[ CHAPTER – FINAL PART 20A ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

 

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-17
Poster created by @chomichin

Part 20

Nana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika pintu yang terketuk dari arah luar ia buka, untuk beberapa saat ia hanya terdiam memandangi dua orang yang kini ada dihadapannya, dan terasa ada yang menusuk-nusuk jantungnya hingga membuat perasaannya begitu perih ketika tatapannya jatuh pada tangan keduanya yang saling terkait.

“ Masuklah “ Ucap Nana ragu dan berjalan mendahului dua orang yang ternyata adalah Myungsoo dan Jiyeon putra-putrinya.

Myungsoo dan Jiyeon mengikuti langkah eommanya dari arah belakang, tidak seperti Myungsoo yang langkah kakinya begitu mantap, Jiyeon justru merasa seperti orang asing yang baru pertama kali menjejakkan kakinya dirumah besar ini, terasa miris jika ternyata tempat ini adalah dimana ia dan oppanya tumbuh bersama dengan orangtua yang sama merawatnya.

“ Yeobbo, mereka sudah datang “ Ucap Nana hati-hati kepada Jaejoong yang sudah menunggu kedatangan anak-anaknya sejak tadi.

Raut wajah Jaejoong yang nampak serius dan dingin membuat Jiyeon gugup, ia mencoba menarik tangannya agar terlepas dari genggaman erat Myungsoo ketika matanya bertumbukan langsung dengan sang appa, namun Myungsoo mencegahnya dengan semakin mengeratkan genggamannya “ Percayalah padaku “ Myungsoo berbisik mencoba menenangkannya.

“ Duduk “ Ucap Jaejoong ketika keduanya tepat berada dihadapannya.

“ Eomma akan menyiapkan teh untuk kalian “ Nana memutar tubuhnya hendak menuju dapur, namun…

“ Tidak perlu, mereka bukan tamu “ Ucap Jaejoong dengan nada yang terdengar kurang bersahabat.

Myungsoo merasakan tangan Jiyeon yang gemetar, yeoja itu menundukkan kepala dan menyembunyikan wajah dibalik anak rambutnya yang menjuntai. Hening, Jaejoong masih menatap lekat kearah dirinya dan Jiyeon.

“ Ada yang ingin kami bicarakan dengan appa dan eomma “ Myungsoo membalas tatapan Jaejoong dengan percaya diri, ia tidak ingin situasi yang tidak nyaman ini berlangsung terlalu lama dan membuat Jiyeon seperti berada diruang pengadilan dengan kesalahan yang ia perbuat.

Jaejoong menaikkan kedua alisnya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Myungsoo sampaikan, meski ia telah mengetahui keadaan yang sebenarnya dari Minho dan Suzy tadi.

“ Aku tidak ingin meneruskan pertunanganku dengan Sulli “ Ucap Myungsoo langsung pada pokok pembicaraan, tidak ada raut terkejut dari Jaejoong dan Nana yang ia tangkap, namun eommanya terlihat menunduk dan mendesah lemah.

Beberapa detik Jaejoong masih diam dan belum menanggapi kalimat Myungsoo, hingga kemudian ia melepaskan bahunya dari sandaran kursi “ Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan ? “ Tanya Jaejoong menatap tepat manik mata Myungsoo “ Ini bukan waktu yang tepat untuk kau membicarakan hal seperti ini, Sulli sedang terbaring dirumah sakit dan membutuhkan kehadiranmu disana, kau harus ingat !! appa tidak pernah sedikitpun mengajarkanmu untuk menjadi orang yang tidak bertanggungjawab seperti ini ” Ucap Jaejoong kecewa.

“ Aku sudah memikirkannya appa! “ Tidak ada keraguan sedikitpun dari tatapan serta nada bicara Myungsoo, Jaejoong merasa putranya sangat serius dan yakin dengan tindakan yang ia lakukan.

Berbeda dengan Jiyeon, putrinya itu sejak tadi hanya menundukkan kepala, meski tidak jelas terlihat raut wajahnya, namun Jaejoong tahu putrinya terlihat sangat ketakutan “ Hentikan gurauanmu, dan cepat kau kerumah sakit untuk menjaganya “ Acuh Jaejoong dengan kalimat yang Myungsoo katakan.

“ Aku tidak ingin lagi appa memaksaku, sejak awal aku memang tidak pernah menyukainya, aku menerimanya hanya karena ini berhubungan dengan bisnis appa. Aku mencintai Yeonie….jauh sebelum aku mengenal Sulli, bahkan ketika Yeonie masih tinggal bersama dengan kita “

Jiyeon merasa tenggorokannya tercekat, ia pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan appa dan eommanya, menatap Myungsoo dengan tatapan tidak percaya. Myungsoo menyukainya ketika mereka masih tinggal bersama ? bahkan Myungsoo hanya baik kepadanya disaat-saat terakhir ia tinggal dirumah ini.

“ Benar, aku memiliki perasaan itu sejak kecil kami main bersama, Yeonie tidak pernah ku anggap sebagai adik untukku, hatiku memiliki keyakinan jika dia memang bukan ditakdirkan menjadi adik untukku, malam ketika appa dan eomma mengatakan jika dia bukan saudara kandungku, aku sangat terkejut dan ingin marah, namun kenyataannya rasa bahagiaku lebih besar dari itu semua. Aku merasa Tuhan sangat baik karena mengabulkan keinginanku untuk tidak menjadi saudara yang didalam tubuh kami mengalir darah yang sama, tapi bersamaan dengan itu ketakutan akan Yeonie pergi dan tidak bersama dengan kita lagi hadir menghantuiku, semakin takut karena appa dan eomma selalu mengatakan padaku Myungie-ah kau harus melindungi Yeonie sampai kapanpun, karena dia adikmu eoh “ Myungsoo menghentikan sejenak kalimatnya, mencoba menghadirkan kembali kenangan dirinya sewaktu kecil bersama dengan Jiyeon.

Jaejoong dan Nana masih menunggu Myungsoo meneruskan kalimatnya, putranya menunduk memejamkan mata untuk mempersiapkan kalimat yang akan dikatakan selanjutnya.

“ Semakin hari kebersamaan kami, aku selalu dibayang-bayangi akan kehilangannya, tidak tahu kapan ia akan benar-benar pergi dan disaat itu pasti aku akan menangis dan bahkan bisa menjadi gila, aku berusaha keras untuk benar-benar menganggap Yeonie sebagai adik yang harus aku lindungi seperti yang kalian ajarkan padaku. Dengan berbagai cara aku berusaha, bersikap seolah-olah aku tidak menyayanginya, tidak peduli apapun tentangnya, bahkan aku memperlakukannya kasar, meski aku tahu ia terlalu baik untuk mendapatkan perlakuanku yang seperti itu, aku berharap ketika ia benar-benar menemukan keluarganya perasaanku dapat dengan mudah menguap. Perasaan yang sangat aneh dimiliki oleh seorang anak yang bahkan usianya tidak pantas memliki perasaan yang dalam seperti itu, tapi aku benar-benar merasakannya dan merasa sangat tersiksa. Appa…eomma aku tidak mengharapkan apapun dalam hidupku selain Yeonie berada disampingku, aku sangat mencintainya dengan segenap darah yang mengalir ditubuhku, cukup sampai detik ini saja aku menahan perasaan ini, aku mencintainya dan terasa tidak adil jika kami tidak bersama karena Yeonipun mencintaiku. Aku mohon ijinkan kami untuk bersama “ Ucap Myungsoo mengakhiri kalimat panjangnya.

