(Chapter 5) Belle in the 21st Century – Pre-Wedding

belle-jiyeon-1

Belle in the 21st Century – Pre-Wedding

kkezzgw storyline

Main Cast: T-Ara’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Cast: T-Ara’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: SHINee’s Minho, miss A’s Suzy, and more (than 12)~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: General

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog:  keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

Udara sejuk membelai sekujur tubuh Myungsoo yang kini hanya diam mematung di depan sebuah pusara bertuliskan ‘Jun Yeon Hee’. Entah apa yang ia pikirkan hingga rahangnya mengeras serta mata elangnya menatap nanar kearah pusara itu dari balik kacamata hitamnya, tubuhnya hanya dibalut oleh kemeja putih dan celana panjang hitam ala CEO muda dengan jas berwarna hitam yang ia sampirkan di lengan kanannya. Ia mengenggam sebuah foto dan beberapa kuntum mawar merah—yang selalu ia bawa setiap ia berziarah ke makam sang ibunda.

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 24 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

Dinginnya angin musim gugur tidak mengalihkan perhatian Myungsoo dari nisan bertuliskan ‘Jun Yeon Hee’. Mata elangnya menatap nanar kearah pusara itu dari balik kacamata hitamnya. Ia mengenggam sebuah foto dan sebuket mawar merah—yang selalu ia bawa setiap ia berziarah ke makam sang ibunda.

Eomma, aku datang. Bagaimana kabarmu disana? Apa kau merindukanku? Hari ini tepat 12 tahun kau meninggalkanku sendirian disini. Mengapa kau tidak membawaku bersamamu saja?”

Kalimat putus asa dan keinginan untuk pergi ke tempat tenang di atas sanalah yang selalu diucapkan Kim Myungsoo setiap datang ke tempat ini.

Setelah berpuas diri depan pusara ibunya, Myungsoo berjalan dan melewati ratusan pusara lainnya sampai akhirnya ia berdiri tegak di depan pusara gadis itu. Ia tak bisa mengelak bahwa hatinya selalu perih melihat kedua orang yang paling ia cintai meninggalkannya di dunia ini sendirian, dan tanpa mereka sadari kepergian mereka sukses membuang semua sifat manusiawi yang Myungsoo miliki, membawa kehangatan Myungsoo bersama mereka.

Ia merogoh saku celananya dan menatap sendu kotak beludru berwarna merah hati berada dalam genggamannya saat ini. Pikiran dan jiwanya semakin kacau begitu membuka kotak itu dan kembali bertemu dengan cincin permata yang tidak sempat ia sematkan ke jarinya. Walaupun sudah ratusan kali Myungsoo membawa serta cincin ini jika berziarah kesini, namun kehampaan dan rasa putus asa itu tak kunjung surut.

“Maaf aku baru bisa kembali mengunjungi setelah sekian lama tidak melakukannya,” Myungsoo memulai sapaannya dengan gumaman pelan, “Kau tahu dengan baik siapa aku dan apa yang kulakukan selama ini”

Myungsoo tertawa lirih lalu kembali menatapnya dengan seksama, “Aku…akan menikah, dengan seorang wanita yang dipilihkan oleh tua bangka itu. Maafkan aku karena mengingkari janjiku sendiri untuk tidak menikah selain denganmu, kau tahu aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi, tapi aku tidak bisa melawan ayahku sekalipun aku membencinya. Aku memang harus dan akan memberikan cincin ini kepada wanita lain, tapi aku tidak akan memberikan hatiku yang sudah diukir namamu di setiap inchinya. Kuharap kau bahagia disana…”

Pria itu menghela nafas dengan berat setiap mengingat tentang pernikahan terkutuk itu. Ditengah kesenduan yang kini menyelimuti Myungsoo, suara ponselnya mengacaukan suasana dan langsung membuat Myungsoo mengumpat pelan sebelum membaca pesan teks yang ia terima dari seseorang.

“Myungsoo, datanglah ke Sunshine Bridal bersama Jiyeon untuk fitting. Sekarang jemput dia di kampusnya, okay?”

Myungsoo mendengus jengkel sembari melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan pusara gadis itu yang seakan menatapnya sedih.

**

Park Jiyeon POV

“Jiyeon! Jiyeon! Jiyeon!”

Aku mengerutkan kening mendengar suara nyaring Naeun memecah keheningan perpustakaan hingga membuat semua orang menegok kearahku dengan tatapan mencela, “Jiyeon! Jiyeon! Neo eodisseo?”

“Demi Tuhan, Kim Naeun!” tegurku sebal, “Ini perpustakaan bukan lapangan basket!”

Naeun terlihat kepayahan mengatur nafasnya. Mata hijaunya tak berhenti menatapku seakan hidungku ada tiga. “Katakan padaku, bagaimana bisa kau mengenalnya?”

Aku mengerut bingung, “Nugu?”

Naeun mendengus kesal, “Jiyeon, stop playing games with me! Bagaimana ceritanya kau mengenal seorang Kim Myungsoo?!”

