( Chapter 1 ) All Of Sudden

T-ara Jiyeon ELLE Magazine (5)

Title : All Of Sudden

Author : renhikai

Genre : Romance, Friendship, School Life, Comedy

Rated : PG-15

Main Cast :
• Park Jiyeon (T-Ara)
• Kim Myung Soo (Infinite)
• Choi Minho (SHINee)
• Irene Bae (Red Velvet)


Jiyeon POV

Aku menatap jauh menerawang kedepan sana, pandanganku kini tertumpu pada sekolompok siswa yang tengah asyik dengan kegiatan mereka, dilihat dari seragam yang mereka kenakan, aku yakin mereka adalah siswa-siswa anggota basket.

Sontak aku memejamkan mataku saat aku bisa menyadari kehadirannya, ia ada disana masih ditemani wajah tampa expresinya yang seolah tak pernah memudar, aku bisa melihat kadangkala senyuman tipis terukir dibibirnya saat beberapa dari temannya berbicara kepadaya, mungkin mereka sedang membicarakan hal yang menyenangkan.

Hembusan angin terasa dingin menerpa kulit wajahku, mataku sungguh tak pernah terlepas dari sosoknya. Hati-hati sekali aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku rok seragamku dan…

Klik..

Klik..

Tahu kan apa yang sedang kulakukan? Yap, aku sedang memotretnya diam-diam dengan memakai ponselku. Mungkin jika ada siswa/siswi yang menyadari kegiatanku ini, mereka akan menganggap aku adalah sosok yang sangat aneh, stranger…Ughh, entah mereka akan menyebutnya apa aku sebenarnya tidak peduli, yang aku pedulikan sekarang hanyalah dia. Yeayy! Aku mempunyai foto-nya yang baru lagi.

Kini mataku memandang antusias beberapa hasil bidikanku, hasilnya tidak buruk malah bisa dikatakan cukup bagus. Kini aku baru menyadari ada juga untungnya bagiku mengikuti kelas fotografi seperti yang disarankan eomma.

“ Jiyi?”

“ Ne?” Jawabku singkat pada sosok didepanku, ia terlihat agak sedikit kesal, tapi aku berusaha tidak peduli dan kembali menatap foto-foto yang tadi aku potret secara diam-diam.

“ Ya ampun kau melakukannya lagi? Jiyi, jebal hentikan tingkah konyolmu itu sekarang juga. Kalau kau memang menyukainya kau bisa berterus terang padanya bukan malah seperti ini. Aigo, aku bisa gila Jiyi.”

Tersenyum, meskipun hanya senyuman miris yang entah pantas disebut senyuman. Hanya itulah yang dapat kulakukan sekarang, mengelak pun tak mungkin lagi, Irene pasti sudah menyadarinya dan kini ia pun dengan tidak tahu malunya menunjuk-nunjuk kesal ponsel ditanganku.

Irene memutar matanya bosan menyadari sifat keras kepalaku. “ Serius, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Jiyi. Iya sih, dia anggota basket, dan aku amat sadar semua siswa yang terkumpul disitu keren-keren, tapi kan dia tidak terlalu mencolok, kenapa kau harus menyukainya sih?”

Aku terkekeh tampa suara mendengar perkataan panjang lebarnya, segera saja kusimpan kembali ponselku ditempat biasa aku menyimpannya. Aku menggelengkan kepalaku tak mengerti, kenapa wanita yang satu ini begitu keras kepala soal urusanku? Oh ya, aku lupa, dia sahabatku.

Kutatap wajah merenggut sahabatku yang jujur saja terlihat lucu dan menggemaskan ini. “ Pernah dengar kalau kau tidak akan menemukan alasan yang masuk akal ketika kau mencintai seseorang?” Sosok yang kini sudah berada tepat disampingku terlihat gusar dan sedikit tidak nyaman dengan pertanyaanku, hei apa ada yang salah?

“ Jiyi! Kau meledekku ya? Kau kan tahu aku belum pernah mencintai seseorang!”

Eh, bodoh sekali aku baru menyadarinya sekarang. Sahabatku yang cantik ini benar-benar akan sangat kesal jika membahas tentang cinta dan apapun hal yang ada sangkut pautnya dengan cinta. Tahu kenapa? Karena seperti yang ia katakan tadi, ia belum pernah jatuh cinta.

Mianhe…” Ujarku sambil memasang wajah semenyesal mungkin, konyol sekali, aku malah ingin tertawa sekeras yang aku bisa.

