[ONESHOT] Let Me Tell You

LMTY2

Title: Let Me Tell You | Author: Olivemoon | Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo Genre: Angst, sad Length: Oneshot | Rating: PG – 15 |

Maaf jika banyak typo(s) :$

Note: kata-kata yang dicetak miring itu POV nya Myungsoo, ya. 🙂

***

Dia sangat cantik, seseorang yang berada dibalik kaca jendela kamarnya, dengan senyumannya, keceriaannya dan kebahagiaannya. Tapi itu dulu, saat dia sedang bersamaku, bermain apapun dan menghabiskan waktu bersama. Dia sangat cantik saat dia tersenyum dan berbicara apapun padaku, menceritakan apapun yang ada dalam pikirannya. Tapi itu dulu sebelum dia menyendiri dengan semua kegiatannya.

Tatapan kesedihannya, wajah murungnya selalu terlihat jelas setiap malam saat dia sedang menatap bintang dibalik jendela kamarnya. Dengan tetes-tetes air mata yang terkadang keluar dari mata indahnya, dia tersenyum memandang langit yang bahkan mungkin mentertawakannya.

Dia selalu seperti ini. Dia selalu menangis setiap malamnya, tepatnya setelah kecelakaan Ayahnya. Dia selalu menangis menatap langit, menyesali semuanya. Menyesali hidupnya dan menyesali sebuah kematian.

Dia selau tersenyum sebelum menutup jendelanya.

Park Jiyeon. Setiap hari aku melihatnya, memperhatikannya setiap malam, merasakan kesedihannya. Tapi tidak dengan dia, aku kira dia bahkan tidak mengingat namaku lagi.

“Good night” Aku bahkan sering mengucapkannya sebelum dia tertidur.

***

06.30 dia akan keluar rumah, malangkahkan kakinya untuk berangkat ke sekolah setiap pagi. Dan tentu saja seperti biasa, aku menunggunya. Tepatnya, menunggu untuk melihatnya dibalik pohon disebrang rumahnya seperti ini tanpa bisa berbicara padanya atau mengajaknya berangkat bersamaku seperti yang biasa kita lakukan dulu.

Sudah satu tahun dia seperti itu. Menjadi sosok yang tidak pernah berbicara pada siapapun.  Sudah satu tahun pula  aku seperti ini, memandangnya dari jau. Tak pernah sedikitpun pandanganku beralih darinya, bahkan aku tahu segala kebiasaannya, tentu saja karena dulu kita bersahabat. Dulu, sebelum kejadian itu. Sejak saat itu, aku dan dia tidak pernah berbicara lagi.

Aku selalu mencoba mendekatinya lagi. Tapi tampaknya itu sia-sia karena sekeras apapun aku berusaha, dia tetapseperti itu, menjauhiku. Padahal aku hanya ingin berbicara padanya.Aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini selalu ingin kusampaikan padanya.

Hari ini aku memutuskan untuk mencobanya lagi. Hanya karna dia selalu menghindariku, aku tidak akan menyerah sebelum dia memandang kearahku lagi.

***

Kim Myungsoo, itulah nama laki-laki yang tengah memperhatikan gadis  yang sedang memakan makanannya sendiri di kantin, Park Jiyeon. Seorang Myungsoo bukan termasuk orang yang pandai bergaul, terlihat tidak ada orang yang duduk bersamanya. Myungsoo mengepalkan tangannya, memantapkan tekadnya  untuk berdiri dan berjalan mendekati Jiyeon.

Myungsoo duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada gadis didepannya. Jiyeon pun sama sekali tidak merespon kehadirannya, ia tetap melanjutkan memasukan makanan kemulutnya.

“Hanya kali ini aku mohon lihatlah aku.” Kata Myungsoo memecah keheningan. Tapi Jiyeon tetap diam seolah  tidak mendengarnya.

“Aku mohon.”

Myungsoo berusaha meraih tangan Jiyeon, tapi Jiyeon dengan cepat menjauhkan tangannya. Ia menghela nafas, sudah kesekian kalinya Myungsoo mendapatkan penolakan. Kenyataan sebenarnya yang ia tidak tahu, Jiyeon tidak bermaksud untuk menolak, ia hanya tidak mau Myungsoo melihat dia memakai cincin darinya.

“Aku melihatmu.” Jawab Jiyeon sambil membersihkan mulutnya. Ia lalu berdiri meninggalkan Myungsoo begitu saja.

Myungsoo terdiam, ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi sesaat kemudian dia ingat, kali ini Jiyeon berbicara padanya. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Myungsoo lalu berdiri, bergegas untuk mengejar Jiyeon.

“Jiyeon-ah, aku merindukanmu.” Ucap Myungsoo sambil berjalan disamping Jiyeon. Myungsoo tidak perduli apa yang orang akan katakan jika melihatnya. Dia sudah melupakan rasa malunya, dia bahkan seperti sedang memohon. Dia memang memohon agar Jiyeon kembali seperti dulu.

