(CHAPTER 2) All Of Sudden

all-of-sudden1

Title : All Of Sudden

Author : renhikai

Genre : Romance, Friendship, School Life, Comedy

Rated : PG-15

Main Cast :

• Park Jiyeon (T-Ara)

• Kim Myung Soo (Infinite)

• Choi Minho (SHINee)

• Irene Bae (Red Velvet)

CREDITposter : by Jungleelovely 

Jiyeon POV

Semilir angin pagi terasa lembut menerpa kulit wajahku, aku berusaha tetap memfokuskan pandanganku kedepan sana. Minho masih sibuk dengan kegiatan men-dribble bola-nya, dan aku si sosok tak diharapkan disini terus mengarahkan kamera kesayanganganku memotret Minho dengan angle sesempurna mungkin, aku hanya berharap Minho tidak menyadari keberadaanku sekarang.

Klik..

Klik..

Aku tahu apa yang kulakukan sekarang ini adalah kegiatan yang sangat bodoh, katakan saja aku seorang stranger atau mungkin secret admirer, aku sebenarnya tidak peduli. Kalau begini caranya, lantas apa bedanya aku dengan Myungsoo yang smiley maniac? Bukankah aku juga seorang maniac? Maniac yang terobsesi dengan segala hal tentang Choi Minho.

Klik..

Klik..

Aku terus menggerakkan kameraku kesegala arah, apalagi yang bisa kulakukan selain ini? Mengirim surat cinta kepada Minho? Meletakkan coklat dan bunga di lokernya? Atau mungkin mengajaknya berbicara? Aku lebih memilih menenggalamkan diri di sungai Han daripada melakukan hal-hal itu.

Klik..

Klik..

Entah yang kukatakan ini akan menjadi hal yang baik atau malah sebaliknya, tapi jujur saja aku mempunyai koleksi foto Minho dikamarku, baik itu saat dia gembira, sedih, gugup, tertawa, tersenyum, kelelahan, bahkan saat dia menangis aku mempunyai semuanya. Aku benar-benar seorang maniac ternyata.

“ Hai teman serumah.”

Tampa menoleh-pun rasanya aku sudah dapat menebak siapa pemilik suara barusan. Yap! Siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo, si smiley maniac yang kemarin resmi tinggal satu atap dengan-ku, sebenarnya aku cukup keberatan dengan kenyataan itu, tapi mau bagaiman lagi? Tidak ada yang berani membantah keputusan mutlak eomma, bahkan appa sekalipun.

“ Sedang apa sih?” Tanya Myungsoo seraya menatap tajam kearahku, aku hanya mengangkat bahu tidak peduli dan segera memasukkan kameraku kedalam tas kecil yang kusampirkan dibahuku. Kutatap Myungsoo dengan pandangan gusar, tentu saja aku kesal dia menggangu kegiatanku, jarang-jarang Minho berlatih basket tampa ada salah satu dari teman-temannya yang menemaninya, dan kini kesempatan yang jarang itu sukses dihancurkan oleh sosok pengganggu yang satu ini.

“ Menurutmu saja.” Ujarku cuek dan segera melangkah meninggalkan Myungsoo, Myungsoo langsung berlari-lari kecil menghampiriku, aku heran kenapa ia terlihat sangat betah berada didekatku, bukankah aku sudah berusaha membuat kesan yang buruk? Entahlah aku juga tidak mengerti dengan cara berpikir Myungsoo.

“ Hei..” Aku menatap Myungsoo yang kini tepat berada disampingku, ia tersenyum tapi aku berusaha tetap terlihat tidak memedulikan keberadaannya. Sudah kubilang, aku ingin menciptakan kesan yang buruk untuknya, aku punya banyak alasan untuk melakukan hal-hal itu.

Myungsoo hanya menatap aneh kearahku, tapi tak urung ia akhirnya menampakkan senyuman khas-nya. “ Jiji, aku mencarimu tadi. Sedikit aneh saat bel tanda waktu istirahat berbunyi dan kau langsung berlari seperti orang kesetanan ketempat ini, bahkan kau tidak menyahuti panggilanku.”

Aku mengernyit mendengar penjelasan Myungsoo, benar memang yang ia katakan, aku langsung pergi ketempat ini saat bel tanda istirahat berbunyi, siswa yang lain mungkin akan memilih ke kantin daripada lapangan basket ini. Tapi tidak denganku, karna aku tahu dihari weekend seperti sekarang Minho selalu menyempatkan diri berlatih di lapangan basket.