Okay, bagaimana kalau kita ke kantin saja? Itu lebih baik daripada kau bad mood seperti ini Irene sayang.” Irene, ya itu nama sahabatku yang tengah memberenggut ini. Bukankah nama yang sangat bagus? Wajahnya juga tak kalah bagus, mungkin karena dia adalah seorang blasteran Korea-Amerika. Eh, kelakuannya juga, bisa dibilang..Irene wanita terbaik yang pernah kutemui.

Irene tersenyum riang kearahku, aku merasa hal yang buruk akan menghampiriku. “ Okay, good idea Jiyi…Tapi kau yang membayarinya ya?” Benar kan?

Sebagagai jawaban atas pertanyaannya atau mungkin lebih pantas dikatakan pernyataannya barusan, aku tersenyum dan mengangukkan kepalaku tanda setuju.

“ Yeayy! Kantin! I’m coming!” Satu lagi yang menjadi ciri khas Irene, dia selalu bersemangat dalam hal apapun.

“ Kenapa berhenti?” Irene menatapku bingung saat aku menghentikan langkah kedua tungkaiku, aku hanya menggeleng dan terus menunduk menatap ujung tali sepatuku. Serius, aku tak memiliki cukup keberanian ssekarang bahkan hanya untuk sekedar mendongak. Aku tidak tahu kenapa…Aku hanya sedikit gugup.

Sedikit? Kau bercanda Jiyeon? Kau bahkan terlihat seperti seorang napi yang akan menghadapi hukuman mati, dan kau masih mengatakan ‘sedikit gugup’?

“ Irene, aku ke-perpustakaan saja, aku lupa ternyata aku belum menyelesaikan tugas biologi Kim seonsaengnim?
Bohong! Aku tidak mungkin sebodoh itu, mana mungkin aku berani tidak mengerjakan tugas biologi yang akan dikumpul sehabis waktu istirahat ini. Gila kali, aku bisa digantung Kim seonsaengnim, ia paling tidak suka ada salah satu dari murid di kelasnya yang tidak mengerjakan tugas. Bisa mati muda aku kalau benar-benar melakukan hal itu.

Irene menaik turunkan alisnya menyebalkan, seolah ia tak percaya benar dengan perkataanku. Aku tebak, dia pasti sadar aku membohonginya. Irene berusaha menarik tanganku untuk mengikutinya, tapi saat matanya menangkap objek didepan sana, dengan cepat pegangan eratnya merenggang.

“ Jiyi…Minho?” Bisik Irene seraya menatap bergantian kearahku dan Minho. Yap, Minho adalah orang yang sama dengan siswa basket yang ku-potret barusan. Ughh, Minho adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku bertingkah bodoh seperti ini.

Aku menggeleng. “ Aku mau ke perpustakaan saja…” Terlambat, Minho sudah menyadari keberadaanku dan Irene yang memang sudah seperti patung penjaga dengan berdiri dengan raut wajah aneh dikoridor sekolah. Ya tuhan, apa Minho baru saja tersenyum? Kenapa dia begitu manis sih?

“ Aku harus pergi Irene, jebal…” Benar, aku harus pergi dari sini, sebelum aku berteriak kegirangan.

“ Yak!! Jiyi!!” Mianhe Irene.

Aku mencengkram ujung rok seragamku erat, senyumanku sedari tak pernah berhenti untuk bisa muncul. Aigo, bahkan Minho hanya tersenyum, tapi kenapa aku bisa seheboh begini? Bagaimana pula kalau dia berbicara kepadaku? Awww, kurasa aku mulai gila!!

Dan lagi, ia bisa saja tidak berniat untuk tersenyum kearahku, bisa saja senyuman manis Minho itu ditujukannya untuk Irene. Tapi aku tidak peduli! Eomma, aku jatuh cinta lagi, kepada orang yang sama lagi!

“ Aaaaaa!!”

Membayangkan senyuman Minho yang barusan, membuatku tidak sadar memekik kesenangan, lagian siapa yang mau peduli. Bukankah sangat jarang ada orang di perpustakaan di waktu istirahat seperti ini, semuanya lebih memilih untuk menghabiskan waktu sekarang di kantin sekolah. Benar kan, tidak ada siapapun-

“ Hey…”

-Disini.

Tubuhku mendadak kaku untuk beberapa detik. Ada orang lain ditempat ini selain aku, bahkan aku tidak mengenal siapa laki-laki itu. Okay, dia memang memakai seragam yang sama denganku, tapi serius..Baru kali ini aku melihatnya.

“ Ya?” Aku tersenyum kaku kearahnya, wajahnya terlihat campur aduk saat menatapku. Oh astaga! Tidak salah jika ia merasa aneh sekarang, tingkah-ku barusan memang sungguh memalukan, dan parahnya lagi itu hanya karna sebuah senyuman yang tidak jelas. Jiyeon pabo!

