Clash (Chapter 4)

 

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Support Cast :

  • Krystal Jung
  • Nam Woohyun
  • Baekhyun EXO

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

Taehyung’s PoV

Sometimes I start to wonder, was it just a lie?

If what we had was real, how could you be fine?

 

Angin menghembuskan dedaunan yang rontok dari tangkainya. Menyapu mereka – daun-daun itu – sehingga melewati kedua kakiku yang sedang melangkah. Semua ototku terasa linu. Lelah sehabis mengikuti shock teraphy dari senior Magz Club.

Langkahku semakin surut menyadari sosoknya berada di gerbang sekolah. Rambut gadis itu kecoklatan tertimpa sinar matahari sore. Kepalanya ia tundukan melihat kedua kakinya yang sedang menggaruk-garuk tanah.

Aku menarik salah satu sudut bibirku hendak mendekatinya. Namun langkahku kembali menyusut seiring wajah gadis itu yang terlihat lega menyadari sesosok pria dengan sepeda montornya sudah ada di hadapannya.

Awalnya gadis itu ragu, tetapi setelah lama –entah apa yang dibicarakan pria itu- gadis bertubuh mungil itu membonceng pria itu.

Sekujur tubuhku memaku di tempat. Sedikit ada rasa aneh yang meledak di dada. Terlebih mengetahui siapa pria itu. Pria yang sudah kukenali, Kim Myungsoo.

Namun yang kulakukan membiarkan Myungsoo pergi membawa Jiyeon. Tunggu sebentar—

 

Jiyeon? Maksudku Park Jiyeon? Oh, ayolah.

 

Lantas mulutku kembali menyeringai seraya meneruskan langkahku.

—o0o—

“Itu benar, aku melihatnya sendiri.”

Santai aku mulai memasuki kelas. Dengan tas yang menyelempang di salah satu bahuku dan lengan lain menenteng kemeja hitam.

“Ayolah, Naeun. Kau salah lihat,” sanggah seorang gadis yang memiliki tatapan tajam.

Aniya. Aku melihatnya sendiri,” Naeun mengulangi kalimatnya.

Aku mendecakkan lidah saat melewati gerombolan gadis yang hobi menggunjing itu. Pagi-pagi sudah disambut oleh ocehan para gadis, mencemari indera pendengaran saja.

“Jiyeon—“

Lenganku yang sedang mengaitkan tas terasa kaku mendengar ucapan Naeun. Setidaknya gadis itu kalau ingin membicarakan orang lain, kecilkan volume suaranya. Dasar mulut angpao!

“—Jiyeon naik montor dengan Myungsoo. Kemarin aku melihatnya sehabis kumpul Magz Club,” yakin Naeun -teman satu club denganku-.

Masing-masing dari mereka segera berkicau hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Lebih banyak dari mereka memandang dari sisi negatif. Sementara aku pura-pura tidak mendengar sambil mendudukan diri di bangku.

Mwoya? Apa kalian baru saja membicarakan Jiyeon?”

Nada suara itu mengalihkan perhatianku. Memaksaku untuk melihat wajah ketus itu. Suzy sudah berkacak pinggang bergabung dengan gerombolan itu.

“Suzy, kau harus tau ini. Jiyeon itu tidak baik untukmu,” bisik Fei, cukup jelas didengarkan dari jarak depan hingga bangku bagian belakang.

Mwo?” tanya Suzy.

“Jiyeon mudah sekali diajak pulang bersama Myungsoo. Dia itu gadis gampangan,” ujar gadis lain, Chorong.

Merasa tertarik dengan obrolan mereka, aku menopang dagu memperhatikan. Terlihat Suzy menggeram sejenak. Ia menggertakan rahangnya, aku yakin sehabis ini bualan mentah akan keluar melalui mulut gadis itu. Namun—

“Kalian membicarakan apa? Menarik sekali~” itu seorang pria yang mengatakannya. Pria itu Woohyun, yang duduk di sebelahku. Lantas aku meliriknya dengan tatapan perintah –Diam dan lihat saja! Kau ini pria!-.

Woohyun malah memamerkan sederetan giginya lucu.

“Jiyeon gampangan?”

“Myungsoo? Kim Myungsoo?”

“Waa~~~ Gadis seperti dia tidak aan bertahan lama.”

Gegara Woohyun, teman-temanku yang tadinya asyik memetik gitar, kini ikut menggubris obrolan itu. Lenganku menyentuh jidat malas karena kelakuan Woohyun. Aku kembali memperhatikan Suzy. Gadis itu hanya diam sambil bergetar.

