Tension [10]: Shame

tension

Setelah lulus total dari dunia perkampusan, Jiyeon memilih untuk beristirahat sejenak dari kesibukan. Ia lebih banyak berdiam di rumah, sesekali mencoba merapikan ruang tengah yang selalu berantakan jika baru disinggahi oleh Myungsoo.

“Kau tak ingin memesan sesuatu padaku?” tanya Myungsoo pagi itu, sembari mengais rambutnya dengan sisir, merapikan helaiannya yang terurai berantakan. Jiyeon yang masih berkutat dengan ponsel di atas ranjang hanya mendengung malas untuk menanggapi.

Myungsoo melempar sisirnya ke arah Jiyeon untuk mengalihkan perhatian gadis itu. “Aw!” Jiyeon meringis ketika ujung sisir mengenai dahinya, spontan jemarinya mengusap dahi. Myungsoo tertawa kecil melihat reaksi Jiyeon, kemudian ia menghampiri gadis yang masih berselimut itu.

“Jiyi, bangun dulu, Sayang.” Myungsoo menyingkap selimut yang menutup tubuh Jiyeon, membuat gadis itu mengeluh karena dingin. Tangannya terulur untuk merampas selimut yang separuhnya diraih oleh tangan Myungsoo.

Please, Myungsoo! Aku ingin tidur!” rayu Jiyeon dengan mata memelas, Myungsoo yang telah menggunakan kemeja kerjanya kemudian menggeleng, ia mengulum bibirnya untuk menahan tawa melihat wajah menggemaskan Jiyeon.

“Tidur sambil chat LINE? Begitu maksudmu?” Myungsoo melirik ponsel yang masih digenggam Jiyeon. Kemudian istrinya itu mendesah kecil, ia meletakkan ponselnya di atas bantal, kemudian bangkit untuk terduduk.

“Baiklah, ada apa memintaku bangun?” tanya Jiyeon, menarik lengan kemeja Myungsoo untuk meminta pria itu duduk di atas ranjang mereka. Jiyeon cukup tahu bahwa Myungsoo akan berbicara serius padanya, maka ia meminta suaminya untuk terduduk lebih dulu.

“Kau sudah lihat brosur yang diberikan promotor kemarin di supermarket?’ Myungsoo memulainya dengan pertanyaan, Jiyeon berpikir sejenak sebelum mengangguk dengan mata berkedip lucu. Myungsoo tersenyum samar.

“Itu adalah brosur promosi dari mall tempatku bekerja.” Kata Myungsoo kemudian, Jiyeon mengerjap antusias. “Benarkah? Lalu?” Jiyeon mengajukan pertanyaan yang mengumpulkan keantusiasannya.

“Aku akan pergi ke Nagano untuk itu.”

Mulanya, Jiyeon selalu berpikir bahwa ia bangga memiliki suami yang dapat sedikitnya mengelola mall besar di kota mereka, namun ketika itu bersangkutan dengan promosi ke luar kota—bahkan negeri—Jiyeon harus mengaku bahwa ia membenci itu.

.

.

Tension [10]: Shame
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2] [Crying #1] [Crying #2/END] [Angel’s Anger #1] [Angel’s Anger #2]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

Beberapa hari terakhir, Myungsoo lebih disibukkan oleh kegiatannya di luar rumah. Sementara itu, Jiyeon yang telah mendapat status lulus universitas dan enggan melanjutkan ke perguruan yang lebih tinggi akhirnya lebih sering mendekam di rumah. Mengaut seluruh cemilan yang dibelikan Myungsoo dan berakhir menonton televisi atau membuat chat bersama teman-temannya.

Mulanya, Jiyeon bisa melewati hari-hari di rumah tanpa Myungsoo, ia merasa aman meskipun Myungsoo tidak ada di sebelahnya. Karena sesekali suaminya meneleponnya di jam makan siang atau istirahat sore, itu telah lebih dari cukup untuk Jiyeon.

Kabar mengenai kepergian Myungsoo ke luar negara telah ia dengar tadi pagi, dan kini ia diliputi perasaan bingung. Perpaduan antara tidak rela karena Myungsoo akan jauh darinya dan menyesal karena selama ini ia tidak berusaha menghabiskan waktunya dengan pria itu.

Gadis itu berguling di atas sofa, memandangi layar datar yang memancarkan warna dimensi. Jiyeon bosan menonton acara televisi, ia menghitung detik—dan tersadar bahwa waktu yang kian terkikis itu akan membawa Myungsoo ke Nagano, menjauh darinya. Jiyeon terduduk tegak di atas sofa dengan kening berkerut memandang jari manisnya, itu yang ia lakukan ketika tengah merindukan Myungsoo, alih-alih memandangi foto Myungsoo, Jiyeon lebih senang memandang cincin pernikahan mereka.

Besok Myungsoo akan pergi ke Nagano, pantas saja semalam Myungsoo telah mempersiapkan koper beserta isinya. Jiyeon tidak begitu acuh pada hal itu, karena saat itu ia lebih tertarik untuk membaca novelnya. Jiyeon memukul keningnya, derai tawa dari televisi menjadi latar belakang keheningan.