Setelahnya Myungsoo bernafas lega telah menumpahkan semua yang ia sembunyikan sejak dulu, beban berat selama ini yang harus ia tanggung tanpa ada seorangpun yang tahu, termasuk Jiyeon sendiri seolah lebur sudah. Tidak peduli rasa malu karena hal-hal cengeng tentang cinta yang ia ceritakan dihadapan orangtuanya, ia hanya ingin membuka mata kedua orangtuanya bahwa cinta itu adalah mengenai hati yang tertaut dengan sendirinya, tidak untuk dipaksakan untuk bersama.

Jiyeon susah payah menelan saliva dan mengatasi perasaan sesak yang bersemayam didadanya, ia menatap lekat dan hampir tidak sekalipun berkedip memandang pria disampingnya, tidak percaya dengan apa yang Myungsoo katakan, selama ini ia benar-benar menganggap jika oppanya sangat membencinya ketika itu, tanpa tahu jika ternyata Myungsoo bahkan lebih tersiksa dengan perasaannya daripada sikap kasar Myungsoo yang ia terima ketika itu, satu persatu airmata menetes dari mata indahnya, hingga ia merasa kerepotan sendiri untuk menghapusnya.

Raut ketegangan diwajah Jaejoong berangsur-angsur melunak, sama seperti Jiyeon ia pun tidak menyangka dengan apa yang ia dengar dari mulut putranya, satu hal yang ia pahami sekarang, ketidakramahan serta tidak baiknya hubungan mereka ketika itu karena perasaan Myungsoo yang tidak biasa terhadap putrinya. Meski bangga akan keberanian Myungsoo untuk memperjuangkan cintanya, namun perasaan kecewa tidak mudah hilang begitu saja, ia tidak bisa mengambil keputusan disaat seperti ini terlebih ia merasa Sullipun wanita yang sangat baik dan sangat sabar dalam menghadapi sikap dingin Myungsoo.

“ Appa ingin tetap pertunangan itu dilakukan “

Minho dan Suzy begitu kesulitan untuk menghadapi Sulli yang tiba-tiba tersadar dan mengamuk ketika mengetahui Myungsoo masih belum kembali dan berada disampingnya, Minho memegang kuat tubuh Sulli menghalangi wanita itu untuk melempar apapun yang ada disana, sementara Suzy hampir putus asa berkali-kali menekan tombol darurat namun belum satupun petugas rumah sakit yang datang.

“ Kalian pembohong!!! Mengapa kalian menyembunyikan Myungsoo oppa dariku ? sebenarnya apa yang kalian rencanakan, mengapa kalian ingin menjauhkannya dari hidupku “ Sulli berteriak dan Minho benar-benar sangat kelelahan menghadapinya.

“ Suzy-ah cepat kau panggil siapapun yang ada diluar sana untuk membantuku menghadapinya, wanita ini benar-benar sudah gila “ Minho berkata penuh emosi.

“ Siapa yang kau bilang gila eoh ? aku tidak gila, kalian yang gila, lepaskannn akuu!!! “

Suzy terlihat sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa, kakinya seakan terpaku dan hanya mampu memandang bergantian antara Minho yang berjuang keras menahan amukan Sulli dengan pintu ruangan yang tertutup, beruntung bagi keduanya tidak lama pintu terbuka, seorang uisa dan beberapa perawat muncul.

“ Maaf, silahkan anda menjauh kami akan segera menanganinya “ Ucap uisa dibantu oleh dua perawat mengambil alih tubuh Sulli dari Minho dan segera menanganinya.

Minho menghela nafas lega, ia pun menatap serius Suzy yang masih berdiri terpaku seperti orang yang kebingungan “ Hubungi orangtuamu, mereka harus segera tahu keadaan yang sebenarnya “ Titah Minho membuat Suzy tersadar dari kebingungannya.

“ Bb-baiklah “ Suzy masih terlihat sangat gugup, ia terlalu syok dengan apa yang ada dihadapannya, Sulli benar-benar nampak berbeda dari yang selama ini ia kenal, begitu menakutkan untuk berhadapan dengannya.

Keputusan Jaejoong yang seakan mengacuhkan apa yang telah Myungsoo katakan membuat suasana semakin tegang, namun sekali lagi Myungsoo tidak peduli, ia berdiri dan memaksa Jiyeon pergi dari sana, namun Jiyeon memohon dengan tatapan matanya agar Myungsoo menahan sementara emosinya. Jiyeon beralih kearah kedua orangtuanya, berjalan lebih mendekat dan berlutut dihadapan keduanya, dipegangnya tangan Jaejoong serta Nana bersamaan “ Appa, eomma maafkan kami…telah membuat kalian sangat kecewa, tapi aku mohon jangan membenci oppa “ Jiyeon memulai kalimatnya, appanya bergeming sementara wajah Nana begitu sedih melihat ke arahnya, Nana tidak sanggup untuk tidak meneteskan air mata

“ Sejak kecil aku selalu berusaha menjadi anak yang manis dan menuruti tanpa sekalipun melanggar perintah kalian, belajar begitu giat agar appa dan eomma merasa bangga memiliki anak seperti diriku, ketika aku bersedih akupun selalu mengatakan tidak apa-apa, aku baik-baik saja, karena aku tidak ingin membuat kalian khawatir, eomma mengajarkanku tentang kelembutan dan appa selalu mengingatkanku tentang keberhasilan. Kini usiaku sudah 24 tahun, selama itu aku tidak pernah memahami tentang perasaan-perasaan yang berkaitan dengan hati, tidak ada yang mengajariku tentang hal itu, tapi aku sadar suatu saat ada moment penting dalam hidup ketika aku benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hatiku, perasaan mengagumi seseorang dan merasa nyaman ketika orang itu ada bersamaku. Appa, eomma….Myungsoo oppa, dia lah yang membuat aku sadar bahwa saat ini aku sedang mengagumi dan merasa nyaman berada didekat seseorang, kali ini bolehkah aku meminta untuk sekali saja appa dan eomma mengabulkannya, keinginan yang disetiap ulangtahun aku memintanya, aku ingin tersenyum disamping oppa yang juga tersenyum padaku “ Ucap Jiyeon tanpa mengalihkan kedua matanya dari Jaejoong dan Nana.

Sebagai seorang perempuan Nana mungkin lebih sensitif dan terketuk hatinya, ia paling memahami bagaimana Jiyeon sejak kecil, anaknya yang manis telah menjadi dewasa, anaknya yang dalam perjalanan hidupnya selalu menemui kesulitan, ketika kini ia mengenal cinta sangat tidak adil putrinya itupun harus berjuang kembali dan ia hanya terdiam melihat kesulitan anak-anaknya “ Yeobbo, mereka sama sekali tidak bersalah, biarkan mereka bersama aku mohon “ Nana memegang tangan Jaejoong dengan airmata yang mengalir.

