[CHAPTER – PART 3] THE SNIPER

the-sniper2

® Writer Farah Vida Karina

Poster by ImJustAGILRS @ Poster Channel

Tittle: THE SNIPER – Part 1 | Author: farvidkar | Genre: Action, Politic, Thriller, Romance | Cast: L Kim / Kim Myung Soo, Park Jiyeon | Other cast: Bae Suzy, Yoo Seung Ho, Kim Soo Hyun, Kris Wu | Rating: PG-17

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Dilarang mengcopy-paste / memplagiat karya orang. Fanfiction ini telah dipublish pada blog pribadiku.

Apakah terlalu menyakitkan untuk melakukan hal itu?

Aku bahkan bisa menahan rasa sakit yang tak kutunjukkan padamu

Aku tak menyangka kau melakukan hal itu padaku

Mungkinkan selama ini yang dikatakannya memang benar?

Setelah peluru ketiga yang kuarahkan kepadamu telah bersarang dengan sempurna, aku akan mengubur jasadmu dengan pemakaman yang kau inginkan

Previous [Teaser] [Part 1] [Part 2]

The last part

“Apa kau tahu alasanku melakukan hal itu Jiyeon-ah? Apa kau tahu alasanku menyelamatkan Bae Suzy? Apa kau tahu alasanku tidak bisa membunuh gadis itu?”

“Eomma.. ya karena eommamu.. karena Bae Suzy mirip, ani.. bahkan sangat mirip dengan eommamu Kim Myungsoo” suara Jiyeon tercekat.

“Jadi, apakah kau akan mengijinkanku untuk berada di samping siluet ibuku hingga aku berhasil melenyapkan siluet itu dengan caraku sendiri?”

Bagaimanapun juga gadis itu sangat percaya pada Kim Myungsoo, walaupun hatinya harus tersiksa. Jiyeon menimbang-nimbang, apakah pilihannya sudah tepat? Jiyeon tidak suka melihat Myungsoo dekat dengan gadis lain. Egois memang, setiap wanita yang jatuh cinta akan mengakui kecemburuan yang mereka rasakan pasti ada. Namun reaksi seperti apa yang akan mereka ungkapkan tentu berbeda-beda.

“Apakah aku harus meneriaki wajahmu dengan ribuan caci maki?” kata Park Jiyeon dalam hati.

“Tentu saja aku tidak akan mengijinkan hal itu. Melihatmu berada di samping gadis lain saja sudah membuat nafasku tercekat. Apa kau ingin membunuhku secara perlahan-lahan?” lanjut gadis itu masih diam menatap manik mata Myungsoo. Seolah-olah memberitahu apa isi hatinya. Hanya denting jarum jam yang terdengar. Mereka hanya saling menaruh kegelisahan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Jika aku membiarkan kau merengkuh siluet ibumu itu.. apakah kau akan kembali padaku suatu saat nanti?” suara pelan Jiyeon berhasil tertangkap oleh indra pendengaran Myungsoo. Pria bermarga Kim itu mengang kedua sudut bibirnya.

“Bukankah kau adalah rumahku Park Jiyeon?”

Setiap anak yang hilang tentu akan mencari apa saja untuk kembali ke rumahnya. Dimana ia merasa rumah adalah tempat teraman di dunia yang kejam ini. Tempat yang selalu menyediakan kehangatan untuk berlindung. Tempat dimana kalian akan menghabiskan waktu untuk beristirahat dengan damai.

At Grill5 Restorant, South Korea

Beberapa orang yang berada di restorant ini menaruh perhatian pada suatu objek langka. Bae Suzy dan Kim Soohyun melakukan pertemuan di tempat umum untuk membahas masalah pekerjaan mereka. Dengan secangkir coffee panas menemani perbincangan hangat mereka.

“Bagaimana pendapatmu Suzy-ssi tentang peralihan anggaran jembatan gyeongpyo oleh pemerintahan sekarang?” tanya Soohyun sembari menyesap segelas coffeenya. Sementara gadis yang berada dihadapannya hanya memfokuskan pandangannya pada layar Ipad yang tidak menyala.

“Menurutku akan lebih baik jika tetap difokuskan untuk perbaikan jembatan, lagipula jika anggaran itu dialihkan untuk pembelian kapal perang kurasa kurang efisien untuk saat ini. Negara kita sudah cukup kuat dibidang pertahanan, sedangkan menurut informasi yang kudapat jembatan gyeongpyo sudah cukup tua dan harus segera memerlukan renovasi kembali” jelas Suzy panjang lebar tetap dengan mata yang terfokuskan ke layar Ipadnya. Sedari tadi Soohyun risih dengan sikap Suzy yang seolah-olah tidak ingin bertatapan dengannya.

