[ONESHOT] THE KILLER

tk-myungyeon

BY.AMALIACHIMO

Inspirasi berasal dari Allah S.W.T, melalui imajinasi sendiri, jadi kalau ditiru dosa yaa..

Mohon dukungannya dengan membaca semua dan di komentarin

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other Cast: Oh Sehun, Shindong

Genre: Romance, Crime, Mystery

Rated: 17+

Length: Onehot

THE KILLER

>> Kai-Jiyeon Ver. <<

Aktivitas lalu-lintas berjalan seperti biasa. Orang-orang sibuk, memenuhi ibu kota. Patroli berjalan datar di pagi ini, tak ada kesalahan yang membuat Myungsoo dan Shindong merasa tertantang. Sejalan dengan itu, udara musim semi lebih segar dari biasanya. Tiga kali sudah mobil patroli melintasi jalan yang sama. Bedanya halte-halte kini tampak kosong, hanya satu halte yang masih terisi.

Halte itu tersorot cahaya matahari yang begitu terang. Seorang wanita berdiri dibawahnya. Memandang jauh ke samping kanan, menjadi aktivitasnya. Tanpa sadar, Myungsoo terus memperhatiakannya. Bias cahaya matahari membuat kulit putihnya makin bersinar. Matanya tampak lembut dan sendu, berpadu dengan raut mukanya yang lancip. Wanita itu tersenyum sangat manis, menyapa kedua polisi yang melintas di depannya. Tak disangka senyumnya membuat jantung Myungsoo berdetak tidak wajar. Polisi itu sampai tak sanggup membalas senyuman sang bidadari.

Shindong menepuk bahu Myungsoo,”Dia cantik sekali, sayangnya aku sudah menikah. Kau masih punya kesempatan.”yang ditepuk hanya tersenyum simpul sambil melirik ke kaca spion di sisi luar mobil. Angin menerbangkan rambut panjang wanita itu. Cantik sekali. Myungsoo masih bisa menangkapnya dari kaca spion ini.

><><><

Hari-hari berikutnya, wanita itu tak pernah lepas dari pandangan Myungsoo. Di halte yang sama. Pagi dengan saling membalas senyum dan malamnya wanita itu turun dari bus. Myungsoo mengikutinya sampai wanita itu lenyap dari balik pintu rumahnya. Sesibuk-sibuknya Myungsoo bertugas sebagai polisi, kegiatan itu selalu sempat ia jalani seperti rutinitas. Meskipun belum sempat saling mengenal dan berbincang bersama. Myungsoo rasa ia jatuh cinta panda wanita itu. Diam memang tak memberikan hasil, tapi Myungsoo yakin akan ada waktu yang tepat untuknya.

Malam begitu larut, wanita yang ditunggu Myungsoo belum terlihat di jam biasanya. Ketika itu tidak ada bintang bersinar di gelapnya malam, bulan pun sepertinya tertutup awan tebal. Rintik hujan turun di musim gugur yang mulai dingin. Myungsoo berlari kecil menuju halte yang tampak ramai dengan menenteng payung besar di tangan kanannya. Tidak disangka, ramalan cuaca di TV tadi memang benar adanya.

Hujan yang makin deras, sejalan dengan waktu yang terus berjalan. Satu-persatu orang meningalkan halte sampai hanya Myungsoo yang masih tetap tinggal. Polisi itu duduk sambil berusaha menghangatkan dirinya, yang hanya menggunakan seragam polisi lengkap. Lalu lintas di jalan makin sepi. Payung mekar di samping Myungsoo bergeser terbawa angin. Dengan sigap ia bergerak menahannya, dan pada saat itu sebuah bus berhenti.

Menyadari bus yang berhenti, Myungsoo mengambil payungnya lalu bangkit. Tidak disangka wanita itu telah berdiri di hadapannya. Bus pun melaju meninggalkan penumpang yang turun. Myungsoo dan wanita itu saling berpandangan. Suara hujan seolah mengerti irama hati Myungsoo. Polisi ini menikmati waktu itu, walau hanya berjalan sebentar. Wanita itu menyapanya dengan hormat.

