Tension [11]: Willingness #1

tension

Myungsoo telah berangkat ke bandara sejak sekitar lima jam yang lalu, atau lebih tepatnya, pukul enam pagi. Jiyeon hanya sempat menemaninya hingga ke depan rumah, ia ingin sekali mengantar suaminya langsung ke bandara, namun Myungsoo menyergahnya dengan alasan bahwa Jiyeon akan memulai kerjanya pukul tujuh nanti, Myungsoo tidak ingin menarik risiko bahwa bisa saja Jiyeon terlambat di hari pertamanya bekerja.

Setelah mendapat kabar bahwa Myungsoo telah benar-benar lepas landas dari tanah negara mereka, Jiyeon sedikitnya membuang napas lega. Terlebih ketika Myungsoo mengatakan bahwa ia baik-baik saja, Jiyeon tertawa kecil ketika menyadari dirinya berlebihan untuk mengkhawatirkan seseorang, sementara belum tentu ia bisa mengurus diri sendiri semenjak kepergian Myungsoo ke Nagano.

.

.

Tension [11]: Willingness #1
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2] [Crying #1] [Crying #2/END] [Angel’s Anger #1] [Angel’s Anger #2] [Shame]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

Kendati sinar matahari masih menyembul malu di kaki langit timur, sepasang mata Jiyeon telah disuguhi penuh oleh sekumpul mahasiswa dan pekerja kantor yang menyempatkan diri untuk singgah di kafe tempatnya bekerja. Setelah satu hari berlatih dengan Seonye, Jiyeon baru sadar bahwa nama kafe tempatnya bekerja terdengar aneh—Undegree. Bahkan Jiyeon hingga sekarang masih belum tahu benar bagaimana cara mengucapkan nama kafenya.

Langkah kaki ringannya membawa tubuh beserta tangannya yang terulur untuk mendorong pintu belakang kafe, Jiyeon melongok ke arah pintu kaca yang merefleksikan sebagian pengunjung kafe yang telah ramai menanti pesanan mereka. Jiyeon diam-diam mengulas senyumnya, ia bisa membayangkan bagaimana hari pertamanya akan terlewat, dan itu membuatnya senang.

Dengan langkah perlahan, ia mendekati seorang pria berkulit putih dan kurus yang tengah meracik kopi. “Hm, Tuan. Maaf mengganggu, aku karyawan baru di sini. Aku tidak tahu tempat—”

“—carilah sendiri! Apa sulitnya?” sosok itu berseru ketus, Jiyeon mengerutkan dahinya heran. Ia bahkan bertanya baik-baik, namun pria di hadapannya ini membalas dengan ketus seolah Jiyeon habis menyindirnya dengan ribuan kalimat menyayat hati. Gadis itu baru saja membuka mulut untuk balas menentang, namun sosok Seonye telah datang lebih dulu ke arahnya.

“Jiyeon? Kau sudah datang? Omeo, saya tidak menyangka kau akan datang secepat ini di hari pertamamu bekerja.” Seonye mengulas senyum menawannya ketika menyambut kehadiran Jiyeon. Jiyeon menoleh ke arah Seonye yang tengah tersenyum ke arahnya, kemudian luapan emosi mengenai kemarahannya segera tertindih oleh rasa senang. Seonye rupanya masih mau bersikap ramah padanya.

Jiyeon menganggukkan kepala dengan sedikit bungkukkan badan. “Saya sangat tersanjung bisa bekerja di sini, maka dari itu saya memilih untuk datang cepat.” Jiyeon membalas ramah. Seonye mengangguk singkat, kemudian wanita itu menunjukkan kepada Jiyeon di mana tempat penyimpanan seragam pegawai kafe.

Ruang ganti yang memuat pakaian-pakaian seragam itu tidak besar dan tidak sempit, Jiyeon memperkitakan luasnya nyaris selaras dengan kamar mandi di rumahnya. Jiyeon diberikan pakaian sederhana dengan apron putih yang menggambarkan lambang kafenya, ini kali pertama Jiyeon mengenakan seragam kerjanya.

Ia berbalik, membelakangi lemari pakaian dan menghadap cermin yang merefleksikan dirinya. Ia melihat pantulan wajah dan tubuhnya yang telah dibalut seragam berwarn biru langit. Ia membentuk sesimpul senyum, membayangkan bagaimana reaksi Myungsoo jika pria itu melihatnya sekarang. Dibandingkan dengan pakaian kerja Myungsoo yang formal, milik Jiyeon justru lebih sederhana.

“Kau siapa?” suara seorang gadis membuatnya tersentak dan mengalihkan pandangan dari permukaan datar cermin. Ia menoleh pada pintu dan menemukan seorang gadis bertopi tengah memandangnya bingung. Jiyeon mengerjap, kemudian terburu-buru memalingkan tubuh ke arah gadis itu.

“Selamat pagi. Aku Jiyeon, karyawan baru di sini, mohon ban—”

“—keluarlah!” gadis bertopi dengan lipstik merah menyala itu menyergap lebih cepat dibanding Jiyeon, menyela ucapannya. Jiyeon lagi-lagi dibuat tersentak yang kedua kalinya di ruang ganti tersebut. Ia melangkah perlahan-lahan mendekati pintu yang berdekatan dengan raga gadis itu.