“Aduh, apa yang harus aku lakukan?” gumamnya, tidak begitu yakin bahwa ia sedang berbicara sendiri. Jiyeon melirik jam dinding dan mendapati waktu makan siang telah dekat. Ia merenung, berpikir-pikir apakah Myungsoo sudah makan siang atau belum. Dan, apa menu makan siangnya.

Sepintas, bayangan mengenai Myungsoo yang memesan makanan terlewat di kepalanya. Ia membayangkan bagaimana jika Myungsoo menyantap makanan beracun, dan itu membuatnya bergidik. Sebelumnya, Myungsoo tidak pernah terserang sakit, sebanyak apapun kegiatan yang dipikulnya, seletih apapun Myungsoo menerima pekerjaan, pria itu tak akan mudah sakit—bahkan ia tidak mudah terserang penyakit ringan seperti pusing dan flu sekalipun, Myungsoo tidak pernah terlihat sakit-sakitan di depan Jiyeon.

Jiyeon harus mengaku bahwa Myungsoo jauh lebih gesit jika dibandingkan dirinya. Ketika Myungsoo mendapat kepercayaan dari seseorang, ia akan menjanjikannya. Berbeda dengan Jiyeon yang begitu perhitungan dan membuatnya mudah mengeluh.

Myungsoo jauh lebih disiplin dibanding dirinya. Myungsoo tahu apa hal yang harus dilakukannya ketika memiliki masalah, bandingkan dengan Jiyeon yang hanya dapat menangis ketika masalah itu telah menumpuk. Itulah sebabnya, Myungsoo lebih mudah mencegah penyakit yang akan datang menyerang daya tahannya, ia dapat berpikir lebih ke depan, tanpa melupakan hal-hal di belakangnya.

Jiyeon mengerang, mengingat seluruh kebiasaan dan watak Myungsoo hanya membuat gadis itu merindu. Jiyeon memejamkan matanya sembari memeluk bantal sofa, ia ingin seperti Myungsoo-nya.

Kim Myungsoo yang bisa menjadi lembut dan tegas dalam waktu yang sama. Dewasa dan menggemaskan. Protektif dan penyayang. Mudah mengalah, tetapi adil. Tidak pernah mengeluh dan berjuang keras.

Jiyeon mengerucutkan bibirnya, ia menemukan begitu banyak kesempurnaan dari Myungsoo dan merasa bodoh setelah membandingkan kesempurnaan itu dengan dirinya. Jiyeon yang manja dan cengeng, kekanakan dan keras kepala, egois dan gegabah. Ia tidak dapat menemukan satu pun hal baik dalam dirinya.

Jiyeon membuang napas, mengatur detak jantungnya ketika hamparan imajinasi membuat hatinya berlabuh di kesedihan. Ia membayangkan bagaimana jika Myungsoo suatu saat nanti akan muak dengannya, lelah dan bahkan membencinya. Mendadak, sepasang mata yang tengah terhadang oleh kelopak mata indahnya itu terasa memanas.

Ia tidak tahu sejak kapan, tetapi air mata kesedihan itu telah mengalir menyembul dari sudut matanya. Ia ingin membuat Myungsoo-nya senang barang sejenak. Tetapi ia tidak bisa.

.

.

Myungsoo mendorong pintu manajernya dari dalam, ia hendak keluar untuk istirahat. Jam istirahat yang seharusnya ia gunakan untuk menyegarkan pikiran dan sejenak terlepas dari segala pekerjaan. Namun, mood-nya telah dibantai habis oleh Junmyeon sejak tadi pagi. Junmyeon yang tiba-tiba meneriaki namanya meminta bantuan untuk mencari flashdisk. Myungsoo sebenarnya tidak pernah mempersoalkan flashdisk berisi dokumen terpentingnya itu, namun ia kesal dengan bagaimana Junmyeon menyalahkannya ketika flashdisk tersebut tidak berfungsi di komputer.

Klimaks dari kemarahan Myungsoo adalah ketika rupanya komputer Junmyeon menyebar virus ke dalam flashdisk-nya. Flashdisk. Ya, flashdisk biasa, dengan panjang lima sentimeter dan lebar tiga sentimeter, berwarna hitam, dihias tali kecil yang menyatu dengan kunci rumah. Flashdisk ‘biasa’ yang menyimpan ratusan dokumen ‘luar biasa’ penting milik Kim Myungsoo. Myungsoo juga tidak akan mengatakan bahwa dokumen itu sangat penting jika bukan karena itu semua adalah tugas yang diberikan oleh Junmyeon.

Myungsoo tidak akan kehabisan mood-nya pula jika bukan karena Junmyeon—sekali lagi, si penghancur flashdisk-nya—itu marah-marah dengan alasan karena ia membutuhkan flashdisk, di samping itu, ia memaki Myungsoo dengan tambahan bahwa flashdisk milik Myungsoo itu tidak berguna dan merepotkan. Sebagai timpalan selanjutnya, Myungsoo mendapati isi di dalam flashdisk pentingnya itu telah raib dimakan virus.

Bagus. Kembali, Myungsoo yang harus mendapat sanksi karena telah kehilangan dokumen kerjanya yang telah terpepet deadline. Myungsoo merutuk Junmyeon berkali-kali di dalam hatinya, tentu saja demi menyelamatkan pekerjaannya, Myungsoo tidak ingin dipecat secara cuma-cuma hanya karena perilakunya tampak buruk di depan atasannya.

