(Chapter 4) Belle in the 21st Century – Beast’s Family

belle-myungsoo-1

Belle in the 21st Century: Beast’s Family

kkezzgw art&storyline

Cast: T-Ara’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: SHINee’s Minho, miss A’s Suzy, and more (than 12)~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family, Friendship

Rated: General

Length: Chapter

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3

FacebookTwitter: ELF SONE YOONWONITED Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari MyungYeon dan nanti akan dilanjutkan ke MinStal, TaeLli, dan seterusnya. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.


—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 23 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

Aku tidak boleh mati…kumohon jangan sekarang, Tuhan.

Jiyeon tampak gelisah dalam tidurnya membuat matanya terbuka perlahan. Mata indahnya mengerjap sembari menguap singkat, jiwa gadis itu belum sepenuhnya masuk ke dalam tubuhnya lagi setelah ia pingsan tadi malam.

Butuh beberapa detik untuknya menyadari dimana ia berada. Jiyeon membulatkan matanya panik begitu ia sadar ia tak mengenali dimana ia berada sekarang.

Astaga, apa ia benar – benar sudah mati? Tidak mungkin…kamar ini jelas bukan kamarnya. Apa ia sedang berada di hotel bintang lima? Mengapa ia bisa berada disini?

Jiyeon memperhatikan interior ruangan yang ia tempati saat ini. Kamar ini didominasi oleh warna ungu. Lampu ruangan yang terbuat dari crystal berwarna ungu, single sofa menghiasi sudut ruangan, dan dinding ruangan yang dilapisi oleh wallpaper dengan warna perpaduan ungu dan putih yang membuat ruangan ini semakin terlihat mewah.

Jiyeon menampar pipinya sendiri dan terasa sakit, ini bukan mimpi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Ia ingat semalam ada beberapa pria yang membekapnya dan membuatnya tak sadarkan diri, dan sekarang saat ia membuka mata, ia seperti dimasukkan ke dalam istana antah berantah yang tak ingin ia masuki.

Gadis itu memperhatikan pakaiannya yang masih sama seperti kemarin—dress berwarna biru metalik sebatas setengah paha—membuatnya sedikit bisa bernafas lega.

Jiyeon langsung menganga terkesima dengan pemandangan yang ada dibalik tirai, “Astaga….bagaimana mungkin bisa ada tempat seindah ini?

CKLEK~

Jiyeon nyaris melonjak mendengar pintu kamarnya terbuka dan muncul seorang wanita yang tersenyum lembut kearahnya. Kecantikan wanita itu tidak lenyap dimakan usia walaupun Jiyeon yakin ia sudah mulai memasuki fase usia senja.

“Kau sudah bangun rupanya,”

Jiyeon menatap wanita itu kebingungan, “A-anda siapa? Ke—kenapa saya bisa berada disini?”

Wanita itu semakin mendekati Jiyeon yang masih memasang sikap was-was lalu mengulurkan tangannya sembari melempar senyum hangat, “Aku Kim Hanna, ibu Myungsoo”

Jiyeon terbelalak mendengarnya, “Ibunya Myungsoo? Berarti..aku sekarang ada di—”

“Rumah Myungsoo, lebih tepatnya rumah Keluarga Kim.”

“Mengapa aku bisa berada disini? Apa Tuan Kim yang membawaku kemari?”

Oh tentu saja tua bangka itu yang membawaku kemari! Umpat Jiyeon kesal dalam hati, ia baru ingat kronologi kejadian kemarin.

Kim Hanna tertawa kecil melihat kepanikan Jiyeon, calon menantunya ini sangat polos dan lugu. “Ya, suamiku yang membawamu kemari..”

Jiyeon semakin salah tingkah begitu ia tahu wanita di depannya ini adalah calon ibu mertuanya. Bagaimana ceritanya ia bertemu dengan calon mertuanya dalam keadaan pasca bangun tidur, memakai pakaian yang tidak wajar, dan bau alcohol menyeruak di seluruh tubuhnya? Oh tidak, ini benar- benar tidak baik. Gadis itu bergerak gelisah, berusaha secara halus menutupi pahanya yang terpampang lebar di hadapan Kim Hanna.

Kim Hanna mulai menyadari kegelisahan Jiyeon karena penampilannya yang kurang sopan, ia pun memanggil seseorang, “Yoojung! Yoojung!”

Tak lama munculah sosok gadis bernama Yoojung itu. Dengan dress berwarna putih, rambut bergelombang yang tergerai manis sepunggung, dipadu dengan ankle boot cokelat untuk membatunya menapaki bumi, gadis itu tampak seperti malaikat.

