(One shoot) Rivalry of two brothers

ijdis

TITLE : Rivalry of the brothers

MAIN CAST :

  • Park Jiyeon (t-ara)
  • Choi Minho (shinee)
  • kim Myungsoo (L) aka Choi Myungsoo (Infinite)

SUPPORT CAST:

  • Jung soojung aka Krystal F(X)

Chameo : Bae SUzy
LENGHT : chapter
GENRE : happy anding, Comedian,
RATING : General
AURTHO : Park ji ah
POSTER : JIa

“lama gak posting di HSF, maaf ya Aurtho nim gkgkkg, One shot datang mianhe kecepetan alurnya, makasih yang udh comen dan parti sipasinya, seblumnya ini pernah au posting di WP pribadiku PJA Production

Gak Typo gak Gaul

Seorang namja tengah duduk di ruangtamu miliknya, ia hanya diam sambil memainkan bibirnya, beberapa kali dirinya mengacak acak rambutnya frustasi, menjambak bahkan memukul sofa di sebelahnya dengan genggaman tanganya

Boanya?” Tanya seorang yang baru tiba menatap anah namja itu

Waeso?”

Wae ghure?” Tanya Namja itu lalu ikut duduk di salah satu sofa disana

Hyung kali ini aku benar-benar membutuhkan bantuan” pinta namja itu

“aiss, pasti ada sesuatu tidak beres,” tebak namja satu lagi merasa heran dengan dongsaeng satu kandungnya itu, bagaimana tidak memanggilnya Hyung itu adalah kelangkaan untuk Namja itu, pasalnya mereka hanya terpaut satu tahun saja umurnya,anio tepatnya 9 bulan dan adiknya itu tidak mau memanggilnya Hyung karena mereka hanya terpaut setahun aneh memang walau bagaimanapun tetap saja dia dongsaeng

“kau tidak mau membantu, dongsaeng mu ini?” Tanya Namja itu penuh dengan berbinar binar

“tergantung”

“aku anggap jawabanmu itu ‘Ya’ Hyung hanya kau yang bisa membantuku, jeball” rengek manja Dongsaengnya itu

“hmm, Mhare

“Kau harus balaskan sakit hatiku Hyung”

“heh, Shiro, kali ini aku tidak mau, siapa lagi Myungsoo, dan sejak kapan kau sakit hati, selama ini kau kan hanya main main saja”

“ahh Hyung, hanya kau yang bisa menolongku, Jeball” rengek Myungsoo pada Hyungnya itu

“Anio, siro

“aku akan jelaskan pada JIyeon, janji kali ini saja”

anio, waktu itu saja hubunganku hampir di ujung tanduk , kali ini aku tidak mau”

“ayolah Hyung

Siro

Hyung” rengek Myungsoo

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tegur seorang Yeoja yang sedang membawa penuh kantong sayuran di tanganya

“Jiyeon-ahhh” Myungsoo menghampiri Yeoja yang sedang menatap kedua kakak bradik itu “aku memintak bantuanmu Ne” ucap Myungsoo menatap penuh harap pada Jiyeon

“untuk apa?” Tanya Jiyeon heran

“Minho Hyung mendekati Yeojachinguiku”

MHORAGO” teriak Jiyeon pada namja dihadapanya itu

Jeball” Myungsoo memohon pada Jiyeon

Anio, cari namja lain saja, Kau ingin mati ditanganku hah?” bentak Jiyeon kesal pada Myungsoo

“kali ini saja”

“Yak, Jika kau ada masalah dengan Yeoja mu kau selesaikan saja sendiri” kesal Jiyeon

“ais, ya sudah jika kau tidak mengijinkan Minho membantuku, akupun tiak mau merestui kalian berdua menikah”

“terserah kau, akupun tidak ingin menikah Muda, ini” Jiyeon memberikan barang belanjaanya pada Myungsoo “kalian masak saja sendirian, kalian pikir aku pembantu hah” kesal Jiyeon lalu meninggalkan Kediaman Keluarga Choi yang hanya di huni Kakak beradik itu

“yak Chagi-ah” teriak Minho “Neo” tunjuk Minho pada Myungsoo

Boya, kau marah, akupun berhak menentang kalian, lagi pula, Jiyeon itu yeojachinguiku dahulu sebelum kau rebut” jawab Myungsoo sewot

“Hey, catat kalian belum jadian ok jadi itu masih hak milik umum” Minho tidak mau kalah “ais Neo” kesal Minho lalu meninggalkan Myungsoo yang marah marah sendiri

Ok mari kita perkenalkan disini.

‘Choi Minho’ dia anak pertama dari keluarga ‘Choi’ kelahiran tahun 91, dan dia harus memiliki dongsaeng di umurnya 9 bulan itu berarti dia belum setahun karena ‘Myungsoo’ lahir premature, dan itu karena keteledoran eomma dan appanya yang membuat adik tidak di perhitungkan dahulu. Mereka itu memang sedari kecil tidak pernah bisa satu pendapat, sealalu bersaing dalam bidang apapun, yah sudah 2 tahun ini mereka jarang bertengkar, mungkin hanya perdebatan kecil saja di antara mereka, hidup hanya berdua di ‘Korea’ karena eomma dan appanya lebih menyukai kehidupan luar negri. Sama sama tampan dan sama sama menyebalkan itu menurut ‘JIyeon’. ‘Park Jiyeon’ dia itu sebenarnya adik kelas Myungsoo sedari Sekolah menengah Atas, karena dia dan Minho yang tidak pernah akur mereka memilih bersekolah berbeda, namun saat kuliah, karena JIyeon ingin memasuki ‘Konkuk’ Myungsoo mau tidak mau ikut masuk ke Universitas Hyungnya itu, di tahun pertama, Myungsoo dan Minho mempunyai kopetinsi berat karena keduanya sama sama tidak mau mengalah dalam bidang apapun, Olah raga, akademik maupun Yeoja, hingga Jiyeon memasuki ‘Konkuk’ membuat Myungsoo sedikit melonggarkan harinya yang penuh persaingan dengan Minho itu

Flasback

“apa ada sumbae yang kau sukai disini?“ Tanya Myungsoo

“kenapa?” Tanya Jiyeon heran

“siapa tahu saja ada! siapa tahu namja itu aku” ucap Myungsoo PD

“iss, kau itu bukan kriteriaku” cletuk Jiyeon

“lalu kriteriamu itu seperti apa?” Tanya Myungsoo

“Jelek, dan sayang padaku”

Boanya, Kriteria apa itu” Tanya kesal Myungsoo

“kau terlalu tampan masuk kriteriaku, aku tidak menyukai an mattsita (Jelek untuk cwo), karena hanya bisa menyakitiku saja, jika aku berpacaran dengan namja jelek tidak ada yang menggangunya, dan dia pasti hanya tertuju padaku dan sayang sepenuhnya padaku” ucap enteng JIyeon

“ais, neo, tidak mungkin kau menyukai namja jelek” kesal Myungsoo “apa kurangnya aku” gumam namja tampan itu “bagaimana jika berpacaran denganku saja?” tembak Myungsoo

“aku tidak mau”

Wae?”

“sudah aku bilang kau terlalu jalsaeungkida (Tampan)

“itu bukan alasan untuk menolakku” kesal Myungsoo lagi

“itu hakku menolakmu kau ini aneh sekali, jangan-jangan kau benar benar menyukaiku ya?” tebak JIyeon dan tentu saja benar, lalu selama ini perhatian namja ini padamu kau anggap apa Park Jiyeon jinja neo paboya

“jika tidak kenapa aku menyatakan perasaanku tadi”

“aku pikir kau hanya main main saja, kaukan sering bercanda”

“yak kau tidak bisa membedakan bercanda dan serius ya? Aku benar benar menyukaimu, ayolah pacaran padaku” rengek Myungsoo

“tidak mau”

“masih menolakku juga, lalu bagaimana caranya kau menjadi pacarku?”

“buat saja aku jatuh cinta padamu” cuek Jiyeon

Gure, aku setuju, jadi jika kau sudah jatuh cinta padaku kau harus mau pacaran denganku”

“itu terserah aku”

“yak, Yakso (janji)” Myungsoo memaksa Jiyeon mengulurkan jari kelingkingnya

ok ok, Yakso

“asaaa,, jadi kita berciuman boleh ya”

MHO, anio, itu tidak masuk dalam perjanjian, kau hanya boleh mengajakku berkencan gandengan tidak untuk ciuman OK” marah Jiyeon

“kan dari berciuman kau bisa jatuh cinta padaku”

“Tidak bisa, tampa itu ok”

“is kau ini, tidak asik”

-o0o-

Begitu perjanjian terjadi, dan selama itu setiap hari Myungsoo mengajaknya berkencan dan setiap detiknya mengajak Jiyeon bersama, hingga membuat Minho curiga kenapa dongsaengnya itu tidak muncul di hadapanya bahkan nilainya turun drastis karena tidak pernah masuk mata kuliah, karena kesal dirinya mendapatkan teguran dan dipanggil sebagai wali Myungsoo, Minho menghampiri Dongsaengnya itu yang sedang bercanda dengan seorang yeoja di kantin Kampus

“Yak” tegur Minho kesal sambil melempar berkas berkar kelakuan Myungsoo

Boya” tanggap Myungsoo

“kau ingin membuatku mati kesal karenamu hah?” Tanya Minho kesal “urusi kuliahmu, apa yang kau lakukan selama 3 bulan ini, jinja, jika eomma dan appa disini tak masalah mereka yang menghadapimu, aku ini walimu disini” kesal Minho pada Myungsoo yang di nasehati malah menirukan cara Minho berbicara “YAK dengarkan aku jika bicara” bentak Minho membuat yeoja yang bersama Myungsoo tersentak terkejut

“Yak ‘Choi Minho’, kau membuatnya terkejut Pabo” marah Myungsoo

Chosoheo, aku hanya ada perlu denganya” ucap Minho memintak maaf lalu menggeret kerah dongsaengnya itu menjauh

“yak lepaskan aku, yak, aku belum selesai bicara pada Yeojaku” teriak Myungsoo merajalela yang tidak didengar sama sekali oleh Minho

“mereka selalu saja bertengkar” bisik bisik para siswi yang ada di kantin itu memicu penaaran JIyeon

