Clash (Chapter 3)

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Support Cast :

  • Krystal Jung
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

Jiyeon’s PoV

Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there’s no right answer

 

Angin berhembus mengisi celah di antara kami. Waktu seakan berjalan melambat. Membiarkan kami bercengkrama dalam diam.

Senyum itu yang membuat tubuhku diam tak bergerak. Siluet jangkungnya terpantul di tanah. Tatanan rambutnya terkibas oleh angin. Mulut tipisnya yang ia tarik dikedua sisi, membentuk dengan sempurna. Membuat kedua kelopak matanya nyaris tertutup.

“Kim Myungsoo?”

Bahkan lidahku sedikit kelu mengucapkannya.

“Mengapa kau menatapku seperti itu?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Mengembalikanku ke alam sadar.

“Apakah aku begitu tampan sampai membuatmu tidak mengedipkan mata.”

Sungguh menjengkelkan. Aku mendengus pelan. Hatiku kembali gusar begitu menyadari Myungsoo mulai mempersempit jarak di antara kami.

Kini wajahnya terlihat jelas dari dekat. Akh, aku baru sadar ia memiliki bentuk hidung yang enak dilihat.

“Ekhem,” ia berdehem mencairkan suasana, “Sekarang kau tau aku.”

Perlahan kedua sudut bibirku tertarik, membentuk senyuman tipis.

—o0o—

Lapangan yang cukup besar itu dipenuhi kegiatan murid. Para lelaki itu tak peduli teriknya matahari. Mereka asyik bermain bola. Memperlihatkan kelincahan mereka. Dan sesekali berseru senang karena mencetak gol.

Sementara aku duduk di tepi lapangan. Mengamati aktifnya teman-teman pria dalam menggiring bola. Mungkin lebih tepatnya mengamati sesosok pria yang kini tengah menguasai bola.

Kulit pria itu mengkilap basah karena keringat. Tubuh jangkungnya dengan lihai memainkan bola, mengecoh lawannya. Ia menyorakan diri begitu bola yang ia bawa masuk ke dalam gawang.

Sembari memperhatikan gerak geriknya, aku mengingat kejadian di foodcourt kemarin, dimana secara tidak sengaja aku menabraknya.

YA! Jiyeon!”

Suara barrington itu menghancurkan lamunanku. Menyadarkanku bahwa ia dan teman-temannya balik menatapku. Kedua alisku bertautan melempar tanya.

“Kemarikan bolanya!” teriaknya mengarahkan dagu ke arah bola.

Bahkan aku tidak sadar bola sudah menggelinding di dekat kakiku. Aku berdehem pelan seraya meraih bola dan melemparkannya.

Gomawo,” serunya, seru Kim Taehyung.

“Jiyiii!!!”

Kututup kedua telingaku dengan tangan. Merasa tercemari oleh suara cempreng yang jelas kukenali.

“Kau tidak ikut bermain?” tanya Krystal menggelayut di samping tubuhku.

Pernah aku berpikir, sepertinya Krystal ini kurang belaian semenjak putus dari pacarnya setahun lalu.

Belum sempat aku menjawab, Suzy mengekor di belakang Krystal. Lantas gadis itu duduk di sampingku sambil menghela nafas.

“Permainannya seru,” ujarnya.

Olahraga kali ini bebas, berhubung gurunya tidak bisa hadir. Seperti yang kubilang, anak laki-laki bermain bola sedangkan anak perempuan –oh entahlah- sepertinya mereka asyik bermain bola kasti yang tak jelas aturannya. Aku lebih memilih menyimpan energiku untuk ulangan kimia nanti.

“Mengapa kalian di sini? Kalian tidak melanjutkan bermain?” kataku jelas bukan menjawab pertanyaan.

“Aku sudah saja,” ujar Suzy memperlihatkan kaos olahraganya dibanjiri keringat. Aroma tubuhnya langsung tercium, membuatku bergidik.

“Aku masih ingin main kasti, tapi kau ikut ya,” rengek Krystal.

Sirheo, kau main saja sendiri.”

