LIKE THE FIRST TIME [6]

likethefirsttime

Length :  2.700 words

Type    : Part

Genre  : Romantic, Sad, Little bit comedy, Drama.

Author : @shaffajicasso

Rating  :  PG – 14

Cast     : Park Jiyeon, Kim Myungsoo.

Other   : Lee Jieun, Kim Jongin, Bae Suzy, etc.

Poster  : Girikwon29@HSG

.

.

.

Author POV

‘Oh Sehun. Benarkah ini dia?’ – batin Jiyeon.

“Jiyeon-ah, ini Oh Eun Bi. Lalu ini anaknya Oh Sehun.” Ucap Hyungsik. Ternyata benar dia Oh Sehun. Jiyeon mengangguk kaku.

“Jiyeon, bagaimana keadaanmu?” tanya Eun Bi, Jiyeon diam tak menjawab. “Aku hanya bertanya.” Ucap Eun Bi kemudian, Eun Bi menunduk.

“Mianhae.” Ucap Jiyeon, tanpa menatap Eun Bi. “Maaf pada saat itu aku memarahimu.” Ucap Jiyeon. Hyungsik tersenyum mendengar ucapan Jiyeon, Eun Bi senang mendengar itu.

“Ah tak apa, aku bisa mengerti itu.” Ucap Eun Bi tersenyum.

“Jiyeon-ah, kau pasti sudah mulai menerima Eun Bi untuk menjadi ibumu.” Ucap Hyungsik senang. Jiyeon memandang Hyungsik datar.

“Menerima? Anhi, sampai kapanpun aku tak akan menerima dia sebagai ibuku. Ibuku hanya Jang Nari.” Ucap Jiyeon tajam. Senyum Hyungsik dan Eun Bi memudar. Sementara Sehun, memandang Jiyeon.

“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Hyungsik. Hyungsik merasa geram.

“Aku tak bermaksud apapun. Pergilah, aku ingin istirahat.” Ucap Jiyeon, lalu Jiyeon kembali berbaring dan menaikkan selimutnya. Kemudian Jiyeon memejamkan matanya.

“Park Jiyeon!” Hyungsik benar-benar marah. Eun Bi menenangkan Hyungsik dengan mengelus punggung Hyungsik.

“Tenanglah…” ucap Eun Bi.

“Apa salah? Aku hanya ingin meminta maaf atas sikapku yang kasar kepadanya saat itu. Aku meminta maaf bukan berarti aku menerimanya sebagai ibuku yang baru. Pergilah, aku ingin sendiri!” ucap Jiyeon.

“Kau!”

“Sudahlah, lebih baik kita pergi. Jiyeon sedang sakit, ia butuh istirahat. Kajja, Sehun ayo kita pulang. Hyungsik-ah…” ucap Eun Bi. Hyungsik menuruti apa kata Eun Bi. Hyungsik dan Eun Bi keluar meninggalkan ruang rawat Jiyeon.

Tapi tidak dengan Sehun, Sehun malahan tidak bergerak sedikitpun dari posisi yang tadi. Untuk sekedar bergeser sedikitpun sepertinya tidak, Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sehun menatap Jiyeon, yang ia tau bahwa Jiyeon berpura-pura tidur.

“Aku tau kau berpura-pura.” Ucap Sehun. Jiyeon membuka matanya.

“Park Jiyeon. Aku hanya ingin bertanya, kau benar-benar tidak menyetujui pernikahan ini?” tanya Sehun. Jiyeon bangun, ia mengubah posisinya menjadi duduk. Jiyeon memandang Sehun.

“Memangnya kenapa? Apa kau mau memaksaku agar aku menyetujui pernikahan ini?” tanya Jiyeon. Sehun berdecak.

“Aku? Memaksamu untuk menyetujui pernikahan itu? Ck, untuk apa aku memaksamu? Aku bahkan tidak menyetujui pernikahan gila itu.” Ucap Sehun. Mata Jiyeon membulat saat mendengar perkataan Sehun.

“K-kau juga tak menyetujuinya?” Jiyeon mengerjapkan matanya beberapa kali, Jiyeon benar-benar tak percaya. “Aku kira kau menyetujuinya. Lalu mengapa tadi kau hanya diam saja?” tanya Jiyeon.

