Clash (Chapter 2)

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Support Cast :

  • Krystal Jung
  • Nickhun Horvejkul
  • Park Shinhye

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

Myungsoo’s PoV

 

Look my eyes are dry.

Love is never gone.

 

“LEBIH KERAS!”

“Satu! Dua! Tiga!”

“Apa kalian menyebut seperti itu teriakan?!”

Sahut menyahut dalam satu gedung besar itu. Teriakan menggema di langit-langit atap transparan yang membawahinya. Beberapa pria dan gadis bertubuh tegap memasang gurat serius. Di wajahnya terpampang kesinisan. Sorot mata mereka setajam pisau.

Beberapa pria dan gadis itu memakai jas biru gelap, tanda bahwa mereka ada satu tingkat di atas beberapa anak yang hanya memakai kemeja putih.

Salah satu di antara anak berkemeja putih itu, berdiri tegap diriku di barisan paling depan. Jakunku naik turun menahan gerogi.

Ketika senior melewatiku, senior itu pasti teriak tepat di samping indera pendengaranku. Aku hanya menggertakan rahang sambil mengepal kedua tangan di sisi.

“Inikah yang disebut ketua kelas?!” begitulah kata yang menusuk di telinga.

Pandanganku tetap mengarah ke depan. Mencoba meredam emosi dengan mengatur pernafasan.

“Ini bukan Kelas Science?”

Suara lembut yang berbeda dari senior itu sedikit membuatku melirik pandangan.

Tampak seorang gadis berseragam sama sepertiku dengan rambut cokelatnya yang dikuncir menjadi tiga bagian sedang menghadapi senior yang terkenal garangnya.

Chogi, aku sedang berbicara denganmu,” ulang gadis itu sedikit menarik simpatiku untuk membungkam mulut gadis itu. Karena terlihat jelas senior itu diam menahan amarah.

“Dasar junior tidak tahu tata krama! Apa kau tidak punya mata?! Coba lihat! Ini khusus Kelas Social!”

Gadis itu sejenak terperanjat memandang pria yang lebih tua di hadapannya. Setelah itu ia membungkukkan badan meminta maaf dan segera berlari kecil menjauhi sarang harimau itu.

Sementara aku tanpa sadar tersenyum kecil melihat gadis itu gelagapan menjauh.

—o0o—

Selesai menempatkan montor, aku segera melangkah menyusuri tempat parkir yang luas itu. Sebelum kumasukan kunci montorku ke dalam saku celana, aku melemparnya terlebih dahulu ke udara, bermain sejenak sambil bersiul.

Hanya segelintir siswa yang sudah datang di pagi buta. Sekilas penglihatanku menangkap sesosok gadis berlari melewatiku. Gadis itu hilang begitu belok ke arah tangga. Sosoknya terlihat kembali saat ia sudah berada di lantai atas.

Rambutnya yang ia ikat ekor kuda melambai seiring langkah kakinya yang terburu-buru. Diriku terdiam sejenak. Menikmati sosoknya dalam jarak yang cukup jauh. Lagi, mulutku akan membentuk senyuman melihat tingkahnya.

“Jiyeon,” bahkan tak sadar aku menyebut namanya.

—o0o—

Kuah sup ayam itu membasahi tenggorokanku. Membuatku bergumam lezat. Istirahat pertama foodcourt sudah terisi penuh.

“Bagaimana cara menyelesaikannya?”

Seorang gadis yang duduk di hadapanku bergumam pelan sambil melihat buku tulis yang terletak di mejanya. Seseorang yang lain mendekatkan dirinya untuk ikut membaca tulisan di buku tulis itu.

Daebak, Kim Jiwon masih mencoba menjawab teka-teki ini,” ujar seseorang itu.

Pluk, Jiwon menimpuk pensilnya di dahi pria yang meledeknya itu, “Tuan Horvejkul, lebih baik kau diam.”

Aku tertawa singkat melihat kelakuan mereka. Nickhun mendengus pelan seraya kembali menghisap float iced choco.

