MY CHRISTMAS STORY [ONESHOOT]

mychristmastory

my_christmas_story

Tittle    : My Christmas Story

Genre  : Romance

Rating : PG 14 +

Length : 4309 words

Type    : Oneshoot

Author : @shaffajicasso

Cast     :

Park Jiyeon as Rian.

Kim Myungsoo as L.

.

.

.

London, 18 December 2012.

Salju turun cukup lebat mengguyur kota London malam ini, membuat semua orang-orang memakai jaket tebal untuk menghangatkan diri mereka. Lampu-lampu berwarna-warni telah menghiasi setiap pohon yang berjajar di sepanjang jalan kota London. Terlihat banyak sekali hiasan natal memenuhi pemandangan di bulan ini. Ya, sebentar lagi adalah hari natal.

Itulah mengapa semua orang terlihat sibuk untuk sekedar membeli pernak-pernik natal, memasang pohon natal, menghias tempat tinggal mereka, membuat kue-kue, dan sebagainya. Bahkan di setiap toko-toko atau mall-mall besar pohon natal dan hiasan natal terpajang dengan cantik.

Seorang perempuan sedang duduk di sebuah kursi taman di bawah lampu taman yang menyala. Ia memakai mantel tebal dan syal yang melilit di lehernya malam ini. Ia terlihat sedang memegang sebuah amplop kecil dengan hiasan natal. Perempuan itu tersenyum.

“Lalu, apa surat ini dari orang yang sama? Huh, kenapa dia sangat rajin mengirimi ku surat yang didalamnya puisi ataupun kata-kata yang indah dan manis.” Ucapnya, kemudian ia memutar amplop itu ke berbagai arah. “Seperti biasanya, tanpa nama si pengirim.” Kemudian, ia pun membuka amplop tersebut lalu membacanya.

“I’m scared of looking at you,
because the more I do,
the more I fall in love with you…”

Rian tersenyum, ia benar-benar merasa tersentuh dengan setiap surat yang diberikan seseorang yang ia tidak tau siapa pengirimnya. Yang sudah hampir dua bulan ini selalu memberinya surat. Rian pernah sempat berfikir apa ia mempunyai seorang penggemar rahasia? Sejauh ini, Rian masih tidak tau siapakah yang mengirim surat padanya. Rian sudah benar-benar penasaran. Di setiap surat yang ia terima, hampir semua isinya adalah tentang pengakuan bahwa seorang itu mencintai dirinya.

“Ini adalah surat ke 86. Huh, sampai kapan ia akan berhenti mengirim surat? Dan kapan ia akan datang menemuiku lalu menyatakan perasaanya padaku secara langsung.” Rian menghela nafasnya, ia memasukkan amplop tadi ke saku jaketnya dan saat sampai di apartemennya akan ia simpan di sebuah kotak. Kotak yang isinya adalah surat yang selama hampir dua bulan ini ia terima.

Rian menggosok-gosok telapak tangannya yang terasa dingin. Ini sudah pukul delapan malam, dan suhu semakin dingin tetapi Rian masih tidak bangkit dari duduknya. Ia masih tetap ingin diam disini, melihat lampu-lampu yang indah yang terpajang disepanjang jalanan. Tanpa disadari kedua sudut bibir Rian terangkat membentuk sebuah senyuman cantik.

Dan tanpa Rian sadari juga, sedari tadi ada seorang lelaki yang bersembunyi di balik pohon. Lelaki itu terus saja memandangi Rian, dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya yang tampan. Ya, lelaki itulah yang selalu memberi Rian surat. Ia penggemar rahasia Rian.

“Ah! Aku lupa sesuatu!” Rian menepuk dahinya pelan. “Aku lupa, aku bahkan belum menghias pohon natal. Ish! Babo gateun!” ucapnya. Rian bangkit dari duduknya, kemudian ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket.

“Hhh. Kenapa dingin sekali?” Rian berlari kecil meninggalkan taman kota yang masih ramai pada jam seperti ini.

.

.

Oxford street’s, 19 December 2012.

Beginilah suasana di Oxford street pada pagi hari. Oxford Street merupakan tempat perbelanjaan yang merupakan kawasan jalan yang panjangnya sekitar satu kilometer, sepanjang jalannya bisa dilihat berbagai macam toko. Hampir setiap hari kawasan ini selalu ramai, lalu lintas pun ikut ramai.

Hari ini, Rian sedang berada di Oxford street. Ia berniat akan membeli pernak-pernik natal. Rian memasuki sebuah toko yang menjual pernak-pernik natal.

“Halo. Aku ingin membeli pernak-pernik natal.” Ucap Rian.

.

Seusai membeli pernak-pernik untuk natal, Rian kembali menuju apartmennya yang letaknya tak terlalu jauh dari tempatnya ia berdiri sekarang.

