[ONESHOT] We were meant to be

Title: We were meant to be | Author: Olivemoon | Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo Genre: Mystery Length: Oneshot | Rating: PG – 15 | Poster was created by Ohmylady@HSG

Maaf jika banyak typo(s) :$

 ***

Malam hari adalah waktunya semua orang beristirahat setelah lelah mengerjakan berbagai aktivitas di siang hari. Namun, disudut kota Seoul,  sepasang kekasih tengah menggemakan gang sempit itu dengan suara langkah kaki mereka. Suara sepatu dengan irama yang semakin cepat seakan menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan. Ya, mereka sedang berlari.

Sebuah sudut ruangan yang gelap tertangkap oleh indera pengelihatan laki-laki itu. Laki-laki yang bernama Kim Myungsoo itu menyambar tangan gadisnya, menyuruh untuk mempercepat langkah mereka. Ia menemukan celah untuknya dan kekasihnya bersembunyi.

“Kemana mereka pergi?”

Myungsoo mengeratkan pelukannya pada─Park Jiyeon─kekasihnya itu ketika ia rasa orang yang sedang mengejar mereka berada dijarak yang dekat dari posisi mereka berada.

Suatu keberuntungan bagi Myungsoo dan Jiyeon. Satu menit, dua menit berlalu mereka sudah tidak mendengar suara apapun lagi kecuali nyanyian jangkrik ditengah kesunyian malam itu.

Merasa keadaan sudah aman, Myungsoo perlahan melepaskan pelukannya. Ia lantas mendongakkan kepala kekasihnya untuk menatapnya.

“Kenapa kau bisa disini, Myungsoo-ah?” ucap Jiyeon sambil sedikit terengah-engah, ia belum bisa menormalkan nafasnya kembali.

Bukannya malah menjawab, Myungsoo malah mengajukan pertanyaan lain pada Jiyeon, “Jelaskan padaku kenapa kau dicari oleh mereka?”

Entah kenapa Jiyeon malah tersenyum mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu, “Karena kau adalah kekasihku, maka aku akan menceritakan semuanya.” Ucapnya sambil mengusap wajah Myungsoo yang dipenuhi keringat.

 

Flashback on

Hari senin ini, tepatnya tanggal 5 januari 2014, rumah Jiyeon kedatangan banyak tamu. Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam dengan membawa karangan bunga, bahkan sebagian dari mereka  menagis didepan foto seseorang. Ya, itulah yang kebanyakan orang lakukan ketika menghadiri pemakaman. Pemakaman Kim Taehee, ibu Jiyeon.

Saat ini, Jiyeon berada disamping foto Taehee sambil memeluk adiknya yang tak henti-hentinya memanggil nama ibu mereka dalam tangisnya. Gadis yang hanya berbeda dua tahun dengan Jiyeon ini pasti menjadi orang yang paling merasa kehilangan Taehee. Pasalnya, dialah yang setiap hari banyak menghabiskan waktu bersama Taehee. Setiap hari mereka akan bangun pagi untuk mengirim susu dan koran saat Jiyeon masih tertidur. Lalu, mereka baru akan pulang saat kerja paruh waktu mereka selesai, tepatnya ketika Jiyeon sudah tertidur.

Ayah Jiyeon? Ia telah meninggal karena kecelakaan mobil saat usia Jiyeon enam tahun. Sejak saat itu, Taehee lah yang membiayai Jiyeon dan adiknya─Park Jieun─sampai lulus sekolah. Saat usia mereka 15 tahun, Jieun sudah bekerja paruh waktu untuk membantu ibu, sedangkan Jiyeon hanya fokus belajar untuk mendpatkan beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikannya keperguruan tinggi.

Kehidupan mereka begitu sederhana. Ya, sederhana.

“Apakah kalian anak dari bibi Taehee?”

Kakak beradik itu mendongak setelah mendengar suara seseorang memanggil mereka. Jiyeon dan Jieun menatap seorang laki-laki tengah berdiri dengan tatapan sedih dihadapan mereka.

“Iya, anda siapa?” tanya Jieun, ia merasa belum pernah sekalipun bertemu dengan laki-laki itu.

“Nama saya Kim Myungsoo. Ayah saya adalah teman bibi Taehee. Saat ayah menerima kabar bahwa bibi Taehee meninggal, ia menyuruh saya datang mewakilinya karena ia sedang berada diluar negeri dan baru akan pulang seminggu kemudian.” Jelasnya sambil tersenyum.

Jiyeon menatap Myungsoo yang tengah tersenyum tanpa berkedip sekalipun. Tampaknya senyuman itu telah menjalar ke sarafnya sehingga membuat inderanya lumpuh untuk beberapa saat. Selama Jiyeon hidup, inilah pertama kalinya Jiyeon merasakan rasanya tertarik pada lawan jenis. Rasa yang orang sebut cinta.

