[ONE SHOOT] Happy Birthday Kkamjong

HBD Kkamjong

Title : Happy Birthday Kkamjong

Author : Dian

Main Cast :

Park Jiyeon (T-ara)

Kim Jongin (Exo)

Other Cast :

Ahn Jaehyo (Block-b)

Genre : Romance (?), little sad

Rate : Teen

Credits Poster : Heerinsi@HSG

~

Annyeong, kali ini aku membawa ff yang main castnya bukan Myungsoo. Tapi Jongin aka Kai. Kai ini adalah salah satu bias favoritku versi namjanya. Ff ini aku persembahkan untuk ulang tahun Kai yang jatuh tanggal 14 Januari. Ff ini keseluruhan aku buat dari sudut pandang Jiyeon. Maaf kalau ffnya mengecewakan dan part untuk Kai-nya sedikit dan malah lebih banyak yang Jaehyo-nya.

Oh ya, yang gak suka sama main castnya, lebih baik gak usah baca ya.

Ok, Happy Reading !!! (untuk yang mau baca)

Jangan lupa RCL ya!!!

***

Aku menatap punggung Kkamjong, sahabat kecilku yang berjalan sendirian keluar dari kantin. Mungkin kembali ke kelas. Kkamjong bukanlah nama asli sahabat kecilku. Nama Kkamjong hanyalah sebuah panggilan yang aku berikan khusus untuknya. Namja Kkamjong adalah gabungan dari Kkam dan Jong. Kkam itu artinya hitam. Sedangkan Jong itu nama asli sabahat kecilku yaitu Jongin.

Nama Kkamjong itu aku buat saat aku dan sahabat kecilku berumur 7 tahun. Bahkan sampai sekarang aku masih memanggilnya Kkamjong. Dengar-dengar semasa SMP (aku dan Kkamjong tidak satu kelas) teman sekelasnya sering mengejeknya dan mengatainya hitam. Padahal kulitnya memang hitam, kekeke. Dan hanya karena itu Kkamjong menjadi marah.

Kalau dipikir-pikir, kenapa Kkamjong tidak marah saat aku memanggilnya dengan nama yang jelas-jelas ada Kkamnya yang artinya hitam? Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin karena aku adalah sahabat kecilnya, kekeke. Dulu kami benar-benar dekat. Tapi sekarang hubungan pertemanan kami seperti merenggang semenjak aku menjalin hubungan dengan namja yang diam-diam aku sukai saat pertama kali masuk Senior High School. Dan aku merasa Kkamjong seperti menjauhiku. Mungkin ia tidak mau mengganggu hubunganku dengan Jaehyo – namjachinguku. Padahal aku tidak merasa seperti itu.

Oh ya, ngomong-ngomong saat ini aku dan Jaehyo – namjachinguku sedang berada di kantin, mengisi perut kami yang kosong setelah lamanya bergelut dengan pelajaran yang menurutku sangat membosankan. Aku dan Jaehyo sama-sama duduk di kelas 11.

“Kenapa kau terus-terusan menatap punggung namja itu? Apa kau menyukainya?” tanya Jaehyo padaku. Ngomong-ngomong kami sudah selesai menikmati makan siang kami.

Aku sedikit terlonjak. Cepat-cepat aku menoleh ke arah Jaehyo.

“Tidak”

“Benarkah?” tanya Jaehyo tidak percaya dengan ucapanku barusan.

“Ne, mana mungkin aku berbohong” ucapku bersungguh-sungguh sambil menatap manik mata Jaehyo, berusaha meyakinkan namja yang memang ku akui memiliki wajah yang terbilang tampan itu.

“Oh iya, kalau tidak salah dia satu kelas denganmu bukan? Apa benar begitu?” tanyanya. Ngomong-ngomong aku dan Jaehyo tidak satu kelas.

“Ne”

“Siapa namanya?”

“Kkamjong”

“Kkamjong?” ulang Jaehyo.

Aku panik, cepat-cepat aku meralat ucapanku. “Ah, tidak-tidak. Namanya Kim Jongin”

“Oh”. Jaehyo hanya ber-oh ria

“Oh ya, ku dengar dia adalah sahabat kecilmu? Apa benar?”

“Ne” ucapku sambil menggangguk.

“Jiyeon-ah”

“Ne?”

“Besok adalah hari minggu. Aku ingin mengajakmu ke lotte world sekalian kita berkencan. Apa kau mau?”