Di bawah hujan yang menyisakan rintiknya. Myungsoo berdampingan dengan wanita itu, payung besar yang mekar melindungi mereka. Wanita itu bernama Park Jiyeon. Perkenalan singkat telah terjadi di antara mereka sebelum Myungsoo berhasil menawarkan diri untuk mengantar wanita itu. Tidak banyak pembicaraan di antara mereka, namun setidaknya mereka sempat tertawa bersama. Sampailah di depan rumah wanita itu.

“Terima kasih telah mengantar saya, Myungsoo-sii.”Jiyeon tersenyum, lalu membungkuk hormat.

Myungsoo pun ikut tersenyum, juga membungkuk,”Itu memang sudah tugas saya. Lain kali, ada baiknya anda lebih memperhatikan ramalan cuaca!”katanya.

Ye, ada baiknya juga—”Jiyeon melepaskan jaket tebal yang ia gunakan,”—anda membawa jaket saat bertugas!”lalu memberikannya pada Myungsoo. Polisi itu agak terkejut, sebelum akhirnya Jiyeon meraih tangannya dan menarunya di atas jaket yang ia berikan,”Pakailah Myungsoo-sii!”suruhnya sambil tersenyum.

Secangkir kopi hangat membuatnya terjaga di kantor. Ia tersenyum dan tertawa sendiri. Persis seperti orang gila. Aktivitasnya hanya memandangi jaket milik Jiyeon yang berada di pangkuannya kini. Sampai Myungsoo terbawa larutnya malam dan tertidur di atas sofa kantornya. Karena wanita itu, ia tidak sempat pulang hari ini.

><><><

Keesokannya seperti biasa, Myungsoo melintasi halte yang sama bersama mobil patrolinya. Namun, tidak ada senyuman yang biasa ia dapat, padahal waktunya tepat seperti hari-hari sebelumnya. Niat menggembalikan jaket pun ia urungkan. Menyadari helaan nafas berat Myungsoo, Shindong yang duduk di bangku setir menepuk bahu rekannya itu tiga kali.

“Masih ada nanti malam dan hari esok.”katanya. Myungsoo hanya tersenyum tipis.

Malamnya. Myungsoo kembali menunggu Jiyeon, tetapi sampai larut dan pagi menjelang lagi wanita yang ditunggu tetap tidak muncul. Setelah hujan deras malam itu, hari-hari berlalu tanpa wanita itu. Myungsoo pun semakin sibuk semenjak kenaikan pangkatnya beberapa hari lalu. Ia memandang lurus keluar jendela kantor. Sekarang ia lebih banyak berada di dalam sini, ketimbang beraktivitas di luar. Suasana lalu-lintas yang padat bisa juga menjadi alasan kerinduan di hatinya, ini pasti karena wanita itu.

><><><

Satu bulan berlalu, salju menghiasi sekitaran Kota Seoul. Matahari siang yang begitu terang tidak membuat udara terasa hangat. Sama seperti hati Myungsoo. Keluar dari stasiun, polisi ini harus berjalan jauh lagi untuk sampai di tempat tujuan. Tangan kanannya menentenggoodie bag berisi jaket milik Jiyeon. Dari sekian banyak hari, baru sekarang ia bertekat untuk menemui Jiyeon di rumahnya. Sebenarnya beberapa kali ia sempat datang ke rumah wanita itu, tapi baru sampai di depan rumah ia merasa kurang sopan untuk berkunjung, mengingat mereka baru kenal. Akan tetapi, sekarang ia mengesampikan hal itu, demi rasa rindu yang sudah tak tertahankan lagi.

Berjalan di pinggir jalan yang sepi, jaket Myungsoo terasa seperti mendapat gaya dari bawah,”Adjushi.”peria itu pun berbalik dan menemukan seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun di sana. Myungsoo tersenyum, lalu berjongkok di hadapan anak itu.

“Ada apa, adik kecil?”tanya Myungsoo sambil mengusap kepala anak kecil itu.

Adjushi, apa kau bisa mengantarku ke kantor polisi? Ibuku hilang dan aku lupa jalan pulang.”anak kecil itu berkata dengan gaya seorang peria dewasa. Terlihat sangat lucu, hingga membuat Myungsoo tertawa.