“ Apa kau baik-baik saja?” Dan aku sama sekali tidak sadar saat pria

asing itu menghampiriku dan mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajahku.

“ A-aku baik-baik saja..” Sungguh, ini sangat memalukan.

Pria didepanku tersenyum sehingga membentuk lengkungan menyerupai bulan sabit dikedua matanya, dan…Yeah, dia mempunya lesung pipit juga. “ Santai saja, aku tidak akan bertanya alasan kenapa kau berteriak dan tersenyum seperti tadi.” Mungkin niat pria ini hanya ingin menenangkanku dari sikap gugupku, tapi kenyataannya aku malah semakin gugup saat ia mengatakan itu.

Okay, aku minta maaf dan..Oh ya, namaku Kim Myungsoo..” Pria itu..Eumm, maksudku Myungsoo menjabat tangan kakuku. Aku serius jika mengatakan baru kali ini ada seorang laki-laki yang menyentuh tanganku selain appa dan beberapa kerabatku…Yeah, maksudku orang yang asing.

“ A-aku Park Jiyeon..” Aku mencoba bersikap biasa, tapi sialnya cara bicaraku masih menegaskan bahwa aku adalah orang aneh.

Myungsoo lagi-lagi tersenyum, apa baginya tersenyum begitu menyenangkan? “ Aku akan memanggilmu Jiji ya? Aku siswa pindahan, jadi kau adalah teman pertamaku,”

Jiji? Rasanya asing sekali, baru kali ini ada orang yang memanggilku dengan nama yang sedikit aneh itu. “ Terserah, asal jangan memanggilku Park saja.” Tapi entah kenapa aku senang saat Myungsoo memanggilku seperti itu.

Kali ini Myungsoo tertawa, apa ada yang aneh dengan ucapanku? Atau mungkin wajahku kini menyerupai badut penghibur massa sekarang?

“ Tidak kusangka masih ada stok orang pemalu di kota seperti Seoul ini, padahal di Busan-pun aku jarang menemuinya.” Jadi Myungsoo pindahan dari Busan ya? Tapi…Eh, apa barusan dia menyebutku ‘pemalu’? Aku bukan pemalu, hanya sedikit…Penyendiri mungin.

“ Aku tidak yakin, mungkin kau kurang teliti saja mencarinya.” Dan Myungsoo tertawa lagi. Lupakan! Aku sudah bosan berperan jadi badut di situasi seperti ini. Itu sangat menyebalkan ketika kau berbicara dan teman bicaramu terus-terusan tertawa padahal kau sedang tidak menceritakan lelucon apapun.

“ Jadi..” Myungsoo memberikan jeda sebentar hanya untuk mencoba meredam suara tawanya yang mulai menyebalkan. “ Salam kenal Jiji, seperti yang kukatakan, kau teman pertamaku disekolah ini.” Myungsoo tersenyum tulus kearahku, aigo! Dia manis sekali, mungkin aku harus mengenalkannya pada Irene, siapa tahu Irene menyukainya, dan bisa merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.

“ Salam kenal juga Myungsoo.” Dan Myungsoo adalah teman keduaku setelah Irene di sekolah ini.

“ Jadi, sebagai generasi muda, kalian harus selalu mengingat peran penting sejarah dalam hidup kalian, jangan pernah melupakan sejarah, karna sejarah tercipta bukan untuk dilupakan tapi untuk dikenang dan diperhatikan sebagai acuan untuk menjalani masa depan…”

Bla bla bla bla bla dan bla

Beginilah suasana kelas jika pelajaran sejarah sedang berlangsung. Membosankan, satu kata itu sudah menegaskan betapa rumitnya pelajaran yang satu ini. Ma

ksudku, aku bahkan lebih memilih mempelajari rumus-rumus mematikan semacam Kimia dan Aritmatik atau sekalian saja mempelajari hal-hal mesum semacam Biologi.
Tapi ini sejarah! Ya tuhan, aku bahkan tidak berminat menghapal tanggal demi tanggal, waktu demi waktu dimana sebuah sejarah secara bergilir terjadi.

“ Ya Kai, ada yang ingin kau tanyakan?” Jung seonsaengnim menatap dengan mata berkaca-kaca kearah Kai yang kini tengah mengangkat tangannya dengan senyum yang tak terlepas dari bibirnya. Ya, mungkin Jung seonsaengnim merasa terharu karna semenjak dia mempunyai riwayat mengajar sejarah dikelas XI-A, baru kali ini ada sejarahnya seorang siswa ingin bertanya kepadanya.