Aku diam sambil memikirkan tawaran Jaehyo.

“Baiklah, aku mau”. Aku akhirnya menyetujui tawaran Jaehyo.

Jaehyo tersenyum sangat manis menatap ke arahku membuat pipiku sedikit merona. Cepat-cepat aku merubah ekspresi wajahku. Ku lihat Jaehyo tersenyum kecil.

“Besok, aku jemput kau jam 9 pagi. Kalau begitu, kajja, kita kembali ke kelas!” ajak Jaehyo sambil bangkit dari duduknya.

Aku menggelengkan kepalaku. “Kau duluan saja, aku masih ingin disini. Lagipula bel masuk belum berbunyi” tolakku.

Jaehyo tersenyum simpul. “Baiklah, kalau begitu. Aku kembali ke kelas dulu, ne?”

Aku menggangguk dan Jaehyo lalu berjalan pergi meninggalkan kantin.

__

Saat ini aku sedang berdiri di depan gerbang sekolah menunggu Jaehyo. Ponsel yang berada di saku blazerku tiba-tiba bergetar. Aku lalu mengambil benda berbentuk persegi panjang itu.

Ada pesan masuk.

From : Jaehyo

Jiy, mianhae. Aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini. Ada urusan yang harus selesaikan. Sekali lagi, mianhae.

Aku menghembuskan napas setelah membaca pesan dari Jaehyo. Aku lalu mengetik pesan balasan untuknya.

To : Jaehyo

Gwenchana. Aku mengerti.

Setelah mengetik pesan balasan untuk Jaehyo, aku lalu menyimpan kembali ponselku.

TIN,,, TIN

Suara klakson mobil membuatku terkejut setengah mati.

Seorang namja menurunkan kaca mobilnya. “Apa kau yang bernama Jiyeon?”

Aku mengernyitkan dahiku tidak menjawab pertanyaan namja itu. Aku menatap wajah namja itu. “Nugu?”

“Aku Sehun, teman Jaehyo. Aku disuruh Jaehyo untuk mengantarmu pulang. Namamu Jiyeon kan?”

“Ne” anggukku.

“Kalau begitu, cepat masuk! Aku akan mengantarmu pulang”

Aku masih diam di tempatku sambil menatap wajah namja yang ku akui tidak kalah tampannya dengan Jaehyo.

“Kenapa diam saja? Cepatlah masuk!” suruhnya lagi.

Tapi aku masih tetap diam di tempatku. Entahlah apa yang terjadi padaku. Sepertinya aku masih belum mempercayai ucapan namja berkulit putih itu.

“Hey, cepatlah! Waktuku tidak banyak” ucap Sehun sambil menatap tajam ke arahku.

Mendapat tatapan tajam seperti itu membuatku takut.  Dan mau tak mau aku pun lalu segera berjalan menuju mobilnya, membuka pintu dan masuk ke dalam mobil milik namja bernama Sehun itu.

~

“Gomawo” ucapku setelah turun dari mobil Sehun. Sehun hanya mengganggukkan kepalanya saja. Ia lalu melajukan mobilnya meninggalkanku.

Saat aku menoleh ke samping, tanpa sengaja mataku menangkap sosok Kkamjong tengah turun dari mobil yang entah milik siapa. Kkamjong lalu sedikit merendahkan tubuhnya menatap sosok di dalam mobil itu. Ia tersenyum sangat manis. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kesal. Aku lalu menangkup pipiku. “Ada apa denganku?” tanyaku dalam hati.

Aku lalu memutuskan berjalan masuk ke rumah tanpa mempedulikan Kkamjong dan sosok yang berada di dalam mobil itu.

__

Aku tengah berbaring di atas ranjangku sambil menatap langit-langit kamarku. Ponsel yang ku taruh di meja kecil samping tempat tidurku tiba-tiba berbunyi. Aku lalu segera menggapai benda berbentuk persegi panjang itu.

Jaehyo

Aku segera bangkit dan menekan tombol hijau begitu tahu jika yang meneleponku adalah Jaehyo.

“Yoboseyo”

[“Ne, yoboseyo. Apa Sehun sudah mengantarmu pulang dengan selamat?”]

Tiba-tiba kejadian di depan gerbang sekolah tadi melintas di otakku.

“Sehun? Berarti kau benar menyuruh namja itu untuk mengantarku pulang?”

