[Chapter – 1] SUNFLOWER

Sunflower

 

Sunflower

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, etc.

© Flawless

 

*

            Ada begitu banyak cara mengangumi di dunia ini

            Dan mengangumi dalam diam entah bagaimana menjadi satu-satunya pilihan terbaik…

 

Perpustakaan Sekolah. Satu dari sekian banyaknya tempat yang dianggap gadis ini sebagai tempat terbaik yang pernah didatanginya. Bukan tanpa alasan tentunya, selain karena kecintaannya terhadap beragam jenis buku, ia memiliki satu alasan lagi. Alasan yang pastinya akan dianggap alasan paling bodoh. Ya, hanya untuk melihat sosok jakung itu. Tidak sepenuhnya ia berinteraksi langsung, hanya matanya saja yang terus memandang keluar jendela untuk merekam semua aktifitas rutin sosok itu di lapangan basket. Sosok itu dipastikan memiliki wajah yang tampan, namun ketampanan bukan lah sebuah alasan mutlak gadis ini untuk menganguminya. Baginya sosok itu adalah sebuah anugrah. Ia mulai berlebihan lagi, ‘kan? Tapi biar lah, semua orang kan punya pendapat masing-masing.

 

Dia menutup buku tebal yang beberapa menit lalu sempat membuatnya jatuh cinta, begitu manik indahnya menangkap sosok itu melintasi lapangan basket dan memutuskan untuk duduk di bangku penonton. Demi apa pun, terima kasih kepada Tuhan, karena sosok itu duduk tepat di tengah bangku penonton, yang artinya benar-benar selurus dengan jendela tempatnya memperhatikan sosok itu. Kerutan-kerutan halus tercipta di keningnya. Pertanyaan silih berganti lewat di pikirannya. Apa yang membuat sosok itu terlihat frustasi? Apakah masalah yang dihadapinya sangat berat, sampai ia nyaris terilihat gila?

 

Gadis ini menelah susah payah salivanya, tat kala mata setajam elang milik sosok itu membuatnya terperangkap, nyaris tak bisa terlepas. Dia membalas tatapan itu, ada rasa penasaran dalam dirinya, seberapa lama ia mampu bertahan untuk menantang mata tajam itu.

 

“Masih menjadi pengagum rahasia. Ini sudah satu tahun. Tidak lelah, huh?”

 

Gadis ini tersenyum, mengalihkan pandangannya pada sosok gadis yang duduk di sampingnya. Tangannya saling tertaut, matanya berbinar, dan tawa kecil telah tercipta. Lalu dengan tenang dan sedikit bangga akhirnya ia membuka suaranya, “Bahkan semasa hidupnya, bunga matahari tak sekali pun berpaling dari sang matahari.”

 

Gadis itu, Bae Suzy memutar bola matanya bosan. Dia ingat betul kalau teman sebangkunya ini dulu tidak segila ini, sampai akhirnya temannya ini menemukan tujuannya. Seseorang –yang menurut temannya ini sebagai petunjuk arah untuknya. Sejujurnya, Suzy akan sangat turut bahagia kalau sosok yang dikagumi oleh temannya ini adalah orang yang berlatar belakang baik. Tapi ini, pria angkatan terakhir tahun ini yang jelas-jelas terkenal di seluruh Sekolah dengan sikap pemberontaknya. Anehnya lagi, pria itu tetap memiliki banyak pengangum, ya salah satunya temannya sendiri.

 

“Tapi kau bukan bunga matahari, Park Jiyeon.”

 

Park Jiyeon hanya mendengus mendapati dirinya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Biar pun ia membalas, jelas nantinya Suzy akan membalasnya dan membuatnya terpojok. “Memang bukan. Tapi, aku akan coba menjadi bunga matahari untuknya.”

 

Suzy mengambil buku tebal yang menganggur di atas meja, lalu memukulkannya ke kepala Jiyeon. Suzy terkekah seraya mengelus kepala Jiyeon. “Untukmu, mungkin saja kau bisa menjadi normal kembali.”

 

“Kalau begitu aku memilih untuk tetap berada dalam ketidak normal ini, kalau itu bisa memberikan kebebasan untukku menganguminya.”

 

“Terserah. Lagi pula, sampai mulutku berbusa menceramahimu kau tidak akan berubah, ‘kan?”