“Baiklah. Permisi.” Sebelum Jiyeon paham sepenuhnya, gadis bertopi tadi telah lebih dulu melayangkan pandangan enggan ke arah Jiyeon. Jiyeon mengerutkan keningnya selepas dengan keluarnya ia dari ruang ganti, Jiyeon merenung memandangi ujung sepatu kets-nya. Ia tidak tahu jelas, tetapi ia mendapati dua orang telah mendorongnya dengan kata-kata ketus. Jiyeon tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat, namun ia seperti tidak disambut ramah oleh pegawai lainnya di kafe tempat bekerjanya.

.

.

Shift pagi Jiyeon telah usai, ia diizinkan untuk beristirahat hingga siang, dan tugasnya diambil alih oleh gadis yang sejak pagi selalu memasang wajah masam ketika melihatnya. Jiyeon menilik sesaat nama yang tergores di papan namanya, Naeun.

Jiyeon tidak pernah benar-benar menjalin keakraban dengan seseorang sebelumnya, biasanya orang-orang yang mendekatinya untuk berkenalan dan bersosialisasi, ia tidak pernah mendekati orang. Untuk meraih pengalaman baru, Jiyeon berdehem dan mengukir senyum ke arah Soyeon.

“Naeun-ssi, sekarang giliranmu menjaga kasir? Kalau begitu silakan. Oh, apa kau belum tahu cara mamakai mesin—eh?” Jiyeon memandang ragu ke arah Naeun yang tengah mengerling malas, kemudian sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat, gadis itu telah lebih dulu terduduk di bangku kasir tanpa peduli pada kalimat Jiyeon. Jiyeon mengerjap bingung.

“Aku sudah bertahun-tahun di sini.” Naeun berujar seolah menuai informasi pada Jiyeon. Jiyeon mengangguk kaku dengan gumaman paham. “Oh, kalau begitu kau sudah lebih paham dariku, ya?” Jiyeon membalas, sekadar mencairkan suasana, karena sebelumnya ia tidak pernah dekat dengan orang-orang.

“Tentu saja, jangan berpikir aku masih amatir.” Seiring dengan luncuran kalimat itu, Jiyeon merasa harus mundur membiarkan Neun bekerja tanpa gangguannya. Naeun tampak lebih ketus jika dibandingkan dengan pegawai lainnya, dan itu membuat niat Jiyeon untuk bersosialisasi terasa hambar dan akan hancur.

Gadis itu melepas apron yang merupakan pakaian kasir, menyisakan kemeja biru langit. Gadis itu meletakkan apronnya di dalam ruang ganti, kemudian melangkah keluar untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Ia memilih untuk duduk di salah satu meja kafe yang sepi dan tersudut di antara keramaian pengunjung.

Ia mengeluarkan ponsel, dan menemukan notifikasi telah dipenuhi oleh nama Myungsoo dan Sungyeol. Sungyeol memang masih mendekatinya—ia bilang, teman dan Myungsoo sudah tidak peduli dengan hal itu, Myungsoo merasa terlalu kekanakan jika ia cemburu hanya karena Jiyeon berdekatan dengan pria lain.

Jiyeon menggubris notifikasi dari Sungyeol dan lebih memilih membuka email dari Myungsoo-nya. Bibirnya mengukir senyum lebar, menepis wewangian kopi dan kue yang menguar di udara kafe serta berisik samar pengunjung. Jiyeon seperti memiliki dunianya sendiri.

From: Myungsoo
Subject: None

Jiyeon-ah, aku sudah mendarat di Osaka. Kau sedang apa?

Jiyeon menutup wajahnya dengan ponsel untuk menyembunyikan wajahnya yang tersenyum, kemudian mengintip suasana kafe melalui celah jari yang menutupi wajahnya. Ia mengembuskan napas dengan wajah memerah, mendadak ia merasa konyol karena berlaku layaknya remaja kasmaran.

To: Myungsoo
Subject: re: None

Benarkah? Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sedang di tempat kerja, beristirahat.

Kemudian ia menekan layar untuk mengirim pesannya. Sembari menunggu waktu istirahatnya berakhir, Jiyeon menyesap susu dengan sedotan, ia mengamati suasana kafe yang masih sibuk, kemudian ia menemukan pegawai lainnya yang sedang beristirahat—sama seperti dirinya. Mereka mengobrol di meja pegawai dengan posisi melingkar seolah sedang membicarakan topik yang terkesan privasi, namun tetap menyenangkan. Jiyeon dapat mengetahui bahwa wajah mereka tampak akrab, Jiyeon jadi ingin bergabung.

Namun sebelum ia benar-benar bangkit untuk menghampiri teman-teman berprofesi pegawai seperti dirinya itu, kepalanya lebih dulu memutar masa di mana ia tampak disudutkan oleh tiga orang pegawai lain sejak ia menginjakkan kaki di kafe.

