[Chapter – 2] SUNFLOWER

Sunflower

Sunflower

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, etc.

© Flawless

 

*

He hate me

But I love him..

 

Sudah tak terhitung lagi berapa lembar tisu yang berhamburan di lantai apartment gadis itu. Ia sudah menghabiskan waktu untuk menumpahkan air matanya semenjak pulang sekolah, dan samapi sekarang pun bukannya berhenti tangisnya malah semakin menjadi-jadi. Mengingat penolakan itu membuat ia kesulitan bernafas. Terlebih kata gadis sepertimu itu membuat harga dirinya serasa tercoreng. Ia hanya gadis biasa, sama seperti yang lainnya. Namun, dimata pria itu gadis seperti apa dirinya sebenarnya? Apakah ia menjadi sangat rendah dimata pria itu? Berpikir tentang hal itu sukses membuat air matanya kembali berderai. Ia mengambil selembar tisu, membasuh air matanya, sekaligus lender-lendir yang ingin keluar dari hidungnya. Diliriknya ponselnya yang bernyanyi dan membuat kepalanya ingin pecah.

“Siapa lagi pengganggu ini?!”

Bae Suzy. Nama itu lah yang tercetak dengan sangat rapi di layar ponselnya. Tidak sekarang. Ia butuh ketenangan, bukan rentetan kalimat ceramahan dari Suzy. Dengan kasar ia lempar ponselnya ke lantai sampai nyanyian menyebalkan yang dulu ia sukai tidak lagi terdengar.

Ia memandangi foto pria itu dengan pandangan nanar. Satu tahun waktunya sudah ia gunakan untuk menyukainya, namun sekarang bahkan peluang sedikit pun sepertinya sudah tidak ada. Ia meringkuk di ranjangnya sembari memeluk bingkai foto yang berisikan foto pria itu. Ia masih menangis, sampai kelelahan dan akhirnya memilih untuk memejamkan matanya agar ia tidak lebih mengenaskan dari sekarang.

 

*

 

Cuaca pagi hari ini benar-benar tidak bersahabat. Lihat saja awan hitam yang bergulung-gulung di langit. Berani bertaruh dalam beberapa jam hujan akan jatuh untuk membasahi Seoul.

Suzy berlari cepat menghampiri Jiyeon yang berjalan sempoyongan dengan tampang yang benar-benar sangat buruk. Rambutnya memang tersisir, namun tidak rapi, lingkaran hitam terlihat sangat jelas di wajah cantik Jiyeon, di tambah pakaiannya yang sedikit kusut. Efek patah hati terlalu berlebihan. Suzy memegang bahu Jiyeon, menghentikan langkah temannya yang bagai mayat hidup. Ia melihat Jiyeon dengan serat sedih sekaligus prihatin. Pasti satu malam penuh dihabiskan temannya untuk menangisi Kim Myungsoo, orang yang paling tidak disukainya di sekolah ini. Ia menyadari hal itu. Mata Jiyeon kosong, tidak ada serat semangat atau bahagia di sana, seperti hari-hari sebelumnya.

“Kau tidak apa-apa?” Suara Suzy sedikit pelan. Gadis itu menunduk menyesal. Ini semua berkat solusi gilanya. Tapi, kalau tidak seperti itu maka Jiyeon hanya akan berakhir di tempat persembunyiannya tiap hari hanya untuk melihat aktfitas pria itu.

Jiyeon hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Dilanjutkannya langkahnya yang terasa sangat berat. Sebenarnya, ia tidak ingin masuk sekolah hari ini karena takut bertemu dengan pria itu, namun mengingat pelajaran yang harus ditinggalkannya membuatnya mengurungkan niat jeleknya itu. Akhirnya begini lah dia. Datang dengan model seperti orang yang tak pernah diurus.

Aroma Bvlgari yang kuat sekali lagi menusuk indra penciuman Jiyeon, hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Aroma ini, aroma yang sangat ia sukai, dan ini milik pria itu. Sontak ia terkejut, dan melanjutkan langkahnya secepat mungkin. Ia tidak bisa melihat wajah itu lagi, ia tidak berhak sama sekali.

Derap langkah cepat itu kian membuat jantung Jiyeon nyaris melompat. Gadis itu memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Ia memejamkan matanya sebentar, sekedar menjernihkan kepalanya. Ia menoleh, dan pria itu tepat berada di belakangnya. Jiyeon mundur nyaris terjatuh kalau pria itu tidak langsung menahan tangannya. Ia menarik tangannya cepat, takut juga melihat wajah dingin dengan mata setajam elang milik pria itu memandanginya seperti ingin menguliti dirinya. Ia menunduk, memperhatikan sepasang sepatunya yang entah sejak kapan menjadi objek menarik.

“Lain kali hati-hati.”

