[ONESHOT] Hello January!

Quinniechip’s present

largehj-HELLO JANUARY-

Staring by Kim Myungsoo and minor cast

A Friendship Oneshot for Teenager with Parental Guidance

publish with other cast click!

-oOo-

Sebagai seorang pekerja kantoran seperti Myungsoo, libur akhir tahun adalah waktu dimana ia akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bekerja di depan komputer. Disaat semua orang bisa menikmati quality time bersama keluarga atau bersama kekasih, oh baiklah saat ini memang ia tak memiliki seorang kekasih, tapi ia masih memiliki keluarga. Bahkan disaat hari perayaan natal kemarin, ia harus rela pulang larut malam pada malam sebelumnya untuk mendapatkan satu hari liburnya. Bukan, ini bukan kerja paksa yang tidak membarkan karyawannnya pulang, hanya saja memang seperti ini aturannya, artikel-artikel itu harus tetap terkumpul apapun yang terjadi, perayaan hari besar maupun badai sekalipun.

Sudah lima hari setelah hari natal terlewat, dan itu artinya ini hari dua hari terakhirnya menuju perayaan pergantian tahun. Dan Myungsoo bertekad untuk kembali mengambil hari libur pada hari terakhir di tahun ini. Saat-saat seperti ini memang waktu yang paling melelahkan, ia harus mengumpulkan seluruh tangggungannya lebih cepat dari deadline, demi memenuhi janji pada sahabatnya. Sebenarnya Myungsoo tidak begitu peduli dengan perayaan tahun baru, tetapi apa daya, rengekan Yonghwa benar-benar memaksanya untuk meluangkan satu hari di akhir tahun, jika tidak mungkin ia akan berakhir mati dilindas mobil mahal milik Yonghwa.

Jika bukan karena sahabatnya yang satu itu, mungkin ia akan menghabiskan akhir tahunnya di depan komputer untuk menyelesaikan artikelnya atau sekedar menonton televisi yang menayangkan box office ternama, atau lebih parahnya lagi ia akan tidur dan terbangun ketika tahun sudah berganti. Merayakan pergantian tahu dengan mengadakan pesta seperti ini memang kali pertama bagi Myungsoo. Pada tahun-tahun sebelumnya hanya ia habiskan dengan sekedar berkumpul bersama di cafe atau menonton konser. Tapi tahun ini benar-benar berbeda, karena bisa dipastikan bahwa ini adalah perayaan tahun baru terakhir Yonghwa sebagai seorang bujangan, ya tahun depan ia akan menikah dengan Shinhye, kekasih yang telah dipacarinya selama empat tahun belakangan. Momen seperti ini tak akan dilewatkan Yonghwa begitu saja, ia mengatakan jika saat seperti ini mungkin tak akan ia alami sesering dahulu. Sebagai seorang kepala rumah tangga ia akan memiliki tanggung jawab lebih, bukan..

Dan sebagai sahabat yang baik Myungsoo juga tak akan melewatkan momen bersejarah ini. Selain sebagai bentuk ucapan selamat atas kebahagiaan Yonghwa, tak ada salahnya bersenang-senang bersama para sahabatnya setelah banyak terkurung di ruang kerjanya. Sungguh melelahkan memang, tapi mengingat bahwa ia akan menghabiskan satu hari penuh bersama orang-orang terdekatnya, rasa lelah itu seketika menghilang dan semangatnya semakin berkobar untuk menyelesaikan seluruh tugasnya dengan cepat.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan akhirnya Myungsoo berhasil merampungkan seluruh tanggungan pekerjaannya. Setelah menyimpan seluruh file pekerjaannya dan memastikan bahwa hasil kerjanya tersimpan dengan baik, Myungsoo mematikan komputernya dan segera membereskan seluruh barang yang berserakan di mejanya. Hal ini menjadi satu tugas yang tak Myungsoo sukai, karena ia tahu jika meja kerjanya begitu berantakan oh bahkan lebih pantas disebut sebagai tempat pembuangan sampah dibandingkan dengan meja kerja seorang karyawan majalah. Kertas bekas, gelas minum, bungkus kopi, dan sendok makan tercampur menjadi satu. Setelah memandangnya lebih lama Myungsoo baru berpikir bagaimana bisa ia bekerja di tempat sampah semacam ini.

Butuh lebih dari lima belas menit untuk membuat meja kerjanya kembali bersih. Setelah membuat tempat sampah di pojok ruangan penuh, Myungsoo mengambil tas dan jaketnya dan bergegas pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mulai kaku di beberapa bagian. Jarak antara kantor dan rumahnya bisa dikatakan cukup jauh, tetapi di waktu jalan sudah tak sepadat biasanya, ia bisa mempercepat laju kendaraannya dan sampai rumah dalam waktu dua puluh menit. Mencuci tangan dan kaki sesampainya di rumah, mengganti bajunya, menyikat gigi dan membersihkan wajahnya lalu minum susu hangat, mungkin ia akan benar-benar sampai di tempat tidurnya pukul dua belas.

