Tension [12]: Willingness #2/END

tension

Tension [12]: Willingness #2/END
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2] [Crying #1] [Crying #2/END] [Angel’s Anger #1] [Angel’s Anger #2] [Shame] [Willingness #1]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

Tiga hari terlewat sejak Jiyeon mengetahui bahwa Naeun dan seluruh pegawai di kafe rupanya hanya sedang mengerjainya, menjauhinya sebagai acara dadakan penyambutan pegawai baru. Sejujurnya, Jiyeon ingin menerapkan nasihat Myungsoo mengenai berusaha untuk mendapatkan keinginanmu. Namun, sepertinya Tuhan begitu menyayanginya sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan teman tepat di hari ketiganya menjadi pegawai.

Naeun berkata jujur padanya bahwa ia hanya sedang iseng menjahili pegawai baru, dan kini mereka berteman. Jiyeon bahkan nyaris menangis ketika mengetahui bahwa rupanya ia tidak dibenci atau disudutkan oleh teman-temannya. Jiyeon bersyukur akan hal itu, meski Myungsoo tidak ada di sebelahnya, ia seperti dapat merasakan bisikan doa dari Myungsoo yang memuat segala kebaikan untuk dirinya.

Ini adalah jam istirahatnya dengan beberapa pegawai lain, dan kini Jiyeon tengah terduduk seperti biasa untuk mengistirahatkan kakinya yang nyaris satu jam penuh menopang tubuh selama menghitung uang dan menerima pesanan pelanggan.

Kini, Jiyeon mengetahui bahwa gadis bertopi yang ia temui pertama kali di ruang ganti bernama Hyuna. Menurut pandangan Jiyeon, Hyuna merupakan gadis yang nyentrik dan… seksi, Jiyeon bahkan risih berdekatan dengannya, namun di balik sirat menyebalkan itu, Hyuna adalah sosok teman yang menyenangkan seperti saat ini, gadis itu tengah terduduk di sebelahnya dengan majalah khusus wanita di tangannya.

Jiyeon lebih senang berkutat dengan ponselnya, bahkan ia sempat tertawa geli ketika membaca pesan dari Myungsoo yang mengatakan bahwa pria itu akan pulang nanti sore dan sedang dalam perjalanan menuju bandara.

Jiyeon melirik ke arah Hyuna sesekali, tanpa minat, terlebih ketika mengetahui bahwa Hyuna sedang membuka halaman yang memuat ramalan cinta. Jiyeon tidak memercayai ramalan cinta lagi semenjak menikah dengan Myungsoo, melalui janji suci yang telah diucapkan Myungsoo di altar pernikahan, Jiyeon yakin bahwa cintanya akan berlabuh di tempat yang aman selama bersama Myungsoo.

“Ya Tuhan, aku jadi ingin cepat-cepat menikah setelah membaca ini.” Hyuna memekik sembari menutup wajahnya dengan majalah, tidak ingin Jiyeon yang tengah berkutat dengan ponselnya itu melihat. Jiyeon melirik, kemudian mengangkat alisnya.

Well, semua orang pasti ingin menikah.” Jiyeon menyahut seadanya, ia masih sedikit sungkan berdekatan dengan beberapa teman di kafe. Hyuna menoleh ke arahnya, kemudian mengerucutkan bibirnya yang terpoles lipstik.

“Kau bilang kau sudah memiliki kekasih. Apakah kekasihmu itu tampan?” Hyuna tiba-tiba bertopang dagu, wajahnya mengarah padanya seperti balita yang seolah menanti sebuah cerita dongeng sebagai pengantar tidur. Jiyeon membelalak, ia tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau ia memiliki suami atau kekasih.

“Eh? Aku tidak punya kekasih.” Jiyeon membalas dengan nada ragu, menggores gurat main-main di wajah Hyuna. Gadis menor itu menuding Jiyeon dengan sendok minumannya, kemudian tersenyum jahil. “Kau berbohong, Jiyeon! Kau pasti punya kekasih. Gadis manis sepertimu tidak mungkin single.” Mendengar godaan dari Hyuna, Jiyeon menyipitkan matanya jengah ke arah Hyuna.

Jiyeon meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian meniup pelan poninya. “Serius. Untuk apa aku berbohong? Apa gunanya?” Jiyeon menendang kaki Hyuna melalui kolong meja, membuat gadis itu meringis kecil. Jiyeon tidak benar-benar peduli dengan hal itu, karena tiba-tiba Jeonghun berjalan melewati mereka dengan nampan berisi kue tiramusi berlapis krim vanila untuk ia antarkan pada pemesan. Mata Jiyeon telah melebar sempurna memancarkan binar.

Whoa, aku baru tahu ada kue tiramisu. Ya Tuhan, aku ingin belajar membuatnya.” Gadis itu bangkit dari posisi duduknya, membuat Hyuna yang masih meringis sakit lantas melongo memandangi Jiyeon yang berbinar. Gadis itu melangkah melewati meja pengunjung dan mendesak pelanggan yang tengah membuat barisan untuk memesan.