Yosh! Kalau sejarahnya begini sih, aku akan selalu mengingatnya. Jarang sekali kan ada pertanyaan dari siswa dipelajaran sejarah? Dan pertanyaannya itu dari Kai yang sudah terkenal dengan sifat tidak mau tahunya tentang pelajaran. Huaa! Aku benar-benar penasaran apa yang akan ditanyakan Kai.

Kenapa Korea memutuskan untuk terpisah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara?

Kapan revolusi Prancis dilaksanakan?

Kenapa rasisme begitu kental bahkan hingga saat ini?

Atau mungkin yang lebih ekstrim, Kai akan menanyakan-

Mengapa Adolf Hitler mempunyai bentuk kumis yang begitu menyeramkan?

“ Apa sejarah memang harus dikenang ssaem?” Tanya Kai polos yang langsung dijawab anggukan penuh semangat dari Jung seonsaengnim.

“ Iya Kai, kalau bisa selamanya.” Balas Jung seonsaengnim mantap tampa menyadari senyum licik Kai. Huh? Entah kenapa aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi.

“ Lalu bagaimana dengan sejarah cintaku ssaem? Apa aku harus selalu mengenangnya ssaem? Tapi kalau aku mengingatnya, susah move-on sayanya ssaem.”

What the…? Kim Jong In, pertanyaan macam apa yang kau ucapkan itu?

“ Hahahaha…”

“ Bunuh saja si Kai ssaem!”

“ Aku penasaran apa sejarah cinta si bodoh  itu tertulis di ensiklopedia?”

“ Hahaha, tarik nafas dalam-dalam ssaem.”

Dan masih banyak lagi komentar-komentar konyol yang muncul akibat pertanyaan yang tidak jauh lebih konyol dari Kai. Aku menahan nafasku mencoba menutupi rasa geliku. Tiba-tiba saja aku merasa khawatir dengan nasib Kai, mungkin setelah ini dia akan mendapat kabar buruk yang lebih buruk diatas yang buruk.

Kembali aku memutarkan pandanganku, menjelajahi penghuni kelas yang berusaha meredam tawanya masing-masing. Sayang sekali Irene dan Minho tidak berada di ruangan yang sama denganku. Mereka berdua sekelas, ya di kelas XI-B…Dan jujur saja, aku kadangkala iri dengan Irene karna hal itu.

“ Jiji, kau tidak ikut tertawa?” Aku menoleh kaget saat mendengar suara yang begitu tidak asing dan..Yeah, aku mulai terbiasa dipanggil dengan nama aneh itu.

“ Myungsoo? Kau dikelas ini juga? Sejak kapan?” Tanyaku beruntun tampa bisa menutupi rasa bingungku. Myungsoo hanya menggeleng-gelangkan kepalanya saat melihatku, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa kecewa-nya. Ya, aku terlalu peka, tapi aku bingung kenapa orang-orang dihidupku tidak pernah peka akan perasaanku, seperti Minho mungkin.

“ Yang benar saja? Aku duduk tepat dibelakangmu dan kau sama sekali tidak menyadari keberadaanku?” Racau Myungsoo frustasi, aku hanya menundukkan kepalaku merasa bersalah tidak berani menatap wajah Myungsoo.

Mianhe..” Bisikku pelan, tak yakin Myungsoo dapat mendengar ucapanku karna suasana kelas yang begitu riuh akibat insiden Kai barusan, Myungsoo menatapku tidak yakin tapi akhirnya ia mengangguk pelan, syukurlah.

“ Tapi nanti pulangnya bersamaku ya.”

“ A-apa?” Kulirik ragu sosok Myungsoo yang kini tersenyum penuh arti kearahku, aku masih tidak bisa mencerna dengan jelas apa maksud perkataan dari Myungsoo. Okay, sudah jelas ia mengajakku pulang bersamanya, tapi untuk apa? Padahal belum genap 24 jam aku mengenalnya, oh kerang ajaib…Eotteokhae?

“ Jangan salah sangka begitu Jiji, aku harus mencari rum

ah teman dari eomma-ku, menurut yang dikatakan eomma, rumah itu tidak jauh dari sekolah ini.” Jelas Myungsoo seolah menyadari kekalutanku, melihat wajah panik-nya yang begitu menggemaskan aku jadi ingin tertawa.

Okay, sekarang saatnya bersikap biasa. “ Rumah?” Tanyaku pura-pura bingung-ralat- aku benar-benar bingung, tapi…Ya, aku tidak terbiasa terlalu akrab seperti ini dengan orang lain, terlebih itu laki-laki.

“ Ne, dan rumah itu akan menjadi tempat tinggalku untuk sementara ini.”

