[Chapter-7] HIGH SCHOOL LOVERS : FIRST KISS

hsl1

High School Lovers : First Kiss

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

Cinta? Demi Tuhan, ia bahkan bukan baru pertama kali merasakan perasan yang gila seperti ini. Namun, efek ucapan Soojung tadi pagi cukup berpengaruh banyak pada pola pikirnya. Ia menyukai gadis itu? Astaga, bahkan sampai sekarang pun selalu ada bagian kecil dalam dirinya yang sama sekali tidak membenarkannya. Biar bagaimana pun gadis itu temannya, ‘kan? Lagi pula, dari sudut pandangnya gadis itu hanya akan menganggapnya sebagai seorang teman, tidak lebih dan juga tidak kurang.

 

Nafasnya berhembus kasar. Rasa-rasanya belakangan ini beban pikirannya terlalu berat, dan yang menjadi pertanyaannya kenapa hanya sosok Park Jiyeon yang membuatnya seolah tertimpa beban ribuan ton. Aneh, bukan? Ia memeluk bantal sofa, seraya wajahnya tertumpu pula pada bantal mungil itu. Pemikirannya melayang-layang jauh entah ke mana. Mungkin, hanya mungkin kalau orang yang bukan kerabatnya melihatnya seperti ini pasti ia akan dianggap kehilangan akal sehat.

 

Myungsoo mengerang, nyaris putus asa atas semua pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya yang tidak memiliki titik terang sama sekali. Kalau mau diungkapkan dengan sederhana, seperti pertanyaan itu menggantung di udara tanpa sebuah jawaban. Hal seperti ini tentunya membuat siapa saja frustasi. Terlalu penasaran tentang apa jawaban dari pertanyaan tersebut, sampai-sampai terkadang membuat beberapa orang berada dalam posisi ketidak pastian. Menyebalkan.

 

“Memikirkan ucapanku, hum?” Soojung memposisikan dirinya tepat di samping kiri Myungsoo. Ia mengerling menggoda, seraya mendorong-dorong kecil tubuh tegap milik kakaknya. Ia tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya yang mulai kesakitan semenjak melihat ada rona merah di pipi milik kakanya. Demi apa pun, ini bukan kakaknya. Sejak kapan pula Kim Myungsoo si pria sempurna jadi pemalu seperti ini. “Oppa, aku tidak tahu jatuh cinta pada Jiyeon membuatnya menjadi lebih kewanita-wanitaan.” Sekali lagi Soojung larut dalam tawanya.

 

“APA?!” Myungsoo melempar bantal kecil itu pada Soojung. Tapi, ucapan Soojung tadi, apa itu benar? Apa dia sudah berubah terlalu banyak? Tidak, lupakan. Ia kembali memfokuskan dirinya untuk membalas perkataan Soojung dalam bentuk tindakan kejam, dalam hal ini berarti menyiksa adiknya.

 

“Oppa, lepas. Aku salah, lepas.” Soojung meronta tat kala jemari Myungsoo mulai menggelitiki perutnya. Ia mengambil tindakan cepat menendang Myungsoo tanpa belas kasihan sampai pada pojok sofa, lalu ia kembali tertawa.

 

“Wah-wah, sepertinya Choi Minho mengajarkan adikku bagaimana caranya membela dirinya.”

 

Sentak tawa Soojung hilang bagai ditelan bumi. Wajahnya ditekuk, dan tangannya ia lipat di depan dada. Kakaknya bodoh, tidak, sangat bodoh. Di saat-saat seperti ini kenapa harus mengungkit si kodok itu, merusak susana saja.

 

“Kalian bertengkar?”

 

“Tidak tahu.”

 

Myungsoo tidak butuh jawaban apa-apa lagi dari Soojung. Ia tahu semenjak datangnya Jong In, Soojung dan Minho saling menjauhkan diri tanpa alasan jelas. “Aku sarankan, pilih salah satunya, atau kau kehilangan keduanya.”

 

Soojung tersenyum sinis mendengar penuturan Myungsoo. “Seharusnya Oppa juga melakukan hal yang sama. Jiyeon atau Suzy, atau tidak keduanya.”