“Permisi,” desisnya perlahan agar tubuhnya dapat menyelip dan memotong barisan. Ia ingin menghampiri Minwoo, koki utama kafe Undegree dan meminta untuk diajarkan membuat kue, barang sepotong. Ya, setidaknya untuk menyambut kepulangan Myungsoo sore nanti.

.

.

“Entahlah, tapi menurutku itu terlalu pahit. Kau yakin akan menyimpannya?” Minwoo memandang Jiyeon yang tengah membungkus sepotong kue yang sangat kecil ke dalam kardus boks kue. Jiyeon mendelik ke arah Minwoo yang masih mengenakan sarung tangan dan apron putih yang telah kotor.

“Ini enak, kok.” Jiyeon menyahut singkat sebelum akhirnya melipat bagian-bagian penutup dengan jemarinya yang basah sisa mencuci tangan. Minwoo mengerutkan dahinya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah kaca bening dapur kafe untuk melihat pengunjung kafe yang telah bubar karena kafe sudah nyaris tutup.

Shift-mu sudah habis ‘kan? Sebaiknya kau segera pulang. Naeun dan Namjoo bahkan sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu.” Minwoo memberi informasi pada Jiyeon yang masih sibuk dengan kuenya. Minwoo mengembuskan napas, namun ia juga tidak dapat menyangkal bahwa Jiyeon telah menuang banyak kesan baik di matanya.

Melalui cara gadis itu meminta tolong untuk diajarkan sangat halus, ia menunggu Minwoo menyelesaikan pekerjaannya, kemudian meminta izin seolah gadis itu sedang meminta uang pada orang tuanya. Minwoo bahkan mengapresiasi bagaimana giatnya Jiyeon mengulang pembuatan kue yang berujung gagal itu dengan tekad.

Minwoo sempat mendengar bahwa gadis itu ingin memberikannya pada orang yang tengah ia rindukan. Meskipun Minwoo tidak bertanya lebih, ia cukup tahu bahwa orang itu adalah orang yang sangat penting bagi Jiyeon. Menilik dari niat gadis itu membuatkan kue yang bahkan hasilnya gagal, Minwoo yakin bahwa orang yang saat ini tengah dirindukan Jiyeon adalah sosok yang lembut dan pengertian, sehingga karakter itu juga mengalir seperti darah di dalam jiwa Jiyeon yang selalu tersenyum.

“Kau boleh duluan, Minwoo-ya. Maaf sudah mengganggumu, dan terima kasih sudah membantuku membuatkan kue ini, sungguh.” Jiyeon berbalik, menghadap ke arah Minwoo yang tengah membelakangi jendela dapur kafe. Hari telah nyaris mendekati sore, berkisar pukul tiga, namun wajah Jiyeon tampak jauh lebih cerah jika dibandingkan tadi pagi. Minwoo yakin bahwa ada sesuatu yang membuat gadis itu senang, entah apa itu.

Wajahnya dijatuhi cahaya lembut matahari jingga, memantulkan sebuah kesan manis. Minwoo mengangguk kecil, ia baru sadar jika seragam Jiyeon telah kotor terpercik air, noda mentega, krim, dan cokelat. Minwoo tersenyum kecil, kemudian melepas apronnya untuk ia letakkan di dekat pintu ruang ganti.

“Baiklah, aku pulang duluan. Jangan lupa kunci seluruh pinu dan jendela kafe ini.” Pesan pria bernama Minwoo itu sebelum membenahi rambutnya dan menepuk celana. Jiyeon mengangguk dengan senyum yang tersimpul tipis.

“Omong-omong, Seonye-sajangnim ke mana? Sejak kemarin aku tidak melihatnya.” Jiyeon bertanya ketika melihat Minwoo yang hampir membuka pintu dapur. Pria itu menoleh, kemudian mengangkat bahunya. “Seonye punya pekerjaan lain, tidak hanya mengurus kafe ini.” Selepas kalimat itu diutarakan, Minwoo benar-benar melengos pergi meninggalkannya di dapur kafe.

Jiyeon beralih memandang plastik berisi boks kardus tipis yang menyimpan sepotong kue tiramisu, kemudian ia tersenyum kecil. Setelah ini, ia akan menjemput Myungsoo di bandara. Ia melangkah mendekati plastiknya, kemudian melepas apron.

Dengan panjatan doa yang sejak tadi ia gumamkan dalam hati; semoga Myungsoo baik-baik saja.

.

.

Bandara Incheon, sore hari. Jiyeon telah menjejakkan kaki di keramik bandara. Gesekan roda koper dan derit pendek troli pengangkut barang bawaan meluncur di pendengaran Jiyeon sejak sekitar lima belas menit yang lalu hingga sekarang.