Tidak, dia tidak berteriak membantah bualan kami. Ia justru menghembuskan nafas seraya duduk di bangkunya. Aku mengangkat salah satu alisku, merasa hal ini tidak menarik lagi.

Ya! Kalian tidak usah ikut campur!” bentak Naeun.

Woohyun CS menjulurkan lidah seraya melanjutkan kembali aktivitas mereka.

“Gadis gampangan~” ledek Woohyun senang dengan kalimat itu.

Perhatian kembali tertarik. Seorang gadis berdiri di ambang pintu. Melemparkan pandangan yang sulit diartikan. Kelas ini menjadi terasa kosong menyadari kehadiran gadis itu.

Gerombolan Naeun dan teman-temannya memencar kembali ke tempatnya masing-masing. Woohyun CS mengabaikan seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Sedangkan aku duduk tegap memandangi gadis itu.

Aku jelas melihatnya. Ia tersenyum samar. Namun matanya berkaca-kaca. Ia menghampiri tempat duduknya yang berada di sebelah Suzy.

Morning, Jiyi,” sapa Suzy.

Setidaknya gadis itu memiliki teman yang baik.

—o0o—

Bel istirahat menggema di seluruh penjuru ruangan. Membuat seisi kelas keluar layaknya semu-semut kecil. Tidak sedikit dari mereka tetap tinggal di kelas.

“Jiyeon! Ayo ke foodcourt!”

Kelas menjadi kaku mendengar ajakan sok manis dari Naeun. Jiyeon terpaku dengan wajah tak berdosa.

“Jiyeon traktir kami, ne?” justru Chorong mengcopy tingkah Naeun terhadap Jiyeon.

“Kalian ini kenapa?” bingung Krystal merasa temannya direbut.

Uri Jiyeon sedang dekat dengan pria. Jadi, traktir kami,” ulang Naeun.

Sudah menjadi trend bagi anak muda yang menjalin hubungan baru harus mentraktir teman-temannya. Namun ini beda lagi. Aku tersenyum masam melihat mereka.

Di depan manis, di belakang busuk. Tidak beda jauh dengan sampah yang harus di buang jauh-jauh.

“Huaaahh,” aku menguap keras. Sangat keras hingga menarik perhatian gadis-gadis itu.

Suzy yang baru saja ingin meluapkan amarahnya menjadi menatapku bingung. Begitu pula dengan Jiyeon.

“Kalian ini—“ ujarku, “—tidak perlu merayakan hal hina sepert itu.”

Dapat kurasakan sorot mata Jiyeon menusuk padaku.

“Myungsoo itu pria rendahan. Dulu dia bahan bully-an di SMP.”

Tak kusangka perkataanku itu tidak hanya mengagetkan kaum hawa di kelas ini. Tetapi mengundang Woohyun dan teman tongkronganku lainnya.

“Benarkah?” kagum Woohyun. “Hahahaha, kampungan sekali.”

“Pria yang tidak gentle, hahaha.”

“Kim Myungsoo? Hahaha.”

Tidak! Bukan ini yang kuinginkan! Kini Myungsoo yang menjadi bahan candaan teman-temanku. Gadis-gadis itu malah mencoba mengalihkan Jiyeon. Tetapi, Jiyeon tetap di tempat. Gadis itu tengah menatapku sekarang.

Sepasang matanya setajam pisau. Wajahnya memerah, kepalan tangannya bergetar. Sedangkan aku tidak bisa menutup mulut.

Tujuanku adalah menyingkirkan Naeun CS dari hadapan Jiyeon berubah mengundang Woohyun CS merendahkan Myungsoo.

Kali ini aku siap membiarkan apapun yang akan dilakukan Jiyeon. Seperti membentak atau menampar mungkin?

Namun gadis itu membalikkan badan. Berlari meninggalkan kelas yang penuh ledakan tawa. Aku dapat melihat kedua bahunya bergetar. Tingkahnya yang seperti ini malah lebih menyakitkan.

—o0o—

“Argghh!”

“HAHAHAHA!”

“Berdirilah, pengecut!”

“Argh,” seorang pria muda meringis kesakitan di sudut gedung. Sudut mulut pria itu mengeluarkan darah segar. Salah satu matanya memar.

Dengan keadaan yang terjatuh di lantai, ia menahan kesakitan di lambung. Lima orang pria sebaya dengannya tertawa puas. Sesekali mereka menendang perut pria itu tanpa ampun.

