[MULTICHAPTER] THE HEIR’S SECRETARY [6th]

the heirs

arin yessy storyline & artposter

The Heir’s Secretary [6th]

recent chapter HERE

Park Jiyeon, Kim MyungSoo, Kim Woobin

Multichapter | PG-13 | Romance, Hurt/comfort

Don’t plagiat, Every single comments are apreciates

Happy Reading

MYUNGSOO..

.

Ayah memanggilku ke ruangannya. Entah aku pun tak mengerti kenapa ia mendadak pergi ke kantor tanpa memberitahu apapun kepadaku.

Namun Tepat ketika kubuka pintu ruang kerjaku, jiyeon telah keluar terlebih dulu dari ruangan ayah dan mengatakan sesuatu kepada sekretaris jung dari balik meja kerjanya. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan kemarahan dalam waktu bersamaan. Wajahnya memerah memendam emosi yang akan meledak, dan kupikir aku tahu apa penyebabnya. Karena jiyeon sesungguhnya adalah gadis yang baik dan ramah sepanjang pengetahuanku.

Kubuka perlahan pintu kerja ayahku dan melihatnya duduk manis di depan meja kerjanya dengan kedua lengan yang sengaja di lipat.

“Duduklah” perintahnya sembari melayangkan tatapan tajam ke arahku. Kuyakini bahwa laki-laki paruh baya ini akan mengatakan sesuatu yang serius sekarang. Wajahnya yang berkeriput di beberapa bagian tampak begitu gusar dengan berkali-kali alisnya yang berkerut ia nampakkan ke arahku.

“Apa yang ayah bicarakan dengan jiyeon?”

Sungguh aku pun tak tertarik pada alasan ia memanggilku datang ke ruangannya, sesuatu hal yang sangat jarang ia lakukan selama aku menjabat sebagai presiden direktur KJS group. Aku lebih tertarik kepada jiyeon dan alasan kenapa ekspresi amarah lebih mendominasi wajah cantiknya sekarang.

“Aku telah memecatnya”

“Mwoo??!!”

“Ayah tak berhak memecatnya, aku yang mengangkatnya menjadi sekretarisku! Dia tanggung jawabku dan ayah tak berhak mencampuri apa yang jadi urusanku” kali ini aku telah sampai pada ambang batas kesabaranku. Apakah ia akan mengujiku lagi setelah apa yang ia lakukan selama ini padaku? Tak cukupkah ia menjadikanku budaknya dengan megurusi segala urusan perusahaannya? Kali ini bahkan ia akan menyakiti wanita yang kucintai. Bagaimana aku bisa diam saja melihat jiyeon diperlakukan tak adil walaupun orang yang melakukannya adalah ayahku, larena sesungguhnya yang hanya kupedulikan adalah park jiyeon seorang.

“Kenapa tidak bisa? Apakah karena….. kau menyukainya?” ia menatapku penuh selidik dari balik kacamata baca yang ia kenakan.

“Apa?”

“bisakah kau menjelaskan ini??” ia mengarahkan monitor computer yang ada di meja kerjanya ke arahku dan memutar sebuah video yang menampakkan sebuah adegan yang sangat kukenal.
Oh shit! Kenapa aku bisa melupakan bahwa di setiap lift disisipi oleh camera sisi tv. Bodohnya aku! Dan kini aku harus bertanggung jawab pada perbuatan yang telah kulakukan.
Tak mengherankan kenapa jiyeon nampak begitu gusar, pasti laki-laki tua dengan jabatan komisaris ini telah memojokkannya dengan kata-kata kasar dan semacamnya.

“Ya, aku menyukainya.. Apakah itu menjadi masalah untukmu?”

“Baiklah, aku mengerti sekarang.. Jadi kau membatalkan pertunangan dengan suzy hanya karena wanita murahan ini?”

“Siapa yang ayah bilang wanita murahan? Dan jangan pernah mengatakan ‘hanya’ karena ia segalanya untukku! ” aku telah berdiri dari balik kursi tamunya. Sungguh aku sangat muak dengan sikapnya.

“Duduk! Aku belum selesai bicara” ia menghentakkan tongkat besinya ke lantai ruangan dan membuatku mau tak mau harus menuruti kembali perintahnya sebelum tongkat itu melayang diatas kepalaku yang berharga ini.