Sebenarnya Jiyeon tidak benar-benar serius memanjatkan doanya kepada Tuhan agar Myungsoo-nya baik-baik saja. Ia bukannya menginginkan hal-hal buruk terjadi pada Myungsoo, alasan dari mengapa ia tidak serius memanjatkan doanya adalah karena ia yakin, Myungsoo dapat mengurus dirinya dan berdiri tegap dengan senyum manis-tenang-tampannya—Jiyeon menyebut senyuman Myungsoo dengan kata yang berbeda seperti itu sejak menikah.

Namun, ketika ia melihat sosok Myungsoo yang turun dari pesawat dengan sosok wanita berwajah dewasa yang tengah merangkul pundak Myungsoo itu seketika membuatnya mengernyit. Bukan bentuk ekspresi marah, namun ia berangsur cemas ketika mengetahui bahwa gestur Myungsoo dalam melangkah seperti tertatih.

Jiyeon menunggu Myungsoo dan wanita itu untuk menghampirinya. Rindu yang sejak beberapa hari belakangan ini teredam di hati Jiyeon terpaksa ditekan lebih lama ketika kecemasannya justru lebih mendominasi. Jauh dari tahun-tahun kebersamaan mereka, Jiyeon baru kali ini melihat Myungsoo yang sakit.

Seperti yang pernah Jiyeon bilang dulu, Myungsoo adalah pria yang lebih berpikir ke depan sehingga ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Tetapi, realita yang berderap di hadapan matanya kini menghapus sekelumit pemikiran itu.

Wanita dengan pakaian berwarna hijau itu menghampiri Jiyeon yang masih berdiri di depan bangku tunggu. Jiyeon linglung memandang wanita yang tengah membopong Myungsoo dalam satu rangkulan kuat.

“Kau Jiyeon, bukan? Tolong aku, please.” Dan sebelum Jiyeon sempat membantah, ia sudah lebih dulu menghampiri Myungsoo yang meringis memegangi kepalanya. “Myungsoo, kau kenapa?” Jiyeon bergumam tepat di sebelah telinga pria itu ketika ia telah membantu wanita asing berwajah dewasa tadi dengan membopong suaminya.

.

.

“Itu hal biasa. Myungsoo Oppa bilang, Oppa pernah mengalaminya saat masih kecil. Tubuh Oppa tidak sukar menerima mabuk pasca-terbang.” Jiyeon mengamati Sooji—wanita yang membantunya membawa Myungsoo hingga ke rumahnya—itu dengan mata mengedip beberapa kali.

Kini mereka sudah tiba di rumah, dan Jiyeon mempersilakan wanita ramah bernama Sooji itu untuk masuk. Mengingat bagaimana besar Sooji membantunya, dan wanita itu sudah sangat berjasa. Jiyeon mengerutkan dahinya, melempar pandangan pada sosok Myungsoo yang tengah berbaring di atas ranjuang dengan mata terpejam.

“Mabuk? Apakah dia muntah-muntah di pesawat?” tanya Jiyeon dengan kening mengerut. Ia mengembalikan pandangannya ke arah Sooji. Kemudian, ia menemuka Sooji tengah tertawa kecil menutup mulutnya.

“Bukan itu maksudku. Myungsoo Oppa mengalami jet lag.”

Jet lag?” Jiyeon menggumam ketika menemukan kata-kata yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Sooji diam-diam merasa ingin tertawa mengingat Jiyeon yang lebih muda darinya itu tampak polos, tetapi tidak juga ketika gadis itu tengah mengobrol dan bercanda dengan Myungsoo.

“Ketika bepergian melintasi beberapa zona waktu, jam tubuh mulai tidak mengalami sinkronisasi dengan waktu kota tujuan, karena tubuh mengalami terang dan gelap yang berbeda dengan ritme yang ditetapkan secara alamiah.” Sooji mengingat separuh mata ajar kedokteran yang pernah ia ambil sekitar dua tahun yang lalu untuk menjelaskannya pada Jiyeon. Jiyeon mengangguk sok paham dengan bibir mengerucut karena sejujurnya ia tidak paham.

“Apa… Myungsoo harus dibawa ke rumah sakit?” Jiyeon bertanya perlahan, memandang Sooji yang beberapa sentimeter lebih pendek darinya melalui ekor mata, kemudian kembali mengalihkan pandangan pada Myungsoo yang tertidur dengan keringat yang membasahi wajahnya.

“Tidak perlu. Oppa adalah pria yang kuat. Lagi pula, jet lag itu gejalanya hanya pusing dan kelelahan, tidak lebih.” Mendengar penuturan itu, Jiyeon dapat merasakan hatinya sedikit dibasuh ketenangan. Sooji tersenyum menepuk bahu Jiyeon. “Aku pamit ya, sudah hampir malam.” Sooji mengundurkan diri ketika melihat langit kota mereka telah ditudung kegelapan.

