[CHAPTER – PART 2] THE SNIPER

the-sniper2

® Writer Farah Vida Karina

Poster by ImJustAGILRS @ Poster Channel

Tittle: THE SNIPER – Part 1 | Author: farvidkar | Genre: Action, Politic, Thriller, Romance | Cast: L Kim / Kim Myung Soo, Park Jiyeon | Other cast: Bae Suzy, Yoo Seung Ho | Rating: PG-17

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat.

Apakah terlalu menyakitkan untuk melakukan hal itu?

Aku bahkan bisa menahan rasa sakit yang tak kutunjukkan padamu

Aku tak menyangka kau melakukan hal itu padaku

Mungkinkan selama ini yang dikatakannya memang benar?

Setelah peluru ketiga yang kuarahkan kepadamu telah bersarang dengan sempurna, aku akan mengubur jasadmu dengan pemakaman yang kau inginkan

Previous [Part 1]

The last part

Dua buah bendera yang terletak di sudut ruangan menjadi ciri khas dari ruangan kepresidenan ini. Tidak semewah seperti milik Negara lain, tetapi nampak elegant dengan perabotan klasik. Presiden Park telah menunggu kedatangan pria bermarga Kim, dengan raut wajah yang sulit dijelaskan ia menatap Myungsoo. Seolah-olah telah menunggu hari ini tiba, ia memberi selembar foto kepada pria muda itu.

“Bunuh Bae Dongwook beserta istri dan anaknya” ucap presiden Park memberi perintah. Myungsoo menatap foto yang kini beralih di tangannya. Entah seperti sesuatu menembus tubuhnya. Wajah dingin pria itu berubah pasif, menatap foto seorang gadis yang memperlihatkan senyum terbaiknya.

“Gadis ini..” gumam pria itu tercekat.

Pintu yang tertutup rapat itu terbuka seketika, seorang gadis menyeleweng masuk tanpa permisi. Wajah gadis itu mengatakan bahwa dia ingin meminta penjelasan lebih. Park Jiyeon sudah lama mengetahui apa rencana ayahnya. Merawat dan membesarkan Myungsoo, kemudian memasukkan pria itu ke dalam pasukan elit. Memberi keistimewaan dengan melatih sendiri pria bermarga Kim itu tanpa ada seorangpun yang tahu, kecuali anak perempuannya.

“Aboji, apa kau benar-benar serius mengirim Myungsoo ke Seoul?” wajah cemas gadis itu menuntut lebih. Penuh harap terukir di matanya. Tidak ingin berpisah jauh dengan kekasihnya itu, maklum saja mereka bahkan terlihat seperti sepasang suami istri. Tinggal di atap yang sama, tumbuh bersama, bahkan berada di selimut yang sama.

“Jangan berharap ayah menarik ucapan begitu saja. Lagi pula Myungsoo sudah cukup matang menerima tugas seperti ini, benar bukan ketua Kim?” Myungsoo hanya menggangguk tanda setuju. Tidak ada yang perlu ditakutkan pria itu, menurutnya ia memang layak mendapatkan jabatan sebagai ketua pasukan elit. Umur bukanlah hambatan baginya, walaupun masih bisa dikatakan anak muda tetapi pemikiran dan tindakannya tak layak dengan umurnya. Kemandirian yang dimilikinya itu membuat Kim Myungsoo tidak pernah berharap mengandalkan orang lain. Tetapi ada satu kelemahan pria itu, ia tidak akan pernah bisa bertahan dengan senyuman di bibirnya jika seorang wanita menangis di hadapannya.

“Kalau begitu, aku juga akan ikut bersama Myungsoo” presiden Park maupun Myungsoo melemparkan tatapan tidak setuju. Rahang sang ayah mengeras melihat mata yang berapi-rapi milik anak gadisnya itu.

“Tetapi kau..” kalimat presiden Park terputus karena tindakan Jiyeon yang membuat siapa saja di ruangan itu pasti terkejut. Gadis itu menempelkan pistolnya tepat ke kepalanya sendiri, memberi ancaman kepada ayahnya. Orangtua mana yang akan membiarkan anaknya mati bunuh diri karena tidak mendapat izin? Siapa yang akan disalahkan dalam hal ini?

“You won” ucap presiden Park menyerah.

….

