[Multichapter] The Heir’s Secretary [7A]

the heirs

arin yessy storyline & artposter

THE HEIR’S SECRETARY [7A]

1st | 2nd | 3rd | 4th | 5th | 6th

Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Kim Woobin

multichapter | romance, hurt/comfort | PG-17

.

.

.

Jiyeon meletakkan barang-barang yang di bawanya dari kantor di balik pintu apartemen yang ia tinggali. Matanya menerawang ke segala arah. Dengan langkah gontai gadis itu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas sofa malas.

Woobin yang keluar dari balik ruang makan menghampirinya dengan secangkir frappucino. Ia menyesapnya pelan-pelan dan menghampiri sahabatnya.

“kau pulang lebih awal?”

“hemm.. kau sendiri?” ujar gadis itu sambil melepaskan ikatan rambutnya.

“aku merindukanmu..”

Gadis itu tergelak pelan. Ia tahu woobinnya memang tak sedang bercanda. Tapi ayolah, mereka hanya tidak bertemu selama dua hari kebelakang. Tak sebanding dengan waktu yang dihabiskan laki-laki itu bersamanya.

“kalau begitu menginaplah di sini..”

Woobin mengerutkan kedua alisnya. Tumben sekali jiyeon yang memintanya, karena biasanya ia akan memaksa pada gadis itu untuk diijinkan menginap. Hingga tak ada alasan bagi jiyeon untuk menolak karena apartemen ini adalah milik sahabat karibnya itu.

“wae? Ada masalah di kantor?”

“yah… mungkin”

Gadis itu menghela nafasnya pelan. Ada sebuah kepenatan luar biasa yang tergambar dalam wajah cantiknya. Dan hal itu tak pernah luput dari penglihatan tajam woobin, hingga ia dapat menyimpulkan bahwa gadis yang duduk di hadapannya ini sedang tidak baik-baik saja.

“soal myungsoo??”

Jiyeon mengangguk pelan.

“kim jong suk memecatku”

“mworago???”

“dan identitasku sudah terbongkar olehnya,, dia benar-benar lihai.. laki-laki licik.”

Woobin menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia sangat mengkhawatirkan kondisi jiyeon saat ini.

Ia tahu persis jika kim jong suk akan melakukan sesuatu dan tidak akan melepaskan jiyeon begitu saja. Ia akan menyingkirkan semua orang yang mengetahui perihal peristiwa yang terjadi lima belas tahun silam. Dan jiyeon adalah satu-satunya saksi mata yang dapat membahayakan posisi laki-laki paruh baya itu.

Namun sebagai sahabat terbaik yang sangat mencintai gadis itu. ia akan bertindak sebelum kim jong suk mengambil langkah terlebih dahulu.

“dengarkan aku ji…” woobin meletakkan cangkir frapuccinonya dan membingkai wajah jiyeon menggunakan kedua telapak tangannya.

“kau harus pergi dari korea..”

“tapi kemana?? Aku tidak punya satu tempatpun untuk kutuju woobin-ah”

“jangan pikirkan soal itu, aku akan mengusahakan perjalanan luar negeri secepatnya untukmu”

Jiyeon tersenyum simpul. Di elusnya pelan rahang tegas woobin yang menjadi salah satu daya tarik lelaki ini.

“kau sudah begitu baik padaku woobin-ah.. izinkan aku untuk menghadapinya seorang diri kali ini”

“tolonglah ji,, ini bukan waktunya untuk bersikap keras kepala! Dengarkan saja aku”

Jiyeon menggelengkan kepalanya lemah. Ia sadar bahwa tak seharusnya ia melibatkan woobin dalam masalah pelik yang tengah ia alami. Sudah cukup rasanya selama ini sahabat terbaiknya itu terseret ke dalam arus konfliknya bersama kim jong suk. Ia tak akan bisa bernafas jika kali ini woobin kembali mempertaruhkan dirinya sendiri untuk melindungi sahabatnya.

Jiyeon tak se egois itu. woobin telah begitu baik kepadanya. Laki-laki itu adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan demi menggantikan anugerah lain yang pernah hadir di dalam hidupnya. Bagaimana bisa ia membahayakan nyawa woobin sedangkan hanya laki-laki itu yang jiyeon miliki di dunia ini.

“mianhae.. woobin-ah”

Woobin meninju lengan sofa dengan keras. Kepalanya menunduk dan nafasnya memburu. Sementara jiyeon menatap kosong ke arah sosok woobin yang berada di sampingnya. Gadis itu tahu betapa besar hasrat woobin untuk selalu melindunginya.

“tak bisakah kau mendengarkanku kali ini saja? Jiyeon-ah?”