“Hhmm Suzy-ssi, apa ada yang..” belum sempat Soohyun meneruskan kalimatnya, Suzy tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

“Soohyun-sii kita harus segera pergi dari tempat ini, kutunggu di parkiran” ucap gadis itu singkat kemudian langsung melesat pergi meninggalkan Soohyun yang masih mencerna apa yang terjadi sebenarnya.

At Seoul Hospital, South Korea

“Hyung apa kau menganggap dirimu itu sebagai superman? Kau masih perlu istirahat” ucap Seung Ho memperingatkan Myungsoo yang kini sedang mengemas barang-barangnya.

“Myung-ah kau sendiri mendengar kata dokter kalau tulang belakangmu retak. Kumohon satu minggu saja kau bertahan di rumah sakit, jebbal” kali ini Jiyeon angkat bicara. Gadis itu berusaha membujuk kekasihnya untuk tetap tinggal dan beristirahat di rumah sakit.

“Aku sudah baikan, kalian berdua tidak perlu khawatir” kata Myungsoo sambil terus melanjutkan aktivitasnya dan berpura-pura tak akan terjadi sesuatu. Jiyeon menatap gemas kekasihnya yang tidak pandai berakting itu. Tanpa aba-aba Jiyeon menendang punggung Myungsoo yang terbalut perban. Sontak saja teriakan keras pria tampan itu terdengar keras seolah-olah sudah ditahannya sedari tadi.

“Yak!! Apa kau waras Park Jiyeon?! Bagaimana kalau tulangku patah?! Bagaimana kalau aku cacat?! Aku tidak akan bisa menjagamu lagi! Apa kau ingin kembali ke Pyongyang tanpa diriku?” bentak Myungsoo tak tertahankan membuat gadis di hadapannya itu terdiam, bahkan mata panda gadis itu mulai berkaca-kaca. Pria itu membentak gadisnya bukan karena ulah jahil Jiyeon, namun selama ini Myungsoo selalu menjaga tubuhnya agar tetap sehat bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk gadisnya itu. Untuk melindungi kekasihnya. Pria bermarga Kim itu ingin sesegera mungkin menyelesaikan misi ini kemudian kembali ke Pyongyang hidup-hidup bersama Jiyeon.

“Jangan menangis Park Jiyeon. Akhir-akhir ini kau terlalu sering mengeluarkan airmatamu” bujuk Myungsoo. Tangisan gadis itu pecah, Myungsoopun mengelus puncak kepala kekasinya itu.

“Selama ini aku selalu berpikir kalau aku akan kembali ke Pyongyang seorang diri. Aku takut kau akan jatuh cinta pada gadis yang mirip dengan ibumu itu. Aku takut kau akan mencampakkanku Kim Myungsoo” ungkap Jiyeon melalui pengakuan gamblangnya itu.

“Hahahahahaha!! Hahahah!! Hahahahahaha!!!” tawa Myungsoo pecah. Tak henti-hentinya dia tertawa puas sehingga membuat Jiyeon mengerutkan alisnya.

“Ouh.. kenapa kau tertawa?! Aku sungguh-sungguh mengatakan hal itu!”

“Apakah aku perlu memberikan jaminan padamu, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo sembari mendekatkan wajahnya pada Jiyeon hingga permukaan hidung mereka bersentuhan.

“hhmm.. jaminan? Eee… Untukku?” Jiyeon salah tingkah. Detak jantungnya tidak karuan. Gadis itu mundur secara perlahan. Berusaha menjauh dari Myungsoo yang berubah sedikit liar, mungkin. Myungsoo hanya diam melihat tingkah Jiyeon.

“Bahkan sekarang kau yang berusaha menjauh dariku” benar kata Myungsoo. Kini Jiyeon berhenti di tempatnya dengan kaku.

“A.. aniyo! Bukan maksudku untuk men.. hmmp” belum sempat Jiyeon melanjutkan penjelasannya, Myungsoo dengan spontan menarik gadis itu kembali mendekat kemudian menempelkan permukaan bibirnya ke atas permukaan bibir gadis itu. Membiarkan nafas mereka beradu. Bibir Myungsoo bergerak haus dan sedikit liar. Jiyeon memejamkan matanya begitu juga Myungsoo. Cukup lama mereka melakukan adegan itu hingga suara elahan nafas panjang diperdengarkan dengan sengaja.