“Kau sakit?” tanya Suzy.

Aniy. Nan gwenchana.”

“Aaa!” seru Krystal mengacungkan jari telunjuknya di udara, membuatku dan Suzy memandangnya heran, “Kau—”

Krystal melihatku dengan tatapan menyidik, “—sedang memperhatikan Taehyung yaa.”

Ledakan tawaku pecah seketika. Kaku jelas, karena yang terbahak hanyalah aku. Suzy dan Krystal saling memandang.

“Hahaha itu tidak lucu,” sahutku.

“Itu memang tidak lucu. Kau yang tertawa,” celetuk Suzy.

“Ah, ngomong-ngomong bagaimana hubungannya?” tanya Krystal, nada suaranya dibuat-buat serius.

“Hubungan apa?”

“Aish, kau dan Taehyung.”

“Mwosun suriya?”

“Kejadian di foodcourt kemarin, kami benar-benar terkejut.”

Tidak hanya kalian aku pun juga, batinku.

“Kau tidak ada apa apa kan dengan Taehyung?” kali ini Suzy angkat bicara.

YA,” ujarku malas, “Kejadian itu tidak sengaja. Tidak ada ‘latar belakang’ yang aneh.”

Jinjja?” tanya Krystal.

“Mm.”

“Awas saja jika kau tidak cerita pada kami.”

Aku tertawa singkat mendengar peringatan Krystal, sambil mencubit pipi gadis itu gemas.

“Bagaimana dengan Myungsoo?” pertanyaan Suzy selalu terdengar enteng, tenang, dan— to the point.

“Aku sudah bertemu dengannya,” angguku.

MWO?!” seru Krystal berlebihan, “Bagaimana? Kau sudah melihatnya?”

Aku mengangguk dua kali.

“Pokoknya kau tidak boleh dengan Myungsoo!” ujar Krystal tiba-tiba.

Wae?”

“Kau tidak tau? Dia itu memiliki pikiran kotor seperti keset itu,” celoteh Krystal menunjuk salah satu keset di sebelah lapangan. Suzy tersenyum menahan tawa.

“Bagaimana kau tau dia seperti itu?” tanyaku.

“Dia satu kelompok denganku dulu saat kita kemah. Dia pula yang mengatur-ngatur kelompok. Dia itu sok berkuasa, pikirannya sangat kotor. Iiih, aku tidak suka.”

Aku terdiam sejenak mencerna omongan Krystal. “Kelihatannya dia tidak seperti itu.”

YA, kau harus percaya padaku,” yakin Krystal. “Ah, dia satu SMP dengan Taehyung kan?”

Sontak aku yang awalnya sedikit mengabaikan penuturan Krystal, kini menatapku temanku dengan serius.

“Satu SMP?” ulangku.

“Kau tau kan bagaimana tingkah Taehyung di kelas. Dia itu sukanya melakukan hal hal ambigu,” jelas Krystal. “Suzy, kau juga tau itu kan.”

Suzy bergeming tak bisa berkomentar.

“Memangnya jika mereka dulu satu SMP, mereka memiliki tingkah yang sama begitu?” dengusku.

“Tapi mereka itu sebelas dua belas, Jiyi! Aku sendiri yang pernah satu kelompok dengan Myungsoo.”

Diriku lebih memilih mengalah berdebat dengan Krystal. Meski sedikit tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu tak peduli. Toh, baru sekali aku bertemu langsung dengan Myungsoo.

—o0o—

Aroma jeruk nipis tercium di dalam ruangan dengan cat dinding merah muda. Satu spring bed dengan sprei bermotif polka berada di sudut ruangan itu. Beberapa foto gadis kecil menempel di dinding.

 

“Kau tidak tau? Dia itu memiliki pikiran kotor seperti keset itu.”

 

Perkataan Krystal mengiang dalam benakku. Memantul dalam ruang kosong pikiranku.

 

“Ah, dia satu SMP dengan Taehyung kan?”

 

Gelisah aku memutar tubuhku ke kanan kiri. Mengguling gulingkan badan di atas kasur sambil memeluk guling kesayanganku. Sesekali aku mendesah frustasi.