Myungsoo memasuki bilik tempatnya bekerja, di seberang tempatnya ada Henry, teman kerjanya yang masih berkutat dengan proposal.

“Kenapa, Myung?” Henry bertanya di balik kertas proposal, Myungsoo hanya mendesah kecil sembari mengangkat bahunya. “Junmyeon-ssi mengamuk, sama seperti minggu lalu.” Myungsoo mengempaskan tubuhnya di atas bangku berodanya, kemudian ia memutar bangku tersebut. Henry tersenyum kecil, kemudian mengangguk.

“Harus banyak bersabar.” Pesan Henry sebelum pria yang lebih tua darinya beberapa tahun itu bangkit. “Aku makan siang dulu, ya? Sampai jumpa.” Pamitnya dengan lambaian singkat dan senyum kecil. Myungsoo mengangguk samar. Ia baru sadar bahwa ini adalah jam makan siang, tetapi ia bahkan tidak sempat untuk memikirkan hal itu. Ia lebih memilih untuk mengulang seluruh isi folder dokumennya yang hilang, dan memulai dari awal.

Baru beberapa menit ia berkutat dengan komputernya, Myungsoo dapat mendengar pintu utama ruang kantor itu terketuk dari luar. Myungsoo menggubrisnya, rekan kerjanya juga menempati ruang yang sama dengannya, bisa jadi itu adalah orang yang akan menemui teman kerjanya yang lain, Henry mungkin.

“Myungsoo-ssi,” seseorang memanggil namanya. Myungsoo masih dengan wajah jengkelnya karena harus mengulang tugasnya itu menoleh malas. Ia menemukan teman kerjanya, seorang wanita ramah yang dikenalnya dengan nama Sunyoung tengah tersenyum tipis ke arahnya. Myungsoo mengernyit, kemudian mendorong bangku rodanya untuk menjauh dari meja komputer.

“Ada apa?” tanya Myungsoo, menegaskan kebingungannya.

“Kau kedatangan tamu.” Dan seiring dengan kalimat sederhana itu terlempar dari Sunyoung, jemari gadis itu teracung pada sosok gadis manis yang tengah menunduk memandangi sepatunya di ambang pintu ruangan kantor. Itu Jiyeon, istrinya.

Myungsoo membelalak, ia tidak menyangka jika Jiyeon akan mengetahui letak kantornya dan untuk apa istrinya mendatanginya langsung ke kantor, Myungsoo tidak tahu. Pria itu bangkit dari bangku rodanya, kemudian mengangguk pada Sunyoung sebagai tanda terima kasihnya karena telah mengingatkannya.

Myungsoo bukannya tidak senang dengan kehadiran Jiyeon di kantornya, namun ia mengenal bagaimana kehadiran Jiyeon yang akan menghancurkan konsentrasinya di kantor, terlebih dalam keadaan dirinya yang harus mengulang seluruh folder dokumentasinya yang terinfeksi virus.

“Jiyeon?” Myungsoo memanggil namanya untuk mengalihkan perhatian. Gadis itu mendongak, kedua tangannya menggenggam tas kertas berwarna cokelat—dan sayangnya, Myungsoo tidak pernah sepeduli itu untuk mengetahui isi dari tas tipis tersebut—ia menarik tangan Jiyeon untuk berdiri di luar pintu kantor, ia tidak ingin Jiyeon-nya masuk ke ruang kantornya, karena Jiyeon bisa merengek kapan saja. Ia hanya tidak ingin teman kantornya terganggu.

“Kenapa kau kemari? Cepat katakan, dan selesaikan keperluanmu sekarang!” titah Myungsoo, sesekali melirik teman-temannya yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka di ruang kantor. Jiyeon merengut, ia tidak memprediksi bahwa Myungsoo akan menyambutnya dengan wajah ketus seperti itu.

“Kenapa, Myung? Aku ‘kan hanya ingin menemanimu di sini. Barang kali kau bosan dan butuh penghib—”

“Oh, Tuhan! Tidak ada yang namanya bosan di kantor seperti ini, oke? Cepat katakan keperluanmu, aku tidak punya banyak waktu!” Myungsoo mengulangi perintahnya, dan Jiyeon dibuat mengerjap kecil. Gadis itu kemudian membuka tas kertasnya, mengeluarkan kotak bekal yang ia simpan di dalamnya. Jiyeon mengulurkannya ke arah Myungsoo, sementara pria itu masih linglung.

“Kau belum makan siang, bukan? Aku kemari untuk membawakanmu makanan.” Jiyeon mengulas senyum kecil, selagi Myungsoo menerima kotak bekal yang diulurkan oleh Jiyeon. Pria itu mengamati sesaat penutup bening yang menagih mata Myungsoo pada lembaran roti panggang—yang sedikitnya hangus itu.

Myungsoo berdecak, ia bahkan sempat mengira jika Jiyeon akan mengabarkan informasi tentang Ibunya yang barang kali kembali jatuh sakit, atau hal penting lainnya. Pria itu meletakkan kotak bekalnya di atas meja dekat pintu, kemudian mengembuskan napas teratur.