Sesampainya di apartmennya, ada seseorang yang memegang bahu Rian. Hingga membuat Rian berbalik badan. Seorang anak remaja perempuan ternyata.

“Ada apa?” tanya Rian. Anak remaja itu menyodorkan sebuah amplop kecil kepada Rian. Rian memandang amplop tersebut, amplop yang sama. Rian menerima amplop tersebut.

“Dari siapa?” tanya Rian. Gadis itu tersenyum kepada Rian.

“Dari seorang lelaki yang tampan. Tadi ia berdiri tepat di depan pintu masuk. Tetapi sekarang ia sudah pergi.” Ucap gadis itu. Rian mengangguk.

“Thank you..” Rian berterima kasih. Lalu gadis itu berlalu meninggalkan Rian, Rian kembali membawa barang belanjaannya menuju kamar apartmennya.

Rian mulai menghias pohon natal, ia meletakkan pohon natal dekat dengan jendela besar menuju balkon apartmennya. Setelah menghias pohon natal, ia membersihkan dan merapihkan apartmennya walaupun sebenarnya tidak begitu terlihat kotor maupun  berantakan. Setelah semuanya selesai, Rian duduk di sofa. Lalu mengambil amplop kecil yang terdapat di meja. Rian membuka amplop tersebut, dan mengambil kertas kecil yang terdapat di dalamnya. Rian kembali tersenyum, surat yang kini ada di tangannya merupakan surat yang ke-87.

Salju turun cukup lebat akhir-akhir ini.
Jangan lupa untuk selalu memakai baju hangat.
Aku hanya tidak ingin kau sakit…

Rian tersenyum seusai membaca pesan singkat itu. Sungguh, orang ini begitu perhatian kepadanya. Apa ia benar-benar mencintai dirinya?

******

London’s University, 21 December 2012.

Rian menyusuri koridor universitas ini. Rian sampai di tempat penyimpanan loker. Rian membuka loker miliknya, lalu menyimpan buku bawaannya di dalam loker. Saat akan menutup kembali loker tersebut, penglihatan Rian menangkap sebuah amplop kecil yang tertempel di pintu loker. Rian mengambil amplop tersebut, kemudian membaca surat yang ada didalamnya.

“Apa aku boleh mencintaimu?
Sudah cukup lama aku menyimpan perasaan ini.
Sebentar lagi, tunggu saja.”

Rian terheran seusai membaca pesan tersebut. Sebentar lagi? Apa maksudnya? Apa mungkin orang ini akan mengungkapkan dirinya yang sebenarnya?

“Rian!” panggil seseorang, dengan cepat Rian memasukkan amplop tadi ke dalam sakunya.

“Eoh? Hai. L!” sapa Rian, ia tersenyum.

“Sedang apa kau disini?” L menghampiri Rian.

“Aku hanya menyimpan buku milikku.” Rian tersenyum.

“Saat liburan natal, apa kau akan kembali ke Korea?” tanya L, Rian menggelengkan kepalanya.

“Anhi, tahun kemarin aku sudah pulang ke Seoul. Untuk tahun ini aku akan merayakan natal disini. Aku ingin tau bagaimana suasana natal di London.” Ucap Rian. Rian berjalan mendahului L, kemudian L menyusul Rian.

“Jika kau akan kembali ke Seoul aku ikut.” Ucap L.

“Tahun kemarin kau bahkan tidak pulang ke Seoul. Apa kau tidak rindu keluargamu yang di Seoul?” tanya Rian. L hanya tersenyum

Rian dan L memang sangat dekat, mereka berdua bisa dikatakan sahabat. Mereka sama-sama dari Seoul yang kuliah di London. Jika dikampus, mereka selalu terlihat jalan beriringan, banyak sekali mahasiswa di kampus ini yang menyangka bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Banyak pula yang iri atas kedekatan mereka.

Kini Rian dan L sedang berada di cafeteria, mereka makan siang bersama. Beginilah kedekatan mereka jika sudah berada di kampus. Sikap mereka masing-masing seperti bukan sikap sebatas sahabat.

“Hm, natal kali ini pasti akan seru.” L membuka pembicaraan duluan, Rian mengangguk menanggapi ucapan L.

“Aku baru tau jika saat natal London begitu ramai dan indah. Apalagi hiasan-hiasan natal yang terpajang cantik di sepanjang jalanan.” Ucap Rian.

“Jangankan begitu, nanti tanggal 24 akan ada festival. Festival akan dimulai dari jam 11 malam hingga selesai. Pada tepat jam 12 malam akan ada kembang api yang menghiasi langit malam. Sungguh indah.” L tersenyum. Ia memasuki potongan waffle kedalam mulutnya.