“Kalian berdua sungguh kelewatan! Yakk! Melakukan aksi cium mecium di depan mataku? Sungguh erotis!” Seung Ho mengocek tidak jelas dengan wajah merah padamnya itu. Pria tampan itu terlihat lucu saat mengomeli kedua teman dekatnya itu. Dari dulu mereka memang sangat akrab dan pria bermarga Yoo itulah yang berhasil meluluhkan tingkah dingin sepasang kekasih yang cukup misterius dikalangan agen rahasia di Pyongyang.

“Bukankah kau sudah terbiasa melihat kami berciuman? Kenapa baru sekarang kau protes?” ucap Jiyeon cuek.

“Hei aku sudah lama tidak bertemu dengan kalian! Bahkan sudah lama aku terisolasi di Seoul yang kejam ini. Untuk mendekati seorang wanitapun tidak bisa..”

“Ahh.. jadi kau menduda di negeri orang” kata Myungsoo dengan intonasi yang datar. Entahlah bisa dianggap sebagai pernyataan atau lelucon yang jelas berhasil membuat hati Seung Ho tertohok.

At Royal Corporation, South Korea

Rapat para pemegang saham berjalan cukup singkat setelah makan siang. Beberapa orang sudah angkat kaki dari ruangan itu. Kini tersisa Daniel Bae bersama Kris Wu dan sekertarisnya. Terlihat ada beberapa dokumen yang sedang dibahas oleh mereka.

“Apa benar mereka akan menyetujui kontrak kerjasama kita?” tanya Daniel Bae mencoba meyakinkan pendengarannya.

“Ya presdir. Manajer Fortt Corporation yang mengatakannya. Anak dari presdir mereka yang akan mewakili pertemuan minggu depan. Dan satu lagi informasi yang saya dapatkan, anak dari presdir Fortt Corporation sudah tiba di Seoul beberapa hari lalu dan saya telah menjadwalkan acara makan malam anda bersamanya besok malam” jelas Kris Wu. Daniel Bae mengangguk kemudian membaca kembali beberapa kertas yang ada di atas meja.

“Siapa nama anak presdir Frott Corporation?” tanya Daniel Bae. Kini fokusnya beralih ke luar kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul yang sangat luas.

“L Kim. Dialah pewaris Fortt Corporation”

Department of Defense, North Korea

Seorang pria paru baya yang sangat di segani itu sedang menunggu seseorang untuk menghadap ke ruangannya. Sejenak ia menatap sebuah bingkai foto berwarna coklat. Foto lama dimana anak-anaknya masih menginjak bangku sekolah dasar. Presiden Park memfokuskan pandangannya pada Jiyeon kecil yang sedang memeluk Myungsoo kecil dari samping di foto itu.

“Bahkan sejak kecil kau lebih menyayangi Kim Myungsoo dibandingkan ayahmu ini” gumam presiden Park sambil tertawa mengingat masa lalu. Kemudian tangan presiden Park bergerak menggapai bingkai foto itu dan membersihkannya dari debu-debu yang sedikit menempel. Tak lama agen Jo Chang Wook masuk ke ruang setelah mendapat izin tentunya. Pria tinggi semampai itu melaporkan beberapa catatan yang cukup dirahasiakan dari public kemudian dia menyalakan layar intercom. Terlihat seorang pria berpakaian rapi seperti orang kantoran menyapa presiden Park dengan sopan.

“Selamat Siang Presiden Park. Saya akan melaporkan informasi terbaru”

“Silahkan” ucap presiden Park.

“Sesuai dengan perubahan rencana, kami akan langsung mendekati Bae Dongwook melalui kontrak kerjasama dengan perusahaannya. Dengan bantuan moneter dari Rusia kami membeli Fortt Corporation dan mengubah peralihan nama kepemilikannya menjadi 17 tahun yang lalu secara diam-diam. Dan..” belum selesai penjelasan dari seseorang di seberang, presiden Park langsung memotong penjelasannya.

“Fortt Corporation?”