At Paju, South Korea

Bentang daratan yang dibatasi oleh kawat berduri telah dilewati oleh sepasang kekasih yang merupakan agen rahasia dari Negara tetangga. Udara yang panas membuat Jiyeon kelelahan. Mereka telah berjalan cukup jauh hingga sampai disini.

“Myung-ah, ayo istirahat sebentar” ujar Jiyeon yang langsung terduduk lemas di atas rumput yang berubah warna kekuning-kuningan.

“Sedikit lagi kita akan sampai di stasiun dorasan, bertahanlah jiyeon” Myungsoo mengambil alih tas ransel gadis itu. Lantas ia meraih tangan kekasihnya itu berusaha memberi kekuatan.

“Baiklah, kembalikan ranselku Myungsoo-ah. Aku seorang agen rahasia, tentu tidak akan menyerah begitu saja” Myungsoo hanya tersenyum melihat tingkah laku gadisnya yang berubah-ubah. Dia menyadari kalau Jiyeon tidak ingin mengecewakannya. Myungsoo sendiri juga kelelahan melawan cuaca yang panas seperti sekarang. Mereka sudah berjalan kaki bermil-mil. Menghabiskan waktu berhari-hari menempuh jalan darat. Tentu saja bagi seorang gadis seperti Jiyeon hal ini tidak masuk akal.

“Jika kau sudah tidak mampu berjalan, aku tentu tidak akan meninggalkanmu Park Jiyeon. Mungkin aku akan menelfon ayahmu dan menyuruhnya untuk menyeretmu kembali ke Pyongyang, hahahaha” setelah menyelesaikan kalimatnya itu, lantas Kim Myungsoo berlarian kearah selatan bersama Jiyeon yang bersiap-siap melemparkan pukulan maut kepada pria itu. Hingga gadisnya terjatuh secara tiba-tiba. Myungsoo mengehentikan langkahnya dan langsung berlari ke arah Jiyeon yang sedang meringis kesakitan.

“Park Jiyeon gwenchanna?” Tanya Myungsoo penuh cemas.

“Neomu appo, Myung-ah. Aku tidak bisa berdiri” eluh Jiyeon. Myungsoo berusaha melihat separah apa kaki gadis itu, namun tangan Jiyeon lebih cepat. Sebuah pukulan keras mendarat tepat di bahu Myungsoo.

“Kena kau!” ucap Jiyeon penuh kemenangan, sementara Myungsoo hanya terus-terusan meringis kesakitan akibat ulah gadisnya itu.

At Dorasan Station, South Korea

Sedari tadi Jiyeon terus memperhatikan beberapa gadis yang berkeliaran di stasiun ini. Baju-baju yang mereka pakai terlihat modern dan penuh warna. Sedangkan baju yang Jiyeon kenakan sungguh terlihat jadul. Baju terusan yang menyentuh mata kaki bermotif polkadot dengan rumbai-rumbai putih di bawahnya. Sementara Myungsoo memakai baju yang biasa dipakainya saat berlatih. Kaus hitam dengan celana panjang senada. Bagaimapun pria bermarga Kim itu selalu terlihat tampan dimata Jiyeon.

“Myungsoo-ah, aku malu memakai pakaian ini! Aku ingin kembali memakai baju hitamku itu!” rengek Jiyeon kepada kekasihnya yang sedari tadi sedang menunggu seseorang.

“Baju hitammu itu sudah kubuang” satu kalimat yang menusuk hati Jiyeon.

“Yak!! Kau tahu baju itu ku dapatkan penuh perjuangan!! Bahkan hingga mengorbankan nyawa!!”

“Dan karena baju itu kau bisa saja mati terbunuh disini!!” kini Jiyeon terdiam. Benar saja kata Myungsoo. Baju hitam yang mereka maksud adalah baju hitam khusus agen rahasia wanita dari Negara utara. Baju itu memiliki lambang korea utara yang diburu-buru oleh pihak selatan.

“Oh! kau juga ikut Jiyeon-ssi? Dan lihat, kau seperti pemulung di Korea Selatan” seorang pria berwajah tampan yang seumuran dengan Jiyeon datang entah dari mana. Sepertinya mereka saling kenal.

“Oh! kau Seung Ho? Yoo Seung Ho yang tampan itu?!” kini Jiyeon memusatkan perhatiannya pada Seung Ho. Sementara mata tajam Myungsoo berubah tajam.