Jaejoong bukanlah manusia batu yang tidak bisa merasakan kesedihan orang lain terlebih mereka adalah anak-anaknya, pengalaman hidup dengan usia yang sudah semakin tua sudah mengajarkannya, namun ia tetaplah seorang kepala rumahtangga yang harus bersikap lebih bijak disaat orang disekitarnya hanya bertindak dengan emosi, ia harus menggunakan pula logikanya.

“ Appa akan merestui jika Sulli dapat mengikhlaskan kalian “ Ucap Jaejoong akhirnya.

Jiyeon tidak lagi ingin memaksa, ia pun hanya tersenyum dengan keputusan appanya. Tidak dengan Myungsoo, ia tahu bagaimana Sulli, wanita itu tidak akan mungkin melepaskan dirinya terlebih jika Jiyeon lah wanita yang harus Sulli relakan untuk bersanding dengan dirinya. Tepat ketika Myungsoo menghela nafas dan akan memprotes kembali kalimat Jaejoong, ponsel appanya berbunyi, ia melihat wajah appanya seketika kembali menegang.

“ Mwo ? apa yang sebenarnya terjadi ? “ Tanya Jaejoong dengan nada terkejut membuat semua yang berada disana menatap heran kearahnya.

“ Baiklah, kami akan segera kesana “ Jaejoong pun segera menutup ponselnya dan berdiri menatap istri dan anak-anaknya.

“ Kita harus segera kerumah sakit, Sulli…ia mengalami sesuatu “

“ Orangtuanya harus segera datang, sepertinya penyakitnya saat ini sedang dalam tahap buruk “

“ Sebenarnya apa penyakitnya? bisakah anda menjelaskan dengan kalimat yang lebih mudah ? apa ia mengalami gangguan kejiwaan ? “

Minho nampak tidak sabar dengan penjelasan dokter yang terkesan bertele-tele dan menutup-nutupi entah apa maksudnya. Ia memang orang awam yang tidak mengerti dunia kedokteran, namun siapapun yang melihat akan memiliki kesimpulan yang sama dengan dirinya bahwa gadis itu memang mengalami gangguan kejiwaan, masalah Myungsoo hanya salah satu fakor yang memicu penyakitnya itu kembali kambuh, tapi bukan tidak mungkin hal itu bisa kapan saja datang.

Dokter dihadapannya membuka kacamata dan mengusap wajah dengan saputangan yang ia ambil dari saku seragam berwarna putih miliknya, keringat membanjiri wajahnya yang terlihat kelelahan setelah menangani Sulli “ Oleh sebab itu saya meminta keluarganya untuk segera datang “

“ Apa yang terjadi ? dimana Sulli ? “

Jaejoong, Nana, Myungsoo serta Jiyeon tiba disana dengan wajah penuh dengan pertanyaan, ke-empatnya tidak lagi menemukan Sulli berbaring diranjangnya. Wajah kelelahan Minho dan Suzy membuat mereka semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“ Tuan Kim, bisa kita berbicara diruanganku ? “ ucap uisa meminta Jaejoong dan Nana sebagai perwakilan untuk berbicara banyak dan menjelaskan perihal penyakit Sulli.

Suasana menjadi terasa kaku setelah hanya mereka berempat diruang sana, Myungsoo dan Minho tidak lantas saling bertegur sapa, keduanya hanya saling menatap dengan pandangan entah apa artinya. Terasa ada yang mengusik kembali relung hati Minho ketika melihat Myungsoo dan Jiyeon datang bersama, meski ia sudah bisa bernafas lega karena Jiyeon sudah kembali, namun ia akui hatinya terasa kosong karena sesuatu yang tinggal cukup lama dihatinya tidak lagi ada disana, ia menemukannya dihati orang lain yang notabene adalah sahabatnya.

Jiyeon menyadari ada kekecewaan dari wajah Minho ketika menyadari ia bersama dengan Myungsoo, namun tidak percaya ketika akhirnya Minho tersenyum dan melangkah mendekat kearah dirinya dan Myungsoo, pria itu menepuk pundak keduanya “ Ini memang bukan kabar yang kita inginkan mengenai Sulli, tapi aku harap ada kesempatan baik yang terselip untuk kalian “ Ucap Minho membuat Myungsoo menyatukan kedua alisnya tidak mengerti maksud namja jangkung itu.

“ Aigo hari ini cukup melelahkan, sepertinya aku butuh istirahat, Suzy-ah….kau sudah tidak lagi sendiri eoh, aku pulang !!! “ Ucap Minho langsung berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi ke arah ketiganya.

“ Minho-ah “ Jiyeon memanggil kembali namja itu yang akan segera pergi.

Minho menghentikan langkahnya, menunggu langkah kaki yang mendekat kearahnya, sementara Myungsoo dan Suzy hanya menunggu apa yang akan Jiyeon lakukan dengan namja itu.

“ Gomawo “ Ucap Jiyeon singkat dengan senyumnya yang sangat manis yang Minho rasakan sampai dihatinya, Minho benar-benar sangat berusaha untuk menahan keinginannya untuk memeluk Jiyeon.

“ Kau pasti akan mendapatkan kebahagianmu, karena kau sahabatku yang paling baik “ Ucap Jiyeon memberikan doanya untuk Minho.

Minho hanya terdiam, rasanya sangat tidak gentleman jika ia mengeluarkan airmata karena perasaannya yang belum 100% merelakan yeoja cantik ini pergi meninggalkan hatinya, ia pun akhirnya mengangguk dan berusaha untuk juga tersenyum “ Nde, nado aku selalu mendoakan hal yang sama untuk…sahabatku….yang seperti malaikat ini “ Balas Minho sulit untuk mengucapkan status yang diberikan Jiyeon padanya.

Jiyeon meraih kedua tangan Minho dan menggenggamnya erat, membuat sesuatu yang mengalir dalam tubuh Minho terasa menyengatnya. Yeoja itu kini mengalihkan tatapannya kearah Suzy yang tidak jauh dari sana yang ia yakin sejak tadi memfokuskan pandangannya ke arah dirinya dan Minho “ Suzy-ah, kau harus mengantar Minho sampai kedepan sana, aku takut jika tiba-tiba ia tidak sadarkan diri karena kelelahan dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya “ Canda Jiyeon yang membuat entah mengapa Suzy menjadi gugup.

“ Eoh, baiklah “ Suzy pun melangkah ragu menuju kearah keduanya.

“ Kajja!! “ Ucap Suzy yang diikuti langkah Minho.

Sepeninggalan Minho dan Suzy,

Myungsoo masih terpaku ditempatnya, memandang Jiyeon yang tersenyum mengantar kepergian Suzy dan Minho, namun tidak lama yeoja itu memutar tubuhnya, terlihat wajahnya yang kembali menunjukkan kekhawatiran.
Myungsoo pun mendekat, memeluk dan meletakkan dagunya pada bahu Jiyeon “ Kau membuat 1 namja patah hati, gomawo akhirnya aku yang kau pilih untuk bersama denganmu “ Ucap Myungsoo tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Tidak ada balasan dari Jiyeon untuk juga memeluknya, yeoja itu hanya terdiam dengan tatapan nanar, Myungsoo mengangkat dagunya dan menatap wajah cantik dihadapannya yang terlihat muram “ Jika kalimat appa tadi yang membuatmu tidak nyaman, maka tenanglah, aku yakin kebahagian sudah ada didepan mata, kita hanya perlu sedikit lagi bersabar agar ia datang menghampiri kita “ Myungsoo mengecup puncak kepala Jiyeon dan kembali memeluknya lebih erat.