Terimakasih ibu, ucapnya dalam hati. Ia berfikir ibunya telah mengirim pendamping agar dirinya tidak kesepian.

“Oh begitu. Terimakasih sudah datang.” Ucap Jiyeon sambil membungkuk. Sebenarnya, ia ingin mengenal lebih banyak laki-laki yang bernama Myungsoo itu. Namun, rasanya saat ini bukan waktu yang tepat jika ia harus meninggalkan adiknya sendiri.

Setelah membungkuk, Myungsoo pergi dari hadapan Jiyeon dan Jieun untuk memberikan penghormatan terakhir untuk almarhum Taehee.

Jiyeon terus saja memperhatikan laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Setiap gerak-geriknya terasa seperti adegan langka yang tak boleh ia lewatkan.

.

.

Pagi itu, Jiyeon menyiapkan sarapan untuk adiknya. Ia harus selalu mengantar makanan karena Jieun selalu menyendiri dikamarnya. Lima hari telah berlalu sejak upacara pemakaman Teahee. Jiyeon dengan tabah sedikit demi sedikit mulai menerima kenyataan, sedangkan Jieun masih rapuh, ia masih sering menangis setiap harinya.

“Jieun-ah,” Panggil Jiyeon sambil mengetuk pintu kamarnya.

Biasanya, jika Jiyeon mengetuk pintu, Jieun akan langsung menyuruhnya masuk. Namun, hari ini Jiyeon belum juga mendengar suara adiknya itu.

Dengan rasa panik bercampur cemas, Jiyeon segera masuk kedalam kamar Jieun.

“Jieun─AAAAAA” Jiyeon berteriak saat ia menemukan adiknya─Jieun─terbaring dilantai dengan busa yang keluar dari mulutnya.

.

Hari berikutnya, Jiyeon mamakai pakaian hitam yang dipakainnya enam hari lalu dan melakukan hal yang sama─yaitu menyambut tamu yang datang untuk menyampaikan penghormatan terakhir mereka. Ya, ini adalah hari lain Jiyeon untuk menyiapkan upacara  pemakaman seseorang. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk adiknya sendiri, Jieun.

Kemarin, saat ambulance yang Jiyeon panggil untuk mengirim Jieun kerumah sakit datang, mereka hanya menggeleng, menyatakan Jieun tidak bisa terselamatkan. Jiyeon yang tidak percaya membawa sendiri adiknya itu ke klinik terdekat. Namun, kenyataan pahit harus ia terima, Jieun dinyatakan meninggal karena meminum pil tidur terlalu banyak. Jiyeon yakin Jieun ia pasti sengaja bunuh diri karena tidak sanggup hidup tanpa ibunya, Taehee.

“Hei..” sapaan itu membuyarkan lamunan Jiyeon. Dilihatnya laki-laki yang berdiri dihadapannya kini adalah laki-laki yang ia lihat enam hari yang lalu, Kim Myungsoo.

“Myungsoo-ssi.” Panggilnya.

“Ne. Aku kemari untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Jieun-ssi dan melihat keadaamu.”Jawabnya sambil membawa sebelah tangan Jiyeon dan mengelusnya lembut.

Myungsoo menatap tepat ke manik mata Jiyeon seraya berkata, “Kau tidak punya siapa-siapa lagi sekarang, bolehkah aku menjaga dan melindungimu?”

Mata Jiyeon berkaca-kaca setelah mendengar permintaan Myungsoo tadi. Jiyeon bahkan tidak bisa berkata-kata untuk mengekspresikan rasa bahagianya. Merasa tahu dengan apa yang Jiyeon rasakan, Myungsoo perlahan memeluk Jiyeon, menyalurkan rasa bahwa ia benar-benar tulus.

Sejak saat itu, Myungsoo setiap hari mengunjungi rumah Jiyeon. Mereka setiap hari berangkat ke kampus bersama sejak mereka tahu bahwa keduanya ternyata berada di universitas yang sama. Kebersamaan karena terbiasa tampaknya telah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Terbukti, dua minggu kemudian Myungsoo telah resmi meminta Jiyeon untuk menjadi kekasihnya.

Seperti pasangan yang dimabuk cinta lainnya, Myungsoo setiap hari mengucapkan selamat pagi dengan mengecup bibir kekasihnya, lalu Jiyeon akan bangun dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Tak hanya itu, mereka juga membeli couple stuff seperti kaos, gelang, sepatu dan sebagainnya, kemudian mereka akan memakainya jika pergi kencan ketempat hiburan, membuat iri pasangan lain karena melihat bagaimana manisnya hubungan mereka.

Tiga bulan kemudian.