“Siapa pula yang ingin makan roti panggang di siang bolong seperti ini, Sayang?” Myungsoo mengurai pertanyaannya yang banyaknya merangkap sindiran. Ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya, kemudian ia dapat beristirahat dengan tenang.

Pria itu berbalik dan melangkah meninggalkan Jiyeon dan kotak bekalnya sendirian di depan pintu. Sebenarnya, Myungsoo dapat menebak—ketika ia melangkah menjauhi Jiyeon, biasanya gadis itu akan berteriak sambil memanggil namanya untuk menghampirinya, tetapi yang ia dapati kali ini hanyalah keheningan dari Jiyeon. Terselip di antara detik mesin tik komputer, harum kopi yang menguar, dan percakapan samar teman-teman di kantornya yang sedang membicarakan promosi ke luar negara besok.

Myungsoo berkedip ketika menyadari perubahan sikap Jiyeon. Ia menghentikan langkah, dan spontan berbalik ke arah Jiyeon ketika penasaran telah mengepungnya hingga tak terbendung. Myungsoo menemukan Jiyeon yang tengah meraih kotak bekalnya, kemudian memandangi kotak itu dengan sesekali mengembuskan napas pendek-pendek. Gadis itu menyimpan kembali kotak bekalnya ke dalam tas kertas, kemudian mendongak untuk melihat langkahnya yang akan membawanya pergi dari ruangan kantor.

Namun matanya telah lebih dulu beradu dengan manik cokelat milik Myungsoo. Gadis itu mengerjap beberapa saat, kemudian tersenyum ketika menemui keheningan. Tanpa melepas kontak matanya, Jiyeon mengais ponsel dalam saku roknya. Ia mengirim pesan singkat pada Myungsoo. Sementara itu, Myungsoo mengambil ponselnya yang ia simpan dalam saku jas. Pria itu membuka pesan singkat yang baru diterimanya dari sosok yang kini tengah berdiri beberapa meter di depannya.

Semangat menyelesaikan tugasmu, Myungsoo! Jangan lupa makan siang.
ps: maaf untuk bekal yang hancur, aku akan mencoba yang lebih baik di lain waktu.

Dah, Sayang.

Beberapa kejap ke depannya, Myungsoo tersadar bahwa bekal yang dibawa Jiyeon barusan adalah bekal buatan istrinya, untuk yang pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya pula Myungsoo menolaknya, ia berharap ini adalah terakhir kalinya Myungsoo menolak bekal buatan istrinya sendiri.

Ketika kepalanya terdongak—melapas kontak dari layar ponselnya—untuk menemukan Jiyeon, gadis itu telah hilang. Pergi meninggalkannya dengan perasaan teradu berantakan.

.

.

Jika Jiyeon boleh berkata jujur, ia sendiri sebenarnya tidak begitu yakin dengan rencananya saat itu. Membuatkan Myungsoo bekal makan siang saja sudah terasa asing dan tidak mungkin, apalagi jika ia membuat sendiri makanannya.

Ia belum siap mendapat nasihat panjang dari Myungsoo ketika nanti pria itu akan melihat keadaan dapur. Jiyeon nyaris menghancurkan separuh ruangan dapur karena kotor, bahkan ia terlalu malas untuk membersihkan kekacauan yang telah ia ciptakan sendiri.

Kini, Jiyeon kembali melangkah meninggalkan gedung mall tempat Myungsoo bekerja untuk menemui rumahnya. Jiyeon sebenarnya masi memikirkan wajah ketus Myungsoo ketika menolak bekalnya. Ia pikir, Myungsoo akan menyambutnya dengan senyuman lebar dan sorot mata teduh seperti biasanya.

Jiyeon hanya ingin mengurangi keburukannya dengan berbuat baik kepada Myungsoo. Tapi, setelah ia pikir-pikir lagi, justru perbuatannya saat ini bisa jadi tidak disukai oleh suaminya. Jiyeon serba salah, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Ponsel pintarnya bergetar di dalam saku, menghentikan langkahnya yang tengah membawanya menuju halte. Gadis itu meraih ponselnya, dan menemukan pesan singkat dari Jiyoung.

Aku menemukan pekerjaan untukmu.

Kemudian, Jiyeon teringat bahwa ia pernah meminta bantuan Jiyoung untuk mencarikannya pekerjaan. Senyumnya merekah kecil ketika membaca pesan tersebut, ia mendadak ingin cepat-cepat bertemu dengan Jiyoung.

.

.

Myungsoo baru saja hendak melangkah menuju bilik tempatnya bekerja ketika salah satu temannya, Zitao, terlihat tertawa-tawa di bangkunya sembari memandangi Myungsoo yang baru saja menyimpan ponselnya.

Myungsoo hendak mendesah kecil karena menyesal telah menolak bekal Jiyeon, namun tampang geli Zitao telah lebih dulu menarik perhatiannya. Ia mengerutkan kening dan menghampiri Zitao yang kini menutup mulutnya.

“Ada apa?” tanya Myungsoo heran. Sejenak, Zitao berusaha menghentikan tawanya. Pria berkantung mata hitam itu meletakkan kertas di genggamannya, kemudian tersenyum kecil, diikuti gelengan kecil.