Baiklah, tampaknya sedikit berbuat baik tidak apa-apa. Selain itu, anggap saja ini sebagai tanda resmi pertemanan kami…Eumm, ‘kami’ yang kumaksud disini ialah aku dan Myungsoo , entah kenapa aku merasa janggal dengan sebutan ‘kami’.

“ Baiklah..” Dan tepat saat aku memutuskan untuk mengiyakan permintaan Myungsoo, ia untuk kesekian kalinya tersenyum. Entah untuk yang keberapa kalinya dalam hari ini, mungkin dia semacam smiley maniac.

“ Baiklah anak-anak, kalian boleh pulang sekarang, jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian…”

Aku melirik sekilas Jun seonsaengnim yang selalu mengenakan tampilan yang matcing, entah kenapa..Yang jelas seonsaengnim yang mengajarkan bidang study Aritmatika itu akan selalu merasa terhinakan jika memakai pakaian abcd. Maksudku, jika Jun ssaem mengenakan baju biru, celana ataupun rok yang dipakainya pastilah biru, tas-nya juga harus berwarna biru, membawa buku biru, kacamata berframe biru, pulpen berwarna biru. Yang jelas semuanya harus fokus pada satu warna.

Meski banyak siswa dan siswi yang mengeluhkan tentang style Jun ssaem yang aneh itu, aku sih tidak ada masalah selama Jun ssaem belum memasukkan rambut kedalam list matching-nya. Aku bergidik ngeri membayangkan Jun ssaem yang mengenakan wig pink imut-imut. Bisa dibayangkan tidak sih? Lebih baik tidak perlu dibayangkan…Mirip Lady Gaga, dan itu menggelikan.

“ Dan kau Kai, tolong berhenti membuat permasalahan disekolah ini, kalau saya jadi Jung ssaem sudah saya adukan kelakuan memalukanmu itu pada orangtuamu.”

Aku menggeleng saat tampa sadar bertemu pandang dengan mata coklat kelam milik Kai, ia meringis tapi tak urung akhirnya mengiyakan perkataan Jun ssaem. Kini aku kembali terfokus pada buku-bukuku yang tergeletak secara acak, ini pasti Irene yang mengacak-acaknya. Irene kan berniat menyalin catatan kimia-ku dan benar saja aku tidak menemukan buku itu lagi disini.

Tiba-tiba senyuman manis Minho tadi pagi berputar-putar lagi dikepalaku, memaksaku tersenyum riang saat mengingatnya. Oh ya, mungkin nanti aku harus men-stalk akun twitter Minho lagi, meski aku bukan salah satu dari sekian banyak follower-nya. Aigo, keberanianku belum cukup sebesar itu sampai aku berani mem-follow akun Minho.

Yess!! Sudah tidak sabar pulang kerumah…Eh, aku baru ingat dengan janji membantu Myungsoo menemukan rumah teman eomma-nya. Yah, tertunda-kan rencana saya men-stalk anak orang,hiks.

“ Jiji, janji harus ditepati kan?”

“ Menurutmu?” Aku memberenggut kesal menatap Myungsoo yang sudah stay cool dengan sebuah tas ransel yang ia sandarkan disebelah bahunya, ucapannya itu secara tidak langsung mengatakan seolah aku adalah seorang yang suka mengingkari janji.

“ Yaa, kau serius sekali Jiji, aku hanya bercanda kan?” Jelas Myungsoo sambil langkah kakinya yang mencoba mengejarku. Bukan mengejar si namanya, cara jalanku tidak secepat itu, Irene-lah yang cara jalannya seperti robot, cepat, tangkas, dan tepat..Apa lagi ini -_-

“ Ya, hanya bercanda..” Aku berusaha mengatur nada bicaraku sedingin mungkin, tapi tangan Myungsoo malah dengan ringan merangkul tanganku, mengayun-ayunkan kedua tangan kami seperti anak kecil yang sedang bersenang-senang. Ouchh, ini mulai menyebalkan.

Jebal Myungsoo, jangan membuat malu disini!” Aku yang mulai risih dipandangi dengan tatapan yang sungguh siapapun tidak ingin mendapatkan tatapan seperti itu mulai menarik tanganku, tapi sialnya Myungsoo seakan tidak peduli dan…Hell no! Sekarang ia malah memasang wajah tampa expresinya.

Myungsoo memang menunjukkan ciri-ciri akan menjadi flower boy disekolah ini, wajahnya memang jauh diatas rata-rata, jadi wajar saja jika berpasang-pasang mata kini menatap tak suka kearahku, tidak masalah aku terbiasa ditatap seperti itu, bukan hanya kali ini saja.

