[CHAPTER 4] A Thousand Years

a thousand years part 4

a special fanfiction by

astriadhima

A Thousand Years

Romance, Angst // Chapter // PG

this fiction casted by :

Park Jiyeon as Wei Jiyi

Kim Myungsoo as El

Suzy as Suzy

Naeun as Naeun

Kai EXO as Kai (Naeun’s Brother)

Disc! Cats isn’t belong to me. I just borrow them for my story.

Prolog| Chapter 1 | Chapter 2| Chapter 3

Lalu ia berada di tengah-tengah hati hati yang bimbang, bahkan dirinya lebih parah lagi.

4th Chapter

“Padahal aku menyukai wanita dengan barisan kata.” –El.

                Naeun masih mengingat masa kecilnya dulu. Sebelum Ayahnya buta dan ibunya meninggal. Waktu itu mereka sering duduk di rerumputan taman, saling bertukar lelucon dan saling memeluk. Naeun kecil yang waktu itu sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya. Namun hingga waktu terus berjalan, Ayahnya yang sebenarnya bernama Aro mulai sadar bahwa berada di jalan Tuhan itu sangat penting. Saat Naeun belum genap berusia 2 tahun, Aro pergi ke Israel untuk menimba ilmu Tuhan. Kira-kira hampir empat tahun hingga Naeun bisa bertemu dengan Ayahnya kembali. Ayah Aro yang dulu ia kenal sebagai laki-laki periang dan berjualan permadani dengan riang berubah menjadi pria dewasa yang serius. Setelah ia pulang dari Negara nenek moyang dan bergelar Rabi, ia sering meninggalkan rumah untuk waktu yang cukup lama. Saat Naeun bertanya mengapa ayahnya tak berusaha tinggal di rumah untuk waktu yang lebih lama, ayahnya selalu menjawab jika Tuhan lebih membutuhkannya. Tuhan memberikan kepercayaan padanya untuk menyadarkan teman-teman disekelilingnya agar berada di jalur Tuhan. Naeun sendiri masih terlalu kecil untuk mengenal Tuhan, tetapi Aro sudah mengajarkan benih-benih kecil tentang ke-esaan Tuhan. Sejak saat itu Naeun berhenti sekolah di sekolah umum, karena kebanyakan rakyat China tidak memeluk agama, Aro sendiri yang mengajarkan Naeun untuk menulis dan membaca.

Naeun memperatikan sinar matahari lembut yang menerobos disela-sela jari tangannya. Tangannya melingkar di telapak tangan Rabi dengan hangat. Lelaki itu terpejam dan menyandarkan badannya di kursi. Ia tidak tidur, hanya merebahkan badan toh saat ia terjagapun tak ada yang bisa ia lihat. “Ayah, bagaimana sosok ibu dahulu? Aku masih terlalu kecil untuk mengingatnya.” Rabi tetap memejamkan matanya dan terlihat tenang. Sebenarnya ia berpikir, bagaimana sosok ibu Naeun dulu. Dengan mengais sisa-sisa ingatannya, ia menegakkan tubuh dan coba menjelaskan apa yang ia ingat. “Ibumu hampir sama tingginya denganku. Rambutnya coklat dan ia sering mengikat rambutnya tinggi-tinggi sepertimu. Ia sangat penyayang dan baik hati. Kurasa suaranya sama lembutnya denganku. Terkadar mendengarmu membacakan cerita untukku sama saja dengan mendengar ibumu bercerita. Toh akupun tak bisa meihat lagi, kau ataupun ibumu yang berbicara sama saja bagiku.” Rabi mengeratkan pegangannya ditangan Naeun. Naeun menarik sudut bibirnya, sayangnya ia masih terlalu kecil untuk menyimpan memori tentang ibunya daam kepala. Mungkin otaknya terlalu kecil saat itu. “Apa dia suka mengarang puisi? Kebanyakan dari wanita China suka mengarang puisi.” Naeun merebahkan kepalanya di bahu Rabi, ia menatap lurus ke hamparan Peony yang ada di kebun. “Aku tak yakin apakah ia sering membuat puisi, tetapi aku pernah menerima satu bait darinya. Yang perlu kau ingat bahwa ibumu bukan orang china. Dia murni berasal dari kaum kita. Apa kau ingin mendengarnya?” Naeun mengangguk.