 

Diam. Tidak ada lagi satu patah penggal kata pun yang keluar dari bibir mereka. Keduanya sibuk dalam dunia dan permasalahan yang ada di hadapan mereka. Ini mungkin hanya tentang pilihan, tapi yang menjadi masalahnya adalah ; bagaimana kalau pilihan itu salah? Ya, walau pun mereka tahu pasti dari semua pilihan tetap memiliki resiko besar, tetap saja mencari sebuah pilihan dengan resiko paling kecil untuk menyakiti satu sama lain adalah prioritas utama.

 

*

            Hawa dingin di malam hari terasa sampai menusuk-nusuk tulang. Puluhan orang mengambil pilihan bersembunyi di rumah dengan pemanas untuk sekedar menghangatkan diri. Pun beberapa orang ada yang memilih menghabiskan waktu di luar, bertarung dengan suhu cuaca yang begitu rendah. Jalanan di tutupi oleh salju yang mulai berjatuhan sejak malam tadi. Setiap pejalan kaki nampak meniup tangan mereka masing-masing, lalu menempelkannya ke wajah mereka yang mulai terasa membeku.

 

Park Jiyeon menghentak-hentakkan kakinya di jalanan, begitu kesal. Apa yang sebenarnya dilakukannya di tengah dinginnya udara. Keluar rumah tanpa tujuan sepertinya pilihan terburuk yang pernah diambilnya. Kalau saja tadi ia mendekam di dalam rumah, pastinya tubuhnya tidak harus menerima penyiksaan seperti ini. Ia memeluk tubuhnya sendiri sembari berjalan kecil menuju rumahnya. Bibirnya membiru, mengingat nyaris lebih satu jam dia sudah berkeliaran di luar.

 

Jiyeon tersenyum begitu bahagia tat kala jarak rumahnya hanya tinggal dua puluh meter. Bayangan-bayangan kamarnya yang hangat, dan ranjang dengan selimut membuatnya nyaris tertawa bagai orang gila. Harus cepat, seperti itu lah perintah otaknya. Langkah kakinya sangat bersemangat, namuan sekitar satu meter dari rumahnya, ia berhenti melangkah. Kim Myungsoo? Apa lagi yang tengah dilakukan pria itu di depan rumahnya? Tunggu, itu tidak penting sekarang. Masalahnya sudah berapa lama pria itu berdiri mematung di depan rumahnya?

 

“Ya, Myungsoo-ya!” Jiyeon berteriak dengan suara serak. Ia mendekat pada Myungsoo untuk memastikan kondisi pria ini tidak sepertinya. Menggigil dan butuh kehangatan.

 

“Astaga, Park Jiyeon, lihat dirimu..” Myungsoo memegang bahu Jiyeon yang sedikit bergetar, lalu beralih ke kedua tangan Jiyeon. “Kau menggigil, Nona.” Ia mengambil tangan Jiyeon, lalu menggegamnya seraya meniupkan udara pada kedua tangan Jiyeon. Sinar khawatir tidak bisa tersembunyi dari mata Myungsoo. Ia menyentuh wajah Jiyeon dan merasakan bahwa pipi gadis itu benar-benar dingin. “Lebih baik kau masuk, lain kali saja aku datang lagi.”

 

Myungsoo hendak mendorong Jiyeon masuk, dan pergi namun Jiyeon justru menghentikannya.

 

“Kau juga,” ucap Jiyeon nyaris tak terdengar. Ia memegang ujung mantel Myungsoo. Jangan pikir ia akan membiarkan Myungsoo kembali sementara pria ini jelas sudah setengah kedinginan. Resiko sakit pasti akan sangat besar, kalau ia mebiarkan Myungsoo kembali sekarang.

 

Myungsoo hendak menolak, tapi wajah memohon Jiyeon menghentikannya. Ya Tuhan, ada apa sebenarnya dengan dirinya. Kenapa ia tidak bisa menolak gadis ini? Sekali lagi perkataan Soojung dengan kurang ajar lewat tanpa permisi di kepalanya. Menyukai Jiyeon, ya? Tidak, itu bisa jadi masalah besar, juga ini terlalu cepat untuknya apalagi untuk Jiyeon. Tapi, bagaimana kalau gagasan Soojung benar adanya, apa yang akan ia lakukan?

