[ONE SHOOT] Dream and Love

Dream and Love

Title : Dream and Love

Author : Dian

Main Cast :

Kim Myungsoo (Infinite)

Park Jiyeon (T-ara)

Genre : Sad, romance

Rate : T (PG-15)

~
Annyeong, fanfiction dengan judul dream and love ini adalah fanfiction pertama aku. Jadi mian kalau ffnya jelek. Ok, langsung aja cekidot.

***

Malam itu, Seoul diguyur hujan lebat. Seorang namja tampak berlarian menerobos hujan. Pakaiannya sudah benar-benar basah. Dan ia tidak peduli akan hal itu. Ia terus berlari dan berlari. Sesampainya di sebuah gang sempit, namja itu lalu berbelok. Dan akhirnya, ia sampai di rumah kecilnya.

GREK

Namja itu menggeser pintu rumahnya lalu melangkah masuk setelah sebelumnya menggeser kembali pintu rumahnya. Sepi dan gelap. Itulah yang menggambarkan kondisi rumahnya saat ini. Ia menghela napas. Namja itu lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa menyalakan lampu terlebih dulu.

Myungsoo – nama namja itu segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di ranjangnya begitu ia sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa mandi terlebih dulu ataupun hanya sekedar mengganti pakaiannya yang basah. Myungsoo perlahan mulai memejamkan matanya. Memori saat dirinya mulai menginjakkan kaki di Seoul sampai ia menjadi seperti ini tiba-tiba memenuhi otaknya.

Flashback on

Myungsoo tengah berjalan di sekitar sungai han sambil tangannya menggenggam erat jemari seorang yeoja yang tak lain adalah yeojachingunya. Myungsoo melangkahkan kakinya dengan riang. Tak henti-hentinya Myungsoo tersenyum pagi ini. Bagaimana tidak, yeoja yang selama ini menjadi teman satu-satunya saat pertama kali ia masuk ke Chollin Senior High School ini ternyata memiliki perasaan yang sama sepertinya. Chollin Senior High School adalah salah satu sekolah elit di Seoul yang hanya diperuntukkan untuk anak-anak dari kalangan atas. Tapi Myungsoo bukanlah anak dari golongan itu, ia hanyalah seorang anak dari panti asuhan di salah satu desa di Busan yang bercita-cita bersekolah disitu.

Myungsoo sudah tidak memiliki orang tua sejak dirinya berumur 5 tahun. Myungsoo bisa bersekolah ke Chollin berkat kecerdasannya. Setelah dinyatakan lulus, dengan tekad dan keberaniannya Myungsoo pergi ke Seoul. Ternyata kehidupan di Seoul berbeda sangat jauh dengan kehidupannya dulu di desa. Myungsoo lalu memutuskan bekerja paruh waktu di sebuah kedai kafe untuk memenuhi kebutuhannya sekalian bersekolah.

Pertama kali Myungsoo masuk ke Chollin ia sudah diejek dan dihina oleh anak-anak dari sekolah itu. Padahal ia merasa tidak melakukan apa-apa. Ia baru ingat jika dirinya bukan anak dari kalangan atas seperti mereka. Tapi apa setiap anak dari golongan bawah harus selalu dihina dan diejek seperti ini? Myungsoo ingin marah tapi sepertinya ia tidak bisa, ia tidak ingin mendapatkan masalah nantinya. Dan setelahnya, Myungsoo hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa.

Saat Myungsoo memperkenalkan dirinya di depan kelas. Belum selesai ia melanjutkan ucapannya, sebuah kulit pisang mendarat di wajahnya. Tanpa sadar tangan Myungsoo mengepal. Jiyeon – salah satu murid di kelas itu memberikan death glarenya pada seseorang yang sudah berani-beraninya melempar kulit pisang pada Myungsoo. Jiyeon lalu berjalan menghampiri Myungsoo setelah namja itu menyingkirkan kulit pisang dari wajahnya.

