[Chapter 6] School Rush!! Season 2

school-rush6 Author : sprinkaan29

Rating : PG15

Genre : School life, Family, etc

A/N : Tadaaaa!!! Part yang mungkin udah kalian tunggu dari awal baca FF ini. Disertai bonus special sebagai bayaran karena update yang lama. Mulai dari chapter ini, masalah bakalan jadi lebih rumit. Dan mungkin bagi yang nunggu moment MyungYeon bakalan kecewa karena di part ini gak ada adegan MyungYeon (#mianhaeT.T) Ini adalah chapter terpanjang yang pernah bellalang buat. Typo bertebaran.

 

Author POV

“Aku memiliki sesuatu yang harus kukatakan pada kalian” Kim Minseok, namja berpipi tembam itu menatap teman-temannya dengan serius. Hal yang sangat jarang terjadi di kelas ini. Minseok menundukkan wajahnya, menatap lantai kelas dengan pandangan kosong.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Ayolah, Minseok, jangan membuat ekspresi seperti itu. Kau sangat aneh”Jiyeon mengambil sebuah kursi untuk dirinya sendiri. “Sepertinya ini akan menjadi sebuah pembicaraan yang panjang dan serius melihat dari ekspresi menakutkan dari wajahmu itu”

“Aku pikir juga begitu” Jinri duduk diatas sebuah meja sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Sedangkan Sohee dan Suzy tetap dalam posisi berdiri mereka.

“Mianhae” Minseok menjatuhkan lututnya ke lantai, duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam. Namja itu tidak dapat menahan airmata yang mulai mengalir dari kedua matanya.

“Ya! Min-”

“MIANHAE. JEONGMAL MIANHAE” Seluruh tubuh Minseok bergetar dan airmatanya turun tanpa terkendali.

“Tolong, dengarkan aku tanpa memotong. Tapi sebelum aku menceritakan sesuatu pada kalian, aku mohon dengarkan perkataanku ini untuk terakhir kalinya” Minseok mengambil napas dalam-dalam untuk menahan suara tangisannya.

“Kalian adalah hadiah terindah dalam hidupku. Gomawo, karena kalian telah mengisi hidupku dengan saat-saat yang sangat berharga. Gomawo”

Jiyeon POV

Aku merasakan sesuatu yang aneh dan tidak menyenangkan dari perkataan Minseok. Apa maksudnya dengan terakhir kali? Kenapa dia menjadi sangat melankolis seperti ini? Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi entah mengapa mulutku seperti terkunci saat ini.

“Aku ingin memperkenalkan diriku sekali lagi dihadapan kalian. Jadi tolong dengarkan dengan baik, ne?” Aku melihat senyum pahit di wajahnya. Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan dengan memperkenalkan dirinya sekali lagi?

“Namaku adalah Kim Minseok” dia berhenti sejenak dan mengambil napas dalam. “Kampung halamanku adalah di Boston, Amerika. Tanggal lahirku 26 Maret 1997. Putra pertama dari Kim Group. Kakak dari Kim Myungsoo yang bersembunyi selama 9 tahun. Hobiku adalah bermain melukis dan anggar. Nama lainku adalah Kim Xiumin”

Aku berusaha untuk menolak kata-kata yang baru saja diucapkannya itu. Kim Xiumin? Kakak dari Kim Myungsoo? Putra pertama Kim Group? Apa yang baru saja dikatakannya?

“Kim Minseok, kebohongan apa yang sudah kau ucapkan? Putra pertama Kim Group? Kim Xiumin? Itu adalah kau? Yang benar saja” Nada suara Sohee terdengar sangat sarkatis.

“Apa itu terdengar seperti sebuah kebohongan bagimu?”

“Ne, tentu saja. Kebohongan besar. Kau adalah Kim Minseok, kampung halamanmu adalah di Guri, kau anak yatim-piatu yang dirawat di sebuah panti asuhan di Guri. Kau seumuran dengan kami. Jadi sejak kapan kau lahir di Boston? Kau benar-benar mengarang bebas” Aku tahu bahwa Sohee sedang mencoba menyangkal semua yang dikatakan Minseok pada kami, sama sepertiku.

“Yang baru saja kukatakan, adalah satu-satunya kejujuran mengenai diriku sendiri. Dan segala hal yang kau ketahui tentangku selama 9 tahun, itu adalah kebohongan yang kubuat. Kim L adalah Kim Myungsoo, adikku. Taeyeon songsaenim, adalah eommaku, Kim Taeyeon yang sekaligus adalah kepala sekolah yang sebenarnya, dia memalsukan segala identitasku. Selama sembilan tahun, aku ingin bersembunyi dan menghindari semuanya”

PLAKK!