“MWO!?”

“Lebih baik kau—oh astaga itu dia!”

Kurasakan jantungku mulai berdebar kencang. Suara – suara ricuh mulai terdengar di dalam maupun di luar perpustakaan hingga membuat Mrs. Jang mengerutkan wajah masamnya dalam – dalam.

Ketika aku menoleh, mata elang itulah yang sekali lagi membalasku. Sosok tampan nan tak tersentuh yang dikelilingi wanita – wanita yang mengerumuninya penuh dambaan.

Author POV

Myungsoo dengan langkah berat dan setengah malas mulai melangkah memasuki pelataran kampus itu. Sontak kehadiran pewaris utama kerajaan Jaekyo Group itu membuat satu kampus—terutama untuk kaum hawa—heboh.

Kalimat – kalimat penuh dambaan yang dilontarkan para kaum hawa hanya ditanggai dengan acuh oleh Myungsoo. Kini fokusnya hanya mencari gadis udik itu agar ia bisa pergi dari tempat ini sesegera mungkin. Mata Myungsoo menyipit begitu melihat sosok yang dicarinya. Pria itu melangkah cepat memasuki perpustakaan.

Jiyeon yang menyadari kehadiran Myungsoo hanya mengernyit bingung dan menatap Myungsoo tajam, “Neo yeogisseo mwohae?” tanya Jiyeon kebingungan.

Raut wajah L ucas tetap datar saat ia menarik lengan Jiyeon, “Kita harus fitting baju hari ini, kajja!

“MWORAGU?!”

Myungsoo tidak mempedulikan keterkejutan Jiyeon, pria itu sibuk menarik tangan Jiyeon. Tangan yang lainnya meraih tas Jiyeon sebelum mereka benar – benar meninggalkan perpustakaan yang sontak berubah ramai. Keduanya menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu setiap mereka berjalan kemana pun.

Naeun menatap kepergian keduanya dengan shock, matanya mengerjap beberapa kali begitu ia sepertinya bisa menerka apa yang terjadi disini.

OMO! OMO! JIYEON AKAN MENIKAH? DENGAN KIM MYUNGSOO?”

**

Jiyeon ingin sekali menendang bokong pria yang sekarang sibuk menyetir ini. Dengan sesuka hatinya membawanya seperti sapi yang hendak dipotong di peternakan. Belum lagi ia sadar perlakuan maupun perkataan Myungsoo yang enteng tentang fitting baju pengantin jelas membuat pernikahan yang ingin ia rahasiakan seumur hidupnya kini sibuk berkeliaran di seluruh penjuru kampus. Bahkan Jiyeon bisa menebak mengapa ponselnya kini sibuk berdenting menandakan ada puluhan temannya yang menanyakan tentang rumor pernikahan sialan ini.

Karena sudah tidak tahan, Jiyeon melirik Myungsoo sinis sembari mencibir pelan, “Hei! Mengapa kau tidak menelponku saja agar aku keluar dari kampus dan pergi bersamamu? Karena ulah dan perkataan brilianmu itu, kini pernikahan bodoh kita tersebar dengan bebas layaknya virus di kampusku!”

Myungsoo membuang nafasnya kasar sambil mendelik kesal kearah gadis itu, “Seharusnya kau bersyukur aku menjemputmu ke kampusmu, dan bahkan membawamu langsung dari kelasmu! Kau itu lambat, aku tidak mau waktuku terbuang sia – sia untuk menunggumu keluar kelas!”

APA? Lambat? Kau benar – benar raja es yang menyebalkan, seharusnya seseorang mengutukmu seperti Beast di film Beauty and the Beast!”

.

.

“Akhirnya kalian sampai! Kami sudah menunggu kalian sejak tadi!” sambut Nyonya Kim begitu mereka tiba seraya memeluk Jiyeon.

Jiyeon tersenyum kikuk sedangkan Myungsoo hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi kearah ibu tirinya. Keduanya kini dibawa ke ruangan yang berisi dress – dress yang biasanya hanya dapat dipandangi Jiyeon dari balik etalase toko. Jiyeon tidak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat puluhan gaun pengantin yang di gantungkan dengan cantik di ruangan besar itu.

Gadis itu terkesiap begitu melihat siapa dan dimana ia berada sekarang, betapa bodohnya ia tidak menyadari sejak tadi bahwa ia dibawa ke bridal termahal dan paling terkenal di kota ini, bahkan ia mengenali wanita yang kini duduk di mejanya dengan berlembar – lembar kertas berisi hasil rancangannya. Wanita itu tersenyum ramah pada Jiyeon, “Halo, aku Katerina. Aku diberi kehormatan oleh keluarga Kim untuk mendesain gaun pengantinmu. Apa kau punya gambaran gaun seperti apa yang kau inginkan?”

“Aku sejujurnya belum memikirkan apapun soal ini,”

Katerina mengangguk maklum, “Baiklah, aku akan membawakanmu beberapa gaun masterpiece-ku mengingat anda belum punya gambaran apapun.”