“ Tapi aku tidak mendengarnya.” Aku tidak bohong, aku memang tidak mendengar seseorang memanggil namaku, mungkin aku terlalu bersemangat tadi.

“ Ne, kau mengatakan itu, padahal jelas-jelas aku memanggilmu tadi…” Myungsoo tetap bersikukuh dengan ucapannya, aku hanya memutar mata bosan menyadari tidak ada gunanya membantah Myungsoo, ia terlihat seperti eomma. Tidak ada bantahan dan benarkan saja apa yang dikatakannya jika masih ingin selamat jiwa dan raga.

“…Selain itu, apa yang sebenarnya kau lakukan disini?” Pertanyaan Myungso itu membuatku sedikit gugup, Myungsoo menaik turunkan alisnya curiga. Bisakah seseorang menghentikannya?

“ Sebenarnya tidak ada hal yang penting…” Jelasku, berharap agar Myungsoo tidak cukup peka untuk menyadari kebohangan ‘kecilku’. Myungsoo hanya menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘benarkah?’, tapi ia akhirnya turut mendudukkan tubuhnya disampingku. Ya, aku memutuskan duduk tampa alas di atas tanah berumput yang terdapat di area halaman belakang sekolah, sangat jarang didapati ada siswa yang berkeliaran di tempat ini, bahkan malah ada yang sama sekali tidak mengetahui ada tempat seperti ini di Seoul High School, menurut mereka mungkin tempat ini angker.

Truth or dare?”

“ Apa?” Tanyaku bingung saat menatap seringaian jahil Myungsoo, ia terlihat beribu kali lipat lebih menyebalkan saat memasang wajah seperti itu. Bukannya aku tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Myungsoo. Truth or dare, permainan bodoh yang hanya dilakukan oleh orang bodoh.

Or..” Jawabku sinting sambil memainkan beberapa ilalang yang tumbuh bebas disekelilingku.

“ Jiji! Hanya truth dan dare!” Myungsoo menatap kesal kearahku, tapi hanya butuh sepersekian detik untuknya mengubah tatapan kesalnya menjadi tatapan memelas. Aku menatap jijik Myungsoo, mencoba menyuruhnya menghentikan expresi aneh itu.

“ Ayolah Jiji..”

“ Tidak..”

“ Mau ya? Ya? Ya? Ya?”

“ Tidak!”

“Ya? Ya? Ya? Ya?”

“ Myungsoo!”

“ Kau mau kan?”

Arasseo…” Jawabku lesu yang langsung dibalas tatapan riang dari Myungsoo, dia ternyata pandai mempengaruhi orang lain dengan tatapan polosnya ternyata, tcih! “…Aku pilih truth.” Lanjutku semantap mungkin, tentu saja aku akan lebih memilih berkata jujur daripada menghadapi tantangan yang belum jelas kepastiannya, mungkin saja Myungsoo menantangku dengan tantangan yang aneh-aneh, siapa yang tahu?

“ Kau menyukai Minho kan?”

Skak mat..

Pernah dengar bahwa kau akan merasa organ tubuhmu mendadak tidak berfungsi saat seseorang mengetahui rahasia terbesar yang selalu berusaha kau tutup-tutupi? Yap, aku merasakannya sekarang. “ Myungsoo..” Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, lidahku terasa kelu sekarang dan aku berharap seseorang segera membawaku dari tempat laknat ini.

“ Jiji, ayo dijawab…” Rajuk Myungsoo dengan tatapan memelasnya, aku menelan saliva-ku gugup, aku benci saat-saat seperti ini…Aishh! Ini, memalukan!

“ Ya…” Jawabku akhirnya, aku berusaha membuatnya terdengar lebih mudah dan normal, tapi kenyataannya aku merasa hawa disekitarku meningkat secara drastis. Tatapanku kini teralih kepada Myungsoo, ‘teman serumahku’ itu menatapku dengan tatapan yang entah mengartikan apa.

Truth or dare?” Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan, Myungsoo menatapku sekilas sebelum akhirnya mengangguk dengan senyuman cerah yang kembali menghiasi wajahnya.