“memang mereka ada hubungan apa?” Tanya Jiyeon

“aku tidak yakin mengatakanya, menurut data mereka itu kakak beradik namun menurut cara berinteraksi mereka aku meragukan itu, bahkan mereka itu pesaing handal, kau kan dekat dengan Myungsoo kenapa kau tidak tahu”

“aku memang dekat tapi aku tidak harus tahu semuanya bukan?” Tanya Jiyeon

“kau benar, Neo Nugunya?” Tanya Yeoja itu

“Jiyeon, Neo

“Soojung, kau bisa memanggilku Krystal”

“kau tingkat berapa?” Tanya Jiyeon

“pertama”

“wah Nado

“jurusan apa?” Tanya keduanya bersamaan lalu tertawa

“aku ‘Desainer’” jawab Jiyeon memberitahukan lebih dahulu

nado, kau kelas A atau C, aku klas B”

“A”

“wah ,, ternyata kita satu jurusan”

“iya, hehehe”

-o0o-

Setelah kejadian itu, Myungsoo memang jarang menemui Jiyeon karena kuliahnya yang harus ia bayar, dan ia harus menyutuk Hyungnya itu karenanya dia tidak bisa bersama Jiyeon untuk beberapa minggu

“Jiyeoni, ayo kita berkencan hari ini” ajak Myungsoo saat dirinya sudah ada di sebelah Jiyeon pulang kuliah

Mianhe aku ada janji dengan Chinguku”

Chingu, Nugu? Namja,Yeoja?”

yeoja, dia anak ‘Desainer’ kelas B, aku duluan Ne Oppa anyeong

“yak,, aku ikut” teriak Myungsoo mengekor

Minho berlari di lapangan kampus, hari ini pelajaran Olah raga, dan dia sangat menyukai itu, walau dirinya salah mengambil jurusan seharusnya dirinya menjadi atlit atau apapun yang berhubungan dengan olah raga, karena dia memang pintar dalam bidang banyak olah raga namun karena Prusahaan appanya yang harus ia pegang sebagai putra pertama dirinya harus memasuki dunia bisnis dan hanya seminggu sekali ada jam olah raga di klasnya

Minho memulai pemanasan, airphone selalu menemaninya di telinganya sambil memutari lapangan olah raga, beberapa temanya ada yang hanya melakukan gerakan kecil, ada yang bermain golf adapula yang bermain sepak bola, banyak yang melakukan kegiatan disana, namun hanya dirinya yang melakukan lari disana, ia sangat menikmati setiap tetes kringat yang menetes di pelipisnya, bahkan bajunya sudah berbekas kringat disana, Jiyeon yang tampa sengaja melewati lapangan olah raga melihat Minho lari dengan santai didekat pagar berjaring, Jiyeon terpesona dengan itu, dia hanya terdiam sambil melihati Minho yang terus menjauh.

“hey, kau tidak mendengarku?” Tanya Krystal pada Jiyeon

“oh,, heheh,,, sampai mana kita tadi?” Tanya Jiyeon

“sampai kau mengacuhkanku “

mianhe, Otte Uri mogheo?”

Neo yang teraktir”

arraso” Jiyeon dan Krystal berjalan terus menuju kedai makanan yang dekat dengan lapangan olah raga Konkuk

-o0o-

“kau ini kenapa?” Tanya Krystal heran karena Jiyeon hanya senyum senyum sambil menatap atas kosong seperti mengkhayal “yak Park Jiyeon”

“eh,, hehe”

“Neo waegure?”

“kau tahu, namja yang kau sebut Hyung Myungsoo itu?” Tanya Jiyeon

“hmm, Ahh solma!! neo Choahe ne?” tebak Krystal

“saat dia menghampiri Myungsoo oppa, dia terlihat sangat Cool dan dingin, tadi aku melihatnya sedang berolah raga, dia sangat keren hanya melihatnya kilas tadi mampu membuat jantungku berdetak keras dan nafasku sesak” jujur Jiyeon

“tapi dia itu banyak Yeoja

Na Arrayo, aku hanya mengaguminya saja, “ ucap Jiyeon

“tapi caramu dan tingkahlakumu seperti orang yang sedang kasmaran tahu”

“apa terlihat seperti itu?” Tanya Jiyeon

“yah”

“janga dekati Minho itu!!” Myungsoo yang mendengar langsung duduk di sebelah Jiyeon lalu memakan makanan JIyeon yang masih utuh itu

“bukan urusanmu”

“yak kau bilang kau tidak menyukai Namja tampan, bukan berarti aku mengakuinya tampan, masih tampan aku” ucap Myungsoo membanggakan dirinya

“aeis dia narsis lagi” gumama Krystal yang tidak betah dengan kenarsisan Myungsoo jika dihadapan Jiyeon

“wae, kau tidak suka, sana pergi” usir Myungsoo pada Krystal

“hey, jika aku bisa pergi aku akan pergi, tapi aku bersama Jiyeon dahulu, seharunya kau yang pergi, dasar pengganggu” kesal Krystal

Neo Jinja, yak !!“

“eiss, bertengkar lagi, aku akan menikahkan kalian” ucap Jiyeon

Morago, aku tidak akan sudi menikah denganya” ucap Krystal

“Nado”

“tapi kalian terlihat lucu jika menikah, pasti anak kalian tampan dan cantik” Jiyeon mulai mengkhayal lagi

“Hentikan bayanganmu itu” teriak Krystal dan Myungsoo pada Jiyeon

“aiss, kompak sekali” Jiyeon tersenyum melihat keduanya

“hey, Jiyeon aku serius kau jangan jatuh cinta pada Minho karena aku tidak akan terima itu” Myungsoo mulai pembicaraanya “dia itu namja tidak baik, dia playboy, dia juga tidak penyayang seperti kriteriamu, hanya aku yang menyayangimu,” ucap Myungsoo

“yak, lagi pula siapa yang naksir dia, aku hanya mengaguminya saja” ucap Jiyeon

“tapi kau tadi bilang, jantung berdetak nafas sesak, apa itu, lalu saat denganku bagaimana ?” Tanya Myungsoo

“biasa saja,”

“walaupun sedekat ini?” Tanya Myungsoo mencondongkan tubuhnya 5cm di depan wajah Jiyeon

‘’ hey kau ingin mati” tegur Jiyeon dengan wajah horornya

“apa kau tidak berdetak atau merasakan sesuatu yang membuat nafasmu sesak”

“eis, “ Jiyeon hanya memicingkan matanya

“aku tahu Minho, dia itu benar benar tidak baik untuk menjadi suamimu atau namja yang kau cintai”

“diamlah kau crewet”

-o0o-

Ternyata tuhan berkata lain dan tidak berpihak pada Myungsoo di tahun ke 4 Jiyeon menuju akhir kuliahnya, dan di tahun pertama Minho memegang perusahan resmi setelah menyelesaikan Kuliah S2 singkatnya, Jiyeon di pertemukan lagi pada Minho saat ada pengenalan bisnis, Minho yang memegang perusaahan harus menerima siswa magang di perusaahaanya, dan Myungsoo yang sebagai manajer perusahaan itu cukup senang, walau ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dia senang Jiyeon akan selalu ia lihat di setiap detiknya, namun pesaraanya pada Jiyeon sudah berbeda karena terlalu lelah mengejar Yeoja itu Myungsoo beberapa kali berkencan seperti Dayeon, Ahreum, dan Hwayeon yang terakhir kali ia kencani. Jiyeon tidak mempermasalahkan itu karena dirinya memang tidak memiliki perasaan apapun pada putra kedua Choi itu

“hey kau benar tidak mau jadi pacarku?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon lagi di jam istirahat kantornya

“tidak”

“kau masih menyukai bosku?” Tanya Myungsoo tidak mau menyebut namanya

“itu hanya perasaan kagum dahulu” jelas JIyeon

“benar?”

“iya”

“jadi aku mempunyai kesempatan lagi bersamamu ya?”

“tidak juga,”

“iss, kau ini, beri kesempatan padaku” pintak Myungsoo

Jiyeon tidak menjawab, dia hanya terdiam, benar dia hanya mengagumi Minho, tapi tadi saat bertemu dengan pimpinan perusahaan ini dia berdetak lagi’ batin Jiyeon nafanyapun sesak lagi, ia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu, namun Minho itu namja yang berhasil membuatnya seperti ini, seperti bingung sendiri dengan perasaanya, bahkan bingung dengan semuanya, Jiyeo memegang dadanya, lalu menanggapi beberapa pertanyaan Myungsoo yang tidak ia jawab tadi

-o0o-

Myungsoo duduk dihadapan Minho, kedua namja itu sedang menikmati makananya, Myungsoo yang tidak tahan akhirnya bertanya pada Minho yang selalau mendiaminya sekarang

“yak, apa dirumah ini sudah tidak ada penghuninya?” Tanya Myungsoo

“kenapa kau? Seperti biasanyapun tidak ada suara” tanggap Minho

“yak Minho, kau itu sudah tua…”

“hey usiaku dan dirimu hanya terpaut 9 bulan pabo, dan berarti kaupun tua” ucap Minho menanggapi

“aku bosan melihatmu sendirian, cepat cari yeoja untuk kau kencani, kau masih normal bukan?” Tanya Myungsoo

“apa urusanmu, kemarin waktu aku berkencan kau mengomel karena aku selalu berkencan, sekarang aku tidak berkencan kau mengomel juga, yak maksudmu apa”

“yak Minho, kau berkencan sih berkencan namun tidak setiap mingu kau ganti pasangan, aku itu benar benar playboy, contohlah dongsaengmu yang tampan ini” bangga Myungsoo menunjuk dirinya

“itu terserah aku, aku ingin berkencan atau tidak, kau ini cerewet sekali”

“aku rasa kau benar benar tidak normal, maksudku menikah”

“aku masih muda tidak ada pikiran menikah”

“jika itu berkencan saja, aku bosan melihatmu hanya dirumah”

“apa urusanmu, urusi saja dirimu, kenapa tiba tiba mengganguku “

“karena aku bosan memakan masakan luar”

“yak kau yang selalu mencari masalah pada pembantu rumah tangga kita, maka dari itu mereka pergi”

“itu karena masakan mereak tidak enak” keluh Myungsoo

“ya sudah kau saja yang cari pembantu”