[“Ne. Apa dia tidak memberitahumu?]

“Tidak. Dia memberitahuku. Oh iya, Sehun sudah mengantarku dengan selamat”

[“Syukurlah kalau begitu. Apa dia berbuat macam-macam padamu?”

Aku tertekeh mendengar pertanyaan Jaehyo.

“Tidak. Dia tidak berbuat macam-macam padaku”

[“Syukurlah, awas saja kalau dia berani berbuat macam-macam padamu. Akan aku cincang dia”]

Aku kembali terkekeh mendengar ucapan Jaehyo.

[“Baiklah kalau begitu, aku tutup teleponnya ya”]

“Ne”

Aku menunggu Jaehyo menutup panggilan telepon terlebih dulu. Tapi kenapa Jaehyo tak kunjung menutupnya?”

“Jaehyo” panggilku.

“Jiy, mianhae”

TUT

Aku mengernyitkan dahinya. “Kenapa Jaehyo meminta maaf? Ah, apa mungkin ia meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang? Tapi kenapa Jaehyo mengatakannya dengan cepat? Ah, sudahlah”

Aku kembali menaruh ponselku di tempat semula. Aku menghembuskan napas panjang. Kejadian di depan rumah saat aku menatap Kkamjong yang turun dari mobil melintas di otakku.

“Kira-kira siapa ya sosok yang berada di dalam mobil itu? Dia namja apa yeoja?” pikirku.

“Kalau sosok itu namja mana mungkin Kkamjong tersenyum sangat manis seperti itu. Sepertinya sosok itu adalah yeoja. Tapi kenapa Kkamjong bisa sampai menumpang di mobil itu. Apa sosok itu yeojachingu Kkamjong?”. Pertanyaan itu berputar di kepalaku.

“Ah, apa yang ku pikirkan? Kenapa aku malah memikirkan hal yang tidak penting?” gumamku tidak mengerti dengan diriku sendiri.

Aku memutuskan turun dari tempat tidurku lalu berjalan menuju rak buku. Aku mencari-cari album fotoku dan Kkamjong.

“Dimana ya?” gumamku sambil terus mencari. Karena rak bukuku memang besar dan aku sudah lupa dimana aku menaruh album fotoku dan Kkamjong.

“Ah, ketemu” ucapku girang akhirnya aku berhasil menemukannya.

Aku lalu membawa album foto yang ukurannya sama dengan buku tulis itu sambil berjalan menuju sofa yang ada di kamarku.

Aku tersenyum simpul saat melihat fotoku dan Kkamjong saat kami kira-kira berumur 5 tahun.

“Ah, aku baru menyadari Kkamjong ternyata dulu sangat cute tapi sekarang ia sudah besar dan dewasa” ucapku sambil terus membalik lembar-lembar foto yang berada di album itu.

Aku menutup album foto berwarna biru itu setelah aku puas melihat-lihat fotoku dan Kkamjong. Di foto itu, ada aku yang foto sendiri, Kkamjong yang foto sendiri dan kami yang foto berdua. Kalau dipikir-pikir kami dulu narsis juga ya, hehehe.

“Kkamjong, aku merindukanmu. Kapan kita kembali seperti dulu lagi?” ucapku sambil memandang jendela kamarku yang berseberangan dengan kamar Kkamjong. Ne, kami bertetangga. Dulu, Kkamjong sering berkunjung ke rumahmu begitupun denganku yang sering berkunjung ke rumahnya. Tapi sekarang tidak lagi. Aku mendesah.

CEKLEK

“Jiyeon-ah”

Aku sedikit terkejut dengan panggilan dari kakak laki-lakiku – Park Sanghyun. Aku lalu berdiri, berjalan menghampiri kakak laki-lakiku.

“Ada apa, oppa?”

“Tolong kau berikan ini pada keluarga Kim!” ucap Sanghyun – kakak laki-lakiku sambil menyodorkan bungkusan padaku.

Aku menerima bungkusan itu. “Apa ini?” tanyaku.

“Tas limited edition”

“Untuk?”

“Nyonya Kim”

“Dari siapa? Eomma?”

“Ne”

“Aku sudah menduganya. Kenapa tidak oppa saja yang memberikan?”

“Oppa sibuk, masih ada tugas yang belum oppa selesaikan”

“Cih, alasan. Bilang saja kalau oppa malas” ucapku sambil berdecak.