“Katakan sekali lagi! Apa selama sembilan tahun, aku dan Sohee terlihat seperti orang bodoh yang mudah dipermainkan olehmu?” Dia tidak bergeming.

“Jawab aku, Kim Minseok-ssi!” Airmataku mulai berjatuhan. Aku masih ingin tetap mempercayai namja ini, sungguh. Bisakah dia menyangkalnya? Dia hanya perlu mengeluarkan seyuman jeleknya dan berkata bahwa ia hanya sedang menipu kami. Tapi, logikaku mengerti bahwa dia sedang tidak bercanda dengan kata-katanya.

“Aku mempercayaimu. Aku sangat mempercayaimu! Tapi kenapa kau menghancurkannya? Kau menghancurkan segalanya! Aku sangat membencimu!” Aku mencoba untuk menahan airmataku agar tidak mengalir keluar, tapi itu adalah usaha yang sia-sia.

“Selama sembilan tahun, kau adalah satu-satunya namja kusayangi. Lebih dari aku appa dan oppaku sendiri.  Kukira kau adalah salah satu keajaiban yang eomma berikan padaku sebagai pengantinya. Bahkan aku lebih mempercayaimu daripada Sohee. Kebaikanmu, semua perhatian dan kekonyolanmu itu, hanyalah sebuah kebohongan belaka? Kau benar-benar brengsek, Kim Minseok!” Genggaman tanganku semakin mengencang, dengan segala cara aku mencoba untuk mengontrol perasaanku yang bercampur aduk menjadi satu. Kurasakan sebuah tangan, menyentuh pundakku. Ahn Sohee, aku tahu bahwa dia juga sedang berusaha menahan tangis dan amarahnya.

“Pergilah” Tidak ada pergerakkan dari Minseok.

“Kau benar-benar pembohong besar! Jangan muncul lagi dihadapan kami!” Sohee tidak dapat lagi menahan rasa marah dan kecewanya.

“Tolong pergi Kim Minseok-ssi. Pergi dari kehidupan kami! Karena kami tidak dapat memaafkanmu”

~o~

Jinri POV

Aku berjalan gontai tanpa benar-benar melihat jalanan didepanku. Siang tadi, aku sama sekali tidak marah pada Minseok. Bukan karena aku tidak merasa dibodohi ataupun dikhianati, tentu saja aku merasakan hal itu walaupun hanya baru berteman dengannya. Aku hanya tidak bisa marah padanya, tanpa aku tahu apa alasannya, sebaliknya, aku merasa kasihan padanya. Tidak lama, aku pun sampai di tempat favoritku, Sungai Han. Hampir setiap malam, aku selalu pergi ke tempat ini. Tapi sepertinya hari ini aku tidak sendirian. Aku melihat Kim Minseok, duduk di bangku yang biasa menjadi tempat untukku duduk dan meminum berkaleng-kaleng bir. Dan saat ini, dialah orang yang sedang meminum berkaleng-kaleng bir itu.

“Kau butuh teman minum?” Aku menghampirinya, mengambil sekaleng bir dari kantung besar ditanah. Dia menepuk pelan tempat kosong disampingnya, mengisyaratkan aku untuk duduk ditempat itu.

“Jinri-ah, kau tidak marah padaku?”

“Tidak”

“Wae?”

“Karena aku belum mendengar alasanmu melakukan hal ini”

“Kau sangat dewasa Jinri-ah”

“Bukan, bukan karena aku dewasa. Aku belum mengenalmu begitu lama,  maka dari itu aku masih dapat memikirkan hal ini secara lebih rasional. Sohee dan Jiyeon, mereka sudah bersamamu selama sembilan tahun, sulit bagi mereka berpikir secara rasional, mereka akan lebih merasakan dampaknya pada perasaan mereka. Karena itulah mereka marah padamu tanpa berusaha untuk mengetahui alasan dari perbuatanmu” Aku sadar bahwa sekarang aku berbicara dengan orang yang sedang mabuk. Mungkin Minseok tidak akan mengerti apa yang kuucapkan.

“Ahh, kau benar. Aku telah menyakiti perasaan mereka. Alasanku, apa kau ingin mendengarnya?”