Setelah berdiri di hadapan Myungsoo, Jiyeon lalu mengelap wajah namja itu menggunakan tisu miliknya. Myungsoo hanya bisa diam seraya matanya terus menatap wajah salah satu temannya itu. Cantik. Satu kata yang menggambarkan wajah Jiyeon. Tanpa sadar Myungsoo tersenyum.

DEG DEG DEG

Myungsoo merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. “Ada apa dengan jantungku?” ucapnya dalam hati.

“Sudah perkenalannya ya, daripada nanti kau dilempari kulit pisang lagi” ucap Jiyeon setelah dirinya mengelap wajah Myungsoo.

Myungsoo hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia masih terpesona dengan wajah cantik Jiyeon.

Kajja, kita duduk!”. Jiyeon memegang pergelangan tangan Myungsoo, mengajak namja itu duduk di sampingnya yang kebetulan masih kosong.

Semenjak saat itu, Jiyeon dan Myungsoo menjadi teman. Dan Myungsoo tidak lagi diejek dan dihina itu semua karena Jiyeon. Myungsoo tidak mengetahui jika Jiyeon adalah anak dari pemilik Chollin Senior High School.

Ternyata jantung Myungsoo yang berdetak dengan sangat cepat tempo hari itu bukan karena ia memiliki penyakit jantung tapi ternyata itu adalah perasaan jatuh cinta. Myungsoo merasa senang dan sangat beruntung bisa dekat dengan Jiyeon. Tapi entah kenapa, ia malu menyatakan perasaannya pada Jiyeon. Ia tidak ingin persahabatannya dengan Jiyeon harus kandas hanya karena ia menyukai yeoja cantik berambut panjang itu.

Tak terasa Myungsoo dan Jiyeon sudah menginjak kelas 3 SMA. Entah dorongan dari mana, Myungsoo tiba-tiba menyatakan perasaannya pada Jiyeon. Mungkin Myungsoo sudah tidak kuat menahan gejolak di hatinya itu. Myungsoo tidak peduli, Jiyeon mau menerimanya atau tidak. Yang penting ia sudah menyatakan perasaan yang sungguh membuatnya tersiksa ini setiap kali ia berdekatan dengan Jiyeon.

Hal yang tidak terduga terjadi pada Myungsoo, Jiyeon diam-diam ternyata juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Ia benar-benar senang sekaligus tidak percaya. Jiyeon akhirnya menerima pernyataan cintanya.

Dan minggu pagi ini adalah kencan pertama Myungsoo dan Jiyeon. Sedari tadi wajah wajah kedua insan itu tampak cerah terutama Myungsoo.

“Jiyeon-ah, apa kau mau es krim?” tawar Myungsoo pada Jiyeon. Saat ini keduanya tengah duduk di salah satu bangku panjang yang diatasnya ada pohon sakuranya. Benar-benar indah.

Jiyeon terdiam sebentar. “Aku mau saja tapi_”. Jiyeon sengaja menjeda ucapannya sambil berpikir jawaban apa yang tepat untuk menerima tawaran Myungsoo untuk membelikannya es krim.

Myungsoo mengernyitkan dahinya. “Tapi apa?” tanyanya.

“Tapi aku tidak ingin membuatmu boros dengan membelikanku es krim” ucap Jiyeon menundukkan kepalanya. Ne, Jiyeon tahu jika Myungsoo bukanlah anak dari golongan atas sepertinya. Jiyeon juga tahu jika Myungsoo bekerja di salah satu kedai kafe dekat restoran pamannya.

Myungsoo sedikit terkejut dengan ucapan Jiyeon barusan. Tapi buru-buru ia menormalkan wajahnya agar tidak menampakkan ekspresi terkejut. Ia lalu berjongkok di hadapan Jiyeon.

“Mana mungkin kau membuatku boros hanya karena aku membelikanmu es krim” ucap Myungsoo diakhiri dengan senyuman.

Jiyeon mendongakkan kepalanya. “Tapi_”. Ucapan Jiyeon terputus karena jari telunjuk Myungsoo sudah mendarat di bibirnya.