“Apa hakku? Apa aku harus masuk kedalam pembicaraan seorang anak dan ayah yang bahkan aku tak ada hubungan apapun dengan mereka.” Ucap Sehun. Jiyeon mengangguk.

Sehun menghembuskan nafasnya. “Ayo kita batalkan pernikahan ini.” Ucap Sehun kemudian. Jiyeon membulatkan matanya terkejut.

“A-apa? Membatalkannya? K-kau gila?” ucap Jiyeon tergagap, ia masih terkejut.

“Anhi, aku serius. Apa wajahku terlihat seperti wajah yang sedang main-main?” ucap Sehun.

Jiyeon terdiam. “Tchh, percuma saja. Persiapan pernikahan mereka bahkan sudah hampir 100% . Dan juga, ayahku sangat egois jadi itu akan percuma. Jika  pun pernikahannya batal, itu tidak akan mengembalikan keluargaku yang sudah hancur bisa kembali menjadi bersatu dan utuh kembali.” Ucap Jiyeon. Jiyeon tersenyum masam.

“Aku tidak ingin ibuku menikah lagi. Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang menggantikan ayahku yang sekarang sudah berada di alam yang berbeda denganku.” Ucap Sehun. Jiyeon memandang Sehun.

“Ayahmu sudah meninggal?” tanya Jiyeon. Sehun terdiam tak menjawab. “Hm, maafkan aku.” Ucap Jiyeon meminta maaf karena ia merasa bersalah sudah membicarakan orang yang sudah tiada.

“Untuk apa kau meminta maaf? Sudahlah, aku pergi.” Ucap Sehun. Setelah itu Sehun pun keluar dari ruang rawat Jiyeon.

Sepeninggal Sehun, Jiyeon kembali berbaring diranjang. Ia menaikkan selimutnya. Jiyeon bingung, ia benar-benar bingung. Banyak sekali berbagai pikiran yang berterbangan didalam benaknya. Lalu banyak juga masalah yang menimpanya saat ini. Jiyeon menghembuskan nafasnya kasar.

“Aku lelah. Kenapa ini semua harus terjadi padaku? Sungguh aku sangat lelah untuk menghadapi masalah ini. Ya Tuhan, aku tidak ingin cepat tua hanya karena aku terlalu banyak pikiran dan masalah. Issh aku ingin awet muda!” ucap Jiyeon. Jiyeon menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Aisshh!”

******

Myungsoo sedang berada di café saat ini. Entah apa yang sedang ia lakukan disini. Myungsoo memutar-mutar ponsel miliknya digenggamannya. Myungsoo menggigit bibir bawahnya, sepertinya Myungsoo sedang memikirkan sesuatu. Myungsoo menatap layar ponselnya, seketika itu pula mimik wajahnya berubah menjadi kesal.

“Aish! Anak itu! Bahkan dia sama sekali tidak membalas pesan singkatku. Sebenarnya ia sedang apa? Apa ia tak tau jika aku sedang khawatir padanya? Ya! Aissh jinja!” Myungsoo berbicara sendiri sembari menatap layar ponselnya yang sama sekali tak ada pesan baru satupun.

Myungsoo mengetikkan sesuatu di ponselnya. Setelah itu ia kembali membaca pesan yang baru saja ia ketik, Myungsoo menggelengkan kepalanya lalu menghapus kembali pesan yang sudah ia ketik tadi. Tapi kemudian Myungsoo kembali mengetikkan pesan yang sama seperti yang tadi. Lalu menyentuh tombol kirim.

To: Park Jiyeon
Ya! Setidaknya balas pesanku! Apa kau tau? Aku khawatir padamu!

Tak selang berapa lama, ponsel Myungsoo berbunyi. Ada pesan masuk. Dengan gerakan cepat Myungsoo membuka pesan tersebut, bibirnya membentuk sebuah senyuman.

From: Park Jiyeon
Mian, ponselku tadi aku matikan.
Gomawo sudah mengkhawatirkanku!
Nan gwaenchana, sunbae ^^

Myungsoo membalas pesan dari Jiyeon dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Terdengar ada suara langkah kaki yang mendekat ke meja yang Myungsoo tempati sekarang.

“Ekhem..” Myungsoo menoleh, matanya membulat saat mengetahui siapa orang yang kini dihadapannya.

