Because of Love

02-because-of-love

Title     : Because of Love

Genre  : AU, Romance, Angst

Main Cast: Bae Soo Ji as Miss A Suzy, Kim Myung Soo as Infinite L

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Desy M (exoluhanfanfictionindonesia)

Terinspirasi dari dramanya Rain ama Krystal, My Lovely Girl !

Happy reading guys🙂

***

 

Bae Sooji mengangkat bahunya angkuh, melipat kedua tangannya di atas meja dengan rapi. Dengan kentara, gadis berusia 21 tahun itu menjatuhkan tatapan tajamnya pada gadis seumuran di hadapannya, teman sekelasnya semasa sekolah dulu. mereka tidak dekat, Sooji sangat ingat bagaimana ia begitu menjaga jarak dari gadis yang selalu menempel pada Myungsoo –entah bagaimana ceritanya.

Dengan gerakan kaku, Soojung menyampirkan anak rambutnya yang berjatuhan ke depan, ia ingin mengatakan sesuatu pada Sooji yang tiba-tiba saja ingin menemuinya di Kona Beans. Tapi ia selalu kehilangan kata-katanya tiap kali Sooji memberinya tatapan intimidasi, seperti sekarang ini.

“Aku masih tidak mengerti, apakah ada yang tidak kau mengerti dari perkataanku?” lagi-lagi harus Sooji yang angkat suara, membuka pembicaraan. Membuat gadis itu terkesan begitu banyak bicara dan Soojung adalah gadis pendiam. Sooji pun sedikit memiringkan kepalanya, “Tinggalkan Myungsoo Oppa. apa kau tidak mengerti juga?”

Soojung pun menggeser tubuhnya sedikit, “Tidak ada alasan bagus untukku melakukan itu Sooji-ssi. Kau tahu, disini posisiku sudah begitu jelas, aku kekasihnya. Kami sudah berhubungan sejak SMA. Lalu apa yang harus membuatku meninggalkannya? Apakah semua masih kurang jelas?” Soojung diam-diam menelan ludahnya gugup, “Kami saling mencintai. Dia memlihku, dan kau hanya sahabatnya Bae Sooji.”

Sooji menarik kedua sudut bibirnya kecut. Benar. Gadis itu benar. Soojung lah yang dipilih oleh Myungsoo, Soojung lah yang dicintai Myungsoo, dan Soojung menang. Tapi tetap saja, Sooji tidak akan semudah itu menerima kenyataan. Ia juga mencintai Myungsoo, jauh sebelum gadis bernama Soojung itu muncul di kehidupan Myungsoo, jauh sebelum gadis itu mengenal Myungsoo dan mengubah statusnya menjadi kekasih Myungsoo.

Sooji juga mencintai Myungsoo. Ia tidak tahu kapan detailnya, yang ia tahu ia sudah begitu terbiasa menghabiskan waktunya bersama Myungsoo di sepanjang hidupnya. Ia yang selalu berada di samping Myungsoo, ia yang tahu bagaimana jatuh bangunnya kehidupan Myungsoo, bahkan saat gadis bernama Soojung itu tidak tahu apapun, Sooji selalu ada untuk Myungsoo dan selalu tahu apa yang terjadi pada Myungsoo.

Jadi boleh kan ia egois? Boleh kan ia memperjuangkan perasaannya pada Myungsoo?

“Kau tidak tahu diri Jung Soojung. Kau kira siapa dirimu? Kau punya apa sampai kau merasa begitu pantas untuk Myungsoo Oppa?”

“Bae Sooji…”

“Bahkan ayahnya sudah mewanti-wantimu untuk menjauhi Myungsoo Oppa secepatnya. Dan kau masih mau berputar di sekitar Myungsoo Oppa tanpa tahu malu?”

“Lalu kenapa?” Soojung menaikkan oktav suaranya, “Lalu kenapa jika aku tidak punya apa-apa? aku masih bisa membahagiakannya, aku masih bisa mempertahankan hubungan ini. Kami. Kami yang akan melakukannya, bukan hanya aku Bae Sooji!”