Tapi sayangnya, Jiyeon tetap berjalan seolah Myungsoo tidak ada di sampingnya.

“Jiyeon–ah, apa aku melakukan kesalahan padamu?.” Myungsoo kembali berbicara pada Jiyeon, tapi Jiyeon malah membalas dengan isak tangisnya, membuat Myungsoo kelabakan dengan reaksi yang tiba-tiba yang ditunjukan itu.

“Jiyeon–ah, jika aku salah maafkan aku, aku tidak akan mengulangi kesalahan jika kau bilang kesalahanku apa, eoh?.”lanjutnya.

Jiyeon tetap teguh pada pendiriannya. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Myungsoo dan duduk dikursinya setelah memasuki kelas.

“Jiyeon–ah, apa kau lupa semua yang telah kita lalui?.” Myungsoo duduk disamping Jiyeon.

“Apa kau lupa kau pernah bilang tidak bisa hidup tanpa aku?.” Ucap Myungsoo lagi, berusaha mengingatkan kembali apa yang pernah Jiyeon katakan. Bukannya menjawab pertanyaan Myungsoo, Jiyeon malah mengalikan pandangannya keluar jendela. Air mata yang sudah berhenti kini lolos kembali tanpa seizinnya, tentu saja dia tidak akan melupakan apa yang pernah ia katakan kepada Myungsoo, dia selalu mengingatnya.

 

Setelah kejadian Jiyeon yang menangis secara tiba-tiba tadi, Myungsoo terus  memperhatikan Jiyeon selama pelajaran berlangsung. Dia sudah tidak peduli lagi tentang apapun kecuali Jiyeon.

 

Aku hanya ingin bersamanya hari ini saja.

***

“Aku senang kau mau bicara padaku lagi.” Myungsoo berteriak ketika Jiyeon akan membuka pintu rumahnya. Mendengar sahabatnya memanggilnya, Jiyeon berbalik dan tersenyum ke arah Myungsoo. Tepatnya senyuman kesedihan.

“Jiyeon-ah.” ucap Myungsoo sambil menghampiri Jiyeon. Saat beberapa langkah lagi dia akan tepat dihadapan Jiyeon, gadis itu malah membalikan badannya dan bergegas masuk kedalam rumah. Jiyeon ingin menyembunyikan air mata yang seakan sedang berlomba ingin keluar dari kelopak matanya.

Melihat itu, Myungsoo tidak diam. Ia masuk kedalam rumah dan mengikuti Jiyeon dari belakang. Tepat saat ia akan menaiki tangga, Myungsoo melihat Mrs. Park yang mencoba tersenyum ramah pada anaknya, namun Jiyeon malah membalas tatapan ibunya dengan tatapan kosong.

Seperti yang sering dilakukannya ketika bertemu Ibu atau Ayah Jiyeon, Myungsoo akan tersenyum dan membungkuk. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Ia langsung mengikuti Jiyeon dari belakang.

“Kenapa kau mengikutiku?.” Jiyeon bertanya pada Myungsoo, tapi yang ditanya malah tersenyum melihat kamar yang sudah lama tidak dia lihat, tidak banyak yang berubah disana.  Senyum itu kini terlihat  pahit saat ia melihat bingkai foto yang sengaja ditutup, dan beberapa foto yang telah hilang dari dinding. Benar, itu adalah foto Jiyeon bersamanya.

Air mata Jiyeon mulai berjatuhan, kini ia tak kuasa lagi menahan semuanya. Ia menangis sambil menatap lekat sosok didepannya. Lagi, Myungsoo menjadi gelagapan, ia mencoba mendekati Jiyeon, tapi tubuhnya seakan tidak mengizinkannya melakukan itu. Pada akhirnya Myungsoo hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia memang berhasil berada satu ruangan dengan Jiyeon, tapi tampaknya ia hanya membuang-buang waktu. Dia sangat pengecut untuk mengembalikan semuanya, atau memang Myungsoo tidak bisa mengembalikannya.

“Kenapa kau tidak pernah berbicara padaku lagi?.” Myungsoo memberanikan diri menatap mata Jiyeon yang sudah berair itu.

“Aku memang tidak pernah lagi berbicara pada siapapun, kan?.” Ucap Jiyeon sambil duduk ditepi ranjangnya. Ia lalu menghapus sisa air mata yang berada dipipinya. Myungsoo pun mengikuti Jiyeon, duduk disampingnya. Tangannya masih terkepal erat, ingin sekali ia menghapus air mata itu.

Aku ingin menyentuhnya lagi

 

“Myungsoo-ah.”  Myungsoo membulatkan matanya setelah ia mendengar Jiyeon tiba-tiba memanggilnya.

Jiyeon lalu membalikan badannya dan berbaring diranjang, menenggelamkan kepalanya diantara bantal.

“Gwenchana?.” tergambar kekhawatiran diwajah Myungsoo saat ia menatap punggung Jiyeon. Myungsoo senang dia bisa berbicara lagi dengan Jiyeon, tapi ia sedih ketika melihat tangis itu, tangis yang tidak seperti biasanya ia lihat.