“Benarkah? Pasti akan sangat seru!” ucap Rian antusias. L memandang wajah Rian, sesaat kemudian L tertawa.

“Kenapa? Apa yang kau tertawakan Kim L?’ tanya Rian heran.

“Kau itu sudah besar, tetapi jika saat kau makan masih seperti anak kecil.” Ucap L. Tangan L terangkat, ia memegang sudut bibir Jiyeon.

Deg.

Jantung Rian berdetak sangat cepat. Tidak mungkin Rian mempunyai penyakit serangan jantung. Mata Rian mengerjap beberapa kali.

“Igeo, kau makan belepotan.” L tersenyum. Kemudian jari-jari tangan L mengusap sisa coklat yang menempel di sudut bibir Rian. Rian salah tingkah, ia menunjukkan cengirannya yang canggung.

******

London Bridge, 23 December 2012

Rian kini sedang berada di London Bridge, ia sedang berdiri di pinggiran jembatan ini, menikmati udara pagi yang menyejukkan. Hari ini salju tidak turun, tidak seperti beberapa waktu terakhir yang turun cukup lebat. Rian menaruh kedua sikunya di pagar pembatas dengan pandangan menatap sungai Thames yang besar ini.

Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahu Rian, membuat ia pun menoleh. Seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengan Rian.

“Here it is…” orang itu menyodorkan amplop kecil kepada Rian. Rian sudah hafal pastinya siapa pengirimnya, pasalnya amplopnya sangat sama dengan surat-surat yang sebelumnya.

“Thank you…” Rian mengambil amplop itu, lalu menundukkan kepalanya sedikit lalu tersenyum. Perempuan itupun pergi.

Rian menengadahkan kepalanya, matanya mengitari setiap sudut tempat ini. Tidak ada, tak ada orang yang terlihat mencurigak di tempat ini menurut Rian. Rian menghembuskan nafasnya.

“Surat ini, surat yang ke 95. Apa ini akan mencapai ratusan? Woah, hebat!” Rian membuka amplop tersebut dan membaca surat yang di dalamnya.

“Saat melihat senyummu, aku terjatuh.
Aku merasa kembali terjatuh, terperangkap atas pesonamu.
Apa kau bisa membukakan hatimu untukku?”

Rian terdiam. Ia memegang dadanya, Rian merasakan sesuatu. Hatinya resah, benar-benar resah. Bagaimana jika lelaki ini datang menemuinya nanti secara langsung, lalu mengungkapkan perasaannya kepada Rian.

“Bagaimana jika itu memang terjadi? Oh tidak! Bagaiman dengan perasaanku terhadap L? Omo!” Rian menutup mulutnyya cepat.

“Aku keceplosan! Eottokeh? Aku menyukai L, tetapi bagaimana dengan lelaki ini? Bagaimana jika lelaki ini mendahului L? Eottokeh? Aissh!” Rian bingung, wajahnya terlihat sangat bingung.

Disisi lain Rian memang menyukai L sudah lama ini, tetapi ia tak berani jika mengatakan ini pada L. Ia berfikir apa jadinya jika seorang yeoja yang mengatakan pertama tentang perasaannya? Itu gila! Disisi yang lain, ada seseorang yang selama ini bisa dibilang penggemar rahasia Rian yang selalu member dirinya surat. Rian bingung, harus memilih siapa. Walaupun Rian tau, sangat kemungkinan kecil jika L juga akan menyukai Rian.

Tetapi Rian egois, ia sudah terlanjur menyukai L sejak pertama waktu itu. Yang ia sama sekali tidak sangka adalah dirinya dan L bisa menjadi sahabat seperti sekarang ini. Itu sempat membuat Rian senang dan berfikir itu akan mudah untuk dirinya mendekati L. Tetapi bagaimana jika L hanya menganggapnya hanya sebatas sahabat? Yang Rian ketahui, selama ini ia tak pernah melihat L dengan perempuan lain sedang bermesraan. Lebih tepatnya ia berfikir bahwa hingga saat ini, L masih belum mempunyai seorang kekasih.

“Aku akan gila setelah ini!”

.

13.00 p.m.

Rian berjalan menyusuri koridor kampus ini. Ia membawa beberapa buku di dekapan nya. Rian menatap layar ponselnya, tak ada satupun pesan ataupun hanya sekedar notification dari akun jejaring sosialnya. Rian mendengus. Hingga langkahnya terhenti saat ada seseorang memanggil dirinya.

“Rian!” Rian menoleh ke belakang keasal suara tersebut.

“Eoh? Hai, Henry!” Rian tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Henry menghampiri Rian.

“Ini!” Henry menyerahkan sebuah amplop kepada Rian. Rian mengenali amplop itu. Seperti biasanya. Rian mengambil amplop tersebut.

