[CHAPTER – PART 8] 15:40:45 – Fierce

myung-ji-154045-1

15:40:45

Fierce

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Previous here

-oOo-

Bel masuk pagi ini belum berbunyi, tetapi para siswa sepertinya lebih memilih untuk mendekam di dalam kelas atau pergi menuju kelas conversation pagi mereka masing-masing daripada harus berkeliaran disekitar lobi. Cuaca pagi ini sangat tidak mendukung, mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Tidak seberapa dingin, tapi hawanya sangat cocok untuk mematikan lampu dan tertidur di balik selimut.

Sama halnya dengan siswa lain, bagi pengendara motor seperti Myungsoo, hujan dipagi hari bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ia selalu lupa membawa mantel hujannya atau lebih tepatnya ia telah menghilangkannya tiga minggu yang lalu, jadi ia tak memiliki alat pelindung hujan lain selain jaket parasutnya. Walaupun ia tak pernah sempat melihat acara prakiraan cuaca, tapi ia sudah bisa menebak bahwa hari ini hujan akan turun, dan daripada harus basah kuyup karena hujan, Myungsoo lebih memilih menghindari hujan dengan berangkat lebih pagi. Mungkin saja sampai disekolah nanti ia ingat jika ada tugas yang belum dikerjakannya atau hanya mengunggu bel masuk dengan tidur sejenak.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang, masih lima belas menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Minah sudah muncul di depan pintu kelas dan melambaikan tangannya pada Bomi. Bomi yang merasa tak memiliki kegiatan penting di kelas langsung mengambil bukunya dan pergi menemui Minah.

“Masih lima belas menit lagi sebelum masuk, dan kau sudah datang..”

Minah hanya menoleh, “Aku bosan jika terus berada di kelas.”

Bomi dan Minah memasuki kelas conversation mereka yang berada tepat di sebelah ruang kelas Bomi. Sudah cukup banyak yang datang dan duduk di tempat masing-masing. Sesaat sebelum Bomi duduk di tempatnya, ia melihat seseorang yang diam tertidur sambil menelungkupkan kepalanya tak jauh dari tempat ia duduk. Hanya dari sekali lihat saja Bomi sudah mengetahui siapa lelaki yang sedang dilihatnya.

“Ya! Kim Myungsoo..” Bomi menepuk lengan Myungsoo mencoba membangunkannya.

Myungsoo hanya menggerakkan kepalanya sedikit tanpa berniat untuk bangun. Bomi hanya berdecak kecil dan menepuknya lebih keras, “Ya! Bangunlah!”

“Apa?” Bangun Myungsoo malas sambil menggosok pipinya kedinginan.

“Aku dengar kau melakukan hal bodoh lagi pada Jiyeon.” Ucap Bomi bertanya.

Myungsoo mengerutkan dahinya, “Hal bodoh apa?”

“Jangan pura-pura tidak tahu.” Bomi menyipitkan matanya tak percaya, “Di kelas bahasa Jerman, Ich liebe dich, itu apa namanya.”

“Oh.” Angguk Myungsoo singkat.

“Jawaban macam apa itu?” Bomi membulatkan mulutnya tak percaya.

Myungsoo hanya melirik singkat pada Bomi, “Karena aku tak merasa melakukan hal bodoh. Aku hanya menjawab pertanyaannya. Ich liebe dich artinya I love you. Sudah itu saja, tidak ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkan.”

Bomi hanya mencibir tak percaya, tapi ia lebih memilih diam dan tak melanjutkan pembicaraan tak pentingnya daripada harus berlanjut dengan perdebatan panjang yang hanya akan membuang-buang waktunya.

“Aku menyukainya..”

Ucapan tiba-tiba Myungsoo membuat Bomi mengembalikan konsentrasinya pada lelaki dengan rambut berantakan disampingnya.

“Siapa?” Tanya Bomi bingung.

Myungsoo menghela nafasnya pendek, “Gadis itu, teman baikmu, bukan?”

Bomi terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka.

Gadis itu, siapa, tidak mungkin Minah karena mereka tidak membicarakan Minah sama sekali pagi ini, lagipula Minah sudah berpacaran dengan Kyungsoo sunbae, tidak mungkin juga jika Myungsoo merebut kekasih teman satu grupnya sendiri. Gadis yang baru saja mereka bicarakan adalah.. Oh tidak mungkin, kan!

