Tension [9]: Angel’s Anger #2/END

tension

Tension [9]: Angel’s Anger #2/END
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2] [Crying #1] [Crying #2/END] [Angel’s Anger #1]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

“Yah, lupakan saja. Aku lebih terkejut karena sudah mengajak kencan istri milik orang lain, itu konyol.” Sungyeol menghentikan laju mobilnya tepat di depan gerbang besar rumah Jiyeon. Jiyeon tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi kecilnya, gadis itu meninju kecil bahu Sungyeol.

“Aku minta maaf karena sudah membuatmu kecewa, dan membohongimu sejak tadi.” Kata Jiyeon seraya melepas sabuk pengamannya. Gadis itu memandang wajah Sungyeol yang disirat kekecewaan, kemudian gadis itu terkekeh ringan.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Dan memberikanku kesempatan untuk berwisata di ice skating.” Jiyeon mengulum senyum, dibalas anggukan singkat oleh Sungyeol. Jiyeon baru saja hendak keluar dari mobil Sungyeol ketika gadis itu teringat akan hal lain.

Ia berbalik menghadap Sungyeol, kemudian berkata. “Jangan menyerah, Sungyeol-ah. Masih banyaaaak perempuan di sana yang lebih baik dariku. Terima kasih karena telah mengizinkanku untuk dicintai, terima kasih.” Tanpa menghapus senyum manisnya, Jiyeon menganggukkan kepala sebagai tanda perpisahannya dengan Sungyeol.

Biar bagaimana pun, Jiyeon harus berterima kasih pada pria itu. Pria ketiga yang tertarik padanya, setelah Sehun dan Myungsoo. Jiyeon mengaku bahwa Sungyeol sangat berbeda dengan Myungsoo.

Ia memiliki mobil untuk mengantarnya ke mana-mana, tidak seperti Myungsoo yang menyediakan uang untuk berangkat menggunakan angkutan umum.

Sungyeol meminta pendapatnya mengenai tempat kencan, tidak seperti Myungsoo yang memutuskan tempat kencan tanpa peduli apakah Jiyeon menyetujuinya atau tidak.

Sesempurna apapun Myungsoo, ia tetap memiliki kekurangan di mata Jiyeon. Bertahun-tahun bersama pria itu menjadikan Jiyeon paham sepenuhnya akan sosok Myungsoo, dan ketika orang menganggap suaminya adalah suami idaman atau pria sempurna, hanya Jiyeon yang mengetahui kekurangannya.

Jiyeon membuka pintu mobil, kemudian bangkit untuk keluar dari dalam mobil mewah tersebut. Diam-diam, Jiyeon berdoa agar Myungsoo dapat membeli mobil suatu saat nanti, namun ia tertawa dalam batinnya ketika mengutarakan doa tersebut, konyol.

“Dah, Sungyeol-ah. Hati-hati di jalan. Omong-omong, kita masih teman, oke?” Jiyeon melambai pada Sungyeol yang membuka kaca mobilnya setengah. Sungyeol tersenyum kecil, ia merasa tidak salah telah memilih Jiyeon sebagai orang yang dicintainya, gadis itu sangat lembut.

Derum mobil Sungyeol yang melaju membelah aspal perumahan itu lantas menebas angin, Jiyeon merasa paru-parunya kembali diisi oksigen, sehingga ia dapat bernapas lega. Masih dengan membelakangi gerbang rumahnya, Jiyeon menunduk, memandang cincin di jari manisnya dengan sirat cemas.

Jiyeon berbalik untuk menemui pintu utama rumahnya, namun ketika baru satu langkah ia berjalan, matanya telah lebih dulu melihat Myungsoo yang berdiri tepat di depan pintu rumah. Matanya masih setajam tadi pagi, dan itu membuat Jiyeon merutuk sendiri.

Gadis itu mengetahui bahwa Myungsoo tidak akan marah besar padanya, namun ia akan mendapatkan hukuman yang setimpal, ia rasa.

Dengan langkah cepat, Jiyeon menghampiri Myungsoo. Ia menyingkap anak rambut yang menutup pipinya, kemudian mendongak memandang Myungsoo. “Kenapa kau di sini? Bukankah di dalam lebih nyaman untuk menungguku?” tanya Jiyeon percaya diri bahwa Myungsoo memang sedang menunggunya.