Jiyeon menatap wanita glamour itu dengan tatapan ingin tahu dan penuh ketertarikan, jelas ia mengenal sosok wanita ini. Siapa yang tidak mengenal Park Sun Hee, designer terkenal yang memiliki jutaan ide brilian dalam otaknya dalam merancang dress. Dan fakta yang paling membuat Jiyeon terharu dan bangga adalah bahwa wanita sekelas Katerina-lah yang akan merancang baju pengantinnya, entah ia harus berekasi apa dalam hal ini.

Park Sun Hee datang membawa tiga gaun pengantin dibantu oleh tiga asistennya. Gaun pertama bermodel corset ball gown dengan berlian yang menghiasi bagian corset , gaun kedua bermodel mermaid dress, dan gaun ketiga berbahan guipure lace dengan  desain yang simple namun tetap memancarkan sisi romantis dan lembut sang mempelai wanita.

“Woah…” Jiyeon tak mampu menutupi kekagumannya melihat tiga karya Park Sun Hee dihadapannya.

“Aku harap kau menyukainya, ayo kita coba dulu gaun – gaun ini..”

**

Myungsoo mencibir ibu tirinya yang kini terlihat sibuk mengurus pernikahannya dengan Jiyeon. Ia itu sadar keluarganya jatuh cinta pada calon istrinya yang lebih layak ia sebut gadis udik dibanding calon Nyonya Kim Myungsoo. Membayangkannya saja sudah membuat Myungsoo mengernyit merinding. Terlebih Yoojung dan Kibum, keduanya semakin membuatnya gila karena terang – terangan memuji Jiyeon dengan alasan tak berarti.

Walaupun Myungsoo selalu menekuk wajahnya, namun ketampanan pria itu seakan tak sirna, ia tetap terlihat tampan dan mempesona. Tubuh kekarnya kini dibalut oleh tuxedo putih, rambut yang ditata sedemikian rupa, serta wangi aftershave yang menyerbak dari tubuhnya membuat ketampanannya seolah melambung tinggi. Kini calon mempelai pria sedang menunggu mempelai wanitanya memakai wedding dress untuk melakukan foto pre-wedding.

Beberapa menit pun berlalu sampai seorang pelayan masuk ke dalam ruang tunggu dimana keluarga Kim berada, pelayan itu membungkuk singkat sebelum menampilkan senyum sopannya, “Tuan, Nyonya, Nona Jiyeon sudah siap”

Myungsoo adalah orang yang pertama kali berdiri karena ia tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini, walaupun beberapa orang mengira Myungsoo sudah tidak sabar melihat calon istrinya.

Tirai ungu itu pun terbuka dan terlihatlah gadis cantik dalam balutan gaun putih yang sontak membuat Myungsoo terpaku sesaat. Gaun pengantin itu membalut tubuh ramping Jiyeon dengan sempurna, rambut yang biasanya ia ikat kini tergerai bebas menutupi bahu telanjangnya yang terekspos. Myungsoo hanya terdiam di tempatnya sedangkan Jiyeon menunduk malu begitu menyadari tatapan intens yang dipancarkan dari mata Myungsoo.

“Ahhh, menantuku cantik sekali! Myungsoo, bagaimana pendapatmu?”

Myungsoo berdeham tersadar dari lamunannya dan berusaha memasang ekspresi datar, “Lumayan, dia terlihat cantik walaupun kesan desanya terlihat,”

Jiyeon memejamkan matanya sembari meremas gaun pengantinnya gemas saat mendengar ejekan Myungsoo, “Lihat saja kau, akan kusiksa setelah kita menikah!” umpat Jiyeon dalam hati sambil memalingkan tatapannya dari Myungsoo, ia sudah merelakan dirinya untuk memakai pakaian feminim seperti ini dan calon suaminya yang sombong itu malah mengejeknya?

“Wahh, noona kau cantik sekali!”

Jiyeon melirik kearah Myungsoo seakan mengatakan matamu-pasti-bermasalah saat mendengar kedua calon adik iparnya memujinya, Myungsoo mendengus tak peduli lalu melenggang keluar dari ruangan.

Jiyeon hanya mengepalkan tangannya kesal, ia benar-benar ingin menendang bokong pria itu hingga ia memohon maaf padanya.

.

.

Yak kalian ini…. tunjukkan sisi romantis kalian! Kaku sekali seperti patung Liberty,” protes Yoojung yang melihat secara langsung proses pemotretan pre-wedding Myungsoo dan Jiyeon.

Mendengar komentar itu, keduanya hampir mengeluarkan reaksi menolak yang sama.

Dengan setengah hati, lengan kekar Myungsoo melingkar sempurna di pinggang kecil Jiyeon. Keduanya merasakan kerja jantung mereka yang mulai berdetak tak normal diiringi dengan tarikan nafas yang memendek karena gugup. Walaupun mereka saling membenci, namun skinship antara pria dan wanita normal dengan keadaan memakai baju pengantin membuat mereka gugup sekaligus malu. Beberapa kali tubuh mereka menempel dengan sempurna, bahkan mereka harus melakukan siluet yang membuat mereka terlihat sedang berciuman mesra di sebuah taman.