“Aku baru tahu, masih ada istri yang mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya.” Myungsoo mengerjap, kendati otaknya cukup tanggap untuk memahami maksud kalimat Zitao, Myungsoo tetap memutuskan untuk menjeda beberapa saat, membiarkan pria berponi kelewat pendek itu terkikik geli.

Myungsoo membentuk tukikan di alisnya, menggambar sedikit ekspresi tidak suka kepada Zitao. Ia dapat menyimpulkan bahwa kalimat Zitao barusan adalah kalimat sindiran yang mendekati ejekan secara halus. Myungsoo memutuskan untuk melangkah menjauhi Zitao dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Belum benar-benar ia sampai di bangku, rekan kerjanya yang lain kini telah memandangnya geli sembari menahan tawa. Myungsoo tidak sebodoh itu untuk mengetahui bahwa apa yang membuat mereka tertawa tertahan dengan memandangnya geli seperti itu.

Myungsoo mengepalkan tangan dengan wajah memerah antara marah dan malu. Ia tidak pernah merasa malu sebelumnya jika menyangku persoalan Jiyeon yang kekanakan atau manja, tetapi untuk kali ini—di depan seluruh rekan kerjanya, ia patut merasa malu akan tingkah istrinya.

Myungsoo mengempaskan tubuhnya di atas bangku roda, kemudian memejamkan mata. Ia tidak mengerti, apa yang salah dengan dirinya. Namun sekelebat wajah Jiyeon yang terlewat di pikirannya hanya terlalu banyak mengusik ketenangannya dalam bekerja. Belum selesai betul ia menebak apa sebenarnya keinginan Jiyeon membawakannya bekal, namun egonya telah ditumpuk lebih dulu dengan rasa malu. Entahlah, ia hanya membutuhkan jurang tak berujung saat ini untuk menutup wajahnya, terlebih ketika telinganya mendengar tawa-tawa mengejek dari teman kantornya.

.

.

Jiyeon memasuki kafe bernuansa klasik itu dengan tangan bergetar karena ragu. Setelah mendapat kabar mengenai alamat tempat kerjanya yang baru, Jiyeon setidaknya harus merasa yakin bahwa ia pantas untuk bekerja dan mendapatkan uang. Tetapi tidak setelah ia melihat bahwa tempat bekerjanya adalah di sebuah kafe yang berletak daerah pusat perbelanjaan. Ramai dan sesak.

Jiyeon melangkah memasuki kafe tersebut dengan mata mengitar sudut ruangan untuk menemukan atasannya—atau orang menyebutnya dengan sajangnim—yang juga merupakan seorang pemilik dari kafe ini.

Ia menekan bibirnya ketika melihat puluhan pengunjung tengah berdesakkan di dalam kafe tersebut. Baik makan, minum, berbincang, di luar, di dalam, dan bahkan dari jarak yang cukup jauh, Jiyeon dapat melihat bahwa kamar mandi kafe juga dipenuhi antrean.

Gadis itu bergidik, mendadak merasa bahwa tempat kerjanya kali ini terasa identik dengan pasar murahan. Namun, percayalah, Jiyeon mengatakan itu sebelum ia tahu seluk-beluk kafe aktif di kotanya ini. Ia mengerling ke arah layar monitor di atas meja kasir yang mempertontonkan menu saji dalam kafe tersebut. Ia berdecak kagum ketika mengetahui harga-harga langka di sana, atau kau bisa menyebutnya—mahal.

“Nyonya Myungsoo?” Jiyeon menoleh spontan ketika mendengar nama suaminya disebut. Gadis itu menemukan seorang wanita paruh baya dengan blazer hitam dan rok pendek di atas lutut tengah tersenyum ke arahnya, menampilkan serangkai wibawa yang telah ia gelut selama bertahun-tahun. Jiyeon membungkukkan badannya ke arah wanita itu, kemudian menyibak rambutnya.

“Jadi, kau benar nyonya Myungsoo?” wanita itu kembali memastikan. Jiyeon berpikir sejenak, bukannya ia tengah ragu apakah ia benar seorang istri dari Kim Myungsoo atau tidak, tetapi ia agaknya risih ketika mendengar wanita itu menyebutnya dengan panggilan ‘nyonya Myungsoo’ ia jadi membayangkan bagaimana wajah Myungsoo nantinya ketika mendengar nama kebanggaannya itu didahului dengan kata nyonya.

“Ya, saya Nyonya Myungsoo. Hm, tetapi nama saya Jiyeon.” Urainya membenarkan. Wanita itu tersenyum tipis, kemudian menepuk bahu Jiyeon. “Saya tahu, banyak karyawan di sini yang tidak senang dipanggil dengan nama suaminya, tadi saya hanya—”

“—ah, bukan begitu. Saya tidak keberatan apabila Ibu ingin memanggil saya dengan nama suami saya, tetapi saya—hm, saya… err—” Jiyeon mendadak gugup ketika dirinya tidak kunjung menemukan kalimat yang pantas untuk diutarakannya. Jiyeon menggaruk tengkuknya ketika melihat wanita paruh baya di depannya itu tersenyum.

“Baiklah, nyonya Jiyeon, lupakan panggilan-panggilan itu, sekarang saya akan mengajarkanmu tahap bekerja di sini. Tidak sulit, sangat mudah malah. Mari, saya antar.”