Myungsoo mengangkat alisnya. “Aku tidak menunggumu.” Dusta Myungsoo, Jiyeon dapat melihat bahwa Myungsoo-nya sedang berbohong, maka gadis itu hanya mengangguk sok paham. “Baiklah, kalau begitu—ayo kita masuk.” Jiyeon memautkan jemarinya dengan milik Myungsoo, kemudian menarik tubuh pria itu untuk masuk ke dalam rumah.

“Hentikan, Jiyeon.” Myungsoo melepas tautan tangan mereka, membuat Jiyeon menoleh. Gadis itu mengerjap, kemudian memandang Myungsoo dengan kerutan di dahi. Ia tersadar bahwa pria itu tengah memandangnya nyalang, seperti digulung amarah.

“Katakan, apa maksudmu berkencan dengannya?” tanya Myungsoo. Jiyeon tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. “Aku tidak berkencan dengan Sungyeol, kami hanya—” belum sempat Jiyeon menyelesaikan kalimatnya, Myungsoo telah lebih dulu menyeret gadis itu ke dalam ruang tamu dan memaksanya untuk duduk di sofa.

Jiyeon meringis, bekas lecet yang ia dapati di ice skating masih membekas di telapaknya, dan barusan Myungsoo mencengkeram erat lengannya.

“Lalu apa namanya jika bukan berkencan?” tanya Myungsoo. Ia memutuskan untuk tidak duduk di sebelah Jiyeon atau di depannya, ia berdiri tepat di depan gadis itu seolah sedang menghukumnya. Jiyeon menekan bibir bawahnya, takut.

“Kami—hanya bermain, Myung. Bukan berkencan, ia mendekatiku karena—”

“—oh, ayolah, Jiyeon. Aku bahkan tidak pernah menyangka bahwa kau akan berselingkuh. Selama ini aku yakin, tidak akan ada yang tertarik padamu.” Potong Myungsoo lantang, suaranya yang berat menggema di seluruh sudut rumah mereka. Jiyeon melebarkan kelopak matanya dengan sepasang telapak yang saling meremas karena sakit menghunjamnya ketika Myungsoo berkata seperti tadi.

“Aku cukup tahu bahwa kau mencintainya juga, Jiyeon. Aku punya mata untuk melihat—”

“—kau salah, Myungie, kau salah. Aku mencintaimu.” Sela Jiyeon dengan mata berair. Myungsoo yang sejak tadi mengajukan argumennya kini terhenyak, terlebih ketika melihat istrinya bangkit dari posisi duduknya, dan melangkah lebih dekat ke arah Myungsoo. Kurang dari setengah meter kini menjaraki keduanya, Jiyeon mendongak.

“Aku hanya ingin memiliki teman pria, tidak lebih. Aku… kau tahu, tidak ada pria yang ingin mendekatiku kecuali Sungyeol! Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika—” Jiyeon menghentikan kalimatnya, ia merasa napasnya tercekat karena terlalu didesak oleh sesak, air telah menggenang penuh di matanya.

“…ketika teman-temanku mengatakan hal-hal buruk tentangku, seperti Jiyeon tidak berguna, Jiyeon anak manja, Jiyeon merepotkan, Jiyeon parasit. Kau tidak tahu bahwa aku selalu dibenci oleh mereka.” Myungsoo mengerjap ketika melihat Jiyeon menyusut hidungnya yang memerah. Kalimat-kalimat Jiyeon mengaung keras di kepalanya, seperti hendak memutar kesadaran pria itu.

“Dan, Sungyeol datang padaku tanpa kebencian itu, Myung. Aku hanya menerimanya, aku hanya dapat bersyukur.” Jiyeon hendak mengakhiri kalimatnya, ketika gumaman Myungsoo terdengar di telinganya.

“Jiyeon-ah.” Myungsoo hendak menuturkan kata maaf.

Namun, dengan seulir gumaman awal itu, Jiyeon menjadi enggan untuk mendengarnya. Ia menutup sepasang telinganya dengan telapak tangan, matanya terpejam. “Aku tidak ingin mendengar kata maaf darimu. Aku yang salah di sini. Berhenti mengatakan maaf.”

Dan di balik mata Jiyeon yang terpejam, Myungsoo dapat melihat sebulir air yang mengalir di sudut matanya, jatuh mengenai pipi. Myungsoo menurunkan bahunya, ia tidak tahu bahwa Jiyeon begitu ingin memiliki teman, ia tidak tahu juga jika Jiyeon begitu dibenci teman-temannya.