Ya! daripada kau sibuk menjawab teka-teki tak berguna itu bantulah aku mengurus keuangan kelas,” sela seorang gadis dengan mulut penuh makanan.

“Mengapa kau memintanya padaku,” Jiwon tak mau kalah, “Minta tolonglah pada ketua kelas.”

Aku paham dengan pandangan Jiwon yang mengarah padaku. Gadis yang menggerutu tadi, menoleh samping. Dengan keji ia berkata, “Tidak usah. Aku tidak mau mengandalkannya.”

Mulutku mendesis sambil melemparnya tatapan pedas.

Dasar Nona Bendahara Park Shinhye, namun itu hanya terucap di hati.

Seperti biasa, Nickhun menjaili Jiwon. Pria itu penuh kemenangan saat berhasil membuat Jiwon memanyunkan bibir. Sedangkan Shinhye akan berusaha melerai, tetapi ujung-ujungnya ia berpihak pada Nickhun.

Nafasku berhembus pelan melihat mereka, teman-teman baruku di Ganghwa Highschool. Kuedarkan pandanganku bosan sambil memainkan sedotan yang ada di gelas berisi setengah iced tea.

Ketika itu pula seorang gadis menarik perhatianku sepenuhnya. Gadis itu memberikan ekspresi tak berminat, berbeda dengan temannya yang sumringah memeluk lengan gadis itu.

“Itu Jiyeon,” aku sendiri tidak mendengar perkataan Nickhun.

Jiwon langsung melekatkan pandangannya padaku. Kedua bola mataku masih tertuju pada Jiyeon. Hingga gadis itu duduk sendirian di bangku paling sudut.

Segera aku mengeluarkan ponsel dan mengetikkan beberapa pesan singkat melalui whatsapp.

‘Tumben di kantin.’

Kulihat dirinya mengeluarkan ponsel. Selang beberapa saat, pesan singkat darinya masuk ke dalam ponselku.

‘Kau di mana?’

Wajahku menahan senyuman yang berbunga membaca balasannya.

 ‘Berada di dekatmu.’

 Jiyeon tampak gelagapan. Ia menolehkan kepalanya ke sana ke mari. Tentu ia tidak akan menemukanku. Karena tempat dudukku berada di belakangnya, selang beberapa kursi.

Sebelah tanganku sebagai tumpuan untuk bertopang dagu. Kesempatan melihat wajahnya tak boleh kulewatkan. Raut muka bingung yang bisa kugapai dalam sekian jarak, tak bisa kulihat dengan dekat. Tidak boleh kulewatkan begitu saja.

 

PLETAK!

 

YA!” ringisku memegangi dahiku yang terasa nyeri setelah dijitak oleh Shinhye, “Ada apa?” suaraku sedikit berteriak.

“Daritadi Jiwon bertanya padamu, kau mengabaikannya,” cetus Shinhye.

Sambil mengusap dahiku aku mengalihkan perhatian pada Jiwon. Gadis itu memasang wajah datar. Pandangannya sulit dimengerti. Setiap lelaki pasti akan mencoba untuk memasuki pikiran gadis ini.

“Kau ini bagaimana, tentu saja Myungsoo tengah mencuci mata,” ujar Nickhun menetralisirkan suasana yang sedikit merinding karena tatapan Jiwon seperti itu, “Lihatlah! Di sana ada Park Jiyeon.”

Shinhye, Jiwon, dan Nickhun mengarahkan pandangan pada gadis yang entah sejak kapan sudah asyik mengobrol dengan kedua temannya.

“Ah, matta! Ada Park Jiyeon,” ucap Shinhye membenarkan.

Ini hanya pandanganku yang salah atau apa, tetapi Jiwon tampak menggumamkan sesuatu yang tidak enak.

“Kau ingin mengatakan apa?” tanyaku pada Jiwon.

Eobseo,” sahut Jiwon mengangkat bahunya.

Sama seperti kebiasaan Jiwon yang suka mengisi teka-teki, gadis itu juga seperti teka-teki.