“Sudah, tidak apa-apa. Tunggu disini, aku segera kembali!”. Setelah mengatakan itu, dengan sedikit berlari Myungsoo menuju kedai es krim di sebrang sana.

“Jiy”. Jiyeon menolehkan kepalanya ke samping saat sebuah suara memanggil namanya.

“Minho” ucap Jiyeon sedikit terkejut. Minho adalah anak dari rekan bisnis kedua orang tuanya.

“Bolehkah aku duduk disini?” tanya Minho.

“Ah, ne. Silahkan!” ucap Jiyeon sedikit kikuk. Entahlah, setiap kali ia berdekatan dengan namja bermarga Choi itu Ia selalu merasa tak nyaman.

Minho tersenyum tipis lalu duduk di samping Jiyeon.

“Jiyeon-ah”. Tiba-tiba wajah Jiyeon mendadak cerah. Ia lalu menatap Myungsoo yang berjalan ke arahnya.

“Kau siapa?” tanya Myungsoo saat dirinya sudah berada di hadapan Minho.

Minho lalu bangkit dari duduknya. “Aku Minho, temannya Jiyeon” ucap Minho sambil mengulurkan tangannya pada Myungsoo mengajak namja itu berkenalan.

“Aku Myungsoo, namjachingu Jiyeon” ucap Myungsoo tanpa malu memperkenalkan jika dirinya adalah kekasih Jiyeon sambil membalas uluran tangan Minho.

Diam-diam Jiyeon menyunggingkan senyumnya. Ia yakin pasti Minho akan segera pergi dari sini. Entahlah ia merasa mencium bau kecurigaan pada namja bermarga Choi itu. Sepertinya akan ada perjodohan di antara dirinya dan namja bermata besar itu. Karena secara tiba-tiba namja itu mendekatinya apalagi Minho adalah anak rekan bisnis kedua orang tuanya. Tapi ia sudah memutuskan untuk tidak menikah dengan Minho jika nantinya ia benar dijodohkan dengan namja itu.

“Ah, ne”. Minho sedikit terkejut dengan ucapan Myungsoo barusan tapi ia memaksakan untuk tetap tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya, Jiyeon, Myungsoo!” pamit Minho menatap ke arah Myungsoo lalu bergantian menatap wajah Jiyeon. Minho lalu memutar tubuhnya pergi dari tempat itu.

Jiyeon tersenyum senang setelah Minho meninggalkan dirinya dan Myung Soo.

“Ini”. Myungsoo menyodorkan es krim pada Jiyeon.

“Gomawo, Myungsoo” ucap Jiyeon diakhiri dengan senyuman tipis. Jiyeon lalu memakan es krimnya.

Myungsoo tersenyum. “Ne, cheonma”

Myungsoo lalu mengusap rambut panjang Jiyeon dengan lembut. Sukses membuat pipi yeoja itu merona walaupun samar-samar. Jiyeon tidak menyangka jika Myungsoo adalah namja yang manis. Setelah itu, Myungsoo baru memakan es krimnya. Hanya 5 menit saja, namja itu selesai memakan es krimnya.

“Cepat sekali” gumam Jiyeon tapi masih bisa di dengar oleh Myungsoo.

Myungsoo tersenyum kecil. Ia lalu menoleh ke arah Jiyeon. Myungsoo menggeleng-nggelengkan kepalanya. Bisa Ia lihat bibir Jiyeon banyak dipenuhi oleh bekas es krim.

“Kau seperti anak kecil saja, Jiy” ledek Myungsoo. Wajar saja jika keduanya tidak tahu kelakuan masing-masing saat memakan es krim. Karena mereka tidak pernah makan es krim bersama sebelumnya. Dan ini merupakan kali pertama mereka makan es krim bersama.

Jiyeon mempoutkan bibirnya setelah mendengar ucapan Myungsoo yang meledeknya. Myungsoo tersenyum kecil.
Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon. Diusapnya bekas es krim di sudut bibir Jiyeon menggunakan ibu jarinya. Jiyeon tampak mengerjap-ngerjapkan mata setelahnya.