“Aish, kapan ini berakhir?” umpat Jiyeon sambil melirik Myungsoo dari bahunya.

“Oh shit, cepat selesaikan acara bodoh ini!” kali ini batin Myungsoo yang bersuara sembari menatap punggung Jiyeon yang mengintip malu-malu dari balik gaun ketatnya.

“Sial, kau mulai berpikir aneh – aneh Kim Myungsoo. Ingat, dia musuhmu! Kau harus membuatnya terpesona denganmu, bukan sebaliknya!”

“Kenapa pikiranku seakan kacau saat menghirup aroma parfumnya? Astaga, Park Jiyeon, kau harus hentikan ini semua atau semua rencanamu gagal!”

Tanpa mereka sadari, keduanya mulai merasakan getaran aneh dalam dirinya namun harus mereka tutupi sebaik mungkin karena mereka memiliki rencana pribadi untuk satu sama lain.

**

“KAU BERHUTANG PENJELASAN PADAKU, PARK JIYEON!”

Jiyeon mendengus pasrah begitu mendengar suara cempreng Naeun mendominasi speaker ponselnya. Kini Jiyeon sedang dalam perjalanan menuju toko kue tempatnya bekerja pasca selesai melakukan fitting baju dan foto pre-wedding tadi. Ia ingin sekali balas meneriaki sahabatnya itu namun mengingat ia sedang berada di dalam bus yang berjalan, ia mengurungkan niatnya.

“Bisakah kau mengecilkan volume suaramu? Kau bisa membuatku tuli!”

“Bagaimana caranya aku mengecilkan volume suaraku jika sahabatku ini akan menikah dengan orang terkaya se-Korea Selatan ini! Astaga, katakan padaku bahwa kau sedang bercanda padaku detik ini juga!”

Jiyeon menghela nafasnya pelan, ia juga tidak mengerti mengapa ini bukanlah sekedar mimpi yang datang di malam hari dan pergi saat pagi datang, “Kuharap ini juga mimpi, Naeun.”

Naeun terdengar memekik dari seberang sana, “Oh astaga, ceritakan padaku bagaimana kau bisa bertemu dengan Kim Myungsoo! Kau—kau astaga Jiyeon, kau tahu siapa itu Kim Myungsoo, kan?”

“Si pria dingin, angkuh, menyebalkan, dan sok sempurna itu kan? Kalau Kim Myungsoo itu, ya aku tahu.”

“Apa kalian berpacaran sebelumnya? Mengapa kau tidak pernah memberitahuku? Apa Eunji tahu tentang ini?”

“Berpacaran? Kau pasti bercanda, itu tidak mungkin! Dan ya Eunji sudah tahu tentang ini, sebenarnya aku akan mengatakannya padamu, tapi pria bodoh itu menculikku tadi untuk fitting baju”

“Ya ampun, bahkan kalian sudah fitting baju penbgantin! Lalu bagaimana caranya kalian bertemu?”

“Ceritanya panjang,” ia menghela nafas sejenak, “tapi aku janji akan menceritakan ini semua padamu. Oh iya aku juga pasti akan mengundang—“

“OH TENTU SAJA KITA BERDUA HARUS DI UNDANG!”

Jiyeon terkekeh geli mendengar nada suara Naeun yang kembali tinggi begitu mendengar ia akan diundang ke acara pernikahan termewah tahun ini.

**

Apresiasi dari para pemegang saham maupun kolega perusahaan Jaekyo Group pun terdengar meriah seakan menandai bahwa rapat ini telah resmi ditutup. Banyak dari mereka mengangguk sambil berdecak kagum saat Kim Myungsoo berhasil menjelaskan presentasinya dengan baik pasca demo besar yang dijalani para karyawan perusahaan. Dengan strategi yang disampaikan oleh Myungsoo, mereka yakin keuntungan perusahaan akan kembali seperti sedia kala dan malah akan berkali – kali lipat dari sebelumnya.

Beberapa kali Kim Jongwoon dan Myungsoo bergantian menyalami para pemegang saham dan kolega perusahaan yang bergegas meninggalkan ruang rapat setelah 2 jam penuh membahas tentang masalah yang cukup menganggu keuangan maupun investasi mereka di Jaekyo Group. Kim Jongwoon melirik kearah Myungsoo yang kini kembali menjadi Myungsoo yang dingin setelah sejak tadi sibuk menebar senyum sopan kepada para koleganya.