Naeun salah satunya, dan itu membuat ia urung. Ia merasa akan gagal untuk bersosialisasi lebih jauh dengan orang-orang. Mendadak, ia merenung memikirkan bagaimana caranya ia bisa mendapat banyak teman, sementara mereka semua selalu memojokkannya.

Gadis itu berjengit ketika merasakan ponsel di genggamannya bergetar halus. Ia sontak mengalihkan pandangannya pada layar yang berkerlip menampilkan nama Myungsoo sebagai ID pemanggil. Jiyeon berkedip beberapa saat, dengan hati yang masih dikeruhkan oleh keraguan, Jiyeon menerima panggilan Myungsoo. Sebelum benar-benar mndekatkan ponsel ke telinga, Jiyeon menarik napasnya. Ia tidak begitu semangat lagi sejak melihat rekan kerjanya yang lain masih menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol akrab di salah satu meja pegawai.

“Halo?” sapanya dengan suara berdengung. Terdapat jeda beberapa detik di seberang sana, Jiyeon dapat mendengar suara ramai bandara sebagai latar belakang kesunyian di ponselnya serta embusan napas teratur milik Myungsoo.

“Myung?” Jiyeon mengerutkan keningnya ketika merasa bingung. “Jiyeon?Kenapa dengan suaramu?” tanya Myungsoo, membuat Jiyeon tersadar bahwa suara Myungsoo telah membuatnya rindu. “Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku baik-baik saja.” Jiyeon membalas dengan senyum yang terselip di wajahnya.

Yakin? Kau ada masalah?” suara Myungsoo kembali terdengar, kali ini memastikan. Jiyeon harus tertawa kecil ketika mendengar nada main-main dari kalimat yang ditanyakan Myungsoo. Gadis itu melempar pandangannya pada teman-temannya yang masih mengobrol melingkar di meja pegawai dengan akrab, kemudian menarik napas sebelum berkata.

“Tidak ada.” Disusul dengan embusan napas panjang yang sarat akan keraguan. Kembali, keheningan mengisi jeda. Myungsoo yang pada saat itu tengah terduduk di bangku bandara kemudian mengulum bibirnya dengan alis tertekuk bingung. Selalu, ketika Jiyeon jauh darinya, istrinya itu akan mendapat masalah yang tidak ia ketahui.

Baiklah,” Jiyeon tidak menyahuti Myungsoo, melainkan diam mengaduk susu dengan sedotan. “Bagaimana hari pertama bekerjamu?” lanjut Myungsoo. Jiyeon berkedip, kemudian menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di atas meja. Ia membenarkan letak ponsel di telinganya. Justru itu yang menjadi masalah kecilnya, ia tidak begitu senang dengan hari pertamanya bekerja.

“Menyenangkan.” Balas Jiyeon singkat, ia menyembunyikan gurat iri ketika melihat rekan kerjanya tengah tertawa berbagi lelucon. Tawa mereka meledak memenuhi udara dan itu cukup sampai ke ponsel Jiyeon.

Benarkah?” Myungsoo memastikan lagi. Kali ini Jiyeon mulai bosan dengan Myungsoo yang terus-terusan memberikan pendapat kepastian. Jiyeon mengangguk kecil, meski ia tahu, Myungsoo tidak akan melihatnya.

“Sungguh, aku baik. Omong-omong, kau sudah di bandara, bukan? Lalu apa jadwalmu setelah ini?” Jiyeon buru-buru mengganti topik pembicaraan agar tidak menjerumuskan Myungsoo pada kekhawatiran. Myungsoo menggumam kecil, Jiyeon menunggunya dengan tenang.

Aku sedang menunggu Sooji. Ia pasangan kerjaku selama di Nagano.” Jiyeon menelengkan kepalanya. “Tapi, kau bilang tidak ada partner kerja wanita yang ada di dekatmu—”

“—Jiyeon-ah, jangan mulai.

Fine, Myungsoo,fine. Maafkan aku.” Jiyeon meminta maaf ketika mendengar suara Myungsoo yang teredam marah. Jiyeon menggaruk belakang telinganya, menanti kalimat yang akan Myungsoo berikan padanya. Ketika gadis itu menemukan keheningan kembali menderai nada sambung di ponsel, Jiyeon memejamkan mata dan membuang napas.

“Baiklah, Myungie. Maaf, aku masih belum bisa menghilangkan sikap itu. Kau risih dengan itu?” denting piring dan gelas kristal yang beradu mengiring pertanyaan Jiyeon. Lagi-lagi, Myungsoo tidak menyahut, Jiyeon berpikir Myungsoo tengah menahan marahnya.

“Aku tidak akan seperti itu lagi. Oke, Myung. Jaga dirimu baik-baik di sana. Makan teratur dan jangan lupa istrahat. Kalau kau tidak punya waktu untuk menghubungiku, kau tidak perlu mengabarkanku, aku bisa—”

“—tidak, Jiyeon.” Myungsoo menyela di antara sambungan teleponnya yang putus-putus karena jangkauan sinyal yang jauh antarnegara. Jiyeon mengerjap, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diluncurkan oleh Myungsoo. “Ugh, kau tahu—ini bahkan baru beberapa jam aku meninggalkanmu, tetapi sekarang aku sudah merindukan suaramu.” Myungsoo menyambungnya dengan suara teredam napas. Sementara itu, jemari Jiyeon satu masa dalam detik segera terasa kaku, ia berkedip berkali-kali dengan mulut yang terbuka, namun membentuk senyum.