 

“Myungsoo,” Jiyeon menarik Myungsoo lagi. Ia sudah tidak tahan berada di luar.

 

“Ah, ya.” Myungsoo mengekor di belakang Jiyeon bagai anak itik. Ada keraguan dalam dirinya untuk masuk ke rumah Jiyeon sejak terakhir kali ia datang. Waktu itu mereka bertengkar, jadi bagaimana kali ini.

 

“Duduklah, aku akan membuatkan cokelat panas.”

 

Sekali lagi Myungsoo berakhir di sofa ini. Matanya kembali meneliti setiap sudut rumah Jiyeon, sama seperti yang ia lakukan sebelumnya. Satu pertanyaan lagi terbesit di kepalanya, kemana Ibu Jiyeon sekarang? Waktu itu ia datang Ibu Jiyeon juga tidak ada. Mustahil, ‘kan Jiyeon tinggal sendirian di rumah yang cukup besar ini.

 

“Untukmu.” Jiyeon memberikan cangkir kecil kepada Myungsoo, lalu mengambil tempat di samping Myungsoo. Ia menghirup dalam-dalam aroma cokelat panasnya, dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Ada kehangatan tersendiri yang perlahan-lahan merambat dalam dirinya. Cokelat panas memang pilihan terbaik saat dirinya seperti ini.

 

Masa kecanggungan tak akan bisa terhindari lagi, mengingat di mana mereka berada dengan hanya mereka berdua di tempat itu. Baik Myungsoo dan Jiyeon akhirnya mulai membuat jarak pada posisi duduk mereka. Menit-menit awal hanya terlewat dalam sunyi, tidak ada suara sama sekali seolah sedikit suara akan menjadi pengusik yang parah.

 

Hampir saja mereka berdua menghabiskan waktu tanpa suara, jika Jiyeon tidak sontak berteriak akibat lampu rumahnya yang tiba-tiba padam. Jiyeon bergerak gelisah di tempatnya, ketakutan melandanya secara cepat. Tidak ada penerangan sama sekali, dan itu membuatnya semakin kalut.

 

“Jiyeon-ah.” Tanpa sadar Myungsoo sudah duduk sangat dekat dengan Jiyeon. Ia menyentuh bahu Jiyeon, dan membuat wajah gadis itu berhadapan dengannya, sekali pun tidak ada cahaya Myungsoo tahu betul ada ketakutan di wajah Jiyeon. “Tenang, aku tepat di sampingmu.” Myungsoo mengelus puncak kepala Jiyeon dengan lembut, seraya mengucapkan kata-kata yang mampu membuat Jiyeon bisa sedikit lebih tenang. Myungsoo merogoh saku mantelnya, dan mengambil ponselnya. Ia menyalakan lampu senter kecil dari ponselnya, lalu meletakkan ponselnya tepat di atas meja. “Sudah ada cahaya, kau bisa tenang.”

 

Jiyeon mengangguk-angguk. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas wajah Myungsoo yang berjarak sepuluh sentimeter dari wajahnya. Rona merah nampak muncul di pipinya, namun tak terlalu terlihat sebab kurangnya penerangan. Ia membuang muka ke arah lain. Apa ini yang dimaksudkan Choi Minho? Ia memegang dadanya dan merasakan ada yang tidak benar dengan detak jantungnya. Seperti jantungnya berdetak terlalu kencang akibat berlari, tapi sekarang ia sedang diam.

 

“Kau baik-baik saja?” Myungsoo membuat Jiyeon menghadap padanya lagi, dan mau tidak mau membuat jarak mereka kembali terkikis. Sialan, di saat-saat seperti ini ucapan Soojung malah tidak berhenti menghentui dirinya.

 

“Ehmm, ya aku baik-baik saja.”