Gadis itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Wajahnya nampak kelelahan dengan lingkar hitam yang terlihat cukup jelas berada di area kelopak matanya. Ia telah melalui banyak hal menyakitkan. Namun tak ada yang lebih menyakitkan dan membingungkan selain kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.

Dilain pihak, tak dipungkiri ada sebuah rasa takut luar biasa ketika kim jong suk berhasil membongkar identitasnya. Perasaan takut itu hidup berdampingan dengan rasa menyenangkan yang tak tertahankan ketika myungsoo mengatakan bahwa ia benar-benar mencintainya. Pula keinginan besar untuk tak melibatkan woobin dalam lingkaran konflik ini.

Sungguh rasanya sangat sulit berada di posisi seorang park jiyeon. Ia masih sangat keras kepala untuk mempertahankan upaya balas dendam terhadap kematian ayah dan ibunya yang didalangi oleh kim jong suk yang tak lain adalah ayah dari laki-laki yang berhasil mencuri hatinya, kim myungsoo.

Jika saja ada alat untuk mengosongkan pikiran secara permanen, jiyeon benar-benar tertarik untuk menggunakannya.

Ia ingin semuanya berjalan normal. Andai saja ia tak ada di tempat kejadian ketika laki-laki tua berengsek itu merenggut nyawa orang tuanya. Andai saja ia tak tahu apa-apa hingga gadis itu tak perlu memupuk dendam yang telah terlanjur mendarah daging dalam tubuhnya.

Andai saja ia tak bertemu kim myungsoo. Andai saja kehidupannya sama normalnya dengan kehidupan gadis biasa berumur dua puluh lima tahun.

Hssss…. yang dapat ia lakukan hanyalah berandai-andai dalam angan-angan yang semu. Dan semakin menyakitkan ketika mengetahui bahwa tak akan ada kesempatan hal itu akan terwujud.

Jiyeon hanya ingin mengembalikan kehidupan yang sesungguhnya.

Kenapa Tuhan seaakan menjauhkannya dari kebahagian? Laksana satu kata bahagia itu hanyalah seperti fatamorgana di landasan pacu. Seolah-lah ada namun kenyataannya tak ada.

Sampai kapan ia akan menjalani kehidupan seperti ini?

Hidupnya akan tetap seperti ini. Kebahagian yang ia impikan hanya akan menjadi sebatas fatamorgana. Kecuali jika ia melakukan sesuatu untuk berusaha mewujudkannya dari sekarang. Yah,, ia harus melakukannya sekarang.

“woobin-ah..” jiyeon menyentuh pelan pundak kiri woobin. Namun tak ada reaksi darinya. Laki-laki itu tetap membeku dalam posisinya semula, nampak masih berpikir dengan keras.

Jiyeon memangkas jarak di antara mereka, dan menyandarkan kepalanya di punggung hangat woobin yang berbalut sweater rajutan berwarna beige.

“aku ingin memiliki kehidupan yang bahagia woobin-ah.. aku ingin melupakan dendamku dan menganggap semua yang telah terjadi sebagai angin lalu…” jiyeon menghela nafasnya sebelum meneruskan kalimatnya.

“maukah kau membantuku?”

Woobin tergerak dengan keinginan sederhana yang diutarakan jiyeon barusan. Ia meraih tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan hangat tubuhnya.

Laki-laki itu sadar bahwa jiyeon tengah berkata dengan sungguh-sungguh mengenai hal ini. Sungguh ia pun telah muak melihat wajah menyedihkan sahabatnya itu setiap kali mereka bertemu.

Tukang bohong! Selalu saja jiyeon berkata bahwa ia baik-baik saja. Bibir mungilnya mungkin lihai dalam berucap kebohongan demi kebohongan. Namun tidak dengan sorot mata seperti itu. woobin terlalu mengenalnya. Ia dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa gadis itu tak pernah baik-baik saja.

“kau mau membantuku kan?” jiyeon mengalungkan lengannya di leher woobin. Sementara wangi tubuh woobin beraroma citrus dan mint yang terkesan maskulin dapat ia cium dengan sangat jelas. Begitu menyenangkan dan menenangkan.

“tentu saja.. aku akan melakukan apapun untukmu jiyeon-ah”

“apapun??” jiyeon menatap lekat-lekat kedua manik mata cokelat itu. ia menarik sebelah alisnya.

“apapun…”

Gadis itu nampak berpikir sejenak. Hanya beberapa detik, sebuah senyuman terlukis di bibir merahnya.

“then…. kiss me..”

“mwo?” bisik woobin sedikit terhenyak tak percaya dengan apa yang sedang gadis itu coba utarakan.

“ya.. cium aku..”