Ku lihat kakak laki-lakiku hanya menyengir kuda.

“Aissh, dasar” batinku.

~

Aku menatap bungkusan yang berada di tangan kananku sambil berjalan menuju kediaman keluarga Kim. Ya, meskipun aku kesal, aku tetap menuruti keinginan kakak laki-lakiku untuk mengantar bungkusan yang isinya tas limited edition pesanan nyonya Kim yang tak lain adalah ibu Kkamjong.

Aku sudah sampai di depan pintu utama keluarga Kim. Aku menatap pintu berwarna coklat itu yang tertutup.

TING TONG

Aku menekan bel rumah Kkamjong sambil melihat pintu berwarna coklat itu.

Tidak ada tanda-tanda penghuni rumah membukakan pintu. Aku lalu kembali menekan bel. Tetap tidak terjadi apa-apa. Aku lalu kembali menekan bel untuk yang ketiga kalinya.

“Kemana semua orang? Sepertinya mereka semua tidak ada di rumah?” pikirku.

Aku lalu memutuskan membalikkan badanku. Berniat pulang ke rumah. Tapi sebelum aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba kulihat Kkamjong dari arah kanan jalan tengah berjalan sambil menenteng sebuah bungkusan. Entah kenapa aku tersenyum kecil melihatnya.

Setelah masuk ke pekarangan rumahnya, tiba-tiba Kkamjong berhenti. Ia menatapku sebentar dari kejauhan lalu kembali meneruskan jalannya.

“Annyeong, Kkamjong!” sapaku sambil menyunggingkan senyum manisku setelah Kkamjong berdiri di hadapanku.

Ku lihat Kkamjong hanya diam sambil menatap wajahku dengan tatapan datar. Aku hanya bisa menahan rasa sedihku dalam hati karena tingkah Kkamjong sekarang yang terkesan dingin padaku.

“Ekhem, ini tolong berikan pada ahjumma!”. Aku mencairkan suasana dengan memberikan bungkusan pada Kkamjong sambil tetap tersenyum walaupun mungkin seseorang yang melihat senyumku seperti sebuah senyuman yang dipaksakan.

Ku lihat Kkamjong menatap bungkusan itu tapi hanya sebentar. Ia lalu menerima bungkusan berisi tas limited edition itu.

“Gomawo” ucapnya pelan.

“Ne, cheonma” jawabku sambil tersenyum sangat manis.

Ku lihat Kkamjong tidak membuka pintu rumahnya dan malah diam di tempatnya. Begitupun denganku yang sepertinya enggan untuk kembali ke rumah. “Ada apa denganku?” pikirku.

“Jiy”. Aku sedikit terkejut dengan Kkamjong yang tiba-tiba memanggilku. Aku lalu merubah eskpresi wajahku menjadi ceria.

“Ne?”

“Gomawo”

Aku sedikit terkejut dengan ucapan Kkamjong barusan. Aku lalu menatap ke arah Kkamjong yang saat itu menundukkan kepalanya.

“Untuk?” tanyaku.

“Karena kau mau menjadi sahabat kecilku” ucapnya dengan cepat. Setelah mengatakan itu, Kkamjong lalu membuka pintunya dan segera masuk ke dalam. Tak lupa untuk kembali menutup pintunya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Terima kasih karena aku mau menjadi sahabat kecilnya?”

“Aneh. Kenapa Kkamjong malah mengatakan itu?” pikirku. “Ah, sudahlah. Kenapa aku malah memikirkannya?”

Aku lalu memutuskan pulang ke rumah.

__

__

Aku sedang menunggu Jaehyo di depan rumah. Hari ini kami akan pergi ke lotte world.

“Itu dia”. Aku lalu berjalan menuju mobil Jaehyo.

“Masuklah!” suruh Jaehyo dingin sambil membukakan pintu mobil untukku.

“Ada apa dengan Jaehyo? Kenapa ia berucap sedingin itu? Tidak biasanya ia seperti ini?” pikirku sambil masuk ke dalam mobilnya.

Ku lihat Jaehyo menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam mobil. Ia lalu menyalakan mesin mobilnya. Dan mobil berwarna hitam melaju meninggalkan rumahku.

