Clash (Chapter 5)

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Support Cast :

  • Krystal Jung
  • Naeun
  • Fei

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

“Apa kau pikir dengan membeberkan masa SMP Myungsoo dapat membuat aku menyesal didekati pria itu? Begitu?”

Mulutku terkatup rapat. Hatiku ingin meledak rasanya. Tetapi kubiarkan gadis di hadapanku membentakku. Mengencamku dengan kata kata yang panas.

“Kau tidak bisa melakukan ini,” ujarnya lebih tenang, “Bisa saja keadaan akan berbalik.”

Cairan bening terlihat di ujung pelupuk matanya. Dia mencoba menahan tangisan. Hidungnya sudah memerah. Sorot matanya penuh kebencian.

“Aku… tidak menyukaimu.”

Ini aneh. Mengapa rasanya sakit sekali?

.

Jiyeon’s PoV

 

“Aku… tidak menyukaimu.”

 

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Membuatnya terpana di tempat. Tak sanggup aku menahan air mata, aku segera membalikan tubuh. Menyembunyikan gurat kesedihanku. Kim Taehyung tidak boleh mengetahuinya.

Karena itu aku berlari meninggalkan pria itu. Asal-asalan saja langkah kakiku. Terserah kedua kaki ini membawaku ke mana. Sebelah lenganku menutup mulutku. Menutupi isak tangisku yang dapat meledak.

 

BUGH!

 

Hingga aku tak sadar menyenggol bahu seseorang.

“Jiyi! Wae irae?”

Suara lembut ini terdengar familiar. Kupandang sekilas seraya aku kembali merundukan kepala dalam.

Wae? Mengapa kau menangis?” itu pertanyaan dari Bae Suzy.

“Sooji-ya…” suaraku parau. “Ini aneh. Mengapa rasanya sakit sekali?”

Gadis itu tidak menanyakan apapun. Yang dilakukannya hanyalah mengelus helaian rambutku sambil membawa kepalaku ke dalam pelukannya.

Gwenchana. Gwenchana, Jiyeon-a,” kalimatnya mampu menenangkanku.

—o0o—

Myungsoo’s PoV

 

Tap. Tap. Tap.

Ketukan sepatuku menggema dalam koridor dengan dinding kaca ini. Tidak ada siapapun kecuali diriku. Maklum koridor ini jarang dilewati siswa karena menghubungkan ke taman belakang sekolah yang sepi.

“Jiyi! Wae irae?”

Kalimat dengan nada panik itu mampu menghentikan langkahku.

Wae? Mengapa kau menangis?”

Pandanganku segera mengedar ke segala penjuru. Mencari sumber obrolan itu. Beberapa langkah aku maju dan di sanalah berdiri dua orang gadis.

Aku menahan nafas sejenak. Meski gadis itu menutupi sebagian wajahnya, tetapi aku dapat melihat wajahnya dipenuhi air mata.

“Sooji-ya…”

Ini pertama kalinya merasa nyeri di ulu hati mendengar suaranya yang kacau.

“Ini aneh. Mengapa rasanya sakit sekali?”

Tanganku tak terasa menjulur ke depan. Mencoba meraih puncak kepala gadis itu. Ingin membelainya pelan. Namun Suzy sudah cukup mewakilkannya. Gadis itu meraih kepala Jiyeon ke dalam dekapannya.

Gwenchana. Gwenchana, Jiyeon-a.”

Aku tersenyum kecil. Terkadang aku iri dengan persahabatan mereka.

.

.

Seperti mengendap-endap aku melewati kedua gadis itu. Sengaja agar aku tidak terlihat oleh mereka berdua. Setelah melewati koridor itu, pemandangan hijau menyambutku.

Sedikit bangku taman, dengan pepohonan rindang, dan rerumputan gajah yang dirawat. Memang jarang penghuni sekolah ke taman ini, mereka lebih memilih mengisi perut mereka di foodcourt.

Hidungku menghirup oksigen. Menikmatinya dalam-dalam. Hal itu tertahan begitu melihat sesosok pria berdiri mematung di tempat.

Pupil mataku mengecil mencoba mengenalinya. Kim Taehyung, teman satu SMP, ah tidak! Musuh mungkin?

Jika di SMP aku berpapasan dengannya segera menghindari tatapan elang itu, kini aku malah balik melihatnya. Melemparkan pandangan yang sama saat dulu pernah ia lemparkan padaku.

Anehnya pria itu tidak menggubris lirikanku. Dia hanya diam. Pandangannya kosong seolah di dalam dirinya tidak ada jiwa yang tertinggal.