Seolah aku terlahir sebagai peony

Sinar bulan menerpa

Hamparan peony menengadah

Memancarkan sinar cinta pada rembulan

Bulan yang setia tersenyum hingga fajar menjemput

“Meski ia bilang itu bukan karyanya yang terbaik, aku tetap menganggap itu sangat manis untukku. Ia membacakannya saat kau masih tiga bulan berada dalam perut ibumu. Aku bersyukur sebagian kecil ruang otakku masih bisa menyimpannya. Dan aku baru menyadari apa yang ia maksud tentang fajar. Bagaimanapun juga meskipun tidak sejajar, matahari dan bulan seolah atasan dan bawahan. Matahari yang sering disebut raja langit mempunyai wakil yang akan menggantikan tugasnya. Bulan oleh ibumu diibaratkan aku sebagai suaminya, dan Matahari sebagai simbol Tuhan yang sebenarnya memiliki semua diantara kami. Meski bulan selalu menyinari peony bahkan sampai kapanpun ia inginkan, pagi pasti akan datang juga. Dan saat pagi menjemput, bulan harus dengan tersenyum merelakan peony menjadi pemiliknya. Kau mungkin tak tahu tentang itu, ibumu seolah merasakan bahwa apa yang ia curahkan dalam sajak itu memang akan terjadi. Dan aku harus tersenyum saat ia memang harus benar-benar pergi, seperti apa yang telah ia karang.” Rabi sedikit menekannkan kata-katanya. Ia menatap Naeun lalu meraba wajah gadis itu. Naeun yang merasa bahwa ia sangat beruntung memiliki Ayah seperti Rabi mulai meneteskan air mata. Dengan susah payah ia menghapus air matanya tetapi Rabi bisa merasakannya juga. “Apa Ayah menyesal karena sudah buta saat menyelamatkan ibu?” Rabi mengendurkan tangannya. Ia kembali duduk tegak dan menarik napas. “Ini adalah takdir Tuhan, Nak. Bagaimanapun itu aku akan berusaha tidak menyesali apapun yang ada dalam kehidupanku. Setidaknya aku beruntung mempunyai peony kecil sepertimu.”

***

Seluruh anggota keluarga Ezra termasuk Jiyi sedang menunggu kedatangan Naeun di pintu depan. Sejak pagi Madame Ezra tak henti-hentinya betapa bahagianya ia bisa tinggal serumah dengan Naeun. Ia berkata jika sore-sorenya nanti tak akan berubah menjadi membosankan seperti sore sebelumnya. Bahwa ia tak akan kesepian saat Ezra pergi beberapa hari. Madame Ezra tak kunjung berhenti dari kesenangannya.

Sebuah kereta memasuki halaman kemudian berhenti tepat di depan keluarga Ezra. Pintu terbuka kemudian Naeun keluar dari sana. Gadis itu tak pernah absen mengumbar senyum cantiknya. Madame Ezra yang begitu bergejolak, berlari menghampiri Naeun dan memeluknya. “Kami semua sangat senang menyambutmu, Nak.”

Naeun yang tampak ceria membalas pelukan Madame Ezra. Kedua matanya menatap El yang sepertinya sedikit canggung. Lalu Naeun mencoba menunduk kea rah Ezra dan mereka berjabat tangan. “Senang bisa menyambutmu, Nak.” Katanya.

Jiyi menghidangkan berbagai makanan juga minuman hangat di meja makan. Naeun langsung disambut seperti ‘keluarga’ setelah kedatangannya. Duduk di meja makan yang sama dan berceloteh seolah mereka memang keluarga dekat. Disamping Naeun duduk El yang semakin canggung. Mewakili rasa kikuknya, beberapa kali sendoknya berputar diatas cangkir tanpa berniat untuk minum.

“Ehm, bagaimana dengan Rabi?” tanya Madame Ezra kemudian. Naeun menggerakkan tangannya. “Aku sedikit berat melepasnya. Tetapi dia baik-baik saja dengan Lian yang merawatnya. Beberapa hari sekali aku akan menjenguknya.”

“Bukankah ada adikmu? Dia bisa merawat Ayahnya?” serobot Madame Ezra lagi. Naeun mendorong cangkirnya lebih dekat dan memandangi pantulan wajahnya dari permukaan. “Adikku tidak bisa dipercaya. Lian akan jauh lebih baik menjaganya. Tolong jangan khawatir.” Ia kembali menatap sorot wajahnya.

“Lalu kapan kalian menikah?” potong Madame Ezra. Seketika El tersedak yang waktu itu tengah mengunyah kue jahe. Pada saat itu juga Jiyi tengah menghidangkan sup hangat dan langsung menepuk punggung El. Membantu agar remah kue itu keluar dari kerongkongannya.