Selama di perjalanan, aku menolehkan kepalaku ke kiri untuk menatap wajah Jaehyo. Aku menatap wajah namjachinguku itu dalam-dalam. Mungkin merasa ada yang memperhatikannya, Jaehyo menolehkan kepalanya ke kanan.

“Kenapa menatapku dengan tatapan seperti itu?” tanyanya sambil menatap tajam ke arahku.

DEG

Hatiku merasa seperti tersayat. Aku lalu memutuskan menatap pemandangan luar dari balik jendela di sampingku. Tiba-tiba buliran bening keluar dari kelopak mataku. Aku hanya bisa menangis dalam diam.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Jaehyo?” tanyaku dalam hati.

Mobil sudah berhenti. Cepat-cepat aku menghapus bekas air mata dipipiku. Aku lalu turun dari mobil.

“Kajja, Jaehyo-ah!” ajakku riang. Aku berniat memegang lengannya. Tapi Jaehyo segera menghindar dan langsung berjalan mendahuluiku. Aku hanya bisa diam sambil menatap sendu punggung Jaehyo. Aku pun lalu menyusulnya.

Saat ini, aku dan Jaehyo sedang menaiki kereta gantung. Ku lihat wajah Jaehyo masih tidak berubah, tetap datar dan dari tadi ia tidak pernah tersenyum padahal aku sudah berusaha melontarkan lelucon-lelucon untuknya.

Aku menghembuskan napas. “Jaehyo” panggilku.

Jaehyo hanya menatapku, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.

Aku kembali menghembuskan napas. “Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu? Maksudku, kenapa kau berubah dingin padaku? Apa sesuatu yang tidak kau inginkan terjadi hingga membuatmu berubah menjadi seperti ini? Atau aku berbuat kesalahan padamu?”. Pertanyaan beruntun aku lontarkan pada Jaehyo. Mataku memanas. Dan dengan lancangnya, buliran bening itu keluar dari mataku. Membasahi pipiku. Ku lihat Jaehyo seperti terkejut. Mungkin ia terkejut tiba-tiba aku mengeluarkan air mata.

Jaehyo masih diam.

“Jaehyo, kenapa kau diam saja? Ku mohon, jawab pertanyaanku!” ucapku dengan setengah berteriak. Buliran-buliran bening tak henti-hentinya keluar dari mataku.

Jaehyo masih diam tapi kali ini ia menundukkan kepalanya. Aku menatap wajahnya nanar. Aku memejamkan mataku berusaha meredam amarahku. Aku lalu menghapus air mataku.

“Baiklah, jika kau tidak mau menjawab. Aku mengerti”

Bersamaan dengan itu, kereta gantung terhenti. Aku lalu keluar dari kereta gantung.

Aku benar-benar terkejut. Sebuah tangan melingkar di perutku saat aku sudah keluar dari kereta gantung. Jaehyo memelukku dari belakang. Aku tersenyum. Buliran bening tiba-tiba keluar lagi dari kelopak mataku. Aku tidak mempedulikan tatapan orang-orang pada kami.

“Mianhae, jiy. Jeongmal mianhae. Aku akan menjawab pertanyaanmu sekaligus menjelaskan kenapa aku menjadi dingin padamu. Tapi tidak disini. Kajja, kita ke duduk di bangku sana!” ucap Jaehyo lalu melepas pelukannya padaku.

Aku tersenyum senang sambil menghapus bekas air mataku. Aku lalu membalikkan badanku ke belakang. “Benarkah? Kalau begitu, kajja!” ajakku lalu memegang lengannya. Kali ini Jaehyo tidak menghindar. Dan itu membuatku senang.

~

“Hiks, benarkah? Kau akan menikah dengan yeoja yang sudah dijodohkan denganmu?” tanyaku memastikan sambil menolehkan kepalaku, menatap ke arahnya.

Jaehyo menatapku dengan sendu. “Ne. Mianhae aku tidak memberitahumu” ucapnya sambil menghapus air mataku.

“Gwenchana. Aku mengerti. Jadi ini alasan kenapa kau menjadi dingin padaku? Kau menjadi dingin karena memikirkan kau akan menikah dengan yeoja yang sebenarnya kau pun tidak tahu?”

Jaehyo mengganggukkan kepalanya.

“Jaehyo” panggilku.

“Ne?”

“Apa kau akan memutuskanku?”

Ku lihat Jaehyo diam. Ia lalu menolehkan kepalanya, menatap lurus ke depan.