“Kau sudah melakukan yang terbaik, Myungsoo. Sepertinya jabatan CEO memang pantas untukmu”

Myungsoo melirik sinis kearah sang ayah yang kini menatapnya penuh kekaguman, “Tentu saja aku pantas, ini jabatan yang selalu kuincar sejak dulu. Jabatan yang membuatmu meninggalkan ibuku dan menikahi wanita itu,”

Jantung Kim Jongwoon seakan dihantam oleh besi panas mendengar jawaban Myungsoo yang begitu melukai hatinya, namun ia kembali mengeraskan hatinya demi melawan putra sulungnya ini, “Aku tidak mau membahasnya! Dan berhenti menuduh Nyonya Kim seperti itu, kau tidak tahu apa-apa!”

Myungsoo tersenyum sinis, “Ah ya, aku memang tidak tahu apa – apa tentang kisah perselingkuhan kalian sampai akhirnya ibuku menemui ajalnya!”

“TUTUP MULUTMU!”

PLAK!

Tuan Kim tanpa sadar menampar putra sulungnya. Nafas pria itu tersenggal – senggal menahan emosi yang meledak dalam dirinya, “Sekali lagi kau bicara kotor mengenai ayah dan ibu tirimu sendiri—“

Myungsoo mengepalkan tangannya sambil memandang sang ayah dengan penuh kebencian, “Kau begitu menjijikan! Perusahaan ini selalu menjadi prioritasmu, bahkan karena kau, wanita itu, dan perusahaan sialan ini….ibuku meninggalkanku! Karena itulah, jangan harap aku menganggap wanita itu sebagai ibuku! Bahkan status ‘ibu tiri’ tak pantas ia dapatkan!”

Tuan Kim memandang nanar Myungsoo yang melangkah keluar ruangan dengan segenap kebenciannya pada dirinya yang tak akan hilang sampai kapanpun, pria itu mendesah sedih sambil menatap pintu yang sudah tertutup sempurna itu dengan sendu.

.

.

Myungsoo masuk ke ruangannya dengan langkah berat, deru nafasnya masih memendek dan tangannya mengepal sempurna karena emosi. Sekali lagi, ayahnya kembali membuatnya api dalam dirinya membakar seluruh akal sehatnya saat beliau sudah membahas tentang segala hal menyangkut Jaekyo Group dan ibunya.

Myungsoo yang terlihat emosi tidak menyadari kehadiran Minho di dalam ruangannya. Sahabatnya itu seakan dapat membaca situasi yang terjadi, “Bertengkar lagi dengan ayahmu?”

Myungsoo menoleh dan mendapati Minho dengan santainya duduk di kursi kebesarannya sambil menyeruput secangkir kopi. Myungsoo mendengus lalu menghampiri Minho, “Pergi kau dari kursiku!” usir Myungsoo dingin.

Minho tertawa riang lalu  menjalankan perintah Myungsoo dan serta merta merangkul bahu kekar sahabatnya, “Jangan terlalu sering emosi, bung! Kau terlihat semakin menua jika kau terus menekuk wajah tampanmu ini. By the way, presentasimu keren” puji Minho.

“Tumben kau menggantikan Tuan Jung untuk rapat tadi, apa dia sedang pergi?”

Minho mengangguk singkat, “Ah ya, beliau sedang menemui putrinya di Amerika.”

Myungsoo mengerjapkan matanya kaget, “Tuan Jung punya anak perempuan? Maksudmu putri kandungnya?”

Minho terdiam lalu mengangguk ragu, “Sepertinya begitu, aku memang dengar ia memiliki seorang putri, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya atau melihat fotonya.”

Myungsoo hanya mengangkat bahu tak peduli lalu mengeluarkan dokumen – dokumen yang diperlukan mereka, “Tolong serahkan dokumen – dokumen ini padanya. Itu proposal yang kamu ajukan padanya.”

Choi Minho merupakan anak angkat dari seorang pengusaha ternama sekaligus kolega Jaekyo Group dari Jung Corp yang dipimpin oleh Mr Jung Yunho. Kedua orangtua Minho meninggal dunia saat laki – laki ini berusia 15 tahun. Dengan berbekal rasa kasihan, Tuan Jung sudah menganggap Minho sebagai anaknya, mengingat ayah kandung Minho adalah sahabat karibnya—yang kebetulan menitipkan Minho padanya saat ia akan pergi ke luar negeri. Tuan Jung menyuruh Minho tetap memakai marga keluarganya sekaligus membantu Minho membangun bisnis keluarga Choi yang diwariskan pada Minho. Minho juga membantu perusahaan Tuan Jung dengan memantau dan memimpin kantor pusat Jung Corp jika Jung Yunho sedang tidak ditempat, sedangkan putrinya—yang bahkan baru diketahui Minho dua minggu lalu—sudah membantu cabang perusahaan Jung Corp di luar negeri.

“Aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Well, setidaknya beliau tidak menyebalkan sepertimu!”

Minho tertawa begitu melihat Myungsoo menyipitkan matanya geram. Minho mendudukan tubuhnya pada sofa panjang di ruangan Myungsoo dengan santai, “Kudengar kau fitting baju hari ini sebelum rapat. Bagaimana? Apa istrimu cantik dengan wedding dress-nya?”