Adjushi, kenapa kau menertawaiku? Aku ini sedang panik, bukannya bercanda.”wajahnya yang berubah heran dan bercampur kesal itu, membuat Myungsoo makin ingin tertawa. Namun, ia buang jauh-jauh hasratnya itu, mengingat anak ini sedang membutuhkan bantuannya.

Setengah jalan sudah ia lalui demi menuju rumah Jiyeon, tapi anak kecil di sampingnya ini justru membawanya kembali ke kantor lamanya. Tidak banyak perubahan. Myungsoo tersenyum.

Adjushi, kau gila?”Myungsoo mengalihkan pandangan pada anak itu,”Tadi kau menertawaiku, sekarang kau tersenyum sendiri, aneh sekali.”ia hanya mengangkat kedua bahunya. Seoalah-olah tidak mengerti.

Kajja!”

Duduk di atas bangku panjang, Manse mengayun kedua kakinya yang saling bertaut. Siang telah berganti sore. Myungsoo datang menghampiri anak kecil yang sejak tadi siang bersamanya itu, dengan membawa dua es krim coklat. Wajah Manse yang murung berubah ceria seketika, saat dihadapkan dengan kedua es krim tersebut. Tanpa berpikir lagi, Manse langsung melahap es krim yang dipilihnya dengan sangat lucu, sementara Myungsoo memperhatikan anak kecil itu.

Adjushi, kenapa kau tidak memakan es kirimmu?”

“Aku tidak lapar.”

Aigo, kalau tidak lapar, kenapa kau membeli dua es krim.”

“Apa kau mau lagi?”

“Aku? Tentu saja, dengan senang hati Adjushi. Ghamsahamnida.”

Manse meraih es krim di tangan Myungsoo, padahal es krimnya sendiri belum benar-benar habis. Lagi-lagi Myungsoo tertawa melihatnya.

Adjushi, bukankah tadi kau bilang punya urusan, kenapa masih di sini?”

“Aku tidak tega melihatmu sendirian.”Myungsoo mengacak rambut Manse.

“Manse!”seruan lembut itu, membuat Manse mendongak.

Eomma?”

Myungsoo menoleh ke arah Manse mendongakkan kepalanya. Ia terdiam mematung di atas duduknya. Senyuman ibu Manse adalah senyuman yang dirindukannya. Dunia begitu sempit. Dari jutaan wanita bernama Park Jiyeon, ternyata wanita yang ia rindukan adalah ibu Manse.

Jaket telah kembali ke tangan pemiliknya. Rasa rindu terobati dengan luka. Mereka sempat saling membalas senyum, sebelum sebuah mobil menjemputnya. Wanita itu pulang bersama suami dan anaknya. Jiyeon sudah menika jauh sebelum Myungsoo melihatnya. Kata terimakasih belum cukup mengobati lukanya. Seandainya cinta bisa memilih.

><><><

Terjadi pembunuhan di distrik Gangnam. Korbannya seorang peria dewasa berumur 30 tahun dan seorang anak laki-laki berumur 5 tahun. Hari itu salju turun begitu lebat. Myungsoo tiba di TKP (Tempat Kejadian Perkara), setelah berhasil menembus jalan yang licin dengan mobilnya. Kabar dari temannya yang sesama polisi, menuntunnya ke tempat ini. Polisi. Petugas rumah sakit. Wartawan. Telah memenuhi rumah itu. Myungsoo menerobos masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang dulu belum sampai ia masuki.

Seorang wanita meringkuk di sudut tembok dengan tubuh yang bergetar. Rambutnya acak-acakan. Perlahan Myungsoo mendekatinya, ia bisa melihat peluh memabasahi tubuh wanita itu. Jiyeo mendongak. Dua pasang mata pun bertemu pandang. Setelah kemarin, mereka dipertemukan lagi dengan cara seperti ini. Sebenarnya, bukan ranah Myungsoo mengurus kasus ini, namun ia datang karena pagilan hati. Kini beberapa polisi berhasil menahan kedua tangannya untuk melangkah lebih jauh. Jiyeon berteriak dengan membabi buta, ia meraung-raung sambil menangis. Setetes air mata mengalir di pipi Myungsoo, ia ditarik menjauh oleh polisi-polisi itu.