“ Aku pilih truth juga.” Jawab Myungsoo tampa berpikir panjang, dan sekarang aku malah bingung dengan pertanyaan yang akan aku tanyakan, bodohnya.

Aku menerawang jauh kedepan sana, aku sering melakukan hal seperti ini jika sedang merasa bingung. Pertanyaan yang tidak terlalu khusus dan memiliki jawaban yang mudah, kurasa aku tahu apa itu. “ Love or friendship?” Tanyaku akhirnya, Myungsoo tersenyum kecil dan mengacak-acak rambut coklatku yang digerai bebas. Aku mendelik kearahnya dan ‘menghadiahi’ sebuah pukulan tepat dibahu-nya. Apa aku sudah bilang aku membenci seseorang menyentuh rambutku?

“ Aku akan memilih cinta, karna orang yang kucintai adalah orang yang menjadi sahabatku sendiri, terdengar aneh memang, tapi itu adalah kenyataannya.” Jelas Myungsoo dengan sebuah senyuman kecil yang terukir di masing-masing ujung bibirnya. Aku tebak saat ini ia pasti membayangkan hal-hal yang indah, tapi kurasa aku sama sekali tidak mengerti maksud dari jawabannya barusan.

“ Maksudmu?” Myungsoo tertawa kecil saat menyadari wajah bingungku, ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di dagunya seolah sedang berpikir, aku akui Myungsoo adalah sosok yang begitu aneh dan…Menggemaskan mungkin?

Eh, apa yang barusan kukatakan? Pabo Jiyeon!

“ Jiji, ada beberapa hal yang tidak perlu dimengerti, cukup diketahui saja.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, padahal aku sebenarnya masih belum mengerti apa yang diucapkan Myungsoo tapi…Sudahlah, mungkin Myungsoo hanya akan kesal jika aku terus bertanya kepadanya.

Myungsoo berdiri dari posisi duduknya membuatku menatap bingung kearahnya. “ Kenapa?” Myungsoo bertanya saat aku tak kunjung menghentikan tatapan bingungku.

“ Sekarang saatnya kembali ke-kelas, kita mungkin sedikit terlambat Jiji.” Myungsoo menarik tanganku, menyuruhku mengikuti langkah kakinya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak suka dan sedikit risih. “ Kau duluan saja.” Ujarku yang sama sekali tidak dipedulikan Myungsoo. Mood-nya tidak terlihat begitu baik, tapi kenapa? Bukankah harusnya aku yang bersikap begitu karna dia sudah menggangguku-

“ Kau masih ingin memotret Minho ya?”

Arghh! Satu lagi rahasia-ku yang kini terbongkar.

.

.

.

“ Apa kalian tidak mendengar bel tanda istirahat usai berbunyi?”

Aku dan Myungsoo saling bertukar tatap, Ahn ssaem masih menatap tajam kearah kami dengan tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana-nya, Ahn ssaem mungkin seonsaengnim yang paing keren disekolah ini, tapi tetap saja bagiku ia hanya seonsaengnim killer yang tidak bisa memaklumi kesalahan anak didiknya.

“ Aku bertanya pada kalian! Jiyeon! Myungsoo!” Aku menoleh gugup menatap mata hazel milik Ahn ssaem, Myungsoo menyenggolku seolah meminta ‘pertolongan’. Eoh Myungsoo, bahkan kepastian keselamatanku sendiri aku tidak tahu.

“ Mianhe ssaem…” Ujarku takut-takut sambil saling meremas kedua tanganku. Aku malu, selama ini aku belum pernah mendapat masalah dengan Ahn seonsaengnim…Tidak, semua seonsaengnim lebih tepatnya.

Ssaem, ini bukan salah Jiyeon, ia hanya menemaniku mencari buku tugasku yang tertinggal di perpustakaan sekolah.” Sangat penuh keyakinan, aku sedikit kagum kepada wajah tegas Myungsoo yang seolah mengatakan ia sedang tidak berbohong, mungkkin sepulang sekolah nanti aku harus mengucapkan terima kasih padanya.

Ahn ssaem berdehem pelan lalu tersenyum tipis kearahku dan Myungsoo. “ Baiklah, kalian boleh kembali ke bangku kalian sekarang.” Aku hampir berteriak kegirangan mendengar perkataan Ahn ssaem, sangat jarang rasanya ia meloloskan siswa yang melakukan pelanggaran, bahkan walaupun disertai alasan sejelas-jelasnya. Myungsoo sangat hebat bisa membuat Ahn ssaem percaya dengan kebohongannya, mungkin lain kali dia harus mengajariku cara berbohong yang benar.