“Dia lebih pantas disebut upik abu dibanding calon istri orang hebat seperti Kim Myungsoo” ucapnya acuh.

Minho terkekeh, “Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk berhati – hati. Aku bisa menangkap raut khawatir dari wajah tampanmu setiap membahas calon istrimu”

“Kau ini bicara apa? Kau tahu dengan jelas bahwa aku membenci gadis desa itu.”

“Tapi sepertinya kau juga tahu ada pepatah mengatakan ‘Benci menjadi Cinta’, kan? Aku bisa merasakan aura mencekam di balik nama ‘Jiyeon. Kurasa gadis itu bukanlah gadis feminim atau gadis yang takut akan aturan-aturan dunia tentang seorang-wanita-ideal. Aku benarkan?”

Myungsoo memutar bola matanya malas mendengar ucapan berlebihan dan tidak penting yang kerap kali dilontarkan mulut besar Minho. Namun sebersit perasaan takut itu kembali muncul seiring dengan tingkah laku Jiyeon yang bisa dibilang cukup berani untuk melawannya, terlebih setelah kejadian di meja makan beberapa hari yang lalu membuat perasaan itu semakin kuat mendominasi. Namun sekali lagi, ia berusaha menampik itu semua, keyakinannya untuk membuat Jiyeon menderita dan jatuh ke dalam pesonanya  semakin menggebu – gebu dalam benaknya.

Jiyeon seorang wanita normal, fakta yang ada memang mengatakan belum ada satupun wanita yang sanggup menolak pesona seorang Kim Myungsoo.

Dan Myungsoo akan membuktikan itu pada Jiyeon, segera.

Myungsoo menyeringai licik sambil menatap Minho, “Bagaimana jika aku mengubahnya menjadi wanita feminim dan sopan? Terima kasih, Choi Minho, kau baru saja membangunkan singa yang tertidur”

“Maksudmu?”

Myungsoo hanya tertawa licik sebelum meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Minho menggeleng pasrah. Oh tidak, jika Kim Myungsoo sudah bekerja, dia bisa saja memerintahkan bulan untuk bersinar di siang hari dan matahari di malam hari. Fakta bahwa tidak ada yang mustahil bagi seorang Kim Myungsoo membuat Minho merasa prihatin dengan gadis bernama Jiyeon itu. Pria itu hanya berharap Myungsoo tidak menyiksa Jiyeon secepat ini dengan cara – caranya yang aneh namun luar biasa berhasil.

**

Eunji terkesiap heboh begitu Jiyeon menunjukkan beberapa foto pre-weddingnya dengan Myungsoo yang terlihat mesra dan begitu natural, seolah mereka memang sepasang kekasih yang dimabuk asmara menjelang pernikahan, “Aw…so sweet!”

Jiyeon memutar bola matanya jengah, “Berhentilah berlebihan! Kau dan Naeun sama saja”

“Aish, tapi aku serius. Kau dan Myungsoo terlihat seperti pasangan sungguhan, terlebih kau terlihat sangat cantik dengan dress impianmu, bisa saja Myungsoo mulai tertarik padamu”

Jiyeon menatap Eunji seakan gadis itu sudah hilang akal, “Tidak mungkin dia menyukaiku, Eunji. Dari belahan dunia manapun, kami saling membenci satu sama lain”

“Hei, tidak ada kata ‘tidak mungkin’ di dunia ini, Jiyeon. Terutama jika itu menyangkut tentang cinta, kau tahu jika seorang pria dan wanita sudah terikat dalam sebuah hubungan serius seperti pernikahan, benih-benih cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, terlebih suamimu adalah salah satu tipe pria yang diidamkan semua wanita selama ini. Tampan, pintar, kaya, dan tentunya sexy, lalu apalagi yang kau cemaskan?”

Jiyeon merenung sedih mendengarnya. Ia jelas tidak mau jatuh cinta dengan Kim Myungsoo, ia sudah melatih hatinya setelah sekian lama untuk terbebas dari perasaan cinta dan fokus mengejar uang yang sangat sulit ia dapatkan, “Kau tidak akan mengerti permasalahanku. Ini lebih berat dibanding hanya menikah dan mengubahnya”

Eunji mengerutkan keningnya bingung sekaligus penasaran, “Apa maksudmu? Sekarang aku malah takut terjadi sesuatu di balik pernikahan ini. Hei, apa kau sudah mempertimbangkan ini semua dengan matang? Maksudku….pernikahan adalah suatu hal yang bersifat serius dan mengikat, ini bukan sebuah ajang mainan yang bisa kau datangi ataupun tinggalkan sesuka hati. Aku mungkin tidak tahu apa permasalahanmu dan aku akan dengan sabar menunggu saat dimana kau akan menceritakannya padaku, tapi aku harap kau mempertimbangkan semua ini lebih baik lagi, karena aku tidak mau kau terluka ke depannya”

Jiyeon menatap bola mata Eunji yang menasihatinya dengan kasih sayang yang begitu kentara dalam setiap kata yang ia ucapkan. Bukannya ia tidak mau menceritakan permasalahannya, namun ini semua terlalu membuat Jiyeon lelah dan menambah beban batinnya, ia tidak mau Eunji ikut pening membayangkan masalahnya.