Aku menatapnya selagi menunggu jawaban yang akan ia lontarkan padaku. Jujur, sebenarnya aku sedih jika benar aku diputuskan oleh Jaehyo. Tapi entah kenapa aku tidak merasa kecewa atau sakit hati jika namjachingunya akan menikah dengan yeoja lain.

“Ne” ucap Jaehyo sambil menoleh kepalanya ke arahku.

“Mianhae” ucap Jaehyo merasa bersalah.

“Gwenchana. Aku mengerti” ucapku sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

Jaehyo ikut tersenyum. “Gomawo” ucapnya.

“Jiy”

“Ne?”

“Sahabat kecilmu yang bernama Kim Jongin itu sepertinya menyukaimu”

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa kau bercanda?”

“Apa wajahku terlihat seperti seseorang yang tengah bercanda?”

Aku terdiam sebentar. “Kenapa kau bisa mengatakan jika Kkamjong menyukaiku?”

“Apa kau tidak pernah menyadari jika setiap kau berjalan menghampiriku yang berdiri di ambang kelas, sahabat kecilmu itu menatapmu dengan tatapan sedih?”

“Mungkin Kkamjong sedih karena memang pertemanan kami sedikit merenggang” sanggahku. Aku masih tidak percaya dengan omongan Jaehyo.

“Tidak, Jiy. Aku lebih tahu tatapan sahabat kecilmu itu. Karena aku juga laki-laki”

Kali ini aku terdiam. “Benarkah, Kkamjong memiliki perasaan padaku?”

***

Semenjak aku sudah putus dari Jaehyo, entah kenapa Kkamjong sudah tidak lagi menjauhiku. Ia malah terang-terangan meminta maaf dan ingin kembali berteman denganku. Aku bersyukur akhirnya pertemanan kami kembali terjalin. Sangat erat malahan. Ngomong-ngomong hari ini adalah hari sabtu. Oh iya, aku dan Jaehyo memutuskan untuk menjadi teman.

Entah kenapa tiba-tiba seperti ada magnet yang menarikku untuk melihat kalender yang tergantung di dinding kamarku. Ah, aku baru ingat. Besok adalah ulang tahun Kkamjong. Sepertinya besok adalah waktu yang tepat aku menanyakan apa Kkamjong benar-benar menyukaiku atau tidak. Karena aku merasa sikap Kkamjong saat ini setiap kali aku berdekatan dengannya ia menjadi kaku dan terkesan canggung.

“Emm,,, apa ya yang dapat aku berikan ke Kkamjong untuk ulang tahunnya besok?” pikirku.

“Aha, aku akan membuat sebuah perayaan kecil-kecilan untuk Kkamjong di taman belakang rumah” ucapku girang.

Aku lalu keluar dari kamarku untuk membeli bahan-bahan untuk membuat perayaan kecil-kecilan untuk Kkamjong besok.

__

Akhirnya, hari yang ku tunggu-tunggu tiba. Aku turun dari ranjangku lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. “Aku harus terlihat cantik untuk hari ulang tahun Kkamjong” gumamku.

~

“Wah, adik oppa cantik sekali” puji Sanghyun – oppaku saat aku berjalan menuruni tangga.

Aku hanya bisa tersenyum manis.

Aku lalu keluar dari rumah berjalan menuju kediaman keluarga Kim.

TING TONG

Aku menekan bel kediaman keluarga Kim. Sesekali aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan.

“Kenapa lama sekali Kkamjong membuka pintu? Apa ia tidak ada di rumah?” gumamku. Entah kenapa aku merasa kecewa.

Aku lalu membalikkan badanku. Dan ku lihat Kkamjong tengah berjalan dari arah kiri jalan sambil menundukkan kepalanya. Aku tersenyum senang. Aku lalu memutuskan berjalan menghampiri Kkamjong.

“Kkamjong” panggilku.

Kkamjong mendongakkan kepalanya menatap wajahku.

“Kenapa ia terlihat sedih? Apa sesuatu telah terjadi padanya?” pikirku karena wajah Kkamjong terlihat sedih.

“Apa mungkin Kkamjong sedih karena tidak ada yang mengingat ulang tahunnya dan tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya? Tenang Kkamjong, aku tidak lupa. Jangan bersedih” monologku sambil tersenyum tidak jelas. Ku lihat Kkamjong mengernyitkan dahinya menatap wajahku.