TING~

Suara bel rumah Jiyeon terdengar. Jiyeon yang sedang merias dirinya segera melihat jam yang berada di sampingnya─menunjukan pukul tujuh malam. Ia mengerutkan keningnya, dia memang sedang menunggu Myungsoo karena mereka berjanji akan pergi berkencan, tetapi ini bukanlah waktunya. Myungsoo mengatakan bahwa dia akan menjemputnya pukul delapan.

Karena penasaran, Jiyeon memutuskan untu beranjak pergi menuju pintu masuk.

Segera setelah Jiyeon membuka pintu, ia melihat dua orang pria paruh baya berjaket hitam tengah berdiri dihadapannya.

“Apakah anda nona Park Jiyeon?” tanya salah satu diantara mereka.

“Iya, saya Park Jiyeon.” Jawab Jiyeon singkat sambil menatap mereka dengan tatapan heran.

“Kami dari kepolisian. Anda akan diinterogasi karena dicurigai telah melakukan pembunuh terhadap Kim Taehee dan Park Jieun, ibu dan adik anda.” Jelasnya.

Jiyeon tertawa mendengar pernyataan salah satu polisi tadi, “Apa yang kalian pikirkan? Aku ini anak dari Kim Taehee dan kakak dari Park Jieun. Mana mungkin aku membunuh mereka berdua.” Ucap Jiyeon ditengah tawanya.

“Karena itu, silahkan ikut bersama kami terlebih─” Perkataan polisi itu terputus ketika Jiyeon tiba-tiba melarikan diri. Jiyeon pikir polisi itu tidak boleh membawanya karena malam itu adalah hari yang spesial─yaitu berkencan dengan Myungsoo.

Adegan kejar-kejaraan pun terjadi. Jiyeon terus berlari sekuat tenaga agar tidak tertangkap. Di tengah jalan, ia merasa tangannya ditarik oleh seseorang. Kedua sudut bibir Jiyeon terangkat ketika ia tahu siapa orang yang ikut berlari bersamanya itu adalah kekasihnya, Kim Myungsoo.

Flashback off

 

Disinilah mereka sekarang, bersembunyi dari kejaran dua polisi itu.

“Lalu, apa benar kau membunuh bibi Taehee dan Jieun?” tanya Myungsoo sambil membulatkan mata dan mulutnya.

Jiyeon menatap Myungsoo masih dengan tatapan datarnya, “Benar, aku membunuh keduanya. Aku membunuh ibuku karena muak akan perlakuannya yang seakan tak menganggapku ada, mungkin karena ia sempat melihatku yang memotong rem mobil ayahku saat berumu enam tahun. Aku membunuh ibuku dengan cara memasukan kabel saat aku menyiapkan air untuk ibuku mandi. Sesuai rencanaku, ibuku mati karena tersengat listrik.” Jiyeon tersenyum tipis mengingat kejadian dimana ia membunuh ibunya, sedangkan Myungsoo masih diam, ia menunggu Jiyeon melanjutkan ceritanya.

“Lalu Jieun. Kau ingat saat pertama kali kita bertemu adalah saat pemakaman ibuku? Saat itu aku telah jatuh cinta padamu. Aku ingin sekali bertemu denganmu lagi. Rasanya tak sia-sia berhari-hari aku memikirkan cara agar bisa menemukanmu dengan mudah, nyatatnya aku berhasil. Kau datang kembali di upacara pemakaman adikku.” Raut wajah Jiyeon sangat berseri-seri seolah senang menceritakaan semua itu kepada Myungsoo.

“Jadi kau sengaja membunuh adikmu agar bisa bertemu lagi denganku?” Tanya Myungsoo membelalakan matanya lebih lebar.

“Benar sekali.” Jawab Jiyeon tidak ragu sama sekali. Ia tidak perduli jika Myungsoo akan takut padanya. Jika Myungsoo mencoba kabur, ia akan memaksa Myungsoo tinggal dengan membunuhnya. Cukup hidup dengan jasad Myungsoo saja, ia sudah cukup. Ya, itulah jati diri Jiyeon yang sebenarnya, seorang psycho.

Sesaat kemudian, setelah Myungsoo mencerna semua perkataan Jiyeon, ia tersenyum seperti anak kecil yang menemukan permennya. “Park Jiyeon, kurasa kita memang telah ditakdirkan untuk bersama.” Ujarnya.

Jiyeon yang mendengar itu hanya bisa menautkan kedua alisnya.

“Kau salah, pertemuan pertama kita adalah saat upacara pemakaman ayahmu. Saat itu sosokmu sangat menyita perhatianku. Aku tidak tahu dengan apa yang kurasakan saat itu, rasanya sedikit menggelikan jika aku menyebut itu cinta pada pandagan pertama mengingat usiaku yang masih delapan tahun. Namun, aku pun sama sepertimu, aku ingin sekali bertemu denganmu lagi setelah hari itu. Karena tak kuat menahan rindu, keesokan harinya aku pergi mengunjungimu lagi, tapi tetangga mengatakan bahwa kau telah pindah.” Jelas Myungsoo.