 

“Kau tahu,” cetus Jiyeon antusias. Ia kembali menolehkan kepalanya menghadap jendela. Pandangannya terpecah mencari keberadaan sosok jakung itu. Nihil, lapangan basket itu kosong. Bibirnya mengkerucut, dan akhirnya Suzy menjadi korban kekesalannya. “Lihat, dia pergi.”

 

Suzy mengangkat bahu dan tertawa tanpa dosa mendengar ada nada merajuk dalam suara Jiyeon. Sementara Jiyeon sendiri hanya bersengut-sengut akibat terbakar oleh kekesalannya.

 

*

 

Suara tawa tak henti-hentinya mengalun indah di lapangan olahraga. Nyaris semua yang berada di lapangan itu terbahak sampai memegang perut masing-masing. Tak terkecuali Park Jiyeon, gadis itu pun malah terlihat lebih heboh dari tiga orang temannya yang juga berlari tepat di hadapannya. Jangan ditanya, alasan pasti mereka berlarian seperti ini di lapangan dan ditengah terik matahari ini pasti karena terlambat masuk kelas sebab terlalu betah bercengkrama dengan kantin sekolah.

 

Park Jiyeon merasakan perutnya makin sakit akibat candaan yang dilontarkan oleh Sungjong . Ia tak henti-hentinya tertawa bahkan sampai teman-temannya sudah tak tertawa dan menatapnya dengan pandangan keheranan. Ia mengangkat bahu tidak peduli.

 

Nyaris dua putaran lapangan sudah mereka berlari, sampai akhirnya Jiyeon terhenti dan mendengus sebal setelah melihat bayangan Suzy sudah terlalu jauh di hadapannya. Ia menekuk lututnya seraya tangannya pun menyentuh lututnya untuk menopang tubuhnya sendiri. Ia mendongak merasa langit berputar-putar di atas kepalanya. Merasa pusing, ia kembali menunduk untuk menghilangkan efek-efek kelelahan yang nampak pada dirinya.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Nafas Jiyeon tercekat. Jantungnya langsung berdetak lagi diluar nalarnya sebagai manusia. Takut-takut ia dongakkan sekali lagi kepalanya untuk melihat apakah tebakannya benar mengenai sang pemilik suara itu. Sesaat rasanya waktu berhenti berdetak, dan Jiyeon merasa dunia benar-benar tengah berpihak padanya. Demi Tuhan, mimpi indah apa dia semalam sampai sosok idamannya datang dan menanyakan keadaannya. Ah, seperti ia tengah berada di surga kalau seperti ini.

 

“Hei, Park Jiyeon, kau baik-baik saja?”

 

Jiyeon mengernyit. Ini beda, suaranya berubah. Dan seketika fantasi liarnya musnah, dan membuatnya harus menelan pil kekecewaan yang begitu pahit. Ia hanya mengumbar sebuah senyum hambar pada Oh Sehun, si pemilik suara. Kepalanya mengangguk untuk memberikan jawaban baik-baik saja, namun tubuhnya justru berkata lain. Ia limbung, jatuh, dan pandangan matanya gelap.

 

Suzy bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya. Terlalu khawatir menunggu kapan temannya ini akan membuka matanya. Ia menebak, mungkin Jiyeon sedang asyik menikmati mimpinya bersama Pangeran idamannya. Memikirkan hal itu langsung saja membuat perut Suzy terasa terlilit, dan ingin muntah. Sepertinya ia mulai berlebihan.

 

Wajah Jiyeon nampak gelisah, peluh sudah membanjiri tubuhnya. Pun, ia bergerak-gerak tak jelas. Gadis itu sesekali berguman dan mengutarakan sebuah ancaman yang bermaksud melarang seseorang pergi. Lalu, setetes air matanya lolos begitu saja dari matanya. Gadis itu masih tahan dengan mata terpejam, sementara dirinya semakin histeris karena mimpinya sendiri.

 

“Hei, Jiyeon-ah..” Suzy mengguncang-guncang tubuh Jiyeon dengan kasar. Juga, ia memukul pelan pipi Jiyeon untuk menyadarkannya. Dan setelah usaha beberapa menit akhirnya sahabatnya itu membuka matanya, dan terlihat linglung. Ia memandang Jiyeon bertanya, seberapa buruk keadaan di alam bawah sadarnya?

 

“Suzy-ah, aku bermimpi buruk. Sangat-sangat buruk.” Ucap Jiyeon dengan nada ketakutan. Ia memeluk dirinya sendiri untuk meredam rasa takut yang berlebih semakin mengecamnya.