“Ya presiden. Fortt Corporation adalah perusahaan berlokasi di Australia yang sangat terkenal. Bergerak dibidang alat berat. Mereka memproduksi alat-alat berat untuk segala bidang. Bae Dongwook tentu memerlukan alat-alat berat untuk tambangnya. Dan beruntung pemilik Fortt Corporation yang asli tidak pernah turun langsung ke perusahaan dan hanya memberi kendali penuh pada orang kepercayaannya sehingga tidak ada yang mengenalinya selain Jonathan Mcclown yang merupakan tangan kanannya itu” jelas pria bermata sipit yang ada di layar intercom.

“Dan bagaimana rencana selanjutnya?”

“Saya telah mengganti hak kepemilikan menjadi milik Myungsoo yang berganti nama menjadi L Kim yang menyamar sebagai penerus perusahaan. Dia akan langsung mendekati Bae Dongwook dan sesegera mungkin menyelesaikan ini. Besok malam Myungsoo akan makan malam bersama Bae Dongwook dan selanjutnya akan saya kabari lagi setelah sampai di Seoul” presiden Park menghela nafas panjang setelah layar intercom terputus. Menimbang-nimbang apakah rencana ini akan berjalan lancar atau tidak.

“Saya telah mengirim senapan Trail 077 kemampuan melepaskan tembakan dari jarak jauh dan kedap suara. Anak anda yang akan menggunakannya” ucap Changwook menambahkan informasi.

“Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi Changwook-ssi”

At Daemun Park, South Korea

Sedan merah milik Suzy terparkir rapi di samping taman yang cukup sepi. Tak ramai seperti biasanya, mengingat saat ini hujan turun dengan derasnya. Hanya ada beberapa pasangan kekasih yang berlindung di balik payung sambil berpegangan tangan. Bahkan ada sepasang kekasih yang sedang berciuman di dalam box telefon umum, Suzy dan Soohyun menangkap kejadian itu. Keadaan di dalam mobil cukup canggung, tak ada yang berniat untuk angkat bicara. Mereka berdua hanya meyibukkan dirinya pada hal yang tidak penting. Hingga Soohyun yang mengaku sebagai pria gentle mengangkat suaranya.

“Hhmm jadi apa yang terjadi sebenarnya? Sepertinya ada yang tidak beres saat di grill5”

“Seseorang membuntutiku. Bukan orang jahat, dia anak buah ayahku” jelas gadis itu. Soohyun mengangguk paham.

“Ayahmu pasti bukan orang sembarangan, aku jadi sedikit takut berkeliaran di sampingmu hahaha” kata Soohyun bergurau. Suzy hanya tersenyum di samping pria itu.

“Ya, ayahku bukanlah orang sembarangan” gumam Suzy tak terdengar.

At COEX Apartment, South Korea

Jam menunjukkan pukul 21.00. Malam ini terasa sunyi bagi Jiyeon. Gadis itu terpaksa berkutat di hadapan layar televise seorang diri karena ditinggal pergi oleh Myungsoo dan Seung Ho. Tidak ada siarang yang menarik bagi Jiyeon, bukan karena tidak bermutu dan tak layak ditonton namun pasalnya gadis itu memang tidak memiliki ketertarikan sama sekali terhadap negeri ginseng itu.

“Hah! bedak tebal, suara pas-pasan, pakaian kekurangan bahan, bahkan badan mereka seperti robot!! Cih bahkan aegyo gadis-gadis tengik itu membuat perutku mual!!” di ruangan yang luas ini terus terdengar aksi perotes Jiyeon yang sedang berdiri tegak di depan layar televise.

“Aish apa-apaan gaya mereka!! Omoo! Omo! Omo! Kalau kalian semua tampil di Pyongyang, bersiap-siaplah dihukum mati!” Jiyeon terus mengoceh histeris ditambah lagi dengan menonton performance Girls Day yang tampil di Music Bank dengan lagu Something yang fenomenal itu. Jiyeon yang muak langsung mengganti channel hingga menampilkan variety show Running Man dengan guest yang dihadiri oleh member Super Junior.

“Ho! Ho! Jadi ini yang namanya Super Junior. Apa yang membuat agen Minyoung tergila-gila? Dan mereka sama sekali tidak tampan. Ckckck…”

“Kyuhyun-ssi bolehkah kami mendengarmu menyanyikan At Gwanghwamun?” Terlihat wajah Kyuhyun Super Junior yang di close up. Jiyeon memfokuskan pandangannya.

“Tentu saja. Ekhem..”

