[FICLET] Cinta Dalam Diam

tumblr-love-39

Author : blacksphinx

Main Cast : Park Jiyeon, Oh Sehun

Genre : Romance, Friendship, School Life

Rating : T

Length : Ficlet

credit gambar : google.com


“Namja seperti apa yang kau suka?”
“Apa kau hidup hanya untuk memikirkan namja? Jangan-jangan kau..”

Eunji mengalihkan pandangannya pada siapa yang sedang melangkah melewati dirinya dan Jiyeon. Awalnya Jiyeon tidak mengerti apa maksud Eunji. Namun setelah beberapa menit, akhirnya ia mengerti.

“Itu Sehun? Kau menyukainya?” tanya Jiyeon agak ragu. Sehun, murid SMA Seoul yang tiga tahun terakhir ini sekelas dengannya. Sikapnya dingin dan cuek membuatnya muak. Entahlah, Jiyeon merasa bosan karena pemandangan di kelasnya hanya itu-itu itu saja.

“Kau menyukai Sehun? Haha!!” tawa Jiyeon meledak. Eunji memayunkan bibir kesal dan pergi meninggalkan Jiyeon. Jiyeon masih tertawa, menganggap Eunji hanya bercanda. Mana mungkin seorang Jung Eunji yang periang menyukai namja seperti Sehun, pendiam dan cuek, Jiyeon juga sempat membencinya waktu pertama kali mereka berada di kelas sepuluh.

“Oh ayolah Jung Eunji.. diluar sana masih banyak yang lebih tampan daripada Sehun. Contohnya Jongin dan bukankah dia menyukaimu? Dia rela menjomblo hanya untukmu. Kau harus ingat itu!” cerocos Jiyeon tanpa henti dan tentu, ia tidak menyadari kahadiran guru Kang.

“Ehm. Nyonya Park, jika anda tidak ingin mengikuti pelajaran elektronika, sebaiknya anda keluar. Walaupun nilai anda sering menyaingi Kyungsoo, tetapi saya tidak akan memberikan keringanan untuk anda.”

Jiyeon seketika diam dan membuka bukunya. Baru kali ini ia kena marah gara-gara hal sepele. Sejauh ini, guru Kang tidak pernah memarahi muridnya karena ribut. “Mungkin ia sedang PMS,” ucapnya pelan, namun terdengar oleh Eunji.

Di barisan lain, ada yang memperhatikan laku Jiyeon, bibirnya membentuk senyuman tipis. Ia tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada yeoja se-freak Jiyeon.

Di kelasnya, Jiyeon terkenal sebagai periang, walaupun ia memiliki ekspresi wajah yang datar menjurus ngeblank, tak sedikit orang yang tertarik padanya. Dasarnya Jiyeon tidak pernah peka, ia tidak pernah menanggapi kode dari namja-namja itu.

“Kita akan praktik di lab, sekarang pergilah ke lab dan tunggu saja di depan lab. Saya akan kembali setelah mengambil kunci.”

“Ne,” jawab seluruh murid serentak.

Satu persatu penghuni kelas keluar dari sarangnya. “Kajja!” ajak Jiyeon penuh semangat. Eunji melirik sinis dan mengatakan, “Kau terlalu bersemangat.”

“Tentu, ini pelajaran yang paling aku sukai,” timpal Jiyeon percaya diri.

Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu lab. Jiyeon hanya terdiam tanpa mengucap sepatah katapun. Jika Jiyeon diam, artinya ia memperhatikan. Ia memperhatikan apa yang sedang dilakukan Eunji, Jongin, Kyungsoo, bahkan ia memperhatikan Sehun.

Rasanya sedikit aneh ketika memperhatikan Sehun, yang pada saat Jiyeon menoleh padanya, Sehun juga tengah memperhatikannya lalu buru-buru ia membuang muka. Rasanya Jiyeon ingin memberikan senyumannya pada Sehun, tapi, entah, ia tidak pernah bisa.

“Cie.. sekarang ceritanya jadi pendiam, heh? Jiyeon yang pendiam. Ah, rasanya tidak sama.”
“Apaan, sih?” cibir Jiyeon mendengar ucapan Eunji. Jiyeon kembali memperhatikan Sehun, aneh rasanya ketika hampir tiga tahun sekelas bersama, ia dan Sehun jarang berbicara, paling sepatah atau dua patah kata.

“Aku bingung, aku dan Sehun kenapa tidak bisa akur, ya?” Eunji menoleh mendengar kata ‘SEHUN’, telinganya sangat sensitif jika ada orang yang mengucapkan kata itu.