“Jiyeon-ah.” Myungsoo memutuskan untuk berbaring disampingnya, dia tidak tahu apa yang sudah dilakukannya hingga Jiyeon tidak pernah berbicara lagi denganya, hingga Jiyeon menjauhinya. Dia sangat merindukan Jiyeon, Myungsoo yakin Jiyeon pasti merindukannya juga.

“Jiyeon-ah, maafkan aku.” Myungsoo memeluk Jiyeon dari belakang, dan itu sukses membuat Jiyeon kaget  karena merasakan kedua tangan Myungsoo yang melingkar dipinggangnya. Ia merasakan pelukan Myungsoo tidak sehangat dulu, tidak sehangat setahun yang lalu. Walaupun begitu, Jiyeon senang bisa merasakannya lagi.

“Myungsoo-ah.” Jiyeon membalikan badannya dan memeluk Myungsoo erat.

“Myungsoo-ah!.” Jiyeon kembali memanggil Myungsoo tapi kali ini diserai isak tangisnya.

Myungsoo tersenyum dan mencium puncak kepala Jiyeon. Ia membiarkan Jiyeon menagis didadanya. Myungsoo fikir, tangisan itu adalah tangisan kebahagiaan karena mereka bisa bersama lagi. Setelah Myungsoo merasa Jiyeon sudah menghentikan tangisnya, ia melepaskan pelukannya dan mentap wajah Jiyeon dalam. Myungsoo lalu menghapus air mata Jiyeon, menyapu lembut permukaan pipinya.

“Myungsoo-ah, aku merindukanmu.” Mata Myungsoo berkaca-kaca sesaat setelah ia mendengar Jiyeon mangucapkan kata-kata yang selama ini ingin ia dengar. Ia sangat bahagia mendengarnya.

Myungsoo menggemgam tangan kiri Jiyeon dan melihat cincin yang ia pakai.

“Kau memakainya?.” Ucap Myungsoo sambil tersenyum lembut. Jiyeon mengangguk mengiyakan.

“Bagaimana kalau kita pergi kesuatu tempat, bercerita dan menghabiskan waktu bersama?” Myungsoo mengusap lembut pipi Jiyeon. Yang ditanyapun hanya mampu mengangguk dengan patuh, menerima dengan senang hati ajakan Myungsoo.

“Baiklah kau ingin pergi kemana?” Tanya Myungsoo.

“Aku hanya ingin pergi ke taman”

“Sekarang?” Jiyeon mengangguk mantap.

“Baiklah Kajja”

Mereka berjalan keluar kamar, saling memegang tangan satu sama lain, saling tersenyum. Air mata Jiyeon berkali-kali lolos disela-sela senyumannya, ia tidak mempercayai apa yang dihadapannya, wajah Myungsoo, senyuman Myungsoo.

“Eomma, aku pergi dulu dengan Myungsoo.” Jiyeon tersenyum ceria pada Mrs. Park. Lain halnya dengan Mrs. Park, ia terlihat kaget melihat anaknya tersenyum cerah. Myungsoo yang berada disampinya hanya bisa tersenyum melihat wajah kaget Mrs. Park, dia bahagia bisa membuat Jiyeon kembali tersenyum.

***

Mereka duduk di taman, canda dan tawa pecah bersamaan saat mereka menceritakan kisah-kisah jenaka sewaktu mereka masih bersama. Tentu saja, orang-orang disekitar mereka menatap aneh kearah dua sejoli itu. Tapi mereka berdua tidak peduli, mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama. Selama percakapan keduanya, Myungsoo tidak henti-hentinya tersenyum memandang wajah Jiyeon.

“Wae?” tanya Jiyeon karena ia menyadari laki-laki didepannya itu tak henti-hentinya tersenyum padanya.

“Aku merindukanmu.” Myungsoo mencium pipi Jiyeon, Jiyeon dengan otomatis memejamkan matanya, merasakan bibir Myungsoo yang lembut mengecup pipinya. Tanpa disadari, air mata Jiyeon kembali mengalir.

“Gwenchana?.” Mata Myungsoo membulat saat ia melihat air mata Jiyeon. Tanpa harus berfikir, ia mengahapus jejak air mata dipipi Jiyeon.

“Maafkan aku, aku hanya tidak bisa melupakanmu, aku berusaha melupakanmu, tapi kau selalu ada dihadapanku.” Jiyeon menunduk, ia kembali menangis. Dia tidak pernah bisa tidak menangis jika mengingat Myungsoo.

Dada Myungsoo terasa sesak setelah ia melihat Jiyeon yang menagis dihadapannya. Myungsoo tidak tinggal diam. Ia segera memeluk Jiyeon erat.“Aku sudah berjanji akan selalu ada di dekatmu, kau ingat?.” Ucap Myungsoo. Ia bisa merasakan Jiyeon mengangguk lemah didalam dekapannya.