 

*

 

Jiyeon memilih berjalan kaki untuk sampai ke apartmentnya yang kebetulan berjarak lumayan dekat dari sekolahnya, dari pada harus memilih untuk di antar oleh Oh Sehun. Bukan apa-apa, hanya saja kalau ia ikut Sehun, dapat ia pastikan Suzy dan antek-anteknya akan menggodanya selama satu hari penuh dengan mengatakan ; Sudah terima saja. Sehun sangat menyukaimu, Jiyeon. Atau, lihat Pangeran menunggu untukmu Putri. Menyebalkan sekali, ‘kan? Makanya untuk menghindari hal tidak menyenangkan itu ia mengambil jalan seperti ini. Yah, walau harus membuatnya susah sendiri.

           

Gadis ini memperlambat laju jalannya. Entahlah ada perintah dari bawah sadarnya untuk menyuruhnya jangan terlalu cepat. Dan ia, dengan bodohnya mengikuti instruksi itu. Langkahnya lamban, nyaris menyamai siput yang bergerak. Namun, tiba-tiba senyumnya merekah lebar. Tenang saja, ada alasannya. Ia bukan orang tidak waras yang tersenyum tanpa alasan. Dari tempatnya bergerak, kira-kira 100 meter sosok jakung itu berjalan menuju arahnya, atau lebih tepatnya menuju arah yang berlawanan dengannya. Jiyeon menahan nafasnya ketika sosok jakung itu melewatinya. Aroma dari Bvlgari yang sangat kuat masuk tanpa ijin ke penciumannya, sontak saja membuatnya kelabakan sendiri. Setelah merasa jarak sosok itu sudah cukup jauh, Jiyeon melompat-lompat sendiri di jalanan, tidak peduli entah orang-orang mau menganggapnya aneh atau tidak. Yang jelas sekarang ia tengah berbunga-bunga. Juga, terima kasih kepada alam bawah sadarnya yang telah memperingatkannya untuk berjalan lambat, kalau tidak mungkin tadi ia sudah berbelok duluan sebelum sempat melihat sosok itu.

 

Jiyeon bersendandung riang selama perjalanannya. Hanya butuh waktu lima menit sampai ia berada tepat di depan pintu apartmentnya. Ia memasukkan password apartmennya, dan akhirnya ada bunyi pertanda pintunya terbuka. Jiyeon masuk, lalu melempar tas sekolahnya ke sembarangan arah. Ia berputar-putar sekaligus bernyayi lagu yang semuanya mengandung unsur-unsur orang yang sedang jatuh cinta, lalu detik berikutnya ia tertawa terbahak, menertawakan dirinya sendiri yang bertindak melenceng dari seharusnya.

 

Ia masuk ke kamarnya, dan memandang sebuah foto yang terbingkai rapih di meja belajarnya. Hanya foto dari samping memang, itu pun wajahnya hanya nampak sangat sedikit, tapi sudah membuatnya kembali berbunga-bunga. Istilahnya, seperti ada bunga yang mekar dalam tubuhnya. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Wajah pria itu nampak datang lagi dalam khayalannya. Mata tajam, yang selalu dipayungi oleh bulu mata indah, bibir yang tipis, hidung mancung, dan juga rahangnya yang tegas itu. Astaga, ia pasti sudah mabuk cinta sekarang.

 

“Ah, Seunbae, kalau saja aku berani.” Jiyeon menghela nafas frustasi. Sebenarnya sudah berkali-kali ia terpikir untuk mengungkapkan perasaannya, namun selalu gagal karena ia takut dan juga karena Suzy selalu menahannya dengan rentetan ceramah yang membuat telinganya kepanasan. Biar lah mereka mau berkata bagaimana, yang penting di matanya pria itu adalah sosok idamannya.

 

Jiyeon meraih ponselnya yang sudah berteriak dan bergetar di sampingnya. Ia melihat nama Sehun yang tertera dengan jelas di layar ponselnya. Gadis ini menarik nafas singkat, dan akhirnya memutuskan untuk menjawabnya.