“Myungsoo, gomawo.” Bisikku pelan yang kemudian dibalas dengan senyuman dari Myungsoo.

“ Sekarang kerjakan tugas yang ada di halaman 66…” Ujar Ahn ssaem saat aku dan Myungsoo sudah menduduki bangku masing-masing, kebiasaan yang sangat buruk, mengerjakan soal tampa ada penjelasan terlebih dahulu, apalagi itu adalah pelajaran Kimia yang penuh rumus-rumus yang bahkan lebih rumit dari benang berbelit. “…Dan ingat, ini bukan pekerjaan rumah!”

Yeah, ini memang menyebalkan!

.

.

.

Myungsoo POV

Eomma!! Aku pulang!!” Aku membekap telingaku ngeri saat mendengar teriakan ultrasonic milik Jiyeon. Jiyeon memang benar-benar tidak mempunyai sifat anggun sedikit-pun, pantas saja Minho tidak pernah meliriknya. Ah kasihan sekali.

“ Apa kau selalu melakukan hal seperti itu jika pulang dari sekolah?” Tanyaku dengan wajah kesal yang tidak bisa kututupi, Jiyeon mengangguk membenarkan, aku tebak! Ini pasti salah satu dari sekian banyak list kebiasaan hariannya.

“ Kalau begitu aku harus menjaga ‘keselamatan’ telingaku selama tiga bulan kedepan.” Untuk beberapa detik aku hanya bisa terdiam saat menatap Jiyeon yang saat ini tengah tertawa, Eoh dia bisa tertawa juga ya? Kukira sosok cuek seperti Jiji sudah kehilangan hormon kebahagiaan, tapi entah kenapa aku merasa wajah riang lebih cocok untuk Jiji, ia terlihat lebih manis saat sedang ceria.

“ Ide bagus!” Jiyeon menjentikkan jarinya sambil tetap berusaha meredakan suara tawanya, tatapannya kini menjelajahi sudut-sudut rumahnya. Aku hanya mengangkat bahu tidak mau tahu dan segera menutup pintu dihadapanku.

Wae?” Tanyaku bingung saat menyadari Jiji tak kunjung bergerak dari tempatnya, malahan ia kini hanya berdiri kaku dan menatap bingung kearahku. “ Aku tidak melihat eomma…” Aku nyaris tertawa mendengar ucapan Jiji apalagi saat melihat wajahnya yang kini menatap cemas tak tentu arah.

Aigo…Jiji, kita sekarang ada di ruang tamu, mungkin bibi sedang menunggu kita di dapur, jangan pasang wajah panik begitu, terlihat aneh kan?” Jiji memukul pundakku dengan pukulan jauh diatas rata-rata pukulan wanita yang normal. Sekarang aku heran, kenapa wanita suka sekali memukul?

“ Terserahlah..” Jiji dengan wajah muramnya melangkah mendahuluiku menuju ruangan bernama ‘dapur’, aku mengikutinya dalam diam sambil sesekali menatap wajah cemasnya itu. Izinkan aku tertawa sekarang, Jiji terlihat seperti balita yang takut ditinggal pergi oleh eomma-nya.

.

.

.

Eomma!!”

Jiji masih terus berteriak sementara aku lebih memilih mendudukkan diri di kursi meja makan yang sengaja diletakkan didapur ini, meskipun jarak antara sekolah dan rumah Jiji cukup dekat, tetap saja rasanya begitu melelahkan berjalan kaki ditengah musim panas seperti ini.

“ Myungsoo..” Aku terkesiap sesaat menyadari tatapan memohon dari Jiji, sedikit malas aku meninggalkan ‘zona nyaman-ku’ dan menghampiri Jiji dengan wajah panik-nya yang menunggu didekat lemari pendingin. Aku memutarkan pandanganku kesana kemari, hendak mencari keberadaan bibi Park yang begitu baik padaku, sejenak aku terdiam saat mataku menangkap keberadaan selembar kertas yang tergelatak diatas sebuah meja, cepat-cepat aku menghampiri meja bersangkutan dan meraih kertas yang menarik perhatianku.