Selama setahun ini Myungsoo tidak pernah berbicara berdua seperti ini dengan Jiyeon. Setiap Myungsoo ingin menyapanya, Jiyeon bahkan selalu berusaha menghindarinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka? Kenyataannya mereka hanya saling menyakiti satu sama lain.

Jiyeon selama ini sudah lupa caranya tersenyum, tangisan sudah menghiasi wajahnya selama setahun ini. Jiyeon selalu menatap kosong jendela kamar Myungsoo yang tepat berada didepannya. Dia merindukan Myungsoo tapi dia tidak pernah berbicara dengannya lagi selama setahun ini. Jiyeon selalu menyesali hidupnya, menyesali semuanya. Membenci dirinya sendiri dan membenci kenyataan.

Dilain sisi Myungsoo tidak pernah mengetahui alasan Jiyeon. Dia hanya tidak pernah bisa membenci Jiyeon dan hanya akan mencintainya.

Jiyeon pun sebenarnya juga mencintai sahabatnya itu. Mereka berdua saling mencintai tapi sayangnya mereka terlalu takut, takut jika mereka hanya mempunyai cinta sepihak.

***

Myungsoo sempat tertidur dibahu Jiyeon. Setengah jam kemudian ia terbangun tanpa Jiyeon disampingnya. Dengan panik, ia mencari-cari Jiyeon disekitar taman itu, tapi nyatanya percuma, dia tidak menemukannya. Hanya ada satu tempat dipikirannya, rumah. Tanpa membuang waktu, Myungsoo berlari menuju rumah Jiyeon.

“Jiyeon–ah.” Myungsoo berteriak sepanjang jalan sambil berlari sekuat tenaga.

“Jiyeon–ah.” Dia menghentikan langkahnya didepan rumah Jiyeon. Kedua matanya menangkap seorang dokter sedang berbicara pada Mrs. Park.

“Untuk sekarang biarkan Jiyeon tertidur, usahakan dia untuk mulai berbicara dengan orang lain.”

Myungsoo mendengar dengan jelas bahwa Jiyeon harus beristirahat. Dia mengerutkan keningnya, dan menatap sedih rumah dihadapannya. Dia merasa sedih karna Jiyeon tidak memberitahunya bahwa ia sakit. Jika dia tahu Jiyeon sakit, maka ia tidak akan mengizinkan Jiyeon untuk pergi ketaman bersamanya.

Myungsoo melangkahkan kakiknya untuk mendekati Mrs. Park. Ia memutuskan akan menjaga Jiyeon yang sedang sakit.

“Apa aku boleh menemani Jiyeon?” Myungsoo berbicara pada Mrs. Park, tapi Mrs. Park tidak menjawab dan langsung menutup pintunya. Myungsoo berfikir ibu Jiyeon marah karena ia membawa anaknya keluar rumah tanpa mengetahui Jiyeon yang sebenarnya sedang sakit.

Tidak kehilangan akal, Myungsoo berlari menuju jendela kamar Jiyeon, dia berusaha melihat Jiyeon walaupun hanya sehelai rambutnya. Tapi tampaknya percuma, tirai kamarnya tertutup rapat.

“JIYEON-AH” Myungsoo berteriak, berusaha membangunkan Jiyeon. Dia sangat khawatir apalagi melihat seorang dokter yang sudah memeriksa Jiyeon.

“JIYEON-AH, INI AKU MYUNGSOO.” Myungsoo tetap berusaha membangunkan Jiyeon, tapi tidak ada tanda sama sekali Jiyeon menjawabnya. Pada akhirnya ia hanya bisa menunduk lemah.

Myungsoo memutuskan untuk kembali ke kamarnya, kamar yang selama ini berada tepat di depan kamar Jiyeon, kamar yang selama ini dia gunakan melihat Jiyeon dibalik jendelanya. Dia melihat kedepan dengan tatapan kosong, berharap Jiyeon membuka gordennya dan tersenyum padanya.

Setiap kali aku menunggumu, setiap kali waktu berlalu kau selalu ada dalam benaku, setiap kata, setiap senyuman dan matanya yang indah tidak pernah hilang dari pikiranku.

Setiap kali aku menunggumu, berharap kau akan melihatku lagi, berbicara padaku lagi dan memeluku. Tersenyum ceria dan mengatakan ‘Myungsoo-ah aku merindukanmu’. Aku menyukai setiap kata yang kau ucapkan karena setiap kata itu mampu meluluhkan hatiku.

Dan kau tahu? Kekosongan selama satu tahun ini membuat hidupku tidak tenang, aku tidak bisa membiarkan kau bersedih dan menangis setiap malam, menyesali hidup dan menyesali semuanya. Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi.

Jiyeon-ah selama ini kita selalu bersama tapi aku tidak pernah bisa mengatakan kalau aku mencintaimu.

Izinkan aku untuk sekali ini saja mengatakannya.