Oneul babocheoreom

Geu jarie seo inneun geoya

Biga naerimyeon heumppeok jeojeumnyeo

Oji anneun neoreul gidaryeo

Naneun haengbokhasseo

Geu son japgo geotdeon gieoge

Tto dwidora bwa nega seo isseulkka bwa

“Ups.. kecuali dia.. siapa namanya tadi? Cho Kyuhyun? Lumayanlah…” Jiyeon kini duduk manis di depan televisi menonton Running Man. Beberapa kali gadis itu berteriak histeris saat wajah maknae Super Junior muncul di layar.

At Incheon Airport, South Korea

Kedua orang pria berkebangsaan Korea Utara berdiri di depan gate 7 pintu kedatangan. Sudah 30 menit mereka menunggu namun orang yang ditunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

“Seung Ho-ya, kau yakin Jungsoo sunbae naik penerbangan yang ini?” tanya Myungsoo untuk kesekian kalinya.

“Hyung aku bosan dengan pertanyaanmu yang tidak variatif itu” adumulut terus terjadi di antara kedua pria tampan itu hingga terdengar suara seseorang memanggil mereka dari belakang.

“L Kim-ssi, Seungho-ssi apa yang kalian lakukan disitu? Aku sudah menunggu kalian dari dua jam yang lalu” orang itu adalah Park Jungsoo. Lantas saja Myungsoo menatap Seungho dengan tatapan yang seolah-olah akan menelan pria itu hidup-hidup.

At COEX Apartment, South Korea

Jarum pendek menunjukkan pukul 7.00. Bunyi berisik terdengar dari dalam dapur. Mulai dari bunyi permukaan wajan yang bersentuhan dengan spatula, pecahan piring, hingga umpatan histeris seorang gadis.

“Aish! Kenapa telur ini sangat keras! Jangan-jangan mereka mencampur bahan pengawet? Produk selatan memang payah!” eluh Jiyeon sembari mengetuk telur ayam di atas meja.

“Hei Park Jiyeon, kau mau membuat telur dadar dengan telur rebus? Pabo..” suara seorang pria terdengar dari belakang.

“Ini telur rebus?” tanya Jiyeon mencoba memastikan apa yang dipegangnya, Seungho mengangguk dengan pasti.

“Oh, tapi aku mengambilnya dari rak yang ben..” belum sempat Jiyeon menyelesaikan kalimatnya, Seungho dengan cepat merebut telur itu dari Jiyeon.

“Kau tidak percaya? Lihat, akan kupecahkan di dahiku yang indah ini. Kumohon jangan terpesona padaku” reflex Jiyeon langsung tertawa terbahak-bahak melihat apa yang terjadi pada Seungho. Kini di wajah pria itu dipenuhi dengan cairan kuning.

“Pagi-pagi kalian sudah membuat keributan, dan Seungho-ssi ada apa dengan wajahmu?” Jungsoo bergabung di dapur sambil memegang segelas air mineral. Jiyeon hanya terkekeh tak bisa menjelaskan apa-apa.

“Aish ini memalukan” Seungho langsung berlarian ke dalam kamar mandi. Jiyeon dan Jungsoo hanya tertawa melihat tingkah salah satu rekannya itu.

“Jiyeon-ssi apa kabar? Ah, mungkin kau tidak mengingatku. Maklum saja aku selalu ditugaskan di luar negeri” Jungsoo mengulurkan tangannya, mereka berjabat tangan.

“Kau pasti Park Jungsoo sunbaenim. Maaf baru bisa menyapamu pagi ini, karena tadi malam saat kau tiba di apartment aku ketiduran” kata Jiyeon meminta maaf. Memang, sudah larut malam saat Jungsoo tiba di apartment, karena pria-pria itu masih harus pergi ke beberapa tempat.

“Gwenchana Jiyeon-ssi. Dan sampai saat ini kalian berdua masih tetap bersama. Mungkin keinginanmu untuk menjadi suami istri bersama Myungsoo akan terwujud suatu saat nanti” Jungsoo menepuk pundak gadis itu beberapa kali kemudian meninggalkan Jiyeon sendirian di dapur.

“Suami istri?” gumam Jiyeon. Kini gadis itu tersenyum dengan khayalan-khayalan yang berkeliaran dikepalanya.

Keempat orang berkebangsaan korea utara itu sedang mendiskusikan rencana mereka untuk nanti malam . Ruanganan apartment disetting kedap suara, sehingga mereka bisa leluasa berbicara.

“Myungsoo-ssi usahakan kau bisa berhasil mengambil hati anak Bae Dongwook itu” kata Jungsoo penuh harap.