Sekitar satu jam Jiyeon mempelajari tugasnya sebagai kasir di kafe berkelas itu, dan Jiyeon cukup paham peraturan-peraturan tertulisnya, tidak sulit. Jiyeon merasa yakin, dan tidak akan mundur dalam jangka waktu cepat.

Wanita paruh baya yang selama satu jam telah menemaninya mempelajari aturan-aturan dalam pekerjaannya itu sangat ramah, selama detik mengalir menjadi jam itulah Jiyeon mengetahui bahwa wanita itu adalah pemilik kafe ini, Seonye namanya.

“Jadi, Jiyeon? Kau ingin mulai bekerja hari ini atau besok?” Seonye bertanya hati-hati pada Jiyeon yang masih menghafal kode kasir, gadis itu menoleh dengan mata mengerjap ke arah Seonye, kemudian ia berpikir cukup lama. Benaknya terbawa pada sosok Myungsoo yang hingga detik ini belum mengetahui perihal dirinya yang akan bekerja.

Myungsoo sejak dulu tidak pernah benar-benar peduli jika Jiyeon ingin bekerja atau tidak. Yang jelas, pria itu lebih banyak menyuruhnya untuk diam, dan menjaga rumah. Jiyeon berpikir, apakah Myungsoo akan marah jika ia tiba-tiba menuai kabar mengenai dirinya yang telah diterima bekerja di kafe? Ia pikir, Myungsoo tidak akan setuju, tetapi Jiyeon bisa membicarakannya lagi, nanti.

“Saya akan mulai mencoba besok saja.” Jiyeon akhirnya membalas seadanya, membuat Seonye mengangguk paham. Mata gadis itu mengerling ke arah jendela kaca yang membiaskan setitik cahaya senja yang manis dan hangat, Jiyeon menyembunyikan senyumnya, sadar bahwa sekarang adalah jam pulang suaminya. Ia tidak sabar untuk menemui Myungsoo di rumah, maka dengan itu, ia pamit diri pada Seonye, berkata ingin cepat pulang dan beristirahat.

.

.

Myungsoo menyua rumahnya pada pukul lima sore, bertepatan dengan terbenamnya matahari di kaki langit. Semburat jingga yang menggantung di langit barat menabur secercah ketenangan di benak Myungsoo, ia selalu menikmati perjalanannya dengan bus umum menuju rumah. Tidak ada desakan orang-orang, karena hari telah beranjak sore, jadi Myungsoo dapat merasakan ketenangan yang mengalir setiap perputaran roda bus membawanya bergerak menuju setiap pemberhentian.

Pria itu mengerang kecil setelah menuruni bus dan mengucap salam selamat tinggal kepada sopir yang nyaris setiap hari telah menjadi pengantarnya pulang dari mall. Myungsoo merasakan kakinya nyeri, ia selalu seperti itu ketika harus berjalan kaki di sepanjang perumahannya untuk menemui blok di mana gerbang rumahnya berada untuk menyambut kepulangannya.

Sembari melangkah dalam keheningan yang ditemani desisan angin, Myungsoo memperhatikan langkah lambatnya. Ia masih memikirkan Jiyeon hingga sekarang. Tentu ia tidak akan dengan cepat melupakan insiden di mana ia dipermalukan oleh sikap gadis itu.

Myungsoo tidak benar-benar merasa keberatan dengan tingkahnya yang kekanakan, tetapi Myungsoo juga baru sadar bahwa ketika teman-teman kantornya mengetahui sikap istrinya, ia akan menjadi sasaran untuk ditertawakan. Bagaimana pun, Myungsoo juga tidak bisa merasa kesal, karena pada dasarnya, Jiyeon-lah yang telah membuatnya malu.

Embusan napasnya beradu dengan angin musim panas menjelang musim gugur, mata besar Myungsoo telah menemukan gerbang rumahnya yang berwarna perak. Mendadak, ia merasa tidak siap bertemu dengan Jiyeon. Ia akan membicarakan perihal kejadian tadi siang dan bertanya apa sebenarnya keinginan gadis itu mengunjunginya langsung di kantor.

Myungsoo harus mendinginkan kepalanya, ia tidak boleh langsung termakan rasa malu hanya karena teman-temannya menertawakannya tadi siang. Itu hanya hal biasa, namun benaknya tidak bisa menerima itu.

Langkahnya terhenti tepat di depan gerbang rumahnya, memberikan beberapa waktu untuk tangannya yang mengais kunci di dalam tas, kemudian ia mencocokkannya dengan gembok gerbang. Roda gerbang menggesek rel besi ketika Myungsoo mendorong perlahan gerbang tersebut, memberi luang untuk dirinya lewat.

“Myungsoo?” baru saja ia kembali menutup gerbang, suara Jiyeon sudah terdengar tepat di belakangnya. Pria itu tersentak kecil hingga nyaris menjatuhkan kunci di genggamannya. Ia membalikkan badan, dan menemukan Jiyeon tengah berdiri tepat di depannya dengan senyum lebar.

“Kau sudah pulang?” tanyanya. Wajahnya dijatuhi sinar matahari senja, menambah kesan manis di wajahnya. Myungsoo bahkan melupakan rencananya untuk berbicara serius pada gadis ini sebelumnya, dan kepercayaannya telah lebih dulu goyah ketika Jiyeon mengganggam jemarinya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.