Mulut Soojung langsung terbungkam, tepat ketika Sooji menyiram wajah manis gadis bermarga Jung itu. Sooji tahu, Soojung bahkan lebih cantik darinya, mungkin Soojung malah lebih baik darinya. Tapi siapa peduli?

Sooji pun berdiri dari kursinya, mengabaikan puluhan pasang mata yang berbondong-bondong menonton adegan gratis itu.

“Aku tetap tidak akan diam Jung Soojung. Camkan itu baik-baik.”

 

***

 

Sooji mengikat asal rambut hitam panjangnya. Kemudian, dengan mata berbinar Sooji mengambil sekotak kue tart yang dibelinya tadi sore sebelum ia sampai ke apartemen Kim Myungsoo. Perlahan, Sooji membuka kotak di pangkuannya itu, melemparkannya sebuah senyuman cantik.

Ia jarang bisa tersenyum secerah itu. Dan Kim Myungsoo salah satu pengecualian. Selalu ada alasan untuk melempar senyum pada pria itu, bahkan meskipun pria itu tidak tersentuh oleh jarak matanya.

Setelah membiarkan pikirannya berlarian selama beberapa detik, Sooji langsung menutup kotak itu dan membuka pintu mobilnya. Berjalan cepat menuju lift dan menekan tombol menuju lantai apartemen Myungsoo. Ia sudah tidak sabar untuk melihat senyum yang akan terpaat di wajah Myungsoo nanti.

 

“Selamat hari persahabatan kita!!!”

Myungsoo mengerjapkan matanya saat sebuah kue berwarna coklat dengan lilin merah menyala di atas kue itu tersodor tepat ke arah wajahnya. Myungsoo pun mengalihkan tatapan matanya ke arah mata Sooji, gadis itu tersenyum kekanakan, seperti biasa. Terlepas dari umurnya yang sudah menginjak angka 21.

Myungsoo pun balas tersenyum, “Dasar! Kau masih merayakan hal-hal semacam ini?” katanya dengan nada kesal dibuat-buat.

Sooji hanya mengedikkan bahunya cuek, kemudian mendorong Myungsoo, memaksa agar dirinya tetap bisa masuk ke dalam apartemen Myungsoo yang terbilang cukup mewah itu. Terlalu mewah untuk ukuran mahasiswa S2 yang merangkap sebagai seorang penulis lagu yang hidup seorang diri.

Sooji pun langsung meletakkan kuenya di atas meja, “Cepat! Tiup lilinnya oppa!”

Myunsoo menggeleng pelan dan melangkah mendekati Sooji, “Ada-ada saja, bagaimana bisa kau menentukan tanggal persahabatan kita padahal kita tidak tahu sejak kapan kita berteman,” ucap Myungsoo.

Sooji sedikit mengerucutkan bibirnya kesal, “Kau juga suka merayakan hari jadimu dnegan Soojung, kenapa kau tidak mau melakukannya denganku?”

Raut wajah Myungsoo berubah saat Sooji mulai kembali menyebut nama Soojung. Gadis itu selalu saja seperti itu, dan sikap Sooji yang satu itu membuat Myungsoo sedikit kurang nyaman. Bagaimanapun, Sooji dan Soojung adalah 2 orang terpenting dalam hidupnya. Tapi Myungsoo sama sekali kehabisan ide untuk membuat mereka akur.

“Kau tahu, Soojung…”

“Soojung adalah kekasihmu dan aku hanya sahabatmu, dan jangan katakan lagi. aku muak mendengarnya,” potong Sooji cepat. Selain bisa membuat Sooji mudah tersenyum, disisi lain Myungsoo selalu bisa membuat mood nya rusak.

“Jadi, kau tidak akan meniup lilinnya?”

“Sooji, dengar…”

“Tidak akan? Yasudah,” Sooji pun langsung meniup lilin itu seorang diri. Dan ia harap, ia bisa meniup perasaannya hingga padam pada laki-laki bermarga Kim di hadapannya. Well, setidaknya ia tidak akan terlalu merasa sengsara karena perasaannya sendiri, kan?