“Jangan berlebihan Jiyeon-ah, kau ingin putus denganku hah?” nada suara datar tanpa intonasi itu sudah pasti berasal dari Kim Myungsoo.

“Ups, sorry Myungie~” Jiyeon berubah manja, takut-takut kekasihnya itu akan terus melemparkan mulut cemberutnya itu berhari-hari.

“Kalian terlihat seperti pasangan yang bodoh” gumam Seung Ho terdengar, sedetik kemudian pria itu meresakan bulu kuduknya terangkat akibat mendapatkan tatapan maut dari sepasang kekasih yang lebih cocok dikatakan menyeramkan dibandingkan bodoh.

At COEX Apartment, Seoul South Korea

Bergaya elegant dan modern, warna-warna yang unik memenuhi seisi kamar apartment milik Seung Ho. Kini Jiyeon masih terkagum-kagum dengan furniture serba modern dan otomatis yang baru saja dijumpainya.

“Wah, kau pasti sangat betah Seung ho-ya, bahkan dirumahku tidak ada remote yang bisa berbicara seperti ini” ucap Jiyeon yang terlihat seperti gadis kampung.

“Bukankah di departemen pertahanan Pyongyang memiliki barang-barang canggih seperti ini?” Seung Ho tentu saja mengetahui hal itu, mengingat dia adalah salah satu agen mata-mata yang dikirim ke Seoul tiga tahun lalu. Sahabat Jiyeon satu-satunya.

“Namun di departemen pertahanan tidak ada penanak nasi” eluh Jiyeon. Kini gadis itu berlarian menelusuru apartment 303 itu. Seung Ho hidup sebagai orang kaya di Korea Selatan , dengan uang kiriman yang terus mengalir di dompetnya, dia hidup sebagai mahasiswa semester akhir teknik sipil di Kyunghee University. Setelah memastikan keberadaan Jiyeon yang cukup jauh, tiba-tiba Myungsoo mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetya itu.

“Seung Ho-ya, apa yang kau ketahui tentang gadis yang ada di foto ini?” Tanya Myungsoo sembari menunjuk seorang gadis berambut panjang.

“Bae Suzy, duapuluh lima tahun, seorang dosen di fakultas ilmu politik, dan dia adalah anak sematawayangya Baek Dongwook. Ada apa hyung? Ah, gadis itu memang cantik, jangan-jangan kau tertarik pada gadis itu?”

“Bae Suzy. Apakah aku harus membunuhnya duluan?” terlihat keraguan di mata Myungsoo. Tanpa disadari ada sepasang mata dan telinga yang menangkap pembicaraan itu. Park Jiyeon mendengarnya.

At Kyunghee University, South Korea

“Kumpulkan makalah kalian minggu depan, sekian” ucap dosen berambut panjang itu mengakhiri kuliah hari ini. Sesegera mungkin Suzy membereskan beberapa dokumennya. Setelah itu ia bergegas menuju pelataran parkir. Tanpa disadari, ada seseorang yang membuntutinya.

Mobil merah miliki Suzy melaju kenjang meninggalkan pelataran parkir diikuti sebuh mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh seorang pria. Sebuah earphone terpasang disebelah kanan telinga Myungsoo. Kini pria itu mengemudi mengikuti perintah seseorang diseberang dan tidak lagi membuntuti mobil Suzy.

“seratus meter lagi belok kiri dan nanti hyung harus kurangi kecepatan, karena truk itu akan menabrak mobil anak Baek Dongwook” ujar Seung Ho melalui earphone. Sebelum mencapai tujuhpuluh meter, terlihat siluet Jiyeon yang mengenakan baju berlengan panjang warna putih serta celana jeans panjang yang dipadukan dengan sepatu bots. Myungsoo memelankan mobilnya saat mendekati posisi gadis itu. Dengan cepat Jiyeon membuka pintu mobil hitam itu yang tak terkunci.

“Annyeong Kim Myungsoo” sapa gadis itu setelah merapikan rambutnya yang tampak sedikit acak-acakan.

“Bukankah sudah kusuruh kau untuk berada di samping Seung Ho?!” bentak Myungsoo pada kekasihnya yang kini sedang memasang wajah cemberutnya.

“Aku tidak akan membiarkan kau bersama wanita lain, walaupun dengan alasan untuk membunuhnya” jelas Jiyeon dengan mata berkaca-kaca. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama. Gadis itu berhasil menahan air matanya.