“Dengarkan aku baik-baik anakku..” ia mengatur nafasnya, mungkin darah tingginya kumat di saat ia marah seperti yang baru saja ia lakukan. Dan apa-apaan ini? Apakah ia pantas memanggilku dengan sebutan anaknya setelah serangkaian perbuatan tak menyenangkan yang ia lakukan padaku? Jika saja ia bukan ayahku, entahlah apa yang akan kulakukan terhadapnya sekarang.

“Gadis itu bukanlah orang yang tepat menjadi sekretarismu. Gadis cantik dengan kemampuan tidak terlalu mengaggumkan seperti dirinya hanya akan memanfaatkanmu saja. Kau bahkan sudah jatuh ke dalam perangkapnya.” kali ini nada suaranya turun satu oktaf dengan penekanan kata yang lebih bersahabat. Namun bagiku tak ada bedanya karena tetap memiliki inti yang sama, jiyeon bukan wanita baik-baik.

“Darimana ayah tahu sedangkan kau sendiri tak mengenalnya dengan baik? Sudahlah, aku sudah muak dengan omong kosongmu yah”

“Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa putera park chanyeol adalah gadis baik-baik?!!”

“Apa?? Puteri siapa? Park chanyeol?? Oh.. Aku mengerti sekarang, ayah tak ingin aku berhubungan dengannya karena ia adalah puteri saingan bisnismu?”
Sekarang kedua kelopak mataku benar-benar terbuka lebar. Begitu banyak rahasia yang ayah simpan rapat-rapat tanpa sepengetahuanku. Dan aku benar-benar merasa seperti laki-laki umur sepuluh tahun yang bodoh dan tak tahu apa-apa.

“Bukan itu intinya. Ia hanya menipumu untuk balas dendam. Itulah kenapa ia berpura-pura menjadi adik presdir kim woo bin. Ia hanya ingin menipumu” ayah masih bersikukuh dengan argumennya begitu juga denganku. Sepertinya kini aku tahu darimana sifat keras kepalaku ini berasal.

“Aku tidak peduli jika ia adik kim woobin atau pun puteri park chanyeol karena aku tak mencintai seseorang dengan melihat keduanya. Jadi katakan saja sejujurnya kenapa ayah memecat sekretarisku?”

“Bukankah sudah kubilang kim myungsoo?! Ia hanya ingin balas dendam dengan memanfaatkanmu. Apakah kau tak mengerti juga arah pembicaraanku?”

Aku menghela nafasku berat. Seakan tak mengerti kenapa ayahku selalu menimpakan beban berat di atas punggungku.

“Kenapa ia ingin balas dendam denganmu? Apakah ayah pernah melakukan kesalahan padanya? Apakah kau membunuh ayahnya hingga ia kini menjadi anak yatim piatu?”

Laki-laki paruh baya dengan beberapa bagian rambut yang telah memutih itu menatapku dengan mata yang membulat sempurna. Bibirnya bungkam hingga membuatku refleks menaikkan sebelah alisku.

“Apakah ada salah satu perkataanku yang tepat sasaran tuan kim?”

“Kau tak tahu apa-apa bocah. Berhentilah berkata yang macam-macam sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih besar pada wanita murahan itu”

“Berhenti menyebutnya murahan!” aku menggebrak meja menggunakan kedua telapak tangannku dengan tak mempedulikan rasa panas yang di timbulkan.

“Jika ayah berani menyentuhnya sedikit saja, aku akan membuat bangkrut perusahaanmu!”

“Permisi”

Aku melangkah tegak meninggalkan ruanga kerja komisaris sekaligus ayahku itu dengan membanting keras-keras pintu ruangannya. Sungguh aku pun tak mengerti dengan sikapnya. Jelas sekali bahwa park chanyeol yang kudengar merupakan saingan bisnis terberat ayahku di tahun sembilan puluhan itu telah meninggal dunia lima belas tahun silam. Waktu yang sangat lama namun anehnya ayah seakan belum melupakan dendamnya pada mendiang park chanyeol. Dan kini ia akan menyakiti puterinya yang sangat kucintai? Bagaimana bisa aku mencerna serentetan kejadian ini dengan mudah? Apa yang park chanyeol lakukan pada ayahku di masa lalu ataupun sebaliknya apa yang ayahku lakukan pada ayah jiyeon belasan tahun yang lalu?
Aish.. Semua pertanyaan itu benar-benar membuatku gila. Kenapa ayah selalu menempatkanku pada posisi yang sulit? Tak bisakah ia mengizinkan sekali saja .. Hanya sekali saja sesuatu berjalan sesuai kehendakku? Apakah itu sangat sulit baginya mewujudkan satu-satunya keinginanku?