 

Lampu senter kecil dari ponsel Myungsoo juga tiba-tiba ikut mati, dan akhirnya memancing ketakutan Jiyeon lagi. Myungsoo mengambil ponselnya dan memeriksanya. Kenapa sekarang? Baterai ponselnya habis. Sial.

 

“Jiyeon-ah, kau harus tenang, ini tidak akan lama.”

 

Jiyeon mengangguk-nganggukkan kepalanya dalam gelap. Jujur, ketakutannya sebenarnya sudah berkurang sejak tadi, hanya saja Myungsoo terus membuatnya tidak tenang dengan perasaan aneh yang terus datang padanya.

 

“Myungsoo-ya..”

 

“Hmm,”

 

“Tidak jadi.”

 

Jiyeon berbalik menghadap Myungsoo, namun baik Myungsoo mau pun Jiyeon merasakan ada hal aneh pada diri mereka. Pada bibir mereka masing-masing ada sesuatu yang menempel. Dan secara tiba-tiba lampu menyala kembali. Mata Myungsoo terbelak melihat Jiyeon di hadapannya dengan bibir gadis itu menyentuh bibirnya. Reaksi yang sama ditunjukkan gadis itu, bahkan terlihat jauh lebih terkejut dari Myungsoo. Bagaimana bisa? Keduanya langsung menjauh, dan mengatur deru jantung mereka masing-masing yang tidak beraturan. Ini kecelakaan, kami tidak sengaja melakukannya, pikir Myungsoo dan Jiyeon.

 

“Maaf,” ucap Myungsoo cepat.

 

“Aku juga. Maaf.” Nada suara Jiyeon bergetar. Gadis itu berdiri cepat, dan terlihat salah tingkah. Ia mengambil dua cangkir yang ada di meja, dan secepat mungkin membawanya ke dapur untuk menghindari kontak mata langsung dengan Myungsoo. Jiyeon berputar-putar tidak jelas di dapur, pun bibirnya ikut berguman kata-kata aneh yang seolah bermaksud untuk menenangkan dirinya sendiri.

 

“Jiyeon?” Myungsoo menautkan kedua alisnya tat kala menemukan Jiyeon bertingkah aneh. Ia tertawa kecil menanggapi perilaku Jiyeon. Ia menebak yang tadi pasti pertama kalinya untuk Jiyeon sampai-sampai gadis itu jadi kalang kabut seperti ini. “Kau lucu.” Myungsoo tertawa terbahak kali ini. Ia tidak menyangka saja reaksi yang ditunjukkan oleh Jiyeon seperti ini, bahkan lebih jauh dari apa yang ia pikirkan. Langkah kakinya mendekat pada Jiyeon untuk berbicara pada gadis itu.

 

“Tidak, jangan mendekat!” Jiyeon mundur, ada ketakutan dalam dirinya. Bukan takut akan tindakan Myungsoo, tapi ia takut terhadap apa yang ia rasakan saat ini. Semuanya bertentangan dengan pikirannya.

 

“Aku mau memastikan sesuatu.”

 

Jiyeon kelabakan begitu merasa dirinya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Terlebih kalimat Myungsoo barusan membuatnya semakin kebingungan dan juga takut. Mata Jiyeon terbelak, seolah kedua bola matanya ingin keluar dari tempatnya. Myungsoo memeluknya, dan kepala pria itu bersandar pada bahunya. Siapa pun, tolong aku, ia merintih dalam hatinya. Ia tidak bisa membiarkan semuanya berjalan terlalu jauh, bagaimana nanti kalau Myungsoo pergi setelah membuatnya berharap terlalu tinggi. Bagaimana nanti ia akan hidup kalau terjadi hal seperti dulu lagi?

 

“Aku sudah memikirkannya sejak pagi tadi, dan sekarang harus aku akui hal itu memang benar.” Myungsoo memeluk tubuh ramping Jiyeon dengan erat. Ia menikmati deru jantungnya dan Jiyeon yang saling memburu bagaikan irama yang indah. Hah, ia gila sekarang. Salahkan saja Soojung atas ucapannya yang membuat dirinya sampai seperti ini. “Apa kau berpikir aku menyukaimu, sama seperti yang Soojung pikirkan?”