Sekarang, giliran Jiyeon yang membulatkan mata dan mulutnya setelah mendengarkan penuturan Myungsoo.

“Kau tahu? Aku juga membunuh ibu dan ayahku. Saat usiaku sepuluh tahun, aku membunuh ibuku karena aku melihat wanita itu membawa pria lain kerumah. Tidak seperti cara membunuhmu yang terlihat halus dan rapih, aku mencabik-cabik kulitnya dengan pisau dan memberikan sedikit dagingnya untuk anjingku.” Jiyeon masih diam, ia Menunggu Myungsoo untuk melanjutkan ceritanya.

“Lalu, ayahku. Aku membunuh ayahku karena aku muak dengan pukulannya. Setelah ibu meninggal ia selalu memukulku, melampiaskan kemarahannya karena ia tidak bisa menghukum ibuku yang berselingkuh di belakangnya. Saat kesabarannku habis, kulakukan hal yang sama seperti kepada ibuku. Entah kenapa, aku merasa senang ketika melihat darah mereka mengalir ditanganku.” Ucap Myungsoo panjang lebar dengan senyumnya seakan senang ketika menceritakan cerita menyanangkannya itu kepada kekasihnya. Ternyata Myungsoo juga tidak berbeda dengan Jiyeon, seorang psycho.

“Lalu, dimana kau menyembunyikan mayat mereka? Jika kau menguburnya, pasti kau menguburnya sangat dalam. Terbukti karena sampai sekarang tidak ada orang yang mencarimu.” Ucap Jiyeon sambil mengelus bahu kekasihnya itu.

“Yaah~ kau memang benar. Aku menguburnya, tepatnya dibelakang rumah.” Jawab Myungsoo sambil berseri-seri membayangkan ia sudah mengirim ayahnya agar ia bisa puas memukuli isterinya itu.

“Baguslah. Tadinya kupikir kau akan takut padaku dan akan memutuskan untuk melarikan diri.” Ucap Jiyeon.

“Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu sementara aku sangat mencintaimu, eoh?” Ucap Myungsoo sambil membawa Jiyeon kepelukannya, lalu mengelus lembut rambut panjang Jiyeon.

“Tadinya jika kau melakukan itu aku akan membunuhmu dan hanya akan hidup bersama jasadmu.” Ucap Jiyeon seakan mangucapkan kata ‘membunuh’ baginya adalah kata-kata biasa.

Mendengar hal itu, Myungsoo segera melepaskan pelukannya. Ia menaikkan sebelah bibir atasnya sambil menatap Jiyeon tajam, “Mwo? Yak! Beraninya kau mempunyai niat seperti itu.”

Keundae, sebenarnya aku juga memiliki niat seperti itu untuk berjaga-jaga jika kau melirik lelaki lain.” Ucap Myungsoo dengan wajah polosnya.

“Yak! Oppa!” Kini Jiyeonlah yang terlihat marah karena ucapa Myungsoo. Ia mengerucutkan bibirnya lucu─membuat Myungsoo gemas melihatnya.

“Tidak, aku tidak akan pernah melakukannya.” Myungsoo kembali memeluk Jiyeon dengan erat.

Saranghae, oppa.” Ucap Jiyeon dalam pelukan Myungsoo sambil membalas pelukan kekasihnya itu dengan lebih erat.

Nado, saranghae, Jiyeon-ah” timpal Myungsoo.

Pada akhirnya, bukannya takut karena identitas keduanya telah terungkap, rasa cinta keduanya malah bertambah besar satu sama lain. Namun, apa yang akan terjadi? Bagainama kehidupan kedua psycho yang ditakdirkan bersama itu selanjutnya? Pastinya, hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.

 

FIN

 

A/N:

Haiii~ lambai2 tangan. Kemaren2 udh ngpost sad ending, eh skrg malah post yg beginian. Maaf, ini ceritanya absurd bgt yaa xD. Sebenernya, ide ini hadir pas temen kampus ngasih psyco-tes. Yang empat pertanyaan itu loh, pasti ada yang pernah denger atau baca, kan?. Tadinya ini mau aku pake buat teaser psycho couple tapi masih pikir-pikir kalo bikin yang chapter tuh takut mentok ditengah jalan hihihi.

Kritik dan sarannya ditunggu yaa^^

72 responses to “[ONESHOT] We were meant to be

  1. Waaah cerita nya keren tapi bikin ngeriii….suka bunuh orang gtuuu hiks.. wkwkwk
    Aku bari bacaaa hmmm rameeee bgt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s