“Apa kau tidak mempercaiku, Park Jiyeon?” Tanya Myungsoo dengan tatapan yang sudah dialihkan ke jalanan yang gela tertutupi pohon rindang.

“Tentu saja aku mempercayaimu… Kim Myungsoo” jawab Jiyeon. Kini airmata gadis itu mengalir dari sudut matanya. Mobil yang dikemudikan Myungsoo berjalan lambat, dan dari jarak yang cukup jauh terlihat ada sebuah truk yang melaju kencang siap menabrak sebuah mobil merah yang melaju dari arah berlawanan. Jiyeon menyadari bahwa kini sudah saatnya mereka menjalankan rencana itu, sehingga Jiyeon bergegas untuk turun dari mobil, namun tiba-tiba Myungsoo memanggil nama gadis itu.

“Park Jiyeon. Apapun yang terjadi percayalah padaku. Kau satu-satunya gadis yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti” setelah mengakhiri kalimatnya tak diduga Myungsoo langsung membuka pintu yang berada di samping Jiyeon kemudian mendorong gadis itu keluar. Kemudian Myungsoo lansung menginjak gas dalam-dalam, memacu mobilnya dengan cepat dan dengan sengaja menabrak truk yang awalnya akan menabrak mobil merah milik Suzy. Posisi truk yang ada tepat di arah jarum jam 12 dari mobil Myungsoo menyebabkan terjadi benturan di bagian depan mobil hingga mobil Myungsoo terseret mundur kebelakang. Untung saja tabrakan terjadi di perempatan jalan yang sepi. Mobil merah yang Suzy kendari hanya menyenggol bagian belakang truk, karena tabrakan yang melibatkan Myungsoo berhasil memperingatkan Suzy untuk menghindar.

“Kim Myun…” suara Jiyeon terhenti karena Seung Ho tiba-tiba menarik gadis itu menjauh. Dari kejauhan terlihat seorang gadis keluar dari mobil merah yang berjalan pelan mendekati mobil Myungsoo.

“Semua rencana kita berantakan” gumam Seung Ho.

Flashback

Jiyeon telah menghabiskan tiga bungkus potato crispy. Mulut gadis itu tidak henti-hentinya melahap makanan berpengawet itu sejak Myungsoo dan Seung Ho mengatur rencana mereka untuk esok pagi.

“Jadi, aku akan mengawasi Bae Suzy dari Kyunghee University. Dan kalian berdua harus sesegera mungkin menyiapkan truk itu. Seung Ho, kau harus memastikan bahwa truk itu akan menabrak mobil Suzy tepat di tengah-tengah perempatan.”

“Okeh ketua Kim!” jawab Seung Ho bersemangat.

“Dan ingat, truk itu harus melaju dari arah geopdong-do karena aku akan memotong jalan dan akan menunggu dari arah berlawanan. Setelah tabrakan terjadi, aku akan mendekat ke tempat kejadian kemudian.. akan kuberi beberapa tembakkan pada.. gadis itu.” Jelas Myungsoo. Pria bermarga Kim itu terlihat sedikit aneh saat mengakhiri kalimatnya.

“Park Jiyeon, kau yakin kalau Bae Suzy akan melewati rute itu?” Tanya Myungsoo pada kekasihnya yang dari tadi hanya bersantai-santai di atas sofa.

“Hhmm” jawab gadis itu singkat.

“Dan kau harus memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang akan melewati rute itu, agen Park” perintah Myungsoo menekankan kata ‘agen Park’.

“Okeh sayang”

End flashback

Myungsoo pov

Apa yang telah aku lakukan. Membiarkan musuhku hidup. Bahkan aku telah menolongnya dengan mengorbankan nyawaku. Namun bagaimanapun juga aku tak bisa membunuh gadis itu. Aku telah mengecewakan Jiyeon.

“cheogiyo, neo gwenchanayo?! Tolong jawab aku!” suara gadis yang kuketahui bernma Suzy terdengar dari luar jendela mobil. Dari raut wajahnya yang cemas dengan darah yang mengalir dari sudut kepalanya membuat hatiku sedikit tenang.

“Setidaknya kau masih bernafas”

Department of Defense, North Korea

Suasana berjalan seperti biasanya. Tak ada hari special di pemerintahan ini. Presiden Park memantau keadaan perbatasan melalui layar besar dihadapannya yang menyala terang. Hanya ada kedamaian tanpa perang. Tiba-tiba seseorang menghampiri Presiden Park menyerahkan sebuah telefon genggam.