“Sooji…”

Sooji tetap tidak mendengarkan Myungsoo. Ia tidak berniat mengajak Myungsoo bertengkar sebenarnya, tapi sikap Myungsoo dan pertemuannya dengan Soojung tadi siang membuatnya menjadi tidak berselera untuk berbaik-baik ria.

“Kau akan pergi? Sekarang?” Myungsoo mencoba menahan lengan Sooji yang sudah melangkahkan kakinya.

Sooji memutar kepalanya malas, “Lalu apa? oppa ingin aku menginap disini?”

“Soo, aku sedang tidak ingin bertengkar. Aku hanya…”

“Aku juga,” Sooji menarik tangannya, “Dan aku harus segera pulang. Ada tugas dari Dosen Kim yang belum kuselesaikan.”

Sooji hanya berdalih. Dan Sooji berharap Myungsoo mau menahannya, meminta maaf padanya dan membuat keadaan berubah normal. Tapi itu tidak pernah terjadi, sampai Sooji menutup pintu apartemen dengan nomor 73 itu, Myungsoo tetap tak bergeming dan hanya menatap punggung Sooji sampai hilang di balik pintu.

Sooji menghela napas panjang. Jika ia tidak bisa mendapatkan hati Myungsoo, lalu kenapa hatinya harus repot-repot jatuh-bangun karena Myungsoo?

Diam-diam, Sooji menyeka airmatanya yang hampir meleleh. Ia pernah menangis karena Myungsoo, tapi hari ini ada satu perasaan tambahan yang mengiringi air mata Sooji. Lelah. Sooji merasa lelah setelah bertahun-tahun menyimpan perasanya pada Myungsoo. Ah, bahkan meskipun Myungsoo tahu jika Sooji mencintainya, laki-laki itu bahkan hanya bisa mengucapkan kata maaf.

Tidak berguna.

 

***

 

Sooji mengangkat kepalanya malas. Membaca buku bukan gayanya, tapi karena ingin sendiri dan mencoba menyembuhkan mood buruknya, Sooji dengan sengaja mendamparkan dirinya ke perpustakaan. Tempat paling ramai sekaligus paling sepi di kampusnya.

Ia kembali menjatuhkan pandangannya ke arah buku tebal berbahasa inggris yang entah bagaimana bisa ia temukan. Ia tidak begitu paham dengan isi novel klasik yang katanya dibuat tahun 40-an itu. Novel yang entah cetakan keberapa, entah menceritakan apa, dan entah harus Sooji apakan saat ini. Ia hanya ingin terlihat sibuk saja.

“Bubble Tea? Kau terlihat kusut sekali,” Sooji mengangkat kepalanya saat suara familiar itu menyelusup ke gendang telinganya. Dahinya langsung berkerut saat pemuda berkulit putih pucat dengan rambut pirang itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Darimana Sehun tahu jika Sooji ada disini?

“Kenapa kau ada disini?” tanya Sooji dengan suara keras, dan ia buru-buru menutup mulutnya saat ada beberapa pasang mata yang melirik ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Perpustakaan memang menyebalkan.

Sehun langsung menarik kedua sudut bibirnya usil, ia pun kembali mendorong bubble tea nya ke arah Soohi, “Karena aku melihatmu duduk disini. Kenapa diam disini?”

Sooji mendesah pelan. Ia pun menarik bubble tea yang disodorkan Sehun dan langsung menyeruput isinya, “Aku sedang tidak mood saja. Melihat wajah dosen hari ini membuat mood ku semakin berantakan saja,” keluh Sooji kemudian.

Sehun terkekeh pelan dan kembali mengambil bubble tea nya, “Pasti gara-gara Myungsoo Hyung lagi,” katanya setelah menelan isi bubble tea yang diminumnya.

Sooji mengedikkan bahunya malas. Betapa menyedihkannya seorang Bae Sooji, kan? Bahkan Sehun saja begitu mudah menebak apa yang tengah terjadi padanya. Padahal, Sooji sama sekali bukan tipe orang yang mudah ditebak.

