin merasa risih, ia menggaruk leher belakang yang tidak gatal mulai berpikir yang tidak-tidak tentang pria yang memanggilnya.

“ Apa pria ini penyuka sesama jenis ? mengapa tatapannya seperti itu ? “ gumam Taemin dalam hati.

“ Siapa namamu ? “ Tanya Jongin membuat Taemin menjadi heran apa yang sebenarnya pria ini inginkan, memangnya butuh mengetahui nama pelayan hanya untuk memesan minuman ?

“ Eum Lee Taemin, apaaa ada yang bisa saya bantu tuan ? “ Taemin menjawab dengan gugup.

“ Dimana temanmu ? “ Tanya Jongin to the point membuat Taemin semakin heran apa yang sebenarnya pria ini inginkan, dan teman ? teman yang mana ? siapa yang pria ini maksud.

“ Seorang gadis yang bersamamu ketika kalian tertangkap tidak memiliki uang untuk membayar di restaurant “ Jongin seperti bisa membaca keheranan Taemin.

“ Omatta !!! anda ? ah iya saya mengingatnya, eoh annyeonghaseyo tuan “ Taemin membungkukkan tubuhnya ketika otaknya sudah berhasil mengingat siapa pria ini, pria ini adalah yang menolong dirinya dan Jiyeon beberapa waktu lalu. Tapi, untuk apa pria ini menanyakan kembali tentang Jiyeon, tidak mungkin pria ini ingin meminta ganti rugi ataupun menganggap pertolongannya kemarin adalah pinjaman.

“ Maksud tuan….Park Jiyeon ? “ Ucap Taemin.

Jongin sama sekali tidak peduli siapa nama gadis itu, ia hanya ingin memastikan bahwa gelangnya berada pada gadis itu, kini ia berpikir jika gadis itu benar-benar seorang penipu, terbukti pertama kali bertemu gadis itu sedang tersangkut masalah. Bukan tidak mungkin jika hilangnya gelang milik Jongin berhubungan dengan gadis itu.

“ Aku akan memberikanmu uang yang pantas jika kau bisa membawa gadis itu kepadaku “ Ucap Jongin serius.

Taemin membelalakkan matanya, meski ia membutuhkan banyak uang tapi Jiyeon adalah sahabatnya, tidak mungkin ia akan menjual Jiyeon kepada pria ini, setidaknya itulah pikiran yang terlintas dikepala Taemin, semua gadis yang di booking oleh pria-pria disini adalah untuk melayani nafsu mereka.

Krystal menghela nafasnya perlahan kemudian memberanikan diri untuk menekan bel dihadapannya, ia tidak tahu apakah pemiliknya berada didalam atau tidak, ia ingin memastikan.

Ting tong

Nafasnya terlihat tidak normal, segala macam dugaan muncul memenuhi benaknya jika pintu ini terbuka dan pria itu melihat dirinya berada disini, namun cukup lama Krystal menunggu dan bergelut dengan batinnya sendiri pintu itu tidak juga terbuka.

“ Apa dia tidak dirumah ? “ Ucap Krystal melirik ke arah jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Cukup lama Krystal berada disana, memang tidak ada tanda-tanda jika si pemilik rumah berada didalamnya, namun Krystal masih hapal pria itu akan kembali kerumah terlebih dahulu sepulang kantor sebelum ia kembali keluar untuk memenuhi janji dengan orang lain, tapi ini sudah cukup malam untuk seseorang yang masih bekerja, mungkin saja kebiasaannya sudah berubah, Krystal sadar mereka sudah sangat lama tidak bertemu.

Krystal berbalik dengan langkah lemah, perlahan tapi pasti kini kakinya sudah menuntunnya jauh dari rumah itu.

Jiyeon’s POV

Krieett

Brukk

Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu, tidak sadar aku tersenyum mengetahui ahjussi akhirnya pulang.

“ Ahjussi, kau sudah pulang eoh ? lihatlah!! Aku membuatkan sesuatu untukmu “ Teriakku senang dan begitu bersemangat, namun ahjussi mengabaikanku seperti aku ini adalah makhluk yang tidak kasat mata, ia terus berjalan melewatiku dan melangkah naik menuju kekamarnya.

Aku menatap omelet yang baru saja ku buat, tidak mau ini sia-sia aku pun membawanya untuk kuberikan pada ahjussi.

“ Ahjussi!!! Ahjussi!!! Apa kau sudah makan ? aku membuatkanmu sesuatu, cobalah…ini sangat enak “

Aku mengetuk-ngetuk kamarnya, tidak ada jawaban, tidak juga terdengar langkah kaki untuk membuka pintu yang sudah tertutup, aku menatap sedih omelet sayur ditanganku “ Ahjussi, benar kau tidak mau memakan omelet sayur kesukaanmu ini ? ini sangat enak kau pasti akan menyukainya “ Ucapku masih mencoba merayunya.

Aku beralih melangkah lemah menuju kamarku, tiba-tiba Myungji muncul dan berlari ke arahku, aku menunduk dan berbicara padanya “ Aku membuatkan omelet sayur untuknya karenamu, tapi ternyata ahjussi tidak menyukainya, baiklah aku akan memberikannya padamu “ Ucapku, namun ….

“ Ah tidak kau sudah sangat banyak makan hari ini, ini untukku saja “ Aku bangkit dan kembali melangkah diikuti oleh Myungji.