“Kkamjong, kau jongkoklah!” suruhku.

Kkamjong mengernyitkan dahinya tapi ia tetap menuruti perintahku.

Aku lalu berjalan ke belakang tubuh Kkamjong. Dan aku lalu menutup matanya dengan kain yang sudah aku persiapkan dari rumah.

“Kenapa kau menutup wajahku?” tanya Kkamjong.

“Sudah, tidak usah bertanya. Kajja!”. Aku memegang lengan Kkamjong menuntunnya menuju taman belakang rumahku.

“Taraa” ucapku setelah aku membuka kain yang menutupi wajah Kkamjong.

Ku lihat Kkamjong terkejut. Tapi setelahnya ia tersenyum senang.

“Gomawo” ucap Kkamjong sambil menatap wajahku.

“Ne, cheonma” jawabku.

“Kkamjong”

“Ne?”

“Selamat ulang tahun, sahabatku”

Kkamjong tidak tersenyum atau apa. Ia malah mempoutkan bibirnya.

“Kenapa kau malah mempoutkan bibirmu? Apa kau tidak senang mendapat ucapan selamat dariku?” ucapku sedikit kesal.

“Tidak. Aku bukannya tidak senang hanya saja aku tidak suka kau mengucapkan selamat padaku ada kata-kata sahabatku” ucap Kkamjong.

“Memangnya kenapa?”

Kkamjong tidak menjawab ucapanku. Ia malah berjalan mendekat ke arahku. Membuatku sedikit takut.

“Kenapa kau mendekat ke arahku? Menjaulah!” suruhku. Tapi Kkamjong tetap berjalan mendekat ke arahku. Dan akupun terus berjalan mundur.

DUG

“Aww” ringisku karena tubuhku membentur pohon. Aku tidak menyadari jika ada pohon besar berada di belakangku.

Bukannya kasihan atau iba padaku, Kkamjong malah tersenyum evil.

Kkamjong lalu menangkup kedua pipiku. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Entah kenapa, tiba-tiba aku memejamkan mataku. Entahlah, aku juga tidak tahu dengan diriku sendiri. Dan akhirnya bibir Kkamjong mendarat di bibirku.

“Jiy, aku ingin mengatakan sesuatu padamu” ucap Kkamjong setelah melepas ciumannya.

“Apa itu sebuah pernyataan cinta?” tebakku.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum misterius. Aku lalu menarik kerah kemeja Kkamjong dan mencium bibirnya. Aku tidak jadi menanyakan pada Kkamjong apa dirinya menyukaiku atau tidak. Karena aku sudah tahu jawabannya.

Kkamjong tersenyum senang dan membalas ciuman Jiyeon.

Dasar Kkamjong (ini author yang ngomong).

END

Happy Birthday My Husband (#plak) /Kkamjong/Kai/Jongin. Semoga tambah pinter, cakep, keren, kece, pokoknya yang terbaik deh. Maaf, istrimu ini (?) telat ngucapin selamat ulang tahun, hehehe.

Note : Sebelum meninggalkan halaman ini, aku mau bilang pada kalian. Bagi yang udah komen di ff oneshoot love, maaf ya aku gak ngebales komen kalian di ff oneshoot love. Jeongmal mianhae. Oh iya, aku mau minta pendapat kalian nih. Kalian mau apa enggak kalau aku buat sequel ff oneshoot love. Tolong tulis di kotak komentar ya. Soalnya aku bingung mau ngelanjutin sequel ff itu apa enggak. Jujur, aku sebenarnya udah buat sequelnya tapi masih dikit dan jauh dari kata selesai. Kalau gak ada yang mau juga gak apa-apa. Aku gak bakalan ngelanjutin sequel ff love itu. 

26 responses to “[ONE SHOOT] Happy Birthday Kkamjong

  1. Ternyata kai bersikap dingin dengan jiyeon karena dia emank nyimpan perasaan cinta ke jiyeon. Untung aja jaehyo itu orangny baik ya,,,jd kai ama jiyeon bisa bersatu.
    Ditunggu ff kai-jiyeon couple yg lain

    • Pasti dong, biasku itu emang orangnya baik-baik, hehehe…

      Iya, kai sama jiyeon akhirnya bersatu.

      Ditunggu aja ya, soalnya untuk saat ini pengen buat ff jiyeon dengan bias namjaku lainnya…

      Makasih udah mau komen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s