Wajahku langsung memucat saat selesai membaca isi kertas ditanganku, mungkin aku harus menunjukkan kertas ini kepada Jiji. “ Ini..” Jiji menatapku bingung saat aku menyodorkan kertas barusan kearahnya, ia tampaknya masih tidak mengerti dengan maksud dari kertas yang kini berpindah ketangannya, aku mengangguk mengisyaratkan Jiji membaca kertas ditangannya, berharap ia tidak terlalu terkejut dengan isi surat itu.

‘ Jiyi, eomma dan appa mendadak harus mengunjungi cabang perusahaan yang ada di Jepang, kau baik-baik dirumah ya sayang, ada Myungsoo yang akan menemanimu.’

EOMMA!!!” . . . “ Jiji..”

Aku menghampiri Jiji yang tengah sibuk dengan laptop-nya di sofa yang ada diruang tamu, sebungkus chip potato berukuran besar tergeletak disampingnya, dua kaleng soft drink dingin yang barusan diambilnya dari lemari pendingin diletakkannya di atas meja didepannya dan jangan lupakan piring mungil berisi sepotong red velvet yang ‘duduk’ manis disamping laptop-nya. Sungguh, hidupnya terlalu indah.

“ Ne?” Ujar Jiji tampa menatap sedikit-pun kearahku, kelihatannya ia masih sibuk dengan kegiatan ‘pribadi-nya’ dan aku sebagai sosok tidak diundang seharusnya menyingkir dari tempat ini.

Awalnya aku mengira setelah Jiji membaca isi kertas yang ditinggalkan bibi Park, ia akan bermuram durja di kamarnya, mengurung diri seharian tampa makan tampa minum, melemparkan segala barang yang bisa dijangkaunya. Siapapun juga akan menyangka hal yang sama saat menyaksikan betapa cemas-nya Jiji tadi, tapi lihatlah! Sekarang Jiji seolah bersikap ‘ i dont’ care, i love it!’ Menyebalkan bukan?

“ Myungsoo, kau masih disana kan?” Aku mencibir mendengan ucapan Jiji. Ya aku disini, tapi kau tak akan pernah menyadarinya karena kau terus-terus-an menyibukkan diri dengan laptop bodoh itu. Aku bagai makhluk astral sekarang, dan itu kenyataan yang sungguh sangat mengganggu. Dengan kesal aku mendudukkan tubuhkan di sofa yang sama dengan yang diduduki Jiji, tapi Jiji seolah tak menyadari keberadaanku…Hei!! Orang tampan disini!

“ Kyaa!! Kerennya!”

Aku terlonjak kaget, tersedak oleh soft drink yang barusan kuminum. Tatapan kesalku kini mengarah kepada Jiji yang tersenyum seperti makhluk kehilangan kewarasan, aku mencuri pandang kearah layar laptop Jiji, dan aku hampir terjatuh dari posisi dudukku saat mengetahui apa yang menyebabkan Jiji bertingkah aneh seperti barusan.

Facebook

Itu laman facebook

Facebook yang berisi kumpulan foto Choi Minho…

Ya tuhan, bolehkah aku menyebut Jiji Minho maniac?

“ Yak!! Kau mau apa?!” Teriak Jiji panik saat aku mengambil paksa laptop-nya, aku mendecih sinis dan kembali menatap layar laptop didepanku.

Choi Minho ( coolBROminho )

Iwhh, nickname alay yang membuatku ingin cepat-cepat meng-close tab laknat ini, tapi Jiji bisa membantaiku jika aku melakukan hal itu, jadi pilihan terakhir hanya satu…Cepat-cepat menyelesaikan urusanku dengan si coolBROminho ini dan segera menyerahkan kembali laptop hitam dipangkuanku kepada pemiliknya.

Add a friend

Klik!

Request send

Yeayy! Mission complete!

Jiji memiringkan kepalanya meminta penjelasan atas perbuatanku, aku hanya menatapnya jahil kearahnya dan seolah tak terjadi apa-apa aku mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Tidak ada yang dapat kulakukan selain hanya terkikik geli dan membekap mulutku erat-erat dengan kedua tanganku. Aigo…Apa wanita yang ada disampingku sekarang benar-benar Jiji?