Aku segera naik ke ranjang dengan memandang piring yang berisi omelet sayur “ Meski kau sedang kesal karena orang lain tidak bisa kah kau menghargai usahaku ? ini sangat sayang jika harus masuk ke tempat sampah “ Aku memasukkan semua potongan omelet sekaligus kedalam mulut dan mengunyahnya dengan kasar.

Baru saja tadi aku dibuat tersenyum karena mengetahui jika ahjussi yang ternyata membelikan Myungji untukku, namun dengan cepat ahjussi itu merubahnya menjadi kekesalan, mengapa sikapnya dikendalikan oleh mood ? berteriak, berdiam diri dan tiba-tiba kembali meledak-ledak, benar-benar pria dewasa yang kekanak-kanakkan.

Meski hanya sebuah omelet tapi aku membuatnya dengan sepenuh hatiku, dia benar-benar pria yang tidak punya perasaan, tapi berkali-kali aku kesal dengannya, jika sedikit saja dia bersikap lembut aku pasti sudah berhasil melupakan kekesalanku, harusnya aku tidak mudah terhasut, jika seperti ini apa bedanya aku dengan ahjussi, mudah sekali berubah.

“ Apa ada hubungannya dengan ahjumma itu ? sejak kemunculannya ahjussi memang seringkali seperti ini “ Ucapku tertunduk kecewa.

Author’s POV

Taemin nampak tidak tenang setelah ia menyetujui untuk membawa Jiyeon kepada Jongin besok, pria itu memaksanya dengan memberikan uang dalam jumlah besar yang kini ada ditangannya, sialnya ia benar-benar membutuhkannya, ia hanya berharap pria itu memenuhi janjinya untuk tidak berbuat macam-macam pada Jiyeon.

Ditengah kegelisahannya tatapannya tertuju pada dua orang yang duduk di kursi depan, seorang pria berbadan besar yang sedang asyik mencumbui seorang gadis yang lebih muda dengan dandanan sangat mencolok, Taemin menelan susah payah salivanya ia terus mengamati hingga ketika bibir keduanya tepat ingin bertemu…

“ Dasar pria mesum!!! kau sudah berjanji padaku untuk tidak berbuat kurang ajar pada temanku “

Tiba-tiba Taemin berteriak membuat suasana bus yang hanya ada Taemin dan beberapa orang penumpang yang mengantuk serta dua orang yang sedang bercumbu terkejut, terlebih dua orang itu merasa jika merekalah yang Taemin maksud, kedua orang itu memandang kesal kearah Taemin.

Sadar jika salah Taemin nampak pucat, ia juga tidak tahu mengapa dua orang itu berubah menjadi pria yang memberinya uang sedang mencumbui Jiyeon sahabatnya.

“ Hey apa urusanmu melarangku, memangnya kau siapa, kau mau ku hajar eoh ? “

“ Eum ahniyo, jwesonghamnida, bu-bukan kalian, aku hanya sedang bermimpi “

Taemin bangkit dari duduknya dan bergegas untuk segera turun, meski halte tujuannya masih didepan, namun ia tidak mau jika pria itu menghajarnya.

“ Hufftt hampir saja aku mati dipukul pria itu “ Taemin melangkah lemah menuju tempatnya tinggal.

Myungsoo’s POV

Ting tong ting tong ting tong

Aku membuka mataku ketika seseorang dengan brutal memencet bel rumahku, dengan mata masih setengah terpejam aku menyingkap selimut dari tubuhku dan menoleh ke arah ponsel yang juga terus berbunyi menandakan seseorang menghubungiku.

“ Aisshhh berisik sekali, malam-malam mengganggu ketenangan orang “ Gerutuku berusaha mengumpulkan kesadaran.

Mataku terbelalak sempurna ketika nama halmeoni muncul di ponselku, tanpa menunggu kesadaranku kumpul aku segera mengangkatnya “ Nde halmeoni, waeyo ? “

“ Ada apa ? aku sudah hampir 30 menit berdiri diluar hingga kakiku sangat pegal, sekarang cepat kau bukakan pintunya, aku sudah lelah “

Dengan nada serta intonasi khasnya halmeoni langsung menyemprotku, mwo? wanita itu…sudah berada dibawah ? aku segera bangkit dari ranjang hendak membukakn pintu untuk halmeoni, namun ketika aku melewati kamar yang berada tepat disampingku.

Aaiishh igeo mwoya? justru allien inilah pusat permasalahanku “ Eoh c-cchankamm-mann halmeoni, ak-ak-kku akan mencari kuncinya dan membukakannya untukmu “ Ucapku benar-benar panik dan segera menutup ponsel.

Dor…dor…dor

“ Yya allien….ireona, palli ireona, kau harus segera bangun sebelum dunia ini kiamat “ Teriakku lebih terdengar berbisik membangunkan allien itu, takut jika halmeoni mendengarnya meski jarak antara ruang atas dan pintu depan cukup jauh.

Aku terus menggedor-gedor pintu kamarnya, namun tidak ada sedikitpun tanda-tanda pergerakan didalam sana “ Ya Tuhan!!! aku mohon untuk malam ini saja allien ini tidak sulit untuk ku bangunkan “ Ucapku yang hampir saja ingin menangis membayangkan betapa sulitnya membangunkan makhluk ajaib ini, bahkan lebih sulit dari menumbuhkan 7% laba untuk perusahaan dijaman sesulit ini.