Ya, Jiwon. Tidak bisakah sekali saja kau tidak membuatku penasaran?”

“Aku membuatmu penasaran?”

“Tentu saja. Dengan lagakmu seperti itu.”

“Aku tidak merasa seperti itu.”

Gadis ini sebelas dua belas dengan Shinhye. Rata-rata semua gadis di kelasku tidak menyerah dalam berdebat.

“Waa, Myungsoo!” bentakan Nickhun menyela diriku yang akan menjawab Jiwon.

Mworago?” nada suaraku tak kalah tingginya dengan Nickhun.

“Lihat itu!”

Kedua bola mataku hampir keluar menyaksikannya. Ah, tidak hanya aku. Hampir seisi foodcourt menjadikannya sebagai pusat perhatian.

Gadis itu tampak bersimpuh di atas seorang pria. Yang membuat diriku menggeram kecil adalah, pria itu Kim Taehyung. Kim Taehyung teman sekolahku di SMP.

Untuk beberapa saat, foodcourt dilimuti atsmosfer keheningan. Hingga teriakan gadis itu memecah segalanya. Membuyarkan pandangan keheranan dari yang lainnya. Dan mengembalikan aktivitas ke semula.

Tidak dengan aku yang masih menatapnya. Berharap bisa menarik tubuh gadis itu.

“AAAAA!!!” teriakannya berhenti saat Taehyung menutup mulutnya. Sontak membuat gadis itu mengangkat tubuhnya dan menjaga jarak dengan Taehyung. Kulihat tubuhnya sedikit gemetar. Lantas ia mengambil langkah lebar, tidak mempedulikan Taehyung yang mencoba untuk berdiri.

Dengan kasar aku beranjak dari kursiku.

Eodieka?” tanya Shinhye kuabaikan.

Disetiap langkahku terpantul amarah yang seharusnya bukan menjadi hakku seperti ini. Bahuku berpapasan dengan Taehyung. Pria itu jelas memberikan seringai ketika aku melewatinya. Kepalan tanganku bergetar kuat.

Hentakan kakiku semakin kupercepat dan melambat begitu sosoknya sudah dapat dijangkau oleh pandanganku.

Sambil mengatur nafasku aku menggeser layar ponselku yang sedari tadi kugenggam. Tepat aku meenyelesaikan ketikanku di badan ponsel, gadis itu menghentikan langkahnya. Ia tampak membaca pesan.

‘Apa kau sudah tau aku yang mana?’

Begitulah pesan melalui whatsapp yang kukirim padanya. Tidak mungkin aku membiarkan kisah cintaku berlanjut salam satu sudut pandangan saja. Dia pula harus mengerti posisiku.

‘Aku tidak tahu.’

Sudah kuduga, dia hanya mengenalku melalui pesan whatsapp yang selama ini kukirim. Aku menarik nafasku dan menghembuskannya.

“Berputarlah seratus delapan puluh derajat, kau akan melihatku. Kim Myungsoo.”

Kalimat itu terucap sambil aku mengetiknya. Gadis itu tidak memberi respon. Dia diam sejenak memandangi ponselnya. Lantas ia membalikkan tubuhnya.

Saat itu detak jantungku tak karuan semakin mengejar. Kini ia nyata berada di hadapanku. Melihatku dengan kerutan alisnya. Wajahnya menggambarkan seribu pertanyaan. Dipandangi seperti itu, meredakan emosi yang sempat meluap.

Meski masih terbentang jarak, setidaknya kini ia juga melihatku. Seakan dunia ini milikku, aku tersenyum menawan terhadapanya.

-TBC-

Hollaa. Maapkan diri Hara karena yang ditabrak Jiyeon bukanlah Myungsoo, tapi Taehyung. Maapi maapiiinnn hikss… Ada satu alasan kenapa bukan Myungsoo *halah* Tapi di chapter ini juga Jiyeon tau wajahnya Myungsoo *horay ciiee* wekawekaweka. See yaaaa~~~

56 responses to “Clash (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s