><><><

Semingu setelah hari itu. Rungan serba putih dengan kasur yang juga berwarna putih. Jiyeon bersenandung sambil mengoyang-goyangkan kakinya yang saling mengait di pinggir tempat tidur. Sesok bayangan hitam membuatnya berhenti. Wanita itu mendongak. Sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata lainya. Myungsoo pemilik sepasang mata itu. Tanpa suara. Hanya sepasang mata yang mengisyaratkan kehawatiran. Apa kau baik-baik saja?

Agassi, mulai hari ini Tuan Kim yang akan merawatmu. Dia menjamin kau akan baik-baik saja.”kata Suster yang berdiri di belakang Myungsoo sambil tersenyum, lalu berjalan mendekati Jiyeon. Sementara Myungsoo dan Jiyeon masih saling memandang.

Perjalanan yang hening. Myungsoo memutar lagu Elvis Presley berjudulLove Me Tender. Lagu itu menghantarkan suasana klasik ke dalam mobil Myungsoo. Peria itu melirik Jiyeon yang duduk di sampingnya. Wanita itu hanya memandang keluar jendela sejak tadi. Matanya cekung. Pipinya semangkin tirus. Jiyeon terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, tetapi wanita itu masih tetap cantik di matanya.

“Kau akan aman bersamaku,”Myungsoo mengusap kepala Jiyeon dengan lembut dan penuh kasih sayang.

><><><

Kamar minimalis bernuansa coklat muda dan hitam pekat. Udara segar masuk dari jendela yang terbuka, dengan horden yang diasingkan pada kedua sisinya. Sinar matahari masuk dari sana, menerangi seisi ruangan. Myungsoo dan Jiyeon duduk di pinggir kasur dengan saling berhadapan. Myungsoo menyuapkan sesendok nasi dan lauk dari piring yang berada di pangkuannya pada Jiyeon. Dua minggu sudah, mereka tinggal bersama di apartement Myungsoo.

Jiyeon mengalami perkembangan yang pesat. Tidak lagi ada amukan atau teriakan-teriakan aneh darinya. Meskipun Jiyeon masih betah menutup rapat mulutnya, setidaknya ia sudah bisa tertawa atau tersenyum pada Myungsoo. Dokter yang biasa memeriksa Jiyeon sendiri, mengatakan bahwa kondisi wanita itu sudah mulai normal , tinggal bagaimana Myungsoo terus mengajaknya untuk berbicara.

Aigo, kau hampir mirip seekor panda sekarang.”gurau Myungsoo sambil menyendok nasi beserta lauknya, sementara Jiyeon masih mengunyah dan terus  memandanginya. Pandangan sendu itu, membuat Myungsoo menghentikan gerakan tangannya, lalu mendongak.

Waeyeo? Biasanya kau akan tertawa men—“Myungsoo tak sanggup melanjutkan kalimatnya, saat sentuhan menghangatkan bekas luka di keningnya.

Jiyeon mengusap wajah Myungsoo, sampai leher peria itu yang berhiaskan banyak memar. Entah sadar atau tidak, luka dan memar itu berasal dari Jiyeon sendiri. Myungsoo yang terkejut, begitu menikmati sentuhan lembut itu. Cairan bening mengalir dari sudut mata Jiyeon. Myungsoo tersenyum tipis melihatnya, sementara tangannya bergerak menyeka air mata wanita itu.

Gwenchana.”kata Myungsoo, berusaha menenangkan.

Mereka berdua saling bertatapan terus, seperti membentuk satu garis lurus. Air mata Jiyeon makin mengalir deras. Kedua tangan Jiyeon bergerak meangkup wajah Myungsoo. Perlahan bibir merah Jiyeon mencium lembut bekas luka sampai memar di leher Myungsoo. Sensasi yang tercipta, membuat Myungsoo hanyut ke dalamnya.

><><><

Malam musim semi yang penuh bintang. Jiyeon memandang suasana malam dari atas balkon. Diam-diam Myungsoo memotretnya dari samping. Hembusan angin yang menerpa, membuatnya tampak sebagai objek yang paling indah.