.

.

AUTHOR’S POV

.

Jiyeon mengemasi barang-barangnya dan memasukkan semuanya ke dalam kardus berbungkus kertas kado warna-warni.

Sesekali ia menghela nafasnya kasar.

Ada sebuah perasaan sesak di dadanya. Dan sulit untuk dideskripsikan.

Bukan karena semata hal ini membuat kansnya untuk membalaskan dendam pada seorang kim jong suk semakin menipis. Bukan pula karena kata-kata kasar penuh caci maki yang dilontarkan oleh pembunuh ayahnya itu.

Bukan.

Namun ada sebuah rasa dimana ia enggan meninggalkan myungsoo.

Entah sejak kapan jiyeon merasakan sensasi aneh seperti ini. Seakan kupu-kupu ingin beterbangan dari dalam perutnya saat bibir mereka bertautan lembut. Ketika myungsoo dengan penuh gairah menelusuri bibir tipis dalam balutan lipstick merah kesukaannya.

Rasanya ia semakin jatuh ke dalam perangkap yang dibuatnya sendiri.

Bodoh.

Jiyeon merutuki sikapnya.

Bagaimana bisa ia melakukan kesalahan sefatal ini?

Semuanya hal ini semakin memperumit keadaan. Kim jong suk telah mengetahui identitasnya. Laki-laki tua berengsek itu benar-benar sangat licik. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengendus rencana balas dendam yang telah disusun dengan baik oleh jiyeon.

Dan kini gadis itu harus berfikir dua kali lebih keras.

Rasa cintanya yang besar untuk ayah dan ibunya mengaburkan hakikat cinta itu sebenarnya. Bahwa cinta tak harus bersama, tak harus memiliki.

Sungguh jiyeon telah dibutakan oleh nafsunya. Hingga ia tak dapat melihat ketulusan hati seorang laki-laki yang sangat mencintainya.

Baginya, tak ada yang lebih penting di dunia ini selain melihat kim jong suk menderita. Bahkan ia rela menelan bulat-bulat rasa kagum dan cintanya pada sosok kim myungsoo. Bahkan untuk menyakiti laki-laki itu, jiyeon tak perlu berpikir dua kali untuk melakukannya.

Gadis itu mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat. Buku-buku jarinya memutih dan bibirnya mengatup sempurna dengan rahang yang mengeras sempurna.

Dalam lubuk hati kecilnya yang paling dalam, gadis itu tak menginginkan semua ini. Balas dendam hanya akan merugikannya selain dapat menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sungguh ia tak ingin hidup dalam kebencian. Ingin rasanya ia membebaskan semua rasa sakit hati yang sudah mengakar, beranak pinak di dalam tubuhnya. Ingin rasanya ia menjalani kehidupan normal dan bahagia bersama sosok yang sangat dicintainya.

Namun, membayangkannya pun sangat sulit, terlebih untuk mewujudkannya.

Kim jong suk kali ini pasti tak akan membiarkan gadis itu lolos untuk kali kedua. Dan jiyeon benar-benar merasa terancam sekarang. She has to do something.

Sementara itu, myungsoo tengah termenung di depan monitor mac nya yang masih menyala. Namun pikirannya tak benar-benar fokus ke sana.

Kedua tanggannya di tumpukan di atas dagu sembari menghela nafasnya berulang kali.

Pikirannya kalut.

Ia benar-benar tak menduga bahwa perbuatan ceroboh yang ia lakukan pada jiyeon beberapa jam lalu akan berbuntut panjang seperti ini.

Jujur, perkataan ayahnya tentang jiyeon sedikit membuat laki-laki itu shyok. Tentang jiyeon yang ternyata adalah puteri tunggal Park Chanyeol dan seseorang yang dikatakan hanya memanfaatkan dirinya seperti yang dikatakan oleh ayahnya kim jong suk.

Tapi benarkah apa yang diucapkan oleh laki-laki paruh baya itu?

Namun, tak mungkin jiyeon sepicik itu. ia begitu baik, polos, dan tingkah lakunya benar-benar wajar.