“Ini dari siapa?” tanya Rian. Henry berbalik ke belakang, lalu menunjuk sesuatu. Ia menunjuk tembok.

“Apa yang kau tunjuk?” tanya Rian tak mengerti.

Rian POV

“Apa yang kau tunjuk?” tanyaku tak mengerti.

“Tadi pria itu ada di sana. Ia bersembunyi di balik tembok itu. Pria yang memberimu amplop itu.” Ucap Henry yang terlihat bingung. Aku kembali melihat tembok yang Henry tunjuk, aku melihatnya. Ya, pria itu memang bersembunyi di balik tembok itu.

“Thanks. Aku pergi.” Aku setengah berlari menuju tembok tersebut.

Sungguh, tadi aku benar-benar melihat pria yang di maksud Henry. Walaupun wajahnya tidak sepenuhnya terlihat oleh penglihatanku karena dia memakai masker dan topi, tapi aku bisa yakin bahwa itu dia. Karena tadi pria itu mengintipku dan Henry saat sedang bicara.

Tak ada siapapun di balik tembok ini. Sepertinya ia mengetahui bahwa aku akan kemari untuk memastikan. Jadi ia pergi lebih cepat. Sial! Aku kehilangan pria itu. Aku memandang ke pintu darurat. Apa mungkin pria itu masuk ke sini? Aku berniat untuk masuk ke pintu darurat ini. Aku memegang knop pintu, dan membuka pintu ini perlahan.

“Rian!” aku menoleh saat ada seseorang memanggil namaku. Selena. Aku mengurungkan niatku untuk mencari pria itu. Dan meninggalkan tempat ini.

Author POV

Rian kembali menutup pintunya, dan menghampiri Selena lalu meninggalkan tempat ini. Rian tak tau, ternyata  ada seorang pria yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu ini. Sedari tadi nafasnya memburu, dan juga jantungnya berdetak sangat kencang. Ia takut Rian akan tau, keringat dingin membasahi wajahnya sedari tadi. Ia membuang nafasnya lega.

“Hampir saja.”

******

24 December, 21.40

Seperti yang di katakan L, malam ini akan ada festival menyambut hari natal. Lampu-lampu warna-warni menyala dengan cantiknya. Kini Rian berada di Oxford Street bersama dengan L. Karena festival dimulai pukul 11 malam. Rian dan L memilih untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Mereka memasuki sebuah toko baju di kawasan Oxford.

“L-ah, bagaimana dengan mantel berwarna merah ini?” tanya Rian, ia menunjukkan sebuah mantel berwarna merah kepada L. Mata L memandang mantel terebut, kemudian ia mengangguk.

“Bagus, itu sepertinya cocok untukmu.” Ucap L. Rian tersenyum.

Kemudian Rian menemukan sebuah mantel untuk pria yang berwarna merah juga. Rian mengambil mantel tersebut kemudian melihatnya, lalu beralih memandang L.

“Hm, sepertinya akan cocok di L.” ucap Rian. Rian menghampiri L dengan membawa mantel yang tadi ditangannnya.

“L-ah! Bagaimana dengan ini?” Rian menunjukkan mantel yang ia pilih tadi kepada L. L terheran.

“Untuk siapa? Bukankah itu untuk pria?” tanya L.

“Ishh, ini untukmu!” Rian memberikan mantel tadi ke L. “Aku akan membelikannya untukmu.” Ucap Rian kemudian.

“Jinja? Aigoo, kau benar-benar baik.” Ucap L, ia tersenyum.

“Kau baru tau jika aku baik? Ckck.” Rian kembali melihat-lihat pakaian. Tangan Rian menyentuh sebuah dress selutut dengan tangan panjang berwarna coklat.

“Yeoppo, aku akan membeli ini.” Rian tersenyum. L memandang Rian, tanpa disadari L kedua sudut bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman.

.

Kini Rian dan L sedang berada di sebuah café, sebenarnya Rian yang memaksa L untuk mampir ke café karena Rian merasa lapar. Rian memang seperti itu, mudah sekali lapar. Ia bahkan menyukai makan.

“Aku yang akan traktir.” Ucap L. Mereka memesan makanan kecil.

“Uh, gomawo L-ah…” Rian mencubit pipi L.

“Ya!” L memegang pipinya yang sepertinya sudah merah sekarang karena Rian mencubitnya.

“Huh, pukul 11 malam pun belum.” Rian mempoutkan bibirnya lucu, setelah melihat arloji miliknya yang terpasang di tangannya ternyata barusaja pukul 22.12.

“Tinggal beberapa menit lagi.” Ucap L santai.