Sengaja aku mempersempit jarak. Memastikan apa yang baru saja kulihat. Seorang Kim Taehyung melamun?

Dia bahkan tidak menyadari keberadaanku yang tepat di hadapannya. Tiba-tiba suatu bayangan melintas di pikiranku. Yang jelas aku tidak menginginkan hal ini.

“Taehyung,” ternyata sapaanku yang singkat dan ringan ini memulihkan keadaannya secara norma.

“Kau? Sejak kapan kau di sini?” tanyanya kikuk sembari menjaga jarak.

“Tujuh menit yang lalu?” timangku, “Ah, itu tidak penting.”

“Kau benar. Itu tidak penting,” ulang Taehyung sambil memasang kembali wajah devil nya yang kukenal. “Sama setidak pentingnya dirimu di hadapanku sekarang.”

Di tiap kata ada penekanannya. Ia memberikan smirk seraya melewatiku sambil menyenggol bahuku keras.

“Kau habis bertemu dengan siapa?” tanyaku.

Kediamannya membuat detak jantungku berdegub. Menanti jawaban yang tidak diinginkan.

“Menurutmu?”

Aku menaikan kedua alis. Yakin Taehyung membalikan badannya maka aku juga sama. Hingga kini kami berhadapan satu sama lain. Masing-masing dari kami sudah memiliki tatapan sinis yang seimbang. Beda dengan masa SMP, kali ini aku tidak akan kalah darinya.

“Park Jiyeon?” sebutku.

Satu-satunya koridor itu hanyalah mengarah pada taman belakang ini. Tadi aku melihat Jiyeon dari arah sini. Karena itu aku menyebut namanya.

Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa dingin lalu mendecakkan lidah, “Ckck, kau menyukainya?”

“Eoh.”

Aku sudah tidak peduli apa yang aku katakan.

Pria berambut pirang itu menarik salah satu sudut bibirnya. Tertawa sinis akan pengakuan entengku. Entah mengapa sekejap aku merasakan aura jahat masuk ke dalam tubuhnya. Ia menusuk tatapan mataku, lebih menakutkan daripada yang pernah dia berikan dari masa SMP.

“Kim Myungsoo, mari kita lihat, bagaimana usahamu untuk melindunginya dariku.”

—o0o—

Author’s PoV

 

“Hari ini tugas olahraga mengitari daerah di sekeliling Ganghwa Highschool dengan berlari. Sebelumnya ada yang mempunyai riwayat penyakit?”

Empat barisan yang terbagi antara siswa dan siswi itu terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Guru Lee –guru olahraga-. Ragu, salah seorang lelaki mengacungkan tangannya ke atas.

“Ya?” tanya Guru Lee.

Otomatis semua mata tertuju pada lelaki bertubuh tegap itu. Pria berambut pirang itu menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Asma,” singkatnya.

“Asma?!” kaget Naeun terperangah.

Tak hanya Naeun, hampir semua murid itu –lebih tepatnya murid perempuan- mulai berbisik-bisik tak jelas.

“Kim Taehyung punya asma?” ulang Naeun.

“Tidak bisa dipercaya,” timpal Fei.

Sementara Jiyeon yang berdiri di barisan paling depan hanya melirik Taehyung sekilas seraya mengabaikan kicauan teman-temannya.

“Baiklah, Kim Taehyung, jika tidak kuat jangan dipaksakan,” perintah Guru Lee.

Setelah itu barisan dibubarkan. Masing-masing dari kami mulai mengambil langkah lari untuk keluar dari lapangan sekolah.

Inilah bagian yang ditakuti oleh Jiyeon. Tubuhnya paling tidak kuat jika harus melakukan olahraga seperti ini. Meski hanya lari ringan, daya tahan tubuhnya rendah.

Jiyeon menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pandangannya yang mulai berkunang-kunang. Ia tertinggal beberapa langkah dari teman-temannya, karena itu Jiyeon mencoba mengejar langkah kaki teman-temannya.

Namun apa daya tubuh menentang, Jiyeon terkulai lemah. Tangannya mulai memegang dadanya yang terasa perih. Ia masih dalam keadaan sadar. Namun semuanya terlihat kabur di mata Jiyeon.

Dalam pandangannya itu ia dapat melihat Kim Taehyung berdiri tepat di hadapannya. Jiyeon bersimpuh, terlihat seperti sedang memohon pada Taehyung.

 

“Taehyung…”

-TBC-

Happyy New Yeaaarrrr~~~ *mian telat* Wish for 2015, for better future/? aja. Wish for 2015 kalian? hehe. See yaa~~

47 responses to “Clash (Chapter 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s