“Bae Suzy.” Gumam Myungsoo. Suzy tersenyum manis pada Myungsoo. Tanpa bicara apapun Suzy langsung duduk di kursi didepan Myungsoo.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Suzy. Suzy menaruh kedua sikunya di meja dan menatap Myungsoo.

Myungsoo menaruh ponselnya di meja, lalu memandang Suzy datar. Mata Suzy sempat memandang ponsel Myungsoo yang menyala. Kemudian Suzy tersenyum.

“Aku baik. Bagaimana denganmu?” tanya Myungsoo. Myungsoo melipatkan kedua tangannya di dada.

“Aku? Aku juga baik. Kau sedang berkirim pesan dengan yeojachingumu?” tanya Suzy. Myungsoo menaikkan sebelah alisnya.

“Kau mengintipnya? Mengintip ponselku? Dasar tak tau diri. Tcchh…” Myungsoo memandang Suzy malas.

“Eoh. Kenapa dia tak datang bersamamu kesini? Bukankah saat bersamaku kita bahkan selalu menghabiskan waktu bersama? Tapi ken-”

“Hentikan!” Myungsoo memotong perkataan Suzy. Kuping Myungsoo merasa panas saat mendengar perkataan Suzy tadi. “Kau tidak tau apapun tentangku dengannya. Jadi diamlah!” ucapku tajam.

“Tentangmu dan dia? Apa kalian sudah berakhir? Hubungan kalian ber-“ lagi, Myungsoo memotong perkataan Suzy.

“Sudah ku bilang diam saja jika kau tak tau apapun! Apa kau bisa menutup mulutmu? Atau apa kau bisa menyekolahkan mulutmu yang sangat berbisa itu? Sekali lagi, jangan pernah masuk ke dalam hubunganku dengan dia. Kau bukan siapa-siapaku lagi, ternyata selama ini aku salah telah memilihmu! Dan satu lagi. Dia, yeojachinguku sedang sakit.” ucap Myungsoo kemudian menghembuskan nafasnya.  Suzy terkejut atas ucapan yang Myungsoo lontarkan.

“Seharusnya, kenapa tidak dari dulu saja aku di pertemukan dengan Jiyeon. Dan seharusnya aku tidak di pertemukan denganmu! Kini aku merasa menyesal sudah bertemu denganmu.” ucap Myungsoo tajam.

Mata Suzy berkaca-kaca dan merah. Suzy merasa tertohok dengan ucapan Myungsoo yang sangat tajam. Suzy merasa benar-benar jatuh sekarang, baru kali ini Myungsoo berbicara seperti itu padanya.

“Myungsoo-ah, kenapa kau menjadi seperti ini?” ucap Suzy dengan suara parau. Suzy menatap Myungsoo dengan tatapan sedih.

“Apa itu penting untukmu? Aku pergi.” Myungsoo mengambil ponselnya dan meninggalkan Suzy yang masih sangat terkejut.

Suzy menangis, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sakit. Suzy benar-benar tak menyangka jika Myungsoo akan memperlakukan dirinya seperti itu. Suzy merasa harga dirinya telah hilang.

******

Jiyeon kini sedang berada di taman rumah sakit, ia sedang duduk di bawah pohon yang terdapat disana. Jiyeon memasangkan earphone ke telinganya, lalu menyentuh tombol play di layar ponselnya. Jiyeon menyenderkan kepalanya ke pohon, ia menghirup udara pagi.

“Udara di pagi hari memang sangat sejuk. Aku menyukainya.” Jiyeon memejamkan matanya, lalu tersenyum.

“Aku bosan. Kapan aku bisa pulang? Ini sudah tiga hari aku di sini, aku tidak betah di rumah sakit.” Jiyeon berbicara sendiri.

Jiyeon memegang perutnya. “Sebenarnya aku sakit apa?” ucap Jiyeon. Ia melepaskan earphone nya lalu memasukkan ponselnya ke saku baju rumah sakit.

“Nona Jiyeon?” Jiyeon menoleh saat ada yang memanggilnya. Seorang dokter, Jiyeon memandang dokter itu dari atas sampai bawah lalu kembali lagi ke atas.

“Ne, waeyo?” tanya Jiyeon.