“tapi kau janji tidak menyukainya jika aku mencari pembantu”

“memangnya secantik apa dia sampai aku menyukainya” gumam Minho

“dia sangat cantik”

“terserah kau”

-o0o-

Pagi hari Minho, bangun ia Nampak kehausan, dan turun dari kamarnya untuk mengambil minuman, sambil terpejam matanya Minho membuka Kulkas dan mengambil airputih disana, namun samar samar penciumanya mencium aroma masakan yang sangat lezat, ia membuka matanya, dan mentapati seorang yeoja berambut panjang hitam tengah memunggunginya, ia membuka matanya lebar

Nugu? Hantu?” Tanya Minho berdiri seperti patung, yeoja itu membalikan tubuhnya, dan

‘Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa’ teriak yeoja itu sambil menutup matanya bagaimana tidak Minho sedang tidak mengunakan baju hanya celana pendek tidurnya

“aiss, kenapa kau berte..riiiiiiiiiiak” ucap Myungsoo “Yak Minho, kenapa kau keluar tidak menggunakan baju” marah Myungsoo

“yak ini siapa?” tunjuk Minho pada yeoja yang menutup matanya itu

“itu tukang masak kita sekarang”

“Mho, sejak kapan kau memesanya?” Tanya Minho heran

“setelah kau menyetujuinya semalam aku kerumahnya, hanya masakanya yang terenak menurutku” ucap Myungsoo “oh iya, dia itu hanya memasak, dan kau harus membayarnya dua kalilipat gaji para pelayan yang ada, dan kerjanya hanya masak saja, dia hanya datang saat jam masaknya saja” Myungsoo memberitahukanya

“hey, kau saja yang bayar, kaukan yang cari” kesal Minho

“kau itu banyak uang kau saja” “dan lagi, awas saja kau mengganggunya, dan masuk pakai bajumu”

“is”

Minho menaiki tangga dan masuk kekamarnya

6.30

Myungsoo dan Minho serta tukang masak baru mereka makan bersama

“sepertinya aku pernah melihatnya” Tanya Minho

“dia magang diperusahaan kita” Myungsoo memberitahukan

“kenapa kau mau menerima pekerjaan ini?” Tanya Minho pada JIyeon yah yeoja itu Jiyeon

“dia memaksaku, dan karena gajinya tinggi aku menyetuuinya” jawab enteng Jiyeon sambil menunjuk Myungsoo

“siapa namamu?” Tanya Minho

“yak kenapa kau menanyakan namanya, kau meyukainya?” kesal Myungsoo

“hey anak bodoh, aku harus memanggilnya apa jika aku tidak tahu namanya” kesal Minho menjawab

“ternyata dia memang bodoh” gumam Jiyeon mengumpat Myungsoo

“kau benar dia memang bodoh” Minho setuju dengan umpatan Jiyeon yang terdengar ditelinganya

“yak kalian berdua sengaja memusuhiku” kesal Myungsoo

“Anio” jawab mereka serempak

“kompak sekali”

Kunde, kau belum menjawab siapa namamu?” Tanya Minho

“Park Jiyeon, panggil saja Jiyeon”

“ooo”

-o0o-

Dan entah bagaimana keduanya menjadi dekat satu sama lain, dan itu membuat Myungsoo kesal setengah mati, terlebih saat dirinya harus keluar kota untuk mengurus bisnis beberapa hari meninggalkan keduanya itu membuat Myungsoo harus mengutuk Minho karena berani dekat dengan yeoja yang dia sukai

“Hey, jauhi Jiyeonku” tegur Myungsoo pada Minho saat keduanya sedang dirumah

“memang kau siapanya?” Tanya Minho

“dia itu Jiyeonku”

“memang kau sudah jadian, belum bukan, jadi suka suka aku mau dekat dengan siapa? Lagipula salahmu sendiri membaanya kemari dan jangan salahkan aku suka denganya”

“yak, maksudku dia kemari agar aku semakin dekat denganya bukan mendekatimu denganya”

“jika jiyeon tidak mau denganmu kau mau apa? Jika dia suka aku bagaimana?” Tanya Minho sambil meledek dongsaengnya itu

“hey, kau sudah janji tidak menyukainya?”

“kapan, aku tidak pernah berjanji”

“tapi kalian belum jadian bukan?” Tanya Myungsoo

“entah, tapi dia hanya diam saja sih waktu aku cium” seakan akan jantung Myungsoo copot dari tempatnya mendengar ucapan Minho ia mengumpat minho kesal lalu menindih hyungnya itu diatas ranjanganya, dan disaat itu Jiyeon masuk karena ingin memberitahukan manan sudah siap, posisi mereka seperti itu membuat JIyeon bengong dan tentu saja salah sangka

anio, Jiyeon kau salah sangka kami tidak melakukan apapun, aku hanya ingin menghajarnya” Myungsoo langung menghampiri Jiyeon dan membawanya jauh jauh dari Minho

Bahakan sepanjang makan malam, mereka hanya diam diri Jiyeon pun begitu setelah itu Myungsoo langsung mengantarnya pulang karena tidak mau Minho berinteraksi dengan Jiyeon

“tunggu” Myungsoo mencegah Jiyeon saat ingin turun dari mobilnya

“kenapa?” bingung Jiyeon

“berhentilah bekerja dirumahku” pintak Myungsoo

“wae?” Tanya Jiyeon heran

“aku tidak mau kau dekat dekat dengan Minho” Myungsoo memberitahu, Jiyeon hanya diam, ia menunduk merasa bersalah pada Myungsoo “kau menyukainya bukan?” tebak Myungsoo

“anio” sanggah Jiyeon

“gojimal, manamungkin jika tidak menyukai kau mau dia cium” Jiyeon menengok menatap Myungsoo tidak percaya, darimana dia tahu tentang ciumanya itu, ciuman memalukan, bahkan Jiyeon harus mengutuk dirinya karena mau dicium begitu saja dan tidak marah saat tahu

“dari mana kau tahu?” Tanya ragu Jiyeon

“tidak perlu aku tahu, kau tidak mengerti Minho itu orang yang gampang bosan jika kau bersamanya aku hanya takut kau sakit hati, aku memang sudah kecewa padamu, akupun kesal pada diriku kenapa tidak aku saja yang kau sukai, kau selalu menolak aku cium tapi saat Minho menciumu kau mau saja, tidak marah bahkan menamparnya, jika aku dekat 5 cm saja kau sudah meneriakiku, kau benar benar mati rasa padaku? aku kesal itu”

“maafkan aku Oppa

“sudahlah, lupakan” ucap Myungsoo “masuklah, besok aku tidak akan menjemputmu”

Ne, Mianhe

gwenchana, aku mengerti, masuklah”

Jiyeon memasuki rumahnya dan meninggalkan Myungsoo sendiri yang menatap kepergianya

“10 tahun aku menyukainya, tapi hanya dalam 2 bulan dia menyukai orang yang aku kesali didunia ini” gumam Myungsoo sendirian, ia melajukan mobilnya menuju tempat yang membuatnya tenang

-o0o-

Pagi ini, Minho yang menunggu Myungsoo tidak kunjung datang, bahkan Jiyeon tukang masaka yang ia sukai tidak datang membuatnya hanya duduk di meja makan yang kosong, ia melihat Myungsoo yang masuk dengan dandannan berantakan dan bau alcohol

“kau dari mana?” Tanya Minho pada Myungsoo mengintrogasi, bagaimanapun Minho itu tertua dan dia kewajiban untuk melindungi Dongsaengnya

“bukan urusanmu”

“kau marah padaku?” Tanya Minho, walau mereka sering bertengkar, berdebat bahkan berebut Yeoja, namun ia tidak pernah mendapati Myungsoo seperti ini

“aku bilang bukan urusanmu”

“kenapa Jiyeon tidak datang?” Tanya Minho lagi

“aku memecatnya” jawab Singkat Myungsoo

“kau tidak suka aku mendekatinya?” Tanya Minho, Myungsoo yang ingin menaiki tangga ia berbalik menatap Hyungnya itu lalu berdiri dihadapanya

“Yah”

“aku tidak akan mendekatinya, dan aku tidak suka kau pulang seperti ini” ucap Minho lalu mengambil jasnya dan pergi kekantor, Myungsoo yang berdiri melihatnya mengepalkan tanganya lalu dengan langkah besarnya ia berlari menuju Minho dan ##Bruk satu pukuan menghantam di wajah tampan Minho

“kau memang tidak akan mendekatinya, tapi bagaimana dengan perasaanya, sekia (Bajingan)” Myungsoo memukul wajah Minho lagi “aku benar benar membencimu, tapi tidak pernah sebenci ini padamu” lanjut Myungsoo lagi “kau ingin melukainya lagi hah” bentak Myungsoo dan #Bruk kali ini Minho membalikkan posisi diatas Myungsoo menahan tangan dongsaengnya yang memukulnya itu

“lalu apa maumu? Kau tidak suka aku mendekatinya, kau marah aku dekat denganya, aku sudah setuju dan kau marah pula, apa maumu?” Tanya kesal Minho

“kenapa harus kau, WAE” teriak Myungsoo marah “WAE, KENAPA HARUS MANUSIA SEPERTIMU YANG DIA SUKAI”

“memang aku berniat untuk menggangunya? Aku tidak berniat menggangunya. Tapi..”

“tapi apa? Hah, tapi kau menyukainya sekarang?”