Tak ada reaksi yang didapatkannya, Jiyeon mulai meraba-raba tengkuk woobin dan menariknya perlahan untuk memangkas jarak di antara mereka berdua.

Ia sengaja menyandarkan tubuhnya di punggung sofa ketika woobin memberikan reaksi menyudutkan.

Dikecupnya perlahan bibir tebal milik sahabat lelakinya itu. sedikit tersentak, namun woobin tak dapat memungkiri bahwa ia menyukai apa yang dilakukan jiyeon kepadanya.

Kali ini kecupan-kecupan aneh yang saling mereka berikan itu terasa lebih hangat, dalam, dan bergairah.

Dinginnya udara malam menembus gordyn gordyn putih yang tersingkap dari balik balkon semakin menambah daya pikat sang malam. Bulan sabit seakan tersenyum dan turut berdoa untuk kebahagiaan yang akan jiyeon dapatkan di kehidupannya.

.

.

.

Gadis berparas ayu itu mengerjapkan beberapa kali kelopak matanya yang masih terasa sangat berat. Merasakan hangatnya cahaya mentari pagi menembus ruang-ruang dalam kamar tidurnya.

Ia menggeliat sebentar dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal.

Diliriknya laki-laki yang masih nampak tertidur dengan sangat pulas di sisinya. Dari sini, wajahnya terlihat sangat tampan bak seorang malaikat. Gabriel, malaikat pemberi kabar baik… seperti itulah kiranya sosok woobin dalam kehidupan seorang Park Jiyeon.

Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu woobin yang terbuka. Dikecupnya pelan puncak kepala laki-laki itu dan kembali ia merapatkan selimut dan bergelung di dalam pelukan woobin.

Sedikit terganggu, laki-laki tampan itu menggerakkan pelan kepalanya dan meleguh. Ia tersenyum hangat ke arah jiyeon yang tengah menatap manik matanya lekat-lekat.

“mianhae…” ada nada penyesalan dalam sepatah kata yang diucapkannya.

Seharusnya ia tak melakukan hal tidak pantas ini pada sahabatnya sendiri. Entahlah ia merasa kemarin malam bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Dorongan itu begitu kuat dan ia benar-benar tak sanggup menolak ketika ciuman yang diberikan jiyeon semakin dalam dan dalam.

Tak dipungkiri ia menginginkannya. Namun tidak dengan cara seperti ini. Tidak ketika relung hati jiyeon masih terisi dengan nama kim myungsoo.

Bodoh memang! Woobin memang sangat bodoh. Ia terlalu menyayangi gadis itu hingga tak mampu lagi membedakan batas antara rasa iba, sayang, dan cinta. Ia terlalu lama bersembunyi dalam kedok dan dinding kokoh yang bernama persahabatan. Hingga entah sejak kapan rasa itu hadir. Debaran itu, nafas yang memburu.

Seakan-akan ciuman dan sentuhan-sentuhan itu laksana oase diatas padang pasir tandus. Menyiram hatinya yang gersang dengan air paling sejuk di dunia.

Seperti itulah yang woobin rasakan.

“gwenchana, aku memang menginginkannya..” jiyeon tersenyum dan menyentuh rahang tegas laki-laki itu. Dan gadis itu memang tidak sedang berbohong dengan kata-kata yang diujarkannya.

Ia memang menginginkan ini. Ingin sekali ia mengetahui siapa sebenarnya sosok woobin. Apa posisi sahabatnya itu dalam relung hatinya.

Rasanya….. jika ia bisa, saat ini juga ia ingin menggeser posisi myungsoo dan mempatri dalam-dalam nama seorang Kim Woobin dalam tiap inchi ruang-ruang hatinya.

“aku tidak menyesal jika kau yang melakukannya”

Woobin menyibakkan helai demi helai rambut yang menutupi wajah cantik jiyeon.

Perkataan gadis itu benar-benar menyejukkan jiwanya. Seakan satu kalimat itu adalah kalimat paling indah yang pernah ia dengar.

Senyuman terlukis melalui kedua sudut bibirnya.

Woobin mempererat rengkuhannya pada tubuh polos gadis itu dalam selimut tebal yang mereka pakai. Dikecupnya dengan lembut bibir merah itu.

“woobin-ah,, apa yang harus kulakukan sekarang?” gadis itu menunjukkan raut wajah murungnya.

Bukan! Jiyeon tidak sedang membicarakan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah mereka tidur bersama. Ia memikirkan tentang hidupnya yang menyedihkan dan cara untuk memulai segalanya dari awal.

“aku ingin meninggalkan semuanya dan memulai hidup yang baru”

Woobin menghela nafasnya. Ia tahu jiyeon tak pernah dalam keadaan yang dapat dikatakan baik-baik saja. Hidup gadis itu sudah cukup rumit dan membuatnya tertekan. Tentang rencana balas dendam yang gagal juga cinta yang tak diinginkan datangnya.