“Ne”

“Aku yakin kau sangat mengerti perasaan seekor burung yang berada di dalam sangkar. Terkekang dan terperangkap. Saat aku kecil, aku sangat ingin keluar dari rumah dan bermain dengan anak-anak pelayanku yang setiap harinya datang. Mereka terlihat sangat bahagia. Bukan berarti aku tidak memiliki teman, aku memilikinya. Tapi mereka hanya datang saat orangtua mereka datang kerumah. Setiap kali kami berlarian dirumah, kepala pelayan pasti langsung menegur kami untuk diam dan tenang agar tidak mengganggu orangtua kami. Lalu semakin lama, kami tidak lagi memainkan permainan anak kecil. Kami memainkan catur, shogi, anggar, berkuda ataupun memanah. Aku dan Myungsoo setiap harinya selalu dipenuhi dengan privat. Kedua orangtua kami mengetahui IQ kami yang sangat tinggi. Bahkan aku tahu, saat aku besar nanti appa akan menyerahkan kelanjutan Kim Group padaku dan Myungsoo”

Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Minseok. Dan kusadari bahwa kehidupannya hampir sama dengan kehidupanku. Perbedaannya hanyalah, dia memiliki keluarga yang menyayanginya sedangkan keluargaku tampak tiddak peduli padaku. Yang mereka inginkan hanyalah agar aku mematuhi semua yang mereka katakan, layaknya sebuah boneka.

“Kau lebih beruntung, setidaknya, mereka tidak memperlakukanmu seperti boneka”

Drrttt

Ponselku bergetar, tanda panggilan masuk. Kulihat ID penelepon yang melakukan panggilan selarut ini. Eomma. Aku menunjukan ponselku pada Minseok.

“Kau lihat, eommaku memanggilku selarut ini. Dia pasti ingin aku melakukan sesuatu untuknya” Aku menggeser tombol hijau di ponselku lalu mengaktifkan loudspeaker agar Minseok dapat mendengar apa yang dikatakan oleh eommaku.

“Yeoboseyo, ada apa eomma meneleponku selarut ini?”

“Setengah jam lagi, kau sudah harus berpakaian rapi dan datang ke cabang hotel di Gangnam. Pakai gaun terbaikmu dan riaslah wajahmu secantik mungkin. Minta Pak Yoon untuk mengantarmu, jangan pakai taksi, arra?”

“Aku tidak sedang berada di rumah. Aku sedang berada di Sungai Han bersama temanku”

“Tidak ada alasan. Kalau begitu pergilah ke salon dan cepat datang kemari” Eomma memutuskan panggilan dengan diakhiri dengan paksaan seperti biasanya.

“Kau dengar? Setidaknya Taeyeon saem tidak pernah memaksamu seperti ini bukan?” Aku beranjak dari posisi dudukku.

“Biar kuantar kau. Kebetulan, aku juga ingin ke Gangnam. Luhan memintaku datang ke apartemennya. Salon mana yang ingin kaukunjungi?” ujar Minseok

“Tidak perlu ke salon. Cukup antarkan aku ke hotel saja. Ada butik tidak jauh dari sana” Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatap Minseok yang berjalan sedikit dibelakangku.

“Minseok-ah, apa semua hal yang kau katakan dan perbuat saat G class berharga untukmu ataukah hanya sebuah kebohongan?” Aku menatap mata Minseok, mencoba untuk menemukan kejujuran dari matanya. Minseok tersenyum.

“Berharga. Setiap detik yang kulalui bersama kalian adalah hadiah spesial untukku. Aku menjadi sahabat kalian, itu bukanlah suatu kebohongan. Aku benar-benar menyayangi kalian”

~o~

“Jadi ini anakmu, Sooyoung-ah. Dia sangat cantik” Aku tidak begitu mendengarkan pujian yang sedari tadi dilontarkan oleh seorang ahjumma yang terlihat muda di hadapanku. Sedangkan eommaku, dia terus memuji namja sialan ini di hadapanku!

“Adeul, bukankah yeoja di hadapanmu ini sangat cantik? Namanya adalah-”

“Choi Jinri. Aku sudah tahu, eomma” Namja sialan ini menyungingkan senyumannya padaku. Dimataku, itu lebih terlihat seperti senyuman penghinaannya padaku. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk tidak memaki namja dihadapanku ini. Aku melihat eommaku yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu.

“Lee Howon. Aku SANGAT mengenalnya, eomma. Jadi tidak perlu memperkenalkannya lagi” ujarku dengan memberi penekanan pada kata sangat. Dengan kesal aku memasukan beberapa potong daging kedalam mulutku. Kenapa hari ini aku harus melihat wajahnya? Sungguh mengesalkan.

“Baguslah. Itu berarti kita dapat mempercepat tanggal pertunangan kalian” Aku tersedak mendengar perkataan appaku? Pertunangan?

“Pertunangan? Apa maksud kalian?” Aku melihat ekspresi Howon yang sepertinya sudah mengetahui hal ini. Rasanya aku mulai mengerti tentang apa yang terjadi saat ini. Mereka sedang menjodohkanku dengan namja sialan bernama Lee Howon!