Aku ada di salah satu lima pria itu. Dengan enteng aku menarik kerah bajunya sehingga membuatnya berdiri dari tanah.

“Kau ini hanyalah tikus, Kim Myungsoo,” ujarku seperti duri sambil membantingnya kembali ke tanah.

Myungsoo kewalahan hingga tak dapat merintih. Merasa puas, aku memberi kode kepada keempat temanku untuk meninggalkannya.

 

Aku tertawa masam tiap kali mengingat masa-masa SMP.

 

“Kim Myungsoo tampan sekali,” pekik seorang gadis.

“Kau benar! Kemarin dia berada di barisan paling depan, aku senang sekali!” sahut temannya tak kalah histeris.

Diriku yang melewati kedua gadis itu dan tidak sengaja mendengar obrolan kecil mereka hanya tersenyum kecil.

Banyak sisi di dunia ini. Satu positif, satu negatif. Mungkin di tempat ini kita digunjing dan dicap hal hal menyakitkan, tetapi di sisi lain masih ada yang memuja kita.

“Besok aku akan memotretnya,” lanjut gadis tadi masih tertangkap oleh telingaku.

“Kau harus membagi fotonya padaku!”

“Satu foto, sepuluh ribu won.”

YA!”

Dunia ini berputar. Kadang di atas atau di bawah. Begitu pula dengan Myungsoo, seperti yang kutarik kesimpulan selama ini. Dunia Myungsoo kini berbeda jauh dengan dunia Myungsoo masa SMP.

Ketika aku sudah mendapatkan tempat duduk, yang lebih memilih bergabung dengan Woohyun dan lainnya, obrolan kedua gadis tadi sudah tak terdengar olehku.

“Helooo, Taehyung! Ma beloved friends, whats up bro?” sambut Baekhyun, sebelas dua belas dengan Woohyun.

“Makan saja sushi ini,” ketusku menyumpal gulungan nasi itu di mulutnya.

“Hey, Taehyung kau serius satu SMP dengan Myungsoo?” tanya Hoya sambil membenakan bingkai kacamatanya.

“Mm.”

“Jadi yang kau ucapkan tadi pagi itu benar?” tanya Woohyun, oke, pria ini kadang serius.

“Mm.”

“Ckck, dugaanku benar. Myungsoo itu payah,” ujar Woohyun membanggakan dirinya.

“Jangan seperti itu—“ Hoya membenarkan, “—penggemarnya juga tidak bisa dihitung dengan jari.”

“Cih, gadis-gadis itu hanya melihat tampang cantik Myungsoo saja,” kata Woohyun tak mau kalah.

Mulutku lebih memilih menyeruput jus orange milik Baekhyun.

Ya!” jelas Baekhyun menyaut kembali jusnya.

Aku hanya unjuk gigi sejenak pada Baekhyun.

Ya~ ya~ Itu Park Jiyeon,” seru Woohyun.

Aku mengikuti arah pandanganya. Seperti tebakanku, gadis itu berjalan sendirian setelah kejadian di kelas. Wajahnya murung, hidungnya memerah, mulutnya terkatup rapat.

YA! Park Jiyeon!”

Aku sendiri terkejut dengan teriakan Woohyun. Gadis itu membalikkan badan dan menatap heran kami dengan bibirnya yang mengerucut.

“Kemarilah,” titah Woohyun.

Hoya dan Baekhyun tertawa renyah. Sedangkan aku menginjak kakinya keras. Sayang itu tak mempan.

Jelas gadis mungil itu akan memalingkan wajah.

“Ckck, jual mahal,” sinis Woohyun.

“Oh ayolah,” Baekhyun masih memegangi perutnya tertawa.

Hoya tidak beda jauh dengan Baekhyun. Melihat tingkah ketiga temanku sedikit embuatku emosi. Karena itu—

“Di SMP ada sistem kasta dalam kelasku,” ujarku mampu didengar oleh Jiyeon yang tidak terlalu jauh. Bahkan gadis itu menghentikkan langkahnya.

“—kalian mau tau sistem kasta itu?”

Ketiga temanku saling memandang tak mengerti. Bertanya-tanya akan sikapku.

“Kim Taehyung!”

Pandanganku melirik padanya. Dugaanku benar, Jiyeon membentakku dan mendekatiku.

“Kita perlu bicara.”

.

.

Kedua tanganku dimasukan ke dalam saku celana. Pandanganku sayu mengarah pada tubuh mungil di hadapanku yang tiba-tiba berhenti. Tak ada orang di sekitar kami. Hanya pepohonan rindang dan sedikit bangku taman sekolah.