“Aku… aku tidak seperti kau yang bisa memiliki banyak teman. Jinah-eonni, Dara-eonni, bahkan Sooyoung-eonni dan Jungmo-oppa.” Jiyeon membuka matanya, memperlihatkan warna merah di bola mata tersebut.

“Dan aku dengan bodohnya menerima ajakan jalan-jalan dari Sungyeol hanya untuk mendapatkan teman,” Jiyeon mendecih, “aku baru sadar, ternyata aku murahan.”

“Jiyeon-ah, hentikan!” Myungsoo meraih tangan Jiyeon yang masih menutup lubang telinganya. Pira itu sejak tadi telah menahan napasnya ketika mendengar setiap kata-kata Jiyeon, begitu banyak hal yang tidak ia ketahui di sini, dan Myungsoo merasa bodoh.

“Baiklah, kau sudah menjelaskan semuanya. Aku—” Myungsoo kehilangan kata-katanya, terlebih ketika Jiyeon mengerjap, menjatuhkan air matanya lagi. Gadis itu terburu-buru menghapusnya dengan punggung tangan, dan menanti kelanjutan kalimat suaminya.

“Oh, Tuhan. Apa yang telah aku lakukan?” Myungsoo mengusap wajahnya, kemudian terduduk dengan kepala tertunduk. Kini, Jiyeon-lah yang berdiri di hadapannya. Myungsoo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan semua penyesalannya.

“Selama ini aku yakin, tidak akan ada yang tertarik padamu.”

“Teman-temanku mengatakan hal-hal buruk tentangku, seperti Jiyeon tidak berguna, Jiyeon anak manja, Jiyeon merepotkan, Jiyeon parasit.”

“Aku cukup tahu bahwa kau mencintainya juga.”

“Kau salah, Myungie, kau salah. Aku mencintaimu.”

“Aku hanya ingin memiliki teman pria, tidak lebih.”

“Aku tidak seperti kau yang bisa memiliki banyak teman. Jinah-eonni, Dara-eonni, bahkan Sooyoung-eonni dan Jungmo-oppa.”

Semuanya kini terlihat jelas di kepala Myungsoo. Ia dapat membaca bahwa faktor kesalahan berada di tangannya, Jiyeon hanya ingin memiliki teman. Wajah Myungsoo memanas karena membendung emosi yang bergejolak, ia semestinya tahu bahwa sejak awal dirinya hanya dikurung oleh kecemburuan.

Myungsoo merasakan kehangatan menjalari lehernya, pria itu mengangkat wajahnya dari telapak tangan, kemudian menemukan sepasang lengan halus telah melingkari lehernya. Jiyeon memeluknya dari belakang, nyaris bersandar di punggungnya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di pundak Myungsoo.

“Jiyeon-ah, maafkan aku.” Myungsoo menggenggam lengan yang melingkari lehernya dari belakang, kemudian mengecup jemarinya. “Tidak ada yang membencimu di dunia ini. Kau adalah gadis paling kuat. Hei, aku ingin memelukmu.” Myungsoo melepas lingkaran di lehernya, kemudian berbalik untuk bangkit dan memeluk Jiyeon.

Gadis itu hanya terdiam merasakan kembali kehangatan Myungsoo, dan ia dapat merasakan bahwa kaus yang dikenakan Myungsoo terasa basah karena keringat. Ia tahu, Myungsoo menunggunya berjam-jam di depan rumah.

.

.

Malam itu, Myungsoo diingatkan oleh Jongin bahwa acara resepsi pernikahannya dengan Soojung telah berlangsung sekitar dua jam yang lalu. Baik Jiyeon mau pun Myungsoo yang sedikitnya telah melupakan kejadian penuh moral tadi siang akhirnya memenuhi udara rumah mereka dengan suara gaduh karena berebut kamar mandi, mencari pakaian formal, dan menelepon taksi.

Terkadang, di saat-saat genting seperti ini, Myungsoo akan memaki Jiyeon yang terlalu lamban di kamar mandi, dan sebaliknya, Jiyeon memaksa Myungsoo untuk memakai mobil Ayahnya agar tidak repot memesan taksi dari jauh tempat.

Ketika mereka telah sampai di depan gedung resepsi pernikahan Soojung dan Jongin, Jiyeon mendesah lega. Gadis itu memandang penampilannya yang sederhana, dengan kemeja putih dan rok pendek biru. Sementara Myungsoo mengenakan kaus hitam yang dijejal varsity merah dan celana denim. Jiyeon bahkan sempat menertawakan penampilan Myungsoo yang informal maksimal, terlebih jabatannya sebagai asisten manajer mall seperti tertutup oleh penampilan anak muda ala Myungsoo tersebut.