“Sejak kapan kau berdiri di depan gerbang?” Myungsoo bertanya pada Jiyeon yang saat itu baru saja melepas sepatunya, dan berjalan menghampiri Myungsoo yang kini telah mengempaskan tubuh di atas sofa ruang tengah. Jiyeon ikut terduduk di sana, dan disusul dengan kepalanya yang bersandar pada bahu Myungsoo. Ia sadar, bahwa sudah lama sejak ia tidak merasakan kenyamanan yang diberikan oleh suaminya.

“Aku menunggumu untuk membicarakan soal pekerjaan baruku.” Kata Jiyeon, tangannya bermain-main di atas kancing lengan kemeja Myungsoo. Pria itu mengernyit, ia tidak tahu bahwa Jiyeon memiliki pembicaraan yang sedikit melenceng dari rencananya, tetapi ia membiarkan gadis itu berbicara lebih dulu. Seperti kebiasaannya, mengalah.

“Aku sudah mendapatkan pekerjaan. Jiyoung membantuku mencarinya.” Jiyeon memulai pembicaraannya, terdengar ringan, dan Myungsoo dapat menikmati di mata telapak tangannya diberi sentuhan kecil oleh jemari Jiyeon yang bermain-main di sana. Sebenarnya Myungsoo cukup tahu bahwa itu adalah gestur Jiyeon ketika gadis itu gugup atau tengah ragu. Jiyeon masih bersandar di bahu Myungsoo, enggan mempertemukan maniknya dengan milik Myungsoo.

“Benarkah? Lalu, apa kau sudah merasa nyaman dengan pekerjaan barumu?” tanya Myungsoo menoleh ke kanan. Refleks, bibirnya menyapu kepala Jiyeon. Jiyeon kemudian tersenyum samar, ia mendongak, kali ini menoleh ke arah Myungsoo.

“Aku sudah nyaman bekerja di sana, dan aku akan mulai bekerja besok.” Tutur Jiyeon, membentuk senyuman di bibir Myungsoo. Myungsoo kemudian teringat akan hal lain, “Omong-omong, apa pekerjaanmu?” itu adalah pertanyaan terpenting yang semestinya ia utarakan sejak awal. Dan, melihat senyum menawan yang terbentuk rapi di wajah Jiyeon, Myungsoo yakin bahwa istrinya telah mendapatkan pekerjaan terbaik.

“Kasir.”

.

.

Kasir. Sebagai orang awam, kita mengenalnya sebagai orang yang bekerja di toko atau restoran, dan bertugas sebagai penerima uang dari pengunjung. Terdengar biasa, Jiyeon bahkan menyukai profesi barunya tersebut. Namun, Myungsoo?

Pria itu bahkan tidak dapat berkata untuk protes, mengerutkan dahi pun tidak ia lakukan. Seberapa banyak bentuk yang akan ia sampaikan melalui raganya, Jiyeon tidak akan paham bahwa pekerjaan sebagai seorang kasir adalah pekerjaan yang sangat memalukan.

Lagi. Myungsoo dipermalukan lagi oleh tingkah Jiyeon.

“Myungsoo, tidak ada yang perlu dicemaskan. Seonye dan karyawan di sana ramah, tidak ada yang jahat padaku.” Jiyeon berusaha mengejar Myungsoo yang kini tengah melangkah cepat menuju kamar, melangkah melewati setiap anak tangga dengan tergesa-gesa untuk menghindari argumen Jiyeon. Ia sudah tidak senang ketika mendengar kata kasir yang meluncur dari bibir Jiyeon, dan sekarang ia tidak ingin ditambahkan dengan segala argumen mendukung lagi.

“Kau pikir aku peduli dengan karyawan yang ramah atau tidak?” Myungsoo bertanya ketus. Ia tidak peduli lagi dengan Jiyeon yang masih menarik lengannya, dan bahkan ketika Myungsoo telah memasuki kamar mereka, Jiyeon juga ikut masuk tanpa menghentikan kalimat-kalimatnya untuk menenangkan Myungsoo.

Myungsoo menaruh asal tas kantornya, kemudian membawa tubuhnya menuju Jiyeon yang masih mengerutkan dahi dengan cemas. Pria itu mencengkeram lengan Jiyeon, matanya menyorot tajam ke arah manik Jiyeon.

“Kau lulusan SNU dengan nilai nyaris sempurna. Aku mendidikmu di sela-sela kesibukan kampus agar kau mendapatkan yang terbaik. Tapi sekarang? Kau bekerja menjadi kasir?! Pikir, Jiyeon! Kau tidak puas mempermalukanku terus?” sembur Myungsoo. Setiap kata-kata yang dilempar Myungsoo telah menghunjam tajam hati Jiyeon. Gadis itu merasa seluruh niatnya untuk memperkikis kekurangannya telah runtuh, ia gagal.

“Myungsoo, kau kenapa? Ke-kenapa kau malu denganku?” Jiyeon bertanya lambat-lambat. Ia tengah menahan sakit, dan sedang tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk menangis. Terlalu banyak tangisan di kehidupannya, Jiyeon ingin sekali mengakhirinya.