Aku duduk menyilangkan kaki dengan kasar. Mencoba memikirkan sesuatu. Merasa tak mendapatkan apa-apa, aku kembali meringkuk. Sesikit demi sedikit aku memejamkan kedua mataku dalam damai.

.

.

KRING!

Salah satu tanganku meraba-raba permukaan meja. Mencari alat yang terus berdering dan memaksanya untuk membuka kedua bola mata. Aku menekan tombol jam weker sehingga tak ada bunyi nyaring.

Malas, aku merenggangkan kedua tangan, mengulet seperti biasa. Kedua kakiku diseret menuju kamar mandi.

Setelah beberapa menit, aku sudah siap di hadapan cermin. Terdapat diriku yang lain di sana. Memakai seragam jas hitam dipadukan rok di atas lutut. Rambutku yang panjang disisir perlahan. Kali ini aku menggerai rambut dengan bando sebagai perhiasan.

“Yeon-a! Sarapan sudah siap!” teriak ibuku.

Ne!”

Terlihat di ruang makan hanya ada ibuku yang sibuk menata piring dan sendok. Keluarga kami tidak terbiasa makan bersama di rumah. Lebih sering makan bersama di luar.

“Duduklah,” perintah ibuku.

Aku menurutinya. Kutarik salah satu bangku sambil mengambil semangkuk nasi. Sup ayam, lagi. Aku menghembuskan nafas menatap santapan yang hampir sama tiap harinya sebelum aku berangkat sekolah.

“Hari ini kau tidak perlu menyusul ke butik. Eomma akan menjemputmu di sekolah.”

Baru satu suap aku menghentikan kunyahanku. Melihat eomma yang masih membersihkan bar dapur, “Wae?”

Eomma banyak urusan. Butik harus tutup hari ini.”

“Bukankah ada karyawan?”

“Itu tidak bisa—” ujar eomma sambil melepaskan celemeknya, “—eomma tidak bisa meninggalkan butik sendirian pada karyawan-karyawan muda itu.”

Aku hanya mengangkat bahu berusaha memahami pilihan eomma. Setidaknya itu bagus untukku, bisa mengirit uang saku dan tidak perlu mencegat busway.

.

.

Tanganku melambai ke udara begitu aku turun dari mobil putih yang kutumpangi. Setelah mobil itu semakin menjauh, aku mulai melangkahkan kaki. Masuk ke dalam gedung sekolah.

Belum ada yang datang di jam sepagi ini. Aku menarik nafas menikmati udara segar. Yang kulihat hanyalah pria tua yang sering berkeliling membersihkan sekolah. Aku tersenyum tipis saat melewatinya.

Satu per satu kakiku meniti anak tangga. Pintu berderik terdengar saat aku membukanya. Seorang pria dengan kedua telinga tersumpal earphone terlihat duduk santai di bagian paling belakang.

Aku melengos saja dan memilih untuk duduk paling depan. Mengaitkan tasku di bagian bawah kursi.

“Hey, kau!”

Pria itu bersuara, namun aku pura-pura tidak mendengarkannya.

“Kau, yang duduk paling depan!”

Aku mendesah keras sambil menengok ke belakang.

Tanpa menunggu persetujuanku, ia melemparkan sebuah buku. Kali ini daya reflekku kuat, aku menangkap buku itu tanpa merusaknya.

Gomawo,” ujarnya kembali bersantai.

Mulutku mengerucut. Buku yang ada di tanganku bergetar karena aku menahan emosi.

YA! Kim Taehyung!”

Untung saja kelas ini masih sepi, tak ada siapa-siapa kecuali makhluk itu.

Aku tahu ia sedang mendengarkan musik karena itu aku mengomel tak jelas, “Dasar ayam babon! Tidak tahu berterima kasih! Awas saja lainkali tak akan kupinjami lagi.”

“Kau pikir aku tidak bisa mendengar?”

 

Dor!