“Ayo kita berkencan!”Mendengar kalimat ajakan ini, bukan main membuat Myungsoo terkejut. Jiyeon menolehkan kepalanya ke tempat Myungsoo berdiri mematung.

“Sejak kapan kau menyadariku?”

“Sejak kau memotretku—,”Jiyeon tersenyum meremehkan,”—kau sama sekali tidak cocok menjadai paparazzi. Biar aku lihat hasilnya!”lalu menadangkan salah satu tangannya.

Myungsoo berjalan mendekatinya. Ketika jarak tak menyisakan tempat lagi, ia mengelitik pinggang wanita itu sampai tertawa geli. Selanjutnya, ia memeluk sisi belakang wanita itu sambil mencium aroma tubuhnya.

“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku berkencan?”

“Sudah lama sekali aku tidak keluar.”lingkaran tangan di pinggang wanita itu merenggang, seiring berhentinya ciuman-ciuman nakal yang menghujani bahunya.

“Apa kau sudah mengingatnya?”tanya Myungsoo ragu. Mendengar itu, Jiyeon berbalik lalu menyentuh kedua sisi pipi Myungsoo dengan telapak tangannya.

“Mengingat apa?”Myungsoo tak menjawab,”Aku hanya mengingatmu, karena itu aku ingin sekali keluar bersamamu.”

—“Kasus seperti ini sering terjadi, akibat terauma yang begitu berat. Sepertinya kejadian yang merenggut nyawa suami dan anaknya itu, terjadi sangat teragis di hadapannya. Kesakitan-kesakitan yang tidak sanggup ditahannya itu, membuat dia akhirnya membuang semua ingatannya.”

—“Membuat ingatannya kembali sama saja mengembalikan kesakitannya, tetapi itu yang terbaik. Selain karena dia harus mampu melawan kesakitannya, kasus pembunuhan suami dan anaknya, mungkin saja bisa langsung terungkap. Setelah, melihat dia kembali berbicara, aku juga yakin kau pasti mampu membantu, agar ingatannya bisa kembali.”

Penuturan Dokter tiga minggu yang lalu, tiba-tiba terngiang ditelingan Myungsoo. Aku takut kau pergi, saat ingatanmu kembali. Jadi, aku ingin kau terus seperti ini. Tidak apa-apa kan? Aku ingin terus bersamamu. Myungsoo mencium bibir Jiyeon dengan penuh gairah. Rembulan menyinari mereka berdua bersama kerlipan bintang-bintang.

><><><

Pagi yang sibuk. Myungsoo berkutat dengan banyak dokumen di atas mejanya, namun dering ponsel menghentikan aktivitasnya. Ia pun mengangkat pangilan jarak jauh itu.

Yeobseo?”

‘Myungsoo, akhirnya aku mendapat bukti kuat dan fakta baru mengenai kasus pembunuhan Tuan Choi dan anaknya.’

“Lalu, apa pembunuhnya juga sudah ditemukan, Ditektif Oh?”

‘Karena itu, sebagai sahabat lama kita harus segera bertemu.’

Myungsoo tidak lagi memberi sahutan atas panggilan jarak jauh itu, ia hanya diam dalam pikirannya yang melayang jauh entah kemana.

><><><

Bunyi hentakan pisau menyambut Myungsoo. Suara itu berasal dari dapur. Peria itu sedikit tercengang, dengan apa yang ia lihat di sana. Jiyeon memunggunginya dengan sikut yang bergerak naik-turun. Ini pertama kalinya, ia melihat wanita itu sibuk di dapur. Apa yang sedang wanita itu lakukan? Pikirnya. Memasak?

Seolah-oleh memiliki telepati, Jiyeon melirik ke belakang, lalu tersenyum sangat tipis. Wanita itu menyadari kehadiran Myungsoo.

“Tidak biasanya, kau pulang sepagi ini.”

“Kau memasak?”

“Hmm, tiba-tiba saja aku  ingin melakukannya.”

“Bersiaplah! Hari ini kita akan berkencan.”