“Beberapa menit katamu? Ckck..” Rian menggelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. Rian dengan cepat melahap spaghetti yang ia pesan. Rian sepertinya benar-benar kelaparan, lihat saja bagaimana ia begitu lahap memakan spaghetti itu. Sedangkan L, memakan spaghetti miliknya dengan santai.

“Jiyeon-ah…” panggil L.

“Uhuuk uhuk…” Rian tersedak, dengan cepat ia meminum air putih yang sudah tersedia.

“Ya! Kenapa kau memanggilku dengan nama asli?” kesal Rian. Ya, nama asli Rian memang Park Jiyeon tetapi di London ia menggunakan nama Rian. L terkikik saat melihat ekspresi Rian.

“Anhi, aku hanya ingin memanggilmu Jiyeon.” Ucap L.

“Dasar kau Kim Myungsoo!” Rian kembali melahap spaghetti.

“Jiyeon-ah, kau tunggu di sini aku akan membayar makanan dulu.” Ucap L, L pun bangkit dari duduknya dan berlalu.

Rian meminum coklat hangat yang tadi ia pesan. Rian memandang keluar jendela melihat orang yang berlalu lalang dari dalam.

“Nona…” panggil seseorang. Rian menoleh.

“Ya?” ternyata seorang pelayan dari café ini.

“Ini ada titipan dari seseorang untuk anda.” Ucap pelayan itu dan menyerahkan sebuah amplop kecil pada Rian. Rian menatap amplop itu, amplop yang sama seperti amplop yang ia terima sebelumnya.

“Terima kasih.” Ucap Rian. Kemudian pelayan itupun berlalu meninggalkan meja yang Rian tempati.

Rian membuka amplop tersebut lalu membaca surat yang berada di dalamnya. Matanya membulat seusai membaca surat tersebut. Ini merupakan surat yang ke 97.

“Besok pergilah ke taman Greenwich.
Aku menunggumu disana, pukul 8 pagi.”

.

“Ayo cepat! Lima menit lagi festivalnya akan di mulai!” ucap L. L berjalan mendahului Rian.

“Ya! Aku sudah berjalan secepat yang aku bisa.” Ucap Rian kesal. “Aigoo kakiku sakit jika berjalan cepat seperti ini.” Ucap Rian.

“Aish, kau lama!” ucap L. L menghampiri Rian yang berada di belakangnya lalu menarik lengan Rian. Dan membawa Rian berlari bersamanya.

Rian tak bisa melarang L maupun memarahinya karena sudah menarik lengannya. Rian hanya bisa diam, menurut pada L. Rian menatap tangan L yang menggenggam tangannya. Tanpa disadari keduanya tersenyum senang.

.

“Eoh? L-ah, lihatlah ada badut!” ucap Rian, ia menunjuk badut yang berpakaian seperti sinter clause yang sedang bermain bersama dengan anak-anak kecil.

“Lihatlah diatasmu ada apa.” Bisik L tepat ditelinga Rian, membuat Rian geli karena deru nafas L. Rian menengadahkan kepalanya keatas.

“Woahh.” Rian terkagum saat melihat rangkaian lampu berbentuk pohon natal kecil dan seperti kepingan salju. “Ini sangat indah. Kenapa sedaritadi aku tak menyadari jika ada lampu ini?” ucap Rian.

L menjitak kepala Rian. “Babo Rian! Tentu saja. Tadi lampu ini belum dinyalakan, pantas saja kau tak tau.” Ucap L. Rian tersenyum.

“Eoh! Lihat!” Rian menunjuk pohon natal yang sangat besar yang begitu indah dan berwarna-warni. “Indah bukan?” Rian tersenyum.

“Kau suka?” tanya L. Rian mengangguk.

“Joha. Nan haengbokhae.” Ucap Rian senang.

“Jinja?” tanya L lagi. Rian memandang L, menatapnya.

“Eum. Gomawo, kau sudah mengajakku kemari. Dan, terima kasih juga kau sudah menemaniku.” Ucap Rian. “Gomawo, nae chingu-ya.” Ucap Rian kemudian. L terdiam saat mendengarnya, ia menatap Rian dengan pandangan yang tak bisa di artikan. L menatap Rian tanpa berkedip. Rian merasa risih karena L menatapnya seperti itu.

“W-wae?” tanya Rian. Rian mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Anhi. Sudah lihatlah festivalnya.” Ucap L. L mengeluarkan ponselnya dan memainkannya. Rian mengangguk, dan menurut pada L.

“Chingu?” gumam L pelan. Sangat pelan. Tetapi ternyata Rian mendengarnya, sangat jelas.

Rian terdiam. ‘Apa L tak suka saat aku memanggilnya teman?’– batin Rian. Rian menundukkan kepalanya. Ia tak mau menanyakannya, ia takut.

.