“Kenapa kalian melakukan ini tanpa persetujuanku? Aku menolak perjodohan ini!” Aku meletakkan peralatan makanku dengan kasar sehingga menimbulkan lenting yang cukup keras.

“Tapi aku setuju dengan perjodohan ini” Aku menatap namja itu tajam. Apa yang dikatakannya? Dia setuju?

“MWO?” Aku berdiri dengan kasar, membuat kursi yang kududuki sedikit terdorong kebelakang.

“Apa kau lupa betapa aku membencimu? Kau juga membenciku! Aku tidak akan melakukan pertunangan ini! Tidak akan pernah!”

Plakk!

“Jaga sikapmu, Choi Jinri! Duduk!” Eommaku menatapku tajam. Aku sedikit terkejut karena dia menamparku di hadapan musuh bebuyutanku. Hal itu membuat harga diriku jatuh dihadapannya.

“Cukup. Sudah cukup kalian mengatur hidupku. Hapus saja namaku dari daftar keluarga!”

Howon POV

Aku menatap kepergian Jinri setelah dia memberontak pada keluarganya. Ada sedikit perasaan bersalah yang kurasakan. Awalnya, aku hanya ingin membuat gadis itu kesal dengan menyetujui perjodohan ini. Aku tudak tahu bahwa dia akan bertidak sampai sejauh ini.

“Aku akan menyusulnya” Pamitku pada keluargaku dan keluarga Jinri. Aku tidak ingin gadis itu salah paham tentang persetujuanku terhadap perjodohan ini. Dengan naluriku, aku pergi ke atap hotel untuk menyusulnya. Aku hanya yakin bahwa Jinri akan pergi ke atap. Mengingat dia tidak suka orang lain melihat dia menangis ataupun dalam keadaan lemah. Dan benar saja, di sedang meringkuk di sudut saat aku tiba di atap.

“Mermaid, gwenchana?” ujarku sedikit berteriak tanpa mendekatinya. Yeoja itu bahkan tidak mendongakan kepalanya. Aku berjalan mendekatinya, sehingga sekarang aku berdiri dihadapannya yang sedang meringkuk itu.

“Tidak perlu kau pedulikan aku!” Teriak Jinri padaku. Dia terlihat lemah seperti yeoja kebanyakan. Menangis sampai tubuhnya bergetar, tidak mencerminkan sosok yeoja yang kuakui sebagai rivalku. Tapi, melihat kelemahan yeoja ini, entah mengapa membuatku merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Aku berjongkok, lalu mengelus pelan puncak kepala yeoja ini.

“Uljjima. Kau sekarang terlihat seperti yeoja yang lemah dan tidak berdaya, kau terlihat menyedihkan” Mendengar ucapanku, tangisan Jinri mendadak menjadi semakin kencang.

“HUAAAA~ YA AKU MEMANG MENYEDIHKAN! LALU APA MASALAHMU??”Bentaknya keras. Dia mendorong tubuhku pelan. Sepertinya dia tidak memiliki tenaga lagi.

“Pergilah! Hikss~ Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu” Dia kembali menyembunyikan wajahnya dengan meringkuk.

“Jangan menanggap persetujuanku itu serius. Tentu saja aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Karena seperti yang kau bilang kita adalah rival”

“Ini bukan salahmu. Aku hanya ingin lepas dari margaku sejak dulu. Dan aku ingin mengatakan hal itu sejak lama” Secara tiba-tiba, tangisan yeoja aneh ini berhenti. Dia benar-benar yeoja yang aneh.

“Kau tahu, hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Jadi kumohon padamu untuk tidak membuat hari ini menjadi lebih buruk lagi” Mata yeoja ini dipenuhi dengan banyak sekali kesedihan. Rasanya aku ingin memeluk dan menghiburnya. Hah? Apa yang kupikirkan? Memeluk dan menghiburnya? Otakku pasti sudah mulai gila mendengar tangisannya tadi. Tapi rupanya tubuhku benar-benar mengkhianati akal sehatku, karena tanpa kusadari tubuhku sudah memeluk Jinri.

“Ulljima, Jinri-ah. Semuanya akan menjadi baik-baik saja” Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Lee Howon, aku memeluk seorang yeoja untuk menghiburnya.

~o~

Jiyeon POV

Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dihadapanku. Sudah hampir tiga jam aku berada di taman ini bersama dengan kameraku. Mengambil foto dari jalanan dan taman ini berulang kali. Tapi anehnya, hal itu masih tidak dapat membuatku melupakan segala hal yang terjadi. Ponselku berdering, menandakan panggilan masuk dari Sohee dan Suzy yang sudah kesekian kalinya sejak tiga jam lalu.