Dibanding dengan Irene, aku memang sangat jauh bertolak belakang,

jika Irene adalah sosok yang ramah maka aku adalah sosok yang kaku kepada orang yang masih terasa asing bagiku. Jika Irene adalah sosok yang anggun dan feminim, lain pula halnya denganku yang terkesan cuek dan mungkin tomboy. Jika Irene adalah sosok yang sangat popoler disekolah ini, maka aku hanya sebatas orang aneh yang lebih memilih menyendiri di perpustakaan.

Benar-benar sangat berbeda bukan? Tapi aku sendiri bingung kenapa sampai sekarang aku dan Irene begitu akrab. Dengan kepribadian kami yang tidak ada miripnya sama sekali, aku yakin mustahil kami bisa menjadi sepasang sahabat, aku dan Irene bahkan sudah bersahabat sejak aku belum mengerti apa arti sesungguhnya dari sahabat.

“ Apa kau begitu senang melamun?” Aku menatap bingung Myungsoo yang kini menatapku sama bingungnya, ia terlihat sedikit risih saat beberapa siswi anggota cheers menatapnya penuh minat dengan suara cekikan yang sengaja dibuat seimut mungkin.

“ Lebih tepatnya aku sangat senang memikirkan nasib orang-orang ini, mereka sangat bodoh tapi malah tidak menyadarinya dan mereka menolak apabila ingin diberitahu bahwa mereka bodoh, dan yang lebih bodoh lagi, mereka malah mengatai orang lain bodoh.” Freak, aku benar-benar kesal sekarang, apalagi saat menyadari tatapan mencemooh dari sekelompok siswi yang berdiri tak jauh didepan sana. Ya tuhan, bisakah aku mencakar wajah-wajah itu?

Myungsoo menjentikkan jari-jarinya didepan wajahku. “ Wow, tampaknya kau berbakat untuk menulis semacam penjelasan ilmiah tentang orang bodoh.

“ Aku tersanjung, gomawo.” Myungsoo tertawa mendengar nada sinisku, kaitan tangan itu telah terlepas, dan aku merasa sedikit lebih lega sekarang. “ Myungsoo, bisa aku melihat alamat rumah teman eomma-mu itu? Mungkin aku mengenal tempatnya.” Myungsoo tersenyum sekilas sebelum akhirnya mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi dari dalam saku celananya.

“ Ini..” Myungsoo terdiam dan menatapku dengan tatapan yang terlihat aneh, mungkin ia menyadari tingkah kikuk-ku. Myungsoo, aku juga tidak ingin terus-terusan bersikap seperti ini, tapi entah kenapa saat melihat wajahnya aku merasa orang-orang disekelilingku mendadak menghilang.

“ Eumm…Dia Choi Minho bukan?” Benar dia Choi Minho, sosok aneh yang dengan lancangnya membuat aku jatuh cinta padanya, lagi dan lagi.

“ Benar, kau mengenalnya?” Demi tuhan Myungsoo, aku sangat ingin mengalihkan pandanganku dari sosoknya didepan sana. “ Orang-orang sering membicarakannya Jiyi..”

Aku mengangguk, seolah membenarkan ucapan Myungsoo. Memang masih ada yang tidak mengenal Choi Minho si kapten basket? Kurasa jawabannya tidak. “ Aku tahu…” Dan tepat saat itu, aku merasakan seolah waktu mendadak terhenti saat tatapan bertemu pandang dengan sorot tajam milik Minho. Minho tersenyum dan…Ya, aku tahu, Myungsoo sangat terkejut saat aku menggenggam erat tangannya. Myungsoo, apa aku sedang bermimpi?

“ JIYIII!!!”

Kurasakan sepasang tangan memeluk erat leherku, tidak! Dia bahkan lebih pantas dikatakan mencekik leherku. Okay, cukup Irene, aku butuh oksigen sekarang! Dan itu tidak akan terlaksana jika kau terus mencekikku seperti ini, kau ingin membunuhku ya?

“ Yak! Pabo! Lepaskan tanganmu! Aku tidak bisa bernafas!” Aku mendesah lega saat akhirnya tangan terkutuk Irene minggat dari leherku. Kerang ajaib, jika ia melakukannya sekali lagi, aku bersumpah akan membuat dia menyesal mengenal seorang Park Jiyeon.

“ Temanmu Ji?” Oh baiklah, Myungsoo kelihatannya sangat senang memanggilku dengan nama yang sesingkat-singkatnya. Tadi Jiji, lalu baru saja ia memanggilku Ji, aku penasaran apa ia akan memanggilku J?