“Jo Youngmin teman sekelasmu itu juga tampan, dia juga sepertinya tertarik padamu,” kata Sehun lagi sambil memuta-mutar sedotan bubble tea-nya, “Atau kau suka padaku saja. Aku juga tak kalah tampan dari Youngmin.”

Sebenarnya Sehun serius dengan ucapannya. Dan Sooji juga tahu dengan keseriusan itu, meskipun Sehun selalu mengungkapkannya dengan nada bercanda seperti barusan. Tapi Sooji tetap memutar bola matanya malas, seolah mereka hanya tengah bercanda.

“Kau terlalu banyak berharap Oh Sehun.”

“Sebanyak kau mengharapkan Myungsoo,” Sooji memelototi Sehun yang ceplas ceplos itu, “Tapia ku serius Soo, maksudku…kau sama sekali tidak berhak meminta Soojung untuk memutuskan…”

“kau membelanya?”

“Soo…”

“Kau sama menyebalkannya dengan Myungsoo Oppa,” Sooji pun bangkit dari tempat duduknya, menutup bukunya kasar dan meninggalkan Sehun yang hanya bisa menghela napas panjang di tempatnya.

Sehun menghela napas panjang. Ia tidak pernah suka dengan tokoh antagonis yang bertebaran di depan matanya, kecuali gadis bermarga Bae di hadapannya, Bae Sooji.

 

***

 

Sooji mungkin memang tokoh antagonis di mata orang lain. Dia yang sering membully Soojung, entah itu sengaja menabrak tubuh gadis itu, menyembunyikan barangnya, menaruh serangga di mejanya, bahkan ia pernah menampar gadis itu…

Tidak ada yang salah dengan Jung Soojung. Sooji akui gadis itu cantik, pintar, baik, dan cukup berbakat dalam bidang musik. Tapi siapa peduli dengan semua kebaikan itu jika mata hati Sooji sudah ditutupi rasa tidak suka yang amat besar?

Sooji tidak peduli meskipun seisi sekolah dulu begitu tidak suka dengan perlakuannya pada Soojung, ia juga tidak ambil pusing saat Myungsoo dan dirinya harus bertengkar karena masalah Soojung. Dan yang membuat Sooji semakin tidak nyaman, Soojung tidak pernah mengadu tentang apapun pada Myungsoo tentang semua perlakuan kasar Sooji selama ini.

Bukankah itu sama saja Soojung akan membuat Myungsoo jatuh cinta padanya?

Sooji kembali menyeka air matanya. Ia sudah mengatakannya bukan? Ia lelah. Bahkan harusnya ia sudah bisa memutuskan untuk berhenti dengan semua sikap buruknya ataupun perasannya yang hanya berjalan searah. Tapi seandainya menghentikan perasaannya semudah ia mengakui perasaannya terhadap Myungsoo.

Sooji hanya diam ketika sosok Myungsoo berjalan mendekat ke arahnya. Sooji malas menebak apa yanga kan dilakukan laki-laki itu padanya sekarang, sudah lama sekali sejak Myungsoo menjadikan Sooji sebagai sandarannya. Yeah, sekali lagi. ia akan menyalahkan keberadaan Soojung yang merusak semuanya.

Myungsoo tidak langsung mengatakan apapun saat ia sudah berdiri tepat di hadapan Sooji yang tengah duduk di salah satu bangku taman. Ia memutuskan pindah kemari setelah mencampakkan novel klasik menyedihkan yang sempat jatuh ke retina matanya. Dan salahkan Sehun yang tiba-tiba muncul dan sok membela Soojung di depannya.

“Soo, kau apakan lagi Soojung kali ini?”

Sooji hanya membalas tatapan mata Myungsoo, balas menantang laki-laki yang kerap kali mengatakan bahwa Sooji adalah sahabatnya. Sahabat terjahat yang selalu ingin menghancurkan hubungan Myungsoo.

“Gedung fakultasmu cukup jauh darisini, kau kemari hanya untuk menanyakan hal itu Oppa?”