Jiyeon menoleh, kemudian mengangguk sebelum akhirnya menemani gadis itu menuju gerbang rumahnya. “Terima kasih sudah memedulikan kami. Aku sangat berterima kasih.” Jiyeon menganggukkan kepalanya ke arah Sooji, disambut senyum dewasa wanita itu, “Tidak apa, bukan masalah.”

.

.

Jiyeon kembali menghampiri kamarnya yang masih dimuat oleh sosok Myungsoo yang tertidur di atas ranjang. Pria itu berbaring miring sembari memeluk guling, menyembunyikan wajahnya di balik permukaan guling tersebut. Jiyeon melangkah mendekat, kemudian duduk di sisi ranjang, tepat di hadapan Myungsoo.

Perlahan-lahan, Jiyeon menyingkirkan guling yang menutup wajah suaminya yang ia rindukan agar pernapasannya tidak terhambat oleh serat kain guling. Didapatinya wajah Myungsoo yang kelelahan dan basah karena berkeringat. Jiyeon menyingkirkan poni panjang Myungsoo, menyapu keringatnya.

Ia berada di lingkup ketertegunan ketika mendengar erangan kecil dari Myungsoo. Menalar bahwa sebenarnya Jiyeon telah merindukan suara pria itu, namun sedari tadi Myungsoo hanya mengeluarkan ringisan samar, Jiyeon tidak pernah mengira apakah Myungsoo bisa menjadi sakit seperti ini atau tidak. Yang ia ketahui, Myungsoo adalah sosok yang kuat.

Masih dengan kaki yang terlipat menjadi duduk sila, Jiyeon memiringkan tubuh hingga kepalanya nyaris menyentuh bantal di samping Myungsoo. Ia mengamati wajah Myungsoo yang pucat, kemudian mendesah pelan.

Sembari menjauhkan wajahnya, Jiyeon menggaruk ujung alis—bingung hendak melakukan apa, sementara ia ingin Myungsoo sehat. Sebelum ia sempat bangkit dari ranjang, kepalanya telah lebih dulu memutar kalimat yang ia utarakan di dalam hati.

Relung dadanya menggores kesadaran bahwa hal yang ia inginkan harus dicapai dengan usaha. Bahkan, itu adalah nasihat yang diberikan Myungsoo. Jiyeon menoleh ke belakang—ke wajah Myungsoo yang pucat.

Jiyeon mengerjap beberapa kali, memikirkan usaha apa yang harus ia jalani agar keinginannya untuk melihat Myungsoo sehat segera tertinjau. Jiyeon mengusap keningnya, lelah sendiri setelah berpikir dan malah menemukan tebing yang membuntukan pikirannya.

Gadis itu bangkit dan memutuskan untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya, ia terbiasa mandi malam hari sebelum tidur. Setelah mengenakan pakaian kasualnya, Jiyeon kembali menghampiri Myungsoo yang masih tertidur memeluk guling tanpa selimut.

“Myungsoo?” Jiyeon mengguncang tubuh Myungsoo agar pria itu terjaga. Suaminya mengerutkan dahi, masih dengan jendela mata yang terkatup. Telapak tangan Myungsoo terangkat untuk mengusap matanya sesaat, kemudian ia membuka mata. Jiyeon tersenyum samar, sebenarnya ia ingin langsung memeluk Myungsoo, namun melihat wajah pucat suaminya, ia jadi urung.

“Duduk dulu.” Jiyeon mengulurkan jemarinya ke arah Myungsoo yang segera disambut oleh pria itu. Setelah Myungsoo terduduk dan mengusap dahinya, Jiyeon beralih menuju meja besar di kamarnya dan mengambil air mineral. Ia kembali menghampiri Myungsoo.

“Minum yang banyak.” Jiyeon menyerahkan minumnya pada Myungsoo. Myungsoo mendongak, matanya merah. Ia memandang Jiyeon lama, disertai kerutan samar pada dahinya. Pria itu menggeleng. “Aku tidak haus,” lirihnya dengan suara serak. Ketika ia tidak bersuara sejak tadi, kalimat itulah yang didengar Jiyeon pertama kali setelah sekitar tiga hari ia tidak mendengarnya langsung—hanya melalui sambungan telepon.

Jiyeon terduduk ketika mendapati Myungsoo-nya terbatuk karena tenggorokannya terasa sakit. Gadis itu mengusap punggung Myungsoo, menenangkannya agar batuknya reda. Jiyeon terlihat seribu kali lebih dewasa ketika mengurus Myungsoo yang sakit, pada dasarnya, ini adalah kali pertama Jiyeon mengurus Myungsoo yang sakit.

“Batuk ‘kan? Tenggorokanmu sakit? Ayo, minum dulu, sedikit saja.” Jiyeon menaruh sedotan ke dalam botol air mineral untuk memudahkan Myungsoo minum. Pria itu mengembuskan napasnya yang panas sebelum akhirnya meneguk air putih yang terasa seperti membasuh kekeringan tenggorokannya, namun pahit.