“Waeguraeyo, eomma?”

Sekilas Yoojung melirik kearah Jiyeon yang sedang menunduk tepat di samping ibunya dengan kening mengernyit heran. Siapa gadis ini? Dan kenapa pakaiannya seperti pelayan – pelayan di club malam elite? Namun ia terpaksa harus meredam rasa penasarannya saat ibunya memanggilnya kembali.

“Yoojung, kenalkan ini calon istri kakakmu, Jiyeon”

Seketika novel yang dipegang Yoojung pun terjatuh dengan mata membulat shock, “APA?! Gadis ini yang akan menjadi istri Myungsoo? Tapi—tapi…kenapa pakaiannya seperti itu?” pekik Yoojung secara gamblang.

Gen…berbicara gamblang sepertinya sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini, desah Jiyeon yang hanya bisa menahan malu mendengar perkataan Yoojung.

Kim Hanna melotot marah, “Kim Yoojung! Sudah mama bilang berapa kali untuk menjaga perkataanmu, huh?!”

Yoojung merengut kesal mendengarnya, ia melirik tajam kearah Jiyeon yang masih diam mematung di belakang ibunya, “Lalu kenapa mama memanggilku? Aku ingin sarapan setelah itu pergi ke kampus” ujarnya setengah malas.

“Pinjamkan bajumu untuk Jiyeon, dia terlihat tidak nyaman memakai pakaiannya sekarang”

Yoojung menggigit bibirnya untuk menahan umpatan yang siap keluar dari bibir kecilnya. Namun yang bisa Yoojung lakukan hanyalah mengangguk pasrah, “Hmm…nona, cepat kesini. Aku akan meminjamkan baju untukmu,”

Mata Yoojung terbelalak ketika ia menatap Jiyeon yang tampak mengenalinya juga, “EO! AGASSI?!”

**

“Aku benar – benar menyesal karena bersikap jutek padamu, kak. Aku memang tidak terlalu suka dengan kehadiran orang asing,” sesal Yoojung.

“Tidak usah kau pikirkan,” balas Jiyeon santai.

Mereka berdua kini berjalan beriringan menuju kamar. Sembari mengobrol, Jiyeon memperhatikan mansion milik keluarga Halstein yang menyerupai istana modern. Interior rumah ini jelas mengusung tema classic yang membuat Jiyeon merasa berada di Buckingham Palace ala Kerajaan Inggris di Eropa. Warna gold, silver, serta cream mendominasi setiap sudut rumah yang semakin cantik saat barang – barang berbau vintage seperti vas, lukisan besar ala kerajaan, ukiran – ukiran di tembok maupun atap rumah, serta patung – patung yang mengisi celah sempit di sudut rumah. Mereka mempercayakan karpet merah untuk melapisi bagian lantai dua, sedangkan lantai satu dilapisi oleh marmer berwarna putih dan hitam. Bahkan rumah ini memiliki dua tangga di sisi kanan maupun kiri sehingga menambah kesan seperti sebuah ballroom pesta dansa, terlebih sebuah piano berdiri gagah di lantai 1 membuat rumah ini benar – benar patut dinominasikan sebagai rumah kelas satu.

Dan beruntungnya Jiyeon akan menjadi istri dari pemilik rumah ini.

Gagasan itu menyenangkan sekaligus menyedihkan.

“Rumah ini benar – benar seperti istana…”

Yoojung hanya tersenyum maklum lalu merangkul bahu Jiyeon hangat, “Ayah memang menyukai design rumah seperti ini, bahkan kamar yang semalam kau tempati sempat menjadi kamarku, tapi karena aku bosan aku meminta pindah…”

Yoojung melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan santai, tidak mempedulikan Jiyeon yang tercengang dibelakangnya. Jiyeon bersumpah semua wanita di dunia ini ingin memiliki kamar seperti Yoojung.

“Kau pilih saja sendiri baju yang kau mau, kau bebas mengambil di walk-in closet ku” ujarnya santai.

Demi apapun ini pertama kalinya Jiyeon melihat walk-in closet secara langsung. Dengan sedikit kikuk, Jiyeon masuk dan kembali terperangah melihat ratusan pakaian, accessories, sepatu, tas, dan segala jenis perlengkapan ala wanita. Dengan asal, Jiyeon memilih coat berwarna tosca dan legging hitam serta sepatu sneakers putih.

Yoojung menatap Jiyeon sekilas saat calon kakak iparnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cantik, manis dan sederhana. Itulah pemikiran pertama yang terlintas saat melihat Jiyeon dengan pakaiannya.