“Baiklah, siapa yang seharusnya disalahkan di sini? Kenapa aku tidak tahu kalau Soojung dan Jongin menikah hari ini?” Myungsoo menggaruk kepalanya ketika melangkah memasuki gedung dan mengisi buku tamu dengan nama mereka.

Jiyeon mengedikkan bahunya. “Aku lupa memberitahumu. Setidaknya kita masih punya waktu untuk menghabiskan makanan di sini, haha.” Jiyeon tertawa dengan pemikirannya, sementara Myungsoo menyatukan jemari mereka untuk melangkah menuju Soojung dan Jongin yang tengah menyambut tamu.

“Lihat mereka! Tidak bisakah mereka tersenyum ketika menyambut tamu? Alih-alih berwajah dingin seperti hendak—” Jiyeon meninju bahu Myungsoo, membuat pria itu tak jadi meneruskan kalimatnya diganti ringisan kecil.

“Wajah mereka memang seperti itu, Myungsoo.” Dan di detik itu, keduanya tertawa keras, menarik perhatian sebagian tamu, dan diakhiri keduanya yang membungkuk meminta maaf. Hingga teriakan Soojung yang memanggil nama Myungsoo memotong bagian di mana Jiyeon harus meminta maaf pada tamu karena telah mengganggu mereka dengan suara tawanya.

“Myungsoo!”

Tentu saja Soojung tidak akan melupakan Myungsoo, teman rekannya dalam OSIS saat di sekolah dulu. Dan, Jiyeon dapat melihat bahwa gadis itu tengah mengukir senyum lebar ke arah Myungsoo. Jiyeon mengakui bahwa Soojung tampak seribu kali lebih cantik dengan senyum lebar dan gaun putih yang membalut tubuhnya.

Myungsoo tersenyum tipis, kemudian melangkah mendekati Soojung. Jiyeon membiarkan Soojung memeluk Myungsoo, seperti melepas rindu, sementara ia mendekati Jongin yang tengah mengerucutkan bibirnya.

“Hei, Jongin! Lama tidak bertemu.” Jiyeon menepuk telapak tangannya di bahu Jongin, pria itu tersentak ke arah Jiyeon. “Apa kabarmu?” tanya Jiyeon halus. Gadis itu terduduk di sebelah Jongin yang memang pada saat itu juga sedang duduk di bangku pengantin.

“Ah, baik. Omong-omong, kau Jiyeon?” tanya Jongin, dibalas anggukan oleh Jiyeon. “Ada apa? Kau tidak percaya kalau aku Jiyeon?” gurau gadis itu, namun Jongin menggelengkan kepalanya dengan wajah terkejut.

“Aku tidak menyangka, kau semakin cantik.” Jiyeon tersenyum manis sebelum mengucap kata terima kasih yang tulus pada Jongin. Ia jarang dipuji oleh pria, hanya Myungsoo yang memujinya setiap hari.

“Jongin-ah. Apa yang kau lakukan dengan Jiyeon?” Soojung datang menghampiri keduanya dengan sosok Myungsoo di sebelahnya. Soojung memandang Jiyeon kesal. “Jangan bilang, kau ingin merebut Jongin!” suara Soojung terdengar tajam dan dingin, dan ia mengutarakan kalimatnya pada Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan dahinya protes, kemudian gadis itu berdiri. “Enak saja! Aku tidak merebut Jongin. Aku hanya mengajaknya mengobrol! Kau saja yang terlalu sensitif.” Jiyeon membalas dengan suara kekanakan, ia merengut dan melangkah mendekati Myungsoo, meminta bantuan. Myungsoo hanya tersenyum lebar, nyaris menjelma sebuah tawa kecil.

“Lupakan, Sayang. Seperti itulah pasangan pengantin, maklumi saja. Ayo kita sisir seluruh makanan di sini, haha.” Dan Jiyeon turut tertawa mendengar usulan Myungsoo, terlebih ketika pria itu melingkarkan lengannya di bahunya.

.

.

Ia meletakkan kembali gelas kristalnya yang telah tandas. Kepalanya terasa pening menghatur ribuan kunang-kunang yang mengelilingi pandangannya, gadis itu mengerutkan dahi ketika merasakan sensasi panas masih bergeriliya di tubuhnya seiring dengan berpuluh teguk champagne yang ia cicip di acara resepsi pernikahan Soojung dan Jongin.