Aku mengusap keringat yang sudah memenuhi keningku, ini tidak akan berhasil jika aku tidak segera mencari ide lain untuk membangunkan allien itu dari “ kematiannya”

Baiklah, ini sudah darurat dan tidak bisa ditunda, aku memundurkan tubuhku beberapa langkah, menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, dengan yakin aku mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintunya yang tertutup rapat.

Hana, Dul, Set!!!

HYAAA!!!

KRIETTT…

BRUGH….

AWWW!!!

KYAAA !!!

OHHH!!!

Tubuhku jatuh terjerembab dan bibirku hampir mencium lantai, tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali melainkan sesuatu yang terasa kenyal pada dadaku, semakin aku bergerak benda kenyal itu terasa berpindah-pindah, untuk beberapa saat kesadaranku berpencar entah kemana, hingga ringisan seseorang mengembalikan ketempatnya semula.

“ Ahjussi….ahjussi!!! angkat tubuhmu, ini terasa sesak, tubuhmu berat sekali “ Aku mendengar suara lemah seorang yeoja tepat ditelingaku, apa aku bermimpi ? dengan perlahan aku angkat kepalaku dan terhenyak ketika wajah allien yang sedang meringis begitu dekat denganku, MWO ? tubuhku berada tepat diatas tubuhnya, aku terjatuh dan menindih tubuh allien ini.

“ Yya!!! Kk-kau….” Dengan segera aku bangkit menjauh dari tubuhnya yang tergeletak tak berdaya, melihat wajahnya yang meringis seperti itu kalimat cacian yang hendak keluar dari mulutku tertahan.

“ Ahjussiiii, mengapa kau menabrakku ? ini sakit sekali “ Ucapnya mencoba bangkit dari posisinya.

Jika biasanya aku mudah sekali emosi mendengar kalimatnya, kali ini aku hanya terdiam dan sibuk menormalkan kembali detak jantungku, bahkan aku lupa tujuanku membangunkannya, hingga bel dibawah kembali terdengar.

“ Aiisshhh…..Ayo cepat pindah kekamarku, kita tidak punya banyak waktu !!!” Ucapku saat tersadar kembali, tidak peduli keadaan jantungku dan keadaannya, aku segera menarik tangannya.

“ Awww…appo, ommo!!! tanganku “ Ucapnya panik mendapati sikutnya memerah dan terasa perih.

Aku menatap kesal padanya yang bergerak sangat lambat, tidak tahukah kiamat sudah ada didepan mata “ Nanti saja kau obati lukamu, halmeoni sudah ada dibawah “ Ucapku panik dan terus menyeret tangannya.

“MWOOO ? HALMEONI ? “ Ucap allien tidak kalah terkejut dan reflek memegang tanganku begitu gugup.

Aku menutup kedua telingaku mendengar teriakannya, tidak sengaja tatapanku jatuh tepat ke arah lemarinya, aku melepaskan pegangannya dan bergegas melangkah ke lemari pakaiannya.

“ Cepat bantu aku, kosongkan lemarimu, halmeoni pasti akan curiga jika menemukan lemari pakaian kita terpisah “

Dengan cepat allien melangkah ke arahku dan membawa semua pakaiannya yang ada di lemari, membersihkan peratalan make-up artisnya dan semua benda-benda yang bisa membuat halmeoni curiga, situasi benar-benar menegangkan.

Author’s POV

Hosh hosh hosh

“ Chankamman ahjussi, biar aku mengambil nafasku dulu “ Ucap Jiyeon memegang dadanya yang naik turun mencegah Myungsoo membuka pintu, Myungsoo pun menarik nafas dan membuangnya perlahan, kedatangan halmeoni benar-benar sebuah kejutan, ia datang ditengah malam saat keduanya sudah terlelap tidur.

“ Mengapa lama sekali ? 1 jam total aku menunggu kalian membukakan pintu, kalian sedang melakukan apa sebenarnya ? “

Halmeoni langsung nyelonong masuk sesaat pintu dibuka, Myungsoo dan Jiyeon kompak tersenyum kearahnya, lebih tepatnya terpaksa tersenyum dan mengikuti langkah halmeoni. Seperti biasa kipas kesayangannya segera berkibar, halmeoni nampak serius menatap sekeliling rumah, Myungsoo dan Jiyeon tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, berharap tidak ada hal yang membuat halmeoni curiga dengan sandiwara keduanya.

“ Mana foto pernikahan kalian ? seharusnya kalian menaruhnya diruangan ini “

Myungsoo dan Jiyeon saling berpandangan, foto pernikahan ? bahkan keduanya lupa jika mereka memiliki foto pernikahan yang belum sempat diambil.

“ Eoh it-itu aku … “

“ Eum maksud oppa, studio foto yang menyiapkan foto kami itu sudah 1 minggu ini tutup, tapi besok oppa akan mengambilnya, pemiliknya sudah menghubungi kami, iya kan oppa ? “ Ucap Jiyeon mengambil alih jawaban Myungsoo dan bergelayut manja dipundak Myungsoo.

Myungsoo menatapnya dengan pandangan kesal, ini memang terlalu berlebihan untuk sekedar akting, tapi halmeoni terus menatap keduanya, hingga Myungsoo hanya bisa pasrah, ini bukan waktu yang tepat untuk memarahinya.