Jiyeon tampak menarik nafasnya seraya membalikkan tubuhnya. Kepalanya diharuskan mendongak karena postur tubuhku lebih tinggi darinya.

Sorot mataku tepat melihat bola matanya yang berwarna keabuan.Wajahnya tidak menyiratkan kemarahan. Karena itu aku mengerutkan alis. Menunggu kalimat apa yang akan terucap dari bibirnya.

“Buku kimia–”

Ia menggantungkan kalimatnya. Aku yakin wajahku melongo begitu mendengar lanjutan kalimatnya.

“– seminggu yang lalu kau meminjamnya bukan. Kembalikan padaku.”

Tertawa kecut. Gadis ini tidak bisa dihipotesiskan. Well, aku memang sering meminjam buku catatannya. Selain diriku yang malas menyalin penjelasan guru, Jiyeon ini dicap sebagai Dewi Pencatat di X Science 5.

“Apa kau gila,” justru aku mengumpatnya. “Kau menarikku ke tempat sepi seperti ini hanya untuk menanyakan hal itu?”

Emang, yang kukira aku akan disumpahi habis habisan dan dipukul tanpa ampun darinya. Itu pula yang kuharapkan.

“Catatan itu penting. Aku tidak bisa belajar tanpa itu.”

Gadis over rajin, aku tidak suka tipe gadis seperti ini.

“Besok bawalah. Jika tidak, kau akan mati,” ingatnya hendak meninggalkanku.

Ya, Park Jiyeon!”

Gadis itu menghentikan langkahnya. Tetapi tidak mau bertatap muka denganku.

“Kau seharusnya marah padaku,” polosku.

“Marah? For what?” Ini pertama kalinya aku mendengar nada suara dingin dari Jiyeon.

“Untuk apa yang terjadi hari ini. Untuk aku yang–”

“Merendahkan Myungsoo?” potong Jiyeon.

Lama kesunyian menywlimuti kami. Sungguh aku tidak suka atsmosfer seperti ini.

“Lalu apa? Apa gunanya aku marah pada orang yang tidak bisa menghargai orang lain?”

Beku. Aku tidak dapat berkata apapun.

“Apa itu yang kau harapkan? Memperlihatkan Myungsoo sebagai pecundang di hadapan teman-teman? Apa kau sekarang puas?”

Jiyeon membalikan tubuh, memberanikan diri untuk menatapku. Kedua mata gadis itu berbinar. Di balik iris matanya yang tajam tersimpan air mata yang akan keluar. Tiap mengatakannya bibir gadis itu bergetar.

“Apa kau pikir dengan membeberkan masa SMP Myungsoo dapat membuat aku menyesal didekati pria itu? Begitu?”

Mulutku terkatup rapat. Hatiku ingin meledak rasanya. Tetapi kubiarkan gadis di hadapanku membentakku. Mengencamku dengan kata kata yang panas.

“Kau tidak bisa melakukan ini,” ujarnya lebih tenang, “Bisa saja keadaan akan berbalik.”

Cairan bening terlihat di ujung pelupuk matanya. Dia mencoba menahan tangisan. Hidungnya sudah memerah. Sorot matanya penuh kebencian.

 

 

“Aku… tidak menyukaimu.”

 

 

Ini aneh. Mengapa rasanya sakit sekali?

 

-TBC-

PS: Empat sistem kasta, Taehyung di kasta pertama, -kasta kedua, kasta ketiga-, Myungsoo di kasta keempat. (Masa SMP)

Hollaa~~ Besok udah sekolah? Cepet bangeettt :”. Kita kita bakal sibuk lagi *sok*. Hehe, abaikan. Di weekend, Hara sempetin ngelanjutin ini FF, sampai rampung. Welcome school, RIP holiday :’)

 

 

45 responses to “Clash (Chapter 4)

  1. Huaaaaa , aku hampir lupa sama jalan ceritanyaaaa .. Mau baca part 3 nya duluu dehhh !! Bener” lupaaa .. Tapiii seruuuuu kokkk .. Taehyung jahat bingo yeeeee … Jjjjjjjaaaannnngggggg authorrrr

  2. Sebenernya agak kurang ngerti sm alur ceritanya,
    Suka tiba2 berubah, jd pusing
    tiba begini, eh tiba2 udh begitu aja
    lah..atau cuma gue yg o’on yah
    ah molla, yg pnting myungyeon ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s