“Eomma, kenapa saat itu kau menyelamatkanku? Kenapa kau tidak membiarkanku bersamamu sampai akhir?” Aku memandang kosong langit yang tidak berbintang diatas kepalaku.

“Eomma, sahabat yang sangat kupercaya mengkhianatiku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Membencinya atau memaafkannya?” Aku beranjak dari posisi dudukku. Ini sudah mulai larut, sedangkan aku tidak tahu harus pergi kemana. Tidak ada niatan untukku pulang. Mungkin aku akan mampir ke kafe terlebih dahulu. Secara tidak sengaja, mataku melihat kearah sebuah papan reklame yang jaraknya tidak terlalu jauh dariku. Tampaknya, papan reklame itu sedikit rusak dilihat dari keadaan penyangganya yang sudah berkarat dan terlihat rapuh. Perkiraanku, papan itu akan jatuh sebentar lagi dan menimpa seorang anak perempuan yang berdiri dibawahnya.

“Sebentar? Menimpa seorang anak?” Aku kembali memperhatikan papan reklame dan anak itu. Papan itu tampak mulai  akan jatuh. Dengan refleks aku berlari kearah anak kecil dibawah papan itu.

Bruakk!

“Eonnie, gwenchana?” Aku dapat mendengar anak kecil itu bertanya padaku. Tapi aku sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas wajah anak tersebut, karena pandanganku mulai mengabur dan lamakelamaan menjadi semakin gelap. Suasana disekitarku mulai ramai. Dan aku merasakan sakit yang amat sangat di punggung dan kepalaku. Kesadaranku mulai menghilang, dan hal terakhir yang kudengar adalah suara tangisan akan kecil itu.

‘Eomma, apa aku akan bertemu denganmu?’

~o~

Remember whenever you had hard times

You switched your tears with smiles

Don’t cry without me Don’t cry

Since you have a lot of tears

 

No it’s my turn to cry I’ll do it

Collect your tears

It’s my turn to cry leave it to me

To those tears this time

This time yeah

Chanyeol POV

Baby don’t cry, tonight~

Suara dering ponsel mengganggu konsentrasiku saat sedang membuat aransemen baru untuk laguku. Dengan terpaksa aku berdiri dan menghampiri meja kecil di dekat tempat tidurku, tempat dimana aku meletakkan ponselku. Nama penelepon yang tertera di layar membuatku terkejut. Park Jiyeon.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, apakah ini kakak kandung dari saudari bernama Park Jiyeon?” ucap sebuah suara asing diseberang telepon. Aku mengerutkan keningku. Firasat burukku muncul di permukaan. Karena tidak biasanya Jiyeon mengijinkan seorang pun untuk menggunakan ponselnya.

“Ne”

“Saat ini, adik anda sedang berada di ICU dalam keadaan kritis. Diharap-”

“Dimana? RUMAH SAKIT MANA?” teriakku

“Seoul Hospital”

Dengan segera aku mengambil kunci mobilku lalu berlari menuju garasi. Aku tidak tahu apakah aku dapat menyetir dengan benar saat ini. Yang ada dipikiranku hanyalah keadaan Jiyeon.

 

Seoul Hospital

“Pasien bernama Park Jiyeon, dimana dia sekarang?” tanyaku cepat pada salah seorang suster yang berjaga di bagian informasi.

“Apakah anda adalah kakak dari Park Jiyeon?” Aku mengangguk dengan cepat.

“Park Jiyeon saat ini sedang berada di ruang ICU, keadaannya kritis. Dia tertimpa papan reklame besar di Cheondamdong karena menyelamatkan gadis muda yang sedang duduk disana” Suster itu menunjuk seorang yeoja yang tampak seperti murid SMP.

“Suster, segala biaya admistrasi akan saya urus. Setelah dari ICU, segera pindahkan dia ke ruang VVIP. Berikan perawatan terbaik untuknya” Suster tersebut mengangguk pelan. Setelah menyelesaikan semua biaya pengebotan Jiyeon, aku menghampiri yeoja yang diselamatkan olehnya. Yeoja itu terkejut dengan kedatanganku.

“Park Chanyeol?” ucapnya dengan nada yang menunjukan bahwa dia adalah salah satu fansku.

“Kau kakak dari Jiyeon eonnie?” Yeoja dihadapanku ini bertanya dengan nada tidak percaya.

“Kau mengenal Jiyeon?”

“Ya, dia adalah teman kakakku di cafe”

“Siapa namamu?”

“Nam Saeron imnida” Kududukan diriku di bangku sebelah yeoja bernama Saeron itu. Rasanya saat ini setengah dari nyawaku hilang dengan keadaan Jiyeon yang kritis. Aku tidak ingin merasakan kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kalinya.