“ Foto pernikahan itu sangat penting untuk kalian pajang dirumah, agar kalian tetap mengingat betapa indahnya tali pernikahan itu, memangnya kalian tidak ingin mengingat pernikahan indah kalian eoh ? “ Ucap halmeoni dengan terus menatap sekeliling rumah.

“ Dimana kamar untukku ? aku ingin cepat beristirahat “ Ucap halmeoni membuat Myungsoo dan Jiyeon menghela nafas lega, namun keduanya kembali gugup ketika halmeoni kembali menatap kearahnya.

“ Mari kami antar halmeoni ke kamar, istirahatlah wanita seusia halmeoni tidak boleh tidur terlalu malam “ Ucap Myungsoo melepaskan tangan Jiyeon dari tangannya, dan segera membawa koper halmeoni.

Bibir Jiyeon menggerutu kesal , karena Myungsoo meninggalkannya begitu saja.

Sekeras apapun usaha Myungsoo untuk membuat matanya kembali terpejam, namun hingga detik ini matanya tetap terbuka, suasana dikamarnya terasa berbeda, ia tidak terbiasa ada orang lain dikamarnya.

Sama halnya dengan Myungsoo, ini adalah pertama kalinya Jiyeon tidur dalam satu ruangan bersama dengan orang lain, terlebih orang lain itu Myungsoo.

Dengan mengabaikan rasa jengkelnya karena pria ini tega membiarkan dirinya tidur dibawah hanya beralaskan kasur tipis dan satu buah bantal, sebenarnya ia benar-benar merasa sangat gugup. Perlahan Jiyeon membalikkan tubuhnya dan menatap Myungsoo yang berada tepat diatasnya, pria itu memunggunginya.

Jiyeon bangkit dan menyalakan lampu diatas nakas, namun…

“ Aku tidak terbiasa tidur dalam keadaan terang “ Suara Myungsoo yang tiba-tiba, membuat Jiyeon terkejut, ia pikir Myungsoo sudah tertidur.

“ Tapii…aku tidak bisa tertidur jika keadaannya sangat gelap “

“ Kau tidak tidur sendiri dan ini kamarku jadi jangan bersikap egois “

Jiyeon mengangkat tangannya ingin sekali mencekik leher Myungsoo “ Eoh appo “ Ucap Jiyeon meringis ketika sikutnya bertumbukkan dengan lantai.

Jiyeon bangkit dan meraba-raba mencari kotak obat dinakas, karena keadaan yang sangat sepi, suara sekecil apapun terdengar jelas dan itu sangat mengganggu Myungsoo, Myungsoo menghembuskan nafasnya kasar, ia benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang, Jiyeon membuat kegaduhan.

“ Yya tidurlah besok pagi aku harus pergi ke kantor “ Myungsoo menoleh kearah Jiyeon, hanya mata yeoja itu yang jelas terlihat dalam cahaya gelap, tangan Myungsoo dengan cepat menyalakan lampu diatas nakas, ia melihat Jiyeon sedang membersihkan luka dengan alkohol.

“ Tanganku terluka, aku harus membersihkannya “ Ucap Jiyeon cuek meski Myungsoo nampak geram menatapnya.

Myungsoo merasa Jiyeon hanya beralasan, terlihat yeoja itu nampak sangat lambat mengobati lukanya, Myungsoo bangkit dari tidurnya dan menyeret dengan cepat tangan Jiyeon untuk duduk diatas ranjang, Myungsoo mengambil alih kotak obat dari tangan Jiyeon, sementara Jiyeon menatap tidak percaya dengan apa yang Myungsoo lakukan.

“ Apa yang ahjussi lakukan ? “ Tanya Jiyeon ketika Myungsoo memegang tangannya.

“ Mengobati lukamu, kau lelet sekali aku harus tidur cepat “ Ucap Myungsoo ketus.

Jiyeon tidak berhasil untuk menyembunyikan senyumnya.

“ Haus sekali “

Halmeoni bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju dapur dibawah untuk mengambil minum, ia menatap kamar cucu dan cucu menantunya yang nampak sepi.

Tidak berapa lama halmeoni kembali dengan gelas yang terisi penuh dengan air ditangannya, namun baru saja halmeoni ingin masuk.

“ Pelan-pelan, sakit sekali…aarrggkk “

“ Aku sudah berusaha melakukannya dengan pelan, bertahanlah…sebentar lagi “

Suara aneh dari kamar cucunya membuat halmeoni menutup mulut dengan tangannya, namun bukannya segera masuk ia justru semakin mendekat ke arah kamar yang ada dua orang didalamnya, halmeoni menempelkan sebelah telinganya didaun pintu.

“ Arrggkkk chankamman…berhenti sebentar biarkan aku bernafas “

“ Baiklah, tenangkan dirimu jangan terlalu tegang seperti itu eoh “

Halmeoni semakin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tidak menyangka ia mendengar percakapan sepasang suami istri yang ternyata dalah cucunya sendiri, karena begitu gugup tidak sengaja tangannya menyentuh gelas dan tiba-tiba…

Kompryangg

Tutup gelas halmeoni terjatuh, ia segera membungkuk mengejar tutup gelas yang menggelinding agar suaranya tidak terdengar oleh Myungsoo dan Jiyeon yang entah sedang melakukan apa didalam.