Sekitar tiga tegukan tertelan, Myungsoo menjauhkan sedotan dari bibirnya, kemudian menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Matanya terpejam karena pening mendera kepalanya. Jiyeon meletakkan botolnya di atas nakas, kemudian beringsut mendekati Myungsoo.

“Masih sakit?” Jiyeon bertanya menyibak poni Myungsoo, dan mengusap keringatnya. Myungsoo mendengung kecil. “Aku mual.” Balasnya, membuat Jiyeon mengangguk. Gadis itu menumpukan lengannya di permukaan kasur agar tubuhnya lebih condong ke arah Myungsoo.

“Myung, kau mau permen?” sebenarnya Jiyeon nyaris pupus harapan dengan pertanyaan konyolnya itu, namun ia ingat ketika sedang sakit, lidahnya terasa pahit. Boleh jadi dengan permen, lidah Myungsoo tidak akan terasa pahit lagi.

Myungsoo menggeleng dengan embusan napas hangat. Jiyeon lantas benar-benar gagal paham harus melakukan apa agar Myungsoo-nya lekas sembuh.

.

.

Jiyeon melepas sepatunya, dan meletakkannya di rak sepatu. Ia baru saja keluar untuk mencari makanan yang bisa disantap untuk dirinya dan Myungsoo, tangan kanannya menggenggam plastik berisi japchae yang ia beli di rumah makan.

Ia melepas mantel tebalnya dan menggantungnya di dekat pintu. Kemudian langkahnya menelisik keheningan dapur. Gadis itu membuka plastik makanannya dan meraih mangkuk yang disimpannya di dalam rak. Sekitar sepuluh menit Jiyeon berkutat di dalam dapur, gadis itu akhirnya dapat menyajikan makanannya di atas mangkuk.

Ia memandang sejenak ke arah mangkuk berisi mi tepung ubi tersebut. Ia tidak yakin apakah boleh memberikan orang sakit dengan makanan luar. Jiyeon menggaruk hidungnya, memandang langit-langit dapur setelah menyibak poninya. Ia berpikir bahwa biasanya, Myungsoo yang memasak makan malam untuk mereka, dasarnya, Jiyeon selalu kaku ketika berhadapan dengan alat dapur. Baru tadi siang ia benar-benar memasak untuk membuat kue tiramisu bersama Minwoo. Kini, kue itu telah ia simpan di dalam kulkas, ia tidak ingin memberikannya pada Myungsoo yang dalam keadaan sakit.

Lalu bagaimana? Makanan luar itu belum tentu baik.” Hatinya berbisik. Sementara logikanya mengurai bahwa yang penting perut Myungsoo harus terisi makanan agar energinya naik. Jiyeon mendadak terlihat lima kali lebih dewasa dengan pemikirannya yang mempertimbangkan makanan untuk Myungsoo, karena biasanya Myungsoo-lah yang melakukan itu padanya.

Jiyeon meraih ponsel yang ia letakkan di konter dapur, kemudian tanpa banyak berpikir segera menelepon Ibunya. Ia harus meminta pendapat dari Ibunya, namun ketika itu ia ingat bahwa Ibunya pasti sudah tidur pada pukul sekarang. Maka dengan itu, Jiyeon beralih menelepon Ayah Myungsoo.

“Ayah—oh, tidak, aku memang belum tidur. Maaf menggangu Ayah, aku ingin bertanya… Apa? Oh, Myungsoo baru pulang tadi sore, dan sekarang ia mengalami mabuk pasca-terbang… hm, maka dari itu aku ingin bertanya—”

Jiyeon memberi jeda beberapa saat ketika di seberang telepon Ayah Myungsoo masih berbicara. Jiyeon mendengarkan dengan seksama. “Benarkah? Jadi, Myungsoo sering mengalaminya? Ah, aku mengerti. Kalau aku memberi Myungsoo makan malam dengan japchae dari luar, eh… maksudku aku membelinya, apakah boleh?” Jiyeon beralih membawa mangkuk dan obat mual di atas nampan ke arah ruang tengah.

Ia mengapit ponselnya di antara pipi dan bahu. “Ah, baiklah-baiklah. Aku tidak akan memberikan yang pedas. Terima kasih, Ayah… Apa? Oh tidak, aku juga merindukan Ayah.” Jiyeon terkikik sendiri ketika mendengar Ayah Myungsoo menuturkan kalimat rindu melalui ponsel. Gadis itu menaiki anak tangga perlahan-lahan.

“Baiklah, selamat malam, Ayah.” Jiyeon memutus sambungan teleponnya, setelah meletakkan terlebih dahulu nampannya di depan pintu kamar, tangannya menyimpan ponsel ke dalam saku celananya. Ia tersenyum lebar setelah mengobrol dengan Ayah Myungsoo, itu selalu sukses membuatnya teringat akan Ayah kandungnya yang telah meninggal. Sama seperti Myungsoo yang selalu merindukan Ibunya ketika sedang bertemu dengan Ibu Jiyeon.