 

“APA?!”

 

*

 

Soojung memandangi Jiyeon semenjak beberapa menit lalu. Ia penasaran, sangat penasaran perihal kejadian apa yang semalam terjadi antara Myungsoo dan Jiyeon. Pasalnya, semenjak kembali dari rumah Jiyeon, senyum tiga jari Myungsoo tidak hilang-hilang bahkan hingga pagi ini. Yang menyebalkan kakaknya sama sekali tidak memberitahunya apa yang sudah terjadi, dan itu membuatnya frustasi.

 

“Jiyeon-ah, apa semalam ada hal aneh yang terjadi?”

 

“Apa? Ha-ha-ha, mana mungkin.” Jiyeon tertawa sumbang. Ia membuang pandangannya keluar jendela, dan secara kebetulan wajah Myungsoo tertangkap olehnya hingga membuatnya menarik sebuah senyuman kecil.

 

“Benarkah? Lalu apa yang kau lihat?” Soojung melihat ke arah yang sama dengan Jiyeon. Lalu, senyumnya ikut merekah. Ia sudah mendapat titik terang dari hal-hal aneh yang terjadi dengan Myungsoo dan Jiyeon. “Kau menyukai Oppaku, ‘kan? Jawab dengan jujur Park Jiyeon?”

 

“Benarkah?”

 

Tawa Soojung meledak. Jawaban macam apa yang baru saja diberikan Jiyeon. Jelas-jelas, dari jawaban itu mengandung arti ya. Ia bertepuk tangan sendiri. Dugaannya tidak pernah salah. Tapi tawanya tandas begitu saja ketika wajah Bae Suzy melintas di kepalanya. Ini tidak baik, kalau Suzy masih gentayangan di sekitar Myungsoo, ia bisa jamin semuanya tidak akan berjalan mulus. Maka dari itu ia akan membuat semuanya berjalan dengan baik untuk Myungsoo. Oppa, beruntung kau memiliki adik sepertiku, batin Soojung senang

 

“Kau sudah katakan pada Oppa?”

 

“Apa maksudmu? Aku tidak..”

 

“Ya Tuhan, tidak perlu malu, Park Jiyeon.” Soojung mencubit pipi Jiyeon gemas. Ia bertaruh sebelum ini pasti Jiyeon tidak pernah merasakan hal yang namanya jatuh pada lawan jenisnya, makanya bentuk reaksi Jiyeon seperti ini. Tapi ini hal bagus.

 

“Tapi, aku benar..”

 

“Diam, Song saem sudah masuk.”

 

Dan akhirnya pembicaraan itu terhenti dengan satu kesimpulan yang sudah diambil Soojung, yang intinya kakanya yang idiot itu menyukai Jiyeon, dan Jiyeon jangan ditanya lagi, sama seperti kakaknya.

 

*

 

Soojung menarik tangan Jiyeon menuju meja kakanya dan Minho, juga Suzy. Tunggu di sana juga ada Jong In. Ia berhenti tepat di depan meja itu, dan tersenyum aneh. Pandangannya jatuh pada Suzy yang duduk tepat di samping Myungsoo, lalu berali pada Minho yang juga tengah menatapnya intens, dan akhirnya jatuh pada Jong In yang tersenyum hangat padanya.

 

“Oppa, aku ada kabar baik.” Soojung tersenyum sumringah, sementara matanya menatap sinis pada Suzy. Ia mengerling jahil pada Myungsoo untuk menggoda kakaknya. “Jiyeon, meny..”

 

“Tidak, jangan dengarkan dia!” Jiyeon memekik keras untuk kali pertama. Ia menutup mulut Soojung paksa. Hampir saja ia menjadi bahan godaan Minho kalau saja Soojung menyelesaikan kalimatnya.

 

“Aku rasa aku tahu,” Minho menyela, ia menaik-turunkan alisnya, dan tersenyum menggoda pada Jiyeon. “Maksud Soojung, Jiyeon itu me..”

 

“Seunbae!”