Naeun merasa serba salah. Ia juga tahu jika Madame Ezra terlalu melebih-lebihkan tentang pernikahan mereka. “Kita bisa bicarakan nanti. Bukankah Naeun baru tiba disini.” Ezra menengahi. Tatapannya seolah berkata ini bukan saatnya. Lalu Madame Ezra mencoba fokus pada makanannya.

***

Jiyi diperintah Madame Ezra untuk membawakan sarapan juga baki air ke kamar Naeun. Setelah mengantar sarapan El, gadis itu bergegas ke kamar Naeun yang tak jauh dari kamar Madame Ezra. Setelah yakin bahwa kamar Naeun sudah terang, Jiyi mengetuk beberapa kali lalu Naeun mempersilahkannya masuk.

Gadis itu terlalu cantik untuk tipe wanita baru bangun tidur. Bajunya sudah bersih dan rambutnya sudah disikat. Ia duduk di depan nakas sembari mengoleskan beberapa bedak saat Naeun menaruh sarapannya di meja. “Anda selalu bangun sepagi ini?” tanya Jiyi.

Naeun tak menatapnya. Ia tetap memolesi wajahnya dengan bedak. “Apa seluruh anggota keluarga tak bangun pagi. Aku sudah terbiasa seperti ini. Dan juga, jangan berbicara terlalu formal. Kita sebaya.”

Jiyi menimang segala tutur katanya. Lalu ia menjawab. “Maaf kalau begitu. Besok aku akan mengantar sarapanmu lebih pagi.”

Jiyi berniat pergi sebelum Naeun menahannya. Gadis itu berdalih ingin diantarkan ke taman belakang. Jiyi menyetujuinya. Setelah merapikan ranjang Naeun, Jiyi menuntun jalan Naeun menuju taman belakang. Sebelum tiba di taman belakang, Naeun terlebih dulu berhenti di depan kamar El. Pintunya terbuka, “Maaf, tapi Tuan Muda tak suka diganggu saat bangun tidur.” Kata-kata Jiyi melengos begitu saja. Membuat Naeun harus menurunkan tangannya dan mengurungkan niat untuk menemui El. “Tinggalkan aku. Aku bisa ke taman belakang sendiri.” Ucap Naeun lalu Jiyi meninggalkannya. Tanpa ada kontak matapun, Naeun terlihat tak nyaman berada di samping Jiyi.

***

Setelah sarapan pagi Naeun dan El berjalan-jalan disekitar rumah. El berusaha menjelaskan pada Naeun beberapa tempat yang berada disekeliling rumahnya. Jembatan dengan sungai kecil, pohon besar yang dulu sering digunakan El untuk bermain diwaktu kecil, hingga beberapa taman kecil didepan rumah-rumah tetangganya. Mereka berbicara berbagai hal tentang kesukaan dan hobi masing-masing. Saat El bertanya apakah Naeun suka menulis puisi, gadis itu menjawab tidak dengan malu-malu. “Aku tak pandai bersyair.”

“Padahal aku menyukai wanita dengan barisan kata.”

Mereka tak sengaja berjalan ke pasar. Melewati toko-toko yang salah satunya merupakan toko milik Kungchen, yang berarti rumah Suzy. El sengaja memperlambat langkahnya saat melewati toko itu. Sama seperti hari-hari sebelumnya, toko Kung Chen selalu ramai. Permadani dengan hiasan benang emas dan warna mencolok silih berganti dibawa orang-orang.

Naeun sibuk sendiri. Suasana pasar sedikit menjadi suasana baru darinya. Ia melihat berbagai pernak-pernik yang dijajakan disebuah toko kecil. Beberapa gelang dari biji-bijian kering menarik perhatiannya. “El, apa kau mau lihat ini?”. Mungkin ia kira El berada disampingnya, sedang tertawa atau memperhatikan. Tapi tidak, ia terlihat mencari mengamati sesuatu di depan toko karpet. “El?”

Dengan sedikit perasaan bersalah El menghampiri Naeun dan bertanya ‘Ada apa?’. Gadis itu tak marah dan langsung menyerahkan beberapa gelang pada El. “Pilihkan salah satu untukku?”

El tak banyak memilih. Ia mengambil salah satu gelang dari biji cemara lalu menyerahkannya pada Naeun. Gadis itu menerimanya dengan senang hati lalu membayarnya. Gelangnya ia kenakan saat itu juga. Dilihatkannya pada El tetapi pemuda itu tetap menatap kea rah toko karpet. “Apa yang kau lihat? Kau ingin membeli sesuatu di toko itu?” tanya Naeun. Sorot matanya mengarah ke toko yang makin sesak dengan pembeli. “Tidak. Aku akan membeli satu gelang lagi.”