“Apa anda sudah meminum obatnya?” tanya dokter. Jiyeon berfikir sejenak.

“Anhio. Aku belum meminum obatnya.” Ucap Jiyeon, ia menunjukkan cengirannya. Dokter itu menggelengkan kepalanya.

“Oh iya. Kenalkan aku Ahn Jae Hyun, sekarang aku dokter yang akan menanganimu. Menggantikan dokter Lee.” Ucapnya. Jiyeon mengangguk.

“Baiklah. Aku Park-”

“Aku tau.” Ucap Jae Hyun, ia memotong perkataan Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk. “Ayo cepat masuk! Kau harus minum obat.” Ucap Jae Hyun.

“Uisa-nim, tenang saja nanti aku akan meminum obatnya.” Ucap Jiyeon.

“Nanti? Kau ingin sakitmu bertambah parah?” ucap Jae Hyun kesal.

“Ah mwoya? Kenapa dokter Lee harus di gantikan olehmu? Issh jinja!” Jiyeon ikut kesal. Jiyeon meninggalkan Jae Hyun.

Jae Hyun menatap punggung Jiyeon, Jae Hyun terdiam sejenak. Kemudian Jae Hyun tersenyum, dan menyusul Jiyeon di belakang.

‘Sangat mirip.’

*****

Sehun memandang kursi Jiyeon yang berada di samping kursinya. Sudah dua hari Jiyeon tidak sekolah, ini tampak berbeda. Kemudian Sehun menatap Jieun yang sedang menulis di kursinya. Sudah dua hari ini Jieun tampak murung. Dan kelas ini terlihat berbeda jika tak ada Jiyeon.

‘Apa dia baik-baik saja?’

Bel pulang sekolah pun berbunyi, para murid berhamburan keluar kelas. Kini di kelas ini hanya tersisa Jieun dan Sehun saja. Hening. Jieun terdiam, ia seperti tidak ada niat untuk bangkit dari duduknya lalu pulang. Jieun menopang dagunya, ia menatap lurus ke depan. Sehun menatap Jieun heran.

“Apa kau tidak pulang?” tanya Sehun. Jieun tak menjawab.

“Apa kau benar-benar tidak ingin pulang?” tanya Sehun lagi.

“Kau duluan saja.” Ucap Jieun dingin.

“Tidak.” Ucap Sehun, Jieun menoleh kepada Sehun.

“Jika aku pulang terlebih dahulu, dan meninggalkanmu sendiri di kelas ini itu sungguh tidak baik. Kau ini seorang yeoja, bagaimana jika ada seseorang datang lalu berbuat yang tidak baik padamu. Jadi, aku tidak akan pulang sebelum kau pulang.” Ucap Sehun. Jieun menatap Sehun aneh.

“Terserah.” Ucap Jieun dingin. Jieun memakai tas ranselnya, lalu ia bangkit dari duduknya. Kemudian Jieun meninggalkan Sehun begitu saja di kelas ini.

Sehun memandang kepergian Jieun, kedua sudut bibir Sehun terangkat membentuk sebuah senyuman kecil. Ia menatap punggung Jieun yang semakin menjauh.

‘Lee Jieun.’

******

“Park Jiyeon.” Jiyeon menoleh.

“Ah…” Jiyeon meringis kecil saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Dokter Ahn. “Wae?” tanya Jiyeon.

“Sepertinya kau masih kesal denganku.” Ucap Jae Hyun. Jae Hyun menghampiri ranjang Jiyeon.

“Lalu kenapa kau bertanya?” ucap Jiyeon malas. Jiyeon menaikkan selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.

“Ya! Aku harus memeriksamu!” Ucap Jae Hyun dengan nada yang agak tinggi. Jae Hyun menarik-narik selimutnya, tetapi ternyata tenaga Jiyeon lebih kuat di banding dengan Jae Hyun.

“Kau ingin bermain denganku ternyata.” Jae Hyun mendengus kesal. Tiba-tiba saja sesuatu melintas di pikirannya.

“Ya! Bukalah! Ya!” Jae Hyun menarik selimut itu lebih kuat.

“Shireo!” teriak Jiyeon dari dalam.