Aku sangat mencintaimu.

Kenyataan kita tidak seperti dulu, kenyataan kau menjauhiku untuk alasan yang tidak aku ketahui itu menyakitiku, tapi aku tidak bisa membencimu karena aku tahu kau akan mengatakan alasannya. Aku menunggu untuk itu, waktu dimana kau menyesali apa yang kau lakukan, dan hingga aku bisa mengatakan kalau aku mencintaimu.

Aku sangat mencintaimu, Jiyeon-ah.

 

“Myungsoo-ah” Myungsoo terlonjak kaget melihat Jiyeon yang tiba-tiba memasuki kamarnya sambil menangis, dia melihat jam didinding kamarnya yang menunjukan pukul 02.00 dini hari.

Myungsoo secepat mungkin menghampiri dan memeluk Jiyeon, ia mengusap lembut rambutnya. “Ada apa Jiyeon-ah? Kenapa kau kemari?” Tanyanya.

“Mereka tidak mau aku menemuimu” jawab Jiyeon lemah sambil membalas pelukan Myungsoo.

“Itu karena kau sedang sakit” ucap Myungsoo lembut.

Setelah Myungsoo merasa tangisan Jiyeon sudah berhenti, ia lalu melepaskan pelukannya dan menuntun Jiyeon duduk di tempat tidurnya. Jiyeon pun sama sekali tidak menolak, ia menuruti Myungsoo dengan senang hati.

“Aku tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, yang jelas aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.” Myungsoo memegang kedua tangan Jiyeon. Kening Jiyeon mengerut saat Myungsoo tiba-tiba berlutut dihadapannya.

“Baiklah” Myungsoo menarik nafas dalam terlebih dahulu.

“Kau tahu kita sudah bersahabat sangat lama, sejak kita bertetangga, bahkan sejak kita mengenal dunia” Jiyeon tersenyum mendengar apa yang Myungsoo katakan.

“Kita sudah saling menjaga sejak dulu, selalu bersama-sama kemanapun, selalu menjadi sandaran ketika salah satu dari kita merasa sedih. Aku tidak bisa tanpamu, apalagi melihatmu bersedih, aku tidak mau kau menangis setiap malam seperti itu, aku tidak mau kau bersedih setiap hari, aku ingin menghapus air matamu dan menjadi sebuah obat untuk lukamu. Aku ingin membahagiakanmu, dari dulu sekarang dan sampai kapanpun aku ingin membuatmu bahagia.” Jiyeon mulai menangis tersedu-sedu ketika mendengar ucapan Myungsoo. Tanpa disadari air mata Myungsoo pun berjatuhan mengingat seberapa terlukanya ia melihat Jiyeon setiap hari menangis karena lukanya.

“Aku mencintaimu.” Myungsoo akhirnya bisa mengucapkannya. Ia tersenyum senang, tapi senyumnya seketika menghilang saat ia melihat reaksi Jiyeon yang sangat berbeda, ia malah menutup mulutnya, terlihat seperti menahan tangis. Myungsoo merasa ada yang aneh dengan Jiyeon, tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Ia yakin Jiyeon menagis karena bahagia.

“Aku juga mencintaimu.” ucap Jiyeon tanpa menghentikan tangisnya.“Kenapa kau baru mmengatakannya sekarang?” lanjutnya. Jiyeon lalu memposisikan dirinya agar sejajar dengan Myungsoo.

“Maafkan aku.” Lagi, Myungsoo menyeka air mata gadisnya itu dengan lembut.

“Aku mencintaimu.” Myungsoo perlahan mengusap pipi dan bibir Jiyeon, kedua sudut bibirnya terangkat melihat betapa cantik gadis yang berada didepannya itu.

Perlahan, Myungsoo mendekatkan wajahnya pada Jiyeon, menutup matanya dan mencium bibir tipis Jiyeon dengan lembut. Jiyeon tidak menolak, ia justru membalas ciuman Jiyeon, dia menutup mata merasakan setiap gerakan bibir Myungsoo yang menyapu lembut bibirnya.

Ciuman mereka semakin dalam. Myungsoo memasukan lidahnya dan mengulum lidah Jiyeon, beberapa kali mengecupnya, beberapa kali menjamahnya. Jiyeon dengan senang hati membalas kecupan Myungsoo.

Hal inilah yang di tunggu-tunggu sejak bertahun-tahun lamanya, dalam ingatannya Jiyeon mengingat setiap perlakuan yang Myungsoo berikan padanya, setiap kebahagiaan yang mereka ciptakan dan setiap kenangan yang sudah mereka berdua buat. Jiyeon tidak berhenti menangis jika mengingatnya.

“Myungsoo-ah.” Jiyeon tiba-tiba menghentikan ciumannya, dan memberi jarak antara ia dan Myungsoo.

“Pergilah, aku melepasmu.” Ucap Jiyeon. Myungsoo membulatkan matanya, merasa kaget setelah mendengar apa yang Jiyeon katakan. Tapi sebisa mungkin ia berusaha tenang. Myungsoo mencoba meraih tangan Jiyeon, tapi Jiyeon malah menghindarinya.

