Clash (Chapter 1)

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Support Cast :

  • Krystal Jung
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

Come to me now, talk to me

We don’t have a tomorrow

 

Tergesa gesa ia memasuki gedung sekolah barunya. Tas kain berwarna abu-abu dengan penampilan dirinya yang memakai kemeja putih polos dipadukan rok biru. Ditambah kaos kakinya yang over tinggi. Belum lagi rambut ikalnya yang diikat menjadi tiga.

Sosoknya sudah lolos jika ia dimasukkan rumah sakit jiwa. Well, balik ke keadaan awal.

Gadis itu masih tergopoh melewati koridor sekolahnya. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Sesekali para pria bergerombol di satu tempat –yang akan menjadi calon sunbae-nya itu- menggodanya dengan sedikit sipuan ringan.

Namun ia terlalu sibuk bergulat dalam pikirannya. Apa yang akan terjadi padanya nanti.

Senyumnya merekah lebar begitu ia mendapati beberapa seniornya yang memakai jas berbeda. Ia mempercepat langkah mungilnya. Berbelok ke arah lorong mendekati senior yang menurut argumennya akan mengampu dirinya nanti.

“Ini bukan Kelas Science?”

Begitulah pertanyaan polos dari seorang Jiyeon.

“Chogi, aku sedang berbicara denganmu,” ulang Jiyeon karena senior di hadapannya hanya memelotot pedas.

“Dasar junior tidak tahu tata krama! Apa kau tidak punya mata?! Coba lihat! Ini khusus Kelas Social!”

Jiyeon terperanjat menatap nanar senior pria berahang keras di hadapannya. Ia tidak berpikir panjang sebelum menanyakan sesuatu karena terlalu senang merasa berhasil menemukan tujuannya.

Gadis mungil itu membungkukkan badan tanda minta maaf seraya berbalik mencoba menghiraukan tatapan tajam yang masih dilemparkan oleh senior itu.

Kedua kakinya masih meneruskan langkah. Lebih mendalami gedung sekolah yang cukup besar itu. Namun kali ini diiringi gerutuan memaki kebodohan dirinya di hari pertama.

“Hey, gadis muda!”

Lagi, Jiyeon menahan nafas menghentikan langkahnya. Meski sudah terlihat tua, pria itu memiliki perawakan tubuh tegap, ia menghampiri Jiyeon dengan dagu yang terangkat.

“Siswi baru sudah berani terlambat. Mau dikembalikkan pada orang tuamu!” remehnya.

Gumapseumnida,” lirih Jiyeon menundukan kepala.

“Ya sudah! Segera ke aula!”

“Ngng, maaf sem, di mana aula untuk Kelas Science?” tanya Jiyeon hati-hati.

“Lurus saja, nanti sampai.”

Gamsahamnida,” ucap Jiyeon membungkukan badan pada gurunya.

Pipi marunnya semakin membulat saat mendapati beberapa anak berseragam sama dengannya. Dengan langkah mantap, ia memasuki aula, menyempil di antara barisan kelasnya.

“Jiyi!” pekik seseorang tertahan. “Kau gila! Mengapa baru datang?!”

Dari suara khas yang seperti itu, Jiyeon bisa menebak yang berdiri di belakangnya adalah Suzy, teman satu SMP dan kini satu kelas dengannya di bangku SMA.

Jiyeon menyahutnya dengan bisikan untuk menutup mulut temannya. Menyadari senior mendekatinya, ia menegapkan tubuh dan memandang lurus ke depan.

Senior itu berhenti tepat di hadapan Jiyeon. Kedua matanya memandangi dari atas kepala hingga ujung kaki. Kedua tangannya ia silang di depan dada. Bibir merahnya menyeringai.

“Kau! Ikuti aku!”

.

.

Wajahnya memerah menahan amarah. Mulutnya memberengut dengan pipinya yang menggembung. Berkali-kali orang yang melewatinya memberinya tawa meledek. Jiyeon mendesis pelan.

Kemeja putihnya kini tertutupi dua plakat. Yang satu menggantung di depan, satunya di belakang. Sedangkan poninya dikuncir ke atas. Kini Jiyeon benar-benar seperti orang gila.

Sementara yang lainnya masih diampu di barisan. Jiyeon tengah mengitari lapangan dengan selembar kertas dan pena di tangannya. Ia membaca lima nama yang tertera di kertas itu. Hukumannya sangat konyol, ia diminta mencari tanda tangan lima senior pria yang jelas tidak Jiyeon kenal.