Ia menutup kelopaknya rapat-rapat. Menghadang mulutnya dengan telapak tangan sembari memekik dalam diam seperti seorang fangirl yang baru saja mendapat pelukan gratis dari idolanya. Suara dalam Myungsoo yang menggema melewati ponselnya tetap mengetuk jantungnya dengan keras, ia merasakan perutnya tergelitik ketika Myungsoo mengaku bahwa ia merindukan Jiyeon.

“Oh, merindukan suaraku? Hanya suara?” setelah menenangkan jantungnya yang terpompa cepat, Jiyeon bertanya main-main. Wajahnya merona tipis.

Tidak, tidak. Aku merindukanmu. Kau, bukan suaramu.

Jiyeon tertegun mendengarkan penuturan lancar Myungsoo-nya. Punggungnya terempas pada sandaran bangku kafe. Tidak sadar bahwa pengunjung kafenya kian ramai dan menumpuk bising, ia justru malah merasa telinganya sepi, digantikan oleh dinding jantungnya yang yang bergetar keras.

“Oke, oke, Myungsoo. Kau mulai cheesy.” Jiyeon menyergap, meski jauh di dalam benaknya, terselubung seulir perasaan bahagia yang tergambar melalui senyumnya. Terdengar gerutuan kecil di ponselnya, ia tahu Myungsoo kini tengah mengeluh karena ucapannya dianggap main-main oleh Jiyeon.

Kemudian sebuncah perasaan senang itu menjelma menjadi tawa manis dari Jiyeon. Ia meluapkan kebahagiaannya dengan wajah memerah karena seluruh darahnya naik ke pipi. “Baik, Myungsoo. Sama sepertimu, aku juga merindukanmu.” Myungsoo membalasnya dengan senyum, selagi Myungsoo di ujung sana juga turut mengukir senyum.

Aku akan pulang secepatnya ketika seluruh promosiku telah usai. Aku janji akan membawakanmu oleh-oleh. Kau mau oleh-oleh apa?

Jiyeon menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya ingin dirimu kembali dengan selamat.” Mendengar kalimat yang diberikan oleh Jiyeon, Myungsoo menyeringai tipis. Ia yang tengah bersandar pada sandaran bangku bandara, kemudian mengembuskan napas.

Oke, sekarang siapa yang cheesy di sini?” Myungsoo menggoda istrinya, disambut tawa keras dari Jiyeon. Seperti khasnya, Jiyeon akan mengeluarkan air mata ketika tawanya meledak besar. Tidak sadar akan tawanya yang besar, lirikan mata dari sekumpul temannya yang melingkar di meja pegawai itu menoleh. Perhatiannya tertarik oleh sumber bising tersebut

“Myungie, jangan lupa pesanku tadi ya. Jangan sampai sakit.” Jiyeon yang tidak mengetahui tatapan itu kemudian melanjutkan percakapannya dengan seseorang di balik ponselnya.

“Yang ada justru kau yang harus menjaga dirimu baik-baik selama tidak ada diriku.” Jiyeon tersenyum, ia sadar bahwa perkataan Myungsoo adalah kebenaran yang harus ia akui. Ia memang sempat berpikir apa yang harus ia lakukan tanpa Myungsoo nantinya, dan baginya hanya dengan berkontak melalui ponsel, Jiyeon akan menancap suatu status baik-baik saja.

“Omong-omong, kita bisa menelepon di lain waktu ‘kan? Sekarang aku harus bergegas.” Suara Myungsoo kembali terdengar, kali ini disertai nada tergesa. Jiyeon melonjak karena tidak terima dengan keputusan Myungsoo untuk menyudahi percakapan mereka. Jiyeon memajukan bibir bawahnya kecewa, mendadak ia tidak lagi memedulikan susunya.

“Hm, padahal aku ingin mengobrol lebih panjang denganmu.” Rajuknya sembari menggaruk hidung. Myungsoo terkekeh kecil, kemudian ia berkata, “Hei, kita masih punya banyak waktu, oke? Ini bukan kali terakhir kita akan mengobrol.”

“Baiklah. Dah, Sayang.” Jiyeon tersenyum ke arah meja, seolah di atas permukaan meja itu tampak wajah Myungsoo. Myungsoo mengulum bibirnya agar tidak membentuk senyum kelewat lebar ketika mendengar kata-kata terakhir yang dilepaskan istrinya.

“I will miss you so much. Daaaaah~

Kemudian Jiyeon memutuskan sambungan telepon dengan jantung yang masih bergetar kecil. Jiyeon tersenyum menyimpan ponselnya, ia seperti telah mendapat banyak energi dari suara berat Myungsoo yang menggema di telinganya. Gadis itu baru saja akan kembali menikmati waktu istirahatnya dengan menyesap susunya ketika matanya telah lebih dulu mendapati beberapa pasang netra tengah memandangnya tidak senang.