Jiyeon mengangkut kembali nampannya, dan kemudian membuka pintu kamar. Ia mendapati Myungsoo yang telah berkutat dengan ponselnya, namun tubuhnya masih berbaring. Ketika mendengar derit pintu, pria itu menoleh lambat. Jiyeon tersenyum samar, kemudian menutup pintu.

“Myungsoo? Kau belum makan malam, bukan?” Jiyeon meletakkan nampannya di atas nakas, kemudian menyerahkan mangkuknya pada Myungsoo. Myungsoo beralih duduk. “Kau membelinya?” Myungsoo menerima mangkuk dari tangan Jiyeon, kemudian bertanya.

Jiyeon mengangguk menyetujui terkaan Myungsoo. Myungsoo mengerutkan dahi. “Ya Tuhan, aku sudah baik-baik saja, sungguh.” Setelah beristirahat selama lebih dari dua jam, Myungsoo dapat merasakan kondisi tubuhnya membaik. Jiyeon menggeleng, memaksa Myungsoo untuk tetap makan.

“Makan! Atau kau ingin kudulang?” Jiyeon mengancam dengan jari teracung, mimiknya tampak menggemaskan. Myungsoo bahkan tertawa kecil, membuat Jiyeon mengerjap karena akhirnya ia mendengarkan alunan tawa Myungsoo semenjak pria itu menjejak pulang ke negara mereka.

“Baiklah. Terima kasih, Sayang.” Ujarnya sebelum menggulung lengan kausnya yang panjang. Jiyeon lantas baru sadar bahwa Myungsoo telah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya. Gadis itu mengerjap kecil ketika melihat Myungsoo yang makan perlahan.

“Kau sudah mengganti pakaian sejak kapan?” mendengar pertanyaan Jiyeon, Myungsoo menurunkan sendoknya dari mulut. “Sejak kau pergi keluar kamar. Aku pikir kau ingin ke ruang tengah untuk menonton, ternyata kau membeli makanan.” Jiyeon tidak benar-benar memahami ucapan Myungsoo, karena telinganya lebih sibuk menampung suara berat Myungsoo yang semakin serak karena ia masih sakit. Betapa ia merindukan suara itu.

“Jiyi? Jiyeon-ah?” sosok itu memanggil namanya, dan lantas membuat gadis itu terbangun dari lamunannya. Ia tersentak dan menoleh ke arah Myungsoo yang memandangnya cemas. Dai jarak yang dekat, Jiyeon masih mengira adanya lingkar hitam di kantung mata Myungsoo, bibirnya pucat, begitupun dengan wajahnya. Namun, pipi gemuk Myungsoo yang menggemaskan membuat gadis itu tetap tersenyum.

“Kau kenapa? Barusan bengong, sekarang senyum-senyum?” Myungsoo bertanya usil, kemudian kembali menyudip nasi untuk disantapnya. Jiyeon menggeleng, kemudian beralih memijat kaki Myungsoo yang diluruskan di atas ranjang. “Tidak apa. Cepat sembuh, oke?” Jiyeon mengulurkan kalimatnya dengan senyum, sementara itu, Myungsoo tertawa kecil.

.

.

Setelah mencuci piring dan merapikan kamar seadanya, Jiyeon menghampiri Myungsoo yang kini tengah menonton televisi di ruang tengah. Myungsoo memintanya karena ia bosan harus mendekam di kamar tanpa melakukan apapun selain bermain ponsel. Pada nyatanya, pria itu tetap berkutat dengan ponselnya meski suara televisi lebih mendominasi pendengarannya.

Jiyeon mengambil tempat untuk duduk di sebelah Myungsoo, terlalu dekat hingga ia nyaris bersandar sepenuhnya pada bahu Myungsoo. Pria itu hanya menoleh sebentar, kemudian kembali sibuk dengan game bertitel falppy bird-nya.

Jiyeon melirik sesaat dan mendapati Myungsoo telah meraih skor lebih dari seratus. Gadis itu membuang napasnya, ia mengingat semenjak dunia memperkenalkan game tersebut, Jiyeon bahkan tidak sanggup mencapai skor dua puluh, butuh kesabaran penuh untuk mencapainya. Dan, Jiyeon cukup tahu bahwa Myungsoo adalah pria yang lebih dari sekadar sabar, tetapi juga bekerja keras.

“Myungsoo,” Jiyeon memanggil Myungsoo di antar berisik penonton dalam acara televisi. Myungsoo menggumam, tidak ingin fokus bermain game-nya terbelah. Jiyeon yang bersandar di bahu Myungsoo kemudian ikut menontoni permainan Myungsoo, ia berkali-kali dibuat kagum oleh Myungsoo yang begitu pandai bermain game.

“Kau sungguh sudah sehat?” Jiyeon bertanya, membuat burung dalam layar ponsel Myungsoo terantuk dinding, Myungsoo benar-benar kehilangan fokusnya dan meninggalkan skor sebanyak seratus sembilan puluh dua di sana. Myungsoo mengeluh, kemudian menoleh ke arah Jiyeon yang bersandar di bahunya.