“Bukankah kalian baik-baik saja?”tanya Eunji kemudian. Baru saja Jiyeon akan menjawab, namun Guru Kang telah tiba di lab.

“… Jadi, kabel ini dihubungkan ke lampu led. Kesimpuannya…”

Jiyeon sama sekali tidak memperhatikan Guru Kang mempraktekan apa yang ada di kertas yang sedang ia pegang. Guru Kang tentu melihat siapa saja yang memperhatikannya. Ia merasakan tingkah Jiyeon yang aneh, hari ini.

“Silahkan mempraktekkan apa yang saja praktekkan tadi. Urut absen.”

“Ne, seonsangnim,” ucap Jiyeon malas. Ia kemudian memperhatikan gambaran yang ada di kertasnya. Jarinya mengikuti alur kemana kabel akan terhubung. Setelah ia benar-benar faham, ia segera meletakkan kertas itu dan memandang ke segala arah.

“Jung Eunji, Kim Jongin..”
“Ash, kenapa aku praktek dengannya,” keluh Eunji. Jiyeon terkikik mendengar keluhan Eunji, “Jodoh nggak kemana.”

Setelah lima menit, Eunji balik ke sebelah Jiyeon, “Dia terlalu bodoh untuk merangkai rangkaian itu. Senangnya kau akan praktek dengan Sehun.”

Jiyeon termenung sesaat, ia kemudian menghafal setiap absen dan, “Benar. Bagaimana, ya?”
“Bagaimana apanya? Sehun cukup pintar untuk bidang elektro. Setidaknya dia bisa membantumu yang sedari tadi hanya memperhatikan kertas itu. Kau membuang waktu.”

“Apa? Aku tidak-”

“Park Jiyeon, Oh Sehun.”

“Kenapa duluan? Bukankah masih lama?” gumam Jiyeon. “Urutan acak, namun masih dengan partnernya masing-masing.” Jiyeon memutar mata malas mendengar jawaban dari mulut Eunji.

Jiyeon berdiri dari posisi duduknya seraya memperhatikan Sehun. Ia tersenyum miring ketika melihat teman-teman Sehun seakan memberikan support padanya. “Memangnya mau pertandingan lari, hah..” sindir Jiyeon pelan.

“Ambil kabelnya disana. Lalu pasangkan,” ucap Guru Kang pada Jiyeon dan Sehun. Jiyeon menganguk mengerti, kemudian ia mengambil kabel, begitu pula dengan Sehun. Mereka berdua bekerjasama tanpa mengucap sepatah katapun. Hingga saatnya bagian terakhir.

Seperti biasanya, Jiyeon buru-buru mengambil kabel dari kotaknya. Akan tetapi..

Deg.
Segera Jiyeon mengangkat tangannya dan tersenyum kikuk. Kemudian ia mengatakan, “Kau saja yang memasangnya. Aku tidak keberatan.”

“Sebaiknya kita pasang bersama.”

Mengerti akan ucapan Sehun, Jiyeon mengambil salahsatu ujung kabel itu dan memasangnya bersamaan dengan Sehun. Mereka berdua tersenyum saat rangkaian itu telah terpasang dengan sempurna. Guru Kang memeriksa satu-persatu kabel itu, “Perfect. Silahkan kembali ke tempat duduk kalian.”

“Kau membuatku iri!!”
Sepulang sekolah, Eunji mengatakan hal itu kepada Jiyeon. Ia cemburu dan marah, namun ia tidak bisa membenci Jiyeon.

“Apa maksudmu?” langkah Jiyeon terhenti. Ia sungguh tidak mengerti.
“Kau berpegangan tangan dengan Sehun.”

“Kau melihatnya?” respon Jiyeon cepat. Eunji semakin kesal dibuatnya.

“Semua penghuni lab melihatnya. Mereka tidak akan melewatkan sang master elektro beraksi. Kau tidak lihat tatapan Sehun untukmu?” cerocos Eunji kesal.

“Tidak. Bukankah biasa saja?” Jiyeon asal menjawab. Sebenarnya ia juga merasakan bahwa tatapan itu berbeda.
“Bahkan Sehun sempat tersenyum samar. Aku melihatnya. Teman-teman Sehun juga berbisik sambil tersenyum riang.” Jiyeon semakin tidak mengerti.

“Ah, tidak mungkin. Kajja, kita pulang.”

Selama perjalanan pulang, Jiyeon terus saja terfikir akan hal yang baru saja terjadi kepadanya. Mana mungkin Sehun menyukainya? Hanya pikiran orang yang konyol yang menganggap Sehun menyukainya. Kejadian tadi sungguh tidak dsengaja.