“Apa di sini ada yang bernama Kai?” tanyanya setelah mendekati mimbar, di mana ada gerombolan senior pria.

“Kai siapa?” ujar senior dengan bingkai kacamata itu malah balik bertanya.

Jiyeon kembali membaca. Namun yang tertulis hanyalah satu kata, Kai.

“Hey, kau ini!” senggol temannya.

“Mengapa kau tidak di aula?” senior lain melemparkan pertanyaan berbeda.

Mulut Jiyeon terkatup rapat. Kedua alisnya bertautan memandangi tiga senior di hadapannya. Sesekali senior itu meledeknya dengan candaan. Kini ia menjadi bahan permainan.

“Kau berjalan saja menyusuri koridor ini. Nanti Kai ada di dalam Kelas XII Science 1.”

Sambil mendengarkan penjelasan senior berkacamata itu, Jiyeon melongokkan kepala. Ia mendapati koridor itu memiliki posisi yang terpencil.

“Maksud sunbae, ruangan yang paling pojok itu?” tanya Jiyeon.

“Eo.”

Mulut Jiyeon komat kamit enggan menuju koridor itu. Ketika ia hendak mengambil langkah, senior yang terlihat bersimpati padanya berkata, “Ya, tunggu dulu.”

Nde?”

“Siapa yang memberimu hukuman seperti ini?” Oke. Tampang senior ini patut diberi nilai A, dengan alis tebal, hidung bangir, dan bibir tipisnya. Ki Kibum, itulah yang tertera di name tag-nya.

“Jessica eonni.”

Babo-ya, mau sekali kau dikerjai oleh boneka dingin itu.”

Nde?”

Senior berkacamata melirik pedas seakan tak terima jika Jessica diledek seperti itu. Akh, Jiyeon bisa membaca namanya, Lee Donghae.

Kemudian mereka bergelut sendiri melanjutkan obrolan mereka yang sempat terputus karena kedatangan Jiyeon. Kini dia seperti barang yang terlupakan. Ia hanya mengangkat bahu sembari melangkahkan kaki.

.

.

Sudah Jiyeon duga, ia dikerjai oleh senior-senior tadi. Buktinya ia tak mendapatkan apapun setelah mencapai ruangan paling pojok dan terlihat paling tidak terawat. Jiyeon membanting keras pintu Kelas XII Science 1.

Wajahnya besengut tak karuan. Tangannya melepas kasar ikat rambut poninya. Jemarinya menyisiri agar tertata rapi.

Baru beberapa langkah berjalan, sesosok pria tiba-tiba loncat di hadapannya membuat Jiyeon menahan nafas beberapa detik dan berteriak kencang.

“AAAAAAAAAAAA!!!”

—o0o—

Jiyeon’s PoV

 

“Sooji-ya!”

Seseorang yang kuteriaki telinganya itu melonjak dari tempat duduknya. Membuat bolpoin yang ia pegang terlempar.

“Jiyi!” teriaknya balik justru membuatku mengembangkan senyuman.

Gadis berambut hitam kelam itu memanyunkan bibirnya sambil meraih bolpoinnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Kau sedang apa?” tanyaku duduk di sebelahnya.

“Mengerjakan tugas fisika.”

“Fisika? Memangnya ada tugas?”

Suzy menghela nafas. Ia terpaksa menghentikan tulis menulisnya dan menoleh ke arahku.

“Sangat banyak,” sahutnya enteng.

“Heoh? Eottokhe? Aku lupa, aku belum mengerjakannya satupun,” gerutuku memajukan bibir.

“Itulah dirimu, pelupa,” timpal Suzy. Gadis itu telaten mengerjakan tiap soal. Tulisannya begitu apik. Tidak diduga Suzy kembali melanjutkan kalimatnya, “—pelupa, ceroboh, dan tergesa gesa. Ah iya! Kau bahkan meneriaki senior yang baru saja kau temui.”

YA!”

Mwo? Apa yang kukatakan benar,” ujar Suzy menaikan dagunya.

“Bukan meneriaki senior tetapi tidak sengaja meneriakinya,” ralat Jiyeon.

“Tidak ada bedanya.”

Aku mendengus pelan berdebat dengan Suzy.

“Kau beruntung, senior yang kau teriaki itu Kai oppa.”

Sebenarnya aku tidak suka mendengar kata ‘teriaki’ itu. Karena nyatanya, Kai yang muncul tiba-tiba. Lalu meminta maaf dengan wajah tanpa dosa.