 

Sementara Myungsoo, Jiyeon, Soojung, dan Minho saling menggoda, Suzy dan Jong In lah satu-satunya yang nampak keheranan melihat tingkah mereka semua.

 

“Tidak perlu kalian katakan, dasar dua idiot!” Usai kalimatnya Myungsoo bangkit dari duduknya dan manrik tangan Jiyeon untuk mengikutinya.

 

“Eh, Myungsoo!”

 

Soojung mengambil tempat duduk Myungsoo, lalu menoleh pada Suzy. “Sebaiknya siapkan hatimu.” Ucap Soojung sinis.

 

“Setelah ini kita yang perlu bicara, Soojung-ah.” Tutur Minho tajam.

 

*

 

 

 

Dan disinilah mereka berakhir. Di balkoni sekolah. Myungsoo hanya memandangi Jiyeon selama beberapa saat pertama, lalu kemudian mendekati gadis itu yang masih dam di tempatnya dengan wajah yang nyaris merah padam.

 

“Perihal Soojung dan Minho seunbae, jangan dipikirkan.” Sekali lagi nada suara Jiyeon bergetar. Sekarang ia berada di posisi yang tidak menguntungkan lagi. Ia ingin menghindar dengan berlari namun Myungsoo sudah menutup pintu menuju tangga, tidak mungkin ia melompat, ‘kan dari balkoni ini sampai ke bawah, yang ada nyawanya justru melayang hanya untuk menghindari Myungsoo.

 

“Sekarang aku tahu.”

 

“Myungsoo-ya, bisakah kita tidak membahasnya? Aku hanya ingin kita tetap seperti sebelumnya.”

 

“Tapi aku tidak bisa.” Tegas Myungsoo. Kenyataannya memang seperti itu, biar bagaimana pun kembali seperti saat ia hanya menganggap Jiyeon teman itu tidak mungkin bisa ia lakukan. “Aku tidak bisa, karena aku ingin lebih dari itu.”

 

Jiyeon menghela nafas berat. Sisi lain dirinya menginginkan hal yang sama seperti Myungsoo, namun ketakutan itu tetap ada dalam dirinya. Ketakutan yang selama ini tumbuh dalam dirinya tidak membiarkannya untuk memberi kesempatan pada siapa pun. “Aku..”

 

“Sekalipun kau memaksa, aku tetap tidak bisa karena aku sudah terlanjur menyukaimu.”

 

Jiyeon mendongak membalas tatapan lembut Myungsoo. Jangan, kau tidak boleh luluh, Park Jiyeon. Bisikan-bisikan itu menyerbunya dalam hitungan detik setelah kalimat Myungsoo lolos dari bibirnya.

 

Myungsoo mengumpulkan keberaniannya lagi untuk hal gila dalam kepalanya, tidak peduli apa efek yang akan diberikan nanti. Setidaknya ada solusi dalam kepalanya, walaupun solusi itu sendri ada hal yang sangat gila.

 

“Myungsoo-ya, apa yang akan..” Kalimat Jiyeon tertahan di tenggorokan, ketika Myungsoo meraih tengkuknya.

 

“Aku akan memastikannya untukmu, bahwa kau juga sama sepertiku.”

 

Dan untuk kedua kalinya dalam tujuh belas tahun hidup Jiyeon, ia merasakan seseorang menyentuh bibirnya dengan lembut seperti permen kapas. Kaget tentu ia rasakan, namun ia juga ingin memastikan, apakah rasa takutnya lebih besar dari perasaannya atau justru sebaliknya.

ps : Holla, saya kembali membawa lanjutan ff absurd ini.

Untuk segala bentuk keterlambatan mohon dimaafkan sebab saya sempat sibuk belakangan ini

dan karena sekarang musim libur ya akhirnya sempat

Thankyou buat readers yang selalau nunggu ff ini cup :*

41 responses to “[Chapter-7] HIGH SCHOOL LOVERS : FIRST KISS

  1. Hahahahaa first kiss and second kiss juga ya buat mastiin
    Jiyeon lucu kalo lagi gugup gt
    Jadian dehhhh.. trus suzy balik ke luar negeri ya kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s