23.58 p.m

“Rian-ah sebentar lagi akan ada kembang api.” ucap L.

“Benarkah?” tanya Rian antusias. L mengangguk, L melirik arlojinya.

“Hanya tinggal 2 menit lagi.” ucap L. Rian tersenyum senang.

“Lihat! Mereka sudah mau mulai menyalakan kembang apinya!” ucap Rian.

“Apa kalian siap?” teriak seseorang yang berada di atas panggung kecil.

“Ya!” teriak orang-orang di sekitar sini dengan kompak. Termasuk Rian.

“Baiklah. Kalian benar-benar ingin melihat kembang api?” teriak orang itu lagi.

“Ya!”

“Ok, ayo kita hitung! Kita hitung mundur oke? Mulai dari tiga.”

“Mulai!”

“Tiga … ”

“Dua …”

“Satu!”

Dan… ya. Ini indah sekali, Rian menatap langit yang sangat indah yang dipenuhi oleh kembang api berwarna warni. Rian tersenyum, ia senang sangat senang. L menatap Rian, L tersenyum. Kemudian sesuatu melintas di pikiran L. Ia merogoh saku mantelnya dan mengambil ponselnya.

“Rian-ah, ayo kita berfoto bersama.” ucap L. Rian menoleh heran.

“Apa? Bersama?” tanya Rian. L mengangguk, L mendekat lalu ia merangkul bahu Rian. Rian memandang tangan L yang berada di bahunya, Rian tersenyum lalu ia memandang wajah L.

‘Ini sangat dekat. Aku bisa melihat wajahnya sangat dekat.’ 

“Jja, tersenyumlah. Dan lihat ke kamera.” ucap L. Rian mengangguk. Rian menunjukkan peace sign dan tersenyum manis, ia melihat ke kamera.

Cklek.

“Lagi! Satu kali lagi!” ucap L.

“Mwoya? Sudah hanya satu!” ucap Rian.

“Ya! Kita sudah bersahabat selama 2 tahun, tetapi kita sama sekali tak punya foto saat kita sedang bersama. Ishh ishh…” ucap L. Rian terdiam memandang L sesaat.

“Arraso.” ucap Rian. L kembali tersenyum, mereka pun kembali mengambil foto bersama. 1, 2, 3, 4, 5. Mereka berpose dan ekspresi mereka sangat lucu di foto-foto itu.

“Selamat natal, Park Jiyeon.” ucap L, L tersenyum kepada Rian. Rian menatap L.

“Selamat natal juga, Kim Myungsoo.” ucap Rian, ia tersenyum kepada L.

Mereka saling menatap satu sama lain. Mereka bersenang-senang malam ini. Berdua…

******

Greenwich Park, 25 December 2012

Rian berada di Greenwich Park sekarang. Semulanya Greenwich di hiasi oleh rumput yang hijau, kini rumput itu tertutup oleh salju tebal. Walaupun masih pagi, tetapi sudah banyak sekali orang yang berada disini.

“Kau ini bodoh atau apa Rian-ah? Greenwich sangat luas. Itu gila jika kau harus mencari orang itu di taman yang seluas ini dengan banyak sekali orang yang berkunjung ke taman ini. Masalahnya, kau tidak tau bagaimana wajah orang itu, aishh!”

Tiba-tiba saja ada tangan kecil yang menarik-narik lengan Rian, Rian berbalik ke belakang dan mendapati seorang gadis kecil yang lucu. Rian berjongkok mensejajarkan tingginya.

“Ada apa?” tanya Rian lembut. Gadis kecil itu menyerahkan amplop kecil kepada Rian. Rian tersenyum lalu mengambil amplop itu. “Thank you…” gadis kecil itupun berlari meninggalkan Rian. Rian membaca surat di dalamnya.

“Pergilah ke jembatan. Tempatnya tak jauh dari tempat kau berdiri sekarang. Jika kau sudah di sana, lihatlah disana ada sebuah kotak kecil, lalu ambillah kotak itu beserta kertas kecilnya.”

Rian terdiam sejenak, kemudian Rian mengikuti apa yang ada di dalam surat tersebut. Rian melangkahkan kakinya menuju jembatan yang di maksud di dalam surat itu.

Sesampainya di jembatan yang dituju, Rian mencari-cari kotak yang dimaksud. Tak lama kemudian Rian pun menemukan kotak itu. Kotak kecil berwarna merah dengan pita berwarna putih. Rian mengambil kotak tersebut, ternyata di bawah kotak tersebut terdapat sebuah kertas kecil. Rian mengambilnya lalu membaca isi surat itu.

“Hitunglah sampai hitungan kelima. Kemudian berbaliklah ke belakang.”