“Beruntung apanya,” aku yakin Suzy mengabaikan perkataanya.

“Jiyi!” suara cempreng menarik perhatianku dan juga Suzy. “Ayo ke foodcourt!”

“Baiklah,” sahutku tak kuat memandang wajah seperti boneka porselen di hadapanku.

“Sooji, kau tidak ikut?” tawar gadis bernama Krystal itu.

“Ngng, aku belum selesai, tetapi—“ Suzy memandangi pekerjaannya sambil menimang-nimang –Oh ayolah Bae Suzy- “—oke, aku ikut!”

.

.

Riuh ramai mendominasi foodcourt. Lima kios berjajar satu barisan menyediakan aneka makanan. Setiap kios berlomba memberikan wangi khas untuk menarik selera para siswa. Istirahat pertama selalu penuh sesak. Tersisa sedikit bangku.

Krystal menggebu untuk menyambar bangku kosong yang terletak di sudut foodcourt. Suzy lebih memilih untuk memesan makan dahulu. Sementara aku tak minat mengekor di belakang Krystal. Jujur saja, aku bosan dengan tempat itu.

“Kau tunggu di sini. Aku memesan dulu,” ujar Krystal meninggalkanku bersama dua bangku kosong lainnya.

Aku menghempaskan tubuhku. Kurasakan getar di saku jas hitamku. Tanganku merogoh saku itu dan meraih ponsel berwarna hijau tosca.

‘Tumben di kantin.’

 

Pesan singkat itu membulatkan kedua mataku. Dengan cepat jemariku mengetik beberapa kata dan menekan tombol send.

Kau di mana?

 

Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan pesan singkat dari pria itu. Terkadang aku menjadi ingat dengan perkataan Taehyung. Kepalaku kegelengkan pelan untuk mengusir suara Taehyung. Tidak sampai tiga menit, nada singkat berbunyi. Aku menggeser kunci layar ponsel.

‘Berada di dekatmu.’

 

Sontak aku mengangkat kepala. Celingak-celinguk pelan. Bukannya menemukan pria itu, tetapi wajah Krystal yang memamerkan sederetan gigi rapinya menghalangi pandanganku.

“Jiyi!” gemasnya memiringkan kepala. Di kedua tangan gadis itu membawa nampan berisikan banyak makanan. Gadis ini rakus untuk makanan. Lantas ia mendudukan diri.

“Kau mencari siapa?” tanyanya.

“Tidak ada.”

Baru saja Krystal membuka mulutnya ingin bertanya lagi, Suzy sudah datang dengan dua botol minuman susu UHT. Ia menyodorkan susu rasa cokelat padaku.

“Kau mencari pria itu?” ternyata Krystal tidak menyerah dengan sesi tanya jawabnya.

Mulutku terkatup rapat tak berniat menjawab.

Nugu?” Suzy menyeruput susu vanilla-nya. “Kim Myungsoo?”

Well, aku sudah menceritakan tentang aku yang sering dihubungi oleh Myungsoo kepada Krystal dan Suzy. Aku tidak bisa mengiyakan pertanyaan Suzy yang to the point.

“Aku ke toilet dulu. Jakkaman,” aku segera beranjak berdiri.

Sungguh ini bukanlah alasan untuk menghindari tatapan intograsi mereka. Aku benar-benar tidak bisa menahan untuk buang air kecil. Kedua tanganku memegang ujung rok berwarna cokelat polos sebagai pelampiasan.

Dari arah berlawanan sesosok pria berjalan sambil menatapi layar ponselnya. Langkah kakiku yang dipercepat tidak sengaja menyandung undakan tangga. Dan…

 

BUGH!

 

Kedua mataku terpejam sudah siap menerima benturan lantai. Tetapi tubuhku menimpa sesuatu yang tidak sekeras dugaanku. Perlahan aku membuka kedua bola mataku. Mulutku menganga lebar.

Jarak antara diriku dan sosok di bawahku tidak sampai 5 centimeter. Bahkan hidung kami saling bersentuhan. Seketika foodcourt hening tanpa suara.

 

-TBC-

Horay akhirnya meluncur juga Chapter 1. Btw, di sini ceritanya Jiyeon belum tau wajahnya Myungsoo ya *plak* hehe. Hara mau nyoba bikin cerita yang awalnya kocak dulu, tapi malah ancur begini. Maapkan Hara T.T. Oke, hope you like it🙂

69 responses to “Clash (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s