“Huh! Aku tak percaya, lelaki sepertimu memang mudah untuk berpindah dari satu gadis ke gadis yang lain” Bomi masih berusaha menyangkal.

“Aku serius!” Balas Myungsoo sedikit berteriak dengan wajahnya yang datar.

Bomi menggelengkan kepalanya, “Kau memang seseorang yang penuh dusta, hitung saja sudah berapa banyak gadis yang kau dekati.”

“Untuk yang satu ini aku tak akan main-main, percayalah!”

“Tidak!” Bomi beranjak dari tempat duduk disamping Myungsoo, “Kau kira aku akan dengan mudahnya menyerahkan sahabatku pada lelaki sepertimu..”

“Baiklah, aku akan membuktikannya secara langsung.” Balas Myungsoo tak kalah keras berteriak pada Bomi.

-O-

Setelah hampir delapan kali Jiyeon bolak-balik melirik kearah jam tangannya, akhirnya bel istirahat berbunyi dan Miss Pyo mengakhiri pelajarannya. Bagi tukang tidur seperti Yooyoung, menghabiskan jam pelajaran matematika milik Miss Pyo mungkin mudah, hanya dengan meletakkan kepalanya diantara kedua lengan dan menelungkupkannya, waktu sembilan puluh menitpun tak akan terasa. Tapi bagi Jiyeon masalahnya hanya satu, perutnya tak berhenti berbunyi sejak setengah jam yang lalu. Ia tak sempat makan pagi ini, cuaca mendung membuatnya harus berangkat lebih pagi demi menghindari guyuran hujan dan sialnya bekal yang telah disiapkannya untuk sarapan tertinggal di atas meja.

Bagi Jiyeon bunyi bel istirahat kali ini memang bagaikan keluar dari kurungan ruangan kedap udara, dan ingin segera menghirup udara segar dengan mengisi kekosongan perut berkepanjangan. Tak perlu lagi ia merapikan bukunya untuk pelajaran selanjutnya, Jiyeon langsung menarik cepat keempat pasang tangan temannya yang bahkan belum sempat melepas bolpoin dari tangannya masing-masing.

Keempatnya hanya mengikuti Jiyeon dibelakang tanpa mengatakan apa-apa lagi, tanpa bertanyapun mereka sudah tahu jika Jiyeon sangat kelaparan. Bunyi perutnya yang sudah meraung meminta untuk diisi tak bisa ia sembunyikan.

“Jiyeon-ah..”

Panggilan seseorang dari arah belakang seketika menghentikan langkah cepat Jiyeon. Tanpa melihatpun sebenarnya Jiyeon sudah tahu siapa yang memanggilnya, setelah mendengar ocehannya selama seminggu ini terus-menerus membuat Jiyeon hafal benar dengan nada suaranya.

“Oh Minho sunbae.” Jiyeon berbalik dan membalas panggilannya dengan tersenyum.

Minho maju mendekat pada gerombolan Jiyeon dan keempat temannya, “Ingin ke kantin..”

Jiyeon mengangguk cepat, “Iya, aku dan yang lain-”

“Bersamaku.”

Kali ini Jiyeon terdiam. Masih memandang lurus kearah Minho yang berdiri didepannnya. Dahi Jiyeon berkerut perlahan, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Ingin ke kantin bersamaku, Park Jiyeon?” Tanya Minho memperjelas.

Jiyeon masih terdiam dengan pandangan yang sama, “Ah.. oh..”

“Ah iya, kau pergi saja dengan Minho sunbae.” Ucap Soojung memecah keheningan, “Aku baru ingat jika aku harus mengembalikan buku ke perpustakaan. Kajja Bomi-ya..”

Keempat yang tertinggal hanya menatap kepergian Soojung dan Bomi yang melangkah cukup cepat sebelum keduanya berbalik, “Ah untuk Hayoung dan Yooyoung, aku baru ingat jika kalian dipanggil Mr. Cha ke ruangannya istrahat ini.”

Setelah mendapat kedipan satu mata berkali-kali dari Soojung, mereka baru sadar dan langsung tertawa polos ke arah Jiyeon, “Iya aku baru ingat jika harus ada tugas yang aku kumpulkan. Jadi kau pergi saja lebih dulu ke kantin bersama Minho sunbae, bukankah kau belum sarapan sejak tadi..”