“Aku tidak percaya bahwa kakak laki-laki yang selalu dibicarakan Jiyeon eonnie adalah seorang Park Chanyeol” Ada nada kekecewaan dari cara yeoja ini mengatakannya. Dia kembali meneruskan perkataannya.

“Jiyeon eonnie selalu berkata bahwa dia sangat iri dengan hubunganku dan Woohyun oppa. Orang yang seharusnya dia sebut ‘Oppa’ tidak pernah menepati janjinya pada Jiyeon eonnie dan selalu membuat Jiyeon eonnie menangis” Yeoja itu menatapku tajam.

“Jiyeon eonnie menyelamatkanku hari ini. Aku berhutang nyawa padanya. Karena itu, aku ingin memohon padamu, Chanyeol oppa. Kumohon perlakukan Jiyeon eonnie dengan baik, sebelum Chanyeol oppa kehilangan Jiyeon eonnie selamanya” Saeron berlutut dihadapanku dengan mata yang berlinang. Dan pada saat dia melakukannya, aku melihat seorang dokter keluar dari ruang ICU. Dengan segera aku dan Saeron menghampiri dokter tersebut.

“Uisa, bagaimana dengan keadaan adik saya?”

“Dia telah keluar dari keadaan kritis. Untuk beberapa hari kedepan, pasien mungkin tidak akan sadarkan diri. Kami juga khawatir, tentang efek samping dari luka yang ada di kepala pasien. Belum dapat dipastikan ada atau tidaknya luka dalam di kepalanya. Karena itu, kita hanya bisa berdoa untuk selanjutnya” Mendengar hal itu, ada perasaan lega sekaligus khawatir dalam hatiku. Dan saat ini, ada sesuatu yang sangat ingin kulakukan. Aku ingin berada disamping Jiyeon apapun resikonya.

“Nam Saeron, jika setelah Jiyeon sadar dan aku tidak memperlakukannya dengan baik, minta kakakmu untuk memukulku sampai aku tidak sadarkan diri”

Sohee POV

Aku, Suzy dan Jinri berlari menyusuri koridor rumah sakit untuk pergi ke ruang ICU. Dari kejauhan kami dapat melihat Saeron dengan seorang namja dengan wajah yang cukup familiar.

“Park Chanyeol-ssi?” panggil Suzy pada namja jangkung itu. Dan benar bahwa namja itu adalah Park Chanyeol.

“Apa yang kau lakukan disini?” ujarku dingin. Apa haknya berada disini? Dia bukan sesorang yang Jiyeon kenal dengan baik. Namja ini hanya pernah menyelamatkan Jiyeon satu kali.

“Aku ingin berada di samping adikku untuk memastikan keadaannya, apa itu salah?” Aku terkejut mendengar perkataannya.

“Adik? Lelucon apa lagi ini?” ujarku marah pada diriku sendiri. Aku benar-benar kacau hari ini, pertama Minseok yang mengkhianati kami semua dan sekarang Jiyeon berada dalam keadaan kritis dan aku harus mengetahui kenyataan tentang siapa sebenarnya kakak yang sering membuat Jiyeon menangis. Dalam satu hari semua rahasia besar dalam persahabatan kami terbongkar dengan cara yang tragis.

“Sekarang bagaimana kondisi Jiyeon?”

“Untuk beberapa hari kedepan, dia tidak akan sadarkan diri. Dan belum dapat dipastikan ada atau tidaknya luka dalam di kepalanya” ujar Chanyeol.

“Park Chanyeol-ssi, bisa kita bicara sebentar?” Untuk pertama kalinya, aku mendengar Suzy berbicara dengan nada dingin pada seseorang.

“Hmm”

 

Suzy POV

Aku membawa Chanyeol ke atap gedung rumah sakit ini. Setidaknya, tidak akan ada orang lain disana.

“Kau bilang padaku bahwa kau tidak mengenal Jiyeon. Apa kau berusaha untuk tidak mengakui adikmu sendiri?” Aku berusaha untuk menahan amarahku untuk kesekiankalinya hari ini.

“Aku sangat ingin mengakuinya dihadapan seluruh dunia bahwa Jiyeon adalah adikku. Tapi itu jika hanya aku memilih untuk egois” Park Chanyeol yang ada di hadapanku sekarang tampak sangat lemah dan rapuh. Sangat berbeda dengan Park Chanyeol yang ada di atas panggung dan di layar kaca yang kuat dan enerjik.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak akan mengerti, Suzy” Airmata namja dihadapanku mulai mengalir turun dari matanya. “Aku sangat mengkhawatirkan Jiyeon. Setiap harinya, aku hanya bisa memperhatikan adiku sendiri dari kejauhan. Tanpa bisa menghampirinya ketika ia membutuhkanku. Setiap harinya aku hidup seperti seorang pengecut” Aku memberanikan diriku untuk memeluk namja ini. Untuk menenangkannya.