“Hhmm” jawab Myungsoo singkat. Pria itu hanya memfokuskan pandangannya pada Heckler & Koch USP, pistol yang selalu menemaninya itu. Pikiran Myungsoo melayang-layang, dia akan segera memulai misinya. Menghadapi bayang-bayang masa lalu dan berusaha melenyapkannya, hal itu adalah takdir dan kutukan baginya. Jiyeon berhasil mengkap apa yang dipikirkan Myungsoo. Dari sudut mata gadis itu, dia mengetahui bahwa kegelisahan Myungsoo saat ini adalah ‘bertemu dengan siluet ibunya’.

“Apa yang kita lakukan saat ini bukanlah kriminalitas. Kita berusaha menegakkan keadilan. Jadi, kita semua harus berjanji akan kembali bersama-sama dengan menyeret penjahat itu ke tanah kelahirannya. Kita diberi wewenang untuk membawa mereka kembali, baik hidup atau mati” kata-kata yang dikeluarkan Jungsoo menambah semangat junior-juniornya.

“Park Jiyeon, kau mengerti apa yang harus kau lakukan?” tanya Jungsoo dan dijawab dengan anggukan mantap oleh Jiyeon.

At Dorasan Station, South Korea

Terjadi percakapan antara dua orang. Seseorang yang mengenakan topi menyerahkan sesuatu berupa bungkusan yang cukup besar. Jiyeon menerima bungkusan itu dengan hati-hati. Setelah itu mereka berpisah dengan arah yang berlawanan. Jiyeon bergegas menuju parkiran mobil, karena sudah ada seseorang yang menunggu gadis itu.

“Lama sekali..” ucap Myungsoo saat gadis itu sudah duduk di sampingnya.

“Hehehe.. mian. Oh iya, harus kuletakkan dimana benda ini?” Myungsoo melihat bungkusan yang cukup memakan tempat itu.

“Letakkan di bagasi saja. Tidak akan ada yang curiga kalau itu adalah senjata” Jiyeon mengangguk tanda mengerti.

On the road, South Korea

“Myung-ah, jangan sampai kau jatuh cinta pada Bae Suzy itu!” kata Jiyeon mengingatkan.

“Ne, captain!”

“Kalau kau jatuh cinta pada gadis itu, siap-siap saja akan kubunuh kau!” kata Jiyeon sekali lagi.

“Ne, captain!” jawab Myungsoo bersemanggat. Dia terus-terusan tersenyum.

“Haaah! Selain gadis itu, kau juga tidak boleh tertarik pada gadis-gadis yang berkeliaran di layar TV!” kata Jiyeon ketiga kalinya mengingatkan kekasihnya yang sedang mengemudi.

“Ne, captain!” Myungsoo berusaha menahan tawanya. Ia sangat tahu pasti apa yang dimaksud Jiyeon. Gadis-gadis seksi dengan kulit putih yang biasanya bernyanyi di acara-acara music. Myungsoo pernah melihat Jiyeon mengomeli Seungho habis-habisan karena menonton acara itu. Bahkan Jiyeon langsung membakar koleksi album-album girlgroup milik Seungho.

“Ahh, turunkan aku disitu! Ada yang ingin kubeli” Jiyeon turun didepan pusat perbelanjaan di pusat kota Seoul.

“Apa aku boleh ik..” belum kelar Myungsoo bertanya, Jiyeon langsung menggeleng mantap.

“Kau. Tidak. Boleh. Ikut” Myungsoo hanya bisa menghela nafas.

“Aku akan langsung pulang ke apartment. Kau bersiap-siap saja untuk nanti malam. Annyeong chagiya!”

At Atrium Mall, South Korea

Jiyeon berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam kebutuhan manusia. Mata gadis itu terkesima saat melihat jejeran ponsel berlayar lebar.

“Omo! Bukankah itu ponsel canggih yang digunakan Seungho! Dan omonaaa ternyata artis itu menggunakan ponsel canggih juga..” gumam Jiyeon. Lantas saja gadis itu langsung menghampiri seorang pegawai.

“Aku ingin ponsel yang dipegang pria itu! Hhmm sapa yah namanya.. ah, Cho Kyu Hyun!” kata Jiyeon sembari menunjuk iklan smartphone yang menampilkan salah satu member Super Junior.

“Baiklah nona” jawab pegawai itu ramah.