Keheningan antara keduanya terpecah karena perut Jiyeon yang kembali berbunyi. Dengan cepat Jiyeon memegang perutnya dan menutup wajahnya menyembunyikan semburat merah karena malu dari lelaki di depannya.

Minho terbatuk pelan, “Baiklah sepertinya kita telah menghabiskan empat menit waktu istirahat disini. Bagaimana jika kita segera menuju kantin dan makan sebelum bel masuk kembali berbunyi dan sepertinya perutmu benar-benar harus segera diisi.”

Jiyeon hanya bisa mengikuti langkah Minho saat lelaki itu menarik tangannya menuju kantin. Sepanjang jalannya menuju kantin, tak sedikit pasang mata yang memperhatikan kearah mereka, mulai dari yang tak percaya lalu berbisik pada teman disampingnya sampai hanya melirik singkat.

Sebenarnya bukan sebuah rahasia lagi jika Minho menyukai Jiyeon, hampir seluruh siswa tingkat tiga tahu tentang hal ini, entah siapa yang menyebarluaskan, yang pasti dilihat dari cara Minho memperlakukan Jiyeon saja sudah bisa ditebak bahwa Minho menyukai Jiyeon. Dan Jiyeon juga tidak kaget jika ada yang mengatakan bahwa seniornya yang satu itu menyukainya, Jiyeon sudah merasa bahkan ia tahu, tapi ia tak mau memikirkannya terlalu jauh. Tidak ada niatan sama sekali untuk menggantung Minho, hanya saja hubungan sebelumnya baru saja kandas dan Jiyeon tak berpikir untuk secepat itu mencari yang baru, bahkan Jiyeon masih belum yakin jika ia telah melupakan Sehun sepenuhnya.

“Ah itu ada meja kosong, kajja..”

Sedetik setelah mereka masuk ke area kantin, Minho langsung menemukan meja kosong untuknya dan Jiyeon. Lagi-lagi Jiyeon hanya bisa mengikuti Minho dan duduk berhadapan dengannya.

“Kau ingin makan apa?” Tanya Minho.

Jiyeon mengedarkan pandangannya ke sekitar kantin, mencoba mencari makanan apa yang cepat dan cukup untuk mengisi perutnya yang benar-benar kosong kali ini. Belum sempat ia menentukan apa yang ia pilih, ia melihat salah satu junior dalam ekskul musiknya yang ternyata lebih dulu duduk di sampingnya. Belum sempat Jiyeon menyapa, juniornya sudah mulai membuka percakapan lagi dengan lelaki didepannya.

“Ada acara apalagi kali ini?”

Lelaki berambut lebat itu menghela nafasnya panjang, “Jinri-ya, kau harus mengerti jika kompetisinya akan diadakan sebentar lagi.”

“Hah! Kompetisi..” Balas Jinri cepat, “Ya! Lee Taemin, apakah kompetisi itu sangat berharga bagimu hingga rencana kitapun kau batalkan.”

Taemin hanya mengangguk, “Bukannya aku sengaja, tapi mau apa lagi, dua minggu menuju kompetisi bukanlah waktu yang singkat. Cobalah kau mengerti keadaanku.”

“Jika aku yang selalu mengerti, bagaimana denganmu?” Desis Jinri pelan, “Bahkan untuk meluangkan sedikit waktumu untukku, Taem!”

Air mata yang ia tahan sejak tadi kini luntur sudah. Jinri sudah kepalang marah. Tak mungkin jika ia harus berteriak di tempat seramai ini, Jinri bukanlah orang yang suka mencari perhatian orang lain. Apalagi jika menyangkut tentang urusan pribadinya. Ia lebih memilih pergi dan menyelesaikannya sendiri.

Pertengkaran singkat Jinri dan Taemin memang tak menarik banyak perhatian, tapi bagi Sehun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Jeongmin bermain dengan ponselnya, suara ribut yang ia dengar cukup menarik perhatian. Sebenarnya Sehun juga tak terlalu tahu apa yang diributkan oleh keduanya, yang Sehun dengar setelah sedikit menajamkan perdengarannya di tengah keramaian hanya kata kompetisi, perhatian, dan entahlah selanjutnya ia tak tahu lagi.

Keributan yang berlangssung tak lama itu sepertinya telah selesai setelah Jinri bangun dan beranjak pergi dari tempat duduknya. Sehun hanya bisa menatap bingung kepergian Jinri dan yang sempat terlihat olehnya hanya wajah Jinri yang memerah, dan Sehun tahu betul jika wajah Jinri hanya akan memerah seperti itu jika ia sedang menangis.