 

“Ya, halo?” Jiyeon memulainya dengan nada santai dan bersahabat. “Sekarang? Tapi aku lelah.” Baiklah, ini cara penolakan yang halus, ‘kan? Ia tidak mau kalau besok mengetahui Suzy menceramahinya lagi karena menolak itikad baik Sehun. “Maaf, tapi aku benar-benar lelah. Bagaimana kalau lain kali?” Ini terpaksa dilakukannya, atau ia akan berakhir bertemu Sehun hari ini dan esoknya puluhan kalimat ejekan akan tertuju untuknya.

 

Jiyeon melempar ponselnya begitu saja setelah panggilannya dengan Sehun selesai. Ia termenung, berpikir apa lagi yang akan ia lakukan untuk mengusir rasa bosannya. Yah, sejujurnya ia ingin pergi dan mencari di mana keberadaan Mataharinya itu, namun rasanya ia seperti penguntit jika berlaku seperti itu. Ia menendang-nendang udara gemas.

 

Hampir tiga puluh menit berlalu hanya ia lewati dengan berpikir apa yang akan ia lakukan saat ini. Lama ia berpikir, akhirnya rasa kantung menyerang dirinya. Matanya sayu, sesekali terbuka dan tertutup. Ia menguap lebar, tangannya ia rentangkan di udara. Setelahnya ia meringkuk di atas ranjangnya dan jatuh terlelap.

 

*

 

Gadis itu berlari tergesa-gesa melawan waktu. Ia terlambat sepuluh menit, dan ia pastikan ia akan mendapat hukuman lagi. Gadis itu berhasil melewati gerbang Sekolah, namun naas baginya karena ia melihat sekeliling Sekolah tak ada siswa sepertinya yang masih berkeliaran, dan itu artinya aktifitas di dalam kelas sudah di mulai.

 

Ia menarik nafas dalam, mengambil oksigen sebanyak mungkin. Ia sudah kehabisan nafas setelah berlarian dari apartmentnya menuju Sekolah. Sialnya, bahkan dengan usaha sekeras ini ia masih saja tidak mendapat keringanan sama sekali.

 

Langkah kakinya nampak ragu-ragu untuk masuk ke ruang kelasnya. Dilihatnya Suzy sudah memberi kode agar masuk diam-diam, namun ketakutannya terhadap guru matematikanya, Han Yoo Jin membuatnya masih bimbang setengah mati.

 

“Park Jiyeon, tidak masuk?”

 

Jder. Jiyeon merasakan bulu romanya meremang tat kala suara dingin milik Han Yoo Jin masuk ke telingannya. Ia menunduk Sembilan puluh derajat pada pria pertengahan tiga puluh itu, meminta sedikit belas kasihan untuk keringanannya.

 

Han Yoo Jin melirik jam tangannya, lalu tersenyum sinis. “Dua puluh menit. Kau berdiri di luar sampai jam pelajaranku selesai.”

 

Jiyeon ingin mengumpat dan melemparkan semua isi hatinya yang kebanyakan adalah celaan pada gurunya itu. Ya Tuhan, masih dua puluh menit, dan lagi pula catatan pada papan tulis bahkan belum setengahnya. Dengan terpaksa ia berdiri di luar sembari menyadarkan punggungnya pada dinding. Hancur sudah, rasanya beberapa waktu ini ia sering mendapat hukuman. Entah karena kurang konsentrasi, terlambat, atau berbagai jenis kesalahan kecil yang dulu sangat jarang ia perbuat.

 

Bel pergantian jam berbunyi alahasil membuat Jiyeon bersorak sendiri di luar. Gadis itu menutup mulutnya seketika. Bukan, bukan karena Han Yoo Jin mendapatinya. Tapi, karena si pria idamannya itu lah yang mendapatinya, parahnya lagi pria itu memandangnya aneh. Bahkan Jiyeon menemukan ada kerutan di dahi pria itu hingga membuat alisnya saling beradu. Gadis itu menunduk takut. Mau ditaruh di mana wajahnya sekarang? Ia mengangkat kepala, lalu mencari keberadaan pria itu, dan ternyata si jakung itu sudah pergi meninggalkannya.

 

Jiyeon mendesah kecewa. Tidak ada percakapan, hanya mata yang sekali lagi saling beradu. Gadis itu ingin mendengar pria itu berbicara padanya, hanya sekali saja tidak apa. Bahunya merosot. Pagi-pagi begini moodnya sudah berubah buruk.

 

“Kau bisa masuk sekarang, Jiyeon-ah.” Suzy menegur Jiyeon yang masih setia berdiri di tempatnya. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Jiyeon karena tidak mendapat sedikit pun respon dari temannya ini. “Ya, Park Jiyeon!”