Rian tersenyum seusai membacanya. Rian memejamkan matanya, jantungnya berdegup kencang. Kemudian Rian mulai menghitung di dalam hatinya.

1

2

3

4

5

Rian berbalik badan tanpa membukakan matanya. Kini dihadapannya sudah berdiri seorang pria tampan dengan senyuman yang mengembang.  Pria itu terkikik geli saat melihat Rian berbalik badan tanpa membukakan matanya. Pria itu mendekat ke arah Rian, lalu ia memegang kedua bahu Rian. Rian terperanjat kaget saat merasakan ada tangan yang memegang kedua bahunya. Pria itu menahan tawanya.

“Buka matamu! Kenapa kau menutup mata, huh?” ucap pria itu.

Rian terdiam, Rian merasa ia mengenal suara berat itu. Rian benar-benar mengenal suara itu. Perlahan Rian membuka matanya. Dan kini Rian melihat seorang pria tampan yang ia kenal yang ada dihadapannya ini. Pria itu tersenyum kepada Rian. Rian sangat terkejut, ia tak bisa berkata lidahnya kelu. Rian hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

‘Kim Myungsoo!’

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tampan bukan?” ucap L dengan percaya dirinya. Rian memukul dada L, terlihat kini mata Rian berkaca-kaca.

“Kau! Apa yang kau lakukan di sini? Mana pria itu?” tanya Rian yang masih tak percaya.

“Pria mana? Sedari tadi hanya aku yang berada dibelakangmu. Bahkan sedari tadi aku mengikutimu dari belakang.” Ucap L. L menghembuskan nafasnya pelan. L mengambil kotak kecil yang ada di genggaman Rian lalu menggenggam kedua tangan Rian.

Rian menatap L tak percaya, jika memang pria yang selama ini selalu mengiriminya surat adalah L, jika memang benar L. Sungguh, Rian sangat senang jika memang itu benar. Air mata Rian jatuh begitu saja, membasahi kedua pipi Rian yang mulus.

“Ya pria itu aku. Aku yang selalu mengirimi surat.” Ucap L, yang sukses membuat Rian terdiam. “Mulai sekarang, panggil aku Myungsoo. Kim Myungsoo.” Ucap Myungsoo. “Dan aku juga akan memanggilmu Jiyeon, bukan Rian. Yang kini ada dihadapanku bukan Rian, melainkan Park Jiyeon.” Ucap Myungsoo.

Rian memukul dada Myungsoo beberapa kali, sembari sesenggukan. “Kenapa kau melakukan ini?” tanya Jiyeon.  Jiyeon berhenti memukul Myungsoo lalu menatap nya.

“Aku melakukannya, agar kau tidak meragukan perasaanku padamu.” Ucap Myungsoo, kemudian ia tersenyum.

Jiyeon berjinjit, lalu memeluk leher Myungsoo. Jiyeon menenggelamkan wajahnya di dada Myungsoo, Jiyeon menangis disana. Tangan Myungsoo terangkat, ia membalas pelukan Jiyeon dengan sangat erat.

“Ragu? Untuk apa aku ragu? Tanpa kau melakukan hal itupun, aku tak akan meragukanmu. Kenapa? Karena aku mencintaimu, Kim Myungsoo. Semenjak kita menjadi dekat, perasaan itu mulai tumbuh.” Ucap Jiyeon.  Myungsoo tak menyangka jika Jiyeon juga mempunyai perasaan yang sama.

“Benarkah? Jadi selama ini kita saling memendam perasaan kita masing-masing? Dan ternyata selama ini aku sudah memilih jalan yang panjang.” Ucap Myungsoo, Jiyeon melepas pelukannya.

“Kita sama-sama bodoh ternyata.” Myungsoo tersenyum mendengar perkataan Jiyeon.

“Jadi? Sekarang kita resmi pacaran?” tanya Myungsoo. Jiyeon mengangguk pasti. Myungsoo menaruh kedua telapak tangannya di pipi Jiyeon, lalu mengusap air mata yang masih berbekas di sana.

“Jangan menangis. Aku tidak mau melihatmu mengeluarkan air mata. Apalagi penyebab kau menangis itu karena aku.” Ucap Myungsoo. Myungsoo mengelus pipi Jiyeon. Jiyeon tersenyum.

“Issh tadi itu aku menangis karena aku bahagia.” Ucap Jiyeon.

“Kau bahagia? Itu berarti kau bahagia bersamaku?” tanya Myungsoo. Jiyeon mengangguk.

“Kalau begitu, jika kau merasa tidak bahagia bersamaku. Katakan saja padaku. Heum?” ucap Myungsoo. Jiyeon kembali mengangguk.

“Myungsoo-ah…” panggil Jiyeon.

“Wae?” tanya Myungsoo.