Myungsoo dan Jiyeon saling bertatapan, suara dari arah luar membuat keduanya menghentikan aktivitasnya, cukup lama keduanya menajamkan telinga mereka, namun suara itu tidak lagi terdengar, justru suara pintu yang tertutup yang mereka dengar akhirnya.

“ Selesai, cepat sekarang kau tidur “ Ucap Myungsoo menghempaskan tangan Jiyeon yang tadi begitu erat ia pegang.

“ Gomawo “ Meski Myungsoo masih bersikap kasar namun Jiyeon harus tetap berterimakasih, Jiyeon bangkit dari ranjang dan hendak kembali tidur dibawah.

“ Tidurlah diatas “ ucapan Myungsoo membuat Jiyeon terkejut, tidak menyangka Myungsoo bersedia tidur satu ranjang dengannya, Jiyeon tidak tahu harus menjawab apa, ia benar-benar merasa sangat gugup sekarang.

“ Eum…ahniyo..ak-akkuu disini saja tidak apa-apa “ Wajah Jiyeon berubah merah dan jantungnya berdegup begitu kencang.

Myungsoo memasang wajah datar, sebenarnya ia hanya ingin Jiyeon tidur diranjang agar tidak perlu menggunakan bantalnya. Namun sepertinya Jiyeon berpandangan lain, dengan tidak lagi peduli Myungsoo kemudian mengambil bantal Jiyeon.

“ Ahjussi tidak usah, aku disini saja, aku tidak apa-apa sungguh “ Ucap Jiyeon berusaha merebut bantalnya kembali.

Myungsoo mengernyitkan keningnya “ Aku hanya mengambil bantal ini, tidak memaksamu untuk tidur diatas ranjang, aku tidak bisa tidur hanya dengan 1 bantal dan 1 guling, jika kau benar-benar ingin mengalah, maka relakan juga kau tidur tanpa bantal “

Setelah mengucapkannya Myungsoo kembali tidur diatas ranjang, ia mematikan kembali lampu diatas nakas dan tersenyum penuh kemenangan.

Jiyeon benar-benar merasa dijebak, ia mengutuki sikap Myungsoo yang hanya berbasa-basi.

“ Ada apa kau memanggilku ? “ Luna meletakkan tubuhnya tepat dihadapan Krystal.

“ Temani aku selama aku menunggu Myungsoo….ia bilang ada keperluan sebentar “ Ucap Krystal membuat Luna membelalakan mata tidak percaya.

“ Ku kira kau kenapa, nada bicaramu tadi begitu mengkhawatirkan, oh iya bagaimana kemarin ? apa kau berhasil menemuinya ? “ Tanya Luna seraya mencatat pesanan dan menyerahkan kepada seorang pelayan disampingnya.

Krystal mendesah lemah dan hanya mengaduk-aduk secangkir kopi milikya “ Aku tidak berhasil bertemu dengannya “ Ucap Krystal.

“ Lalu sekarang kau ingin bertemu dengan Myungsoo ? maksudku kau akan mengajak Myungsoo untuk bertemu dengannya juga ? “ Tanya Luna menebak-nebak maksud Krystal.

“ Tidak, hari ini aku memutuskan untuk tidak kembali datang kerumahnya, aku bertemu dengan Myungsoo hanya ingin meminta maaf padanya, sepertinya kemarin ia kecewa terhadapku “

Luna menatap curiga ke arah Krystal, sepupunya ini begitu memahami apa yang Myungsoo rasakan. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan hubungan apa yang Krystal jalani dengan sahabatnya itu? mereka terlihat sangat dekat jika hanya berstatus sahabat, bukankah Myungsoo sudah memiliki istri ketika mereka bertemu di Pulau Jeju ? sebenarnya apa yang Krystal ketahui dan sembunyikan darinya ?

“ Jiyeon-ah, angkat ponselmu paliwa “

Taemin nampak resah karena Jiyeon belum juga mengangkat ponselnya sejak pagi tadi, sementara Jongin sudah duduk dan menunggu kedatangan yeoja yang dijanjikan Taemin.

“ Taemin-ssi, kau dicari pria yang duduk disana, sejak tadi ia bertanya tentangmu, cepatlah kau kesana “

Taemin semakin resah, apa yang harus ia katakan pada pria itu sementara ia belum berhasil menghubungi Jiyeon “ Arrgkkk uang pria itu sudah ku pakai untuk membayar sewa rumah, otthokae ? “

“ Berapa nomor ponselnya ? “

Jongin langsung bertanya ketika Taemin baru saja tiba dihadapannya, ia tidak sabar menunggu kedatangan Jiyeon, Taemin terkesan mengulur-ulur waktu untuk membawa temannya itu kehadapannya, membuat Jongin semakin curiga jika keduanya bersekongkol.

“ Tuan, aku terus menghubunginya sejak tadi, tapi ia benar-benar tidak mengangkatnya, kurasa ia sedang sibuk “ Ucap Taemin tidak yakin dengan kesibukan Jiyeon yang ia katakan.

“ Jika begitu aku saja yang menghubunginya “ Ucap Jongin dengan perasaan kesal karena sulit sekali Taemin dimintai bantuan, padahal uang yang ia keluarkan sudah cukup banyak hanya untuk bertemu dengan gadis itu.