 

Jiyeon langsung mundur ke samping dua langkah dengan wajah yang sangat terkejut. Ia menutupi telinganya yang baru saja menjadi korban kekerasan dari Suzy. Ia mendekati Suzy dan mengguncang-guncangkan tubuh Suzy dengan kesal. “Aku tidak tuli, Bae Suzy!” Tegasnya setengah jengkel.

 

“Biar ku tebak. Pasti si Mataharimu yang membuatmu berfantasi liar lagi sampai tidak mendengarku.”

 

Jiyeon hanya memberikan senyum tiga jari, dengan wajah memelas pada Suzy. Diperhtikannya ekspresi Suzy yang berubah kesal dengannya. Temannya itu berkacak pinggang di depannya.

 

“Nyatakan perasaanmu. Kalau dia menerima, kau bebas. Sebaliknya, kalau dia menolak, lupakan dan berikan kesempatan pada Sehun.” Suzy berucap dengan nada berapi-api. Solusinya bagus, ‘kan?

 

Jiyeon melayangkan pukulan kecil ke kepala Suzy. Ya Tuhan, kalau bukan karena ia takut, pasti dari satu tahun lalu ia sudah mengatakannya. Dan ini lagi, Suzy tanpa berpikir malah menyuruhnya bertindak seperti ini. Aneh. “Bicara dengannya saja aku takut, bagaimana mungkin aku bisa.”

 

“Dasar bodoh, kau bisa menyatakannya lewat surat.”

 

Jiyeon terbahak. Memangnya sekarang zaman batu sampai harus surat-menyurat. Yang ada nanti akan berakhir lebih buruk dari perkiraannya. “Kau aneh-aneh saja, Suzy-ah.”

 

“Aku serius, Park Jiyeon. Kau harus mencobanya.”

 

Gadis itu terlihat menimbang-nimbang pemikiran Suzy. Sebenarnya tidak salah, tapi ia tetap saja takut. Masalahnya kalau ia ditolak, maka ia harus berhenti. Memikirkan hal itu saja sudah cukup membuatnya frustasi sendiri. Apa lagi kalau hal itu benar-benar terjadi, bisa-bisa ia menangis berhari-hari di kamarnya.

 

“Tapi..”
“Kau harus coba. Suratnya kau selipkan saja di lokernya.”

 

Jiyeon mengangguk pasrah dengan usulan Suzy. Lalu mereka berdua masuk ke dalam kelas. Sementara Suzy sibuk berceloteh dengan Krystal, Sulli, dan Eunji, ia malah harus menguras otaknya untuk merangkai kata.

 

Perlahan-lahan ia menuliskan isi pikirannya mengenai pria itu di satu lembar kertas. Sesekali ia tersenyum, dan sesekali pipinya nampak bersemu merah. Ia memandang kertas itu yang sudah setengah terisi oleh kalimat-kalimat. Tinggal baris kalimat terakhir dan ia akan selesai.

 

Karena kau adalah matahari untukku, satu-satunya arah yang memberiku tujuan, satu-satunya di dunia ini dan tak tergantikan.

Sunflower.

 

Jiyeon melipat suratnya, dan memasukkanya dalam sebuah amplop berwarna biru langit. Senyum manis tercetak di bibirnya. Ia memandang suratnya selama beberapa menit, sampai Suzy menepuk punggunya dan menyadarkannya dari lamunannya.

 

“Selesai?”

 

Ia mengangguk puas. Dan menunjukkan amplop kecil itu pada Suzy dengan bangga.

 

“Pasti isi suratnya tidak jauh-jauh dari matahari dan bunganya, ‘kan?”

 

Jiyeon mendengus. Suzy benar-benar mengetahui seluk beluk dirinya. Bahkan tanpa perlu ia beritahu gadis itu sudah mengetahui isi suratnya, meski tidak secara keseluruhan. “Jadi?”

 

“Aku akan menemanimu saat istirahat.”

 

Jiyeon hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya mengepal, seolah memberikan dirinya sendiri sebuah semangat untuk tidak mundur. Ini usaha pertama dan terakhirnya, setelah ini mungkin saja sosok jakung itu tidak akan menjadi bagian dari dirinya.