“A-aku…. jika kau memang malu karena aku bekerja menjadi kasir, aku akan mencabut pekerjaan itu.” Jiyeon memberikan kesempatan, namun kakinya terasa sakit untuk sekadar menopang tubuhnya, sehingga ia terduduk di lantai dengan napas berderu tak beraturan, menahan sakit. Myungsoo mengerjap, ia tidak menyangka jika Jiyeon berani mengatakan hal tadi.

“Aku… hanya memintamu untuk jangan lelah denganku, Myungsoo.” Jiyeon mendongak ke arah Myungsoo yang masih berdiri tegap dengan tubuhnya yang tinggi menjulang. Mata Jiyeon mengerjap, menahan air matanya. “Jangan lelah dengan aku yang terus membuatmu malu meskipun aku tengah berusaha menjadi lebih baik.”

“Karena, aku sadar… setiap langkahku selalu salah di matamu. Tidak pernah benar. Kau selalu tidak suka dengan—” Jiyeon tidak melanjutkan ucapannya ketika napasnya mulai tercekat, air matanya mendesak untuk segera meluncur. Seiring dengan kalimat itu terhatur, air mata Jiyeon kembali meruah. Myungsoo terhenyak, meski berkali-kali Jiyeon menangis, air mata gadis itu tetap selalu menjadi hal pertama yang dapat membuatnya bungkam. Ia sadar bahwa Jiyeon adalah gadis tercengeng yang pernah ia temui, dan tetap saja—seberapa banyak Jiyeon menangis, selama itu pula Myungsoo mengetahui bahwa air mata Jiyeon telah terbuang karena ulahnya.

“Jiyi,” Myungsoo berjongkok di hadapan gadis yang tengah menangis dengan kepala tertunduk. Jiyeon meluruskan kakinya dengan sedikit spasi di antara pahanya, dilihat sekilas—Jiyeon seperti seorang bocah yang mengambek karena tidak dibelikan permen. Myungsoo menghapus air mata Jiyeon, ia sendiri tidak begitu paham apa langkah yang harus ia ambil setelah menyakiti gadisnya dengan kalimat tajam seperti tadi.

“Hei, Jiyeon. Lihat aku.” Jari Myungsoo mengangkat wajah Jiyeon melalui dagu, gadis itu memandang Myungsoo dengan mata basah. Myungsoo membuang napasnya kecil. “Kau ingin menjadi lebih baik di depanku. Itu maksudmu membuatkanku bekal dan mencari pekerjaan? Benar?” Jiyeon mengerjap. Myungsoo selalu memahaminya bahkan sebelum ia berkata banyak.

“Jiyeon-ya~ sayangku~ kenapa kau ingin terlihat lebih baik di hadapanku? Memangnya kau buruk? Apa keburukanmu kalau begitu?” Myungsoo bertanya, antara ingin meluapkan rasa geramnya akan tangisan Jiyeon, juga dengan maaf tak langsung.

Dengan menyeka pipi basahnya, Jiyeon membalas. “Bukankah aku selalu merepotkanmu?” terka Jiyeon, Myungsoo mengulum senyumnya. Ia tidak tahu bahwa sejak pagi, Jiyeon hanya ingin berbuat baik padanya. Hanya Myungsoo di sini yang telah salah menangkap arti dari perlakuan Jiyeon.

“Baiklah, maafkan aku, oke? Kau tahu, sejauh ini—kau sudah lebih baik karena telah bersabar menungguku pulang, apalagi jika kau berusaha membuatkanku bekal. Ugh, istriku menggemaskan.” Myungsoo menutupi penyesalannya dengan memeluk Jiyeon gemas. Jiyeon bahkan sampai terjungkal ketika Myungsoo tiba-tiba memeluknya.

“Aku sadar, kau tidak mudah mengeluh lagi. Kau sudah dewasa, aku bangga padamu.” Myungsoo mengacak rambut Jiyeon, kemudian melepas pelukannya. Ia bangkit dan mengulurkan tangannya pada Jiyeon, membantu gadis itu untuk bangkit juga.

“Myungsoo, aku—maafkan aku jika aku terlalu banyak membuatmu malu. Aku tidak sesempurna—”

“—berhenti merendahkan dirimu, mengerti? Ayolah, tadi aku hanya kelelahan, dan suka berkata semaunya ketika sedang lelah.” Sela Myungsoo. Jiyeon meresapi kalimat Myungsoo dalam-dalam, hingga ia menemukan seulir kebahagiaan di dalam hatinya. Besok Myungsoo akan pergi ke Nagano untuk bekerja, dan Jiyeon yakin—dengan seluruh senyum dan semangat yang dibekali oleh Myungsoo hari ini, ia akan bertahan lebih lama. Lebih kuat lagi.

.

.

 

Mencintai seseorang adalah kesempurnaan diri. Kesempurnaan seseorang akan tampak ketika kau mencintainya —shaza.

.

.

//finite.//

.

.

 

49 responses to “Tension [10]: Shame

  1. aahhhh sediiih. padahal jiyeon udah berusaha. buatin bekal malah digituin myungsoo. dapet pekerjaan juga malah digituin myungsoo. kali2 jiyeon jangan nangis dong. hehe. ikutan nangis jadinya. hahaha

  2. Pingback: Tension [11]: Willingness #1 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s