Hubungan Jaejoong dan Myungsoo belum kembali normal, Jaejoong masih belum mau berbicara pada putranya, di kantorpun hanya profesionalitas kerja yang bisa melebur keduanya, namun itu tidak membuat Myungsoo berniat untuk sedikitpun mundur. Tanpa Myungsoo tahu, diamnya Jaejoong bukan menunjukkan jika appanya itu membenci Myungsoo yang telah membuat keadaan menjadi sulit, namun kalimat dokter yang mengatakan bahwa Sulli memang memiliki potensi gangguan jiwa yang membuat Jaejoong lebih memilih diam dan akhirnya menerima saja jika Myungsoo menganggap dirinya marah dan tidak mau bertegur sapa.

Sudah 1 minggu berlalu dan hari ini kabar baik datang dari rumah sakit, dokter baru saja mengabarkan bahwa Sulli hari ini sudah diperbolehkan untuk keluar dari ruang isolasi dan sudah dipindahkan ke ruang rawat, namun ia belum sadarkan diri karena pengaruh obat yang diberikan dokter.

Nana hanya ditemani Jiyeon untuk datang kerumah sakit karena Jaejoong menjemput kedua orangtua Sulli yang baru tiba di bandara Incheon, mereka berjalan tergesa menuju ruang rawat Sulli.

Sesampainya disana mereka melihat Sulli nampak sedang bersandar dengan pandangan kosong entah apa yang sedang ia pikirkan, wajah yeoja itu terlihat lebih tirus karena berat tubuhnya yang menyusut. Jiyeon merasa bersalah, meski terakhir kali yeoja ini berkata tidak menyenangkan kepadanya namun ia mengerti siapapun akan melakukan hal yang sama jika ia merasa yang menjadi miliknya akan direbut orang lain.

Sulli menoleh perlahan ketika tangannya disentuh lembut oleh seseorang, dan terkejut ketika mengetahui siapa orang tersebut, Jiyeon menatap kearahnya dan tersenyum begitu bersahabat, disampingnya nampak calon ibu mertua yang juga tersenyum lembut padanya

“ Kalian datang ? “ Tanyanya dengan nada datar.

Jiyeon mengangguk dan kemudian tanpa ragu duduk ditepi ranjang Sulli “ Iya kami datang untuk menemuimu…..eonni, bagaimana keadaanmu ? “ Tanya Jiyeon merubah panggilannya menjadi eoonni kepada Sulli.

Sulli memang sudah melalui banyak hilang kesadaran selama berada dirumah sakit, namun ia tidak akan pernah melupakan yeoja yang kini ada dihadapannya, melihatnya Sulli pun mengingat jelas wajah kekasihnya yang sampai detik ini tidak pernah lagi ia lihat, kemana namja itu ? apa benar-benar tidak lagi ingin menemuinya setelah terakhir kali ia mengamuk.

“ Seperti yang kau lihat, aku sudah baik-baik saja “ Sulli menjawab pertanyaan Jiyeon dengan nada datar.

Meski Sulli masih terkesan dingin padanya, namun Jiyeon dapat memahami, ia pun tidak menyurutkan tekadnya untuk menghibur Sulli agar segera sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit.

“ Kami selalu berdoa agar kau segera sembuh, bersyukur Tuhan menjawab doa kami hari ini “ Nana menimpali.

Tidak seperti sikapnya kepada Jiyeon, Sulli bisa tersenyum lembut berbicara dengan Nana, tiba-tiba Sulli merasakan perutnya begitu sakit “ Eoh “ ringisnya.

Jiyeon bergerak cepat dan terlihat sangat khawatir “ Ada apa ? apa yang eonni rasakan ? dimana yang terasa sakit ? “

Sulli melirik wajah Jiyeon dari anak rambut yang menghalangi pandangannya, ia tersenyum sinis dalam hati, namun tiba-tiba ia merasakan rasa dingin menjalari tubuhnya dan membuatnya gemetar “ Ak-ku, mungkin karena aku sangat lapar “ Ucap Sulli mengusap keringat yang kembali keluar di dahinya.

Nana dengan cepat meraih kantong yang ia sengaja bawa untuk Sulli “ Eommoni membawakannya untukmu, ayo makanlah “ Tangan Nana menyendok makan yang ia bawa dan menyuapkannya untuk Sulli.

“ Kamsahamnida eommoni, tapi bolehkah aku memintamu untuk mengupaskan apel saja “ Pinta Sulli

“ Tentu, tapi kau makan terlebih dahulu ini sebelum kau memakan buah eoh ? “ Rayu Nana yang akhirnya Sulli meraih suapan yang telah Nana sodorkan.

“ Aku akan mengupaskannya untukmu “ Jiyeon segera bangkit dan mengambil inisiatif.

“ Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini ya ? apa aku sakit ? “ Jieun mengukur suhu pada dahinya, namun dahinya tidak menunjukkan jika ia sedang sakit, ia merasa suhu tubuhnya normal dan keadaannya baik-baik saja.

Tuk….

Sesuatu jatuh dan menyentuh kakinya, Jieun menunduk dan mengambil benda tersebut “ Diary ? hahaha…sebesar itu dia masih saja memiliki sesuatu yang hanya dimiliki anak remaja tanggung “ Jieun bergumam lucu dan memasukkan diary yang mencantumkan nama pemiliknya kedalam tas dan segera melangkah meninggalkan pantry.

“ Sebenarnya kau akan membawaku kemana eoh, ini masih jam kerja ? “ Minho memprotes tindakan Suzy yang dengan seenaknya menculik dirinya dari kantor dan kini hanya membiarkan ia duduk disamping Suzy yang sedang menyetir tanpa menjawab satupun pertanyaan yang ia ajukan.

“ Mwo ? untuk apa kau membawaku kesini ? “ Tanya Minho.

“ Kau ini cerewet sekali, aku merasa beberapa minggu ini cukup menegangkan, tidak ada salahnya hari ini kita melonggarkan otot-otot yang kencang itu, lagipula hari ini jadwal eomma dan Jiyeon yang mengunjungi wanita gila itu, aku baik tidak ? “ ucap Suzy santai dan terus mengarahkan mobilnya dengan cepat.

Minho hanya mengurut dahinya, ia tahu untuk apa yeoja ini membawanya ke tempat ini, lapangan basket tempat mereka menghabiskan waktu jika sedang bosan ataupun Suzy menumpahkan kekesalannya sehabis bertengkar dengan eommanya.

Tiba ditempat tujuan,

Suzy mengambil bola basket dibagasi mobilnya, dan tersenyum lebar ke arah Minho, tidak peduli namja itu melotot hendak memprotes sikapnya.

“ Ayo, sudah lama kita tidak bertanding “ Ucap Suzy memaksa Minho.

Minho menggeleng dan kemudian duduk menepi di pinggir lapangan “ Tidak dengan pakaianku yang seperti ini “ Tolak Minho.