Matahari sudah menenunjukkan wajahnya sejak enam jam yang lalu. Sinarnya juga sudah mulai memaksa masuk melalui sela-sela tirai kamarnya yang masih tertutup rapat. Pada pagi ah siang hari seperti ini biasanya ia sudah mulai sibuk bekerja di depan komputer meja kantornya, tapi tidak untuk hari ini, Myungsoo sengaja tidak memasang alarm dan membiarkan dirinya tertidur pulas. Karena hari ini adalah hari liburnya dan ini benar-benar membuatnya bahagia. Ia tidak harus ribut merebutkan kamar mandi dengan kakak perempuannya di pagi hari, ia tidak harus mendengar teriakan ibunya setiap jam tujuh pagi dan berlanjut dengan omelannya sepanjang sarapan, dan ia tidak harus mengutuk semua kendaraan disekitarnya karena membuat kemacetan disetiap ia berangkat kerja, dan yang paling penting ia tidak harus melihat wajah si botak penjaga pintu gerbang kantor yang begitu taat dengan aturan bahkan jika ia terlambat hanya beberapa detik. Butuh waktu lama untuk mengajak orang tua itu berkompromi dan itu semakin membuang waktunya yang sangat berharga.

Aroma masakan ibunya sudah tercium sampai ke kamar Myungsoo, baunya benar-benar sedap hingga membuat Myungsoo nyaris terbangun. Tapi mengingat bahwa selama ini banyak waktu tidurnya yang terbuang, Myungsoo membatalkan niatnya dan kembali melelapkan dirinya. Ibu Myungsoo sengaja tak membangunkan anak lelakinya pada pagi hari karena hari kemarin Myungsoo sudah mengatakan bahwa hari ini ia libur, dan sebagai ibu yang pengertian ia tak akan mengganggu anaknya yang ia yakin sangat lelah setelah bekerja ekstra. Tapi belum bangun pada pukul sebelas siang benar-benar tidak bisa dimaafkan, masih memakai celemek masak dan segelas air di tangannya, ibu masuk ke kamar anaknya yang uh benar-benar berantakan. Buku berserakan, baju yang bertebaran di setiap penjuru kamar, kaus kaki dan sepatu yang tak tersusun rapi di rak yang sudah disediakan, mungkin lebih mirip kapal pecah dibadingkan dengan kamar seorang anak laki-laki.

“Kim Myungsoo, bangun..” Ibu mencoba membangunkan dengan membuka tirai kamarnya.

Myungsoo yang masih merasa kantuk hanya menutup wajahnya dengan selimut. Ibu hanya memandangnya dengan wajah datar.

“Kim Myungsoo bangunlah, ini sudah siang..” Ucap ibu sekali lagi.

Myungsoo mulai menggeliat masih dengan mata yang tertutup. Ia mengangkat tangannya dan melambaikan telapan dan jari tangannya mengisyaratkan agar ibunya pergi keluar dari kamarnya.

“Kim Myungsoo, cepat bangun atau-”

“Iya eomma.” Potong Myungsoo.

Ibu Myungsoo sudah mulai kesal dengan kelakuan anak yang ia lahirkan dua puluh tiga tahun lalu ini. Mengaku sudah dewasa tapi tidak sadar jika kelakuannya masih seperti bocah berumur lima tahun. Membawa segelas air di tangannya bukanlah tanpa alasan, ini untuk..

Byuuurrrr..!

Dengan rasa kaget luar biasa Myungsoo terbangun dari tidurnya. Seketika rasa kantuknya hilang berganti dengan dinginnya air yang mulai menembus kulitnya. Masih dengan wajah tak percaya ia memandang ibunya kesal.

Ya eomma!” Teriak Myungsoo.

“Sudah bangun?” Tanya ibu ringan.

Myungsoo mengeringkan wajahnya dengan selimut, “Aku bukan anak sekolahan yang harus dibangunkan dengan cara tidak manusiawi seperti ini. Lagipula hari ini aku libur kerja, eomma.”

“Iya memang.” Jawab ibu, “Tapi lihatlah sekarang sudah jam berapa. Kau ini sebenarnya tidur atau apa, tidur hingga belasan jam tanpa bangun sama sekali.”

“Dan bukankah memiliki janji bersama teman-temanmu hari ini? Mandilah sekarang atau perayaan tahun barumu akan gagal.” Lanjut ibu sambil berjalan keluar.