Begitulah gambaran gadis itu di pikiran myungsoo.

Apakah sebenarnya myungsoo peduli pada hal ini?

Ia bahkan tak memiliki niatan sedikitpun untuk ikut campur dengan urusan ayahnya dengan relasi-relasi bisnisnya di masa lampau.

Bukankah Park Chanyeol telah tiada lima belas tahun yang lalu. Ayolah, satu setengah dasawarsa telah berlalu dan ayahnya bahkan belum bisa melupakan dendamnya? Sangat kekanakan sekali.

Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sampai kini masih menggelitiki pikiran myungsoo.

Ada hubungan apa di masa lalu antara ayahnya dan Park Chanyeol? Kenapa laki-laki tua itu begitu membenci sosok jiyeon setelah mengetahui fakta tentang dirinya?

Mungkinkah jiyeon tahu jawabannya?

Myungsoo terkesiap. Ia sadar bahwa ia harus menyelesaikan masalah ini setuntas-tuntasnya. Rasa cintanya sudah semakin besar seakan mendarah daging dalam tubuhnya hanya untuk Park Jiyeon seorang. Lumrah sekali rasanya ketika kau ingin selalu berada di samping seseorang yang kau kasihi, bahkan memiliki hasrat untuk memiliki dirinya seutuhnya. Sangat manusiawi.

Laki-laki tampan itu bergegas meraih tuxedonya yang tersampir di atas sofa dan mengenakannya dengan cepat.

Manik matanya menelusuri ruang sekretaris tepat ketika ia membuka pintu.

Namun sosok jiyeon tak ada di sana. Juga meja kerjnya telah nampak bersih dari lembar-lembar kertas yang semula tertumpuk di sana.

Mungkinkah jiyeon benar-benar telah menyerah??

Nafas myungsoo memburu. Dengan menggunakan smarphone iOSnya, beberapa kali ia mencoba menghubungi jiyeon melalui ponselnya. Namun tak ada jawaban di seberang. Hanya ada suara operator di akhir panggilan yang memberitahukan bahwa pemilik ponsel tidak mengangkat telepnnya dan meminta untuk meninggalkan pesan.

Myungsoo memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Pikirannya begitu kalut, sementara ujung jarinya bergeser secara teratur diatas list phonebook smartphonenya. Tujuannya adalah menemukan nama Kim Woo Bin di antara deretan berpuluh-puluh nama teman, keluarga, dan rekan bisnisnya.

“oh.. myungsoo-ssi..” tak sampai dua kali dering, suara woobin telah menyambut dari ujung telepon.

“bisakah aku meminta bantuanmu woobin-ssi?”

“bantuan seperti apa?”

“tolong beritahu aku dimana jiyeon tinggal, jebal~~”

“ah.. it-uu.. kupikir kau mengetahuinya. Apakah sesuatu terjadi dengan kalian?”

“ya—ya kupikir,, akan kujelaskan nanti, bisakah kau mengirimiku alamat tempat tinggalnya sekarang?” ucap myungsoo.

Ada nada ketidaksabaran ketika woobin tak kunjung merespon pertanyaannya.

“woobin-ssi, kau masih di sana?

“ya.. begini saja, bagaimana jika esok kalian bertemu berdua? Aku akan mengatur janji untuk kalian berdua, eotte? Aku tak memiliki alamat rumahnya saat ini.”

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya. Benarkah woobin yang notabene adalah sahabat jiyeon tak tahu menahu mengenai tempat tinggal teman karibnya sendiri? Bahkan tempo waktu lalu mereka sempat berbohong sebagai adik kakak. Rasanya tak masuk akal.

Namun myungsoo tahu ia tak memiliki pilihan lain untuk dapat menemui jiyeon dan mengutarakan banyak hal yang disimpannya selama ini pada gadis itu.

Maka ia menyetujui saran woobin.

 

TBC.

 

hai, fellas~~~ sorry lama updatenya.. hampir selalu kelupaan mau publish ini ff.. hehe.. maaf ya~~ jika ada yang tidak keberatan,, kalian bisa visit blog pribadi baru saya.. kedepannya mungkin akan jadi blog story,, bukan fanfictions.. bias-bias saya cuma jadi visual cast ajah😀 mind to visit? http://yessystory.wordpress.com

18 responses to “[MULTICHAPTER] THE HEIR’S SECRETARY [6th]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s