“Ya, kau puas tahu jawabanku” aku Minho membuat Myungsoo semakin bertambah kesal

Myungsoo mendorong tubuh Minho ia berdiri dan berjalan menjauhi Minho. Minho menutup matanya ia mengusap darahnya di ujung bibirnya, ‘ck’ decaknya iapun berdiri dan memasuki kediamanya kembali

Jiyeon kembali kekediaman Choi, itu karena Myungsoo yang menjemputnya, dan itupun Myungsoo yang memintaknya kenapa, entah Myungsoo saja bingung dengan tingkahnya itu, namun sejak itu Myungsoo tidak pernah melihat Minho makan bersama mereka, bahkan dia akan pergi begitu saja saat pagi dan pulang sangat larut, Myungsoo hanya merasa bersalah saja apa karenanya hyungnya itu seperti itu padanya

“kau berkelahi dengan Hyungmu?” Tanya Jiyeon

“makanlah” Myungsoo tidak menjawab pertanyaan Jiyeon

“jangan bertengkar dengan saudaramu sendiri, jika ia pergi dari kota ini kau akan sendiri, kau sudah sering bersama denganya sedari kecil bukan, bahkan dia paling tahu dirimu dari pada kedua orang tuamu” ucap Jiyeon

“tidak kami tidak akur”

“tapi dia menyayangimu” ucap Jiyeon

“tidak mungkin”

“sebenarnya…..” Jiyeon menghentikan ucapanya ia ragu ingin meneruskan perkataanya “dia selalu menanyakan keadaanmu dan makanan kesukaanmu padaku, diapun bertanya apa kau makan dengan enak selama kalian tidak bersama waktu sekolah, diapun bertanya apa saja hal yang sering kau lakukan saat di luar rumah tampa sepengetahuanya”

“kau jangan mengada ngada tidak mungkin manusia sepertinya menanyakan hal seperti itu padaku”

“aku tidak berbohong, kau selalu pulang lambat, kau selalu bangun terlambat, kau sering keluar kota”

“itu hanya modunya mendekatimu”

Jiyeon terdiam “tapi aku merasa dia tulus menanyakanya”Myungsoo terdiam “seharunya aku tidak diantara kalian, seharunya akupun tidak menyukainya”

hajiman, jangan salahkan dirimu”

Oppa Mianhe

“Na arrayo, Na gwenchana” Myungsoo mengusap kepala Jiyeon sambil tersenyum

-o0o-

“Ok aku mengalah, kau boleh mendekatinya, kau boleh memaininya, dan kau boleh apakan dirinya, sekarang kau kembali seperti biasanya” pintak Myungsoo saat masuk kamar Minho

“aku tidak tertarik” jawab Minho yang sibuk melepas dasi dan jam tanganya

wae?”

“10 tahun kau menyukainya bukan? Kau hanya akan menyerah saat dia menyukaiku?” Tanya Minho

“untuk apa aku menahanya, kau tidak tahu, dia sama sekali tidak pernah tertarik padaku! dia sama sekali tidak pernah berkencan bahakn berciumanpun mungkin itu kau yang mengambilnya, aku selalu melarangnya berkencan dengan namja dan hanya kali ini ia menyukai namja

‘’ dia menyukaiku karena aku mencuri ciuman pertamanya? itu saja belum kuat untuk menyukai seseorang, nantipun saat kau menciumnya dia akan menyukaimu dan melupakan aku, “

“kau ingin aku pukul lagi?” tawar Myungsoo kesal pada Minho yang menanggapi entang ucapanya “hey kita ini namja, Yeoja itu berbeda dari Kita”

“kau ingin memukulku, kali ini kenapa alasanya? Aku tidak begitu banyak tahu Yeoja seperti apa wajar saja ak u berpikiran seperti ini”

“dia menyukaimu sejak ia duduk di bangku kuliah, waktu itu dia tidak menyadarinya, dan akupu selalu memungkirinya, karena aku tidak terima dia lebih berdebar saat melihatmu daripada aku”

“lalu maumu apa?”

“kau boleh memilikinya”

“walau aku maini?” Tanya Minho, Myungsoo menatap tidak suka “aku tidak melakukan itu”

“kaubilang aku menyukainya? Kau tidak mau menyakiti perasaanku? Cukup sampai kapan kau selalu mengalah padaku, aku tahu aku mempu melakukan apapun itu, kau selalu yang pertama, tapi kau selalu menyerahkanya padaku” ucap Myungsoo, ya selama ini mereka memang berkompitisi namun Minho selalu mengalah dengan caranya yang tidak akan diketahuii oleh dongsaengnya itu ‘’ jika kau ingin bertanya apa yang aku makan, apa yang aku lakukan kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri padaku, ?”

“aku tidak melakukan itu” sanggah Minho

“kau benar benar ingin aku pukul rupanya, mengaku saja” kesal MYungsoo, “Jiyeon sudah menceritakan semuanya, aku memang tidak percaya, tapi tidak mungkin Jiyeon berbohong padaku!” Myungsoo menghentikan ucapanya, ia melirik pada Minho “Gommawo Hyung sudah memerhatikanku, walau aku tidak pernah tahu, walau aku membalas dengan kebencianku, walau aku selalu tidak baik di hadapanmu, aku benar benar tidak tahu itu, gommawo” Minho terdiam, ini kali pertamanya Myungsoo memangilnya Hyung dan itu sangat ia inginkan selama ini “jika kau benar tidakmau dengan Jiyeon aku akan membuatmu menyesal jika kelak Jiyeon menjadi adik iparmu, kau tahu bukan aku ini tampan”

“jika itu terjadi sudah sejak masa kuliah, lagipula aku lebih baik mendapatkan dongsaengku yang berharga ini dari pada wanita” Minho mengusap kepala Myungsoo gemas, sejak kecil mereka selalu bertengkar, Minho yang merasa kasih sayangnya kurang ia menjahili dongsaengnya itu walau dirinya sayang pada dongsaengnya, ia tidak rela orang lain menyakiti dongsaengnya, menurutnya hanya dirinyalah yang boleh menyakiti atau menggoloknya

“benar kau tidak menyesal?” Tanya Myungsoo sambil menatap Minho

Minho tersenyum “wanitaku itu tidak akan pernah pergi dariku” ucap bangga Minho “Yak panggil aku Hyung sekali lagi” pintak Minho

“ais, aku pikir kau mau membantuku mendapatkanya, TIdak mau, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu”

“eiss, kau baru mengucapkanya tadi! aku bisa saja membantumu mendapatkanya tapi kau mau jika ia tidak menyukaimu?”

“aku tidak mau, aku memang terobsesi padanya tapi aku tidak segila itu, kunde aku harap kau melupakan aku memanggilmu apa tadi”

“tidak akan,”

yak neo

“wae?”

“Choi Minho”

-o0o-

Pagi ini Minho yang baru bangun seperti biasanya ia mengambil minuman di kulkas dan meneguknya, tidak seperti hari pertama ia bertemu dengan tukang masak rumahnya ini yang mengira hantu, sekarang dirinya malah bersandar di kulkas sambil melihat kegiatan Yoeja itu

“ah, kamchagi” kaget Jiyeon saat ia berbalik dan mendapati Minho menatapnya, Minhopun salah tingkah ia menegakkan tubuhnya bingung “cosoheo” ucap Jiyeon ia membuka pintu kulkas untuk emngambil beberapa bahan yang ia butuhkan

Minho yang kikik, akhinya kembali kekamarnya sambil memegang jantungnya dan membuang nafasnya berat

6.45

“apa Minho Belum bangun?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon

“tadi pagi aku melihanya sudah bangun dan mengambil minuman” jawab Jiyeon

kunde, kenapa dia tidak juga turun?” Tanya Myungsoo, Jiyeon hanya menggeleng, belum selesai Myungsoo ingin bertanya, ia bisa melihat Minho turun dari kamarnya sambil merapikan jasnya “kau tidak makan?” Tanya Myungsoo saat Minho melewati meja makanya

anio, aku buru buru” jawab Minho

“kau masih marah padaku?” Tanya kesal Myungsoo “Yak Choi Minho” teriak Myungsoo “iss” myungsoo meletakan sendok makanya kasar lalu mengumpat kesal

“jangan berteriak tidak sopan pada Kakakmu” tegur Jiyeon

“kau nasehatin saja sendiri kakakku itu” kesal Myungsoo lalu meninggalkan Jiyeon

-o0o-

Lagi lagi Myungsoo meninggalkan Jiyeon dan Minho di rumah, kali ini dia sedang ingin bersama teman temanya itu alaanya, tapi tidak tahu apa yang akan dia rencanakan sebenarnya.

Minho dan Jiyeon hanya terdiam saja di atas meja makan, Hingga JIyeon yang merasa sudah beres, ia berpamitan untuk pulang

“aku sudah selesai, aku akan pulang” ucap Jiyeon lalu mengambil tasnya dan melangkah pergi

“tunggu” cegah Minho

“Ne?” bingung Jiyeon

“aku akan mengantarmu, Myungsoo tidak ada” ucap Minho, yah biasanya Myungsoo yang mengantar dan menjemput Jiyeon tapi tidak jika di pagi hari namja yang suka bangun terlamabat itu mustahil untuk bangun pagi, ia lebih baik bergulung di selimutnya yang tebal itu daripada keluar di pagi hari

anio, tidak perlu” tolak Jiyeon

Gwenchana, akupun tidak sibuk, sekalian ada yang ingin aku beli” ucap Minho

“ahh, Gure” Jiyeon terdiam dan menunggu Minho selesai

Di dalam perjalanan hanya ada bunyi mesin mobil tidak ada interaksi apapun dari keduanya, Jiyeon yang merasa canggung dan Minho yang hanya diam tidak memulai pembicaraanya sebenarnya Jiyeon tidak suka suasana seperti ini sunyi

“ehmm” dehem Minho sambil melirik Jiyeon sekilas, ‘ehmm’ lagi Jiyeon hanya diam kikuk tidak tahu seperti apa ia harus bersikap, hingga pesan di telvon genggam Minho membuatnya berhenti berdehem dan membuka pesan tersebut sebelum itu ia memfokuskan mobilnya karena sedang menyetir

‘Yak, apa yang kau lakukan hah? Kenapa kau hanya diam saja di salam mobil, Jiyeon tidak suka suasana seperti itu, kau itu Namja, katakana sesuatu untuk memulai pembicaraan’ tulis pesan tersebut, Minho mengejapkan matanya, ia melihat sekeliling mobilnya apa ada camera tersembunyi atau tidak dari mana bocah tengil ini tahu keadaaanya sekarang

‘Yak darimana kau tahu?” Tanya Minho membalas pesan tersebut

“Minho-shi,, awasss” Jiyeon berteriak memberitahukan karena didepan ada sebuah mobil yang tiba tiba berhenti, beruntung Minho langsung menginjak rem

“ahhh” ringis Jiyeon karena bahunya tersentak kedepan membuat kepalanya terbentur depan Mobil