Ia tersenyum senang menyadari bahwa Jiyeon akan menjadi kakak iparnya, kapan lagi ia bisa menjadi adik ipar wanita yang jago berkelahi seperti Jiyeon?

**

Tuan Kim menangkap sosok Jiyeon dan Yoojung yang turun bersama lalu berjalan kearah meja makan sambil tertawa riang. Pria itu bingung melihat Yoojung tampak akrab dengan Jiyeon, tidak biasanya anak perempuannya itu membuka diri dengan orang asing.

Yoojung—yang biasanya begitu cuek dan selalu memasang perisai baja pada orang asing—bisa ditakhlukan oleh Jiyeon secepat itu, mungkin gadis ajaib ini juga sanggup memutar balikkan kepribadian Myungsoo dengan mudah.

“Papa!”

Jiyeon langsung menoleh kearah meja makan dan melihat Tuan Halstein sedang menatap mereka, “Wah, bahkan kau sudah mulai pendekatan dengan calon kakak iparmu, Yoojung”

Yoojung tertawa riang, “Tentu saja! Papa tidak bilang kalau calon kakak iparku adalah nona yang hebat ini!”

Kibum yang penasaran dengan perawakan calon istri Myungsoo pun mendongakan kepalanya. Detik berikutnya ia terperanjat kaget , ia menunjuk – nunjuk Jiyeon dengan telunjuknya sambil mengerjapkan mata tidak percaya, “K-kau no—nona yang…”

Yoojung memukul kening adik laki – lakinya kencang seolah mengingatkannya untuk tidak membocorkan semuanya.

Walaupun Tuan dan Nyonya Hasltein sedikit heran melihat kedua anaknya bisa mengenal Jiyeon, namun mereka tidak mempermasalahkannya jika hal itu justru mempermudah pernikahan Myungsoo dan Jiyeon.

Keluarga Halstein menikmati makan pagi mereka dengan hangat. Suasana itu masih terasa dengan jelas sampai seorang pria turun dengan wajah kusutnya. Tanpa menoleh bahkan sekedar melirik kearah ruang makan, pria itu berlalu begitu saja menuju pintu rumah mereka tanpa mempedulikan mereka sedang memperhatikannya.

Tuan Kim yang menyadari kehadiran Myungsoo segera memanggilnya, “Myungsoo!”

Pria itu menghentikan pergerakan kakinya saat mendengar suara Tuan Kim yang selalu membuatnya ingat akan kebenciannya , karena itu ia selalu menghindari bertemu dengan keluarga ayahnya ini.

“Kemarilah, calon istrimu ada disini”

Barulah ia menyadari ada sosok baru di meja itu. Myungsoo menyeringai aneh lalu menghampiri mereka semua, “Apa!?” ujarnya dingin.

“Sarapanlah selagi masakannya masih hangat, nak” ujar Kim Hanna berusaha bersikap ramah.

Myungsoo mendelik tak suka dan kembali menatap sang ayah dingin, “Aku bertanya padamu ada apa kau memanggilku? Aku harus berangkat kerja,”

Tuan Kim menghela nafasnya berat lalu menatap Myungsoo dan Jiyeon bergantian, “Setidaknya kau harus ikut makan bersama saat calon istrimu ada disini untuk pendekatan.”

Tanpa diduga, Myungsoo dan Jiyeon menampakan reaksi yang sama—mual dan rasanya ingin ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut mereka. Pendekatan apa? Bahkan keduanya tidak menyukai satu sama lain. Namun Myungsoo tidak mau memperpanjang masalah dan memutuskan untuk duduk tepat di seberang ayahnya. Suasana pun menjadi kaku dan dingin saat Raja Es duduk disana.

Dalam diamnya, mata tajam Myungsoo memperhatikan dengan baik calon istrinya yang kini tepat berada di samping kanannya. Pakaiannya terlihat lebih trendy dan berkelas dibanding saat mereka pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu di kantor ayahnya. Namun, matanya menajam ketika melihat dress yang ada di pangkuan Jiyeon.

Jelas Myungsoo mengenali dress itu, hampir setiap malam ia melihat pelayan – pelayan di ruangan VVIP tempatnya biasa menghabiskan malam. Bagaimana mungkin ayahnya menikahkannya dengan pelayan club malam milik Raphael? Ada gangguan apa dalam otak ayahnya itu sekarang?

“Kau…apa pekerjaanmu?” tanyanya sinis.

Gadis itu hanya menatapnya datar lalu menghela nafasnya berlebihan, ia tahu cepat atau lambat Myungsoo akan tahu tentang hal ini. Namun ia justru senang, karena Jiyeon yakin pria ini akan berusaha dengan keras untuk menolak pernikahan mereka.