Ia lupa jika ia masih memiliki masalah dengan teman-teman pegawainya yang sejak pagi terus memojokkannya.

.

.

Myungsoo menyimpan ponselnya ketika melihat pesawat tempat Sooji berada telah mendarat sempurna di bandara, mengakhiri sesi percakapannya dengan Jiyeon dan lebih terfokus lagi pada niat awalnya mendatangi Negeri Sakura ini.

Sesaat, sebelum benar-benar bangkit untuk meninggalkan bangku tunggu, Myungsoo memandangi arsitektur yang terdesain di sekeliling bandara. Meski ia akui, bandara di negaranya jauh lebih baik dari Jepang, tetapi ia juga tidak menyangkal bahwa bandara Jepan seperti memiliki ketertarika tersendiri dari segi dekor dan artistik.

“Myungsoo Oppa? Sudah menunggu lama?” suara manis seorang wanita mengejutkannya. Pria itu menoleh ke arah depan dan telah mendapati Sooji berdiri di sana dengan koper merah di tangan kanannya. Myungsoo mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa benar jika orang yang ada di depannya ini adalah Sooji.

“Sooji? Kapan kau sampai?” Myungsoo segera mengambil alih koper di genggaman Sooji agar ia yang membawanya, kemudian ia mengajak Sooji untuk mengikuti langkahnya ke lapangan Jiyeonir kendaraan.

“Seperti yang Oppalihat. Omong-omong, maaf jika Oppa sudah menungguku terlalu lama.” Sooji memohon maafnya pada Myungsoo, disambut senyuman tipis oleh pria jangkung itu. Myungsoo menyimpan koper Sooji di bagasi mobil yang telah ia sewa dari pihak kantornya, kemudian ia memasuki mobil sisi kemudi, diikuti Sooji di sebelahnya.

“Kau lapar? Apa kita harus makan dulu?” Myungsoo memberi pertanyaan untuk mendapatkan pendapat dari Sooji ketika ia menghidupkan mesin mobil. Sooji berpikir sejenak, kemuidan ia mengangguk tanpa berlama-lama lagi. Myungsoo memandang wajah Sooji yang saat itu tengah tersenyum sembari mengangguk.

“Aku juga sudah lapar. Kita akan makan di mana? Kudengar ada restoran bagus di—” untuk kelanjutan kalimat Sooji, Myungsoo sudah tidak benar-benar mendengarkannya, ia lebih terfokus pada paras cantik dan dewasa yang dihadirkan Sooji dalam wajahnya. Myungsoo berpikir bahwa bahkan Sooji lebih tua setahun dari Jiyeon-nya, tetapi gadis di sampingnya ini memiliki rasa hormat yang besar sehingga memanggilnya dengan sebutan Oppa, berbeda dengan Jiyeon—yang lebih muda satu tahun dari Sooji—tetapi malah lebih kerap memanggilnya akrab seperti; Myung, Myungie, Myungsoo-ya, Sayang.

Sooji memang patut menjadi wanita terbaik di dunia perbisnisan, ditilik dari penampilan hingga pembawaannya yang unik, Sooji jelaslah seorang wanita yang wajib digandrungi banyak pria.

Oppa? Oppa mendengarkanku?” suara Sooji membangunkan Myungsoo dari lamunannya, pria itu berkedip beberapa kali, kemudian ia tersadar bahwa Sooji tengah memandangnya dengan kerutan di dahi karena bingung. Pria itu berdehem, kemudian memutuskan untuk memutar gigi mobil.

“Maaf, Sooji-ah—kita bisa mencari tempat makan yang dekat dengan hotel kalau begitu.” Myungsoo terburu-buru meluruskan ketika Sooji masih memandangnya bingung. Sooji mengangguk paham diikuti mulutnya yang membentuk lingkaran dan dengungan paham.

.

.

“Aku rasa, hampir seluruh makanan Jepang tidak ada yang tidak lezat.” Celetuk Sooji ketika mulutnya telah disinggahi donburi yang ia beli di rumah makan dekat hotel tempat ia dan Myungsoo akan tinggal selama di Jepang. Ia menarik belut Unagi yang telah termasak matang di mangkuknya, kemudian kembali menyantapnya.

Sementara itu, Myungsoo hanya tersenyum kecil. Ia tidak pernah betul-betul mengindahkan setiap ocehan gadis lain—selain Jiyeon—dan itu membuatnya bingung ingin menjawab apa.

“Tapi, kurasa ini persis seperti mandu.” Myungsoo mengacungkan gyoza berisi udang yang dilapis adonan kulit tepung di antara capitan sumpitnya. Sooji mengerling ke arah gyoza yang ditunjukkan Myungsoo, kemudian ia mengaut satu di buah di piring Myungsoo untuk mencicipinya.

Oppa benar. Tapi sungguh, ini tetap enak.” Sooji tersenyum lebar, membuat Myungsoo ikut tersenyum bahkan tertawa kecil. Rumah makan Jepang terlihat sederhana tetapi tetap sukses menawarkan kuliner masakan dan minuman yang patut dicoba oleh setiap wisatawan dan turis asing yang singgah ke Jepang. Kendati tujuan utama Myungsoo dan Sooji bukanlah sebagai wisatawan, tetapi tetap saja kuliner Jepang tidak boleh terlewatkan.