KLING~ KLING~

Bunyi bel yang berdering pelan mengalihkan perhatian Jiyeon dan Eunji kearah pelanggan mereka yang baru datang. Sedetik kemudian, mereka terbelalak kaget begitu melihat beberapa pria berjas hitam dengan walkie talkie earpiece menempel di telinga kanan mereka serta beberapa pelayan wanita dengan hanbok ala kerajaan menghampiri kasir dengan tatapan kaku namun ramah. Jiyeon dan Eunji tercengang ketika mereka semua serempak membungkuk hormat kearah Jiyeon. Aksi itu jelas memicu rasa ingin tahu dan bingung dari para pelanggan yang ada di café itu saat ini.

Annyeong hashimnikka, apa anda Park Jiyeon agassi?

Jiyeon mengangguk linglung lalu ikut membungkuk sopan, “Ne, annyeong hashimnikka. Nugu?”

Para pelayan itu tersenyum sopan sedangkan bodyguard yang ada di belakang mereka menatap lurus ke depan seakan tak tergoyahkan, “Kami diperintahkan oleh Tuan Kim Myungsoo untuk mengantarkan anda saat ini”

Mwo? Kim Myungsoo? Jigeum? Dia menyuruh kalian mengantarku kemana?” tanya Jiyeon penuh kecurigaan, entah mengapa perasaannya mengatakan hal buruk akan segera terjadi padanya.

.

Jiyeon memekik tertahan begitu melihat tepatnya dimana kakinya berpijak sekarang. Rasanya ia ingin menghilang sekarang juga dari tempat ini atau terbang karena harus memasuki tempat ini, tempat yang bahkan tidak pernah ada dalam mimpinya atau ia harapkan seumur hidupnya.

Sebuah bangunan megah berwarna merah dengan papan nama Korean Princess Institute terpampang jelas di depan mata Park Jiyeon, gadis itu bisa merasakan seluruh otot tubuhnya lemas seketika dan kepalanya pening begitu ia menyadari calon suaminya benar – benar akan menyiksanya dengan cara seperti ini.

Siapa yang tidak tahu Korean Princess Institute? Tempat dimana semua wanita akan diajarkan bagaimana kehidupan putri – putri Korea dahulu kala, bagaimana cara bersikap, berbicara, bertata krama, bahkan cara tersenyum dan cara berjalan pun diajarkan. Jiyeon terheran – heran mengapa mereka tidak mengajarkan bagaimana cara bernafas ala putri Korea. Bagi keluarga kelas atas terutama para nyonya – nyonya berkantung tebal, melihat sang putri berada disini merupakan suatu kebanggaan—meskipun tentu saja remaja perempuan rata-rata tidak menyukai tempat ini sama sepertinya—karena setelah wanita yang pernah ‘bersekolah’ di Korean Princess Institute akan menjadi wanita kasta tinggi. Belum lagi prestasi Institut ini sudah mencapai dunia International dan diakui dunia sebagai tempat pelatihan wanita paling hebat se-asia.

Dan bagi Park Jiyeon, ini benar – benar penyiksaan jiwa raganya. Seumur hidup, ia tidak pernah tertarik apalagi berhubungan dengan hal – hal sejenis ini, baginya hal tabu itu sudah biasa ia lakukan dan kesopanan baginya hanya berlaku untuk kalangan tertentu. Namun di tempat ini, semua wanita harus terlihat santun, anggun, dan berkelas.

Tiba – tiba pintu sekolah terbuka dan keluarlah seorang court lady menghampirinya dan membungkuk penuh hormat. Jiyeon reflek membalas sapaan itu dengan kikuk.

“Selamat datang, nona Park Jiyeon. Suatu kehormatan bagi kami semua untuk bertemu anda,”

“A—aku…mengapa aku bisa berada disini?”

Kepala dayang itu tersenyum sopan, “Tuan Kim Myungsoo mempercayakan kami untuk mendidik dan melatih anda.”

“M—mwo? K-Kim..Myungsoo?”

“Kim Myungsoo….aku benar-benar akan membunuhmu!” pekik Jiyeon sambil memejamkan matanya pasrah begitu para dayang yang menjemputnya tadi menggiringnya masuk ke dalam.

“Berapa lama aku akan berada disini?”

“Tuan Kim Myungsoo meminta paket belajar special yang terbaik dan terketat. Anda bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu satu minggu, exclude test dan hasil test resmi yang menyatakan anda lulus atau harus mengulang lagi, tepatnya 10 hari kami akan melatih anda, agassi.”

Jiyeon menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menolak mempercayainya! Belajar selama 10 hari? Jika gagal akan mengulang lagi?

Welcome to living hell, Park Jiyeon.