Tatapanku kini teralih pada Irene yang menatapku dengan mata berkaca-kaca andalannya, 11-12 dengan tatapan anak anjing-salah-anak kucing yang kehilangan induknya. “ Aku tidak mengenalnya!” Ujarku dingin sambil memasang wajah seangkuh-angkuhnya. Sungguh, seharusnya aku memotret wajah tidak percaya Irene barusan, terlihat menggemaskan sekali.

“ Aishh, jeongmal? Kau melupakan sahabat penyimpan segala aib-mu ini Jiyeon sayang?” Jangan salah dengan wajah malaikat milik Irine, ia bisa berlaku seperti titisan Lilith saat sedang kesal dan…Ouchh, lihat sekarang ia dengan ganasnya mencubit pipiku, apa sekarang Irene menganggap pipiku adalah seonggok tanah liat yang bisa dibentuk menjadi apapun?

Appo…Yak, lepaskan tanganmu Irene! Cukup, ini sungguh sakit pabo! Irene, jebal..” Aku terus memohon pada Irene untuk menghentikan tindak anarkisnya ini, aku percaya jika setelah ini pipiku pasti memerah dan membengkak.

“ Jiji, gwaenchanha?” Myungsoo menatapku prihatin. Arghh, Myungsoo, kau masih menanyakan keadaanku sekarang? Tapi tidak apa-apa, aku terbiasa mendapat perlakuan bar-bar semacam ini dari Irene, hiks.

“ Jiji?” Myungsoo menatap lekat kearahku, aku tahu Myungsoo kau pasti ingin menanyakan apa Irine benar-benar manusia atau penjaga neraka.

Irene menyenggol pelan bahuku, tampaknya ia sekarang sadar akan kehadiran Myungsoo disampingku. “ Jiji itu siapa Jiyi? Siapa laki-laki disampingmu ini?” Bisik Irene berusaha tak terlalu mengeraskan volome suaranya, tapi terbukti gagal saat Myungsoo menatap bergantian kearah aku dan Irene dengan tangan pria itu yang menggaruk-garuk belakang tengkuknya salah tingkah.

“ Dia Myungsoo teman sekelasku, dan Myungsoo, kenalkan namanya Irene…Irene memang sedikit bar-bar tapi sebenarnya dia baik.” Irene kali ini mencubit pinggangku, apa yang salah? Yang kukatakan benar kan?

“ Baiklah, aku harus pergi sekarang Jiyi sayang, setelah ini kau harus menceritakan semuanya kepadaku ya honey, jangan merindukanku ya!” Aku menatap Irene tak yakin, awalnya aku kira dia sedang kesal karna aku terus mem-bully-nya sedari tadi didepan Myungsoo, tapi ketika Irene mengedipkan sebelah matanya kearahku, aku sadar dia hanya sedang terburu-buru dan…Yeah, aku harus bersiap mendapat rentetan pertanyaan dari Irene.

Myungsoo POV

Entah untuk yang keberapa kalinya aku menatap kertas ditanganku, aku tidak heran jika kegiatan mencari rumah ini memakan waktu yang cukup lama. Ini Seoul bung, bukan sekedar kompleks perumahan, seperti yang saat ini aku alami, sudah hampir seharian ini aku dan Jiji menjelajahi sekitar Seoul hanya untuk mencari alamat yang tertulis di kertas ini.

Aku melirik kecil kearah Jiji, keadaannya tidak lebih baik dariku, wajah lelah yang berusaha untuk ditutupinya dengan mudah dapat terlihat olehku. Awalnya kukira dengan mengajak Jiji, misi aneh ini dapat dengan mudah diselesaikan, dan kenapa aku memilih mengajak Jiji? Tentu saja, mana mungkin aku mengajak gadis-gadis bodoh-yang entah siapapapun itu aku tak mau tahu yang bah

kan aku hanya menatap mereka tapi mereka sudah terlebih dahulu seperti orang kesetanan. Kadang menjadi tampan mempunyai cobaan tersendiri, tcih.

“ Eoh eomma, aku sekarang tidak jauh dari rumah kok. Apa? Kita mempunyai tamu spesial? Ayolah, eomma jangan bercanda, mana mungkin aku bisa sampai dalam waktu lima menit lagi? Arasseo, aku pulang sekarang…”

Jiji menatap gusar ponselnya-yang sebenarnya tidak mempunyai kesalahan apa-apa disini, tapi aku merasa Jiji begitu ingin menelan ponsel-nya bulat-bulat saat si penelopan yang kuyakin adalah eomma-nya memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Pabo Myungsoo, kau membuat orang lain mendapat masalah karena-mu.