“ Ayolah, kau pikir pakaian yang aku pakai nyaman untuk bermain basket ? kau tidak akan mudah kalah jika hanya pakaian yang kau jadikan alasan “ Suzy masih berusaha untuk memaksa Minho, ia mendekat dan mencoba menarik tangan pria yang terlihat tidak tertarik sama sekali dengan idenya itu.

“ Mainlah sendiri, aku akan melihat perkembanganmu dari sini saja “ Ucap Minho.

Suzy mengerucutkan bibirnya, perkembangan ? apa pria ini tidak ingat jika kedudukan mereka saling kalah mengalahkan tidak berbeda jauh ? dengan terpaksa Suzypun mendribble bola basket itu sendirian menuju lapangan. Minho hanya tersenyum, ia menyilangkan tangannya untuk menahan lututnya. Suzy dengan lincah berlari kesana-sini seakan ada banyak lawan yang menghalangi geraknya, tepat ketika tubuhnya sudah ia rasa cukup untuk menembak.

Bamm

“ 3 point yeahhhhh!!! “ Ucap Suzy senang.

Prok…prok,,,prok

Minho memberikan tepuk tangannya karena keberhasilan Suzy, Suzy tersenyum pongah, ia menatap kembali ke arah ring basket mengagumi kelihaiannya bermain basket masih sama “ Ini menggangguku “ Ucap Suzy seraya mengeluarkan ikat rambut dari saku pakaiannya.

Namun tiba-tiba nafasnya tertahan, tangan seseorang mengambil alih ikat rambut dari jemarinya, tidak berapa lama lehernya terasa geli karena sentuhan tangan yang mengambil rambut panjang tebalnya untuk kemudian mengikatnya.

“ Ggo-ma-wo “ Suzy mengucapkan terimakasihnya dengan terbata.

Minho tersenyum dan menganggukkan kepalanya, entah mengapa Minho tiba-tiba teringat kembali dengan Jiyeon yang ingin sekali melihat dirinya menerima perasaan Suzy, bisakah ? mungkin ia bisa memulainya dari sekarang.

Jiyeon meletakkan pisau diatas nakas disamping meja Sulli berada “ Ini sudah bisa kau nikmati “ Tawarnya, Sulli pun mengambil satu potong apel dari piring yang Jiyeon sodorkan kepadanya.

“ Gomawo “ Ucap Sulli tidak berubah sedikitpun terhadap Jiyeon, tetap datar tanpa ekspresi.

Kring…

Ponsel Jiyeon berbunyi, nama oppanya muncul disana, ia segera menjauhkan diri dari Sulli dan eommanya , tidak ingin membuat Sulli kecewa untuk saat ini.

Bersamaan dengan itu seorang perawat masuk dan memberikan obat yang harus Sulli minum kepada Nana, pandangan Sulli tidak lepas dari sosok Jiyeon.

“ Nde oppa, iya aku masih dirumah sakit bersama eomma, tidak apa-apa, nde baiklah…..annyeong “

Meski Jiyeon menjauh, Sulli masih dapat menangkap Jiyeon menyebut kata oppa membuat sesuatu yang mengalir ditubuhnya bergejolak terlebih pria itu tidak menanyakan kabar tentangnya, rasa cemburupun kembali datang dan semakin menyeruak sulit untuk Sulli kendalikan, tiba-tiba tubuhnya kembali bergetar dengan gigi yang menggemeletuk, tangannya terkepal kuat dan entah kekuatan seperti apa yang merasukinya, ia bangkit dari sandaran dan menoleh kearah nakas dan dengan cepat mengambil pisau yang tergeletak di samping piring buah disana.

Nana dan perawat yang masih sibuk berbincang terkejut dengan tindakan Sulli, namun gerakannya kalah cepat, kini tangan Sulli sudah meraih tubuhnya sebelum Nana menjauh dan mengalungkan pisau itu dilehernya.

“ Eonni apa yang kau lakukannnn ??? lepaskan eomma, itu sangat berbahaya !!! “ Jiyeon berteriak sangat panik melihat eommanya kini sudah berada dibawah ancaman Sulli.

“ Jangan mendekat!!!! Aku tidak akan segan-segan mencelakai wanita ini jika ada diantara kalian yang mencoba mendekat “ Dengan sorot mata tajam dan dikuasai amarah Sulli mengancam siapapun.

“ agassi….ini sangat berbahaya, mohon anda letakkan pisau itu disana eoh “ Perawat itu ikut membantu membujuk Sulli, namun Sulli menggelengkan kepala dan semakin menarik Nana menempel erat tubuhnya membuat wanita separuh baya itu mau tak mau mengikuti langkah Sulli.

Nana memejamkan matanya mengumpulkan kekuatan untuk tetap bersikap tenang, ia percaya Sulli tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan dirinya “ Sulli-ah, kau yeoja yang sangat baik, eommoni sangat menyukaimu, ini tidak terlihat baik jika kau melakukannya pada eommoni, bisakah kau menjauhkannya ? “ Ucap Nana masih bisa mengontrol ketakutannya.

Namun nafas Sulli memburu dan melotot tajam kesegala arah “ Kalian berusaha untuk memisahkan aku dengan Myungsoo oppa bukan ? wanita itu, dia telah merebutnya dariku, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Myungsoo oppa dariku “ Ucap Sulli berang masih mengarahkan pisau itu dileher Nana.

Kali ini kepanikan mulai menghinggapi Nana, nada bicara seperti itu tidak seperti Sulli yang ia kenal, apakah dirinya kali ini benar-benar terancam ? “ Itu tidak sama sekali benar, eommoni hanya menyetujui kau untuk mendampingi Myungsoo eoh, tidak ada wanita lain, tidak juga Jiyeon, mereka benar-benar saudara dan tidak boleh bersama, letakkan pelan-pelan pisau ini, sebentar lagi pertunanganmu, kau harus cepat sembuh dan keluar dari tempat ini “ Nana masih berusaha untuk mendinginkan emosi Sulli dengan keberanian yang tersisa.

Sementara Jiyeon mengangguk cepat menyetujui semua ucapan eommanya, ia sudah tidak memikirkan apapun selain keselamatan eommanya saat ini.

Myungsoo mengendurkan dasi yang seolah menjeratnya, entah mengapa di ruangan yang biasanya sangat dingin terasa panas ia rasakan, Myungsoo bangkit dari duduknya.

“ Chogiyo!!! Apakah AC ruangan mati ? mengapa panas sekali ? “ Ucapnya pada sekretarisnya, namun ia lihat seluruh staffnya nampak terlihat nyaman dan biasa-biasa saja, memang terasa aneh ia merasa suhu ruangannya terasa panas sendiri, padahal AC yang terpasang adalah general yang semua ruangan pasti memiliki suhu yang sama.

“ AC nya baik-baik saja sajangnim, apa anda ingin saya panggil teknisi untuk memeriksanya ? “ Tawar sekretarisnya yang sebenarnya menatap Myungsoo heran, tidak biasanya sajangnimnya ini rewel dengan urusan AC, ia pun tidak merasa udara didalam panas.