 

Satu jackpot mengenai sasaran. Aku membeku di tempat. Mulutku terkatup rapat. Untuk beberapa saat aku hanya terbungkan. Hingga ia melepas kedua earphonenya seraya beranjak berdiri.

Makhluk yang jarang memekai jas sekolah –hanya memakai kemeja putih- itupun dasinya tak karuan, berjalan mendekatiku. Sekujur tubuhku semakin mematung saat postur tubuh tingginya menjulang tepat di hadapan mejaku.

Sejenak ia membiarkan dirinya menatapku. Lama. Bagiku itu waktu yang lama, dirinya mempermainkanku. Aku mengerutkan kedua alis, masih terdiam seribu bahasa.

Ketika ia mencondongkan tubuh, reflek aku memundurkan wajahku.

“Dewi Pencatat, sebaiknya kau diam saja—” ucapnya dibuat-buat, “—daripada kurobek mulutmu.”

Setelah itu ia melengos sambil melirikku. Melemparku dengan tatapan meledek.

Aku tertawa singkat. Tercengang dengan perkataan kasarnya. Tanpa sadar aku sudah meremas buku catatan fisikaku, membuatnya menjadi tak berbentuk.

—o0o—

Technical Meeting Admin.

 

Ini hanya perasaanku atau apa, yang jelas seorang pria yang duduk di sebelahku sedang memperhatikanku. Oke, aku bukanlah tipe cewek ke-GR-an, karena itu aku mengacuhkannya. Mencoba fokus pada senior di depanku.

Sehari yang lalu, diumumkan aku lolos menjadi anggota Admin Club setelah melewati beberapa seleksi. Hanya enam orang perempuan yang menjadi bagian Club ini. Sisanya pria.

“Minggu depan kalian harus siap dengan diklat—“

 

Diklat? Apa? Wait—

 

“—kita tidak bisa bermain-main dalam Club ini. Mungkin banyak yang meremehkan Admin Club, tetapi ingat kita ini sejajar dengan Club lainnya. Persiapkan diri kalian untuk minggu depan.”

Sialan, gegara risih dipandangi –entahlah- oleh seseorang di sebelahku, aku jadi tidak mendengar penjelasan sebelumnya. Senior bertubuh gempal dengan kulit sawo matang itu menyudahi pertemuan singkat ini.

Masing-masing dari kami, memperkenalkan diri. Anggap sebagai mempererat solidaritas angkatan Administrasor Ganghwahighschool yang baru.

Namun aku lebih memilih pulang dahulu. Karena eomma sudah janji akan menjemputku hari ini. Aku ijin pada mereka. Dan segera bergegas ke luar sekolah.

“Park Jiyeon!”

Langkahku berhenti mendengar panggilan itu. Aku menghadap belakang. Di sanalah pria itu berdiri. Pria yang sedari tadi memperhatikanku.

Ne?”

“Kau meninggalkan ini,” ia mengacungkan beberapa buku tebal.

Aku merantuki diriku yang pelupa. Mulutku menyengir kuda seraya menghampirinya.

Gomawo,” ujarku mengambil alih buku paket itu –kebetulan hari ini jadwal sekolah terpadatku-.

Aku hendak kembali melanjutkan langkah. Tetapi aku sedikit kehilangan keseimbangan. Entahlah mungkin karena terlalu berat membawa buku, sehingga buku-buku itu berserakan di lantai.

Cepat-cepat aku membereskannya. Namun pria itu lebih cepat dariku. Ia berjongkok lalu berdiri dengan tumpukan buku di kedua tangannya.

“Biar aku yang membawa,” ujarnya sepihak sambil berjalan.

Aku hendak menyela. Melihat kondisiku yang repot, aku membiarkan dia membawakan buku itu. Lantas aku menyusulnya. Menyamai langkah kakinya.

“Namaku Park Jiyeon,” ucapku memulai perkenalan.

“Aku sudah tahu,” ia menertawakanku. Aku mengerti maksudnya, tadi pria ini sudah menyebut namaku. Untuk apa aku memperkenalkan diri?

Sudah tiga nilai aku bertindak kikuk di depannya.