“Kotak itu, apa isinya? Sedaritadi aku sangat penasaran.” Ucap Jiyeon, ia menunjuk kotak kecil yang ada digenggaman Myungsoo.

“Ah iya, aku hampir saja lupa. Mana tanganmu?” Myungsoo menadahkan tangannya. Jiyeon mengulurkan tangannya.

Myungsoo membuka kotak kecil itu. Jiyeon terkejut saat tau ternyata di dalamnya ada cincin yang cantik. Jiyeon menutup mulutnya dengan telapak tangan. Myungsoo mengambil cincin itu, lalu memegang tangan Jiyeon. Kemudian Myungsoo memasukkan cincin tersebut ke jari manis Jiyeon. Cincin itu terlihat cantik sekali jika dipakai di jari manis Jiyeon.

“Gomawo…” Jiyeon kembali berjinjit dan memeluk leher Myungsoo. Myungsoo melingkarkan tangannya di pinggang Jiyeon. Myungsoo menghirup aroma tubuh Jiyeon yang sangat ia sukai.

Jiyeon melonggarkan pelukannya, lengan Jiyeon masih melingkar di leher Myungsoo. Jiyeon menatap Myungsoo, Jiyeon tersenyum manis pada Myungsoo. Myungsoo menarik tubuh Jiyeon hingga membuat jarak mereka semakin dekat.

“Omo!” Jiyeon terkejut.

Myungsoo mendekatkan wajahnya kepada Jiyeon, tangan kanan Myungsoo terangkat ia memegang tengkuk Jiyeon. Wajah mereka semakin dekat, Jiyeon yang tau akan terjadi apa ia hanya bisa menutup matanya. Myungsoo memiringkan kepalanya hanya tinggal sekitar tiga senti lagi Myungsoo berhenti. Myungsoo menatap bibir Jiyeon yang merah muda. Ia tersenyum.

Myungsoo memejamkan matanya. Hingga akhirnya, bibir Myungsoo dan Jiyeon saling bertemu. Myungsoo melumat bibir Jiyeon lembut. Jiyeon tersenyum dalam diam. Jiyeon membalas lumatan Myungsoo dengan lembut. Bagi Jiyeon, ciuman ini adalah first kiss baginya …

Bagi Jiyeon natal tahun ini merupakan natal yang paling berkesan di bandingkan dengan natal-natal sebelumnya. Karena natal tahun ini, ia mempunyai banyak sekali cerita. Cerita yang sangat mengesankan. Dan di tahun ini, ia memilikki Myungsoo. Kim Myungsoo.

“Saranghae…” bisik Myungsoo tepat di telinga Jiyeon.

“Kajja, kita pergi.” ucap Myungsoo. Jiyeon menatap Myungsoo heran.

“Eoddi?” tanya Jiyeon.

“Ke suatu tempat.” Myungsoo menatap Jiyeon, ia menggenggam tangan Jiyeon erat. Jiyeon memandang tangannya dan Myungsoo yang bertautan. Jiyeon menatap Myungsoo lalu tersenyum.

Mereka pun berjalan bersama di bawah salju  yang sedang turun cukup lebat hari ini, dengan tangan yang saling bertautan. Mereka mengayunkan tangan mereka.

“Myungsoo-ah.” panggil Jiyeon.

“Hm?”

“Apa kau sadar? Sudah berapa surat yang kau berikan padaku?” tanya Jiyeon. Jiyeon menatap tajam Myungsoo, tetapi Myungsoo tersenyum.

“100 surat.” ucap Myungsoo. Pandangannya lurus ke depan.

“Geurae, 100 surat. Kau tau? Aku menyimpan semuanya dalam sebuah kotak di apartemenku. Kecuali tiga surat tadi.” ucap Jiyeon.

“Kita mau kemana?” tanya Jiyeon.

“Rahasia.” ucap Myungsoo.

“Ya! Apa kita akan menonton bioskop?” tanya Jiyeon berharap. Myungsoo menggeleng.

“Anhi, kita akan makan. Aku lapar.” ucap Myungsoo.

“Tchh, neo jinja.” Jiyeon berdecak kesal. Jiyeon melepas genggaman tangan Myungsoo.

“Wae? Kenapa kau melepaskannya?” tanya Myungsoo kesal. Jiyeon mengabaikan perkataan Myungsoo.

Jiyeon memeluk lengan Myungsoo lalu menyenderkan kepalanya di bahu Myungsoo. Myungsoo menatap Jiyeon tak percaya, kemudian mereka kembali berjalan. Myungsoo tersenyum. Sesekali mereka saling melempar senyuman satu sama lain. Mereka terlihat sangat senang…

’25 December 2012. Gomawo…’

.

.

.

– The End –

52 responses to “MY CHRISTMAS STORY [ONESHOOT]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s