“Aku bekerja sebagai pelayan di Tible Club and Bar.” Ujarnya santai membuat semuanya tercengang.

Myungsoo langsung menatap ayahnya marah, “Pa, kau akan menikahkanku dengan gadis rendahan seperti dia? Pelayan club malam? Yang benar saja, huh?!” ujarnya marah sambil menujuk – nunjuk Jiyeon.

Yoojung dan Kibum memang kaget mendengar dimana calon kakak iparnya bekerja, namun mereka yang pernah melihat kebaikan dan bahkan keahlian Jiyeon dalam bela diri tak berani mengomentari apapun, sedangkan Kim Hanna hanya diam karena sudah tahu alasan yang sebenarnya mengapa Jiyeon bisa menjadi istri anak tirinya itu.

Tuan Kim meletakan pisau yang digenggamnya lalu menatap Myungsoo tenang, “Bukankah sudah kubilang, kau akan tetap menikah dengan gadis ini. Apapun yang terjadi, Kim Myungsoo. Dan Nona Jiyeon, mulai hari ini kau tidak perlu datang ke club malam itu lagi, kau sudah dikeluarkan,”

Myungsoo mendesis marah, “Tapi apa tidak ada wanita yang lebih baik selain dia? Setidaknya…oh astaga, wanita ini benar – benar bukan seleraku! Terlebih lagi ia adalah seorang pelayan di club malam, apa kau tidak memastikan dengan baik latar belakang keluarganya?”

Cukup sudah! Kesabaranku sudah habis! Jiyeon menghembuskan nafas beratnya, emosi yang tertahan sejak awal mereka bertemu kini siap meledak sepenuhnya tanpa bisa di kontrol.

BRAK~

Jiyeon menggebrak meja makan hingga seluruh keluarga Halstein menoleh kaget. Dengan tangan mengepal sempurna, Jiyeon melirik Myungsoo jengkel, “Tuan Kim Myungsoo yang terhormat, jangan bertingkah seperti kau ini hanya pria satu – satunya di muka bumi sehingga aku terlihat seperti memohon padamu untuk menikahiku!”

Aura mencekam langsung terasa di seluruh penjuru rumah, dan untuk kesekian kalinya keluarga Halstein harus mengalami shock sekilas melihat aksi Jiyeon yang membentak dan mendebat seorang Kim Myungsoo.

“Kau kira aku yang memohon pada ayahmu untuk dinikahkan denganmu? Demi dewa di langit ketujuh, jangan pernah berpikir apalagi berharap hal itu akan terjadi! Aku melakukan ini semua demi ayahku, dan jangan pernah kau menghina keluargaku! Setidaknya aku lebih baik dalam hal menghargai sosok orangtua. Jika kau tidak terima dengan pernikahan ini, kau kira aku menerimanya dengan sukarela? Kau kira aku mau menikah dengan pria dengan tingkat keangkuhan dan sifat dingin yang sudah memasuki taraf memperihatinkan? Sekali lagi aku tekankan, aku juga tidak mau menikah denganmu, tanyakan pada Bapak Tuan Kim kenapa aku yang dipilihnya untuk menjadi istri makhluk es sepertimu!”

“A-apa kau bilang? Ma-makhluk es?!”

“Aku belum selesai! Mungkin diluar sana ada ribuan wanita yang mengantri untuk menjadi istrimu, tapi kau tidak akan pernah melihatku dalam barisan itu. Dan karena kita diharuskan menikah, lebih baik jalani saja dan jangan menghinaku dengan kalimat – kalimat yang tidak perlu! Sebelum kau menikah denganku, lebih baik kau bersenang – senang sesuka hatimu karena….setelah kita menikah, jangan harap kau bisa melihat dunia luar dengan bebas.”

Lidah Myungsoo terasa kelu setelah mendengar deklarasi perang Jiyeon yang membuat seisi ruangan dilanda keheningan mendadak. Wajah Myungsoo terlihat shock dan malu melihat seseorang berani melakukan hal ini padanya. Ia tak sanggup menjawab ataupun mendebat Jiyeon yang kini masih menatapnya dengan tatapan—jengkel. Ini pertama kalinya dalam sejarah seorang Kim Myungsoo diperlakukan serendah ini oleh seseorang.

Gadis itu menghembuskan nafasnya yang terasa menipis termakan amarah. Ia sudah tidak tahan berada di ruangan ini, ia bisa saja menghujani Myungsoo dengan berbagai jenis kalimat yang sarat akan emosi dihadapan kedua calon mertuanya—tapi ia tidak mau melakukannya.