Jiji menoleh horror kearahku. “ Kau..Kau..” Jiji terlihat sangat gugup, ia menatap bergantian kearahku dan laptop bodoh didepannya. “ Kenapa kau meminta pertemanan dengan Minho? Sekarang apa yang harus kulakukan? Arghh!! Jiyeon, kau begitu bodoh! Minho akan mengira kau stalker Jiyeon, dan Myungsoo…Kenapa kau begitu bodoh? Aku tidak mau tahu, kau harus segera men-cancel request bodoh ini!”

Aku tertawa setan saat Jiji tampa ampun memukulku dengan bantal sofa ditangannya, tak berhenti sampai disitu, Jiji juga memasukkan paksa chip-chip potato berukuran besar kedalam mulutku lalu melumeri wajahku dengan cream red velvet, membentuknya menjadi lukisan abstrak.

Request friend-nya sudah di-konfirmasi Jiji..” Aku kembali tertawa saat Jiji menatap ngeri tulisan ‘FRIEND’ yang tertera dilayar laptopnya, Jiji menatapku dengan tatapan aku-akan-membunuhmu-sekarang-juga. Tapi aku sedikit lebih cepat, karena aku segera melompat dari sofa tempatku duduk dan segera berlari menuju ruang kamarku yang terletak dilantai atas.

“ Mianhe…” Ucapku berusaha terdengar semenyesal mungkin, Jiji menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dan kembali mengejarku yang kini menaiki anak tangga. “ Kau akan mati Kim Myungsoo!!” Teriaknya nyalang sambil mengayun-ayunkan sebuah tongkat baseball yang entah didapatnya dari mana. Aku lagi-lagi tertawa mendengar ancaman yang seharusnya menakutkan menjadi seperti sebuah lelucon jika Jiji yang mengucapkannya, karena kini-

Brak..

-Aku menutup kasar pintu didepanku lalu segera menguncinya, aku tidak sempat menyaksikan betapa kacaunya wajah Jiji, tapi satu hal yang aku tahu pasti, Jiji sekarang tengah memberenggut dan menendang pintu kamarku. “ Tamu itu harus selalu sopan kepada tuan rumah smiley maniac!!!” Dan aku untuk kesekian kalinya tertawa, aku baru tahu jika ada smiley maniac didunia ini.

Minho maniac!!!” Kalau itu sih ada, Jiji buktinya.

.

.

.

Aku menghampiri Jiji yang tengah sibuk memasak sesuatu didapur, entah kenapa aku sedikit lega saat menyadari Jiji tidak lagi memainkan laptop-nya seperti anak autis dan…Yeah, aku hanya berharap Jiji tidak lagi marah padaku, tenang saja aku sudah menyiapkan sebuah tongkat kecil di belakang punggungku jika kemungkinan buruk itu terjadi.

“ Myungsoo, kau ingin aku membagi mie yang akan kumasak ini untukmu?” Refleks aku menjauh saat Jiji menghampiriku dengan sebuah pisau dapur berukuran lumayan besar ditangannya, ayolah ini tidak lucu. Aku masih belum menemukan belahan jiwa-ku, tidak lucu kan kalau aku meninggalkan ragaku sekarang?

“ Kenapa?” Jiji menatapku bingung sebelum akhirnya tangannya kembali dengan telaten memotong beberapa bawang bombay diatas talenan. Aku mengerutkan dahi tidak mengerti, apa mungkin Jiji sudah tidak marah adaku?

Kenapa mood-nya bisa berubah secepat itu?

Tidak ingin memikirkan lebih banyak hal lagi, aku segera menarik salah satu kursi makan kemudian mendudukinya. “ Kau tidak marah Jiji? Eotte, maksudku kau tidak kesal lagi soal Minho yang tadi.” Ujarku ragu dan sedikit takut, sungguh posisiku saat ini sangat tidak menguntungkan, Jiji dengan pisau dapur ditangannya dan aku hanya mempunyai tongkat kecil yang kuletakkan disamping kakiku.

“ Soal Minho itu ya?” Aku mengangguk sekilas mendengar ucapan Jiji yang langsung dibalas dengan senyuman tipis dari Jiji. Sedikit aneh memang, tapi aku merasa Jiji bukanlah sosok yang sama dengan yang mengejarku kesetanan satu jam yang lalu.