Suaranya tajam dan menusuk, tapi itu membuat ada gelenyar aneh yang menyelimuti Jiyeon. Ada sedikit kehangatan yang memeluknya. Ia mendongak setelah pria itu pergi meninggalkannya dengan aroma khas tubuhnya yang memabukkan. Pikiran gila langsung Jiyeon tepis dari kepalanya. Kenapa seperti ini? Ia bahkan tidak bisa lepas dari pria itu. Diacak rambutnya yang memang tidak beraturan menjadi lebih berantakan. Setelah ini apa lagi yang bisa ia lakukan. Manangis pun tidak merubah apa pun, yang ada dirinya terlihat seperti mayat hidup, seperti sekarang.

 

*

            Suasana kantin penuh dengan riuh suara-suara para siswa-siswi yang berebutan untuk segera mendapatkan jatah mereka sendiri. Meja-meja yang tersedia di kantin sendiri hampir terisi penuh. Beberapa dari mereka terbirit untuk mendapatkan tempat duduk hanya untuk menikmati menu makanan mereka sendiri.

Kim Myungsoo duduk sendirian di mejanya. Kursinya masih bisa terisi oleh tiga atau empat orang. Namun, nampaknya tidak satu pun yang mau mengambil posisi bersamanya. Pria itu hanya melirik orang-orang yang masih berdiri menunggu pengguna meja berdiri, lalu menyantap makanannya sendiri.

Bunyi nampan yang disimpan di atas mejanya membuat pria itu terpaksa berhenti dan harus mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pembuat keributan. Ada dua gadis yang satu ia temui kemarin, dan ada satu pria yang ikut mengekori mereka. Ia menaikkan sebelah alisnya melihat gadis berambut panjang yang kemarin ditemuinya itu bersembunyi di balik tubuh teman prianya. Gadis itu takut kah padanya?

“Bisa kami duduk? Semua tempat sudah penuh.”

“Suzy-ya, kita pergi saja eoh?”

Kening Myungsoo mengkerut. Gadis berambut panjang itu memelas pada temannya, namun temannya justru tidak memperdulikannya. Ia berani bertaruh gadis itu pasti merasa aneh kalau satu meja dengannya mengingat aksi penolakan dingin yang ia lakukan kemarin.

“Dia mau pergi.” Myungsoo menunjuk gadis berambut panjang yang masih setia bersembunyi di balik punggung temannya. Ia memandang gadis satunya lagi tidak suka.

“Seunbae, kau lihat sendiri semua meja sudah terisi penuh.”

Myungsoo melihat gadis itu berusaha menarik temannya yang ia ketahui beranama Suzy itu untuk segera meninggalkannya, namun sama seperti tadi tidak ada respon yang diberikan dari Suzy.

“Park Jiyeon!”

Myungsoo menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Apa sebenarnya yang dilakukan kedua gadis ini di hadapannya? Suzy malah terlihat marah ketika gadis berambut panjang itu masih berusaha menariknya pergi bersama teman prianya. Myungsoo menatap manik mata milik gadis itu dengan tatapan dingin, namun tak bisa terbaca. “Baik, aku yang pergi.”

Myungsoo melihat keterkejutan itu ada di manik mata gadis itu, Park Jiyeon. Ia lewat tidak peduli. Ini pertama dan terakhir kalinya. Terakhir kali ia menoleh untuk melihat Jiyeon duduk dengan sedikit takut di tempatnya. Ia tahu siapa Park Jiyeon. Gadis yang sudah mengirimkannya surat, dan selalu mengamatinya dari jendela perpustakaan. Dengan berat hati ia meninggalkan kantin, sekali pun perutnya masih terasa kosong.

 

*

 

Air mata Jiyeon jatuh. Ia tahu ia cengeng, namun emosinya harus ia keluarkan atau ia akan sakit sendiri. Jiyeon benci berada dalam situasi seperti ini. Dimana seseorang yang kau sukai justru memandangmu dingin dan tanpa ada serat minat sedikit pun.

“Seharusnya kau mendengarku, Suzy-ah. Seharusnya kita pergi saat aku bilang pergi. Kau tahu, dia terlihat sangat tidak menyukaiku.”

Jiyeon dapat menangkap ada raut penyesalan di wajah Suzy, namun itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba temannya ini justru memandangnya kesal. Ia tidak peduli. Sekarang nafsu makannya hilang semua. Kim Myungsoo sekarang terasa sangat jauh darinya, dan ia benci itu. Baiklah, ia memang egois. Tapi, siapa pun pasti ingin perasaannya terbalas walau hanya sedikit. Jiyeon tahu Myungsoo tidak menyukainya, sangat malah, dan ia juga tahu pria itu tidak ingin ia berada di dekatnya. Kenapa ia bisa mengetahui hal itu? Hah, semuanya nampak jelas di mata pria itu. Sorotnya yang selalu menatap tajam dan dingin kepadanya sudah memberikannya sebuah penjelasan, meski pun masih ada yang tidak dapat ia baca dari manik mata pria itu.