Myungsoo mengepalkan sebelah tangan kanannya. Ia bisa saja berteriak marah pada Sooji, ia bisa saja kembali menegur gadis itu, atau bahkan membuat gadis itu kembali marah padanya, membuat mereka kembali bertengkar. Tapi kali ini Myungsoo sudah cukup lelah. Sooji memang selalu kelewatan jika sudah berhadapan dengan Soojung, dan selama ini Soojung hanya tersenyum kecil dan berkata tidak apa-apa.

Lalu apanya yang tidak apa-apa jika Soojung tiba-tiba menanyakan hubungan mereka? Bagaimana Myungsoo bisa tinggal diam jika Soojung meragukan hubungan mereka yang sudah berjalan selama 3 tahun ini?

“Soo, kita perlu bicara…”

“Menurutmu kita tidak sedang bicara?”

“Bae Sooji!”

“Sekarang Oppa berteriak padaku? Sekarang oppa akan mengusirku dari hidupmu, kan?!”

Myungsoo tidak mengatakan apapun saat Sooji mendekatkan wajahnya ke arah Myungsoo, balas menatap Myungsoo tajam. Ia tahu semua isi hati Sooji lewat tatapan matanya, tapi tidak dengan kali ini. Ia tidak bisa menggambarkan apapun dari tatapan mata gadis itu.

“Aku jauh lebih mengenalmu daripada gadis itu, aku jauh lebih tau tentang dirimu daripada gadis itu. Aku yang mengerti semuanya daripada gadis itu. Dan aku menyukaimu Oppa! ah! Bukan! Bahkan aku mencintaimu! Aku tidak pernah menuntut apapun darimu sebelumnya, kan? Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun meskipun Oppa tidak pernah berusaha peka terhadapku!”

“Tapi aku tidak mencintaimu Bae Sooji! Apa kau tidak mengerti juga? Aku tidak mencintaimu seperti itu! Aku mencintai Soojung! Kau tidak bisa mengaturku untuk memilih menyukai siapapun yang kau mau!”

Ya. sooji tahu meskipun Myungsoo tidak memberitahunya. Ya. sooji sudah mengerti walaupun ia selalu emnutup mata dengan banyak kenyataan itu. Sederhana saja, Sooji hanya ingin mempertahankan perasaannya terhadap Myungsoo. Ia ingin membuat Myungsoo berada dalam pihaknya, membalas semua perasaannya.

Itu tidak sulit di mata Sooji. Tapi…mungkin sebaliknya di mata Myungsoo.

“Kalau begitu kita berakhir sampai disini,”

“Sooji!”

“Jangan menahanku lagi Oppa!” Sooji langsung menarik tangannya yang disentuh Myungsoo, “Aku memang kalah kali ini dari Soojung, tapi aku akan buktikan bahwa aku bisa mendapatkanmu.”

 

***

 

Myungsoo kembali menjatuhkan pandangannya ke arah Soojung yang masih diam selama beberapa hari ini. Soojung bukan tipe gadis yang suka merajuk, dia juga kelewat sabar saat menghadapi sesuatu. Dan sikap diamnya kali ini sama sekali bukan gayanya, sama sekali bukan gaya Soojung.

“Kau baik-baik saja? Beberapa hari terakhir ini kau agak berubah,” kata Myungsoo akhirnya. Ia tetap mencoba untuk fokus pada mobil yang tengah disetirnya.

Soojung sedikit melirik ke arah Myungsoo yang masih fokus pada stirnya. Tidak. Soojung ingin sekali berkata bahwa ia sama sekali tidak merasa tidak apa-apa. ia merasa buruk setelah Sooji terus saja menyuruhnya untuk mundur, Soojung merasa buruk setelah Sooji menjauhi Myungsoo dan membuat Myungsoo sering terlihat murung, Soojung merasa buruk setelah Sooji menamparnya dan menangis di hadapannya…

“Kau yakin Sooji baik-baik saja? Maksudku, kalian…”

“Kau bisa tidak membahasnya disini, kan? Hanya ada kita disini, idak ada gadis lain ataupun laki-laki lain. Juga dalam pembahasan kita,”

“Tapi ini yang membuatku tidak nyaman selama ini Oppa,”

myungsoo pun langsung menghentikan laju mobilnya, menghentikan mobil itu di sembarang tempat. Ia sama sekali tidak peduli bahwa tempat itu sama sekali bukan tempat yang tepat untuk menghentikan mobilnya. Jalanan sepi, dan hanya ada beberapa kendaraan di jalan itu. Terutama di jalur kanan yang hanya terdapat mobil Myungsoo.