“Kau membuatnya mati.” Myungsoo menunjuk layar ponselnya dengan wajah cemberut, Jiyeon tersenyum mengacungkan ibu jari, jari telunjuk dan kelingking, itu caranya meminta kedamaian, bukan bentuk peace, karena bagi mereka itu adalah pose untuk berfoto.

“Berapa kali aku bilang, aku baik-baik saja. Aku sudah sehat.” Myungsoo mengesampingkan tubuhnya agar berhadapan dengan Jiyeon. Jiyeon mengerutkan dahinya dengan pipi yang menggembung. “Aku serius, tidak apa.” Myungsoo memastikan, jemarinya terulur itu menyelipkan helaian rambut Jiyeon ke belakang telinga gadis itu.

“Apa besok kau harus masuk kerja?” pertanyaan Jiyeon dibalas anggukan oleh Myungsoo, pria itu tersenyum kecil, turut menampilkan lesung yang dirindukan Jiyeon. Gadis itu seketika merengut, padahal ia masih merindukan Myungsoo dan ingin mengobrol lebih lama dengan pria itu.

“Kau kan masih sakit.” Jiyeon mengorek alasan tidak masuk akal, membuat Myungsoo tertawa keras. Ia meletakkan ponselnya di atas sofa, kemudian merentangkan tangannya. “Kau ingin dipeluk ya? Here, I give you my hug.” Jiyeon tersenyum singkat sebelum masuk ke dalam pelukan Myungsoo. Ia merindukan Myungsoo. Bahkan, Myungsoo sudah dapat menebak bahwa Jiyeon sejak tadi hanya menahan kerinduan dan berusaha membuat Myungsoo-nya sembuh, ia cukup memahami bahwa Jiyeon sedang ingin bermanja setelah tiga hari tidak bertemu.

“Kau tahu, aku kaget sekali saat melihatmu sakit tadi.” Suara Jiyeon teredam karena terhalang bahu Myungsoo. Myungsoo mendengarkan istrinya berbicara dan membiarkan jemarinya mengusap rambut karamel Jiyeon yang kian memanjang hingga sepunggung. “Aku pikir… aku akan melihatmu tersenyum menyambutku, tetapi yang ada justru kau meringis berkali-kali hingga membuatku—” Jiyeon menghentikan kalimatnya, dadanya hanya terasa sesak, ia tidak ingin menangis karena Myungsoo kini sudah mendekapnya.

“Aku paham, Jiyeon. Aku tahu perasaanmu. Sudah, sudah. Tidak perlu menangis.” Jiyeon berkata usil ketika Jiyeon tak kunjung menyambung ucapannya. Jiyeon mengerucutkan bibirnya, kemudian memukul punggung Myungsoo. “Aku tidak menangis.” Jiyeon berdalih, kemudian melepas pelukannya untuk memandang mata Myungsoo.

“Maaf sudah membuatmu cemas.” Myungsoo mengatakannya dengan mata yang memandang lurus ke arah manik lain, milik Jiyeon. Gadis itu tertegun beberapa jenak memandang manik bening Myungsoo yang telah lama tidak ia lihat, tawa meriah dari televisi yang sejak tadi dalam keadaan hidup itu hanya menghias pendengaran keduanya—samar-samar, karena Myungsoo lebih mendengar detak jantung Jiyeon. Sementara maniknya merekam penuh wajah merona Jiyeon.

Gadis itu mengerjap ketika merasa bahwa keheningan telah menggerogot kondisi keduanya. Jiyeon beralih menepuk pipi Myungsoo. “Siapa yang mencemaskanmu? Hiii~ percaya diri sekali.” Jiyeon mengabaikan detak jantungnya yang masih memburu karena termakan rasa rindu pada Myungsoo. Myungsoo melebarkan kelopaknya karena ini pertama kalinya Jiyeon mengusilinya dengan kalimat.

Pria itu tersenyum kecil, “Oh, jadi kau sudah tidak peduli denganku? Tidak sayang padaku lagi?” Myungsoo mengerucutkan bibirnya seperti tengah marah, namun yang didapati Jiyeon hanyalah rasa gemas. Gadis itu menggeleng. “Aku sayaaaaaaang~” Jiyeon memeluk Myungsoo lagi, sekarang ia terlihat seperti remaja labil.

Sementara itu, Myungsoo melepas pelukan Jiyeon. “Cium dulu sini.” Myungsoo mengarahkan pipinya pada Jiyeon. Gadis itu membelalak, namun ketika melihat Myungsoo yang terkekeh, Jiyeon tersadar dan menyapukan bibirnya di atas pipi Myungsoo sebagai bentuk kecupan singkat. “Sudah, Myungsoo. Ugh, aku kangen.” Kembali, Jiyeon melingkarkan lengannya di leher Myungsoo. Kali ini Myungsoo tersenyum lebar dan membalas pelukan Jiyeon, kerinduannya juga meruah seperti hendak meluap dari bendungan.