“Cheogiyo, apa kau tahu tempat yang menjual album pria tampan itu?” tanya Jiyeon sambil melirikkan matanya ke layar televisi.

Jiyeon terus saja menggumamkan nama toko yang menjual album-album kpop. Hingga mata gadis itu tertarik dengan tayangan headline news. Ia berhenti dan melangkah mendekat, memperhatikan seseorang yang sedang berbicara di layar tv.

“ternyata gadis itu cukup terkenal. Mungkin nanti malam wajahnya akan semakin sering terlihat di tv”

At COEX Apartment, South Korea

Semua orang bersiap-siap dengan bawaan masing-masing. Seungho terlihat sibuk mengecek beberapa kabel dan alat-alat yang entah apa namanya itu. Jungsoo kini sibuk menerima telefon dari orang-orang bawahan Bae Dongwook mengurus pertemuan malam ini. Myungsoo malam ini terlihat sangat tampan dengan jas hitam yang dikenakannya.

“Jangan lupakan benda ini, mungkin saja kau akan membutuhkannya” Jiyeon menyelipkan pistol milik Myungsoo ke dalam jas pria itu.

“Dan kekasihku yang cantik, jangan sampai salah menembak orang arraseo?” Myungsoo mengecup puncak kepala Jiyeon tanpa menyadari perubahan atmosfer di sekitar mereka.

“Ekhem.. Kita berangkat sekarang” Jungsoo segera bangkit dari tempat duduknya.

On the road, South Korea

Tidak ada yang mengakat suara. Di mobil sedan hitam ini hanya ada Jiyeon dan Myungsoo yang menuju restaurant prancis di daerah gangnam. Jiyeon hanya menatap jalanan seoul yang penuh cahaya. Sesekali mata gadis itu melirik kekasihnya.

“Sepertinya malam ini aku terlalu tampan, sampai-sampai pacarku tidak bisa berkata-kata” ucap Myungsoo memecah keheningan. Reflesk mata jiyeon langsung melotot.

“Percaya diri sekali kau. Menurutku mala mini kau tidak tampan sama sekali” jelas sekali gadis itu tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Terlihat jelas dari bibir gadis itu yang mencoba menahan senyum.

“Benarkah? Ah, mengecewakan. Kalau begitu malam ini aku akan selingkuh, sepertinya gadis-gadis korea selatan akan tertarik dengan ketampananku”

“MWO?! Yak!! Sekali lagi kau bicara seperti itu, siap-siap akan ku hab.. hmmp” tak ada lagi ocehan yang dikeluarkan oleh Jiyeon. Myungsoo membekap mulut Jiyeon dengan sebuah kecupan. Dia membiarkan bibir mereka bersentuhan dalam beberapa detik. Kemudian myungsoo memendurkan wajahnya, menjauhkan bibirnya dari gadis itu hingga kedua ujung hidung mereka bersentuhan.

“Kita sudah sampai” kata Myungsoo. Jiyeon menatap daerah sekitarnya. Kemudian kembali menatap Myungsoo dengan wajah cemberut.

“Baiklah, sampai jumpa Myung-ah” Jiyeon melambaikan tangannya kemudian berjalan menjauh dari mobil Myungsoo. Gadis itu membawa sebuah tas jinjing persegi panjang. Jiyeon berjalan ke belakang gedung kosong yang cukup tinggi. Gedung tua ini berada di bersebrangan dengan restaurant yang akan dikunjungi Myungsoo. Gadis itu menghentikan langkahnya, mengambil sebuah tali yang tergantung dari atas kemudian mengaitkan tali itu ke tubuhnya dan tas jinjing yang berisikan senapan trail 077.

At re’Presso Restaurant, South Korea

Pria muda itu berjalan memasuki bangunan elok bernuansa Prancis. Puluhan pasang mata menaruh minat pada pria itu. Myungsoo, untuk malam ini akan berganti nama menjadi L Kim. Jungsoo berjalan di depan Myungsoo.

“Sunbae” panggil Myungsoo setengah berbisik.

“Ada apa?” mereka menaiki elevator menuju lantai teratas, dimana tempat itu sudah disewakan untuk mereka.

“Mian, untuk beberapa hari yang akan datang kau harus berakting sebagai bawahanku”

“Kuharap kau tidak menyuruhku melakukan hal-hal yang tak masuk akal” kemudian mereka berdua tertawa. Setelah itu pintu elevator terbuka, ada beberapa pelayan yang menghampiri mereka untuk menunjukkan arah. Dari kejauhan terlihat seorang pria paru baya dan istrinya duduk di sudut ruangan.