Dan ia, sebagai satu-satunya manusia yang dekat dengannya. Woobin hanya mampu memberinya materi tanpa benar-benar membantunya.ia hanya meminta gadis itu berkali-kali untuk terus bertahan. Dan ketika pertahanan itu runtuh seperti saat ini, ia akan sigap meraih jiyeon ke dalam pelukannya.

“temui myungsoo dan bicaralah.. katakan yang sebenarnya”

“haruskah aku melakukannya? Aku benar-benar tak ingin menemuinya sekarang”

“kau harus.. semakin lama kau menundanya, semakin lama pula kau akan memiliki kehidupan yang kau inginkan”

Jiyeon nampak memikirkan betul betul apa yang woobin katakan padanya. Dalam hati ia mengiyakan perkataan laki-laki itu. Woobin selalu bijaksana, untuk itu setiap keputusan yang ia ambil hampir selalu tepat. Dan jiyeon, tak diragukan lagi siapa satu-satunya orang yang ia percaya di dunia ini.

“baiklah, aku akan menemuinya”

“kalau begitu.. aku akan memberinya kabar”

Woobin hendak meraih smartphone miliknya yang sengaja di letakkan di atas nakas. Namun jiyeon menghentikan pergerakan tangannya.

“wae?”

“bisakah kau melakukannya nanti saja?”

“baik—lah”

Jiyeon memutar bola matanya menerawang setiap sisi kamar tidurnya dalam apartement yang diberikan woobin untuknya.

“woobin-ah… bagaimana perasaanmu padaku?”

“maksud—mu?”

“apakah aku hanya sekedar sahabat untukmu?? Atau yang lainnya?”

Woobin tersenyum. Dalam hati, ia telah menantikan saat-saat seperti ini. Dimana jiyeon mulai mempertanyakan posisinya dalam hati seorang Kim Woobin.

“kau…. adalah segalanya jiyeon-ah.. mungkin terdengar sangat picisan, tapi aku berkata yang sebenarnya..” woobin nampak berpikir sejenak.

“apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya padamu?”

Jiyeon mengangguk antusias. Entah kenapa hatinya berdebar menantikan jawaban yang akan ditolantarkan oleh laki-laki itu.

“aku tahu kau menyukai myungsoo, aneh rasanya karena aku merasa dadaku sangat sakit ketika mengetahuinya.. tapi aku juga tak ingin memisahkanmu darinya, aku hanya ingin kau bahagia”

“bagaimana jika aku bahagia ketika bersamamu?”

“itu—— akan sangat bagus”

Mendadak woobin merasa luar biasa canggung. Jantungnya berdebar beberapa kali lebih cepat, dan mungkin jiyeon dapat merasakannya sekarang. Tubuh mereka nyaris bertautan dan mustahil jiyeon tak mendengarkan suara gemuruh di dalam dadanya itu.

“kau mencintaiku kan?”

Woobin menghela nafasnya.

“sebenarnya apa maksudmu mengatakan ini?”

Jiyeon tesenyum simpul. Ia menelangkupkan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah tampan woobin. Menatap lekat-lekat kedua manik mata cokelat kayu itu. Dan terkahir mengecup dengan lembut bibir tebal di hadapannya.

“aku akan belajar mencintaimu, dan aku bisa melakukannya”

Woobin mengerutkan kedua alisnya. Mungkin sedikit banyak ia mulai mengerti apa yang sedang jiyeon coba utarakan.

“jiyeon-ah,, maukah kau menikah denganku?”

.

.

.

TBC

15 responses to “[Multichapter] The Heir’s Secretary [7A]

  1. Mau dong, jiyeon mauuuuu….

    Hahai, aku baca ff ini ngebut thor dalam sehari, bru tau abisnya, jd maaf bru menumpahkan komen aku di part ini.. Lol..
    keren2 kata2nya bagus, bikin aku suka bacanyaa.. Mirip2 kaya lg baca novel..

    Soal kopel, aku lebih suka jiyeon dan wobin, habis dia tulus dan baik bgt.. Myungsoo juga sih, tp.. Hm terserah author aja deh, yg penting akhirnya happy ending buat semua yaa..

    Dtgu banget kelanjutannya thor
    Good luck

  2. aaahhh .. sbenernya gmn prasaan jiyeon sbenernyaaa… deuh greget deh.. tp klo jiyeon nikah sma woobin gk pa” .. krn slama ini yg slalu disisi jiyeon itu woobin.. tp bagaimna pun aku msh berharap myungyeon ^^ .. *plinplanBanget kekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s