Jiyeon menyandarkan kepalanya di atas meja bar, ia berusaha mengingat mengapa ia berakhir di bar dalam gedung acara resepsi pernikahan Soojung dan Jongin. Ia tidak menyangka bahwa mencicipi sedikit champagne agaknya membuat ia kecanduan, dan rasa panas yang menghinggap tubuhnya saat ini sungguh tidak nyaman.

Jiyeon melenguh kecil. Pandangannya berbayang ketika telinganya mendengar suara berat yang memanggilnya. “Jiyeon-ah.” Suara berat yang ia kenal, namun Jiyeon tidak mengetahui wajah siapa yang kini tengah berhadapan dengannya.

“Jiyi, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. Jiyeon dapat mendengar nada cemas dari suara tersebut. Ketika pria itu melangkah lebih dekat ke arahnya, Jiyeon spontan bangkit dari posisi duduknya. Matanya sayu, didominasi alkohol.

Belum sempat ia melangkah, tubuhnya telah lebih dulu terhuyung ke depan. Kakinya tidak sanggup menopang tubuh lebih lama, dan di detik itulah sosok pria di depannya berlari untuk menangkap tubuhnya. Jiyeon jatuh ke dalam dekapannya. Ia dapat menghirup aroma green tea yang sangat ia kenal, gadis itu mengerutkan keningnya, kemudian mendongak ke arah pria yang mengungkungnya.

“Ia minum berkali-kali.” Suara seorang pelayan di depan meja bar mengejutkan pria yang tengah memeluknya.

“Benarkah?” tanyanya tidak percaya. Namun, anggukan dari pelayan itu membuatnya tertegun.

“Myung…soo?” Jiyeon berujar pelan ketika bayang-bayang Myungsoo melintas di kepalanya. Gadis itu bersandar di bahu kokoh seseorang yang tengah memeluknya.

“Jiyeon-ah. Ini aku, Myungsoo. Ke-kenapa kau minum-minum? Bukankah aku sudah pernah melarangmu—”

“—mana aku tahu, bodoh!” racau Jiyeon disertai makiannya. Myungsoo mendesah kecil, ia pernah melarang Jiyeon untuk minum-minum, dan inilah yang ia cemaskan. Jiyeon tanpa pengaruh alkohol saja terkadang bisa meracau, apalagi jika ia minum berpuluh teguk?

“Sebaiknya, anda membawanya ke kamar dalam gedung ini.” Pelayan tadi memberi usul kepada Myungsoo yang kesulitan menahan beban tubuh Jiyeon. Pria itu mengangguk menyetujui usulnya, kemudian ia membopong tubuh Jiyeon dalam gendongan punggungnya untuk mengikuti arahan tempat yang dituding oleh pelayan tadi.

Sementara di balik pintu bar, Soojung dan Jongin tengah tertawa bersama melihat Jiyeon yang mabuk di gendongan Myungsoo. Mereka menepuk kedua telapak tangannya. “Baiklah, kita berhasil!” seru Soojung, membuat Jongin tertawa dan mengacak gemas surainya.

.

.

Myungsoo tidak yakin Jongin dan Soojung ternyata menikah di tempat yang menyediakan bar sekaligus kamar tidur. Namun, seberapa penasaran ia dengan jawaban dari pertanyaan itu, baginya, Jiyeon yang pertama kali mabuk saat ini jauh lebih berbahaya.

Pria itu menjatuhkan tubuh Jiyeon di atas ranjang lebar di kamar kecil tersebut. Sesaat setelah Jiyeon berbaring di atas ranjang, gadis itu membuka kelopak matanya dan mendapati Myungsoo tengah berdiri di depannya dengan alis bertaut bingung.

“Myungsoo. Kenapa kau tidak ikut minum bersamaku?” tangan Jiyeon meraih botol wine di atas nakas, kemudian menyerahkannya pada Myungsoo. Kelopak gadis itu setengah terkatup, Myungsoo bukan seorang pria lugu yang belum pernah menyentuh alkohol. Ia jelas pernah mencobanya ketika masa sekolah menengah pertamanya dulu.

Myungsoo menggeleng ke arah Jiyeon, sebagai gestur penolakannya yang amat sederhana. Jiyeon menurunkan bahunya kecewa. “Kenapa?” tanya Jiyeon dengan mata berair. Myungsoo mengerjap ketika Jiyeon menangis dengan wajahnya yang memerah.