“Kau ingin kemana setelah ini?” tanya Myungsoo pada Jiyeon.

“Aku ingin ke taman ria” jawab Jiyeon.

“Kalau begitu, kajja!” ajak Myungsoo bangkit dari duduknya. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Jiyeon. Jiyeon tersenyum lalu menerima uluran tangan Myungsoo.

Sejak kencan pertama itu, Jiyeon dan Myungsoo semakin dekat. Orang tua Jiyeon tidak tahu jika putrinya itu sudah memiliki namjachingu. Wajar saja tuan dan nyonya Park tidak pernah tahu tentang kegiatan putrinya itu karena mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis mereka.

Tuan dan nyonya Park marah ketika tahu jika Jiyeon sedang menjalin hubungan dengan seorang namja miskin. Keduanya tahu karena diberi tahu oleh Minho. Ternyata diam-diam Minho menyuruh orang untuk menyelidiki identitas Myungsoo. Setelah mendengar berita itu, tuan dan nyonya Park segera menuju bandara untuk pulang ke Seoul.

Begitu sampai di rumah, tuan dan nyonya Park tidak mendapati putrinya itu sedang berada di rumah. Tuan Park lalu menyuruh bodyguardnya untuk menjemput putrinya itu.

Jiyeon dan Myungsoo saat ini sedang berduaan di taman belakang sekolah. Bel pulang sudah berbunyi sejak sekitar 1 jam yang lalu. Tapi sepertinya kedua orang itu sengaja tidak pulang. Jiyeon tidak tahu jika orang tuanya sudah pulang dari Amerika.

“Jiyeon-ah, bolehkah aku meminjam pahamu?” pinta Myungsoo.

Jiyeon sedikit terkejut dengan permintaan Myungsoo. Tapi setelahnya ia tersenyum. “Tentu saja”

Myungsoo lalu meletakkan kepalanya di paha Jiyeon. Tangan Jiyeon lalu tergerak mengusap rambut Myungsoo. Dan itu membuat Myungsoo tersenyum. Myungsoo lalu meletakkan tangan Jiyeon di pipinya.

“Agassi”. Suara berat dari seseorang membuat Myungsoo bangkit dari acara tidur-tidurannya.

Jiyeon membulatkan matanya. “Ada apa ini? Apa mereka sudah pulang?” pikirnya cemas. Ia lalu berdiri.

“Siapa kalian?” tanya Myungsoo ikut berdiri.

5 bodyguard suruhan tuan Park itu tidak menjawab. Salah satu diantara mereka lalu menarik tangan Jiyeon membawa pergi yeoja itu. Myungsoo membulatkan matanya. Ia lalu menghampiri Jiyeon yang terus meronta-ronta ingin lepas dari bodyguard suruhan appanya itu. Tapi dengan sigap 4 bodyguard yang lain menghadang Myungsoo. Myungsoo menatap marah wajah bodyguard itu. Tangan Myungsoo mengepal kuat. Ia sudah bersiap untuk menghajar namja-namja berbadan kekar itu. Padahal sebenarnya Myungsoo tidak ahli dalam berkelahi. Tapi ternyata salah satu diantara dari mereka lebih dulu menghajar Myungsoo. Membuat namja itu tersungkur.

“Kalian pergilah! Biar aku saja yang mengurusi bocah ingusan ini” ucap bodyguard yang baru saja menghajar Myungsoo. 3 bodyguard yang lain mengangguk. Mereka lalu pergi dari tempat itu.