“ Ya, cepat lakukanlah “ Ucap Myungsoo dan berbalik untuk kembali keruangannya.
Tiba didalam Myungsoo membuka jas yang ia pakai agar terasa lebih sejuk, namun ia tetap merasa ruangannya begitu panas.

“ Pasti kau menganggap aku gila dengan apa yang aku lakukan eoh ? tch…kau yang telah membuatku gila, kau adalah wanita sinting yang merebut kekasih orang, kau benar-benar wanita murahan yang menjijikan, kau sadar dengan apa yang kau lakukan eoh ? “ Sulli berteriak kencang membuat Nana tidak lagi berani untuk membuka matanya.

“ Aku mohon…..aku benar-benar memohon padamu, apapun akan aku berikan padamu asal kau melepaskan eommaku, aku memang bersalah, aku mengakui jika aku bersaah, aku berjanji tidak akan menemui Myungsoo oppa dan merelakan kalian bersama, tapi sekarang aku mohon lepaskan eommaku “ Jiyeon bersujud memohon pada Sulli, wajahnya sudah pucat kini, ia benar-benar takut jika Sulli tidak berhasil ia bujuk dan tidak bisa menahan emosinya, satu-satunya cara ia harus mengalah untuk sementara ini, apapun akan ia lakukan.

Pegangan Sulli mengendur, ia seperti mempercayai apa yang Jiyeon katakan, kesempatan itu tidak dibiarkan oleh Nana “ Sekarang kau percayakan ? tidak ada yang akan merebut Myungsoo dari dirimu “ Ucap Nana seraya mengambil alih perlahan-lahan pisau ditangan Sulli.

Sulli mengangguk dan tersenyum kaku, ia membiarkan Nana untuk mengambil pisau dari tangannya, namun baru saja pisau itu benar-benar hendak berpindah tangan, gerakan perawat yang seolah-olah mencurigakan membuat Sulli kembali bersiap, Nana panik namun ia berusaha merebut kembali pisau dari tangan Sulli.

Terjadilah aksi saling merebut pisau antara Nana dan Sulli, Jiyeon panik, eommanya dalam bahaya, sementara perawat itu terlihat kewalahan memegang tubuh Sulli. Jiyeon pun bangkit, untuk memberikan bantuan.

“Lepaskan!!! “

“ Tidak sebelum kau letakkan pisau itu “

“ Eomma menjauh dari dirinya, ia sangat berbahaya “

“ Kalian berbohong, kalian tidak benar-benar akan memberikan Myungsoo oppa untukku “

“ Eomma cepat pergiii!! “

“ Yeonnie-ah “

“ Eomma cepat segera menjauh darinya “

“ Lepaskan anakku “

“ Kalian benar-benar licik, aku benci kalian “

“ Yeonie-ah, Yeonieeeee “

“ Akkhhh…….eo-mm-aaa…. “

“ Yeonnie-ah…Yeonnie-ah….Yeonnie, wae gurae ? “

Hening

Pandangan Jiyeon tiba-tiba kabur, ia tidak lagi bisa melihat jelas apa yang ada dihadapannya, tubuhnya terasa lemas, tidak lagi mampu berpijak dengan kedua kakinya, perlahan ia terkulai dalam pelukan Sulli yang matanya membelalak tajam. Sulli mengangkat tangannya, tidak ada lagi pisau disana, hanya cairan berwarna merah yang berlumuran ditangan kanannya, tubuh Jiyeon merosot dan ambruk dihadapannya.

Nana dan perawat tidak bisa menggerakkan tubuhnya, mulut mereka terbuka lebar dengan mata yang juga terbelalak, tidak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya.

“ Yeonie….Yeonie…Yeonie “ Nana berusaha melangkah meskipun tubuhnya sangat sulit untuk ia gerakkan, ia menuju tubuh Jiyeon yang tergeletak tidak berdaya dengan pisau yang menancap diperutnya.

“ Eo-m-m-aaa….e-o-m-m-a….ak-akuu “ Jiyeon sulit untuk berbicara, keringat dingin membanjiri wajahnya, darahnya seakan tersedot hingga membuat bibirnya memucat, wajah eommanya nampak samar-samar ia lihat, namun tubuhnya yang terasa sangat dingin berubah hangat karena dekapan erat eommanya, hatinya terasa tersayat karena tangisan eommanya yang terus menerus menyebut namanya.

Jemari Jiyeon menyentuh wajah Nana, menghapus airmata yang mengalir deras dan jatuh tepat diwajahnya “ ul-ji-ma…ul-ji-ma e-o-m-ma…akkkhhh ja-ng-an me-nang-is, ak-akuu, aku a-kan b-aik-b-a-i-k sa-ajaa…akkh “ Seketika Jiyeon merasakan nafasnya begitu sulit, dadanya sangat sesak dengan perut yang begitu nyeri ia rasakan, perlahan-lahan matanya pun tidak sanggup lagi ia buka, jarinya terjatuh dan ia tidak sadarkan diri dipelukan sang eomma.

“ Yeonnie-ah…..andweyo….buka matamu, buka Yeonnie-ah….tidak, ini tidak mungkin terjadi Yeonnie-ahhhh!!!! Buka matamuuuuu “ Nana mengguncang-guncang tubuh Jiyeon agar putrinya membuka matanya kembali, tangisan harunya yang memanggil-manggil nama Jiyeon memenuhi ruangan, Ia mencium berkali-kali wajah Jiyeon yang sudah berubah sangat pucat, namun Jiyeon tidak lagi membuka matanya.

“ Apa yang terjadi ? “ Jaejoong yang muncul bersama kedua orangtua Sulli langsung berteriak panik.

“ Sulli-ah, anakku, apa yang terjadi nak ? “ Kedua orangtua Sullipun menghambur memeluk Sulli yang terlihat seperti mematung luruh dilantai.

Jaejoong melihat Jiyeon dipelukkan istrinya yang menangis dengan darah yang terus menerus keluar dari perut putrinya, ia menggelengkan kepalanya tidak percaya “ Ommo!!! Ya Tuhan !!! Cepat panggilkan bantuannnnn…..kenapa kau diam sajaaaa eoh!!! Cepatttt tolong putriku “ Jaejoong berteriak dihadapan perawat yang sejak tadi masih tidak berbuat apapun, mendengar teriakan Jaejoong wajah pucatnya pun kini tersadar dan segera berlari untuk meminta bantuan.

“ Yeonnie-ah bertahanlah eoh, appa akan menyelamatkanmu “ Jaejoong mengambil alih tubuh Jiyeon dari Nana dan membawanya segera meminta pertolongan medis, ia berlari tidak peduli lagi dengan keluarga Sulli yang masih berada disana, ia terus berlari meski kakinya sangat lelah karena nyawa anaknya yang menjadi taruhan.

Sementara Sulli menangis dan memeluk kedua orangtuanya gemetar, iapun tidak menyangka akan melakukan itu terhadap Jiyeon.

“ KAU BENAR-BENAR TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI MYUNGSOO DAN MENDAPATKAN MAAF DARIKU !!! “ Ucap Nana tajam dengan sorot mata penuh dendam, baru kali ini wanita yang terbiasa memancarkan kelembutan itu dipenuhi amarah yang mungkin bisa saja membakar hangus siapapun yang ada didekatnya.