“Aku harus membawa banyak makanan Jepang sebelum pulang ke Korea.” Sooji tertawa kecil ketika mengatakannya, tidak sadar bahwa pria yang duduk di hadapannya itu juga ingin tertawa ketika mendengarkan kalimat iseng wanita itu.

Sooji—meski terlihat lugas dari luar, ia tetap seorang wanita yang mengasyikkan di mata Myungsoo. Terlebih ketika mengetahui bahwa Sooji rupanya cukup memiliki porsi yang besar jika menyangkut soal makan. Berbeda dengan Jiyeon yang kesulitan ketika makan, banyak mengeluh dan selalu mempersoalkan lauk yang tidak lezat. Ia lebih senang meyantap permen kapas dan sereal cokelat sebagai cemilannya.

Mengingat Jiyeon, Myungsoo menjadi merenung. Ia memandangi sumpit yang ada di tangannya dengan kepala yang meneleng beberapa derajat. Jendela kaca di sebelah kanannya menampilkan wajah-wajah Asia, khas warga negara Jepang yang tengah berseliweran di trotoar.

Myungsoo mengkhawatirkan Jiyeon. Di antara rangkaian kerinduan yang membuncah di dadanya, terselip kekhawatiran yang sejak awal ia kubur dalam-dalam. Jiyeon pasti kesulitan menjalani hari-harinya tanp Myungsoo. Dan, entah ia sedang apa sekarang.

Oppa! Kenapa Oppa jadi sering melamun?” suara Sooji menyuruk di antara berisik rumah makan Jepang, beradu dengan lontaran bahasa Jepang yang asing di telinganya. Myungsoo menoleh ke arah Sooji, baru saja ia akan berucap ketika matanya lebih dulu melirik segores saus di pipi Sooji. Myungsoo terdiam beberapa saat, kemudian memutuskan untuk menegur wanita itu.

“Sooji-ah, wajahmu kotor.” Myungsoo mengingatkan sembari mengedikkan dagunya ke arah pipi Sooji. Sooji tersentak dengan mata mengerjap, refleks tangan kanannya mengusap pipi kiri, namun noda saus itu berada di pipi kanannya. Myungsoo menggeleng, mendadak ia ingin tertawa.

“Bukan di sana. Tunggu sebentar, aku punya sapu tangan.” Myungsoo lantas terburu-buru membuka saku dalam jasnya. Ia hendak mencari sapu tangannya, namun yang ia lihat justru adalah sebuah jepit rambut yang nyaris menyerupai karet kuncir. Matanya berkedip ganda. Itu ‘kan milik Jiyeon.

Myungsoo ingat, Jiyeon memang senang menggunakan jepit rambut untuk poninya ketika sedang mencuci wajah. Dengan alasan agar poninya tidak basah dan juga tida menghabiskan energi listrik dengan menghidupkan hair dryer. Mengingat kalimat Jiyeon saat itu membuat Myungsoo tersenyum kecil.

Kenapa jepit rambut Jiyeon bisa terbawa di saku jasnya? Ah, Jiyeon. Aku jadi semakin merindukanmu.

.

.

Hari sudah menginjak sore, Jiyeon dapat menilik semburat jingga yang ia temukan ketika pertama kali menjejak kafe tempatnya bekerja. Hari yang cukup melelahkan untuknya, ia tidak pernah bekerja hingga sore, bahkan untuk sekolah dan kuliah pun ia tidak pernah pulang hingga sesore ini.

Gadis itu telah mengganti seragamnya dengan pakaian biasa, ia tengah terduduk di atas meja ruang ganti, menunggu teman-temannya selesai berganti dan ia akan mengunci pintu kamar ganti. Sembari menunggu, Jiyeon mengeluarkan ponselnya untuk melihat notifikasi yang diberi oleh Myungsoo.

From: Myungsoo
Subject: re: re: None

Jiyeon-ah, kau harus tahu ini. Jepit rambutmu terbawa di saku jasku, haha.

Jiyeon mengangkat alisnya antusias, ia hendak tertawa ketika membaca pesan Myungsoo, namun ia memutuskan untuk lebih dulu membalas pesan pria itu. Sebelum ia sempat menulis, Naeun telah lebih dulu berjalan melewatinya dengan pakaian kasual—bukan seragam kafe dan itu sukses mengalihkan perhatian Jiyeon.

“Jadi, kau sudah memiliki kekasih? Oh, pantas saja tadi siang kau beristirahat dengan ponselmu.” Naeun berujar datar, entah ia berkata dengan siapa. Jiyeon tidak yakin, karena saat ini gadis bersurai gelombang itu tengah merapikan seragam dan meletakkannya di dalam lemari tanpa menoleh ke arahnya. Jiyeon menggaruk alisnya, bingung ingin menjawab apa. Ia hanya sedang teringat bahwa Naeun telah bertingkah menyebalkan padanya sejak pagi hingga sore ini, sehingga Jiyeon menjadi enggan untuk mengajaknya bicara lagi.