“Maka dari itu, berhentilah menjadi pengecut. Jiyeon sangat menyayangimu, dia ingin kau kembali menjadi kakak yang dia kenal dulu. Lindungi Jiyeon dengan berada disampingnya, adalah cara terbaik bagi kau dan Jiyeon” Bisikku pelan didekat telinganya.

“Itu jika dia ingin memaafkanku dan menerimaku kembali”

“Jiyeon pasti akan melakukannya. Dia membutuhkanmu lebih dari apapun didunia ini” Aku melepaskan pelukanku. Kutatap mata namja ini masih dalam jarak yang dekat. Kuhapus airmata yang mengalir turun di kedua pipinya.

“Semuanya akan baik-baik saja, Chanyeol-ssi. Jiyeon pasti akan menerimamu kembali” Dia terseyum tipis padaku.

Cupp~

“Gomawo, Suzy” Aku menyentuh pipi kiriku yang mungkin sudah semerah buah tomat. Park Chanyeol mencium pipi kiriku! Oh, Tuhan. Jantungku kembali berdetak dengan cepat. Gawat jika sampai dia mendengarnya.

“Lagi-lagi wajahmu memerah”

Cupp~

Kali ini kedua tanganku sudah berada di kedua sisi pipiku. Ada apa dengan namja ini? Dia mencium pipi kananku dengan tiba-tiba. Aku segera berlari menjauhi namja itu. Bisa meledak jika aku terus berada di dekat Park Chanyeol.

~o~

Dua minggu kemudian…

Chanyeol POV

“Jiyi, Oppa datang!” Aku membuka pintu ruang rawat Jiyeon dengan semangat. Sudah dua minggu aku menemani Jiyeon disini.  Walaupun begitu, aku tetap dapat menulis beberapa lagu yang terkadang kumainkan untuk Jiyeon dengan gitarku. Dan untuk sementara waktu, aku membatalkan semua kesibukanku untuk merawat Jiyeon. Setiap hari juga aku selalu bertemu dengan 3 orang yang sama, Ahn Sohee, Choi Jinri dan Bae Suzy. Mereka sudah menerimaku sebagai kakak Jiyeon. Dan aku merasa berterima kasih, karena mereka sangat baik dan perhatian pada Jiyeon. Setidaknya, aku tahu bahwa selama aku tidak bersamanya, Jiyeon memiliki sahabat disampingnya. Kuperhatikan wajah Jiyeon yang masih belum sadarkan diri. Dan kulihat kedua pasang mata Jiyeon berkedip, jari-jarinya mulai menunjukkan pergerakan.

“Jiyi? Jiyi?” Aku segera menekan tombol untuk panggilan dokter. Dan tidak lama, dokter yang selama ini merawat Jiyeon datang. Tepat pada saat itu, ketiga sahabat Jiyeon kembali setelah tadi keluar untuk makan siang. Jiyeon sudah sadar. Dia mengerjapkan matanya berulang kali. Sementara kami menunggu respon darinya.

“Kenapa semuanya menjadi gelap?”

 

Preview

“Dia mengalami benturan keras di kepalanya. Hal ini menyebabkan saraf mata di otaknya terputus. Dia akan mengalami kebutaan total”

“Oppa, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi”

“Mulai sekarang, aku tidak akan mendengarkanmu lagi. Aku akan berada disamping Jiyeon, aku akan melindunginya darimu”

“Jiyeon-ah, Chanyeol-ssi, bagaimana jika kalian berlibur bersamaku? Ke kampung halamanku”

“Joneun Kim Jongdae imnida”

 

Bonus

 Park Chanyeol Past Memory

 

Sehari setelah kematian eomma, appa membawa seorang ahjumma yang terlihat masih muda ke rumah. Appa memperkenalkannya sebagai calon eomma baru kami. Jiyeon yang masih sangat terpukul akan kematian eomma tidak dapat menerima keberadaannya. Aku berusaha untuk bersikap dewasa dan mencoba menerima keberadaan ibu tiri kami. Pada awalnya, dia berusaha untuk dekat dengan Jiyeon dan juga aku. Aku menganggapnya ibu tiri yang baik dan perhatian dan mulai memanggilnya ‘eomma’ , tapi tidak dengan Jiyeon. Ia tidak dapat menerima keputusaan appa untuk menikah dengan ibu tiri kami. Tapi appa tidak memperdulikan Jiyeon, dan tetap menikahi ibu tiri kami itu. Saat pertama, aku sedikit senang karena aku akan memiliki eomma baru. Tapi tidak 3 bulan setelah pernikahan, ketika appa pergi untuk mengurus cabang bisnisnya di LA. Sikap asli ibu baruku itu mulai terlihat pada Jiyeon. Ya, sikapnya padaku masih tetap sama. Dia masih sangat perhatian padaku. Sampai suatu hari, ia mengatakan hal yang membuatku berbalik membencinya.