“Jiyeon–ah, ada apa?.” Tanya Myungsoo sambil mengerutkan dahi.

“Pergilah aku mohon.” Jiyeon menangis sambil memeluk kedua lututnya.

“Jiyeon–ah, apa yang kau bicarakan? aku mencintaimu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu.” Myungsoo yang merasa panik berusaha memeluk Jiyeon. Namun, diluar dugaan, Jiyeon malah mendorongnya sekuat tenaga.

“MYUNGSOO-AH! AKU MENCINTAIMU TAPI AKU MOHON PERGILAH DARIKU” Jiyeon berteriak pada Myungsoo. Karena kaget dengan teriakan Jiyeon, Myungsoo mundur beberapa langkah dengan air mata yang mulai berjatuhan. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Jiyeon maksud.

“Jiyeon–ah, kau di dalam?.” Myungsoo  mendengar seseorang memanggil Jiyeon dibalik pintu kamarnya. Dia sangat bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada Jiyeon.

“Jiyeon–ah, sebenarnya apa yang terjadi?.” Ucap Myungsoo dengan nada yang lemah. Jika Jiyeon mencintainya, kenapa Jiyeon malah meminta Myungsoo untuk meninggalkannya?.

“Myungsoo-ah, aku mencintaimu.” Ucap Jiyeon lirih.

“Jiyeon–ah.” Myungsoo berusaha mendekati Jiyeon.

‘BRAK’ Pintu kamar Myungsoo terbuka dengan kasar. Myungsoo mengerutkan keningnya saat orang tuanya dan orangtua Jiyeon mendekati, saat ibu Jiyeon memeluk anaknya dan saat Mr. Park, ayah Jiyeon mendekati Jiyeon.

Mulut Myungsoo terbuka lebar, ia bingung melihat kedatangan Mr. Park. Bukankah Mr.Park meninggal dunia karena mengalami kecelakaan?  Dan itu adalah penyebab utama Jiyeon menangis setiap malamnya?.

“MYUNGSOO-AH” Jiyeon berteriak histeris memanggil nama Myungsoo dalam pelukan ibunya.

Myungsoo melangkah mundur. Dadanya terasa sakit seperti ribuan pisau seakan menghujani dadanya ketika ia melihat Jiyeon menangis histeris seperti itu.

“Myungsoo–ah, jika kau menyayanginya, appa mohon pergilah.” ucap ayah Myungsoo.

Myungsoo menangis, kakinya seakan melemah, dia tidak bisa berdiri lagi menahan berat tubuhnya mendengar ayahnya sendiri menyuruhnya pergi.

“Myungsoo-ah.” Jiyeon menangis, semuanya menangis memeluk Jiyeon, ikut merasakan rasa sakit yang Jiyeon rasakan.

Sesaat kemudian mata dan mulut Myungsoo membulat ketika banyangan kejadian setahun yang lalu terlintas dipikirannya. Ia mengingat saat terakhir dia melihat Jiyeon dan tersenyum mengucapkan kalau dia mencintainya tanpa suara.

“ARRRRGGGGHHH” Myungsoo berteriak sambil menjambak rambutnya, ia lalu menghapus kasar air matanya, menahan sakit mengingat alasan semua orang tidak pernah berbicaraa lagi padanya, mengingat Jiyeon yang menjauhinya, mengingat ibu Jiyeon yang tidak pernah membalas senyumannya, mengingat orang yang menatap aneh dirinya dan Jiyeon di taman.

Mengingat kenyataan dia telah meninggal setahun yang lalu.

Myungsoo menangis mengetahui kenyataan bahwa dia tidak bisa membahagiakan Jiyeon. Selama ini dia bahkan menyakitinya dengan selalu muncul dihadapan Jiyeon. Pantas saja selama ini Jiyeon menangis setiap malam, membiarkan gordennya terbuka agar dia bisa melihatnya seperti yang biasa mereka lakukan sebelum tidur. Pantas saja dia melihat fotonya yang sudah tidak ada di dinding kamar Jiyeon.

“Jiyeon–ah,” Myungsoo langsung berdiri saat tiba-tiba ia melihat Jiyeon tak sadarkan diri.

Tanpa bisa membantu, ia hanya bisa melihat Jiyeon dibawa pergi oleh kedua orangtuanya. Myungsoo melihat ibunya yang menangis dalam pelukan ayahnya dan menutup pintu, menyusul orang tua Jiyeon. Pada akhirnya, didalam kamar itu hanya tersisa Myungsoo yang menangis tersedu-sedu.