Dengan cepat Jiyeon berbalik,”Hari ini?”dan tepat pada saat itu. Prang. Pisau di tangan kanannya terjatuh kelantai, wajah antusiasnya berubah gugup seketika,“Aigo, kau membuatku terlalu bahagia.”ia pun langsung jongkok—demi mengambil pisau yang terjatuh itu.

Bola mata Myungsoo yang tidak bergerak sama sekali, akhirnya dapat menangkap meja dapur yang kosong. Tidak ada satupun bahan makanan mentah di atas sana, sekalipun itu serpihan bekas irisannya. Peria yang selalu sibuk dengan tugasnya sebagai polisi itu, memang tidak pernah menyediakan bahan makanan mentah di rumahnya. Lalu apa yang Jiyeon potong?

><><><

—“Terimakasi, kau hampir menyelesaikan kasus ini dengan baik. Aku akan baik-baik saja.”

Sehun masih memikirkan pertemuannya dengan Myungsoo satu jam yang lalu, ia tidak yakin kalau sahabatnya itu akan baik-baik saja. Sempat terlintas rasa curiga, mengenai hal gila yang mungkin saja bisa sahabatnya itu lakukan. Akan tetapi, ia tahu benar, Myungsoo bukan orang yang seegois itu. Lagu Only One dari Boa membuyarkan lamunanya. Dengan cepat ia mengambil ponsel di dalam kantung jasnya. Satu panggilan ia terima.

Yeobseo?”

Hyung, kami tidak menemukan Jiyeon Agassi di rumah sakit ini. Menurut data, dia sudah lama  tidak dirawat di sini. Sekarang dia tinggal bersama walinya, yang adalah seorang polisi bernama Kim Myungsoo.’

Reflek Sehun bangkit dari duduknya sambil berkata,“Mwo? Baiklah, kita harus cepat ke sana!”barulah peria itu pergi meninggalkan Cafédengan terburu-buru.

><><><

“Untuk apa membawa banyak koper, kita kan hanya berkencan?”tanya Jiyeon, ketika melihat Myungsoo menyusun banyak koper di bagasi mobilnya.

“Kita akan berkencan ke tempat yang jauh, di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu kita.”jawab Myungsoo sambil menutup bagasi mobilnya.

“Kata-katamu membuatku takut.”

Mianhae—,”Myungsoo masuk ke dalam mobilnya, lalu mengacak rambut Jiyeon yang telah duduk di sampingnya,”—yang penting kita akan terus bersama.”

><><><

Sepuluh menit berlalu dengan saling bertatapan serius. Pelayan menghampiri meja kedua peria yang duduk berhadapan itu. Dua cangkir kopi hangat disajikan ke atas meja mereka. Setelah berkata ‘silahkan Tuan’ dengan penuh hormat, pelayan itu pergi.

“Sebagai seorang ditektif aku tidak mungkin memberitahumu semua bukti yang kutemukan, tapi sebagai teman aku akan memberitahumu satu hal. Wanita itu pernah membunuh teman sebayanya diusia 10 tahun, lalu dia dibuang oleh kedua orangtuanya. ”

“Apa maksudmu dengan wanita itu?”Myungsoo menajamkan tatapannya setelah pertannyaan itu terlontar dari mulutnya.

“Jiyeon. Berhentilah mengkhawatirkannya! Dia memanipulasi kejiwaannya sendiri, demi lepas dari penyelidikan. Mulai hari ini dia sudah resmi menjadi tersangka, wanita itu sangat berbahaya.”

Diam. Seperti ada bom atom yang menghancurkan hati Myungsoo dalam sekejap. Peria ini sampai tak mampu berekspresi lagi.

“Terimakasi, kau hampir menyelesaikan kasus ini. Aku akan baik-baik saja.”setelah berhasil mengatakannya, Myungsoo bangkit dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Kopi hangatnya menganggur. Sehun menghela nafas berat.

><><><

Apartement bernomor 309 telah kosong—tak berpenghuni sejak satu jam yang lalu. Polisi menggeledah seluruh ruangan di Apartement  itu dengan penuh kecewa, terutama Sehun. Mungkin seharusnya ia tidak perlu memberitahu sahabatnya itu dulu. Kepedulian yang berujung penyesalan.