“Kenapa Myungsoo selalu menolakku? Aku selalu berpikir, apa salahku padamu? Tapi, ketika aku bertanya, kau selalu bilang aku tidak punya salah!” Jiyeon meracau lagi, kali ini Jiyeon memukul tubuhnya dengan bantal. Myungsoo terpaksa menjerit karena sakit. Jiyeon tidak peduli, ia sedang dalam pengaruh alkohol.

Sementara itu, Myungsoo terus berpikir kapan terakhir kali ia melepas Jiyeon di acara resepsi pernikahan Soojung dan Jongin dan membiarkan gadis itu berkeliaran sendiri di bar gedung pernikahan. Ia tidak menyangka bahwa Jiyeon akan mencicipi cairan manis pekat dari champagne.

“Lalu, jika aku tidak punya salah, kenapa kau terus menolak keinginanku? Kenapa aku tidak boleh ke ice skating, padahal Sungyeol mengizinkanku ke sana tadi siang!” mendengar kalimat itu terlempar dari mulut Jiyeon, Myungsoo spontan membelalak. Ia menahan tangan Jiyeon yang masih memukulnya, kemudian ia memandang gadis yang masih menangis itu.

“Ka-kau ke ice skating? Bersama Sungyeol? Oh, ya Tuhan! Jiyeon, aku sudah melarangmu berkali-kali!” Myungsoo menggeram marah, dan seketika itu pula Jiyeon bungkam. Myungsoo mengetahui bahwa sembilan puluh persen orang mabuk akan berkata jujur di antara racauannya. Suara Myungsoo yang rendah ketika sedang membentak terdengar ribuan kali lebih menyeramkan, dan itu membuat nyali Jiyeon mengecil.

“Kau tidak boleh mendatanginya lagi, Jiyeon! Tidak pernah ada pengawasan dari pihak ice skating, dan ketika kau tergelincir nanti, kau hanya akan pulang dengan tangan lecet!”

“Maafkan aku, Myungsoo. Tapi—” Jiyeon mendongak setelah beberapa detik terdiam mendengarkan nasihat Myungsoo. Gadis itu menutup matanya untuk meredakan pening, namun rabun masih menghadang penglihatannya.

“Aku mohon, minum bersamaku~” Jiyeon merangkak mendekati Myungsoo, kemudian duduk di pangkuan Myungsoo. Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Myungsoo, ia dapat merasakan napas hangat gadis itu menerpa wajahnya, menggelitik pori-porinya. “Aku… menginginkanmu.” Dan seiring dengan kalimat itu terlepas, bibir Jiyeon telah mendarat lebih dulu di atas bibir milik Myungsoo.

Pria bertelinga panjang itu melebarkan kelopak matanya, ia tidak menyangka bahwa Jiyeon yang dalam keadaan mabuk akan merubah sifat malu tapi mau-nya menjadi kebalikannya. Myungsoo berpikir panjang selagi napas hangat Jiyeon terasa seperti menyatu dengan desah napas miliknya.

Tubuhnya didekap erat oleh sepasang lengan Jiyeon yang mengalungi lehernya, sementara itu jantungnya bereaksi dengan degupan kencang ketika merasakan bahwa bibir Jiyeon mulai bergerak di atas bibirnya, pikirannya kosong dalam sekejap, termakan nafsu.

Ia melepas pagutan yang diciptakan Jiyeon, tidak ingin terbawa oleh nafsu gairahnya. “Jiyeon, hentikan!” Myungsoo menjauhkan Jiyeon dari pangkuannya, kemudian ia mengulum bibirnya sendiri seperti membersihkan sisa lembab di bibirnya.

“Aku akan meminumnya, tapi berjanji padaku untuk jangan melakukan hal tadi lagi!” dan dengan pemikiran pendeknya, Myungsoo merampas botol wine di tangan Jiyeon, dan meneguknya hingga nyaris setengahnya kandas.

.

.

Myungsoo melangkah dengan lajur serupa berkali-kali di atas ubin marmer kamar gedung resepsi pernikahan Soojung dan Jongin. Pria itu menggigit bibirnya ketika seberkas cahaya pagi telah menyapa penglihatannya, sesekali maniknya bergulir ke arah sosok gadis yang masih bergelung di bawah selimut dengan damai.