“Lalu kau ingin aku bagaimana?! Aku sendiri bingung untuk menghadapinya! Kau sendiri yang selama ini tidak melakukan apapun saat gadis itu mengganggumu…”

Soojung menarik kedua sudut bibirnya masam, “Kau berteriak padaku? Hanya karena masalah Sooji yang bahkan masih bisa kita bicarakan baik-baik?”

Myungsoo memejamkan matanya frustasi. Tidak. Ini bukan hanya soal Sooji yang menjauhinya, bukan hanya soal Soojung yang tiba-tiba meragukan hubungan mereka berdua, tapi juga ayahnya yang tak henti-hentinya meminta Myungsoo untuk meninggalkan Soojung.

Memang apa yang salah dengan Jung Soojung? Gadis itu adalah gadis baik, penyabar, dewasa, mandiri. Bahkan Myungsoo merasa sangat bersyukur karena Tuhan telah menyusupkan nama Soojung dalam buku takdirnya. Lalu kenapa tiba-tiba dunia berbondong-bondong ingin menarik Soojung dari hidupnya?

“Kadang aku malah merasa ragu, apa jangan-jangan selama ini kau juga menyukai Sooji…”

“Aku hanya mencintaimu dan apa yang kurang jelas dari semua itu Jung Soojung?! Aku mempertahankanmu meskipun ayahku terus saja mendesakku untuk meninggalkanmu, dan itu tidak akan pernah terjadi! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi!”

“Lalu bagaimana jika kenyataannya ternyata jika memang bukan aku yang dipilihkan Tuhan untukmu? Lalu bagaimana jika kita benar-benar tidak bisa bersama?”

“Kau ingin berpisah denganku?” tuduh Myungsoo dengan nada kecewa yang kentara. Demi Tuhan! Kepalanya sudah hampir pecah dengan masalah pekerjaannya, keluarganya, bahkan sahabatnya. Jangan sampai ia juga harus memiliki masalah dengan Soojung.

“Aku bukan ingin berpisah Oppa! kau kira aku bisa selamanya sabar dengan keadaan kita sekarang ini?!”

Myungsoo menggaruk kepalanya frustasi. Ini masalah kecil, sungguh! Bahkan seharusnya tidak ada yang harus diributkan dari masalah sepele ini.

Myungsoo pun langsung mendorong pintu mobilnya, membanting pintu itu keras dan berjalan menjauhi mobil sport hitamnya. Ia tidak berniat kemanapun, ia hanya ingin menghirup udara segar dan sedikit menghilangkan beban kepalanya yang semakin menumpuk.

Myungsoo hendak berbalik ke arah mobilnya tepat ketika sebuah truk melaju cepat dengan arah yang agak oleng. Myungsoo bahkan tidak tahu berapa cepat truk itu sudah mengarah ke arah mobilnya, seperti ingin mendorong mobil hitamnya yang begitu kecil jika dibandingkan dengan truk di belakangnya. Mata Myungsoo langsung memcing saat sadar keadaan buruk yang akan terjadi dalam hitungan detik itu.

“JUNG SOO JUNG! KELUAR!”

Myungsoo langsung berlari mendekati mobilnya yang hanya tinggal berjarak beberapa meter lagu dari truk itu. Dan Myungsoo tidak ingat apapun sejak saat itu…

Tidak. Ia tidak berusaha melupakan memori singkat yang terjadi dalam hitungan detik itu. Tapi ia juga tidak berusaha tengah menyimpan kenangan pahit yang terus menempel bersama kenangan manis yang selalu dijaganya, tersimpan baik di otaknya dan sering berputar singkat dalam bayangannya.