“Apa kau akan melaporkan kalau rencana mereka gagal?” itulah kalimat pertama yang meluncur dari mulut pria paru baya itu. Suara datar tuan presiden membuat orang-orang disekitarnya tidak akan menaruh perhatian lebih.

“Ya, seperti itu pak” jawab seseorang diseberang. Telefon langsung dimatikan sepihak.

“Sudah kuduga. Pasti anakku disana akan terus-terusan menangis” gumam presiden Park.

At Seoul Hospital, South Korea

Sekali lagi aku ingin kembali kepangkuan ibuku. Aku ingin menangis di hadapannya, tertawa dihadapannya, mengadu dihadapannya, dan memperkenalkan kekasihku dihadapannya. Dan yang terpenting adalah aku ingin meminta maaf dihadapannya. Entalah saat ini aku berada di mana. Aku sendirian di dunia yang serba putih ini. Tiba-tiba kurasakan telapak tanganku terasa hangat. Siluet ibuku terlihat. Ini hanyalah sebuah khayalan. Namun aku akan terus menikmati hari dimana aku bisa bertemu ibuku, seperti hari ini. Setiap detik akan ku kenang, karena mungkin saja siluet itu akan ku lenyapkan suatu saat nanti.

Myungsoo pov end

Pintu kayu itu terbuka, seorang pria dan wanita berhamburan masuk dan menghampiri ranjang tempat dimana Myungsoo terbaring.

“Kalian pasti keluarganya, perkenalkan saya Bae Suzy yang membawa pria ini ke rumah sakit” sapa gadis bernama Bae Suzy ramah.

“Saya Yoo Seung Ho, dan yang disebelahku Jenny Park” ucap Seung Ho memperkenalkan diri. Sedangkan Jiyeon hanya menatap sengit Suzy yang merasa terpojok.

“Hhmm, Jenny-sii pasti kekasihnya pria ini. Kalian terlihat sangat serasi” kata Suzy. Seung Ho merasa ada api yang membara diantara kedua wanita ini.

“Bukan! bukan! Jenny adalah adik tiri L Kim!” kini Jiyeon menatap tajam kearah Seung Ho. Tatapan membunuh gadis itu dapat membuat siapa saja akan bersiap-siap untuk kabur.

“Ah, jadi dia bernama L Kim. Sedari tadi dia terus mengigau memanggi ‘eomma’. Aku harus segera pergi, sampaikan salamku untuk L Kim jika dia sudah sadar nanti dan aku sangat berterima kasih”

Jiyeon pov

“eomma?” gumamku. Sudah lama sekali kata itu tak terdengar dari mulut Myungsoo. Aku tau kalau keluarga Myungsoo semuanya sudah meninggal dan itulah alasan mengapa ayahku merawat Myungsoo hingga besar.

“Jenny Park, ini kartu tanda pendudukmu yang baru” Seung Ho menyodorkan sebuah benda tipis. Ada fotoku serta nama baruku ‘Jenny Park’.

“Dan ini milik Myungsoo, ani maksudku L Kim” lanjut Seung Ho. Aku tertegun melihat foto yang tertera di samping nama itu.

“Apa hanya aku yang merasa kalau Myungsoo mirip dengan wanita itu?” gumamku hampir tak terdengar. Garis wajah mereka, sungguh mirip. Dan Bae Suzy itu, sepertinya aku pernah melihat wajahnya entah dimana.

“Ada apa Jiyeon-ah?” Tanya Seung Ho. Aku hanya menatap wajah Seung Ho, seolah-olah sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Kenapa kau begitu pelit pada kekasihku hah?! kenapa kau hanya memberi satu huruf untuk namanya?! Wae?!” bentakku sambil melempar sepatu ketsku saat teringat bahwa Seung Ho seenaknya saja memberi Myungsoo nama yang aneh itu ‘L’ bagaimana mungkin Myungsoo hidup sebagai manusia satu huruf. Seung Ho kabur entah kemana. Aku tidak mau susah-susah mengejarnya, paling juga ia akan kembali beberapa menit lagi.

“Omoo.. aku harus menyimpan menyimpan kartu ini” gumamku. Aku mencari dompet Myungsoo di dalam jaket hitamnya yang sedikit ketinggalan jaman.