Yak! Aku berbicara padamu!” mendadak ia menuding Jiyeon dengan telunjuknya, keningnya berkerut tidak senang dengan keterdiaman Jiyeon. Jiyeon refleks menegakkan tubuh dan menuturkan kata maaf berkali-kali. “Maaf, aku tidak tahu.”

Namun, Naeun tidak menanggapinya dan memilih untuk melengos pergi meninggalkan Jiyeon yang tercenung. Gadis itu mengatupkan bibirnya, ia hendak memaki gadis bernama Naeun itu, seperti kebiasaannya ketika temperamennya melunjak, namun ia sadar bahwa itu tidak begitu berguna sekarang.

Jiyeon bangkit dari posisinya dan beralih menuju pintu keluar ruang ganti, ia hendak mengunci pintu ruang ganti ketika pendengarannya menangkap serua seorang gadis di belakangnya.

“Sungguh, dia tampan sekali di drama terbarunya itu.” Jiyeon tidak cukup mengenal suaranya, namun ketika ia berbalik, ia mendapati gadis bertopi yang tadi pagi ia temui di ruang ganti kini tengah berbincang dengan salah satu temannya yang berkacamata. Jiyeon baru menyadarinya bahwa karyawan di kafe Undegree memang banyak, tidak hanya satu dua.

“Benar. Meski ia memakai kacamata, tetap saja kadar ketampanannya tidak tertandingi.” Gadis berkacamata itu menanggapi semangat, sementara beberapa pria yang juga merupakan pegawai di sana tampak berdecih ketika mendengar jeritan gadis-gadis.

“Seperti tidak ada pria tampan lainnya saja selain saja. Woi, asalkan kalian tahu, drama The King of Class itu tidak bermutu.” Jiyeon yang baru saja melangkah melewati sekumpul teman-temannya itu segera menghentikan langkah ketika mendengar titel drama yang baru saja disebut oleh seorang pria yang diketahui Jiyeon sebagai salah satu koki di kafe.

“The King of Class? Apa? Kalian juga menyukai drama itu? Aku juga sel—” Jiyeon nyaris menjerit karena akhirnya menemukan orang-orang yang juga menyukai drama yang ia sukai, namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Naeun telah lebih dulu berkata pada pria tadi.

“Yixing-ah, seharusnya kau lebih banyak belajar menilik pria-pria tampan di drama itu. Lagipula drama itu bagus!” Naeun memberikan argumen. Sementara itu, gadis bermata besar yang sejak tadi diam merapikan sisa piring di meja pengunjung kemudian menyahut.

“Benar! Bagi kalian yang tidak tahu arti pertemanan, pasti akan segera menemukannya di drama itu. Sungguh, itu drama yang sangat bagus!” Jiyeon mengamati teman-temannya yang masih asyik mengobrol dan Naeun yang sempat memenggal kalimatnya. Ia yakin, barusan ia berbicara dengan suara yang cukup keras, tetapi kenapa mereka menggubrisnya.

“Sudahlah. Terkadang penggemar wanita itu berlebihan. Cobalah sekali-sekali kalian melihat lagu Western. Oh, atau dengarkan aransemen musik dari Zedd, Hardwell, Muse, oh—atau paling tidak Coldplay.” Pria lain yang ditemui Jiyeon sebagai pengantar makanan itu berkata seraya mengunyah permen karet. Jiyeon berkedip kecil ketika mendengar kata Coldplay.

Ia hendak bergabung di antara percakapan itu, tetapi ketika mulutnya sudah terbuka, ia merasa sungkan. Tidak, sebelum ia kembali digubris, jadi lebih baik ia mengurungkan niatnya dan melangkah mengeluari kafe untuk pulang. Hari pertama bekerja yang tidak begitu menyenangkan, mengingat seluruh pegawai seperti menyudutkannya. Meski begitu, Jiyeon sadar semestinya ia tidak perlu merasa cemas lagi, bukankah ia dulu juga selalu mengalami hal yang sama di masa sekolah?

Selepas kepergian Jiyeon, Naeun sesegera mungkin memutar topik pembicaraan. “Hei, hei. Menurut kalian, bagaimana dengan gadis tadi? Maksudku, well, pegawai baru tadi.” Tutur Naeun, disambut kernyitan di dahi Yixing.

“Entahlah, sejak dulu aku selalu tidak suka dengan pendatang baru.” Komentar Yixing seadanya dan sejujurnya. Namjoo menelengkan kepala setelah meletakkan nampan di dekat konter pemesanan. Gadis itu duduk di sebelah Naeun, kemudian berdengung.

“Aku sama seperti Yixing. Mungkin untuk awal ini, aku tidak begitu menyukainya. Kulihat kau mengganggunya terus, ada apa, Naeun?” Namjoo mengutarakan pertanyaannya. Kemudian Naeun mengulum senyum tipis.

“Entahlah, aku tertarik dengan semua pegawai baru. Hitung-hitung mengerjai orang dengan cara memojokkannya tidak buruk, bukan?’

.

.

Jiyeon memasuki area perumahannya dengan ponsel yang merekat di telinganya. Musim gugur telah menginjak hari pertama, dan itu sanggup membuat kulit Jiyeon terbuai oleh angin.