Sulli dan kedua orangtuanya yang masih belum mengerti apa yang terjadi  hanya berpasrah tanpa bisa berbicara apapun.

Minho mengambil alih untuk memegang kemudi, ia tidak mempercayakan Suzy yang membawa dalam keadaan genting seperti ini, wajahnya terlihat sangat panik, ini sungguh hal yang siapapun tidak akan menyangka, yeoja itu terlihat baik-baik saja ketika mereka bertemu kemarin dan hari ini ia seperti mendengar petir menggelegar ditelinganya mendapat kabar bahwa Jiyeon dalam keadaaan kritis, yeoja itu mengapa mengalami banyak sekali cobaan dalam hidupnya.

Sementara Suzy tidak henti-hentinya menangis, tangannya pun masih terlihat gemetar ketika ponsel digenggamannya ia pegang, Suzy diminta appanya untuk menghubungi Myungsoo, namun sungguh ia tidak tahu harus mengatakan apa pada oppanya itu.

“ Tenangkan dulu dirimu, jangan mengatakan apapun yang membuatnya panik “ Ucap Minho dengan nada khawatir.
Suzy mengangguk, meski ia tidak yakin namun oppanya harus tahu kabar ini.

Kring…

Tangan Suzy semakin gemetar, tidak terlintas sedikitpun kalimat apa yang akan ia ucapkan, Minho menyadarinya dan segera menepikan sementara mobilnya “ Biar aku yang melakukannya “ Minho meraih tiba-tiba ponsel Suzy, lagi-lagi ia tidak yakin Suzy akan bisa mengatasinya.

“ Yeobboseo ? “

Terdengar suara Myungsoo dari seberang sana, Minho perlahan menghela nafasnya “ Myungsoo-ah, aku dan Suzy sedang menuju rumah sakit, susul kami segera eoh ? “ Ucap Minho dengan kalimat yang ia sendiri tidak yakin Myungsoo akan melakukannya hanya dengan kabar seperti itu.

“ Waeyo ? apa Sulli sudah menunjukkan kemajuan, jika begitu aku akan kesana bersama dengan kekasihku, tapi kurasa dia memang sedang berada disana “ Ucap Myungsoo tersenyum ketika mengucap nama kekasih, tidak menangkap hal aneh dari nada bicara Minho.

“ Datanglah, aku menunggumu segera datang “ Ucap Minho menggantung dan setelahnya membuat Myungsoo penasaran.

“ Baiklah, aku segera kesana, aku memang merasa sudah tidak nyaman berada disini, dalam 30 menit aku segera sampai “ Ucap Myungsoo.

“ Eoh “ Minhopun memutuskan sambungan telepon, ia menatap Suzy yang dengan susah payah membekap mulutnya agar tangisannya tidak terdengar Myungsoo dan membuat oppanya itu curiga.

“ Arrrgghkkk…..Tuhan aku mohon selamatkan dia, jangan lagi kau berikan cobaan besar untuk nya “ Mohon Minho memukul setirnya, dan segera melajukan mobilnya kembali.

Semuanya kecuali Myungsoo sudah berada diruang tunggu operasi, menatap lampu yang masih berwarna merah dengan cemas. Suzy memeluk tubuh eommanya yang hampir saja tidak sadarkan diri didampingi Jieun yang matanya sudah bengkak karena tidak henti-hentinya menangis, keduanya mencoba memberi kekuatan untuk eommanya meski mereka pun memiliki ketakutan yang sama.

Jaejoong dan Minho masih berjalan mondar-mandir tidak tenang, berkali-kali mereka menatap dan berharap pintu itu segera terbuka dan muncul dokter yang membawa kabar baik, namun hampir 1 jam pintu itu belum juga terbuka. Suasana ini mungkin akan semakin memilukan jika Myungsoo sudah mengetahuinya, Myungsoo masih belum tiba disana dan tidak tahu jika yeoja yang sangat dicintainya sedang berjuang dengan nyawanya.

Disaat hening, suara orang yang berlari terdengar begitu jelas, semua mata terarah ke satu titik itu, seorang namja tampan yang tidak bisa mereka gambarkan keadaannya. Myungsoo, dari jauh wajahnya sudah terlihat sangat pucat, namja itu mendekat dengan cara berlari. Myungsoo heran ketika ia tidak lagi menemukan Sulli diruangan isolasi atau ruang inap, perasaannya semakin was-was karena tidak ada satupun dari Jiyeon, orangtua, adik, serta sahabatnya yang mengangkat panggilannya, ketika datang seorang perawat yang memberitahu jika ia harus segera ke ruang operasi Myungsoo pun bertanya-tanya siapa yang harus menjalani operasi ? Sulli tidaklah membutuhkan operasi dengan penyakitnya, dan ia hampir saja tidak sadarkan diri ditempat ketika perawat menceritakan jika ada kejadian mengerikan yang menimpa salah satu keluarganya.

Myungsoo menatap satu-persatu wajah cemas dan lelah orang-orang di hadapannya, berharap wajah yeoja yang ia cintai juga berada disana, namun jantungnya serasa ingin berhenti berdetak, wajah itu, wajah yang selalu mengulas senyum dan memberikan kedamaian tidak ia temukan disana, apa ini artinya Jiyeon yang berada disana ? diruang operasi ?

“ Si-siapa orang yang kalian tunggu ? “ Tanya Myungsoo dengan jantung yang berdebar-debar ia melangkah bertanya kepada Minho yang lebih dekat dengannya.

Minho terdiam, dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri mengapa harus berada dibarisan paling depan dan paling dekat dengan Myungsoo yang mengharuskan ia menyebut nama Jiyeon yang berada disana, lama Minho terdiam hingga membuat Myungsoo tidak sabar dan akhirnya beralih kepada eommanya yang ia anggap tidak akan berbohong “ Eomma…katakan siapa yang sedang kalian tunggu ? “ Bukan menjawab, Nana kembali menangis membuat Suzy dan Jieun yang berada disampingnya pun ikut menangis.

Myungso menggelengkan kepala tidak percaya, dugaannya semakin kuat, ia pun berlari kearah ruang operasi dan memaksa masuk, Minho serta appanya mencoba menghalangi Myungsoo agar tidak mengganggu jalannya operasi.

“ Yeonie-ah….Yeonie-ah, cepatlah keluar, aku menunggumu disini, kau tidak boleh pergi tanpa aku disisimu eoh!! Yeonie, Yeonie !!!! “ Myungsoo terus berteriak memanggil nama Jiyeon berkali-kali dan berusaha untuk lepas dari hadangan Minho dan appanya, namun bayangan Jiyeon yag sedang mempertaruhkan nyawa didalam sana melemahkan gerakannya, raganya seolah lepas dari tubuhnya dan akhirnya ia pun luruh.

“ Myungie-ah, dia akan baik-baik saja karna dia adalah putriku yang kuat, berdoalah mohon pada Tuhan untuk kesembuhannya “ Ucap Jaejoong mencoba menenangkan Myungsoo, terlihat raut kesedihan dari wajah Jaejoong yang biasanya terlihat sangat tegas.

Pelangi milikku mungkin akan segera datang, menggantikan kehadiran hujan yang cukup lama menemani hari-hariku.