Jiyeon dan Jae Hyun saling tarik menarik selimut. Hingga akhirnya Jae Hyun berhasil membuka selimut tersebut, walaupun hanya bisa membuka sampai sebatas leher Jiyeon saja. Jiyeon yang tidak terima, ia kembali menarik selimutnya. Tetapi ternyata bukannya menarik ujung selimut, tangan Jiyeon malah menarik pergelangan tangan Jae Hyun yang ternyata masih memegang ujung selimut. Hingga membuat Jae Hyun tertarik, dan membuat wajah mereka menjadi sangat dekat. Mata mereka membulat sempurna.

“Ya!” teriak Jae Hyun membuat Jiyeon terkejut. Jiyeon melepaskan tangannya yang tadi memegang pergelangan tangan Jae Hyun. Jae Hyun menjauhkan dirinya dari tubuh Jiyeon.

“M-mian. Aku tak sengaja!” Jiyeon menyembunyikan wajahnya di dalam selimut. Jae Hyun menatap Jiyeon kesal.

“Aish. Aku akan memeriksamu nanti saja.” Setelah mengucapkan itu, Jae Hyun pun pergi meninggalkan Jiyeon di ruangan ini.

“Aaaaaa!! Babo Jiyeon!!!”

.

.

“Hyung, apa kau bisa menjemputku sekarang di sekolah?”

“Ya! Apa kau tidak bisa pulang dengan bus?”

“Mwoya? Bukankah kau tidak ada kerjaan di rumah sendiri? Ayolah, eomma menyuruhku agar kau menjemputku.”

“Ishh, arraso.”

Myungsoo memutuskan sambungannya. Ia memakai mantelnya, lalu mengambil kunci motornya. Kemudian bergegas pergi menuju sekolah Jongin, untuk menjemput adiknya.

“Sial! Aku terjebak lampu merah.” Myungsoo menunggu hingga lampu berubah menjadi hijau.

Hingga mata Myungsoo menangkap sesuatu, pemandangan yang sangat tidak baik. Di dalam sebuah taksi, terdapat dua orang pasangan yang sedang bermesraan. Myungsoo memandang kedua pasangan itu dengan tatapan amarah dan benci.

‘Bae Suzy. Ia berselingkuh.’

Kini Myungsoo merasa ia sudah di permainkan oleh Suzy, pacarnya. Sungguh Myungsoo sangat marah kepada Suzy. Jadi selama ini Myungsoo sudah di duakan olehnya. Ia memandang ke depan dengan tatapan kosong, ia sungguh tak percaya ini.

Tanpa Myungsoo sadari, lampu sudah berubah menjadi hijau. Tetapi Myungsoo hanya diam saja, sedangkan kendaraan lain sudah melaju. Dari arah yang berlawanan, ada sebuah mobil truk yang melaju sangat kencang ke arah Myungso. Suara bunyi klakson, dan teriakan para pejalan kaki menyadarkan Myungsoo. Myungsoo memandang truk yang kini sudah semakin mendekat ke arahnya. Mata Myungsoo membulat sempurna.

BRUUKK

.

.

“Aaaaa!”

Myungsoo bangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi wajahnya yang tampan. Myungsoo memegang kepalanya.

“Aku bermimpi itu lagi, Ya Tuhan, kenapa aku harus memimpikan peristiwa itu lagi?” Myungsoo mengacak-acak rambutnya.

“Hyung!” Jongin masuk ke kamar Myungsoo dengan wajah khawatir. Myungsoo menatap Jongin heran.

“W-wae?” tanya Myungsoo.

“Kenapa kau berteriak? Apa kau baik-baik saja?” tanya Jongin. Myungsoo tersenyum, ia mengangguk.

“Nan gwaenchana. Kembalilah ke kamarmu, ini sudah malam. Tidurlah.” Ucap Myungsoo. Jongin mendecak.

“Tapi kau berkeringat sangat banyak. Kau yakin tidak apa-apa?” Jongin memegang kening Myungsoo. Myungsoo mendelik.

“Sudah kubilang masuk ke kamarmu! Aku hanya bermimpi buruk.” Ucap Myungsoo. Jongin mengangguk.

“Arraso.” Jongin berbalik dan keluar dari kamar Myungsoo.

Sepeninggal Jongin. Myungsoo kembali berbaring, Myungsoo mengambil  ponselnya yang berada di bawah bantalnya. Myungsoo melihat jam digital yang berada di ponselnya, 01.12 a.m.. Myungsoo menguap, hingga perlahan matanya mulai terpejam.