“Pakai ini.”

Jiyeon tertegun. Benar, Oh Sehun. Sedari tadi pria itu bersamanya dan ia dengan berani malah menangisi pria lain. Ya Tuhan, pantas saja Suzy nampak kesal. Ia mengambil sapu tangan yang diberikan Sehun. Hatinya mencelos, sakit yang ia rasakan sekarang mungkin juga dialami oleh Sehun.

“Sudah, hapus air matamu dan kita makan.” Suzy menggeretak Jiyeon. Ia mengalihkan pandangannya pada Sehun yang menjadi sedikit lebih diam. Kepalanya tertunduk. Ia merasa menyesal untuk kedua temannya ini.

Jiyeon menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa semangat. Pikirannya melayang-layang pada Kim Myungsoo. Pria itu misterius. Memang ada beberapa orang yang menyukai pria itu sepertinya, namun rasanya nyaris tidak ada yang mendekati pria itu atau mengatakan perasaan mereka seperti yang ia lakukan kemarin. Apa alasannya, itu lah yang bergentayangan di pikirannya.

“Jangan melamun, Jiyeon-ah.”

Jiyeon tersenyum lembut pada Sehun yang sudah menghancurkan lamunannya. Tidak ada suara yang mereka buat setelah ini. Semuanya sibuk mencerna makanan mereka dalam keheningan untuk larut dalam pikiran mereka masing-masing.

 

*

 

Jiyeon berjalan santai dengan ice cream di tangannya. Suasana hatinya sudah jadi lebih baik karena Suzy memilih untuk membatalkan aturannya masalah surat cinta itu, jadi ia bisa kembali menjadi Park Jiyeon yang dulu. Hanya melihat dari jauh. Alasannya, karena temannya itu frustasi akan kesedihan yang ia alami. Ya, memang harus ia akui, efek dari kesedihannya itu berdampak buruk. Ia mendiami Suzy, bukan hanya itu seharian ia hanya menghabiskan waktu melamun selama di sekolah. Bahkan Sehun pun tak terlalu ia pedulikan. Oleh sebab itu, Suzy dengan berat hati membatalkan aturannya.

Kim Myungsoo. Nama yang sudah satu tahun hilir-mudik di kepalanya. Katakan saja ia mabuk pria itu sekarang, mungkin dengan begitu orang-orang seperti Suzy bisa paham akan perasaannya. Ia tahu pasti Myungsoo bukan tipe seperti Sehun yang jalan hidupnya selalu lurus. Menurutnya, pria itu malah cenderung memiliki jalan hidup berkelok. Pun, kata Suzy dan beberapa orang lainnya Kim Myungsoo bukan anak yang penurut dan baik-baik, pria itu selalu membangkang dan terkadang malah jahat. Ia juga tahu, pria itu sering terlibat perkelahian entah dengan temannya sendiri atau orang lain. Tapi menurutnya itu masih berada di ruang lingkup yang wajar. Kita semua, ‘kan masih memiliki emosi yang labil? Juga, ia tidak mencari kesempurnaan pada pria itu. Lalu, apa yang salah dengan perasaannya?

Bruk. Ice cream Jiyeon terjatuh ke jalan. Gadis itu menatapi nasib ice creamnya nanar. Bahkan ia belum sempat menghabiskan setengahnya. Wajahnya merah padam menahan kesal, orang ini butuh ceramahan rupanya.

“Kau..” Semua perkataan Jiyeon tertelan kembali hingga tak bersisa. Mata jarnihnya membulat sempurna melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya. Ia mundur teratur, kepalanya sudah tertunduk tidak berani menatap. Ia takut menerima tatapan penolakan.

“Sial. Bisakah kau lenyap saja? Kenapa kau selalu ada dimana-mana dan membawa kesialan padaku? Kau dendam padaku karena penolakan itu?!” Mata Myungsoo berkilat-kilat marah. Ini kedua kali. Gadis yang mengaku dirinya bunga matahari ini sudah cukup membuat tanduknya keluar. Ia bukan orang baik yang bisa melepaskan masalah kecil seperti ini. Dan ia juga tidak ingin menjadi orang yang baik.

“Maaf.” Nada suara Jiyeon bergetar. Sejujurnya, ia juga bertanya pada dirinya kenapa ia selalu membuat Kim Myungsoo menjadi kesal seperti ini, dan akhirnya pria itu memandangnya rendah. “Aku tidak dendam padamu, Seunbae.”