Mau tidak mau Taemin memberikan nomor ponsel Jiyeon kepada Jongin, ia hanya pasrah jika Jiyeon mengamuk karena telah memberi nomornya pada orang asing.

Jiyeon’s POV

“ Aku tidak menyangka kau pandai memasak, meski umurmu masih sangat muda tapi kau sangat serasi sekali menjadi istri cucuku “

Aku terpaksa tersenyum dengan kalimat yang halmeoni ucapkan, sementara tanganku sibuk mereject panggilan Taemin, namja pabbo ini tidak tahukah bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk menghubungiku ?.

“ Myungsoo cucuku itu sangat dingin terhadap wanita, mungkin masa lalunya dengan wanita itu masih membekas, tapi itu sudah berlalu, meski sempat khawatir ia tidak akan menikah namun mendegar ternyata ia sudah memilihmu aku begitu senang, Jiyeon-ah….gomawo, kau sudah berhasil mengobati trauma anak pabbo itu “

Trauma wanita ? apa maksud halmeoni adalah ahjumma itu ? jadi halmeoni tidak tahu jika wanita itu sudah kembali dan masih berhubungan dekat dengan ahjussi ? aku jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan keduanya dimasa lalu ? dari cara halmeoni bicara nampak ia tidak suka dengan wanita itu tapi mengapa ia begitu baik terhadapku ? meski ia sangat cerewet dan banyak mengatur ini dan itu terutama yang berkaitan dengan cucunya, tapi kurasa ia melakukan semua itu karena rasa sayangnya terhadap ahjussi yang merupakan cucu satu-satunya.

Aku menjadi merasa bersalah telah membohonginya seperti ini, jika ia tahu yang sebenarnya aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada kami, terlebih pada diriku. Satu bulan bukanlah waktu yang lama, jika hari itu datang aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan halmeoni diperlakukakn seperti ini oleh cucu yang ia sayangi dan juga aku orang yang awalnya tidak ia kenal. Ya Tuhan, ini memang salahku, tapi aku mohon jika waktu itu telah datang semuanya akan baik-baik saja.

“ Eum bagaimana ? apa kau merasa ini menyenangkan ? “ Pertanyaan halmeoni menyadarkan aku dari pikiranku sendiri

“ Eoh tentu saja, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya “ Ucapku polos.

Halmeoni berinisiatif untuk mengajakku ke salon, ia bilang agar aku tidak merasa bosan karena setiap hari hanya dirumah saja menunggu ahjussi pulang kantor, aku pun menyetujuinya, karena dengan begitu aku akan terlepas dari pembicaraan seputar rumah tangga kami, tapi nyatanya dugaanku salah, sejak tadi halmeoni tidak henti-hentinya membicarakan hal yang ingin sekali aku hindari, beruntung sejauh ini aku masih bisa dengan tenang menjawab semua pertanyaannya.

“ Hahaha….kalau begitu ini ide bagus, kita memang sangat membutuhkan penyegaran seperti ini, eoh Jiyeon-ah….apa kau sudah merasakan ada sesuatu didalam perutmu ? “

Aku tersentak dengan pertanyaan halmeoni, sesuatu dalam perut ? apa itu menanyakan kehamilan ? aku merasa ruangan dingin ini berubah menjadi panas “ Eum ahniyo, belum halmeoni, kami masih ingin menikmati kebersamaan kami berdua saja “

Ya Tuhan apa yang aku katakan ? menikmati kebersamaan berdua saja ? jika ahjussi mendengar ia pasti akan mencaci maki diriku.

Halmeoni masih terus tertawa mendengar jawabanku, ia benar-benar merasa senang dengan pernikahan kami, maksudku pernikahan pura-pura kami.

Myungsoo tidak pernah bisa marah untuk hal yang menyangkut tentang Krystal, meski perasaannya masih kesal dengan apa yang Krystal lakukan kemarin, tapi nyatanya ia tidak bisa menolak ketika wanita cantik ini mengajaknya bertemu.

Belum ada kalimat apapun yang mereka bicarakan, masing-masing saling menerka apa yang ada dipikiran lawan bicaranya, hingga mata Krystal menangkap sebuah benda yang dibungkus kertas koran yang terletak dikursi belakang.

“ Apa itu ? kau membeli sebuah lukisan ? “ Krystal seolah mendapat bahan pembicaraan.

Myungsoo enggan menjawabnya, bukan karena Krystal yang dengan mudah melupakan tindakan yang menggangu hatinya kemarin, namun pertanyaannya yang membuat ia malas menjawab.

“ Foto “ Ucapnya singkat masih berkonsentrasi dengan kemudinya.

“ Foto ? fotomu ? coba aku lihat “ Tanpa sempat Myungsoo cegah Krystal sudah meraih benda itu dan merobek kertas pembungkusnya.

Senyum Krystal berubah menjadi nampak hambar ketika tahu foto apa yang Myungsoo maksud, nampak sosok Myungsoo dan gadis yang sempat membuatnya kesal dengan balutan gaun pengantin sedang tersenyum disana, Krystal kembali ketempatnya semula dengan raut wajah yang berbeda dari awalnya.

Myungsoo menjadi merasa tidak enak Krystal melihat foto itu “ Eum…halmeoni yang menyuruhku untuk mengambilnya, ak-kuu…hanya tidak ingin membuatnya marah “ Myungsoo mencoba menjelaskan maksudnya mengambil foto pernikahannya.