“Aku lebih dari kangen, Jiyi.”

Hening lagi, dan Jiyeon telah nyaris tertidur di dalam pelukan Myungsoo ketika televisi yang masih menyala itu menampilkan gambar promosi mengenai kue tiramisu. Gadis itu berjengit dan melepas pelukannya dengan Myungsoo. Myungsoo yang tengah bermain ponsel seraya mengungkung punggung Jiyeon kemudian tersentak penuh kejut.

“Ada apa?”

“Tadi siang aku membuat kue untukmu. Ingin mencobanya?” Jiyeon berseru antusias, bahkan ia nyaris melompat di atas sofa. Kendati Myungsoo kebingungan dan menalar adanya perputara pertanyaan yang ada di kepalanya mengenai; sejak kapan Jiyeon bisa memasak, pria itu tetap mengangguk. Mengenai fakta bahwa Jiyeon bersedia membuatkannya makanan saja sudah membuat Myungsoo bangga, karena biasanya ialah yang memasak.

Gadis itu melompat dari sofa dan berlari kecil ke arah dapur, namun sebelum gadis itu sampai di pintu dapur. Ia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Myungsoo dengan air wajah takut. “Kenapa, Jiyeon?” Myungsoo yang baru saja akan mematikan televisi kemudian bertanya.

“Itu… mungkin rasa kuenya agak aneh, tapi aku membuatnya sendiri untuk—”

“—serius, Jiyeon-ah. Untuk apa aku peduli dengan rasanya? Kau sudah membuatkanku kue, sampai di sana saja aku sudah senang, oke?” Myungsoo menyergah kalimat Jiyeon sebelum gadis itu memulai kebiasaannya yang senang merendahkan diri sendiri. Pria itu bangkit setelah mematikan televisi untuk menghampiri Jiyeon.

Ia menilik wajah ragu Jiyeon, dan itu membuat Myungsoo gemas karena ia menelengkan kepalanya. “Tidak apa, sungguh.” Myungsoo mengecup ubun-ubun Jiyeon, membuat gadis itu tersadar dan mendongak. Myungsoo tengah tersenyum lebar ke arahnya. “Ayo, tunjukkan aku di mana kue itu?”

“Terima kasih, Myung.” Jiyeon menggumam selagi Myungsoo menariknya ke arah dapur, memaksa untuk segera menemukan kue buatan Jiyeon. Myungsoo menoleh dengan alis terangkat tinggi ketika mendengar ucapan syukur Jiyeon. Samar, pria itu tertawa kecil.

“Apapun untukmu. Kau istriku, ingat?”

Malam itu, keduanya mengikis waktu gelap dengan mencicipi kue pahit buatan Jiyeon. Sementara Jiyeon berulang kali meminta maaf, Myungsoo justru berusaha menelan potongan kue tersebut dengan senyum dan mengtakan bahwa ia tidak apa-apa.

.

.

おまけ

Suaraku yang parau seperti rintihan doa-doa pemegang pedang setelah peperangan
tertaklukkan. Aku tahu, sejauh mana kau menginginkan aku untuk tampak sempurna di matamu adalah belati kegagalan. Kau satu-satunya gadis yang tahu kekuranganku, dan apapun itu alasannya—kau tetap mencintaiku seperti aku yang tak pernah bosan membisikkan kalimat rindu padamu, Jiyeon.

Dan, kendati ribuan kilometer menjaraki kita dalam kurun waktu tiga hari, secara bertahap, kau mengalih kian manis. Aku tahu dari sudut pandang manapun, kau berusaha menahan rindu di antara kegigihanmu.

Terima kasih telah hadir ke dalam hidupku untuk mengizinkanku mencintai dan dicintai olehmu, Jiyeon. Bolehkah setiap hari kita seperti ini?

“…You know you truly love someone when everyday you meet is like the first time you fall in love…”

.

.

//finite.//

.

.

38 responses to “Tension [12]: Willingness #2/END

  1. woahh jiyeon udah berubah gk trlalu cengeng lg .. dan akhirnya ada jg yg nerima jiyeon utk berteman ..
    yeahh myungyeon always so sweet .. iri bgt sumpah mereka saling menutupi kekurangan kerenn bgt thor

  2. Ini masih adakah lanjutan nya ???!
    ehm maksud aq mau di lanjut lagy apa gg gtu , hehehehe
    ini seru bangettt !!!!!!!
    aq kira myung bakal selingkuh ternyata gg ya , uda buruk sangka aja gw , hehehe ^^v
    jiyi udda lebih dewasa ya , bagusss kl gtu (y)

  3. omo so sweet bener. perubahan jiyeon bagus banget. udah mulai dewasa. hihi
    untungnya temen2 kerjanya cuma ngerjain, takutnya serius, hehe. myungyeon so sweet!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s