***

Ketika sampai dirumah, hari mulai gelap. El dan Naeun langsung menuju ruang makan untuk makan malam. Madame Ezra terlihat senang melihat anaknya dan Naeun mulai akrab. Makanannya tak ia sentuh sama sekali. Ia terlalu sibuk memperhatikan kedua remaja itu dengan mata berbinar. “Berjalan-jalan?” tanyanya.

El yang tanpa ekspresi menarik kursi lalu duduk. Naeun yang terlihat lelah meminum teh tanpa menjawab. “Kami berjalan-jalan cukup lama. Mungkin kami lelah.” El mencoba menjelaskan.

Hari itu Jiyi diam di sudut ruangan untuk memperhatikan mereka makan. Mungkin memang tidak sopan, tetapi ia biasa melakukannya. Sebenarnya bukan karena mengawasi apakah ada yang kurang dengan hidangannya, tetapi karena ia terlampau penasaran dengan apa yang El lakukan dengan Naeun. Hanya sekedar jalan-jalan atau mereka telah menjalin hubungan yang lebih. Namun sesuatu yang membuat Jiyi khawatir adalah El terlihat sangat tidak bersemangat alih-alih lelah. Malah semua itu membuatnya sedikit lega.

 

Jiyi menyiapkan ranjang El sebelum pemuda itu tidur. El sendiri menatap langit malam di bawah jendela. Wajahnya dipiaskan sinar rembulan yang semakin membuatnya terlihat tampan dan manis. “Tidak ingin bercerita sesuatu?” tawar Jiyi. Gadis itu duduk di lanatai disamping El.

Tuannya sedikit susah bicara. El tetap menatap langit malam yang ditutupi beberapa awan. “Entahlah. Kedatangan Naeun hanya membuat bahagia salah satu sisi. Sisi lainnya justru bimbang.”

“Apa ini menyinggung anak gadis Kung Chen?” Jiyi membenarkan duduknya. Ia mendengar celoteh El dengan lebih siap. “Entahlah. Aku merasa seolah kami tidak bisa bertemu lagi. Aku belum pernah melihatnya. Toko Kung Chen selalu penuh.”

Jiyi teringat akan puisi yang ia tulis tempo hari. Yang ia tulis dengan tinta hitam malam buta. “Kau sangat ingin bertemu dengannya?”

El tertawa sengau dan ia turun dari kursi. Ia berjalan-jalan di sekitar ranjangnya. Tatapannya terlihat berfikir. “Aku tidak yakin. Tapi jika bisa, aku ingin bertemu dengannya sekali. Sebelum aku menikah.”

Mendengar kata menikah membuat hati Jiyi serasa mencelos. Kata-kata El serasa melubangi tepi hatinya yang sedang tidak seimbang. “Kau akan bertemu dengannya. Aku bisa jamin. Bahkan sebelum kalian menikah. Aku janji.”

***

Setelah memastikan El sudah tertidur, Jiyi berniat menuju kamarnya dan tidur. Beberapa tulang di lengannya merongrong pegal. Mungkin mandi dengan air hangat dan mencuci rambut adalah solusi yang tepat sebelum tidur. Saat melewati kamarnya ia melihat Naeun dibawah pohon belakang taman. Berjalan mondar-mandir dengan santai. Mungkin ia bersenandung kecil karena mulutnya terlihat bergerak. Gadis itu terlihat senang meski hanya ditemani sinar bulan. Rambutnya tergerai dan ia terihat cantik bahkan dengan intensitas cahaya yang minim.

Jiyi menghampirinya, berusaha mengingatkan jika angin malam tak baik untuknya. Saat Jiyi mendekat, Naeun menghentikan senandungnya. ‘Hai!” sapanya. Naeun saat pagi dan Naeun saat ini sungguh berbeda. Naeun saat ini lebih lembut dan terasa bersahabat. Ia tersenyum dan menyilahkan Jiyi mendekatinya. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jiyi.

Bukan menjawab, Naeun malah menatap bintang-bintang dan bulan yang terletak berjauhan. “Menurutmu mengama ada bintang yang terletak jauh dari bulan dan ada yang dekat dengan bulan?” lalu Jiyi mengawasi langit malang yang dihiasi sedikit bintang. Bulan terlihat sayup-sayup di balik awan. “Mungkin sudah tidak ada tempat lagi.”