“G..Gwenchana?’ Tanya Minho Khawatir,

“aiisss” Jiyeon hanya meringis menahan sakit dikepala dan bahunya

Cosoheo” sesal Minho sambil memegangi JIyeon “aiss, kenapa tiba tiba berhenti” kesal Minho

“lampu merah, kau tidak focus tadi” jawab Jiyeon sedikit kesal

“ahh, crom, Mianhe” sesal Minho lalu membuka pesan terakhir

‘Yak berhati hati kau ingin menabrak, kau ingin Jiyeon ikut mati bersamamu?’ tulis pesan tersebut, namun kali ini tidak dibalas oleh Minho karena lebih khawatir dengan sakit dibahu Jiyeon

“Kita kerumah sakit saja”

anio, Gwenchana, ini akan sembuh,,ahhhh” Jiyeon malah berteriak keras karena lenganya yang ia gerakkan berlahan tadi semakin sakit

“apa aku bilang, “ Minho melajukan mobil nya menuju rumah sakit terdekat

-o0o-

“berlebihan sekali, kenapa harus di gip segala, akukan hanya terkilir” kesal Jiyeon

“Yak, neo terkilir bagaimana, Tanganmu retak “ ucap Minho memarahi Jiyeon

“Ottokeh” kesal Jiyeon

wae?” Tanya Minho

“jika seperti ini bagaimana aku menyelesaikan tugasku, belum lagi aku mempunyai kotrak dengan kalian aiss”

Minho hanya menatap Jiyeon sambil tersenyum memerhatikan gadisnya yang tengah kesal karena ulahnya

gure..” Jiyeon berbalik menatap Minho yang berkata “aku akan menjadi tanganmu sampai kau sembuh” ucap Minho

M..Mho?” bingung Jiyeon

“karena aku kau seperti ini, aku akan menjadi tanganmu untuk menebus kesalahanku”

“Jinja?” Tanya Jiyeon

“Oh”

“Kunde…”

“Kunde wae?”

“apa kau tidak keberatan?’

“anio, ini karenaku” ‘dan karena cinta’ batin Minho

gomapsemnidah”

-o0o-

“anyio, potongnya lebih tipis sedikit” perintah Jiyeon pada Minho saat mereka di dapur, pagi ini Minho yang harus menggantikan tangan Jiyeon dan itu berarti menuruti perintah yeoja itu

“seperti ini?” Tanya Minho

“oh,,, itu masukan colnya” printah Jiyeon

“ah Ne”

“Boya ige?” Tanya seorang Namja yang baru bangun, dan yang ia lihat pemandangan yang tidak ia sukai “omoo, Jiyeon, Neo Gwenchana? Yak choi minho kenapa Jiyeon seperti ini?” Tanya Myungsoo kesal

“aiss, Chom… bukanya kau mengetahui semuanya, bukanya membantuku kau malah mengomeliku mealalui pesan adik macam apa” kesal Minho

“Yak Sekia, aku mengikuti kalian karena aku khawatir pada Jiyeon, aku meragukan dirimu itu” ucap MYungsoo

“Neo Jinja”

“aeiss, kalian ini suka sekali berdebat dan bertengkar, berhenti bertengkar atau aku tidak akan kemari lagi” kesal Jiyeon yang sudah sering mendengar perkelahian keduanya

“anio, aku hanya memarahinya, apa sakit?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon dan mengelus tangan Jiyeon yang di gip

“Ne, appheo”

“Kunde kenapa kau disini, seharunya kau beristirahat, tidak perlu mengkhawatirkan kami,” ucap Myungsoo

“aku tidak mau hanya duduk diam dan memakan gaji buta, lagi pula Minho-Sii sudah setuju untuk menjadi tanganku”

“Jinja?”

“oh”

“asaaa, kalau begitu aku boleh menyuruhmu apa saja bukan?” Tanya Myungsoo

“Ne, memangnya seperti itu bukan, akukan bekerja untuk dibayar” ucap Jiyeon menyetujuinya

“jika begitu aku ingin the di pagiku”

“Eh”

“Yak, kau ingin mengerjaiku, aku hanya akna bekerja jika Jiyeon yang menyuruhnya” kesal Minho yang mengetahui akal dari otak dongsaengnya itu

“hey, akupun menyuruh Jiyeon, kaukan sekarang tangan jiyeon buatkan ya”

“Yak, Choi Myungsooo” pagi hari terjadilah perdebatan lagi dengan kedua kakak beradik ini

Begitulah mereka bisa semakin dekat, walau di awali karena Jiyeon harus terluka dahulu tapi itu menguntungkan bukan untuk perkembangan hubungan mereka, dan sejak itupula Minho mendapatkan dukungan dari Jiyeon untuk memarahi Myungsoo dan itu membuat Myungsoo kesal, Namja bermata sipit nan tajam itu sudah mulai membuka hatinya untuk beberapa yeoja walau ujung ujungnya hanya di PHPin saja, kalian tahu bukan dia mencari sosok yeoja seperti Jiyeon, siapa yeoja yang seperti Jiyeon di dunia ini tidak ada, paras bisa mirip namun kpribadiannya belum tentu mirip bukan. Hubungan Jiyeon dan MInhopun tidak ada kata kata, ‘ayo berkencan’ atau apapun yang mengajak mereka bersama, yang jelas kedekatan mereka itu tidak bisa di bilang wajar karena memang tidak wajar, kalian tahu bukan, Pelukan, Kissing itu hanya untuk orang yang berhubungan saja, sedangkan Jiyeon dan Minho melakukan itu saat keduanya ingin bahkan dirumahpun, Myungsoo pernah bertanya apa Minho sudah menembaknya namun Minho menjawab tidak, lalu kenapa kalian bisa sedekat itu? Jawabnya adalah naluru, aneh sih yah memang mereka aneh, bahkan Minho si pembosan itu kesal saat Jiyeon dekat dengan Myungsoo, dan dia akan marah marah sendiri karena merasa tidak mempunyai hak untuk marah mereka belum bersama, suatu ketika Jiyeon kesal karena sifat cemburuannya minho itu berlangsung

“Wae?” Tanya Jiyeon, mereka sudah terbiasa sekarang untuk berbicara, tidak secanggung saat dahulu

“anio” ucap Minho namun bukan seperti ucapan melainkan kekesalan

“aneh sekali, kau membentakku, mengomel sendiri, kau kesal padaku?” Tanya Jiyeon dan Bammm benar Jiyeon itu benar

“Ya, AKU KESAL PADAMU, PUSA”

“Waeo?”

“tanyakan sendiri padamu” kesal Minho

“mana aku tahu jika aku Tanya pada diriku sendiri, ya sudahlah, lagipula tidak penting aku mengetahuinya” ucap Jiyeon membuat Minho semakin kesal dan menatap JIyeon dengan tatapan kekesalan, bahkan bibirnya sudah bersungut tidak jelas

YAK NEOOOO, KAU INGIN TIDAK BERPERASAAN SEKALI, TIDAK PEKA” ucap Minho kesal

“SIAPA YANG TIDAK BERPESARAAN AKU ATAU KAU?” Tanya Jiyeon

“sudahlah, memang kau tidak peka” kesal Minho lalu duduk di sofanya kembali “bicara pada Junior namja, berpegangan, makan siang bersama, dasar, tersenyum pada namja lain tidak merasa bersalah is Nappeun” gumam Minho yang bisa didengar oleh Jiyeon samar sama, Jiyeon semakin mendekatkan telinganya sambil mengerutkan dahinya ia tahu kenapa Minho seperti ini ternyata karena Cemburu

“kau pikir kau siapa, marah marah dan kesal padaku?” Tanya Jiyeon sambil melirik Minho, dan disaat itu Myungsoo yang baru turun dari kamarnya dan sepertinya ia memang ingin pergi dengan dandananya yang keren dengan bau parfum yang menyengat

“kau igin kemana?” Tanya Minho

“Berkencan”

“antarkan Nonamu itu”tunjuk Minho pada Jiyeon

Mho, siro, biasanya pun kau yang mengantarnya, Kunde…. Kalian bertengkar lagi?” Tanya Myungsoo pada Minho yang tidak di hirakan “Yak Choi Minho, apa alasanmu marah padanya, kau saja belum jadian denganya, kau cemburu lagi? Aegoo kekanakan sekali, ckckckckc, jika kau ignin melarangnya dekat dengan namja lain buat dia menjadi milikmu, jangan hanya bisa menyentuhnya tampa setatus, memangnya dia gantungan baju hah. Is is is, tidak dewasa sekali” nasehat Myungsoo

“Yak” Jiyeon memukul kepala Myungsoo

“Yak apheo”

Neo mau kemana?” Tanya Jiyeon

“kencan, wae? Kau sudah mau jadi pacarku sekarang?” Tanya Myungsoo bertanya

Jiyeon terdiam ia Nampak berpikir namun sebelum membuka mulutnya …..

Anio, ini tidak bolek, sudah sana kau pergi, aku akan bicara dengan Nonamu ini 4 mata” ucap minho menahan tangan Jiyeon untuk dekat denganya

“iss … beruntung kau lebih cepat 1 detik, jika tidak ia sudah mengiyakan ucapanku tadi, dasar, sudahlah aku sakit hati hari ini, sana urus kalian saja, aku mau kencan “ pamit Myungsoo dan pergi meninggalkan dua manusia yang sedang berdebat itu

“wae?” Tanya Jiyeon

“anjah” pintak Minho untuk Jiyeon duduk “berhenti tersenyum dan makan siang pada namja lain” ucap Minho “aku tidak menyukainya” akunya lagi

Jiyeon terdiam, ia hanya menunggu ucapan Minho lagi namun sudah beberapa menit tidak ada ucapan untuk ia dengarkan “gure aku akan mengakuinya sekarang” ucap Jiyeon akhirnya

“andwe” cegak Minho “biar aku yang bicara”

waeyo?”

“karena aku namja” ucapnya kesal “ayo berkencan” pintak Minho “Na Saranghae”

JIyeon terdiam, ia menatap Minho tidak yakin karena mInho mengatakan cintanya namun wajahnya tidak menatap Jiyeon sama sekali “kau tidak berniat menyatakan perasaanmu?” Tanya Jiyeon

“aku serius”

“kunde, kenapa kau tidak melihatku?” Tanya Jiyeon, ia ingin memutar tubuh Minho namun dicegah oleh Minho

“hajiman, jangan kemari” ucapnya

“waeyo?”