Baru kali ini Myungsoo menyesal karena sengaja tidak menyalakan alarm. Walaupun tidak bekerja, ia masih memiliki janji lain dengan sahabatnya. Ia memandang jam dinding kamarnya, gawat sudah pukul sebelas lewat dan ia harus sampai di rumah Yonghwa pukul dua belas. Perjalanan menuju villa milik keluarga Yonghwa tidak akan mungkin selancar itu, di hari seperti ini semua orang pasti akan keluar.

Myungsoo segera bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dengan cepat. Setelah selesai ia langsung berlari membuka lemari dan mengganti pakaiannya, menyisir rambut, dan tidak lupa menyemprotkan parfum aroma maskulin miliknya. Setelah berkaca sekali lagi dan merasa yakin bahwa dirinya sudah cukup tampan untuk hari ini, ia langsung menyambar sepatu dan dengan cepat memakainya.

Eomma sudah memasukkan pakaian untukku?” Tanya Myungsoo pada ibunya yang masih sibuk memasak di dapur.

“Semuanya sudah eomma masukkan.” Jawab ibu sedikit berteriak dari arah dapur.

Myungsoo mencium pipi ibunya tiba-tiba, “Terimaksih eomma. Aku berangkat.”

“Hati-hati, bawalah roti dan makan di perjalanan, kau belum sarapan, bukan?”

“Siap eomma!”

Jarak rumah Yonghwa tak begitu jauh dari rumahnya, hanya berbeda beberapa blok. Dengan sedikit berlari ia mengejar waktu untuk sampai di rumah Yonghwa. Setelah setengah perjalanan ia berhenti dan membodohi diri sendiri, mengapa ia harus berlari padahal ia memiliki motor yang bisa ia gunakan untuk mempercepat perjalanan. Mau kembali juga sudah terlanjur jauh, akhirnya Myungsoo melanjutkan perjalanan dengan menambah kecepatan berlarinya.

Sesampainya di rumah Yonghwa keempat temannya hanya memandang Myungsoo heran yang datang dengan nafas terengah dan keringat bercucuran.

“Kau berlari?”

Myungsoo hanya mengangguk menjawabnya. Dengan segera ia meletakkan barang bawaannya, duduk bersandar, dan menyambar entah minuman milik siapa yang ada di meja.

“Mengapa kau tidak membawa motor?” Tanya Nichkhun.

Setelah menghabiskan satu botol minum dalam sekali teguk Myungsoo menoleh, “Aku terlambat bangun dan aku terburu-buru.”

“Sampai lupa membawa motormu, begitu?” Sahut Mino bingung.

Sekali lagi Myungsoo hanya mengangguk mengiyakan. Yang lain hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas masing-maing, “Dasar bodoh..”

“Sudahlah ayo cepat kita berangkat, sebelum terlambat dan menghabiskan waktu malam tahun baru dalam kemacetan.” Ajak Myungsoo yang kembali membereskan bawaannya.

Kajja..” Yonghwa menyetujui dan langsung bersiap, begitu juga dengan yang lainnya.

Setelah semuanya siap dan barang bawaan mereka juga sudah masuk ke dalam bagasi mobil, mereka memulai perjalanan jauh menuju villa milik keluarga Yonghwa yang terletak di puncak.

“Ingat, kita akan menyetir secara beragantian.” Ucap Yonghwa mengingatkan.

“Tidak.” Tolak Myungsoo, “Aku tidak akan ikut menyetir. Kalian tahu aku sudah hampir mati berlari tadi. Aku ingin tidur saja sepanjang perjalanan.”

“Baiklah tuan reporter..”

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan mereka baru saja sampai. Apalagi alasannya jika bukan kemacetan panjang yang membuat perjalanan mereka menjadi lebih lama empat jam. Benar-benar gila. Semua orang benar-benar keluar hari ini. Tapi nasib baik masih berpihak, mereka masih bisa menunggu pergantian tahun di tempat yang sudah direncanakan sebelumnya.

Tahun ini memang benar-benar berbeda, bisa dikatakan tahun yang menyenangkan untuk mereka. Selain karena pernikahan Yonghwa yang akan dilaksanakan tak lama lagi, Mino juga mendapatkan kekasih untuk pertama kali dalam dua puluh dua tahun hidupnya, Nichkhun yang baru melamar Tiffany setelah tiga tahun menjalin hubungan, dan juga Baro yang akhirnya berhasil membangun rumah untuk kedua orang tuanya.