Semua orang merasakan kesedihan Jiyeon sekaligus khawatir kepadanya. Ia selalu mengatakan bahwa Myungsoo selalu ada didekatnya. Jiyeon berhenti membicarakan Myungsoo lagi karena orangtuanya selalu memanggil dokter untuk meriksa keadaan jiwanya. Dia tidak mau di anggap gila, tapi itu sangat sulit mengingat Myungsoo memang selalu ada di hadapannya. Dia selalu melihat Myungsoo yang sedang tersenyum memperhatikannya, bahkan dia juga melihat Myungsoo yang bersedih ketika melihat dia menangis.

Jiyeon adalah satu-satunya orang yang paling merasa kehilangan Myungsoo, satu-satunya orang yang sangat merasakan sakit ditinggal Myungsoo. Dulu ia tidak pernah melawatkan seharipun tanpa Myungsoo, ia sangat senang Myungsoo selalu ada bersamanya. Tapi keadaan justru sangat berbeda dengan setahun terakhir ini, Myungsoo memang selalu ada di dekatnya tapi itu justru malah menyakitinya.

 

Flashback

Myungsoo berjalan bersama Jiyeon dengan tangan saling bertautan. Di hari minggu yang cerah itu Myungsoo berjanji mengajak Jiyeon berjalan-jalan.

Jiyeon tersenyum melihat cara Myungsoo memakan tteokbokki, menurutnya itu terlihat seperti anak kecil. Myungsoo yang sadar Jiyeon terus tersenyum kearahnya hanya bisa mengedipkan polos matanya.

“Ada apa?.” Jiyeon bingung saat tiba-tiba Myungsoo menghentikan langkahnya, sudah bertahun-tahun dia bersahabat dengan Myungsoo, tapi dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Myungsoo. Satu hal yang ia tahu, apapun itu, Myungsoo pasti akan membuat dia tersenyum.

“Cium aku disini”  Myungsoo menaikan alisnya berulang-ulang dan tersenyum evil pada Jiyeon.

“Mwo?” Jiyeon membulatkan mata dan mulutnya. Ia lalu mengedarkan pandangannya, banyak orang yang berlalu lalang disekitar mereka. Tentu saja karena saat ini mereka sedang berada di pinggir jalan.

“Aku tidak mau.” Jiyeon memalingkan wajahnya. Mereka memang bersahabat tapi perlakuan mereka melebihi kapasitas.

“Kalau tidak mau aku akan memberikan ini pada orang lain.” Myungsoo memperlihatkan dua cincin ditangannya. Jiyeon melirik itu dan tanpa pikir panjang, ia langsung mendaratkan bibirnya dipipi Myungsoo.

“Berikan padaku.” Jiyeon mengulurkan tangannya sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Ish! Siapa yang bilang aku minta cium pipi.” Myungsoo merajuk, ia lalu menyembunyikan cincin itu dibalik badannya.

“Mwo?! jadi apa yang kau mau?” Jiyeon seketika kaget mendengar perkataan Myungsoo, terlebih lagi dia sudah tidak enak hati melihat senyuman evil Myungsoo.

“Disini.” Myungsoo menunjuk bibirnya dan tersenyum malu-malu.

“Mwo?.” Jiyeon merasa bingung, dia sangat menginginkan cincin itu, tapi dilain sisi dia juga malu jika harus mencium Myungsoo ditengah keramaian seperti itu. Myungsoo tentu saja terus menggodanya dengan memperlihatkan cincin itu pada Jiyeon.

 

Di sebrang jalan, Mr. Park melihat anaknya sedang mencium pipi Myungsoo. Dia sudah menduga kalau anaknya dan Myungsoo saling jatuh cinta. Bahkan, orang tua keduanya sangat jengkel karena keduanya belum juga membawa hubungan mereka lebih dari sekedar bersahabat. Mr. Park mempercepat langkahnya, ia mempunyai rencana untuk menggoda keduanya.

“Jiyeon–ah,” ia memanggil anaknya dan terus berjalan tanpa melihat lampu jalan yang sudah berubah menjadi merah.

Jiyeon dan Myungsoo mendengar seseorang yang memanggil nama Jiyeon. Myungsoo menggerutu kesal karena rencananya gagal, sedangkan Jiyeon mencari-cari siapa orang yang memanggilnya.

‘TIIIIIIIIIINNNNNNNN’

‘BRAK’ Jiyeon melihat ayahnya terserempet sebuah mobil.

“APPA” Jiyeon berteriak dan berlari menghampiri Appanya.

“JIYEON-AH!” Myungsoo berteriak memanggil Jiyeon saat dia melihat sebuah mobil sedang melaju kencang kearahnya. Myungsoo berlari sekuat tenaga untuk menyusul Jiyeon.

‘TIIIIIIIIIINNNNNNNN’

“Jiyeon–ah!” bagaikan slow motion Myungsoo memeluk Jiyeon dan mendorongnya sekuat tenaga, Myungsoo tersenyum saat Jiyeon terdorong sambil melihatnya.

‘BRAAKK’ Myungsoo terlempar, dia berusaha membalikkan badannya dan tersenyum saat melihat Jiyeon yang terlihat baik-baik saja.