“Eomma akan mengusir Jiyeon dari rumah ini, bagaimana menurutmu?” ujarnya dingin sambil mengelus puncak kepalaku lembut. Aku menatapnya tidak percaya sekaligus kaget.

“Ahh, ne… Mianhae, aku lupa kau sangat menyayangi adikmu itu, benar?” Aku menganggukan kepalaku kaku.

“Kau ingin melindunginya?” Aku membatu mendengar perkataannya.

“Apa kau ingin menlindunginya dariku, Park Chanyeol?”

“Apa maksudmu, eomma?” Aku bertanya dengan nada tidak percaya.

“Maksudku? Maksud eomma adalah, jika kau benar-benar ingin melindunginya, eomma tidak akan mengusirnya”

“Ne, omma. Jebal, jangan membuat Jii-chan menderita di luar sana” ucapku memohon padanya.

“Baiklah, omma tidak akan mengusir sampah itu” Aku berjengit ketika dia memanggil Jiyeon dengan sebutan sampah, tapi karena aku senang dengan keputusannya, aku mencoba untuk mengabaikan hal itu.

“YEIII!!! Chanyeol tahu omma tidak jahat” Ujarku sambil memeluknya.

“Tapi, ada satu syarat untukmu, Chanyeolie”

“Hee?! Syarat? Apa syaratnya??” aku mulai merasa ini tidaklah benar. Apakah eomma baruku tidak sebaik perkiraanku?

“Berhentilah menjadi oppa yang menyayanginya” Dan pada saat ini aku benar-benar tersadar. Bahwa dia bukanlah eomma yang kubayangkan selama ini. Eomma baik yang akan menyayangiku dan Jiyeon.

“Aaee?? Wae?”

“Karena dia adalah sampah!” Aku terbelalak mendengar ucapannya. Aku melepas pelukkanku terhadapnya dan memandangnya benci.

“Tidak akan pernah! Aku akan selalu berada di sisi Jiyeon apapun yang terjadi!”

“Bahkan jika kukatakan padamu, bahwa aku tidak akn segan-segan menyiksa anak itu? Mengusirnya? Dan membuatnya menjadi gelandangan di Seoul?” Aku melihat senyumannya yang sombong dan menjijikkan. “Aku tidak akan melakukannya selama kau menaati semua yang kukatakan padamu, anakku” Aku membatu ditempatku. Yeoja ular itu kembali mengelus puncak kepalaku, pelan tetapi mengintimidasi.

“Tidak akan ada ruginya untukmu. Kau akan tetap bisa menikmati semua yang kau miliki sekarang, hanya saja, kau harus menjadi anakku yang patuh. Kau akan kubuat menjadi pewaris semua harta ayahmu, kita akan menikmatinya bersama. Dan aku tidak suka terhadap ‘adikmu’ itu. Jadi, apa keputusanmu, Park Chanyeol?” ujarnya dengan nada yang juga menjijikkan.

“Tidak, aku akan tetap berada disamping Jiyeon. Apapun yang terjadi!”

“Bukankah kau bilang ingin melindunginya? Apa kau yakin, dengan berada di samping adikmu akan membuatnya terlindungi dariku? Aku bisa saja menghilangkan nyawanya dengan mudah, seperti yang kulakukan pada ibumu”

“Apa maksudmu?”

“Huh! Anak sekecil kau harus tahu bahwa penyebab kapal itu terbakar adalah aku. Sayang sekali bahwa adikmu tidak mati bersama eommamu di kapal itu, padahal aku hanya ingin kau yang selamat, sehingga aku meminta orang suruhanku untuk hanya menyelamatkanmu” Aku mulai kehilangan kepercayaan diriku untuk tetap disisi Jiyeon. Aku mulai merasakan takut sekaligus benci dalam diriku. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

“Baiklah, eomma akan memberimu waktu untuk berpikir”

~o~

 

 

 

 

33 responses to “[Chapter 6] School Rush!! Season 2

  1. ooooh jadi ternyata? :O gila! ibu tirinya jahat banget! kesel banget deh!!!
    apa? jiyeon buta?!?!?! yaaahh plis semoga ini hanya mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s