“ Gwencanayo, kalian memang harus memajang foto itu dirumah kalian bukan ? “ Ucap Krystal, namun dibalik kalimatnya yang tenang itu, ia merasa ada sesuatu yang membuat perasaannya berubah.

“ Kita ke toko kaset di daerah Daejeon saja, kurasa film yang aku cari hanya ada disana “ Ucap Krystal tanpa menatap Myungsoo.

Myungsoo menyesal mengapa ia tidak meletakkan foto itu dibagasi saja, jika akhirnya membuat suasana menjadi tidak enak seperti ini.

Halmeoni hanya mengikuti Jiyeon yang memilih duduk didekat dinding kaca, mungkin agar pemandangan luar terlihat jelas dari tempat mereka duduk, ia kemudian menaruh tubuhnya diatas kursi yang Jiyeon sediakan untuknya, halmeoni benar-benar senang menikmati kebersamaannya dengan cucu menantunya ini. Jiyeon adalah gadis yang menyenangkan dan sangat lembut, bodoh sekali jika Myungsoo menyia-nyiakan istrinya ini.

“ Halmeoni, apa yang ingin kau pesan ? “

“ Eum…apapun yang menurutmu enak “

“ Eum apa ya ? “

Ha…ha….ha

Jiyeon mendongakkan wajahnya, menatap aneh halmeoni yang tertawa begitu senang “ Waeyo ? apa yang halmeoni tertawakan ? apa

aku begitu lucu hingga halmeoni tidak berhenti tertawa sejak tadi ? “

“ Ahniyo, wajahmu yang merengut seperti itu sangat lucu sekali, kau benar-benar mirip sekali dengan Myungsoo ketika ia kecil “

Jiyeon menjadi tersipu malu membayangkannya, mendengar nama Myungsoo ia teringat dengan kejadian semalam, ketika wajahnya begitu dekat dengan Myungsoo yang mengobati lukanya, meski sangat galak tapi tidak bisa dipungkiri Myungsoo memang sangat tampan dengan matanya yang setajam elang serta garis-garis wajah tegas yang dimilikinya, jika saja pria itu mempunyai sikap yang lembut, maka Tuhan sempurna sekali menciptakan pria itu.

Jiyeon merubah raut wajahnya ketika tidak sengaja ia melihat dua orang yang sepertinya ia kenal baru saja memasuki toko kaset yang berada diseberang jalan, sadar jika posisinya sangat strategis untuk menatap keadaan luar, ia pun panik mengalihkan perhatian halmeoni “ Eum halmeoni…ba-bagai-ma-na jika ini saja ? kau belum pernah mencobanya bukan ? cobalah ini sangat enak “ Tunjuk Jiyeon pada buku menu, namun tatapannya tidak lepas dari toko kaset itu.

“ Waeyo ? “ Halmeoni sudah mengatakan apa yang ingin ia pesan, namun Jiyeon tidak juga mencatat pesanannya, dilihatnya cucu menantunya itu menatap ke arah luar dengan raut wajah yang berbeda.

“ Halmeoni, bisakah kau menungguku disini sebentar ? ada sesuatu yang ingin ku beli disana, sebentar saja “ Ucap Jiyeon bangkit dari duduknya.

“ Ya baiklah, pergilah, aku disini saja, kakiku masih lelah untuk berkelilling “

Jiyeon meninggalkan cafe begitu terburu-buru, ia hanya ingin memastikan jika ia tidak salah melihat dua orang yang membuat perasaannya menjadi tidak menentu seperti ini.

Myungsoo hanya mengikuti langkah kaki Krystal yang sibuk mencari kaset film seolah-olah wanita ini hanya sendiri saja datang ke toko kaset dan mengabaikannya. Myungsoo ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sedikitpun terlintas dipikirannya untuk membicarakan apa, alhasil ia hanya berlaku seperti seorang pengawal yang sedang menjaga tuannya.

“ Eum apa film itu yang kau maksud ? “ Myungsoo menunjuk kaset yang berada tepat dikepala Krystal, namun Krystal menggelang dan menjauh dari dirinya, mengitari sudut lainnya tanpa mempedulikan dirinya.

Myungsoo menghela nafasnya kasar dan akhirnya kembali melangkah mengikuti Krystal, hingga beberapa lama wanita itu belum juga menemukan apa yang dimaksud dan membuat Myungsoo merasa kehadirannya sia-sia jika hanya sikap Krystal yang seperti ini yang ia terima.

Greb…

Krystal tersentak, Myungsoo memegang tangannya begitu kuat dan menariknya hingga kini jarak keduanya sangat dekat, tatapan Myungsoo yang seperti ini, ia baru pertama kali melihatnya “ Sebenarnya kau kenapa ? kau yang memintaku datang untuk menemuimu, tapi kau mengacuhkanku, bicaralah baik-baik jika ada yang sesuatu yang mengganjal eoh “ Ucap Myungsoo kesal.

Krystal merasa tidak enak dengan pengunjung lain yang kini menatap ke arahnya “ Kecilkan suaramu, ini ditempat umum “ Ucap Krystal dengan suara berbisik.