Kini hanya tinggal Myungsoo dan 1 bodyguard suruhan tuan Park. Myungsoo meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena baru saja dihajar oleh bodyguard itu. Dengan susah payah namja itu berdiri. Bodyguard itu tersenyum remeh ke arah Myungsoo. Ia lalu mendekati Myungsoo. Dan…

BUGH

BUGH

BUGH

Pukulan berkali-kali yang diberikan oleh bodyguard itu membuat Myungsoo terkapar tak berdaya. Hidung dan mulutnya banyak mengeluarkan darah. Berkali-kali Myungsoo berusaha berdiri. Tapi tetap saja ia tidak bisa. Ia meringis sambil menutupi mulutnya yang terus mengeluarkan darah. Matanya yang sipit menatap tajam namja berbadan kekar itu. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Ia sudah tidak kuat lagi. Dan dengan perlahan mata namja itu menutup. Melihat Myungsoo yang sudah tak berdaya, bodyguard itu malah tersenyum senang. Ia lalu memutar tubuhnya pergi meninggalkan Myungsoo yang masih setia memejamkan matanya.

Tetangga Myungsoo tidak sengaja melewati tempat itu. Ia terkejut saat mendapati Myungsoo terkapar tidak berdaya di tanah. Ia lalu membopong tubuh namja itu.

Setelah pulih dari kondisinya, Myungsoo kembali ke sekolah. Ia benar-benar bahagia, kalau ia sekolah pasti bisa bertemu dengan Jiyeon. Tapi hal yang tidak terduga terjadi padanya, tiba-tiba tanpa alasan yang ia ketahui, ia dikeluarkan dari Chollin.

Tanpa Myungsoo ketahui juga, jika Jiyeon sudah tidak lagi bersekolah. Setelah kejadian saat Jiyeon dipaksa pulang oleh bodyguard suruhan appanya itu, Jiyeon langsung dikirim appanya ke luar negeri.

Myungsoo menjadi orang linglung setelah ia dikeluarkan dari sekolahnya. Ia seperti seseorang yang tidak punya tenaga lagi untuk sekedar melangkah. Ia benar-benar tidak menyangka, impiannya untuk mendapatkan ijazah dan lulus dari Chollin pupus. Ia juga tidak tahu Jiyeon sekarang berada dimana. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan yeoja itu.

Berhari-hari Myungsoo merenung dan berdiam diri di kamar kecilnya. Ibu pemilik kos-kosan setiap hari mendatangi rumah Myungsoo untuk menagih uang sewa bulan kemarin yang belum Myungsoo bayar. Tapi Myungsoo seolah-olah tidak mempedulikan hal itu. Pekerjaannya menjadi pelayan di kedai kafe juga tidak ia hiraukan.

1 bulan setelahnya, Myungsoo akhirnya bangkit dari keterpurukannya. Ia berpikir kalau ia terus-terusan seperti ini, ia akan menjadi apa nantinya. Ya, walaupun impiannya pupus, ia masih bersyukur sampai saat ini ia masih diijinkan untuk bernafas. Ia lalu mencari pekerjaan lagi untuk memenuhi kebutuhannya. Dan beruntung ia diterima sebagai penjaga toko bunga. Kenangan indah bersama Jiyeon dulu, tidak akan pernah ia lupakan.

Flashback off

Matahari perlahan keluar dari peraduannya. Dari dalam sebuah kamar tidur tampak seorang namja tengah duduk di tepi kasurnya. Namja itu baru saja bangun dari tidurnya. Ucapan yeoja kemarin tiba-tiba melintas di otaknya.

“Myungsoo. Apa benar kau Kim Myungsoo? Aku Jiyeon, Park Jiyeon. Kau masih mengingatku?”

Myungsoo – namja itu menghela napasnya. “Kenapa disaat aku mulai belajar untuk melupakannya, tiba-tiba ia menampakkan wajahnya di hadapanku?” lirih Myungsoo.

Ne, setelah ia bangkit dari keterpurukannya, Myungsoo berusaha untuk melupakan yeoja yang menjadi cinta pertamanya itu. Ya, walaupun susah. Dan bahkan sampai saat ini, ia masih belum tahu apakah ia masih mencintai yeoja itu atau tidak.