“ck, jangan kemari akubilang, biar wajahku normal dahulu” ucap Minho, yah sekarang wajahnya memerah seperti kepiting rebus

“aku ingin pulang” pintak Jiyeon

“nanti dulu”

“wae?”

“eis, ini malam minggu, lagipula kau belum menjawap ajakanku”

“ajakanmu yang mana?” Tanya Jiyeon

“ayolah, aku tidak pandai untuk mengatakan sukaku pada orang”

“jika kau menyukaiku, kau akan dengan senang hati mengucapkan saranghae padaku setiap hari” ucap Jiyeon

“aku tidka akan melakukan itu”

wae? Kau benar tidak menyukaiku?” Tanya JIyeon

“anyio, memang harus kita melakukan itu? Untuk apa setiap hari mengatakan cinta tapi berselingkuh dan bermain yeoja di belakang pasanganya, itu tidak baik, au tidak suka itu, ayolah, aku ini namja yang tidak romantic”

“aku tidak suka namja yang tidak romantic, aku ingin namja yang romantic” ucap Jiyeon

“jadi kau menolakku?”

“tidak”

“jadi jawabanya iya bukan? Ya sudah terima saja namja yang tidak romantic ini”

“Yak akupun tidak mendawab iya kenapa kau memutuskan senakmu saja?” kesal Jiyeon

“kau tadi bialng tidak menolakku jadi menerimaku, pilihanya disini hanya dua ‘Ya’ dan ‘Tidak’ tampa ada di tengah tengah OK, jika kau menolakku aku bisa berkencan dengan Yeoja lain”

“ANDE” teriak Jiyeon, ia melirik ke Minho yang sudah tersenyum tampan padanya, merasa menang “gure, kita jalani saja”

“gure, ingat pesanku jangan lakukan interaksi dengan namja lain arrachi?”

“Hmm”

Flasback and

Nah begitulah kejadianya mereka bersama, dan keduanya sama sama operprotektif, bahakn Myungsoo kerap kesal karena keduanya selalu ada beradu mulut di setiap harinya, kali ini Namja itu tengah frus tasi karena Suzy mengkhianatinya, ia namja terakhir yang ia kencani, dan itu termasuk terlama 6 bulan menjalin hubungan itu lumayan lama pikir Myungsoo

Pagi hari

“kemanhae” ucap Jiyeon pada Minho yang pagi ini sangat manja sekali, ia hanya mengekor di belakang Jiyeon sambil memeluk Jiyeon terkadang mencuri Ciuman Jiyeon

“ayolah chagi”

“nanti”

“sekarang”

“aku belum selesai oppa”

“biarkan saja” rengek Minho ia sudah mengendus tubuh Jiyeon, malam tadi Jiyeon bermalam di kediaman Choi ini karena pintak Minho sendiri, dan setelah perkelahian mereka gegara Myungsoo, Minho memintak Jiyeon utuk di rumahnya agar ia tahu apa saja yang dilakukan namjanya itu, dan tidak lagi curiga, pada Minho lagi

‘uhh’ “oppaahhh” ucap Jiyeon sedikit mendesah karena geli

“chagi, akupikir kita menikah saja bagaimana?” Tanya Minho

“Mho, kau tidak ingat Myungsoo oppa tidak akan merestui kita, diakan masih kesal”

“biarkan saja, siapa dia?”

“Yak, berhenti membuat mataku sakit” bentak Myungsoo pada keduanya, lalu membanting pintu Kulkas dengan kasar

“Oppa” ucap Jiyeon memanggil Myungsoo yang duduk di depan dapur

“wae?”

“ayo ikut aku” ajak Jiyeon

“yak kau ingin kemana? Kenapa tidak mangajakku?” Tanya Minho melepas pelukanya

“kebandara menjemput chinguku” ucap Jiyeon

“cantik tidak?” Tanya Myungsoo semangat

“kau akan menyesal jika tidak ikut” ucap Jiyeon

“yak kalian ingin berkencan dibelakangku?” Tanya Minho masih tidak dijawab Jiyeon

“anigoden, pikiranmu itu… tenanglah sayangku aku tidak akan berselingkuh darimu” ucap JJiyeon

“lagipula, siapa yang mau dengannya, jika sudah berhubungan denganmu itu” tunjuk Myungsoo pada Minho “kau kan namja gila, dan lagi aku memang sangat mencintai Jiyeon daripada kau, tapi aku tidak mau pada Yeoja yang sudah kau sentuh, nanti ia mendesah namamu bukan namaku” ketus Myungsoo lagi “itu lebih menyakitkan daripada ditinggalkan”

“biarkan saja, ituberarti Jiyeon sangat menyuaiku” lanjut Minho dan memeluk Jiyeon lagi

“yak berhenti kataku, kalian benar beanr membuat mataku sakit saja”

“jika kau mau lakukan pada Yeojamu”

“kau mengejekku hah?”

“iss Berhenti bertengkar kataku, aku tidak akan kemari lagi”

“anio anio, chagia, aku hanya bercanda tadi, Mintak maaf” printah Minho pada Myungsoo

“Mianhe Choi Jiyeon” kesal Myungsoo

“aku belum melepas margaku “

“sebentarlagipun kau akan melepasnya, namja sinting sepertinya itu mana mau yeojanya bahagia dengan orang lain selain dirinya”

“memang “ Minho membenarkanya

-o0o-

“lama sekali, awas saja jika tidak cantik ya”

“kau ini yeoja itu tidak hanya cantik tapi baik tiaknya untukmu, buat apa cantik tapi tidak menyayangimu” tutur Jiyeon

“hanya kau yeoja yang membuatku ter[ikat tidak yang lain”

“kasian istrimu nanti dia akan sakit hati, ayolah kau ini jangan terobsesi padaku, aku bisa gila, Minho Hyungmu itu terlalu cemburuan pada namja yang dekat denganku bahakan padamu, jadi jangan berbuat macam macam”

“kaupun selalu seperti itu bukan?”

“ah itu dia” tunjuk Jiyeon

“JIYEONIIIIII” teriak yeoja yang langsing cantik dan tinggi itu tengah menghampiri Jiyeon dan memeluk Jiyeon, Myungsoo yang memakai kacmata hitam untuk menutupi matanya itu menurunkan fremnya melihat yeoja yang dipeluk Jiyeon, rambut hitam kecoklatan, senyum cantik, kulit putih yang terpenting sexy, tapi dia seperti tidak asing dengan wajah yeoja ini

“nugu?” Tanya yeoja itu pada Jiyeon “aegoo, kalian sudah bersama, kau membalas perasaanya?” Tanya Yeoja itu

“anio, aku membawanya kemari karena tidak ada yang mengantarku, hehe, aku sudah bercerita bukan jika aku ini sudha memiliki Namja chingui”

“arayo, aku tahu kau selalu memajangnya dengan fotomu di media sosail membuatku iri saja, Yak Choi Myungsoo, kau lupa padaku?” Tanya Yeoja itu karena ia melihat myungsoo Nampak bingung dan seperti heran

“Neo Nugu?”

“aegoo, bocah ini, yak Jiyeon apa dia masih mengikutimu?”

“anio, dia berhenti mengikutiku, dia tidak mau mati konyol”

“Jiyeon Nugu?” Tanya Myungsoo penasaran

“Krystal”

“Mhoragooo?” Myungsoo Nampak heran sampai kacamatanya ia lepas tidak percaya

“yak Wae, apa aku sejelek itu hah, aku masih menghinaku jinja”

“oh tuhan, kau dapat hidayah darimana, kenapa kau secantik ini?”

“yak aku memang sudah cantik dari dulu! kau membuatku ingin memukul kepalamu itu”

“Yeoja ini kasar sekali” ledek Myungsoo ‘tahu begini aku tidak mau ikut”

“siapa suruh kau ikut” kesal Krystal

-o0o-

“Yeobooo” teriak Minho melingking dari kamarnya

“Namjamu berisik sekali, temui sana” ucap Myungsoo, keduanya sedang bercerita tentang Krystal yang baru datang hari ini, dan tentang kekesalan Myungsoo pada Yeoja itu

“Chagiii” teriaknya lagi membuat Myungsoo menutup telinganya kesal, karena Minho selalu mengumbar kemesraanya di rumahnya itu tampa perduli keberadaan Myungsoo sama sekali dan itu berhasil membuat Myungso tiap kali mengeluarkan tanduknya

“aegoo, dia kemari! Lebih baik kau menemuinya daripada aku sakit mata disini” kesal Myungsoo

“Yak Choi Myungsoo, kau memarahi calon Maebhun (kakak ipar perempuan) hah?” Myungsoo hanya melirik Hyungnya itu dengan kesal

“Chagi” Minho menghampiri dan mengecup bibir Jiyeon singkat “ayo kita keluar” ajak Minho

‘’odie?” Tanya Jiyeon

“kemana saja, asal tidak melihat namja yang sedang tidak punya pacar ini, wajah tampan tapi diselingkuhi” ledek Minho

“Neo” teriak Myungsoo sudah berdiri mau menghampiri Minho

“Yak, kau dekat lagi, aku ambil mobil dan semua fasilitasmu” ancam Minho dan berhasil membuat Myungsoo mundur

“Jiyeon, biarkan Minho membantuku ne untuk memberi pelajaran pada Yeoja yang menyakitiku” rengek Myungsoo pada Jiyeon lagi

“Anio, lagipula kau sudah putus denganya” tolak Jiyeon “dank au awas saja jika membantunya” tunjuk Jiyeon pada Minho membuat namja itu bergidik ngeri

“tapi aku kesal” ucap Myungsoo

“balas dengan cara lain jangan menghancurkanya”

“cara seperti apa? Seperti aku berjalan dengan yeoaj lebih cantik dari padanya begitu?” Tanya Myungsoo

“itu bangus juga, kau bisa memamerkan kemesraan yang tidak pernah kau lakukan saat bersamanya didepan umum”

“eihh itu sudah biasa”

“tapi selama ini orang menggunakanya dan itu berhasil”

“iya juga sih, siapa yeojaya, kau, kaukan cantik daripadanya, Ne kita bisa lakukan Kiss didepanya, berpelukan dan………..” belum berakhir ucapan Myungsoo kepala kerasnya itu sudah mendapatkan sebuah bogeman yang membuatnya bergulung gulung kesakitan

“kau melakukan itu pada Jiyeonku, mati kau aku buang disungai han” sinis Namja yang saat ini bermanja manjaan pada Jiyeon

“eiss, lalu siapa, yeoja yang cantik menurutku ya hanya dia”

“itu urusanmu, Kajja chagi, tinggalkan dia biarkan dia berpikir, otak keras batunya itu harus digunakan tidak hanya mengomel saja” ajak Minho pada Jiyeon

-o0o-

Jiyeon memejamkan matanya saat merasakan nafas lembut menjelajahi Leher jenjangnya, ia begitu menikmati perlakuan namjanya yang memanjakanya seperti ini, yang mampu membuatnya melayang keatas udara, walau ia tahu apa yang dia lakukan tidak benar, namun menolakpun percumah karena dirinyapun menginginkan sentuhanya

“euhhh” eluhnya

“yeobo” bisik Minho ditelinga Jiyeon sambil mengecupnya tanganya masih memeluk erat tubuh Jiyeon menempelkan dengan tubuhnya menghapus jarak yang ada

“Hmmm”

“ayo menikah” ajak namja itu

“kau melamarku?” Tanya Jiyeon

“hmm”

“tidak ada yang lebih romantic? Kau menyatakan perasaanmu tidak romantic dank au melamarpun tidak romantic, lalu nanti saat menikah kau akan mencuekiku hem?”