“Baiklah, aku menyerah. Aku memang punya masalah, tadi pagi aku tidak ingin memberi tahu padamu.” Jiyeon merengut, langkahnya ia bawa berayun dengan sesekali menendang kerikil di jalan. Ia mengerutkan dahinya ketika mendengar tawa dari seberang teleponnya.

Myungsoo telah mengabarinya melalui pesan bahwa pria itu memiliki waktu luang yang banyak di hari pertama, sehingga Jiyeon dapat berleluasa meminta izin untuk menelepon suaminya. Jadi, beginilah ia sekarang. Tidak peduli lagi dengan tagihan pulsanya yang bisa saja naik karena menyambung panggilan antarnegara.

Jiyeon awalnya tidak ingin membebani Myungsoo dengan mengumbar masalah yang ia dapati di hari pertamanya bekerja. Namun, setelah menghadapi begitu banyak hal yang dirisaukannya, Jiyeon memilih untuk meluapkannya pada Myungsoo. Ia selalu yakin, hanya pada Myungsoo ia dapat menemuka solusi dan kepalanya dapat bergerak lurus dan dingin.

Oke, biar kutebak. Masalahmu itu pasti… berkisar tentang hari pertama bekerjamu dan—soal sosialisasi yang sulit kaujalin, benar?” Jiyeon menginjak daun kering yang jatuh di tanah, menimbulkan bunyi samar gemeresak. Gadis itu menyentakkan wajah untuk menghalau rambut yang menutup matanya, kemudian mendengus selama mendengarkan terkaan Myungsoo.

Myungsoo selalu benar. Kadang kala hal itu menguntungkannya, tetapi juga merugikannya di saat-saat tertentu.

“Benar. Huft—Myungsoo, aku tidak tahu kenapa. Setiap kali aku ingin memiliki teman, tidak ada yang mau mendekatiku. Salahku apaaaa~?” Jiyeon menuai nada merengek di akhir kalimatnya, membuat Myungsoo yang kala itu tenga berbaring miring di ranjang hotel segera membekap mulut untuk tidak tertawa.

Jiyeon menghentakkan kakinya, tidak sabar ingin segera membuka pintu gerbang rumahnya yang kini telah tampak beberapa meter di depannya. Dengan diikuti sinar matahari sore, Jiyeon mengais tas untuk mencari kunci pintu gerbang.

“Padahal untuk mendapatkan teman itu tampaknya—mudah. Itu salah satu keinginanku yang sepertinya mudah digapai, ternyata sama sukarnya dengan menunggumu pulang dari Nagano.” Jiyeon merengut, memutar kunci di lubang gembok.

Jiyi,” Myungsoo memanggil nama Jiyeon dengan panggilan kesayangannya, kemudian pria itu berbaring lurus menghadap langit-langit kamar hotel yang sederhana. Terdengar dengungan tanda sahutan dari Jiyeon. “Tidak semua keinginanmu akan tercapai dengan mudah.” Jiyeon berkedip cepat untuk beberapa kali setelah menutup gerbang dan berbalik untuk menemui pintu utama rumahnya.

“Apa maksudmu?”

Terkadang kau harus mengisinya dengan usaha untuk mendapatkan keinginanmu.” Jiyeon tercenung sesaat dengan sepasang alis terangkat heran dengan ucapan Myungsoo. Sementara itu, Myungsoo diseberang telepon tengah menekan bibir, khawatir jika Jiyeon gagal paham dengan kalimatnya.

Hening menemani sambunga telepon, sementara itu Jiyeon telah kembali bergerak menuju sofa rumah dan mengempaskan tubuhnya di sana. “Jadi, aku harus berusaha untuk mendapatkan keinginanku?” tanya Jiyeon, ia menyatukan kabel earphone pada ponselnya, kemudian memasang bandulnya ke telinga agar dapat mendengar lebih jelas suara Myungsoo-nya.

Ia berbaring di sofa, sama seperti Myungsoo yang juga tengah berbaring di ranjang hotel dengan mata yang mengerling ke arah langit-langit kamar. Sementara itu, Jiyeon memainkan kabel earphone-nya, menanti balasan dari Myungsoo.

Benar. Hidup juga membutuhkan usaha.”

Jiyeon merenung, Myungsoo benar. Ia memang jarang berusaha ketika menginginkan sesuatu, gadis itu terlalu malas untuk bergerak dan mencoba. Sementara senyumnya terukir, perasaan hangat itu menjalar di jantungnya, menekan-nekan luapan bahagia ketika jaringan otaknya membentuk sebuah pemikiran bahwa orang yang baru saja menasihatinya adalah Myungsoo, suaminya.

“Terima kasih, Myung. Cepatlah pulang.” Dan ucapan manjanya itu sukses menggelitik perut Myungsoo untuk tersenyum, bahkan tertawa kecil. Siapa pula yang tidak merindukan Jiyeon?

.

.

“TO BE CONTINUED—”

.

.

 

48 responses to “Tension [11]: Willingness #1

  1. Pingback: Tension [12]: Willingness #2/END | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s