“Myung-ah, mianhe aku buka dompetmu tanpa minta ijin darimu” bisikku di telinga pria itu. Ya, pria yang kini sedang tertidur panjang itu sangat risih kalau dompetnya dibuka oleh siapa saja. Aku sangat ingin tau apakah ada yang disembunyikannya. Kubuka isi dompet pria itu diam-diam. Dan langsung saja sudut bibirku terangkat sempurna. Dia menyimpan fotoku di dompetnya. Langsung saja ku ambil foto itu. Sedikit kusut karena foto itu saat aku berumur tujuh tahun bersama Myungsoo yang setahun lebih tua dariku. Namun ternyata ada sebuah foto hitam putih yang cukup tua tersimpan dibalik fotoku. Terlihat seorang wanita bersama suami dan anak laki-lakinya tersenyum gembira. Aku tertegun, tak habis pikir kalau dunia ini begitu sempit.

Jiyeon pov end

At Royal Corporation, South Korea

Seorang pria berkaca-mata baru saja melewati pintu masuk gedung besar ini. Tampak dari kejauhan terlihat beberapa orang yang sudah menungguya.

“Dimana orang itu?” Tanya pria bernama Kris Wu.

“Sopir truk hilang tanpa jejak, spengemudi mobil sedan hitam kini sedang dirawat di rumah sakit” jelas pria berkacamata melaporkan detail dari kejadian.

“Bagaimana keadaan nona Suzy?”

“Nona Suzy mengalami benturan ringan di kepala sebelah kanan, namun hanya memerlukan 6 jahitan, kini dia dalam perjalanan menuju grill5 restorant karena ada meeting dengan Kim Soo Hyun”

“Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu, terus ikuti kemana nona Suzy pergi”

At Seoul Hospital, South Korea

Tirai yang sedikit terbuka membiarkan cahaya matahari melesat masuk dan menyentuh permukaan kulit Myungsoo. Jiyeon masih setia duduk di samping ranjang pria itu, menggenggam tangan pria itu dan hanya dapat menunggu waktu yang terus berputar. Pagi ini adalah pagi ketiga dimana kekasihnya itu masih belum siuman.

“Park Jiyeon, sarapanmu ku letakkan di atas meja. Jangan tidur terus, kau harus membantuku mengurus misi kita” kata Seung Ho mengingatkan, sementara gadis bermarga Park itu hanya bergumam tidak jelas dengan mata tertutup.

Aku ingin segera mengakhiri misi ini dan kembali pulang” ucap Jiyeon dalam hati, dengan kepala tertunduk dan mata terpejam airmata gadis itu untuk kesekian kalinya menetes jatuh. Hingga genggaman tangannya mengerat. Gadis itu terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan kesadarannya.

“Park Jiyeon” suara lemah Myungsoo terdengar samar-samar di telinga Jiyeon. Mata sayu pria itu terlihat penuh kehangatan.

“Myungsoo, istirahatlah dulu. Kau belum boleh banyak bergerak” pria itu hanya tersenyum melihat kekasihnya.

“Apa kau tahu alasanku melakukan hal itu Jiyeon-ah? Apa kau tahu alasanku menyelamatkan Bae Suzy? Apa kau tahu alasanku tidak bisa membunuh gadis itu?”

“Eomma.. ya karena eommamu.. karena Bae Suzy mirip, ani.. bahkan sangat mirip dengan eommamu Kim Myungsoo” suara Jiyeon tercekat.

“Jadi, apakah kau akan mengijinkanku untuk berada di samping siluet ibuku hingga aku berhasil melenyapkan siluet itu dengan caraku sendiri?”

To be continue

PS: Hellow saya kembali menulis setelah melewati semester satu diawal perkuliahan ^^. Setelah setiap hari hidup gw dihabiskan dengan mengoleksi pensil rotring, sekarang saatnya mengoleksi kembali fanfiction…

40 responses to “[CHAPTER – PART 2] THE SNIPER

  1. Sebenernya apa alasan nya myungsoo disuruh ngebunuh keluarga bae??
    Trus suzy mirip eommanya myungsoo??? Apa bisa jadi suzy itu adiknya myungsoo??
    Apa mngkn sebenernya keluarga myungsoo belum mati??
    Jiyeon klo udh di deket myungsoo naluri wanita nya keluar ya langsung bermanja2 ria
    Tp klo udh pegang pistol beda lagi deh kkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s