 

***

 

2 Years Later….

 

Sooji berdiri malas di belakang punggung Myungsoo. Punggung yang terlihat begitu rapuh, dan Sooji pikir, mungkin jika menumpukan tangannya di atas bahu itu, mungkin saja bahu itu akan roboh.

Sooji tidak ingin menangis ataupun merasa sedih dengan keadaan saat ini. Ia bisa saja tertawa saat tahu Soojung menutup buku hidupnya, ia bisa saja merasa menang ketika tahu akhirnya Soojung dan Myungsoo benar-benar terpisah bahkan tanpa Sooji melakukan apapun.

Well, nyatanya Sooji hanyalah manusia biasa. Ia tetap meneteskan airmatanya saat mendengar berita kecelakaan 2 tahun lalu, ia tetap memeluk Myungsoo –berusaha menegarkan laki-laki itu saat tangis laki-laki itu pecah, Sooji juga tetap menyeka airmata laki-laki itu, mengabaikan seluruh luka yang selama ini ia keluhkan.

Cinta begitu unik bukan? Dan begitulah cara cinta Sooji mempermainkan hati Sooji. Sooji tidak pernah mempermasalahkan Myungsoo yang tak juga bisa melihatnya meskipun waktu telah berjalan 2 tahun, mengaburkan bayangan Soojung dan meninggalkan seonggok nisan. Berbeda dengan dulu, meskipun Sooji akui ia masih begitu cemburu saat tahu Myungsoo masih terkungkung gadis bermarga Jung itu.

Myungsoo meletakkan bunga yang dibelinya sebelum datang ke tempat itu, menaruhnya di atas tanah dan menarik kedua sudut bibirnya halus. caranya tersenyum pada Soojung, meskipun penuh dengan nada kesedihan, tapi semua itu tidak bisa menutupi rasa cinta yang dimiliki Myungsoo.

“Kita tidak akan lama, kan? Aku ada jadwal pemotretan, CEO Choi terus saja protes karena aku selalu terlambat datang ke lokasi,” kata Sooji memecah keheningan yang berputar diantara mereka. Atau mungkin hanya Sooji, karena Myungsoo terlihat begitu bising dengan pikirannya yang tak terjamah Sooji.

Myungsoo pun mengangkat kepalanya, “Kau duluan saja, aku…”

“Jangan bercanda, Oppa. kau akan tetap disini meskipun hujan turun?” protes Sooji tidak suka. Tidak suka karena Myungsoo begitu peduli pada seseorang yang sudah tak menapak lagi di atas bumi, juga tidak suka karena Myungsoo selalu saja mengabaikan kesehatannya seperti ini –kehujanan bisa membuatnya mudah sakit, kan?

Myungsoo mendesah pelan, “Aku tidak apa-apa. kau bisa pergi sekarang.”

Sooji pun melipat tangannya di depan dada, “Lalu untuk apa kau menerima tawaran Abonim untuk menjadi tunanganku jika kau masih saja seperti ini,” katanya dengan nada sarkatik. Meskipun jika diamati lebih dalam, Sooji menaruh nada luka dalam suaranya.

“Ini tidak ada hubungannya dengan pertunangan kita, Soo…”

“Tentu saja tidak ada jika kau bukan tunanganku.”

“Soo, aku tidak sedang ingin bertengkar.”

“Oppa pikir aku mau?” Sooji pun berbalik dan menghentakkan kakinya keras, berharap Myungsoo sedikit peka dan mau mengejarnya yangs udah berjalan jauh meninggalkan Myungsoo dan sepetak kenangannya.

Well, itu tetap tidak terjadi. Myungsoo tidak pernah mengejar Sooji. Membuat Sooji semakin tahu bahwa Myungsoo tidak pernah setulus Sooji saat melingkarkan cincin pertunangan di jari mereka masing-masing.

Sooji menyeka airmatanya sebelum menstarter mobilnya. Jika ia seorang model yang dielu-elukan karena kesuksesannya setahun ini, bisakah ia mensukseskan dirinya untuk memenangkan hati Myungsoo?

 

To be continued…

12 responses to “Because of Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s