“ Kenapa aku harus marah? Sudah lama aku ingin melakukan hal itu tapi keberanianku belum cukup besar, dan kau akhirnya melaksanakan hal yang sangat memalukan itu. Aku ingin marah, tapi apa ada gunanya? Kau kan teman baruku sekaligus tamu di rumahku, jadi kali ini aku memakluminya, santai saja.” Ujar Jiji masih dengan mengaduk-aduk sesuatu yang ia masak dengan sendok ditangannya.

“ Kau Park Jiyeon? Bukan alien yang menyamar menjadi Jiji?” Jiji mendelik dan mengancungkan pisau dapur ditangannya kearahku, aku menggigit bibirku gugup. Kau benar-benar pabo Myungsoo, Jiji sudah berniat melupakan permasalahan yang tadi, dan kau barusan memancing emosinya lagi?

“ Kau menyebalkan!” Jiji memalingkan wajahnya kesal sebelum akhirnya tangannya bergerak meraih dua buah piring yang tersusun rapi di rak piring disampingnya. “ Aku lagi-lagi memaafkan-mu kali ini.” Lanjut Jiji membuatku tampa sadar mendesah lega, sejujurnya agak aneh melihat Jiji menjadi sosok kalem dadakan seperti itu, aku lebih menyukai Jiji yang cuek dan kasar…Tapi ya sudahlah, aku tidak ingin merusak suasana.

“ Ayo makan, aku tidak ingin eomma dan appa memarahiku karna disangka menelantarkanmu.” Aku menatap bingung piring berisi mie goreng yang disodorkan Jiji kehadapanku, tampilannya terlihat tidak membahayakan, tapi bukan tidak mungkin kan Jiji menaruh racun di makanan itu karna aku yang berulangkali membuatnya kesal.

“ Kau bisa memasak?” Lagi-lagi Jiji mendelik bosan kerahku. Oh gezz, bagus Myungsoo, lagi-lagi kau membuatnya kesal.

“ Memangnya aku wanita apa sampai-sampai memasak makanan seperti ini pun tidak bisa?” Amuk Jiji seraya menunjuk-nunjuk hidungku menggunakan sendok teh ditangannya, aku tertawa melihat wajah kesalnya itu, akhirnya sifat asli-nya muncul juga.

“ Aku hanya ingin memastikan kau tidak menaruh racun di makanan ini.” Ujarku dan untuk kesekian kalinya kembali tertawa saat melihat Jiji yang memeletkan lidahnya bermaksud mengejekku.

Aigo, kalau kau tidak ingin memakannya tinggal bilang saja kan?”

Aku menggeleng tak setuju mendengar ucapan Jiji, aku sungguh sangat lapar sekarang dan cacing-cacing di perutku sudah meraung-raung mengira aku melupakan mereka. Oh tenanglah dear, kalian masih menjadi prioritas utamaku. Tampa menunggu waktu lebih lama lagi aku mengarahkan sesendok penuh mie goreng kedalam mulutnya, rasanya-

“ Apa ada racun yang kau temukan di makanan itu Myungsoo?”

-Sangat lezat, atau mungkin aku yang terlalu berlebihan karena saat ini aku sedang lapar? Molla.

.

.

.

“ Dimana hutan terlarang berada?”

Disampingmu.

“ Dimana hutan terlarang berada?”

Disampingmu!

“ Dimana hutan terlarang berada?”

Disampingmu bodoh! Bisakah kau berhenti bertanya untuk hal yang sama?

Aku menatap kesal layar didepanku yang menampilkan sosok menyebalkan yang sungguh aku benci, ya si Dora dari Dora the Explorer itu. Entah setan apa yang merasuki tubuhku sampai aku memutuskan menistai mataku dengan menonton serial animasi ini.

Sekarang aku memasukkan beberapa popcorn ke mulutku dan mengunyahnya dengan gemas. Dora tersenyum riang kearahku…Bukan! Lebih tepatnya kearah kamera, dengan sosok Boots yang melompat-lompat disampingnya, dan lihatlah! Sekarang bahkan ada iring-iringan siput yang meniup terompet dibelakang mereka.

“ Jiji, apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku tampa bisa menutupi kebingunganku saat melihat Jiji dengan wajah cemas-nya mundar-mandir dari balik etalase kaca berisi berbagai benda hiasan yang dipajang diruang tamu.