“anio, walau aku bersikap romantic itu sudah terlambat sekarang kaupun sudah tahu apa yang akan aku lakukan?”

“kau ignin tahu jawabanya?” Tanya Jiyeon bermain main

“tentu saja”

“temui kedua orang tuaku kau akan tahu jawabanya”

“Gure, bilng pada Eommanim dan abonim besok aku akan menemui mereka, sekarang kita bikin Beby dulu” ucap Minho memintak

“ehh” sedetik kemudian telinga Minho sudah mendengar suara merdu Jiyeon yang sangat ia sukai walau bukan nyanyian melainkan eluhan sexynya, Minho suka sekali adegan ranjangnya dengan Jiyeon itu membuatnya semakin mencintai Yeoja itu, walau ia harus waspada selama ini jika Jieon pergi meninggalkanya maka dari itu dirinya selalu cemburuan dan kesal jika ada namja lain mendekati Jiyeon

#Tok tok tok

Ketukan pintu tidak membuat Minho menghentikan aktifitasnya, ia malah semakin gencar mencium setiap inci tubuh Jiyeon

#tok tok tok

Ketukanpintu kali ini membuat Minho mengalihkan pandangnya pada pintu yang ia kunci rapat itu

“chamkama” ucap Minho ia berjalan menuju pintu kamarnya dengan dada telanjang “Wae?” Tanya Minho pada namja yang menggedor pintu kamarnya itu, tampa mendengar jawaban apapun Myungsoo mendorong Minho kebelakang lalu menghampiri Jiyeon yang sibuk merapikan kemeja atasnya yang sudah terbuka karena Minho tadi “Yak”

“eh eh eh,” Myungsoo menggeleng gelengkan kepalanya “aduh yeojaku yang polos harus terkena firus gila Minho ini” ucap Myungsoo lagi

“hey apa perlumu mengetuk pintuku hah, dank au ini tidak sopan sekali” Minho menutupi Jiyeon dengan tubuhnya

“aku ada perlu dengan Jiyeon”

“perlu denganya berarti denganku juga”

“arraso arraso, JIyeon aku mintak no ponsel Krystal”

“heh untuk apa?”

“aku ada bisnis dengannya”

“aku tanyakan dulu denganya ia mau tidak memberikan no ponselnya padamu”

“anio, itu terlalu lama, kemarikan” Myungsoo mengambil langsung ponsel Jiyeon lalu membawanya kabur

“Yak Oppa” teriak Jiyeon

“Hyung, lanjutkan aktifitasmu yang kuganggu, jangan sampai adik kecilmu itu memberontak padamu dan membuatmu gelisah” teriak Myungsoo sambil berlari, tentu saja Minho mengiyakan adiknya itu

“Oppa, oppa, Ponselku”

“nanti kita ambil sekarang kita bikin Babby dulu”

-o0o-

Krystal Nampak sedang merendam tubuhnya dengan air hangat di bakapnya, ia menikmati suasana kota seoul di apartemenya yang terbuat dari Kaca itu, walau di dalam sangat terlihat jelas namun di luar itu tidak terlihat sama sekali, ia mengalihkan pandanganya pada ponselnya yang sedari tadi berbunyi tanda ada telvon masuk, namun itu no baru yang membuat krystal tidak mau mengangkat, namun ini lebih dari 10 kali dan itu ia pikir penting

“Yeoboshoyo?”

“Naya”

“Nugu?”

“Myungsoo”

“Heh, dapat darimana noponselku?”

“aku tidak perlu memberitahukanmu kau sudah tahu”

“ais Jiyeon, Wae?”

“aku ada perlu denganmu, temui aku di klab gangnam”

“heh, Siro”

“eh kau mau tidak bekerja menjadi desain di kantorku? “ tawar Myungsoo

“memang bisa, bukanya Jiyeon disana?” Tanya krystal Nampak tertarik

“desain sedang membutuhkan kariyawan baru jabatanya asisten manajer desain, dan itu mengntungkan untukmu kau bisa setiap hari bersama Jiyeon”

“kau serius”

“iya tapi ada syaratnya”

“Mhare”

“kau temui aku di klab saja”

“ok ok, aku akan segera kesana” ucap Krystal dan langsung membersihkan tubuhnya untuk pergi

-o0o-

Krystal memasuki klab yang semakin malam bukan semakin sepi melainkan semakin ramai, ia clingak clinguk mencari namja yang menelvonya beberapa waktu lalu, untuk Yeoja seperti Krystal yang meneruskan pendidikanya di LA klab seperti ini hal yang bukan lagi masalah untuknya, dia ini yeoja canggih yang gaul jadi ia tahu lah

Krystal menangkap seorang namja yang Nampak sendirian, ia yakin itu namja yang menelfonya

“kenapa bertemu ditempat seperti ini?” Tanya Krystal

“aku butuh bantuanmu” ucap Myungsoo to he point

“bantuan, seperti apa?”

“seperti ini” Miyungsoo mencium Krystal ia memejakan matanya awalnya memang hanya menempel namun detik berikutnya ia mengecup bahkan melumat bibir tipis krystal, Yeoja itu tentu tidak tinggal diam, walau ia tinggal di Negara bebas dan sudah sering melakukan kiss dengan lawan jenis, namun ia tahu tempat dan Negara yang mana, bahkan ia dan Myungsoo itu tidak dekat, tidak sama sekali karena mereka itu sering bertengkar malah

“yak biciso?” Tanya Krystal saat berhasil melepas ciuaman mereka

“Ne, aku memang gila, begini kau lihat yeoja disana” ucap Myungsoo

“Hmm, wae”

“dia terkejut saat aku menciummu tadi”

“dank au senang, yak jika kau ingin mendapatkan yeoja jangan gunakan aku sebagai umpanmu” kesal Krystal, ia mengusap kasar bibirnya

“kau masuh amu bukan bekerja di tempatku?”

“eh, kau serius?” Tanya Krystal, perusahaan Minho itu perusahan besar dan banyak bisnis yang dibuka salah satunya fasion, fasion keluaran mereka itu sangat ditunggu dan bagus maka dari itu Krystal tertarik untuk masuk ke perusahaan tersebut

“aku tidak main main menawarkan itu, asal kau mau membantuku membuat Yeoja itu marah dan kesal”

“caranya?”

“caranya, kau dekati Namja yang bersamanya saat aku tidak ada, namun saat aku ada kau bersamaku menunjukan kemesraan di hadapanya”

“hanya itu” ucap Krystal girang

“yak ciuman termasuk dalam perjanjian”

“tapi tidak tidur bersama kan?” Tanya Krystal

“jika kau mau tidak maalah”

“Yak, kau ingin mati” bentak Yeoja cantik itu

“kau setuju”

“setuju asal kau bisa memegang ucapanmu”

“besok kau bisa masuk dikantor”

“jinja, jongmal?” tnaya Mrystal tidak percaya, “kunde, kenapa kau ingin membuatnya sakit hati?”

“karena aku telah diselingkuhinya” ucap Myungsoo

“hah, kau diseligkuhinya, wah debak, kau pasti kesal sekali”

“sangat, sudah jangan menertawakanku, sebaiknya kita mebih dekat pada mereka” Myungsoo menggengam tangan Krystal untuk menuju sofa yang dekat dengan suzy ‘Deg’ jantung Krystal berdetak ia menatap punggung Myungsoo, tidak pernah ia seperti ini, baru berpegangan tangan pikirnya

-o0o-

“Krystal” kaget Jiyeon saat melihat chingunya itu

“heehehhe, chinggu, kita satu kantor” senang krystal

“kenapa bisa?”

“Myungsoo merekomendasikan ku”

“heh, jadi krena itu semalam ia memintak no ponselmu?”

“Ne”

“tapi kenapa bisa, kaliankan tidak pernah akur” Tanya Jiyeon heran

“tentu saja, sini aku ceritakan” Krystal menceritakan kejadian yang ada

“Mhoragoo” kaget Jiyeon

“Sttt,, ini hanya main main Jiyeon”

“yak kau tahu tidak dari main main bisa benaran”

“sudahlah yang penting kita sekantor”

“hey hati hati pada Myungsoo dia itu namja tidak waras” peringat Jiyeon

“aku tahu, sangat tidak waras, dank au mengencani Hyungnya yang sama sepertinya tidak waras pula”

“eh jangan mengejek Calon Napyeonku”

“kalian ingin menikah?”

“Hmm”

“Kapan?”

“Molla tapi Minho ingin bicara pada Orang tuaku mala mini”

“wah debak, aku iri sebenarnya, umur kita memang cocok untuk menikah “

“sudahlah nanti aka nada jodoh untuk kita”

“heheh ya “

-o0o-

Malam ini Myungsoo dan kryatal melakukan rencana Myungsoo, namja itu sudah menunggu Krystal di bar tempat biasa Suzy berada, kebetulah Suzy tengah sendiri, dan Myungsoo emnghampiri Yeoja itu

“anyeong, urimaneo Suzy-si” tegur Myungsoo

“eoh, Oppa”

“sendiri?” Tanya Myungsoo

“Ne, oppa?”