“Aku rasa Taemin memang tak cocok untuk Jinri.”

Ucapan tiba-tiba Jeongmin seketika mengalihkan perhatiannya. Dengan cepat Sehun menolehkan kepalanya kearah Jeongmin disampingnya dengan dahi yang berkerut bingung.

“Apa?”

“Aku rasa Taemin dan Jinri itu memang tidak cocok.” Ulang Jeongmin penuh penekanan, “Taemin terlalu masa bodoh dengan pasangannya dan Jinri yang sedikit manja memang butuh perhatian lebih.”

Sehun hanya menatap tajam teman disampingnya, “Apa maksudnya kau mengatakan itu padaku?”

“Oh ayolah..” Jeongmin menepuk pelan lengan Sehun, “Aku bahkan tak mengingat apa alasanmu putus dengan Jinri.”

“Kau memang seseorang yang penuh perhatian, aku akui itu, dan seorang gadis yang meminta perhatian-”

“Berhenti membahas apa yang sudah lalu.” Potong Sehun, “Aku dan Jinri sudah berakhir lama.”

“Bahkan dia sudah memiliki lelaki lain dan aku-”

“Apa?” Potong Jeongmin membalas, “Kau sudah putus dengan Jiyeon sunbae dan lihatlah Jinri sedang bertengkar dengan Taemin.”

“Mungkin ini kesempatanmu, Oh Sehun.” Jeongmin menepuk pundak Sehun seakan memberi keyakinan.

Sehun hanya tertawa pendek, “Tidak usah mengada-ada.”

“Aku tidak mengada-ada. Aku hanya mencoba mengatakan hal yang baik untukmu, lihatlah bahkan Jiyeon sunbae sudah memiliki penggantinya.”

Tunjukan jari Jeongmin langsung diikuti oleh pandangan mata Sehun. Telunjuknya mengarah pada meja di bagian tengah kantin berisi dua orang yang sedang mengobrol asyik, sambil sesekali sang gadis menyendokkan makanannya.

Dengan cepat Sehun mengembalikan pandangannya pada Jeongmin yang kini juga telah memperhatikannya. Sehun tahu jika Jeongmin memiliki informasi lebih tentang apa yang baru saja ia tunjukkan.

“Apa kau tidak tahu tentang kabarnya?” Tanya Jeongmin mencari tahu, “Tentang Jiyeon sunbae dan Minho sunbae.”

Mendengar dua nama yang baru saja disebutkan Jeongmin membuat Sehun kembali mengingat tentang ucapan teman satu klub sepak bolanya beberapa hari yang lalu.

“Aku melihat Jiyeon sunbae bersama seseorang, dan kukira itu adalah dirimu.”

Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Sehun hanya merasa genggaman tangannya semakin kuat dan memanas, wajah Jiyeon dan Minho berkelbat bergantian di kepalanya. Tak lama setelah itu Sehun langsung bangkit dan pergi meninggalkan Jeongmin sendiri yang menatap bingung kepergian Sehun.

Sehun tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, jika dipikirkan, untuk apa ia marah kali ini. Tentang Jiyeon dan Minho, bukankah hal ini sudah tak penting lagi baginya, bukankah ia dan Jiyeon sudah berakhir dan untuk apa lagi ia bersikap seperti ini. Sehun benar-benar tak dapat berpikir jernih kali ini.

“Ya! Oh Sehun!”

Langkah cepat Sehun terhenti saat sebuah suara memanggilnya, “Mengapa kau terburu-buru seperti itu?”

Sehun hanya tersenyum singkat, “Tidak apa-apa sunbae, aku permisi dulu.”

Segerombolan lelaki yang menghentikan pembicaraannya karena salah satu dari mereka memanggil Sehun hanya menatap punggung Sehun singkat dan kembali pada pembicaraan mereka.

“Sungyeol-ah, kau mengenalnya?” Tanya Myungsoo setelah mengalihkan pandangannya.

Sungyeol hanya mengangguk, “Dia berada satu klub sepak bola denganku.”