Itu Jiyeon, istrinya.

Mengingat nama Jiyeon, Myungsoo merasa dirinya telah memikul beban berlebih. Ia teringat akan dirinya yang terbangun dengan kepala pening dan tubuhnya yang lengket bersembunyi di balik selimut tebal. Namun, bukan itu poin utamanya, ia tertidur tanpa busana.

Tanpa. Busana.

Ia bahkan nyaris menjerit ketika melihat Jiyeon juga tertidur di sebelahnya dengan selimut yang menggulung tubuhnya hingga sebatas leher. Myungsoo tidak perlu mengintip untuk memastikan apakah Jiyeon masih berbusana atau tidak, ia dapat menebaknya sendiri.

Kini Myungsoo telah membersihkan dirinya di kamar mandi dan telah mengenakan pakaian yang ia gunakan semalam terakhir. Myungsoo berusaha mendinginkan kepalanya, karena ia tidak mengingat apapun kejadian semalam yang merupakan faktor dari mengapa ia bisa terbangun dalam keadaan tanpa pakaian.

Lenguhan kecil dari arah ranjang membuat Myungsoo menghentikan langkahnya yang sejak tadi beralih ke kanan dan ke kiri. Tubuh Myungsoo menegak dalam hitungan detik, ia menoleh ke arah Jiyeon yang masih menggeliat di dalam selimut. Kemudian Myungsoo hanya dapat menekan bibirnya cemas ketika mendapati Jiyeon telah membuka matanya perlahan.

Pria itu mendekati Jiyeon. “Jiyeon-ah, kau sudah bangun?” gadis itu menoleh ke arah kanan dengan mata mengerjap kecil. Ia menguap kecil karena mengantuk, Myungsoo menunggunya dengan jantung berdentum begitu keras.

Dan entah di detik ke berapa, Jiyeon merubah posisi berbaringnya dengan terduduk. Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Sebelum Myungsoo sempat melihat tubuh Jiyeon, pria itu telah lebih dulu berdecak sembari membalikkan tubuhnya menghadap dinding.

“Kenapa kau menghadap dinding, Myung? Omong-omong kepalaku terasa pusing, dan—eh?” ujung kalimat Jiyeon dihias terkesiapan dengan tarikan napas panjang penuh kejut. Myungsoo memejamkan matanya seraya bersiap menutup kedua telinganya, sebelum—

“AAAAA…!!” jeritan itu menembus dinding, Myungsoo dapat merasakan tubuhnya bergetar ketika lengkingan istrinya memenuhi udara. “Ke mana bajuku, Myung?! Apa yang kau lakukan dengan tubuhku? Myungsooooo! Kenapa aku bisa seperti—”

“—diamlah, Jiyeon!” Myungsoo menggertak dengan rahang mengeras. Ia membuang napasnya teratur. “Dinginkan kepalamu. Aku juga tidak mengingat apa-apa tentang semalam, oke? Yang aku ingat, aku hanya menerima permintaanmu untuk meminum sebotol wine. Sekarang lebih baik kau mandi.” Masih dengan tubuh yang menghadap ke arah dinding, Myungsoo berujar.

Jantung Jiyeon masih diketuk oleh ratusan palu ketika itu. Ia berusaha berdiri di antara perih yang menggerogot tubuhnya, ia berkali-kali meringis kecil ketika melangkah memasuki kamar mandi. Sementara itu, Myungsoo menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam, napasnya kembali terbuang banyak.

.

.

Keduanya berakhir mengeluari gedung pernikahan Soojung dan Jongin dengan wajah tenang. Setelah Myungsoo mengulas berkali-kali, ia tidak perlu merasa bersalah atas kejadian yang belum diingatnya sejak semalam.

Jiyeon juga telah berkata padanya bahwa ia tidak senaif itu untuk menebak apa yang telah mereka lakukan semalam, namun Jiyeon merasa—tidak ada yang perlu disalahkan dalam kegiatan one night stand mereka beberapa jam yang lalu.

Myungsoo, masih dengan kaus hitam dan celana denimnya, berjalan di samping Jiyeon. Sementara itu Jiyeon mengenakan varsity milik Myungsoo dengan alasan mengeluh tubuhnya terasa dingin, dan Myungsoo hanya dapat mengalah dengan hal tersebut.