“Lupakan.” Baiklah, ia berhenti lagi. Ada rasa tidak tega yang datang pada dirinya. Terlebih ia melihat gadis itu siap menangis sebentar lagi, jadi sebelum air mata gadis itu jatuh lebih baik ia menghindar memang, atau ia akan bertanggung jawab penuh atas penyebab gadis itu menangis di tengah jalan seperti ini.

Jiyeon memandang nanar punggung Myungsoo yang mulai bergerak meninggalkannya. Ia menunduk melihat sepasang sepatunya seperti yang dilakukannya waktu itu. “Myungsoo sunbae..” Jiyeon tidak tahu mendapat keberanian dari mana sampai ia memanggil pria itu dengan suara yang cukup lantang untuk sampai ke telinga itu. Jantungnya lagi-lagi bekerja dengan cepat saat melihat pria itu berbalik melihatnya.

Myungsoo bergerak berputar untuk melihat gadis itu lagi. Ia mendesah. Apa sesulit ini untuk menyuruh gadis bunga matahari itu untuk menjaga jarak dengannya? Ia memasang wajah tanpa ekspresi disertai pandangan mata yang tak terbaca. “Ada apa?”

“Seunbae, apa mungkin kau membenciku?”

Myungsoo tersenyum sinis pada Jiyeon. Tanpa perlu berpikir lebih panjang ia menjawab pertanyaan bodoh gadis itu. “Kau tahu.” Sekilas Myungsoo merekam jelas ekspresi murung gadis itu, dan juga mata bening gadis itu terlihat terluka. Ya Tuhan, apa lagi ini sekarang? Untuk alasan apa ia terganggu dengan pandangan terluka milik gadis itu?

“Kenapa?”

Myungsoo tahu pasti gadis sudah mati-matian menahan air matanya yang pasti akan jatuh saat ia pergi. Ia mendengus memperhatikan Jiyeon yang masih menginginkan sebuah kejelasan atas insiden penolakan itu. “Kenapa?” Myungsoo terkekah hambar. “Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri?”

Jiyeon tersenyum miris. Ingin sekali ia memaki pria ini, namun semua makian itu tertahan dan tidak ingin keluar. Pasti rasa sukanya sudah berkembang terlalu besar. Ia tertawa hingga membuat Kim Myungsoo keheranan melihatnya. Biar saja, ia tidak akan menutupi sisi aneh dirinya lagi.

Suara tawa itu kosong, tidak bermakna apa-apa. Sang pemilik suara tawa itu bahkan tidak berekspresi ketika tertawa. Gadis itu tidak lagi bisa berkata sekarang. Ini adalah penolakan yang kedua, dan kali ini bahkan terasa jauh lebih menyakitkan. Jiyeon membungkuk pada Myungsoo setelah bisa meredam tawanya sendiri, lalu segera berlari meninggalkan pria itu dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.

Myungsoo hanya memandangi gadis itu berlari. Perlahan-lahan gadis itu mulai menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi oleh matanya. Ia tersenyum. Kali ini ia tersentuh meski hanya sedikit. Ia sungguh berterima kasih atas perasaan gadis itu untuknya, namun tidak akan pernah bisa ia balas. “Aku bukan orang yang cukup baik untukmu, Park Jiyeon.”

 

****

Ps : Oke aku balik lagi, dan sepertinya ini melenceng dari perkiraan.

Sekedar pemberitahuan, buat yang sebelumnya komen dan bertanya-tanya alasan Myungsoo nolak Jiyeon untuk sekarang tdk bisa aku kasi tahu, tapi aku sarankan buat baca teaser Jiyeon dan Myungsoo dulu biar sedikit dapat titik terang. Dan untuk yang meminta dari sudut pandang Myungsoo, tenang aja nanti ada kok spesial tentang gimana perasaannya sebenarnya, tapi mungkin masih dua atau tiga chapter lagi. So, silahkan menunggu.

Makasih yang sudah komen dan siders yang sempat ngintip bahkan baca ff-ku🙂

Satu lagi, tolong jangan panggil thor atau admin, atau apapun sebagainya. Aku punya nama huhu, panggil aja Rara biar lebih akrab dikit :3

53 responses to “[Chapter – 2] SUNFLOWER

  1. maaf baru comment di part ini, aku suka cerita sunflower ini, seru n buat penasaran. jangan lama-lama chap 3nya ya rara. fighting

  2. Separah itukah cintanya sm myung?
    Klu gue digituin udh gue tinggalin itu prasaan jauh2
    ngenes bgt jd jiyi disini

  3. Kshan jiyeon udh dua kali dpat pnolakan, myungsoo mkin hri mkin jhat yaaa tpi kyknya dia nolak jiyeon krna mrasa dia yg nggk baik buat jiyeon secara myungsoo kan jhat wkwk. Sehun juga psti ngerasain yg jiyeon rasain. Hehe next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s