Dengan berat hati, ia menoleh kearah Tuan Kim dan Kim Hanna yang menatapnya sungkan namun takjub.

“Maafkan saya, sepertinya saya harus pergi sebelum aku benar – benar mengeluarkan semuanya.”

“Y-ya, pergilah. Jangan lupa mulai hari ini kau tinggal disini, Jiyeon,” ujar Kim Hanna.

Jiyeon mengangguk pelan lalu kembali membungkukkan badannya, ekor matanya melirik sinis kearah Myungsoo ia melangkah meninggalkan ruang makan. Semua, kecuali Myungsoo, menatap kepergian Jiyeon dengan tatapan takjub. Tidak ada dan tidak akan pernah ada seseorang yang mampu mendebat seorang Kim Myungsoo selugas itu selain Jiyeon—bahkan Myungsoo pun terdiam tak tahu harus berkata apa.

“Woah noona itu memang benar – benar keren! Aku harus menyusulnya!” ujar Kibum polos dan detik berikutnya ia segera berlari mengejar Jiyeon.

Yoojung justru sibuk mengulum senyum puas karena kalimat tajam Jiyeon sukses menampar Myungsoo dengan kalimat tajamnya, ia menatap kakaknya penuh ejek, “Untuk pertama kalinya dalam sejarah ada yang bisa mengalahkanmu dalam berdebat hingga kau sendiri pun tertegun. Betapa indahnya dunia ini saat ada Jiyeon,”

Myungsoo melirik tajam kearah adik tirinya, “Diam!”

Yoojung mengendikkan bahunya tak peduli dan kembali meneruskan sarapannya.

Tuan Kim melempar senyum penuh kemenangan kearah Myungsoo, “Dan kesimpulan dari kejadian ini, kau pasti sudah tahu kan mengapa aku menikahkanmu dengannya?”

Kali ini mata Myungsoo menatap Tuan Kim dengan enggan, sejujurnya ia malu mengakui ini semua, namun ia sadar gadis ini sungguh mematikkan. Pemikiran itu membuatnya semakin membenci Jiyeon.

**

Mata Jiyeon masih berkilat marah saat ia berhasil keluar dari rumah mewah keluarga Halstein. Gadis itu membuang nafasnya kasar lalu menoleh kearah rumah itu dengan tatapan kesal, “Kau pikir aku bersedia menikah denganmu! Percaya diri sekali tuan berjiwa es itu” gerutunya.

Oh tidak rumah ini benar – benar rumah raksaksa. Dimana pintu gerbangnya?

“Aish, benar – benar merepotkan!”

TIN TIN~

Noona!

Jiyeon menoleh ke belakang dan mendapati Ranch Rover berwarna hitam menyapanya, Kibum melambaikan tangan kearahnya. “Masuklah, aku akan mengantarkanmu kemanapun noona pergi!”

Jinjja? Gomawo, Kibum-ya. Kau baik sekali padaku”

Kibum tertawa sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, “Tentu saja, mulai sekarang kau bisa berangkat kuliah bersamaku. Bagaimana pun kau ini calon kakak ipar yang pernah menolongku dengan cara yang sangat menakjubkan.”

Jiyeon hanya mengulum senyum mendengarnya dan menatap kaca di depannya. Ternyata rumah utama dan gerbang terpisah sejauh dua kilometer, dengan taman yang terbentang luas di kanan kirinya.

Jiyeon berusaha tidak terkejut.

“Kau pasti kesal pada Myungsoo karena perkataannya tadi. Aku mewakilinya untuk meminta maaf, dia memang menyebalkan tapi dia tetap kakak yang sangat ku kagumi.”

Jiyeon menatap ngeri kearah Kibum. Memang wajar jika seorang adik menganggumi kakaknya, namun apa yang bisa dikagumi dari Kim Myungsoo—selain wajahnya dan kesempurnaan fisik yang ia miliki?

“Apa dia sejak dulu memang seperti itu?”

Kibum mengendikkan bahunya ragu, “Entahlah, Myungsoo tidak pernah berubah sejak pertama kali kami datang ke rumah ini”

“Maksudmu—”

“Aku dan Yoojung adalah adik tiri Myungsoo. Satu ayah berbeda ibu” ujarnya tersenyum maklum kearah Jiyeon yang tercengang mendengarnya, “Aku tidak tahu seperti apa Myungsoo yang sebenarnya, kudengar ia menjadi seperti ini semenjak kematian ibunya dan karena ayah menikah lagi dengan ibuku,”

Jiyeon hanya bisa menatap Kibum prihatin saat melihat air muka Kibum berubah sedih, ia terlihat begitu menyayangi Myungsoo dan ingin dianggap sebagai adik oleh pria es itu, “Karena itu…terlebih saat melihat kejadian tadi, aku berharap besar kakak sanggup mengubah Myungsoo kembali seperti dulu.”