“Aku Choi Minho,” ujarnya menghentikan rancuanku.

“Choi Minho,” ulangku. “Ini aneh. Mengapa aku tidak pernah melihatmu?”

“Aku murid aksel.”

Gedung regular dan gedung aksel Ganghwa Highschool memang dipisah. Program akselerasi sulit didapatkan. Hanya anak-anak dengan IQ tertinggi yang bisa masuk.

“Kau kelas apa?” tanyanya masih memeluk buku-buku milikku seolah ia tak membawa beban. Begitu entang melihatnya.

“X Science 5,” sahutku.

Begitu mencapai gerbang sekolah aku segera menyudahi percakapan dengan Minho.

“Sampai di sini saja,” ujarku meraih kembali buku super tebal itu.

“Kau dijemput?” tanyanya.

“Mm.”

“Tapi di sini tidak ada siapa-siapa,” ujarnya celingak-celinguk. Ah benar, jam segini gerbang sekolah sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa, itupun yang baru selesai mengikuti kegiatan Club.

“Mungkin eomma sedang perjalanan,” sebenarnya aku sedikit ragu dengan ucapanku yang ini.

“Mau kuantar?”

Ne?” jujur aku terkejut, “Ah! Maksudku, tidak, tidak perlu.”

“Tidak apa-apa. Aku di sini kos, kau kuantar saja sekalian aku membeli makanan untuk nanti malam.”

“Tidak perlu,” sanggahku.

Setiap wanita pasti akan menolaknya. Ingat, baru hari ini aku mengenal Minho. Dari penampilan dia memang terlihat baik. Tetap saja aku tak bisa menerima tawarannya.

Eomma sudah bilang akan menjemputku hari ini,” jujurku.

Tampak kekecewaan di wajah Minho, “Baiklah. Aku pulang dulu.”

“Mm,” anggukku.

Hatiku merasa lega setelah sosok Minho sudah tidak tampak lagi dalam pandanganku. Aku segera meletakkan tumpukan buku di tanah. Kedua tanganku terasa pegal, aku meluruskannya dan membiarkan buku tebal itu berada di samping tempatku berdiri.

.

.

Hampir empat puluh lima menit, eomma tak kunjung datang. Sudah ditelepon beberapa kali, tidak ada jawaban. Lebih bagus lagi ponselku mati. Kesekian kalinya aku menghembuskan nafas.

Sebenarnya ini bukan yang pertama. Eomma janji akan menjemput, nyatanya aku harus pulang naik taksi. Kali ini tidak bisa karena uang sakuku habis untuk kas kelas dan Admin.

Aku mengacak-acak rambut frustasi. Setelah mencoba tenang, aku menyandarkan tubuh di tembok samping gerbang sekolah. Kepalaku kutundukan dalam-dalam, memandang sepasang sepatuku.

Hingga suatu sinar mengangkat kepalaku. Memburamkan pandanganku, mengharuskan salah satu tanganku di depan mata.

Montor berwarna merah kini berhenti di hadapanku. Saat pria itu membuka kaca pelindung kepalanya, aku membulatkan kedua mata.

 

“Kuantar kau pulang.”

 

Itu terdengar bukan sebagai pertanyaan, tetapi pernyataan. Sekujur tubuhku terpaku di tempat. Pikiranku bergulat sendirinya. Pria itu masih menunggu responku.

-TBC-

Helllooo~ Chapter ini dipanjangin lo dari yang sebelumnya, gegara lama update *miiiaaannn* terus bahasanya juga agak ringan kayak bahasa sehari hari hehe. Oke, see yaa everyboddyyyy, Hara lanjut ke next chapter😉

44 responses to “Clash (Chapter 3)

  1. aaaa ceritanya beneran seru.wah banyak yg suka nich sama jiyeon eonni,cie cie.siapa yang akan ngantar jiyeon eonni ?

  2. Siapa??? Minho???
    Kok kyaknya Jiyeon agak tertarik ama Taehyun ya??? Tambaha lagi krystal ngejelek-jelekin Myungsoo😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s