Sebenarnya jauh di lubuk hati Myungsoo, ia senang dan bahagia bisa bertemu dengan Jiyeon setelah 3 tahun lamanya ia tidak pernah bertemu dengan yeoja itu. Tapi entah kenapa ia merasa bingung dan bimbang dengan perasaannya sendiri.

Myungsoo merutuki kebodohan yang ia lakukan kemarin malam. Setelah yeoja itu mengucapkan kata-kata itu Myungsoo dengan bodohnya meninggalkan yeoja itu sendirian di toko bunga. Ne, Myungsoo hanya sendirian menjaga toko bunga itu. Myungsoo berlari dan terus berlari menuju rumah kecilnya padahal saat itu Seoul diguyur hujan lebat.

Myungsoo kembali menghela napas, ia lalu melirik jam beker yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya. Setengah jam lagi, ia harus pergi bekerja. Myungsoo kemudian berdiri dari duduknya. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Di lain tempat

Seorang yeoja cantik tampak duduk di depan meja riasnya. Yeoja itu menatap pantulan dirinya dari cermin di depannya. Entah kenapa, tiba-tiba wajah yeoja itu mendadak sedih. Ternyata alasan yeoja itu sedih karena tingkah seseorang yang meninggalkannya sendirian di toko bunga kemarin malam

Tapi meskipun begitu, Jiyeon – yeoja itu senang dan bahagia bisa bertemu kembali dengan Myungsoo. Ia baru ingat, jika waktu itu, saat dirinya dikirim appanya ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya disana, diantara dirinya juga Myungsoo tidak ada yang mengucapkan kata perpisahan. Jadi, berarti sampai saat ini ia dan Myungsoo masih terikat dalam sebuah hubungan.

Jiyeon menghela napasnya. Sebenarnya waktu itu ia tidak ingin ke Amerika tapi mau bagaimana lagi. Karena setelah dirinya sampai di rumahnya bak istana itu, appanya langsung memberinya dua pilihan, tetap di korea selatan lalu bertunangan dengan Minho atau pergi ke Amerika untuk belajar tentang bisnis disana. Dan dengan cepat Jiyeon langsung memilih pilihan yang kedua. Karena ia tidak ingin bertunangan dengan Minho. Dan setelah itu ia dikirim appanya ke Amerika.

Ternyata tanpa Jiyeon ketahui, pilihan pertama yang mengharuskan dirinya bertunangan dengan Minho itu tidaklah benar. Tuan park hanya mengetes putrinya itu. Dan benar jika Jiyeon benar-benar tidak ingin dijodohkan dengan Minho. Tuan Park melakukan itu semua karena permintaan Minho. Ya, walaupun Minho melakukan hal yang tidak baik seperti menyuruh orang untuk menyelidiki identitas Myungsoo. Tapi jika menyangkut tentang perasaan, apalagi ini menyangkut dirinya dan Jiyeon kedepannya, ia tidak ingin memaksa seseorang yang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Dan ya, ia langsung memberitahu orang tua Jiyeon dan orang tuanya jika ia tidak ingin dijodohkan dengan Jiyeon.

Hari ini Jiyeon memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Selama di Amerika, dirinya tak henti-hentinya memikirkan Myungsoo. Berkali-kali ia mengucapkan maaf pada Myungsoo tapi percuma Myungsoo tidak bisa mendengarnya. Ingin sekali ia bertemu dengan Myungsoo tapi ia tidak bisa.

Dan lusa kemarin, Jiyeon kembali ke Korea. Tuan dan nyonya Park benar-benar bangga, putrinya menjadi lulusan terbaik dengan nilai yang sangat memuaskan di kampusnya. Dan mulai kemarin, Jiyeon langsung ditempatkan di posisi terpenting yaitu menjadi direktur di perusahaan kedua orang tuanya.

Awal mula Jiyeon bisa bertemu dengan Myungsoo adalah secara tidak sengaja atau kebetulan. Saat itu Jiyeon sedang mengemudikan mobilnya untuk pulang ke apartemennya. Ya, Jiyeon memutuskan untuk tinggal di apartemen.