Jiyeon tercekat mendengar permohonan Kibum. Ia tak sanggup menjawab dan hanya bisa menatap calon adik iparnya dengan tatapan getir, karena ia tidak mau berjanji untuk hal – hal yang belum ia ketahui kepastiannya.

Ia ragu dapat merubah Kim Myungsoo seperti semula.

Namun ia berjanji akan melakukannya.

Cepat atau lambat.

**

“Berhentilah menekuk wajahmu seperti itu! Ayo bersenang – senang!”

Myungsoo menepis tangan Taemin yang merangkul bahunya kasar, “Diamlah, kau tidak tahu penderitaanku akan pernikahan sialan itu,” ujar membuat keempat pria tampan di ruangan itu tertawa keras.

“Jadi kau benar – benar akan menikah? Wow, tidak pernah terlintas di pikiranku seorang Kim Myungsoo bahkan melewati fase itu” sindir Kai sambil mengedipkan kearah wanita malam yang berada disampingnya.

Teman – teman Myungsoo cukup terkejut mendengar kabar pernikahannya, terlebih yang akan menikah adalah seorang Kim Myungsoo yang terkenal benci komitmen dan bersikap dingin kepada siapapun. Pesonanya dan kesempurnaan fisiknya memang sanggup membuat wanita pening dalam sekejap, namun belum ada wanita yang sanggup menyentuh hati Myungsoo lagi dan mereka semua sadar akan hal itu. Ide pernikahan yang dilontarkan oleh ayah teman mereka jelas menjadi bahan candaan yang empuk namun mereka juga bersyukur akhirnya Myungsoo menikah.

“Tapi aku senang mendengarnya, kau sudah terlalu liar” kata Seungho dengan wajah tenang yang membuat mood Myungsoo semakin buruk, “Diam kau, Professor! Kau seharusnya membantuku menyelesaikan permasalahan konyol ini, bukan mendukungnya!” cerca Myungsoo tajam.

“Dan…apa kau sudah bertemu dengan calon istrimu?”

DEG

Pertanyaan Minho membuat Myungsoo bungkam, raut wajahnya seketika berubah tegang dan rahangnya mengeras, bayangan kejadian tadi pagi masih terekam jelas di benak Myungsoo, bahkan setiap perkataan gadis itu masih ia ingat dengan baik.

Teman – teman Myungsoo menyalah artikan perubahan itu dan mulai menggodanya, “Ah, pasti dia sangat cantik dan sexy! Kalau seperti itu, jangan berpura – pura menolaknya, bukannya kau terbiasa menghabiskan malam dengan wanita – wanita seperti itu?”

Sontak ucapan gamblang Minho membuat semuanya tertawa. Namun hal itu ditanggapi Myungsoo dengan lemparan gelas wine miliknya ke tembok.

“Cantik? Sexy? Mendekati saja tidak! jika kau tahu dia seperti apa, kau pasti menyesal pernah mengucapkan dua kata itu untuk mendeskripsikan gadis desa itu,”

Ketiganya saling bertatapan bingung, sedangkan Kai mulai sibuk dengan dunianya sendiri bersama wanita malam yang sejak tadi berada di pangkuannya, “Apa kami mengenalnya? Melihat reaksimu, sepertinya gadis itu menakutkan namun mengagumkan, benar ‘kan?”

“Kurasa kalian pernah melihatnya tapi tidak mengenalnya, dia sering berada di sekitar kita, mungkin?”

Minho mengkerutkan keningnya berusaha mengingat – ngingat setiap wanita yang dikenalnya, tidak mungkin ‘kan Myungsoo dinikahkan oleh wanita malam?

“Tunggu, apa dia sekretaris ayahmu?” Myungsoo menggeleng pelan mendengar tebakkan Minho.

“Seorang anak pengusaha yang di jodohkan denganmu?” Taemin mencoba menebak dan ternyata hasilnya sama seperti Minho.

“Tidak mungkin ‘kan seorang psikiater? Barangkali ayahmu mulai berpikir untuk melakukan pengobatan gratis pada anak sulungnya” Myungsoo menoleh tajam kearah Taemin, “Bukan Paxton, lagipula memang kau pernah bertemu dengan seorang psikiater?”

Minho menepuk tangannya begitu merasa kali ini ia yakin akan jawabannya, “Ah, apa dia seorang model?”