Sesampainya di rumah, Jiyeon buru-buru memasuki kamarnya. Ia menghempaskan badan diatas ranjang.

“Aku kenapa, ya?” gumam Jiyeon pada dirinya sendiri. “Apa aku menyukainya? Tapi.. apa iya?”

Jiyeon terdia menatap langit kamarnya. Ia tersenyum membayangkan kejadian tadi. Lalu ia berguling di kasurnya. Akan tetapi ia teringat tentang tulisan yang telah ia baca di sebuah blog.

“Jika kau mencintai seseorang, lalu kau membayangkannya, kau akan tersenyum tanpa kau sadari.”

Jiyeon terduduk. Ia menggeleng pelan, “Tidak, aku tidak menyukainya.” Namun ia teringat akan sebuah tulisan.

“Efek pertama ketika kau jatuh cinta pada seseorang adalah penyangkalan. Kau akan melakukan penyangkalan bahwa kau tidak menyukainya.”

“AAAARRGGGHHHH!!!” teriak Jiyeon kesal. Yang dibawah, alias eomma Jiyeon bingung mendengarnya. Jarang, atau malah belum pernah Jiyeon berteriak seperti itu. “Kenapa kau berteriak?” pekik Nyonya Park dari dapur.

Jiyeon menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, “Pabo kau Park Jiyeon,” erangnya dalam hati.

“Ya!! Kau kenapa?” Jiyeon mendengar teriakan Nyonya Park lagi.

“Gwenchana Eomma!! Tadi ada kecoa di bawah kasur.” Sukses, Jiyeon sukses berbohong.

Keesokan harinya, Jiyeon melangkah di koridor sekolah dengan terburu-buru. Ia terlambat! Tidak, kali ini ia sangat terlambat. Ia tiba di depan pintu kelasnya.

“Beruntung belum masuk,” desahnya lega. Jiyeon segera melangkah ke tempat duduknya dan meletakkan tas di atas meja.

“Tumben telat,” sindir Eunji yang duduk di sampingnya. Jiyeon membalasnya dengan melirik Eunji, “Hanya lebih lima menit dari biasanya.”

“Hanya lima menit? Hey, itu kemunduran. Bagaimana mungkin kau yang biasanya sampai disini pukul 06.55 sekarang menjadi 07.00. Daebak!” Jiyeon mengangkat bahu tak peduli.

“Ah, lihat! Sehun memperhatikanku!” bisik Eunji kegirangan. Jiyeon menoleh ke arah Sehun yang saat itu juga Sehun memalingkan wajahnya.

“Lalu? Jika Sehun meperhatikanmu, aku harus apa?” Eunji mendesah mendengar jawaban Jiyeon. Ya, seperti itulah Jiyeon, cuek dan agak menyebalkan.

 “Segera kalian ke perpustakaan. Saya ada tugas untuk kalian semua. Tugas ini dikumpulkan paling lambat sepulang sekolah.”

“Ne.”

Jiyeon memperhatikan dengan cengo guru Kim yang memasuki kelasnya tanpa mengucap salam kemudian keluar lagi.

“Kau ingin mencari buku di mana?” Jiyeon menunjuk ke sebuah rak buku yang berisi buku-buku tebal. Eunji mengerti, kemudian ia berpisah dengan Jiyeon.

Jiyeon dengan teliti membaca judul satu persatu dari buku itu. Barangkali ia menemukan buku kimia yang sedang ia cari. Baru saja ia akan mengambil buku itu, ada sebuah tangan yang mendahuluinya. Jiyeon mendengus kesal, ia menengok ke samping, memberikan tatapan kesal pada siapa yang mengambil buku itu.

“Sehun-ssi, aku membutuhkan buku itu. Aku yang melihatnya duluan. S-“

Kata kata Jiyeon terhenti akibat ulah Sehun yang menciumnya singkat. Ia menatap Sehun tak percaya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Kau tidak akan mendapatkan buku ini karena kau telah mengabil sesuatu yang paling berharga yang aku miliki.” Dahi Jiyeon berkerut, ia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Sehun.

“Kita bisa membaca bersama. Mungkin akan lebih baik,” Sehun tersenyum dengan manis, membuat Jiyeon menelan ludahnya sendiri.

“Thanks, aku akan mencari buku yang lain,” ucapnya seraya membuang muka. Sehun mendengus dan berjalan meninggalkan Jiyeon.

“Dia membuatku gugup,” gumam Jiyeon. Untungnya buku itu tidak hanya satu di perpustakaan ini. Dengan mudahnya ia mendapatkan buku tadi(lagi).