Tapi entah kenapa saat di perjalanan, tiba-tiba ia ingin sekali membeli bunga. Dan setelahnya, ia menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Pertama masuk ke dalam toko bunga ia bersikap biasa saja, tapi saat seseorang menyambutnya di meja kasir ia membulatkan matanya tidak percaya. Myungsoo berdiri di hadapannya dengan senyum mengembang di bibirnya. Senyuman di bibir Myungsoo perlahan luntur karena melihat Jiyeon. Tidak hanya Jiyeon saja yang terkejut saat itu, Myungsoo juga tekejut.

Dengan ekspresi terkejut, Jiyeon menanyakan apa namja yang berdiri di hadapannya itu adalah Myungsoo. Kim Myungsoo. Teman smanya dulu juga cinta pertamanya itu. Tapi setelah Jiyeon mengatakan itu Myungsoo malah pergi meninggalkan Jiyeon sendirian di toko bunga. Saat itu Myungsoo tidak mempedulikan jika dirinya nanti dimarahi bosnya.

Jiyeon berdiri dari duduknya. Ia lalu berjalan ke arah meja kecil samping tempat tidurnya. Diambilnya ponselnya itu. Setelah itu, dicarinya kontak seseorang di ponselnya. Jiyeon lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Yoboseyo, sekretaris Byun”

[“Ne, yoboseyo sajangnim”]

“Maaf, aku tidak bisa ke kantor hari ini. Ada urusan yang harus selesaikan. Jadi apa tidak apa-apa jika kau yang menggantikan posisiku untuk hari ini?”

[“Oh, ne, tidak apa-apa sajangnim”]

Oh iya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku”

[“Baik, sajangnim”]

“Gomawo, sekretaris Byun”

TUT

Jiyeon memutus panggilan antara dirinya dan Baekhyun, sekretarisnya. Jiyeon lalu mengambil tas kecilnya. Setelah itu, ia pergi keluar dari kamar tidurnya.

__

Ya, beginilah jadinya jika meninggalkan pekerjaan tanpa alasan yang masuk akal di saat masih jam kerja. Begitu Myungsoo masuk di toko bunga tempat ia bekerja. Ia langsung dimarahi habis-habisan oleh bosnya. Myungsoo hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, Jiyeon masuk ke toko bunga itu.

“Ada apa ini?” tanya Jiyeon setelah dirinya sampai di hadapan 2 namja itu. Myungsoo seperti mengenal suara ini. Ia lalu mendongakkan kepalanya. Dan benar saja Jiyeon sedang berdiri di tempatnya saat ini.

“Anak ini meninggalkan toko bungaku disaat saat jam kerjanya” beritahu Hee Jong – pemilik toko bunga sekaligus bos dari Myungsoo.

Jiyeon terdiam sebentar. “Apa anda akan memecat teman saya ini?” tanyanya.

“Inginnya” ucap Hee Jong.

“Jangan, ajusshi! Jangan pecat teman saya! Saya mohon, tolong maafkan teman saya ini!” pinta Jiyeon.

Myungsoo sedikit terkejut dengan ucapan Jiyeon barusan. Tapi buru-buru ia menormalkan wajahnya. Hee Jong terdiam sebentar. Ia menatap wajah Myungsoo.

“Baiklah, kalau begitu. Myungsoo lain kali jangan melakukan ini lagi. Kalau kau melakukannya lagi, aku tidak segan-segan untuk memecatmu dari sini. Kalau begitu, aku pergi!”. Hee Jong lalu keluar meninggalkan Jiyeon dan Myungsoo.

Keheningan terjadi di dalam toko bunga itu. Jiyeon begitupun Myungsoo enggan untuk membuka suaranya. Jiyeon merasa tidak nyaman. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Myungsoo membuat namja itu memundurkan tubuhnya.

“Jangan memundurkan tubuhmu! Ku mohon, Myungsoo!” ucap Jiyeon menatap sendu ke arah Myungsoo.