“ Jika karena foto itu kau berubah, aku sudah bilang halmeoni yang memaksaku, itu tidak berarti apa-apa meskipun akhirnya aku memajang foto itu dirumahku “ Seperti tidak peduli Myungsoo terus saja berbicara, suaranya tidak sedikitpun ia rendahkan membuat akhirnya semua orang menatap lekat kearahnya. Kini keduanya menjadi tontonan semua pengunjung yang menganggapnya bak sepasang kekasih yang sedang mengalami masa sulit dan butuh pertolongan.

Sementara…

Jiyeon mencoba menahan emosinya mendengar kalimat Myungsoo mengenai foto itu, ia sengaja hanya memasang telinganya untuk mengetahui apa sebenarnya yang keduanya lakukan tanpa berniat untuk membalikkan tubuhnya agar sosok mereka terlihat, jika itu ia lakukan mungkin saat ini tidak hanya dua orang yang terlibat pertengkaran, namun menjadi tiga termasuk dirinya.

Krystal benar-benar merasa malu telah membuat keributan disini, ia menarik tangannya dari genggaman Myungsoo dan segera bergegas meninggalkan toko kaset ini, namun…

“ Aku masih sangat mencintaimu, selamanya perasaanku padamu akan seperti ini, apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku !!!! “

Deg….

Jiyeon menundukkan kepala dan mengepal kuat jemarinya, ia mendengarnya, mendengar langsung kalimat pernyataan cinta Myungsoo untuk yeoja lain dengan telinganya sendiri, ia berusaha menguatkan kakinya yang mulai melemah.

“ Ya Tuhan sebenarnya apa yang mereka lakukan “

“ Oh my God this’s sweet moment right ? “

“ Ahh aku ingin sekali memiliki kekasih seperti pria itu “

Jiyeon mendongakkan wajahnya kembali, nampak semua orang terkejut dengan apa yang mereka lihat, sebagian nampak berdecak kagum dan sebagian lagi nampak tidak percaya dengan yang mereka lihat, Jiyeon penasaran, ia pun memberanikan dirinya untuk melihat apa yang banyak orang lihat hingga mengeluarkan banyak kalimat yang menunjukkan keterkejutan mereka.

Tubuh Jiyeon benar-benar lemas, ia menutup mulutnya tidak percaya melihat pemandangan dihadapannya, Myungsoo dan ahjumma itu mempertontonkan adegan yang membuat hatinya bergejolak dengan darah yang mendidih, mereka sedang berciuman didepan matanya.

Ciuman keduanya semakin dalam dan panas seiring dengan riuh rendah pengunjung yang bertepuk tangan untuk mereka. Jiyeon tidak sanggup untuk melihatnya, ia mengusap airmata yang tiba-tiba menetes deras, sementara kantong jaketnya kembali bergetar menandakan ada telepon masuk, untuk melupakan rasa sakitnya Jiyeon merogoh kasar ponsel itu, tanpa melihat siapa yang menghubunginya “ YYA!!! BERHENTI MENGHUBUNGIKU, AKU TIDAK SEDANG INGIN SIAPAPUN MENGGANGGUKU EOH “

Jiyeon menutup kasar ponselnya, ia berlari tidak peduli lagi dengan semua orang yang kini mengalihkan tatapannya dari Myungsoo dan Krystal kearahnya, Jiyeon berlari dan terus berlari seraya mengusap airmata yang tidak henti-hentinya turun membasahi wajah putihnya.

Myungsoo melepaskan tautan bibirnya dari Krystal setelah mendengar suara seseorang yang berteriak kencang, ia mengenal baik siapa pemilik suara itu, perlahan Myungsoo menolehkan pandangannya ke arah luar, dinding kaca yang mengelilingi toko kaset membuatnya masih sempat melihat siapa gadis yang baru saja berteriak dan kini sedang berlari. Myungsoo terhenyak…. ia memandang kearah luar dengan tatapan tidak percaya.

Sementara Krystal tersenyum senang dengan apa yang Myungsoo lakukan padanya, meski awalnya ia sangat malu ini terjadi di depan umum, senang ? ia tidak tahu perasaan senang seperti apa ? apakah cintanya sudah beralih kepada Myungsoo sahabatnya ? Krystal belum bisa menjawabnya.

Jongin menjauhkan ponsel dari telinganya, suara yeoja diseberang sana begitu kencang hingga mengalahkan suara bising musik di bar ini, ia mengepalkan jarinya kesal seenaknya saja gadis itu membentak bahkan ia belum mengucapkan apapun.

“ Kau harus segera membawanya kehadapanku dan minta ia berlutut agar aku memaafkan kesalahannya padaku hari ini “ Ucap Jongin seolah mengancam Taemin.

Jongin meninggalkan bar dengan wajah memerah karena kesal, ia benar-benar tidak akan melepaskan gadis itu sebelum membayar semua yang ia lakukan terhadapnya, termasuk pertolongannya ketika membebaskan gadis itu dari restaurant, Jongin tidak akan membuat semua pertolongan pada gadis itu menjadi gratis terhitung ketika gadis itu berteriak kepadanya.

TBC

143 responses to “[ CHAPTER – PART 6 ] COUPLE OR TROUBLE ?

  1. si myungsoo yaa bner2 deh, bikin kesel aja,..
    kasian sama jiyeon, uda mulai naksir tp myung nya sifatnya masi gtu…

  2. bolehkah skrang aq blng klau aq sangat mmbenci myung di chap ini.
    jiyeon jga polosnya mnta ampun, jtuh cinta gak sdar2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s