“Yang benar saja, Choi Minho! Maksudmu aku menyebut seorang model tidak sexy, begitu?”

Seungho yang sejak tadi hanya diam memikirkan sesuatu yang aneh namun patut dicoba, “Apa….dia pelayan club malam ini?”

Myungsoo membulatkan matanya shock. Bagaimana caranya si jenius ini bisa menebaknya tepat sasaran? Gelar Professor yang diraihnya memang bukan bahan candaan, “K-kau…kau tahu darimana!?”

“HA? Jadi calon istrimu bekerja disini? Di club malam milik bedebah ini?!”

Minho dan Taemin reflek menoleh kearah kiri mereka yang ternyata sudah tidak tersisa apapun. Keduanya mendesah kesal, disaat seperti ini bisa – bisanya Kai melampiaskan nafsunya di lantai dua club malamnya sendiri.

“Bagaimana caranya kau bisa menikah dengan pelayan club malam?”

Myungsoo hanya membuang nafasnya kasar sambil menyandarkan punggungnya ke sofa, “Entahlah, tua bangka itu benar – benar ingin mengaturku seumur hidup. Gadis itu benar – benar bukan tipeku, sangat canggung dan kaku.”

“Memang siapa namanya?”

“Jiyeon. Nama yang sangat kaku, membosankan, dan menyebalkan”

Taemin kemudian melirik Myungsoo dengan tatapan menggoda, “Bung, sepertinya dia benar-benar akan menyiksamu saat kalian sudah menikah nanti.”

Namun yang mereka lihat dari Myungsoo sekarang adalah tatapan yang menggelap diiringi dengan seringaian licik yang membuat ketiganya perlahan menghentikan tawanya dan memandangi Myungsoo, mereka dapat menangkap aura kejam dalam pergerakan bola mata Myungsoo, “Aku tersiksa? Tidak, justru aku yang akan menyiksa gadis itu dengan pesonaku,” gumam Myungsoo pelan namun sarat akan dendam.

“Kau tahu kan bagaimana nasib para wanita – wanita yang berhasil terperangkap dalam jebakan pesonaku? Namun, gadis itu akan mendapatkan yang lebih ‘indah’ dibanding hanya sekedar pesonaku”

Raut wajah ketiganya seketika berubah. Mereka mengenal Myungsoo dengan baik, mereka terlalu saling mengenal hingga pergerakan Myungsoo yang tenang namun angkuh dapat mereka baca artinya.

Myungsoo kini memutar – mutar botol wine itu dalam genggamannya sembari mengulum senyum dingin, “Apa kalian tahu apa kelemahan terbesar seluruh umat manusia di muka bumi ini? Cinta. Cinta melumpuhkan seluruh pikiran, jiwa, dan bahkan kewarasan setiap insan yang masih bernafas seperti kita. Terlebih wanita, jika berurusan tentang cinta, sekalipun kita menakutkan seperti singa atau secerdik kancil, kau akan berubah menjadi kelinci bodoh dan lemah saat kau mengalami hal terkutuk yang sering disebut dengan jatuh cinta. Itulah hukum dari kata ‘cinta’ yang sebenarnya.”

“Kau tidak mungkin—”

“Sayangnya tebakkanmu benar, Professor Yoo Seungho. Gadis sialan itu…ia tak akan pernah bisa membuatku terlihat lemah lagi, cukup sekali ia berhasil mempermalukanku dan selanjutnya, jangan harap hal itu akan terjadi lagi diantara kita.”

“Myungsoo—”

“Akan kubuat gadis itu jatuh cinta padaku, di dalam hatinya hanya akan terukir namaku, hanya ada bayanganku dalam benaknya, hanya ada aku tempatnya bersandar, dan akan kubuat ia menjadikanku prioritas hidupnya. Perkataannya yang setajam silet akan kubuat semanis gulali, perlakuannya yang kasar akan berubah lembut, dan aku akan membuatnya bertekuk lutut memohon cinta padaku”

Myungsoo yang sejak tadi mengelus lembut botol wine dalam genggamannya pun menyeringai licik, “Namun setelah itu..”

PRANG~

Botol wine itu ia jatuhkan ke lantai, menyebabkan cairan merah keunguan di dalamnya mengalir serta pecahan kaca yang bertebaran di sekitar Kim Myungsoo, “Nasib hatinya akan sama seperti botol itu; hancur berkeping – keping dan tak berharga lagi”

Minho menelan salivanya susah payah setelah melihat ambisi Myungsoo, “Ku—kurasa kau tidak perlu melakukannya, Myungsoo. Lebih baik kau meminta ayahmu mencarikan wanita lain atau kau menikah dengan wanita yang kau cintai kelak, kau tidak perlu menyiksa gadis malang itu”

Myungsoo tersenyum miring mendengarnya, “Tidak, aku tidak akan pernah mencintai wanita lagi. Cinta itu hanyalah omong kosong, di dunia tidak ada cinta sejati atau apapun itu. Well, ayahku yang mengajarkanku akan hal itu.”