****

“Jongin-ah.” Myungsoo memasuki kamar Jongin. Tapi ternyata tidak ada siapapun di kamar ini. “Eh? Kemana dia?”

Myungsoo melihat-lihat isi kamar Jongin. Sudah 4 tahun ia tak masuk ke kamar Jongin. Banyak yang berubah dari kamar Jongin, ya sudah 4 tahun berlalu. Myungsoo duduk di samping ranjang, ia membuka laci yang berada di samping ranjang.

“Eoh ada sebuah foto.” Myungsoo mengambil foto yang berbingkai itu. Ia menatap foto itu.

“Bukankah ini Jiyeon, Jieun, dan Jongin?” Myungsoo memanggut-manggut. “Jadi mereka sudah lama bersahabat.” Myungsoo mengangguk.

Myungsoo kembali menyimpan foto tersebut, saat itu matanya menangkap sebuah buku yang cukup tebal berukuran kecil. Myungsoo mengambil buku tersebut.

“Tchh, ternyata Jongin mempunyai buku diary.” Myungsoo mendecak. Myungsoo membuka buku itu, dan membuka lembaran demi lembaran.

“Ah, dia sangat rajin menulis diary. Lihat ini sudah banyak.” Ucap Myungsoo. Myungsoo kembali membuka lembaran lain. Seketika itu mata Myungsoo membulat sempurna.

“Ige mwoya? Bukankah ini foto Jiyeon? Kenapa banyak sekali foto Jiyeon di sini?” Myungsoo memandang foto-foto Jiyeon. Ia tersenyum.

“Jiyeon benar-benar cantik.” Ucap Myungsoo. “Eoh? Apa ini?” Myungsoo menemukan tulisan di balik foto Jiyeon. Ia membacanya.

Park Jiyeon,
Aku menyukainya, aneh bukan?
Kenapa aku bisa menyukai orang ini.
Aku menyukai sahabatku sendiri.

Mulut Myungsoo terbuka saat membacanya. Ia benar-benar tak menyangka jika Jongin menyukai Jiyeon. Seseorang yang juga Myungsoo sukai. Jadi, apa Myungsoo akan bersaing dengan adiknya demi mendapatkan hati Jiyeon?

Myungsoo kembali memasukkan buku diary Jongin, dan menutup lacinya kembali. Myungsoo bangkit dari duduknya, saat akan keluar dari kamar Jongin, Jongin datang.

“Hyung, apa yang kau lakukan disini?” tanya Jongin heran.

“Aku tadi mencarimu, tapi kau tak ada di kamar ternyata. Aku baru saja akan pergi.” Ucap Myungsoo. Jongin mengangguk.

Myungsoo melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Jongin, tetapi langkahnya terhenti. Ia berbalik badan.

“Jongin-ah.” Panggil Myungsoo. Jongin berbalik menghadap Myungsoo.

“Aku ingin tanya sesuatu. Apa kau menyukai Jiyeon?” tanya Myungsoo. Jongin menatap Myungsoo lurus, rahangnya mengeras ia tak bisa menjawab pertanyaan Myungsoo.

“Ternyata kau benar menyukainya.” Ucap Myungsoo, Myungsoo menghembuskan nafasnya pelan.

“Aku juga menyukai Jiyeon.” Ucap Myungsoo. Yang sukses membuat mata Jongin membulat sempurna.

“A-apa?”

“Ya, aku menyukai Jiyeon. Sama seperti kau yang juga menyukai Jiyeon.” Ucap Myungsoo.

“H-hyung, a-apa yang kau bicarakan?” tanya Jongin pura-pura tak mengerti.

“Kau belum mengerti? Atau kau hanya pura-pura tak mengerti dengan apa yang aku ucapkan?” tanya Myungsoo.

“A-a-aku—”

“Ayo kita berlomba.” Ucap Myungsoo memotong perkataan Jongin. Jongin terdiam, lidahnya kelu.

“Berlomba untuk mendapatkan Jiyeon. Mulai sekarang kita akan bersaing secara sehat, untuk mendapatkan hati Jiyeon.”

.

.

.

To be continue

35 responses to “LIKE THE FIRST TIME [6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s