Naeun menurunkan telunjuknya yang menunjuk bulan. “Jika begitu, apa menurutmu masih ada tempat untukku? Diantara bintang-bintang yang bahkan lebih terang sinarnya.”

Kata-kata Naeun seolah teka-teki diantara kotak. Jiyi mengerutkan dahi mencoba mengartikan kalimat itu. “Maksudmu?”

“Aku sedang merindukan keluargaku. Terutama Ayah. Oleh karena itulah aku disini dan bernyanyi. Bukankah kau bertanya itu sebelumnya?” Senyuman Naeun tertasa berbeda. Seolah ada penderitaan dan beban diantara lesung bibirnya. Jiyi memutuskan untuk tidak memancing pembicaraan lagi. Ia berpamitan pada Naeun lalu meninggalkannya sendirian. Tak lupa ia menyarankan Naeun untuk segera masuk. Lalu Naeun mengangguk. Suasana ini terasa bersahabat. Yang malah membuat Jiyi semakin bimbang.

 

Jiyi berendam air hangat dan mencuci rambutnya. Ia berfikir tentang dua orang itu. Yang masing-masing menagaku bimbang dengan jalan hidupnya. Satu sisi yang ingin bertemu dengan pujaan hatinya meskipun mustahil untuk bersatu. Dan satu sisi lagi yang tak yakin jika masih ada tempat di sela-sela sisi yang lain. Lalu masih pantaskah ia menengahi diantara para hati yang bimbang. Yang bahkan dirinya lebih bimbang lagi dari kedua hati itu. Jiyi memutuskan untuk tak menahan air matanya. Ia terus terisak dan air hangat menyapu air matanya. Saat air matanya terjatuh, ia memijat kelopak matanya, agar tak ada yang curiga bahwa ia telah menangis sepanjang malam. Terlebih lagi besok ia harus menemui Suzy untuk mengantarkan puisinya.

Tbc

Dorr! Ada yang kangen gak ya sama cerita ini? well, udah lama banget jaraknya chap ini sama chap 3. Maafkan-maafkan.

Kalo ada yang kerasa cerita ini terlalu menye-menye dan gak to the point juga kurang greget. Oke, akan aku ceritain masalahnya. Ujung masalah ini adalah golongan darah B yang gampang bosen, jujur aku udah bosen sama ini. Nama tokohnya sama adegannya udah hampir lupa. Alurnya juga udah meluber. Meski aku masih ada feel pas nulis ini tapi jadinya cuman cerita-cerita kosong yang menurutku kurang dapet intinya. Kerasa gak?

Tapi misi buat ngelanjutin ini cerita sampe end masih tetep joss. Tergantung gimana feedback readers nantinya. Dan aku mau ngasih pengumuman kalo chap selanjutnya, itupun kalo mau baca, bakalan aku password dulu. Ceritanya biar aku tahu seberapa banyak antusias readers terhadap cerita ini. Kalo ada yang bilang di password itu nyusahin pembaca, well, aku juga mikir gitu. Tapi balik lagi, aku cuma pengen liat seberapa besar keinginan readers buat baca ini. Terlepas dari siders sama yang komen itu berapa. Ini murni cuman mau ngetes.

Cara dapet passwordnya bisa pake Line atau KakaoTalk ya. Ini sosmed udah aku khususin buat tanya password, biar kepilah antara urusan pribadi sama maya. Atau kalo mau lebih gampang bisa di twitter, tapi mesti follow aku dulu trus aku DM. Agak ribet kayaknya. yah intinya kalo masih penasaran sama chap selanjutnya bisa mampir ke Line/KaTalk dengan id astriadhima

Mungkin chap selanjutnya di publish segera atau enggak beberapa hari atau minggu lagi. Selamat membaca dan terima kasih sudah sampai disini. Semoga kita laanjut! ppai~

54 responses to “[CHAPTER 4] A Thousand Years

  1. aaaaaaaa ini menurutku complicated banget buat jiyi>< kesiaaaann😦 suka sama el tapi kemungkinannya kecil banget malahan kaenya emang gaada kemungkinan buat bersatu😥 tapi semoga aja adalah😀 kekeke

  2. Pingback: [CHAPTER 5] A Thousand Years | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTER 5] A Thousand Years | High School Fanfiction·

  4. Uuh.. Kasian banget ma jiyi..
    Ngapain mau nolong el ma suzy segala.,
    Jiyi kayak udah mula suka ma jiyi..
    El nya gi mana??
    Nextnya ditunggu ya thor..
    Jinjja fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s