 

*

            Jiyeon melirik ke samping kanan-kiri, memastikan tidak seorang pun yang melihatnya. Setelah yakin, ia menyelipkan suratnya dengan tangan yang bergetar hebat. Selesai, ia langsung menjauh dari loker pria itu. Baru sepuluh langkah ia berjalan, ia mendengar ada langkah lain yang mendekat, sontak ia terdiam. Bunyi loker yang terbuka itu semakin membuat jantungnya melakukan olahraga. Tidak sekarang, ia belum siap sama sekali.

 

Jiyeon melanjutkan langkahnya dalam diam, tidak berani membuat suara sama sekali. Takut kalau orang itu mendapatinya sekarang bagai seorang pencuri.

 

Pria itu mengangkat sebelah alisnya melihat sebuah amplop berwarna biru langit itu. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kertas. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi entah kenapa kali ini ia tergelitik rasa penasaran untuk melihatnya. Ia membuka lipatan kertas itu hati-hati. Dibacanya setiap kata demi kata yang tertulis dengan sangat rapi di kertas itu. Ia mengukir sebuah senyum tipis. Lalu, kepalanya menoleh mencari keberadaan sang pemilik surat.

 

“Hei, kau..”

 

Jiyeon membeku. Itu pasti bukan dirinya. Ia masih melanjutkan langkahnya, lalu suara panggilan itu kembali menyeru. Kali ini ia berbalik, menghadap sosok jakung itu dengan keringat dingin yang mengalir dari keningnya. Ia menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.

 

“Iya, kau. Ini milikmu,‘kan?” Itu bentuk penyataan. Dan anggukan dari Jiyeon sudah memberikan jawaban untuknya. Ia memandang Jiyeon menilai. Lalu wajahnya berubah dingin. “Aku suka dengan semua penilaianmu terhadapku..” Ia menggantungkan kalimatnya untuk melihat ekspresi apa yang dibuat oleh gadis itu. Benar saja, ada binar bahagia di mata gadis itu. “Tapi maaf, aku bukan orang yang pantas untuk menjadi matahari untuk gadis sepertimu.” Usai kalimatnya pria itu membuang surat itu di tempat sampah, dan berjalan melewati Jiyeon begitu saja.

 

“Myungsoo Seunbae..” Suara Jiyeon bergetar. Gadis sepertimu. Memangnya ia gadis seperti apa? Apa pria itu menganggapnya tidak baik karena sudah mendapatinya terkena hukuman. Tapi itu hanya kesalahan kecil. Kepala Jiyeon terasa pening. Lalu, air matanya tidak bisa lagi ia tahan. Butuh waktu satu tahun baginya untuk berani bertindak, namun setelah berani ia mendapat penolakan secara keras seperti ini. Ditambah wajah dingin pria itu saat berbicara padanya. Bumi tolong telan aku sekarang, ia merintih dalam hati.

 

Kata mereka kesalahan terbesar dari cinta adalah selalu buta, bodoh, dan egois. Dan itu benar, karena aku masih seperti ini. Masih menjadi bunga matahari untukmu sekali pun kau tidak ingin menjadi matahari untukku.

****

P.s : Nah, bagi yang bertanya-tanya kenapa aku post ini padahal HSL belum tamat, walau aku bilang waktu itu ini harusnya di post setelah HSL tamat. Tapi, berhubung aku mau buat HSL jadi sedikit lebih panjang, jadilah ini aku post barengan sama HSL. Dan untuk ff ini, aku gak tau ini sesuai harapan atau malah jadinya maksa.

Jadi mohon dimaklumi aja kalau rada-rada, kan penulisnya juga masih amatiran.

Kalau ada kritik dan saran silahkan disampaikan. Aku menerima masukan kok. Juga maaf, selama ini nyaris gak pernah balas komentar kalian, tapi aku baca semua kok dan rata-rata buat aku senyum gaje. Kalau gak sibuk aku usahain buat balas komentanya.

Okay sampai sini cuap-cuapnya. Bye-bye

Dan Happy New Year (padahal belum waktunya) *plak🙂

45 responses to “[Chapter – 1] SUNFLOWER

  1. Wahhh ksihan jiyeon, d tlak sm myungsoo. Pdhal jiyeon kan udh lma ska sm myungsoo. Sia sia deh smua prjuangan. Tpi kyknya jiyeon gak bkal nyerah deh beda sm aku yg psti bkal nyrah dan lngsung bnci myungsoo/? Hehe.next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s