‘I Love you’ Myungsoo mengucapkannya tanpa suara, tapi Jiyeon bisa menebaknya walaupun hanya melihat gerakan bibirnya saja.

‘CKIIIIIITTTT’

‘BRAAKKK’ Mobil dari arah lain menghantam Myungsoo dengan keras.

Lagi, Myungsoo terlempar. Badannya menghantam jalanan, kepalanya terbentur keras, darah sudah mengalir banyak dari kepalanya, matanya, hidungnya, telinga dan mulutnya.

Jiyeon membeku melihat Myungsoo. Ayahnya yang hanya mendapatkan memar menghampiri Jiyeon dan memeluknya. Jiyeon tidak merasakan apa-apa, otaknya sama sekali tidak berfungsi setelah melihat kejadian mengerikan terjadi didepan matanya.

Melihat Myungsoo berbaring tak berdaya sambil menggenggam cincin itu.

Flashback off

 

Myungsoo menyesali kematiannya, tapi jika dia hidup, Jiyeon yang akan mati saat itu. Tetap saja Myungsoo tidak akan bisa hidup tanpanya. Saat Myungsoo dengan sangat jelas mengingat mobil yang menabraknya, ia kembali menangis. Myungsoo tidak tahu kenapa dia merasa masih hidup selama ini, dia tidak tahu kenapa dia belum pergi juga dari dunia ini. Menyedihkan.

“Myungsoo-ah.” Seketika Myungsoo tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara lembut itu memanggil namanya.

“Jiyeon–ah,” ucap Myungsoo setelah ia melihat Jiyeon datang menghampirinya.

“Kenapa kau kembali?” Tanya Myungsoo.

“Selama ini kau selalu sendiri” ucap Jiyeon sambil menangis. Myungsoo menghampirinya dan membawa Jiyeon kepelukannya, dia tidak pernah bisa melihat Jiyeon menangis.

“Mulai sekarang aku akan menemanimu. I Love You.” Jiyeon mengeratkan pelukannya, sedangkan Myungsoo hanya bisa tersenyum lembut dan mengusap rambut Jiyeon.

I Love You, too.” ucapnya sambil memejamkan kedua matanya.

 

***

Pagi harinya Mrs. Park berjalan menuju kamar Jiyeon untuk membawaknnya sarapan seperti biasa.

“Jiyeon–ah, eomma membuatkan kamu….”

“AARRRRRRRGGGGGHHH” Mrs. Park berteriak, Mr. Park yang mendengar itu langsung berlari menuju kamar Jiyeon. Kakinya seketika melemas melihat istrinya yang sedang tergeletak tak sadarkan diri dilantai.

Ambulan dan beberapa mobil polisi sudah tiba di kediaman keluarga Park, tetangga pun riuh berada di sekitar. Ibu Myungsoo memeluk ibu Jiyeon dengan erat, sedangkan para Appa hanya bisa terduduk lemas melihat kenyataan yang harus mereka terima dan hadapi.

Park Jiyeon mati menggantung dirinya sendiri.

 

FIN

 

 


 

Gimana? Udh bacaya? *ngintip dipojokan* Maaf ya jika jalan ceritanya gak happy ending. Jujur aja nulis ff ini pas aku lagi sebel sama orang jdi amuradul gini hihi. Tapi lho? Kok bisa lagi sebel sma orng buat ff angst? Jangan nanya gtu ya soalnya aku jg ak tau xD

74 responses to “[ONESHOT] Let Me Tell You

  1. Aduuuuh…kasiaaan ternyataaa myungsoo yg udh mati kirain beneran bapanyaaa dan jiyeon juga nyusul…cinta mati bngt yah..

  2. annyeongg saeng… masih kenal aku? author aneh didunia? haha #Plakk
    ne saeng mianee aku baru bisa baca FF karyamu setelah kamu ngasih link ke aku.. hikss jjinja aku sibuk banget…
    bogoshipoyooo…
    waohhh aku senang ada reader ku bisa jadi author juga… debakk semoga selalu buat ff yg kereen ya saeng

    geure aku mulai comments and nilai..
    aku suka ceritanya… thats great, so sad.. sebenernya aku gak terlalu suka ff sad.. apalagi Myungyeon haha but u can make me interesting with this.. gomawoo

    kedua, miane kalo ada coment ku yg agak gimana, aku coba untuk menilai, ciri khas kamu harus lebih dicari lagi ne? n_n
    mungkin kurang gereget pas scene kissu Myungyeon saeng, kasih chu chu nya biar kita readers bisa lebih imajinasi haha #plakk miane
    but aku suka kok… olivemoon saeng deebak

    aigoo kenapa malah Myungsoo yg jadi bingung? haha kasian.. cerita disini bikin greget karena Myungsoo gak bisa bicara banyak sama Jiyeon.. pdhal aku nunggu banget saeng haha…

    geure aku mau lanjut bca ff yg chap.. semoga wktuku cukup..
    NEW AUTHOR JJANG..
    i like it..
    thankyouuu saeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s