Myungsoo hanya mengangguk tanda mengerti. Ia kembali meneguk habis minumannya sambil memperhatikan seisi kantin yang dipenuhi dengan siswa yang berlalu lalang membawa makanan. Sampai pandangan matanya terhenti pada dua orang yang sedang duduk bersama. Myungsoo merasa tak asing dengan seseorang yang diperhatikannya dan setelah ia menyadari siapa gadis itu, Myungsoo langsung menyambar botol minuman milik temannya disampingnya dan beranjak pergi.

“Ya! Kim Myungsoo, itu minumanku!”

Tanpa memperdulikan panggilan dari temannya, Myungsoo terus berjalan menuju meja tengah yang berisi dua orang yang sedang duduk berhadapan dan dengan cepat Myungsoo langsung mengisi tempat kosong disampingnya.

“Ini untukmu, kau pasti haus.” Ucap Myungsoo tersenyum sambil menyerahkan minuman ditangannya.

Jiyeon yang tak menyadari kehadiran Myungsoo tentu saja langsung terlonjak dari duduknya dan hampir terjatuh kebelakang jika Myungsoo tak menahan lengannya. Menyadari posisi anehnya dengan Myungsoo, Jiyeon cepat-cepat bangkit dan menyingkirkan pegangan Myungsoo dari lengannya.

“Hati-hati, jika kau jatuh, kau sendiri yang malu..”

Jiyeon hanya mengerutkan dahinya bingung, “Kau yang membuatku hampir terjatuh, Kim Myungsoo.”

“Dan apa ini? Aku tak memintamu datang dan membawakanku minum.”

Sekali lagi Myungsoo teersenyum, “Kau memang tak meminta tapi aku memberikannya padamu.”

Jiyeon menggelengkan kepalanya singkat dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Minho tanpa mempedulikan Myungsoo yang datang dan memotongnya ditengah pembicaraan.

Myungsoo yang diabaikan hanya menatap kesal pada dua orang disampingnya. Ia mencoba mencari perhatian dengan mengambil kembali minuman yang ia beri pada Jiyeon dan meminumnya hingga setengah habis.

Jiyeon hanya mencibir dan melirik singkat pada Myungsoo lalu kembali tak memperhatikannya lagi. Myungsoo yang merasa aksinya gagal kini melakukan hal yang ia yakin akan menarik perhatian Jiyeon.

Ia membuka tutup botol minuman ditangannya dan menumpahkan seluruh isinya di atas meja, dengan sengaja lebih mendekatkan kearah Minho agar lengan seragamnya kotor dan menyisakan sedikit isinya untuk menyiramkannya pada seragam Jiyeon.

Melihat perbuatan Myungsoo yang menurutnya kelewat kekanakan membuat Jiyeon benar-benar kesal. Jika saja ini kelas atau setidaknya bukan tempat yang seramai ini, mungkin Jiyeon sudah menjambak rambut berantakan Myungsoo dan mencaci makinya habis-habisan. Tetapi mana mungkin ia melakukan hal itu ditempat umum seperti kantin.

Melihat wajah menyebalkan Myungsoo membuat emosinya semakin meningkat, daripada harus lebih mempermalukan diri, Jiyeon lebih memilih pergi menjauh. Dengan menarik lengan Minho, Jiyeon beranjak meninggalkan Myungsoo. Tapi belum sempat ia berdiri sepenuhnya, tangan Myungsoo kini menarik lengannya dan menyebabkan Jiyeon kembali terduduk disampingnya.

“Aku duduk disini untuk menemuimu, bukan untuk merebut tempat dudukmu dan membuatmu pergi, Park Jiyeon!”

Jiyeon menggeretakkan giginya kesal, “Kau tahu, kau seperti anak kecil yang hanya bisa membuat malu, Kim Myungsoo..”

“Aku tak akan berbuat seperti ini jika saja kau memperhatikanku.” Balas Myungsoo cepat.

“Dasar tukang paksa!” Teriak Jiyeon pada Myungsoo.

Sekali lagi Myungsoo memegang lengan Jiyeon, “Aku menyukai-”

Byur!

“Aku membencimu Kim Myungsoo.” Desis Jiyeon pelan.

Jiyeon berdiri dan berjalan meninggalkan Myungsoo dengan emosi yang sudah meletup. Belum jauh ia melangkah, Jiyeon berbalik dan melirik singkat Myungsoo yang masih terdiam dengan ekspresi yang sama dengan detik pertama Jiyeon menyiramnya dengan minuman milik Minho yang baru habis setengahnya.