“menunggu seseorang” jawab Myungsoo dengan senyum andalanya, memuat Suzy terpesona pastinya, yeoja itu lama tidak melihat senyum itu pikirnya,

“Yeojachingu?” Tanya Suzy

“bisa dibilang begitu,”

“ohh” Suzy terdiam

“oh, chagi” Myungsoo melambaikan tanganya pada yeoja cantik nansexy yang menghampirinya, Suzy yang melihat itu mengepalkan kedua tanganya, ia tidak rela jika namja chinguinya itu melupakanya dengan mudah, dan dia tidak tahu dia sedang bermain main dengan siapa, si raja modus seperti Myungsoo itu jangan dilawan

“lama menunggu? “ Tanya Krystal pada Myungsoo

‘’ tak apa” Myungsoo meraih pinggang Krystal lalu mengecup Bibir Yeoja itu ‘Deg’ krystal terpaku sejenak, jantungnya berdetak pikirnya “tidak ada yang menggangumu bukan?”

“anio”

“bagus, kemari” Myungsoo mengeratkan pelukanya, Suzy yang melihat itu geram ingin ia melempar angur kemuka yeoja yang tidak ia ketahui itu

“sayang” sapa seorang namja menghampiri Suzy

“eoh oppa” ucap suzy kurang suka

“kau kenapa, baik baik saja bukan”

“ne”

Myungsoo yang mendengarnya tersenyum ia berbisik pada Krystal “berhasil, rencan kedua aku akan meninggalkanmu”

“ne”

Myungsoo pergi sejenak, ini memang rencananya, Suzy yang melihat itu mengikuti pandangan kemana perginya Myungsoo, ia ikut myungsoo pergi Krystal yang disana bertugas mengoda namja itu sudah muai aksinya

Toilet

“oppa” pangil suzy pada Myungsoo

“wae?” Tanya namja itu acuh

“kau sudah melupakanku?” Tanya Suzy

“melupakanmu? Itu mudah bagiku” jawab enteng Myungsoo

“semudah itu, dank au bermesraan di hadapanku?” kesalnya

“bagaimana denganmu? Kau terang terangan menggandeng namja lain bukan dihadapanku?”

“tidak oppa, waktu itu aku tidak bersamanya, aku tidak berkencan”

“kaupikir aku buta? Sudah urusi saja namjamu itu sebelum diambil yeoja lain” pringat myungsoo ia memasuki toilet pria

-o0o-

Suzy menyiram angur pada Krysta, belum selesai kekesalanya pada yeoja itu karena merebut Myungsoo ia berani menggangu namja chinguinya, itu membuat tanduk setan yeoja itu keluar

“dasar jalang, kau tidak cuku dengan satu namja” marah Suzy iapun menampar Krystal hingga myungsoo datang

“kenapa kau menamparnya” marah Myungsoo, buakn ini yang dia inginkan, ia ingin melihat Suzy sakit hati, tapi tidak menyakiti orang lain

“yeoja jalan seperti ini menjadi pacarmu sekarang? Pikir baik baik oppa, dia baru saja merayu namjachinguiku, bahkan bermesaraan dihadapaku” marah Suzy

“kenapa kau salahkannya, kau salahkan namjamu itu kenapa mau dirayu oleh yeoja seperti ini” marah Myungsoo

“oppa, dia tidak baik untukmu”

“siapa yang tahu yang terbaik untukku? Kau pikir kau baik? Yang tahu hanya aku yang terbaik untukku seperti apa” ucap Myungsoo

“yak yeoja jalang, kau memakai cara apa? Kau jual tubuhmu?’

#Plak kali ini Krystal menampar Suzy

“kau pikir aku mau menjual tubuhku, dank au” tunjuk Krystal pada Myungsoo

“tahu begini aku tidak mau melakukanya, ini menyakitkan untukku” Krystal pergi meninggalkan mereka yang bengong menatapnya

“soojung-ah”

-o0o-

“huhuuuuuu” Krystal menangis tersedu sedu di pelukan Jiyeon, setelah kejadian itu ia menelvon jiyeon dan memintak yeoja itu menemuinya, tentu saja jiyeon mau karena ia sangat menyayangi chingunya itu, walau ia harus merengek pada Minho untuk mengantarnya ke apartemen chingunya itu

“uljima, aku sudah peringatkan padamu”

“aku tidak pernah dihina seperiti ini, sakit sekali” tangis Krystal

“aku akan bicara pada Myungsoo, dan memintak maaf padamu”

“untuk apa? Namja seperti tiu tidak akan peka dengan kata maaf, aku akan kembali besok “

“Mho, yak kau baru datang beberapa hari dank au mau kembali”

“aku tidak sanggup Jiyeon”

“Soojung-ah”

“biarkan aku pergi” pintak Krystal

“arraso, jika itu yang kau mau

“mala mini kau menginap ya?”

“hmm”

-o0o-

“kemana Jiyeon?” Tanya Myungsoo pada Minho yang sedang duduk diruang tamu

“pergi, keapartemen chingunya, wae? Kau kenapa bau alcohol seperti ini?” Tanya Minho

“anio gwenchana”

“kau ada masalah lagi?”

“ahh, wanita itu benar benar susah dimengerti”

“kenapa lagi sekarang?”

“sepertinya caraku salah untuk mebuat balas dendam”

“wae?”

“aku malah terjebak pada partnerku”

“heh, aku tidak mengerti Myungsoo”

“begini ceritanya……” Myungsoo menceritakan semuanya yang terjadi padanya

“gila, kaupikir dia yeoja murahan, cepat mintak maaf sana” ucap Minho

“aku tidak tahu tempatnya hyung”

“dia chingu Jiyeon, aku tahu tempatnya ayo kesana”

“tapi Hyung, aku tidak………”

“ehh disaat seperti ini berhenti memikirkan egomu”

Myungsoo terdiam sejenak ‘kau benar, kajja”

Myungsoo dan Minho sudah berdiri didepan apartemen milik Krystal, kedua namja itu menunggu pintu terbuka, Jiyeon muncul di depan pintu ia sudah tahu semuanya dari cerita krystal dan tahu dari Minho tentang mereka yang mau kesana

“ilowah” Minho mengisyaratkan keluar untuk Jiyeon “masuk” perintahnya lagi pada Myungsoo

“Hyung…”

“masuk kubilang, kau namja bukan bersikaplah jentelmen, kau hanya bisa mengataiku disaat seperti ini kau seperti batu”

Myungsoo hanya menunduk mendengar nasehat hyungnya itu “masuklah” Minho mencorong Myungsoo

“Oppa fighting”

“oh”

“kaja chagi-ah” Minho membawa Jiyeon pergi

-o0o-

“Jiyeon apa yang dikatakan calon suamimu…..” ucapan krystal terhenti karena bukan jiyeon yang ia lihat melainkan namja yang beberapa waktu lalu membuat dirinya seperi yeoja murahan dan dihina “kenapa kau kemari?” Tanya ketus Krystal

“aku ingin mintak maaf, tentang masalah tadi”

“kaupikir aku bisa menghapus sakit hatiku yang diciptakan yeoja chinguimu itu hah” kesal Soojung

“mianhe, jinja mianhe”

“sudahlah, aku akan pergi besok dan aku tidak harus melihat wajahmu itu tterlebih yeojamu yang menyebalkan itu”

“kau ignin pergi kemana?” Tanya Myungsoo

“apa urusanmu tahu”

“soojung, akupikir ini terlalu cepat untuk kita, tapi aku ingin kenal kau lebih jauh, boleh?”

“heh?” kryatal Nampak terkejut dengan ucapan Myungsoo

“aku lelah mencari yeoja, tapi kau aku kenal denganmu cukup lama, walau hanya pertengkaran yang kita ciptakan, tapi aku sadar saat pertama aku menciummu, disini, sesak, jantungku berdebar, seperti yang dikatakan Jiyeon saat bersama Minho” aku Myungsoo yang membuat Krystal terkejut, ia saja belum siap mendapatkan kata kata itu “ayo kita berteman dahulu, jika cocok kita lanjutkan hubungan ini, aku ingin serius”

“heh”

“kau jangan hanya ‘Heh’ Hah’ saja, katakana sesuatu”

“aku tidak tahu, kita jalani saja “ jawab Krystal lirih

“ahh, kyoo, jadi kau besok tidak jadi pergikan?” Tanya Myungsoo menugsap kepala Krystal

“eh…” Krystal lupa akan hal itu

-o0o-

“kira kira apa yang mereka lakukan?” Tanya Jiyeon pada Minho

“yang jelas, mereka sudah dewasa”

“apa Myungsoo oppa akan memintak maaf?”

“dia itu namja baik, ia akan melakukan itu aku tahu, sekarang kau harus pulang, kita tidak boleh bertemu bukan beberapa minggu,?”

“kau benar, oppajangan main main dengan yeoja lain arraci, hubungi aku jika kau melakukan apapun”

“ne, chagi, kau ini operprotektif sekali”

“tentu saja, kau saja bisa marah marah padaku, kunde, apa apa dan eommamu hadir?”

“tentu saja, aku ini putra pertama mereka, tadi aku sudah katakana pada mereka, aku bahagia” aku Minho ia menggengam tangan Jiyeon lalu mengecupnya

“nago oppa”

“berapa anak yang kau mau nanti?”

“2”

“4 saja bagaimana?”

“shiro, aku yang melahirkan”

“yak aku yang membuat”

“jangan berdebat masalah itu, aku tega melihatku kesakitan melahirkan anak anakmu?”

“anio, aku tidak tega akan itu”

“jadi 2 saja ne”

“namja yeoja”

“namja namja”

“namja yeoja”

“namja namja oppa”

hahaha

THE END

Gak Typo Gak Gaul

3 responses to “(One shoot) Rivalry of two brothers

  1. haha keren , minji jjang .
    itu minho gk ada romantis2 nya ngajakin jiyeon pacaran trus nikah juga ckck
    myungsoo jg akhirnya bisa move on dr jiyeon haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s