Malam berjalan begitu cepat tanpa terasa, bagaimana tidak sejak tadi Mino sibuk membicarakan betapa cantik dan baik kekasih pertamanya itu, dan betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan primadona seperti Jieun. Baro juga tak berhenti mengucap syukur pada Tuhan yang telah mengabulkan permintaannya selama ini, Baro memang benar-benar beruntung, baru sekali ia mengikuti undian yang diadakan oleh produk makanan kucing yang ia beli dan saat itu juga ia berhasil memenangkan undian. Nichkhun yang bercerita betapa mengharukan prosesi lamarannya, Tiffany yang tidak bisa berhenti menangis sesaat setelah Nichkhun berlutut dan memasangkan cincin di jarinya, ya semua orang tahu jika Tiffany adala pribadi yang sangat melankolis. Juga Yonghwa yang dengan bahagia menceritakan segala persiapan pernikahannya dengan Shinhye yang sudah mencapai tahap lima puluh lima persen. Sedangkan Myungsoo hanya tersenyum mendengar cerita bahagia keempat sahabatnya.

“Kau diam saja sejak tadi, tidak biasanya kau seperti ini. Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Baro.

Myungsoo hanya tersenyum, “Tidak ada yang bisa aku ceritakan, semuanya berjalan baik dan normal seperti biasanya.”

“Tidak mungkin. Majalah tempatmu bekerja, mungkin kau berhasil naik panngkat, atau mendapat kenaikan gaji..”

“Atau kau punya kekasih baru?” Sahut Mino.

Hening. Tidak ada yang bicara setelah mendengar ucapan Mino. Semuanya hanya memandang Mino seakan bicara –apa-yang-kau-katakan–. Kecuali Myungsoo yang hanya memandang kedepan dengan tatapan kosong. Ucapan Mino seketika membuat suasana menjadi cangggung. Mereka tahu betapa patah hatinya Myungsoo pada saat itu, saat Myungsoo harus berpisah dengan kekasih yang benar-benaria cintai. Kesibukan Myungsoo menjadi alasan utamanya, dan Jiyeon yang merasa tidak diperhatikan sama sekali oleh Myungsoo lama kelamaan mulai lelah dan memutuskan untuk menakhiri hubungan mereka.

Yonghwa menepuk pundak Myungsoo pelan, membangunkannya dari lamunan, “Sudah tujuh bulan berlalu. Jangan memikirkannya terlalu dalam.”

Myungsoo hanya terdiam tak menjawab. Kenangannya bersama sang kekasih tiba-tiba saja berkelebat dalam pikirannya. Setelah sekian lama tak pernah mendengar kabarnya dan berusaha melupakannya, kini kenangan itu datang lagi.

“Apa Jiyeon begitu istimewa?” Tanya Nichkhun hati-hati.

Setelah cukup lama terdiam akhirnya Myungsoo mengangguk. Awalnya ia mengira bahwa Jiyeon berbeda dari gadis lainnya, mengerti akan dirinya dan pekerjaannya. Tapi ia salah, ternyata Jiyeon tetaplah gadis yang butuh perhatian. Mungkin memang dirinyalah yang salah, Myungsoo yang terlalu tenggelam dalam pekerjaannya, Myungsoo yang hanya memikirkan diri sendiri.

“Oh ayolah..” Baro tertawa mencoba memecah kecanggungan, “Ini malam tahun baru. Saatnya membuka lembaran baru dan let’s move on..”

“Tahun baru tak selalu akan memiliki kisah baru.” Jawab Myungsoo datar, “Bisa saja memutar lagu lama atau hanya jalan ditempat.”

Seketika suasana kembali canggung. Sepertinya Myungsoo kembali terjebak dengan masa lalunya.

“Tapi sepertinya tidak buruk.” Sahut Myungsoo lagi tersenyum.

The new book with blank pages. Let’s write a bestseller!

Warni-warni kembang api mulai meledak diatas. Menandakan bahwa tahu telah berganti seiring dengan tawa bahagia kelimanya.

HELLO JANUARY!

-The End-

Huuwwwooooowww! HAPPY NEW YEAR ALL! Selamat tahun baru!

Aduh nggak terasa udah ganti tahun lagi ya, waktu memang berjalan cepat..

Semoga ya tahun ini menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Aku nggak males-malesan lagi kalo nulis /amin/ bisa update cepet /amin/ tugas sekolah dikurangin /amin/ dibeliin harddisk baru /aminbanget/ hehe

Ini deh aku kasih persembahan di suasana tahun baru ini..

Comment please yes!

Sarannya juga boleh kok~

18 responses to “[ONESHOT] Hello January!

  1. Thor,,,tak terima ini,,masa jiyeon hnya numpang lwt nama dan juga putus dr myungsoo..andweeeyo T.T tpii salah myungsoo seorang sih,,,terlalu cuek dan bekerja mulu..sebagaimanapun jiyeonnya pengertian ttp aja seorang gadis pasti butuh perhatian..haizhh..yah diawal lembaran baru pasti akan ªϑa͡ª hal baru..tng myungsoo..klo jiyeon mmg jodohmu..ia pasti akan balik lagi sisimu*ngarep* hahhahaha btw nice ff thor..dtggu next ff lainnya Чα”̮ ..
    Smngatttttttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s