“Jika seperti ini jadinya, aku juga membencimu.” Geram Myungsoo pelan, “TAPI AKU RASA AKU TETAP MENYUKAIMU, PARK JIYEON!” Teriak Myungsoo kencang.

Bomi yang baru saja datang dan langsung disuguhkan kejadian konyol ulah Myungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Dasar bodoh. Inikah yang ia sebut caranya sendiri? Heol, daebak!”

-O-

Sesaat setelah Sehun meninggalkan kantin, ia langsung bergegas mencari teman satu klub sepakbolanya yang saat itu memberi tahu tentang Jiyeon dan lelaki berseragam sama dengannya. Tak perlu waktu lama untuk mencarinya, karena Sehun sudah tahu bahwa setiap jam istirahat temannya yang satu itu selalu menghabiskan waktunya di lapangan dan bermain.

“Ya! Jung Jinwoon, kemari kau..” Panggil Sehun dari pinggir lapangan.

Sambil menghapus keringatnya Jinwoon berlari meuju Sehun, “Ada apa?”

“Tentang yang waktu itu.” Sehun berhenti sejenak, “Kau pernah mengatakan bahwa Jiyeon pergi dengan seorang lelaki, bukan?”

Setelah berusahamengingat akhirnya Jinwoon mengangguk, “Ah iya, aku ingat.”

“Apa kau tahu siapa lelaki itu?”

Jinwoon hanya tersenyum jahil kemudian, “Hei, kau masih cemburu ya.”

“Entahlah..” Jinwoon menggelengkan kepalanya, “Jika aku ingat-ingat lagi perawakannya memang beda denganmu, dia sedikit lebih tinggi, dan ah aku rasa dari belakang ia mirip dengan Minho sunbae.”

Sehun hanya terdiam menatap lurus pada Jinwoon. Jinwoon yang merasa ada ucapannya yang salah langsung melambaikan telapaknya menepis, “Ah tapi tidak mungkin jika itu Minho sunbae, kan..”

“Ya walaupun Minho sunbae tidak ikut latihan hari itu.” Lanjut Jinwoon pelan.

Sehun masih bisa mendengarnya. Kepalanya kini sudah dipenuhi dengana pikiran buruk tentang Minho dan Jiyeon. Bagaimana jika kabar yang beredar itu memang benar adanya, bagaimana jika.. Ah Sehun berusaha menepis segala pikiran buruknya, tapi sepertinya gagal. Sedikit demi sedikit emosinya mulai naik. Telapaknya menggenggam lebbih kuat hinggan buku-buku jarinya memutih. Ia merasa ditusuk dari belakang oleh seseorang yang begitu ia hormati selama ini.

-To be Continued-

Hai hai! Yeay~ Libur telah tiba libuuur duh akhirnya huft ._.

Aduduh mumpung nih lagi liburan, waktu luang banyak banget ya, semoga bisa update cepet diusahain deh ya

Oh iya yang mau liat FF aku yang masih coming soon boleh kok disini

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

77 responses to “[CHAPTER – PART 8] 15:40:45 – Fierce

  1. Entah seh minho salah apa gg ,tapi keadaan nya kan sehun am jiyi ud putus , ya jdi serba salah seh -_-
    jinri uda am sehun aja ya kasian dya gagal move on lgy , kkkkkk
    ampun myung cara deketin cewek nya maksa bnget mana mau tuh cwek , hahaha

  2. Yak.. Kim MyungSoo kalau mau dekatin yeoja gak begitu caranya.. Ckckck belajar dong sama pakarnya MyungSoo.. Wkwkwk.. Lagian JiYeon juga kayanya berlebihan banget, sampe nyiram si tampan MyungSoo.. MyungSookan cuma cari perhatianmu aja JiYeon, gak seharusnya kamu mempermalukan MyungSoo kaya gitu.. Huh gregetnya saya.. Hehehe.. Oh iya Sehun move on dong dari JiYeon, itu Jinri kayanya mau putus sama taemin kesempatanmu tuh sehun..🙂 sudah Penasaran banget sama ceritanya, mau langsung baca aja.. Izin baca next chapternya ya Thor..
    Annyeong..🙂

  3. Akh myung oppa payah, masa begitu sih cara dya buat dekwtin jiyeon eeoniie,, emnk’y ga bisa romantis sedikit aph,,, ayo donk oppa bikin hal yg romantis, biar jiyeon eoniie langsung klepek”,,, hahah

    Next read

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s