Myungsoo akhirnya berhenti. Jiyeon diam-diam tersenyum. Jiyeon lalu berjalan menghampiri Myungsoo dan memeluk namja bertubuh tingg itu. Myungsoo terkejut dengan tingkah yeoja yang tiba-tiba memeluknya ini.

“Mianhae, jeongmal mianhae, Myungsoo” lirih Jiyeon.

Myungsoo diam.

“Myungsoo, saranghae. Aku sangat mencintaimu” ucap Jiyeon.

Myungsoo lagi-lagi diam. Jiyeon lalu melepas pelukannya di tubuh Myungsoo. Ia lalu menjijitkan kakinya dan…

CUP

Jiyeon mengecup bibir Myungsoo sekilas. Sukses membuat namja itu membulatkan matanya karena terkejut. Myungsoo mengerjap-ngerjapkan matanya menatap wajah Jiyeon.

“Apa yang kau lakukan barusan?”

“Menciummu” ucap Jiyeon enteng.

Entah kenapa, tiba-tiba Myungsoo menyunggingkan senyum evilnya.

“Apa ini caramu untuk membuat seseorang memafkanmu?” tanya Myungsoo.

Jiyeon terdiam. Ia lalu menyunggingkan senyum evilnya.

“Ne, apa kau suka?” tanya Jiyeon.

“Menurutmu?” tanya Myungsoo balik.

“Ne, kau suka” jawab Jiyeon.

“Tidak, aku tidak menyukainya” bohong Myungsoo.

Jiyeon mempoutkan bibirnya. “Baiklah kalau kau tidak suka. Lebih baik, aku pergi saja!” ucap Jiyeon pura-pura marah. Ia lalu membalikkan badannya berniat melangkahkan kakinya. Tapi sebuah tangan memegang lengannya. Diam-diam Jiyeon tersenyum. Myungsoo lalu membalikkan badan Jiyeon hingga membuat tubuh yeoja itu berhadapan dengannya.

“Aku berbohong. Ne, aku menyukainya” ucap Myungsoo. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon. Melihat itu, Jiyeon lalu memejamkan matanya. Dan bibir tipis Myungsoo akhirnya mendarat di bibir Jiyeon. Myungsoo mencium bibir Jiyeon dengan lembut. Tangan kirinya lalu menarik pinggang ramping Jiyeon supaya mendekat ke arahnya. Sedangkan tangan kanannya memegang tengkuk Jiyeon. Sesekali Myungsoo memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri supaya memudahkannya mencium bibir Jiyeon. Jiyeon dengan senang hati membalas ciuman Myungsoo.

“Saranghae” ucap Myungsoo menatap tepat di kedua manik mata Jiyeon.

“Ne, nado saranghaeyo” jawab Jiyeon sambil tersenyum manis.

Myungsoo tersenyum senang. Ia lalu kembali mencium bibir Jiyeon. Dan Jiyeon pun dengan senang hati membalasnya.

Diam-diam tanpa kedua orang itu sadari, dari balik jendela, Hee Jong dari tadi mengintip kegiatan Myungsoo dan Jiyeon. Ia menggeleng-nggelengkan kepalanya.

“Ckck,,, anak muda jaman sekarang” ucapnya berdecak. Hee Jong lalu meninggalkan tempat itu.

End

Don’t forget to RCL!!!

42 responses to “[ONE SHOOT] Dream and Love

  1. Huaaaa daebakk romantisss aku sukaaa bengetttt kerennn myungyeonn , plisss buat ff myungyeon lebih romantic lagi🙂 walau pun kasian dengan myungsoo tapi dia bahagia kan akhir nyaa

    • Wah, makasih🙂
      Iya, myungsoo akhirnya bahagia.
      Hehehe, kapan-kapan aja ya, soalnya aku gak tahu kapan bikin ff myungyeon lagi soalnya sekarang lagi pengen buat ff dengan main cast namjanya selain myungsoo tapi untuk main cast yeojanya tetep jiyeon.

      Makasih udah mau komen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s