“Jiyi, kau ingin kita pulang menyewa sepeda di sana, berjalan kaki, atau memesan taksi?” Myungsoo menanyakan usul Jiyeon dengan mata bermain-main di sekitar jalanan kota pagi hari. Sinar pagi yang sehat memancar indah ke arah wajah Jiyeon, meski ditimpa lelah, Jiyeon merasakan bahwa kehangatan sinar matahari pagi selalu dapat memusnahkan lelahnya.

“Aku ingin berjalan saja, Myungie.” Jiyeon menggumam, kemudian ia menyejajarkan langkahnya dengan Myungsoo. Myungsoo menggores senyum di wajah, kemudian meraih jemari Jiyeon untuk terpaut dengan miliknya. Sebelah tangan Myungsoo yang lainnya terselip di kantung celana denimnya yang longgar.

Pria itu mendongak, mendengarkan desau angin yang bertabrakan dengan klakson kendaraan yang telah sibuk meski masih pagi.

“Tidak apa, Jiyi. Apapun yang kita lakukan semalam, tidak akan menjadi sebuah hal yang buruk.” Myungsoo menarik perhatian istrinya dengan kalimat tersebut. Jiyeon menoleh dengan senyum, kemudian ia mengangguk. “Lagi pula, kita sudah menikah. Tidak ada yang terlarang lagi.” Sambung Jiyeon, kemudian tanpa menghentikan langkah mereka, Jiyeon menyandarkan kepalanya di lengan Myungsoo.

Musim gugur nyaris hadir menggantikan panas yang terkadang diselip dengan hujan. Jiyeon dan Myungsoo sama-sama menemukan kebahagiaannya, selangkah lebih dekat. Sebenarnya Myungsoo sadar bahwa semalam, ia juga terbawa arus alkohol ketika Jiyeon memaksanya meminum wine, namun ia tidak tahu bahwa mereka akan berakhir di ranjang pada pagi harinya.

Jika Tuhan mengizinkan, melalui kegiatan malam mereka—yang meski hingga kini tidak dapat diingat oleh keduanya—itu tetaplah sebagai menjadi tanda bahwa mereka saling memiliki.

“Omong-omong, bagaimana kalau lain kali kita melakukannya dalam keadaan sadar? Maksudku, tidak dalam keadaan mabuk seperti—”

“—tidak mau! Dasar mesum!” Jiyeon menyela kalimat Myungsoo dengan senyuman jahil, Myungsoo membalasnya dengan tawa.

.

.

おまけ

Sesempurna apapun Myungsoo, ia tetap memiliki kekurangan di mata Jiyeon. Bertahun-tahun bersama pria itu menjadikan Jiyeon paham sepenuhnya akan sosok Myungsoo, dan ketika orang menganggap suaminya adalah suami idaman atau pria sempurna, hanya Jiyeon yang mengetahui kekurangannya.’

Kendati Jiyeon telah mengatakan kekurangan Myungsoo berada pada persoalan keuangan. Myungsoo tetaplah Myungsoo yang selalu berdiri di depannya untuk melindunginya. Myungsoo yang akan melangkah mundur untuk memberinya indikasi bahaya seperti larangan untuk pergi ke ice skating.

Myungsoo tetaplah suaminya yang menuntunnya dari belakang dan akan menangkapnya ketika ia akan terjatuh. Serupa dengan rangkaian kejadian di mana Myungsoo selalu menentukan tempat kencan mereka. Dan, Jiyeon tersadar bahwa itu bukanlah kekurangan Myungsoo.

Karena Myungsoo selalu tahu yang terbaik untuknya dan melindunginya. Pria itu adalah sosok sempurna untuknya, dan Jiyeon tidak membutuhkan perhitungan lagi di mana titik kelemahan Myungsoo. Apapun yang dilakukan pria itu, semata hanyalah untuk dirinya. Jiyeon menyadari hal itu. Dan, Jiyeon begitu sayang pada Myungsoo-nya.

.

.

//finite.//

.

.

 

50 responses to “Tension [9]: Angel’s Anger #2/END

  1. Myung bener” suami bertanggung jawab bangettt , gg pernah mau nerima bantuan dari appa nya , bahkan pinjem mobil juga kagak mau , semua nya mau ditanggung am myung , keren (y)
    tapiiii ini setelah mereka married 1 bulan lebih baru sekarang mereka begitu , uhhh daebakkk , kkkkk
    myung harus berterima kasih am soojung , Hahaha

  2. Pingback: Tension [10]: Shame | High School Fanfiction·

  3. Pingback: Tension [11]: Willingness #1 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s