**

Jam menunjukkan pukul 12 malam begitu Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki rumah besar keluarga Kim dengan keadaan setengah mabuk. Kemeja putihnya terlihat lusuh dan tetesan alcohol terlihat di bagian tertentu kemejanya, dan yang terburuk adalah bekas lipstick merah yang menempel di kerah kemejanya membuat Nyonya Kim tertegun mendapati kondisi Myungsoo saat ini, ia merasa bersalah namun tidak tahu harus berbuat apa mengingat putra tirinya ini begitu membenci seisi keluarganya, terutama dirinya.

Pria itu masih bisa menajamkan konsentrasinya dengan baik untuk mencapai kamarnya di lantai dua, ia pun menyadari keberadaan Nyonya Kim yang menunggu kedatangannya dari ujung tangga. Myungsoo mendengus kesal dan memutar haluannya menuju tangga di sisi kiri, Nyonya Kim tidak menyerah dan ia berjalan dari ujung tangga kanan ke ujung tangga kiri dengan cepat.

Myungsoo menatap Nyonya Kim jengkel saat wanita itu berhasil sampai disini beberapa detik sebelum ia mencapai anak tangga terakhir, “Mwo?!”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu”

Myungsoo berdecak sinis, “Kita bisa melakukannya besok. Aku mengantuk, lupakan ini semua.”

“Sebentar lagi kau akan menikah, Kim Myungsoo. Jaga sikapmu dan hentikan aksi pulang malammu mulai sekarang”

Myungsoo menyeringai bengis mendengar ibu tiri yang sudah menghancurkan kebahagiaannya terdengar begitu perhatian padanya, tanpa menjawab sedikitpun Myungsoo melenggang pergi tak peduli dengan ibu tirinya yang menatapnya nanar punggung tegap Myungsoo yang menjauhinya.

“Bisakah kau menghargaiku? Bagimanapun, suka tidak suka, sekarang aku adalah ibumu, Kim Myungsoo”

Langkah gontai Kim Myungsoo terhenti begitu Nyonya Kim mulai membahas ibu kandungnya yang sudah berhasil wanita itu tendang dari rumah ini. Tangannya mengepal sempurna seiring dengan wajahnya yang memerah karena emosi dan didukung oleh asupan alcohol yang beberapa jam lalu ia tenggak bersama wanita malamnya. Ia memutar tubuhnya hingga mata elangnya menatap tajam kearah Nyonya Kim yang kini memancarkan tatapan menyala – nyala.

“Mungkin kau memang istri ayahku saat ini, namun tidak akan ada yang bisa menggantikan Jun Yeon Hee sebagai ibu dalam hidupku, termasuk anda Nyonya Kim Hanna. Mungkin kau sudah puas bisa merebut Kim Jongwoon kembali padamu, tapi sampai kapanpun…kau tidak akan pernah menjadi ibuku!”

Nyonya Kim hanya menghela nafas mendengar itu semua, ia menatap Myungsoo dengan tatapan terluka, “Aku tahu suatu kesalahan besar membiarkan ayahmu melakukan itu pada ibumu, tapi dia tidak sengaja melakukan itu. Kau…hanya tidak tahu kenyataan apa yang kami semua hadapi!”

Myungsoo menyeringai sinis mendengar suara lemah Nyonya Kim mengaum di telinganya, “Maksudmu kenyataan yang tidak disengaja ayahku adalah menikahi ibuku agar ia bisa bersamamu selamanya, begitu?”

Nyonya Kim terbelalak kaget saat Myungsoo mengatakan hal itu, “Jaga bicaramu, Myungsoo!”

“Aku yang seharusnya mengatakan kalimat itu! Jangan bertingkah seperti kau tidak tahu hal menimpaku dan ibuku!”

Myungsoo berjalan perlahan menghampiri Nyonya Kim dengan ekspresi dingin, “Aku melihat ibuku sendiri yang menderita karena hal itu! Aku tidak akan jatuh cinta lagi karena saat mengingat perasaan cinta, aku akan teringat pada cinta ibuku, kekasihku, dan kisah cinta menjijikan antara kau dan ayahku!”

“Kim Myungsoo!”

“Dan aku…akan membalas dendam pada keluarga ini setelah apa yang kalian lakukan pada ibuku! Camkan apa yang aku katakan padamu sekarang!” ucapnya marah.

Nyonya Kim membulatkan matanya sempurna mendengar nada penuh ancaman serta tegas dalam perkataan Myungsoo.

To Be Continue

A/N [2016/06/24] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

 

93 responses to “(Chapter 5) Belle in the 21st Century – Pre-Wedding

  1. Aku masih kurang paham kenapa myungsoo benci banget sama ayahnya:/
    Omaigat ciyeee banget deh baru prewed loh ini udah ada getaran getaran gitu kkkkk gimana ntar kalo udah nikah ya haha

  2. Itu pas pre wed udh mulai ada getaran tuh kkkk
    Nanti setelah nikah mdh2an bisa bersemi ya

    Sebenernya myungsoo itu baik tp mngkn keadaan yg membuat dy jd kyk begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s