“ Myungsoo…”

Sejujurnya aku tidak suka ditatap seperti itu. “ Gwaenchanha Jiji, kau pulang saja, biar aku yang mencarinya sendiri.” Tegar Myungsoo! Kau bisa melakukannya, jangan hanya karna kau selama ini tinggal di Busan, kau bisa bertindak seperti orang kolot disini, jangan permalukan wajah tampanmu Myungsoo. Okay, aku pasti bisa! Halte disebelah kanan, supermarket disebelah kiri, taman umum agak kebelakang sedikit dan perumahan elite didepan sana..Tunggu!

“ Aku merasa tidak enak de…” Aku tidak memedulikan Jiji lagi, kini bahkan mataku lebih tertarik mencocok-kan alamat yang ada didalam kertas dengan yang tertempel dimasing-masing rumah didepanku. Yes!! Itu dia rumahnya! Ya ya ya, aku tahu aku memang pintar dan tampan tentunya. Satu paket complete, aigo..Beruntungnya gadis yang akan mendapatkanku.

“ Yak! Kau mau kemana?” Teriak Jiji berusaha menghentikan langkahku, tapi ini tentang masalah hidupku selama tiga bulan kedepan. Tidak mungkin rasanya jika namja tampan sepertiku menjadi gelandangan mendadak. Argh eomma, kau menelantarkan putramu ini.

Hosh-larimu bahkan-hosh-lebih cepat dari-hosh-Irene…” Jiyeon menghampiriku dengan muka memerah bahkan tatapan mendeliknya masih setia menemaniku walau aku sudah berusaha mengabaikannya. “…Tunggu, Myungsoo apa yang kau lakukan disini? Cepat menyingkir! Ya tuhan, aku bisa mati muda!”

“ Jiji, kau kenapa sih?” Gantian aku yang mendelik kearah Jiji, tapi gadis itu seakan tak peduli dan masih berusaha menarikku menjauh dari depan pintu rumah baruku. “ Yak! Hentikan Jiji!” Beberapa orang yang kebetulan berlalu lalang menatap aneh kearahku dan Jiji, jangan panggil aku Myungsoo jika aku peduli dengan orang-orang itu, ini rumah baruku, jadi-

Ting Tong Ting

“ Kenapa kau malah membunyikan bel aneh itu?”

Oh tuhan, berapa kali harus kukatakan ini adalah rumah baruku? “ Jiji, ini rumah yang…”

“ Eh, kau pasti Myungsoo yang sering diceritakan Hyeri itu ya, bibi pikir kau tidak jadi datang?” Aku dan Jiji sama-sama terdiam saat seorang wanita yang mengenakan apron polkadot dan kira-kira seusia eomma-ku menghampiri kami dari balik pintu dengan wajah riangnya. Menghampiriku lebih tepatnya, ini kan rumah baruku dan Jiji tidak tahu apa-apa, kkk~

“ Benar bibi, aku mendapat sedikit masalah tadi, jadi datangnya agak terlambat.” Aku menampilkan senyum termanis yang aku miliki. Eh, bukankan senyumku selalu manis? Oh baiklah, lupakan saja. Aku menoleh menatap Jiji. ‘Apa kubilang?’ Itulah yang ingin kukatakan sebelum aku melihat wajah terkejut dari Jiji, ada yang salah?

“ Jiyi, kau mengenal Myungsoo? Tamu spesial yang eomma katakan tadi?”

Suprise, aku benar-benar terkejut. Oh saus tar-tar, dunia ini begitu sempit.

-TBC-

yeayy! akhirnya selesai juga, walaupun mungkin masih banyak typo -_- tapi…its okay-lah^-^

Thanx for reading all*chu+xoxo ^-^

©renhikai

56 responses to “( Chapter 1 ) All Of Sudden

  1. Wkwk udh nge duga klo myungsoo psti bkal tnggl d rmhnya jiyeon. Prtma sih kiranya klo yg d fans jiyeon itu myungsoo eh trnyta minho. Tpi kurasa minho ska sm irene deh secara mrka juga skelas gitu. Dan entar jiyeon bkal suka sm myungsoo klo myungsoo sih krasa dia udh suka sm jiyeon deh. Hehe next^^

  2. Waaaaaaa, jiyeonnya berasa kayak stalkernya minho deh. Minho kegantengen ya sampek membutakan jiyeon
    Tapi myungsoo gak kalah ganteng kok, lebih ganteng malah(?) *karena bias gue myungsoo ;p
    Daebakkk, jiyeon satu rumah yah sama myungsoo. Beruntung banget gilak

  3. Kau konyol bgt.. ℑαϑɪ teringat msa msa sekolah… ale…. minho suka seyum seyum… entah ke jiyi atau irene tu.. next…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s