“Aku akan menunggu di sebelah sana bersama sekertaris Bae Dongwook, semoga berjalan lancar Myungsoo-ssi” bisik Jungsoo. Myungsoo mengangguk tanda mengerti, lantas ia terus berjalan menuju meja yang telah disiapkan. Tiba-tiba raut wajah Myungsoo berubah. Ada yang ganjil, anak Bae Dongwook tidak ada. Namun sesegera mungkin dia memperbaiki ekspresinya saat tiba di hadapan sepasang suami istri yang menyambutnya dengan hangat itu.

“Annyeonghaseo, L Kim imnida” sapa Myungsoo sambil membungkukkan badannya layaknya sebuah formalitas.

“Terima kasih karena kau bersedia memenuhi undangan makan malamku L-ssi” ucap Bae Dongwook. Myungsoo hanya membalas dengan senyuman tersenyum.

“L-sii apa kau sudah lama tak datang ke Seoul? Logatmu sedikit berbeda” kali ini nyonya Bae angkat bicara. Tentu saja, mengingat Myungsoo adalah warga dari Negara tetangga. Myungsoo sendiri sudah belajar mati-matian untuk menyesuaikan logat dari Negara selatan ini.

“Hahaha.. ya aku terbiasa menggunakan bahasa inggris selama di Sydney” jawab Myungsoo berbohong. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Seorang gadis berambut panjang dengan dress selutut berjalan mendekat ke arah mereka. Pandangan Myungsoo tertuju pada gadis itu, lebih tepatnya pada bayangan ibunya pada diri Suzy. Di mata Myungsoo ibunya kini berjalan semakin mendekat ke arahnya. Langkah demi langkah, semakin dekat hingga sosok ibunya berada tepat dihadapan

“Maaf aku terlambat” suara gadis itu mebuyarkan khayalan Myungsoo.

“Suzy-ah ucapkan salammu pada L Kim-ssi” Suzy lantas menatap seorang pria yang duduk bersama orangtuanya.

“Oh, bukan kah kau orang yang ku..” Suzy tak dapat melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba saja lampu padam diikuti suara gelas yang terjatuh. Suasana dikegelapan itu terasa sangat ganjil saat seseorang kesulitan menarik nafas panjang dan dihembuskan untuk terakhir kalinya. Tak ada yang mengetahui siapa orang itu.

To be continue

PS: Akhirnya kelar juga part 3 -_- tumbenkan aku cepet publish next partnya ha ha ha. Oh iya sekali-kali ninggalin jejak berupa comment atau like gitu supaya menambah semangat buat nulis yoow. SALAM CINTA @farvidkar

44 responses to “[CHAPTER – PART 3] THE SNIPER

  1. Jiyeon klo udh sama myungsoo ilang dah kesan gahar nya
    Yg ada tuh jiyeon yg selalu bikin gemessa unyu2 gt wkwkwkw
    Myungyeon nya sweetttttt

    Ehhh tapi.. diakhir bikin penasaran juga tuh
    Siapa yg meninggal??
    Di lanjut ya
    Pleaseeeee

  2. Hehe jiyeon lucu deh, ngerasa kyk jiyeon ngehina dirinya sndiri. Hehe jiyeon jga ngefans sm kyuhyun, emang ya yg nmnya gnteng emng bnyak yg ngefans. Itu siapa yg ktmbak? Suzy atau? Bisa jdi jiyeon slah tmbak atau juga myungsoo yg nyelamatin suzy. Secara myungsoo sring ngehayal klo suzy itu ibunya. Nggk kebayang deh. Next^^

  3. hahaha kasian seonghyo yg menonton secara live ciuman myungyeon…wih tbcnya pas banget.pas banget buat penasarn kitaaa…suka banget cara penulisannya vidkar.keren dan mudah dicerna..smoga imajinasimu lancar.dan cepat publish..

  4. Sumpah ya thor awas aja klo sampe myung suka ama susi , huuuh ga reelllaaa
    Ihh myungyeon ini mesra banged wkwk ampe seungho berasa jd pajangan (?) :v wkwk
    Haha next kaya gini lg yaa cepet upadatenya muaach :* , lg ngebayangin myungsoo pake jas hitam rapi elegant huaa ganteng pasti ^^ wakakak
    Siapa yg ketembak??? Next next hihi
    Fighting thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s