“ Kamera-ku, aku tak menemukannya Myungsoo!” Jiji mengguncang-guncang bahuku dengan matanya yang memerah dan hampir berair, aku menatap prihatin kearahnya dan meletakkan remote tv yang sebelumnya berada ditanganku. Wajar saja jika Jiji sangat heboh ketika mengeetahui kamera-nya hilang, benda itu menyimpan segala aibnya.

“ Myungsoo..”

“ Kita akan mencarinya, tenang saja.”

.

.

.

Jiyeon POV

“ Jiji, kita akan mencari kamera-mu dimana?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Myungsoo, karena aku sendiri bingung apa yang harus kulakukan saat ini. Kamera-ku hilang, dan aku tidak yakin masih ada hal yang lebih buruk dari ini. Tatapan gusarku kini menjelajahi setiap sudut jalanan yang ku lalui, tapi nihil aku tidak menemukan barang kesayanganku itu dimana-pun.

Seingatku, bukankah tadi aku masih memakai kamera itu untuk memotret Minho lalu memasukkan ke sebuah-

“ Tas itu! Aku tahu sekarang, pasti kamera itu tertinggal di halaman belakang sekolah!” Aku akhirnya mengingatnya, tapi bagaimana jika ada siswa yang menemukan tas itu dan melihat isi kameraku? Kya!!! Itu pasti akan sangat memalukan, seseorang tolong bunuh aku sekarang.

“ Lalu apa kau berniat pergi ke sekolah di malam hari seperti ini?” Tanya Myungsoo yang lagsung kubalas dengan anggukan penuh semangat, aku harus segera mendapatkan kembali kamera itu sekarang juga.

“ Park Jiyeon bukan?” Aku menoleh dengan wajah pucat saat sebuah tangan menepuk punggungku pelan, aku menoleh kearah belakangku dan menemukan seseorang yang begitu kukenal sedang menyodorkan sebuah tas kecil kearahku. Ya, dan tas kecil itu adalah milikku, dan si penyodor didepanku tidak lain adalan Minho.

Yap, Choi Minho yang itu! Minho kini berdiri didepanku, ia menatapku dan ya tuhan…Apa ia baru saja tersenyum? “ Be-benar..” Jawabku gugup, kurasakan Myungsoo menyenggol bahuku lumayan keras, tapi tubuhku seolah mati rasa dan kini aku merasa kedua kakiku tak ada bedanya dengan potongan jelly.

“ Ini milikmu?”

Dag…Dig…Dug..Deg..

“ Aku menemukannya di halaman belakang sekolah, aku melihat tertulis nama ‘Park Jiyeon’ di dalam tas ini, kebetulan sekali kita bisa bertemu disini. Oh ya, aku tebak kau pasti sangat menyukai fotografi karna melihat isi kameramu yang berisi foto-foto menakjubkan, sekarang aku mengembalikan kamera milikmu Jiyeon, sayang sekali padahal aku kira pasti sangat menyenangkan melihat-lihat isi kameramu.”

Untuk beberapa saat aku hanya bisa terdiam, bahkan saat Minho menyodorkan tas kecil milikku aku masih tidak sanggup membuka mulutku, lidah-ku terasa kelu sebelum akhirnya aku menyadari jika kemera itu telah berpindah ketangan Myungsoo.

“ Gomawo…” Tidak! Bukan aku yang mengucapkan kalimat barusan! Itu adalah Myungsoo, dan kini ia dan Minho beradu tatapan tajam yang sungguh membuatu merasa tak nyaman. Aku merasa tiba-tiba semuanya menjadi terasa dingin dan…Bumi, tolong telan aku sekarang!

-TBC-

Yess!! akhirnya selesai juga*pelukan sama guling ala teletabis/?

maaf ya kalau masih ada banyak typo T^T

sekarang siap-siap mau sekolah dulu ah, besok kan harus mulai sekolah lagi. belajar dan belajar…ah kok malah ini jadi curcol ya -_-

okay, thanx for reading, see u in next part*chu ^-^

©renhikai

33 responses to “(CHAPTER 2) All Of Sudden

  1. Wks, jiyeon ngalamin hal trparah sbagai secret admirer, psti minho udh ngliat foto foto itu, waaa aku juga pen kyk gitu. Tpi nnti jiyeon jdnya sm siapa ya? Myungsoo atau minho? Kyknya myungsoo deh secara dia kan pmran utama disini.gpapa lah myungsoo kan gaje.heheh next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s