Mood Jiyeon seakan tambah tak karuan ketika melihat bangku yang kosong hanya di sebelah Sehun. “My God,” erangnya kesal.

Sehun tersenyum ketika melihat Jiyeon duduk di sampingnya walau dengan ekspresi kesal. Mereka berdua larut dengan soal-soal yang mereka kerjakan. Setelah beberapa menit, ada sebuah soal yang tidak bisa Jiyeon kerjakan. Bertanya dengan Sehun? Ia terlalu gugup untuk itu. Kemudian ia teringat akan sebuah buku catatan.

“Ah, bukuku dimana, ya?” gumam Jiyeon sambil mengacak buku-buku yang ada di depannya. Ia teringat, buku itu tak ia bawa bersamanya. Segera Jiyeon keluar dari perpustakaan dan kembali ke kelas.

“Ah, kau disini.” Jiyeon mengembangkan senyumnya dan berbalik. Ia cukup terkejut melihat Sehun di belakangnya.

“Bisakah kau tinggal disini? Mungkin lima menit,” ucap Sehun dengan tatapan memohon yang siapapun pasti akan meleleh dibuatnya.

“Sebaiknya kita selesaikan dahulu soal-soal kimia itu,” ujar Jiyeon seraya berjalan menjauh dari Sehun.

“Aku sudah mengerjakannya untukmu,” Jiyeon berhenti melangkahkan kakinya. Ia bingung antara mengucapkan terima kasih atau tidak, “Aku bingung akan mengucapkan terima kasih padamu atau tidak. Tapi.. terima kasih.”

“Labil,” ucap Sehun, ia berbalik dan tersenyum kecil. Jiyeon pun sama. Mereka berdua terkunci dalam tatapan mereka selama beberapa detik.

“Apa alasanmu menyuruhku untuk tinggal?” Sehun mengeluarkan smirk miliknya, “Aku ingin mengatakan bahwa.. aku menyukaimu sejak lama. Saranghae.. Jiyeon-a.”

Jiyeon tersenyum kecil, “Ayolah, ini bukan saatnya bercanda, Sehun-ssi.”

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan embel-embel -ssi? Aku merasa, kau memang tidak ingin akrab denganku.”

DEG.

Jiyeon mengangkat kepalanya. Ia menatap kedua mata Sehun, dan ia menemukan kekecewaan disana.

“Baiklah, sepertinya kau benar, aku membuang waktu disini.” Sehun segera berlalu, akan tetapi Jiyeon membuka mulutnya.

“Aku juga menyukaimu..” Jiyeon mengatakannya dengan pandangan mata sedikit menoleh ke belakang.

“Lalu, bagaimana dengan Eunji? Dia sungguh menyukaimu, Sehun-a. Aku tidak mungkin menyakitinya.”

Sehun berbalik, tersenyum lebar dan memeluk Jiyeon dari belakang. Jiyeon membelalakkan matanya, ia sadar, ini di sekolah.

“Ini di sekolah!”

“Biarkan seperti ini beberapa saat.”

Jiyeon pasrah. Kemudian ia merasakan hadphonenya bergetar. Ada pesan masuk.

“Apa kalian sudah jadian? Chukkhae!! Aku harus mendapat traktiran dari kalian!!”

“Apa Eunji sudah mengetahui ini?” tanya Jiyeon pada Sehun.

“Hm, dia yang membantuku untuk mendapatkanmu.”

“Mwo? Bagaimana bisa?” Jiyeon melepas pelukan Sehun dan menghadapnya. Sehun  mengangkat bahu cuek. Ia sungguh malas menceritakannya.

“Intinya dia membantuku. Aktingnya juga cukup baik.”

“Dasar.”

Jiyeon buru-buru melangkah keluar dari ruang kelas itu seraya tersenyum, “Aku membencimu, Oh Sehun.” Sehun tersenyum lebar, ia berlari mengejar Jiyeon dan merangkulnya.

– END –

———

Haha I’m comebek~~

Maap kalau ceritanya ancur, typo dan menyesatkan, tapi aku nggak bermaksud untuk menyesatkan kok😀

Kritikan sangat diperlukan.. thanks for read and don’t forget to loeave a comment^^

Thank you

– blacksphinx –

28 responses to “[FICLET] Cinta Dalam Diam

  1. Gwiyeowo banget bagian Sehun langsung cium Jiyi waktu dia protes minta buku yang dipegang Sehun😄 akhirnya Jiyi mengakui juga kalo dia suka sama Sehun😄 ditunggu ff lainnya authot-nim ^^)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s