Aku berharap kehadirannya akan memberi warna baru dalam hidupku,

Keberanian, kekuatan, kecerian, harapan, kedamaian, hidup yang sederhana namun indah, serta keagungan dalam cinta seperti makna dari 7 warna indahnya.

Pria itu….

Aku menyukainya, tapi aku tidak berharap ia akan seperti pelangi untukku, karena jika begitu dia hanya akan muncul sebentar saja, dan untuk menunggu kedatangannya lagi maka aku harus melalui hujan.

Aku ingin pria itu seperti bintang saja, karena cahayanya bisa membuat langit gelap menjadi benderang, yang lebih penting bintang tidak pernah merasa bosan, dia akan selalu tinggal bersama dengan langit.

Maukah kau seperti itu, menemaniku ?

Layaknya bintang yang tak pernah lelah menemani sang malam.

Bae Jiyeon ^-^

Myungsoo menutup diary ditangannya, milik Jiyeon yang diberikan Jieun padanya, tertera tanggal yeoja itu menulisnya, tepat 1 hari sebelum musibah itu terjadi. Myungsoo menangis tapi mulutnya menyunggingkan senyuman, dipandangnya yeoja yang ditubuhnya terpasang berbagai peralatan medis untuk mempertahankan hidupnya, Myungsoo meraih dan menggenggam tangan yang tidak bergerak itu lalu menciumnya lembut “ Bukalah matamu, bintang yang kau impikan ada dihadapanmu “ Ucap Myungsoo disela-sela tangisannya.

Hampir 1 bulan lamanya Jiyeon belum juga tersadar dari tidur panjangnya, sudah tidak lagi terhitung berapa banyak airmata orang-orang yang mencintainya tumpah karena menangisinya, Myungsoo bahkan mungkin lupa jalan menuju pulang kerumah atau apartement-nya, saat ini ia hanya mengingat jalan menuju rumah sakit dan tempatnya bekerja.

Ia tidak pernah 1 malampun melewati hari tanpa Jiyeon disisinya, berharap Jiyeon segera membuka matanya yang sudah lama terpejam, harapan yang mungkin bisa disebut keajaiban, dokter bilang pisau yang menancap diperutnya sangat dalam hingga mengenai organ dalam tubuhnya, saat ini keluarga hanya diminta untuk tetap berdoa dan mengikhlaskan apapun yang akan terjadi, tidak dengan Myungsoo, ia yakin Jiyeon tidak akan meninggalkannya sendiri, meninggalkan cinta yang bahkan belum sempat ia rasakan manisnya, Jiyeon belum layak pergi tanpa 1 kebahagianpun yang ia rasakan dalam hidupnya.

Myungsoo terus mengggenggam jemari Jiyeon, dan mulutnya tidak berhenti untuk selalu berdoa, disetiap ujian ia selalu yakin yang dialaminya saat ini adalah ujian terakhir sebelum rasa manis dari ujian itu ia rasakan, Tuhan selalu melindungi Jiyeon, karena yeoja ini adalah malaikat yang Tuhan utus ke bumi untuk menemani hidup sempurna Myungsoo, hari semakin malam hingga lambat laun matanyapun terpejam.

“ Mwo ? jeongmalyo ? Ye-Yeonie ku sudah siuman ? “

Myungsoo berteriak senang, tidak sadar ia masih bersama dengan banyak relasi bisnisnya yang menatap kearahnya tidak mengerti, Myungsoo pun segera meninggalkan ruang pertemuan bergegas untuk menuju rumah sakit dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan, Tuhan mendengarkan doanya, yang tidak pernah putus ia panjatkan bahkan ketika dirinya telah terbuai di alam tidurnya.

Myungsoo mengendari mobilnya sangat cepat dijalan yang bisa dibilang cukup sepi karena jam kerja masih berlangsung, seseorang kembali menghubunginya, dan kali ia begitu terkejut karena nomor Jiyeonlah yang tertera disana, bukankah selama yeoja itu terbaring dirumah sakit ia lah yang menyimpannya ? dahi Myungsoo mengernyit, seingatnya ia selalu membawa ponsel Jiyeon, ia pun meraih tas disampingnya, mencari keberadaan ponsel Jiyeon, tidak sadar kini perhatiannya terbagi antar ponsel dan jalanan yang harus ia tempuh, tepat ketika ponsel itu ia temukan, sebuah truk besar datang dari arah berlawanan, Myungsoo tidak lagi sempat untuk menginjak rem, ia pun terpaksa membanting setir dan….

Ckitttt….

Ckiiittt….

Brakkkkk….

Aarrgghkkk….

“ Oppa…..oppa…. Myungsoo oppa !!!! “

Terdengar sayup-sayup suara lembut memanggilnya, suara yang sudah lama dan sangat ingin sekali kembali ia dengar, tapi dimana wujudnya ? mengapa hanya suaranya saja yang hadir ? Myungsoo tidak lagi merasakan apapun, pandangannya kabur dan tiba-tiba gelap, Myungsoo tidak sadarkan diri darah keluar dari hidung serta mulutnya.

“ Ada saatnya aku harus rela untuk melepaskan apa yang bukan menjadi milikku, dan aku pasrahkan semuanya pada Tuhan, Yeonie-ah aku akan selalu mencintaimu tidak peduli meski kita tidak lagi bisa bersama, Yeonie-ah Saranghae, Kim Myungsoo selamanya hanya pantas bersanding dengan Bae Jiyeon “

TBC

Terkejut dengan part ini ? kecewa dan hanya bisa geleng-geleng kepala karena cobaan MyungYeon yang tidak kunjung beakhir ? terlalu berlarut-larut untuk menyatukan mereka sehingga membuat kalian bosan, eneg, dan mau muntah ? *wkwkwkwkw, readers ga sekejam apa yang author pikirkan.

Mian yah, tapi inilah hasil jari – jemari author yang menari-nari diatas keyboard selama 1 minggu.
Kenapa belum juga berakhir padahal author bilang tinggal 1 part lagi ? hihihihi… tenang saja next partnya INSYA ALLAH akan benar-benar berakhir ga pake molor , bagaimana cerita di part selanjutnya jika di part ini saja cobaan ada lagi ? kita lihat saja author gaje ini beraksi…..hohohoho

Masih inget email atau nope author ? gaza_sinta@yahoo.co.id / 0813-1564-9694

Silahkan hubungi kembali author kesitu, karena author berniat utk PW lagi utk Final partnya , sengaja disini author ga kasih PW, biar readers yang lain juga update kemana harus mencari alamat author ( ?)

Ok sekian cuap-cuapnya, berharap kalian masih bersedia mengikuti cerita – ah entahlah apa author menyebutnya – ini …..gomawo 

212 responses to “[ CHAPTER – FINAL PART 20A ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. Annyeong thour mianhae hehe aku udah baca nih ff berulang kali. tapi baru bisa comen plis thour minta pw nya .aku dah sms loh

  2. ya ampunn … kesian bgt sii mereka cobaan.a berat bgt .. ada ada ajja yg menganngu kebhagian mereka . skarang myung kcelakkaan gmna coba nasib jiyeon yg udda sabarr … makinn penasarann kamnn .. baper mullu tiap baca episode.a . eonni daebakk lahh bwt cerita.a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s