Kini ketiganya hanya bisa terdiam memandangi Myungsoo yang dengan santainya kembali meminum wine dalam gelasnya. Mereka tahu Myungsoo mengalami kepahitan terhadap sang ayah yang tidak akan pernah ada obatnya kecuali seseorang dapat melakukannya. Namun, mendengar sumpah Myungsoo untuk calon istrinya sendiri, mereka semakin ragu akan hal itu.

“Pegang janjiku, dan aku akan membuktikannya pada kalian semua”

Seungho menatap Myungsoo dengan tatapan menyelidiki, entah apakah yang ada di pikiran Professor muda ini memang benar, namun Myungsoo bukan seperti ingin melakukan hal itu. Ia tak mengerti, ia melihat sendiri bagaimana Myungsoo begitu membenci calon istrinya, namun entah apakah karena seorang Professor berpikir sesuatu diluar logika manusia awam, ia menangkap sesuatu dari perkataan maupun sikap Myungsoo yang berbeda dari biasanya. Ia terlihat sedang melindungi dirinya sendiri dari perasaan ajaib yang disebut cinta itu, berusaha keras untuk menutup hatinya dari sang istri.

Ada apa ini? Mengapa Seungho seperti mendapatkan kesimpulan dari ini semua?

**

Jiyeon mengusap jemari kaku ayahnya dengan lembut, ia bermaksud mengucapkan salam. Hari ini ia resmi tinggal di kediaman keluarga Halstein sampai ia menikah nanti. Walaupun ia sempat menolak, namun paksaan Tuan Kim membuatnya pasrah. Jiyeon berusaha tersenyum seraya mengusap wajah ayahnya.

Ia bisa membayangkan apa yang akan orangtuanya katakan tentang pernikahan ini, pernikahan yang akan membuatnya tersiksa. Namun apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia tak mau ayahnya membusuk di penjara selama sisa hidupnya dalam keadaan koma.

Jiyeon menguatkan hatinya, ia yakin ia bisa menghadapi Myungsoo dengan baik. “Ma, pa, kalian tenang saja…aku akan bertahan dalam pernikahan ini, ini hanya sementara, kalian tidak perlu cemas. Kalian tahu ‘kan aku bisa melumpuhkan mangsa dalamsekejap?”

Lalu Jiyeon pun memeluk tubuh kaku ayahnya dengan mata yang sudah basah, ia tidak tahu harus berekspresi apa selain menangisi takdirnya yang membingungkan ini. Tentu saja ia ingin bahagia dan menikah dengan pria yang ia cintai, namun sepertinya takdir tak pernah berada di pihaknya.

Tiba – tiba semangatnya untuk membuat Myungsoo tunduk padanya berkobar – kobar dalam hati Jiyeon.

“Aku bersumpah akan membuat Kim Myungsoo tunduk padaku, karena aku ingin bahagia. Dan kuharap pria itu bersedia memberikan kebahagiaan itu, sekalipun aku tahu itu mustahil.

Park Jiyeon sudah bertekad akan membuat Raja Es bernama Kim Myungsoo mencairkan segala sifat buruknya dan mengubah Myungsoo seperti dulu lagi—entah seperti apa sosoknya dulu. Ia akan melakukan segala cara untuk menggali informasi tentang Kim Myungsoo, dan membuktikan pada Tuan Kim bahwa ia bisa ‘membayar’ tuntutan itu dengan sebaik – baiknya.

TO BE CONTINUE

 

A/N [2016/06/23] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

90 responses to “(Chapter 4) Belle in the 21st Century – Beast’s Family

  1. Gila!!!! Jiyeon keren banget karakternya disini. Aku suka bangeeeeeetttt😆😆😆😆😆
    Haha myung awas loh ntar malah jilat ludah sendiri kkkkk tiati ah qaqa😂
    Hhmmm apa soohyun merangkap cenayang juga/?:/ kkkkk

  2. Soohyun knp bisa narik kesimpulan kyk gt ya??
    Mdh2an aja myungsoo kemakan sumpah nya sendiri, dy bakal tergila2 sm jiyeon kkkk

  3. Pingback: [Chapter 11] Belle in the 21st Century – My Beauty | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s