><><><

Tertidur di atas padang rumput penuh domba. Saat langit sore mulai menyapa, Jiyeon mengejapkan kedua matanya berkali-kali. Myungsoo sudah tidak terlihat di sebelahnya. Wanita itu bangkit dengan perasaan takut yang berlebihan. Rintik hujan tiba-tiba turun. Peria yang dicari barulah datang, dengan menarik lengan rampingnya. Sepasang kekasih itu pun berlari menghindari hujan.

“Jangan pergi diam-diam!”teriak Jiyeon berusaha melawan suara hujan yang mulai deras.

Saranghae.”Myungsoo juga ikut berteriak, tapi pernyataan cintanya itu tidak singkron dengan kalimat Jiyeon sebelumnya. Membuat Jiyeon, tanpa sadar tersenyum.

Yaa, aku serius.”teriak Jiyeon lagi, berusaha menutupi kebahagian hatinya.

Saranghae.”

Sepertinya mulut Myungsoo hanya bisa mengeluarkan pernyataan cinta, sama persis dengan boneka beruang yang ditekan perutnya. Lucu sekali. Ingin sekali Jiyeon menertawai peria itu, namun mengingat tujuan awalnya. Wanita itu, memilih untuk pura-pura kesal saja. Jiyeon membuang genggaman tangan Myungsoo.

Aishh, Kim-Jong-in!”

Mereka berdua berhenti ditengah hujan deras. Gaun putih Jiyeon basah, begitu pun dengan kemeja lengan panjang dan celana putih Myungsoo. Ingatan tentang halte itu kembali. Ketika hujan deras di musim gugur yang mulai dingin. Untuk pertama kaliya mereka berhadapan dan saling bertatapan di jarak yang dekat. Sama dengan saat ini, meski New Zealand dan Korea jauh berbeda. Setahun telah berlalu.

“Aku tidak akan pernah pergi, sekalipun itu tidak diam-diam.”langkah Myungsoo yang tipis mempertipis pula jarak yang ada.

”Kalau aku yang membuatmu pergi?”tanya Jiyeon, saat jarak telah habis tak bersisa. Kedua tangan wanita itu menangkup wajah Myungsoo.

“Aku akan tetap tinggal, di sini.”

Myungsoo membungkuk dan mencium bagian tengah dada Jiyeon yang tak tertutup gaun. Ciuman itu sangat kuat dan dalam, sampai detak jantung Jiyeon bisa merasakannya dengan jelas. Bersama mata yang terpejam, gairah mengibas kenikmatan. Ciuman berlanjut dengan bibir yang saling menyatu. Hujan deras yang hangat dan sangat basah.

Cinta ini berakhir, saat aku menginginkannya—Jiyeon—

THE END

Bagi pecinta kopel Kaiyeon, Kaistal, Myungyeon, dan Myungstal silahkan baca FF ini >> Moonlight

Thank You :*

48 responses to “[ONESHOT] THE KILLER

  1. Keren, myungsoo kayanya cinta banget sama jiyi^^ untunglah happy ending hehehe =D
    Semangat author! Keep writing yaa

  2. ya ampun, ternyata kisahnya seperti ini. . . jadi sedih liat keadaan jiyeon unnie kaya gitu, , , genre nya menyeramkan tapi untung nya mereka ttp bersatu yah , , love myungyeon , myungyeon is reall, myungyeon jang

  3. jadi jiyeon itu pembunuh tapi kenapa jiyi ga bunuh myungsoo? aku udah takut myungsoo bakal dibunuh sama dia huhuhu

  4. Sebenernya ragu baca krn judulnya ud buat aku takut, tp akhirnya baca jg :p krn penasaran, keren ga ketebak crtnya jiyi nyeremin tp cinta myung bsr sekali smp menutup mata dan telinga ga peduli kalo jiyi sakit, tp syukurlah akhirnya mrk bersatu, bikin yg manis2 aj chingu ky ff mu yg ap itu judulnya birthday2 gitu, msh kerasa manisnya tuh smp skrg, aku suka sekali hahhaha, tp ini jg keren wlo genrenya menyeramkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s